Anda di halaman 1dari 37

Laki-laki Tewas di Kali Kering dengan Leher Terjerat

Steaffie Eunike Cassandra


102011391
B4
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida
Jalan Arjuna Selatan No. 6
steveeysteaffie@yahoo.com
Pendahuluan
Ilmu Kedokteran Forensik juga dikenal dengan nama Legal Medicine adalah salah satu
cabang spesialistik dari Ilmu Kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran
untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan.
Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh dan
nyawa manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hokum ini di
tingkat lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara di pengadilan, diperlukan bantuan
berbagai ahli di bidang terkait untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta ketertaitan antara
tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut. Dalam hal terdapat
korban, baik yang masih hidup maupun yang meninggal akibat peristiwa tersebut, diperlukan
seorang ahli dalam bidang kedokteran untuk memberikan penjelasan bagi para pihak yang
menangani kasus tersebut. Dokter yang diharapkan membantu dalam proses peradilan ini
akan berbekal pengetahuan kedokteran yang dimilikinya yang terhimpun dalam Ilmu
Kedokteran Forensik.
Identifikasi Forensik
Identifikasi forensik merupakan langkah pertama apabila korban ditemukan. Upaya
penentuan identitas korban dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas
seseorang. Identifikasi personel merupakan suatu masalah dalam kasus pidana atau perdata.

Menentukan identitas personel dengan tepat amat penting dalam penyelidikan karena adanya
kekeliruan dapat berakibat fatal dalam prosos peradilan.
Di dalam identifikasi korban ini, peran ilmu kedokteran forensik adalah penting
terutama apabila korban ini tidak dikenal dan korban ini sudah membusuk seperti di dalam
kasus ini. Penentuan identitas personel dapat mengunakan beberapa metode dan identifikasi
seseorang dipastikan apabila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil
positif. Metode-metodenya adalah; 1
1. Pemeriksaan dokumen
Apabila dokumen seperti kartu identifikasi (KTP, SIM, paspor dll) yang kebetulan
ditemukan dalam saku pakaian yang dikenakan atau berdekatan dengan TKP sangat
membantu mengenali korban tersebut.2
2. Identifikasi medik
Pemeriksaan ini dilakukan di TKP atau ruang autopsi semasa pemeriksaan luar. Identifikasi
medik ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan
menggunakan cara/modifikasi sehingga ketepatan cukup tinggi. Metode ini terbahagi
kepada dua : 2,3
i.
Identifikasi umum
Pada pemeriksaan luar, identifikasi umum dilakukan dengan mencatat identitas korban
seperti; jenis kelamin, bangsa dan ras, umur, warna kulit, keadaan gizi, tinggi, berat
badan, rambut mayat baik dari segi warna, distribusi, keadaan tumbuh serta sifatnya;
ii.

kasar atau halus, lurus atau ikal, keadaan zakar yang disirkumsisi atau tidak.
Identifikasi khusus
Ini terdiri daripada sesuatu yang khusus yang dapat dijumpai pada korban yang dapat
membantu identifikasi korban. Ini terdiri dari :
Rajah / tattoo
Tentukan letak, warna serta tulisan/lukisan tattoo yang ditemukan. Bila perlu bt

dokumentasi foto.
Jaringan parut
Catat seteliti mungkin jaringan parut yang ditemukan baik yang timbul akibat

penyembuhan luka maupun yang terjadi akibat tindakan bedah.


Kapalan (callus)
Dengan memcatat distribusi callus, kadangkala dapat memperoleh keterangan
yang berharga mengenai pekerjaan mayat yang diperiksa semasa hidupnya.
Contohnya pada pekerja buruh pikul, ditemukan kapalan pada aderah bahu
manakala pada pekerja kasar lainnya ditemukan kapalan pada telapak tangan atau

kaki.
Kelainan kulit
Adanya kutil, angioma, bercak hiper atau hipopogmentasi, eksema dan kelainan
lain sering kali dapat membantu dalam penentuan identitas.
1

Anomali dan cacat pada tubuh


Kelainan anatomis berupa anomaly atau deformitas akibat penyakit atau
kekerasan perlu dicatat dengan seksama. Tidak tercatanya ciri-ciri yang disebut di
atas dapat sangat merugikan karena dapat menyebabkan diragukannya hasil

pemeriksaan terhadap mayat secara keseluruhan.


3. Pemeriksaan pakaian dan perhiasan2,3
Dari pakaian dan perhiasan yang dikanakan jenazah mungkin dapat diketahui merek atau
nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang semuanya membantu identifikasi
walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah tersebut.
4. Metode visual
Metode ini dilakukan dengan cara memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa
kehilangan anggota keluarga atau temannya. Cara ini hanya efektif pada jenazah yang
belum membusuk sehingga masih mungkin mengenali wajah dan bentuk tubuhnya oleh
lebih dari satu orang. Hal ini perlu perhatikan mengingat adanya kemungkinan faktor
emosi yang turut berperan untuk membenarkan atau sebaliknya menyangkal identitas
jenazah tersebut.2
5. Pemeriksaan sidik jari
Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan sidik jari ante mortem.
Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi
ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang. Dengan demikian harus dilakukan
penanganan sebaik-baiknya jari tangan untuk pemeriksaan sidik jari misalnya melakukan
pembungkusan kedua tangan jenazah dengan kantung plastic.2
6. Pemeriksaan gigi
Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang yang dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-x dan pencetakan gigi serta
rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi
dan sebagainya. Seperti halnya dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki susunan
gigi

yang

khas. Dengan

demikian

dapat

dilakukan

identifikasi

dengan

cara

membandingkan data temuan dengan data pembanding ante mortem.2,3


7. Pemeriksaan serologik
Pemeriksaan serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah. Penentuan
golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dengan memeriksa rambut, kuku dan
tulang.
8. Pemeriksaan TKP
Pemeriksaan TKP dapat dilakukan oleh polisi maupun dokter, pemeriksaan TKP meliputi
tempat ditemukannya korban meninggal, dalam posisi apa korban tersebut meninggal,
apakah ada alat-alat yang ditemukan sekitar TKP yang membantu atau mengarah ke kasus
2

pembunuhan tersebut. Memeriksa hal-hal lain yang dapat membantu mengarahkan itu
kasus pembunuhan atau bunuh diri.
Visum et Repertum
Didasarkan pada penyelidikan suatu kasus harus disertai pula dengan pelaporan dari
berbagai pihak. Salah satunya ada laporan pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang dokter
yang memeriksa keadaan mayat yang sedang diselidiki. Laporan tersebut dituangkan berupa
Visum et Repertum.4
Visum et Repertum (VeR) adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh Dokter atas
permintaan tertulis penyidik yang berwenang, mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap
manusia, baik hidup ataumati ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia berdasarkan
keilmuannya dan dibawah sumpah, untuk kepentingan peradilan.4,5
Jenis-jenis VeR antara lain dibedakan atas VeR untuk orang hidup dan VeR untuk
jenazah (orang mati).
Didalam Visum et Repertum terdiri dari 5 unsur bagian penting, yaitu: 4,5
1. Pro Justitia :
Kata projustitia disini memiliki arti Demi Keadilan, dimana laporan yang dibuat
memiliki fungsi untuk tujuan peradilan. Ditulis dibagian atas dari suatu visum dan
sudah dianggap berfungsi sama dengan materai.
2. Pendahuluan
Pada bagian pendahuluian berisikan mengenai beberapa hal, yaitu :
- Waktu, dan tempat pemeriksaan
- Atas permintaan siapa dan disertakan nomor, tanggal surat
- Dokter, pembantu yang memeriksa
- Identitas korban
- Alasan mengapa diperiksa
3. Pemberitaan
Pada bagian ini merupakan bagian terpenting dari suatu visum et repertum. Pada bagian
ini berisikan mengenai keterangan tentang apa yang dilihat dan diperoleh serta
ditemukan secara objektif dan kemudian dituangkan dalam bagian ini. Disini dituliskan
sebagai Hasil Pemeriksaan.
4. Kesimpulan
Pada bagian ini memuat inti sari dari hasil pemeriksaan, disertai dengan pendapat dokter
yang memeriksa/menyimpulkan kelainan yg terjadi pada korban. Selain itu pada bagian
ini juga dituliskan mengenai jenis luka/cedera yang ditemukan, jenis kekerasan, derajat
luka atau sebab kematian korban
5. Penutup
Pada bagian penutup tidak diberikan judul, namun memuat pernyataan mengenai visum
et repertum tersebut dibuat berdasarkan atas sumpah dokter menurut pengetahuan yang
sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Selain itu pula dicantumkan lembaran negara no.
3

350 tahun 1937 atau berdasarkan KUHAP. Tidak lupa pula dicantumkan tanda tangan
dan nama terang dokter yang membuat.
Pemeriksaan Laboratorium
Selain pemeriksaan diatas juga dapat dilakukan beberapa pemeriksaan tambahan yang
dapat membantu menunjang penyelidikan yang dilakukan sesuai dengan indikasi yang
dibutuhkan.
Pemeriksaan penunjang dapat berupa pemeriksaan histopatologi, toksikologi, serologi,
dan dna, parasitologi, mikrobiologi, balisitik, sidik jari, uji material, rambut, serat textile,
biologi, dan lain-lain. 6,7

Pemeriksaan darah
Diantara berbagai cairan tubuh, darah merupakan yang paling penting karena merupakan

cairan biologik dengan sifat-sifat potensial lebih spesifik untuk golongan manusia tertentu.
Pemeriksaan darah forensik ertujuan untuk membantu identifikasi pemilik darah tersebut,
dengan membandingkan bercak darah yang ditemukan di TKP pada obyek-obyek tertentu,
dalam kasus ini pada lapang sungai kering berbatuan tempat ditemukannya mayat laki-laki
tesebut, manusia dan pakaiannya dengan darah korban atau darah tersangka pelaku kejahatan.
Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut penting untuk menunjang atau menyingkirkan
keterlibatan seseorang dengan TKP dengan catatan walaupun dengan uji yang modern dan
dengan peralatan yang canggih sekalipun, masih sulit untuk memastikan bahwa darah tersebut
berasal dari individu tertentu.
Dari bercak yang dicurigai harus dibuktikan bahwa bercak tersebut benar-benar darah,
merupakan darah dari manusia dan bukan hewan, diketahui golongan darahnya jika memang
merupakan darah manusia, dan lain-lain. 6
Pemeriksaan bercak tersebut dapat diketahui dengan melakukan beberapa pemeriksaan
penunjang seperti yang telah disebutkan sebelumnya yaitu, antara lain: 6,7
a. Pemeriksaan Mikroskopik
Pada pemeriksaan mikroskopik bertujuan untuk melihat morfologi sel-sel darah merah,
namun dalam hal ini darah harus merupakan darah yang masi baik dan tidak mengalami
kerusakan pada sel-sel darah tersebut.
Cara pemeriksaan yaitu dengan mengambil sampel darah yang masih basah atau baru
mengering ditaruh pada kaca obyek dan diberikan 1 tetes larutan garam faal, kemudian
ditutup dengan kaca penutup, dan dilihat pada mikroskop. Cara lainnya adalah dengan
membuat sediaan hapus dengan perwarnaan Wright atau Giemsa.
Dari pemeriksaan ini yang dilihat adalah bentuk dan inti dari sel darah merah. Namun
dari pemeriksaan ini hanya dapat menentukan kelas dan bukan spesies darah tersebut. Untuk
kelas mamalia mempunyai sel darah merah berbentuk cakram dan tidak berinti, sedangkan
4

untuk kelas lainnya berbentuk oval dan berinti. Pengecualian pada kelas mamalia genus
Cannelidae (unta) dengan sel darah merah berbentuk oval namun tidak berinti.
Keuntungan sediaan hapus dibandungkan dengan sediaan tanpa pewarnaan adalah dapat
terlihatnya sel-sel leukosit berinti banyak. Bila terlihat drum stick dalam jumlah lebih dari
0.05% dapatlah dipastikan bahwa darah tersebut berasal dari seorang wanita.
Dalam kasus ini jika dalam pemeriksaan darah menunjukan hasil pemeriksaan sesuai
dengan kelas mamalia dan bukan kelas lain, dapat dipastikan merupakan darah manusia yang
dapat menjadi kemungkinan bersal dari si korban ataupun pelaku dapat wanita atau pun lakilaki.
b. Pemeriksaan Kimiawi
Cara pemeriksaan kimiawi dilakukan bila ternyata sel darah merah sudah dalam keadaan
rusak sehingga pemeriksaan mikroskopik tidak bermanfaat lagi.
Pada pemeriksaan kimiawi terdiri dari pemeriksaan penyaring darah dan pemeriksaan
penentuan darah. 6,7
i.) Pemeriksaan penyaring darah
Prinsip pemeriksaan ini adalah:
H2O2 H2O + On

Reagen Perubahan warna (teroksidasi)


Pemeriksaan penyaring yang biasa dilakukan adalah reaksi benzidin dan reaksi fenoftalin.
Dalam reaksi benzidin digunakan reagen larutan jenuh kristal benzidin dalam asam asetat
glasial, sedangakan dalam reaksi fenoftalin digunakan reagens yang dibuat dari fenoftalin 2
gram + 100 ml NaOH 20% dan dipanaskan dengan biji-biji Zinc sehingga terbentuk fenoftalin
yang tidak berwarna.
Cara pemeriksaan dilakukan pada bercak yang dicurigai yang digosokan pada sepotong
kertas saring yang kemudian diteteskan 1 tetes H2O2 20% dan 1 tetes reagen benzidin.
Hasil pemeriksaan positif pada reaksi benzidin bila timbul warna biru gelap pada kertas
saring
Sedangkan pada reaksi fenoftalin kertas saring yang telah digosokan pada bercak yang
dicurigai langsung diteteskan dengan reagen fenoftalin yang akan memberikan warna merah
muda jika positif.
Hasil negatif pada kedua reaksi tersebut memastikan bahwa bercak tersebut bukanlah
darah sedangkan hasil positif menyatakan bahwa bercak tersebut mungkin darah sehingga
perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
ii.) Pemeriksaan penentuan darah
Pemeriksaan penentuan darah berdasarkan terdapatnya pigmen / kristal hematin
(hemin) dan hemokromogen. Pemeriksaan yang biasa digunakan adalah Reaksi Teichman dan
Reaksi Wagenaar.

Pada pemeriksaan reaksi Teichman, seujung jarum bercak kering diletakan pada kaca
objek dengan ditambahkan 1 butir kristal NaCl dan 1 tetes asam asetat glasial dan kemudian
di tutup dengan kaca penutup dan dipananskan. Hasil menunjukan positif dinyatakan dengan
tampaknya kristal hemin HCl yang berbentuk batang berwarna coklat yan terlihat dengan
mikroskop.
Pada pemeriksaan Reaksi Wagenaar, seujung jarum bercak kering di letakan pada kaca
objek dengan diletakan pula sebutir pasir lalu ditutup dengan kaca penutup sehingga antara
kaca objek dan kaca penutup terdapat celah untuk penguapan zat. Pada satu sisi diteteskan
aceton dan pada sisi berlawanan diteteskan HCl encer, kemudian dipanaskan. Hasil positif
bila terlihat kristal aceton-hemin berbentuk batang berwarna coklat.
Hasil positif pada pemeriksaan penentuan darah memastikan bahwa bercak adalah
darah. Hasil negatif selain menyatakan bahwa bercak tersebut bukan bercak darah, juga dapat
dijumpai pada pemeriksaan terhadap bercak darah yang struktur kimiawinya telah rusak
misalnya bercak darah yang sudah lama sekali, tebakar, atau sebagainya.
c. Pemeriksaan Spektroskopik
Pemeriksaan ini memastikan bahan yang diperiksa adalah darah bila dijumpai pita-pita
absorpsi yang khas dari hemoglobin atau turunannya.
Bercak kering dilarutkan dengan akuades dalam tabung reaksi dan kemudian dilihat
dengan spektroskop. Hemoglobin dan derivatnya akan menunjukan pita-pita absorpsi yang
khas pada septrum warna.
Suspensi yang mengandung oksihemoglobin berwarna merah terang dengan dua pita
absorbsi berwarna hitam didaerah kuning (pada panjang gelobang 54 dan 59). Bila
ditambhakan reduktor (Na-ditionit), akan terbentuk hemoglobin tereduksi yang berwarna
merah keunguan dengan satu pita absorbsi yang lebar didaerah kuning. Bila ditambahkan lagi
dengan alkali encer (NaOH atau KOH) akan terbentuk hemokromogen berwarna merah jingga
dengan dua pita absorbsi yang menempati daerah kuning (panjang gelombang 56) dan daerah
perbatasan dengan hijau (panjang gelombang 52).
Darah yang sudah lama atau pada kasus keracunan nitirit, nitrat, nitrobenzena, anilin, dan
sulfonal, terkandung banyak methemoglobin berwarna merah kecoklatan dengan empat pita
absorpsi yaitu dua pita yang sama dengan pita absopsi oksihemoglobin, satu pita didaerah
merah (pada panjang gelombang 64) dan satu lagi didaerah hijau. Bila ditambahkan reduktor
akan terbentu hemoglobin dalam keadaan tereduksi dan bila ditambhakan lagi dengan alkali
encer akan terbentuk hemokromogen.
Pemeriksaan darah pada kasus keracunan gas CO dengan cara ini akan memperlihatkan
dua pita absorbsi dari karboksi hemoglobin (COHb) didaera kuning yang mirip dengan pita
absorbsi oksi-hemoglobin tetapi leih bergeser kearah hijau (pada panjang gelombang 53 dan
6

57). Sifat lain dari COHb adalah tidak dapat direduksi sehingga dengan pernambahan
reduktor akan tetap terlihat dua pita absorpsi.
d. Pemeriksaan Serologik
Pemeriksaan serologik diperlukan untuk menentukan sepsies dan golongan darah. Untuk
itu dibutuhkan antiserologik terhadap protein manusia (anti human globulin) serta terhadap
protein hewan dan juga antisera terhadap golongan darah tertentu.
Prinsip pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah) dengan antibodi
(antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi aglutinasi.
i.)
Penentuan Species
Ekstraksi bercak atau darah kering dengan larutan garam faal sebanya 1 cm2 bercak

atau 1 gram darah kering, tetapi tidak melebihi separu bahan yang tersedia.
Cara-cara yang dapat dipergunakan adalah :
Reaksi cincin (presipitin dalam tabung)
Kedalam tabing reaksi kecil, dimasukan serum anti globulin manusia dan keatasnya
dituangkan ekstrak darah perlahan-laha melalui tepi tabing. Biarkan pada temperatur
ruang kurang lebih 1.5 jam. Hasil positif tampak sebagai cincin presipitasi yang keruh

pada perbatasan kedua cairan.


Reaksi presipitasi dalam agar
Gelas objek dibersihkan dengan spiritus sampai bebas dengan lemak, lalu dilapisi
dengan selapis tipis agar buffer. Setelah agak mengeras dibuat lubang pada agar
dengan diameter kurang lebih 2 mm, yang dikelilingi oleh lubang-lubang sejenis.
Masukan serum anti globulin manusia ke lubang ditengah dan ekstrak darah dengan
berbagai derajat pengenceran dilubang-lubang sekitarnya. Letakan gelas objek ini
dalam ruang lembab pada temperatur ruang selama satu malam. Hasil positif

ii.)

memberikan presipitium jernih pada perbatasan lubang tengah dan lubang tepi.
Penentuan golongan darah
Darah yang telah mengering dapat berada dalam berbagai tahap kesegaran. Bisa

berupa bercak darah dengan sel darah merah masih utuh, bercak dengan sel darah merah yang
sudah rusak tetapi dengan aglutinin dan antigen yang masi dapat terdeteksi, Sel darah merah
yang sudah rusak dengan jenis antigen yang asi dapat dideteksi namun sudah terjadi
kerusakan aglutinin, ataupun sel darah merah yang sudah rusak dengan antigen dan aglutinin
yang juga sudah tidak dapat dideteksi.
Bila sel darah merah masih utuh dapat dilakukan pemeriksaan golongan darah dengan
cara langsung seperti pada penentuan golongan darah orang hidup yaitu dengan meneteskan 1
tetes antiserum ke atas 1 tetes darah dan dilihat terjadinya aglutinasi.
Namun jika sel darah merah sudah rusak maka penentuan darah golongan darah dapat
dilakukan dengan cara menentukan jenis aglutinin dan antigen. Antigen mempunyai sifat yang

jauh lebih stabil dibandingkan dengan aglutinin. Diantara sistem-sistem golongan darah yang
paling lama bertahan adalah antign dari sistem gologan darah ABO.
Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi absorpsi elusi
atau aglutinasi campuran.
Cara yang biasa dilakukan dengan cara absorpsi elusi, yaitu dengan prosedur
menggunakan 2-3 helai benang yang mengandung bercak kering difiksasi denga metil alkohol
selama 15 menit.
Benang diangkat dan dibiarkan mengering. Selanjutnya dilakukan penguraian benang
tersebut menjadi serat-serat halus dengan menggunakan 2 buah jarum.
Lakukan juga tehadap bangnga yang tidak mengandung bercak darah sebagai kontrol
negatif.
Serat benang dimasukan ke dalam 2 tabung reaksi. Kedalam tabung pertama
diteteskan serum antiA dan kedalam tabung kedua diteteskan serum antiB sehigga serabut
benang-benang tersebut terendam seluruhnya. Kemudian tabung-tabung tersebut disimpan
dalam lemari pendingin dengan suhu 4 derajat celsius dalam satu malam.
Setelahnya lakukan pencucian dengan menggunakan larutan faal garam dingin (4
derajat celcius) sebanyak 5-6 kali, lalu tambahkan 2 tetes suspensi 2% sel indikator (sel darah
merah golongan Apada tabung pertama dan golongan B pada tabung kedua), Pusing dnegan
kecepatan 1000 RPM selama 1 menit. Bila tidak terjadi aglutinasi cuci sekali lagi dan
kemudian tambahkan 1-2 tetes larutan garam faal dingin. Panaskan pada suhu 56 derajat
celcius selama 10 menit dan pindahkan eluat kedalam tabung lain. Tambahkan 1 tetes
suspensi sel indikator kedalam masing-masing tabung dan biarkan selama 5 menit lalu pusing
selama 1 menit dengan kecepatan 1000 RPM.
Pembacaan hasil dilakukan secara makroskopik. Bila terjadi aglutinasi berarti darah
mengandung antigen yang sesuai dengan antigen sel indikator.

Aspek Medikolegal
Aspek Hukum Pidana
Kejahatan Terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia
Pasal 89 KUHP
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan.
Pasal 90 KUHP
Luka berat berarti:
- Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali,
atau yang menimbulkan bahaya maut;
- Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian;
8

- Kehilangan salah satu pancaindra;


- Mendapat cacat berat;
- Menderita sakit lumpuh;
- Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
- Gugur atau matinya andungan seorang perempuan.
Pasal 338 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan,
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 339 KUHP
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan
dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk
melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan,
ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum,
diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua
puluh tahun.
Pasal 340 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain,
diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun.
Pasal 351 KUHP
1

Penganiyaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau
pidana denda paling banyak 4500 rupiah.

Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana
penjara paling lama 5 tahun.

Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama7 tahun.

Dengan penganiyaan disamakan sengaja merusak kesehatan.

Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 353 KUHP


1) Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling
lama 4 tahun.
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
3) Jika perbuatan mengakibatkan mati, dia dikenakan pidana penjara paling lama 9 tahun.
Pasal 354 KUHP
1) Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan
penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.

2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling
lama sepuluh tahun.
Pasal 355 KUHP
1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan
pidana penjara paling lama 12 tahun.
2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling
lama 15 tahun.
Aspek Hukum Kedokteran8
Kewajiban Dokter Membantu Peradilan
Pasal 133 KUHAP
1

Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.

Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang dilekatkan
pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Penjelasan Pasal 133 KUHAP


2) Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli,
sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman
disebut keterangan.
Pasal 179 KUHAP
1

Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah
atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya
menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya


Pasal 183 KUHAP
10

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya.
Pasal 184 KUHAP
1

Alat bukti yang sah adalah:


-

Keterangan saksi

Keterangan ahli

Surat

Pertunjuk

Keterangan terdakwa

Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Pasal 186 KUHAP


Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Pasal 180 KUHAP
1

Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar
diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.

Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.

Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang


sebagaimana tersebut pada ayat (2)

Sanksi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter


Pasal 216 KUHP
1

Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam
dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak
sembilan ribu rupiah.

Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan
jabatan umum.
11

Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan
yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya dapat ditambah
sepertiga.

Pasal 222 KUHP


Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan
mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 224 KUHP
Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau
jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia
harus melakukannnya:
1

Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.

Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.

Pasal 522 KUHP


Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau jurubahasa, tidak
datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus
rupiah.
Rahasia Jabatan dan Pembuatan Ska/VeR

Peraturan Pemerintah No 26 tahun 1960 tentang lafaz sumpah dokter


Saya bersumpah/berjanji bahwa:
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perkemanusiaan
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai
dengan martabat pekerjaan saya.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan
kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya
dan karena keilmuan saya sebagai dokter.dst.

Peraturan Pemerintah no. 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia Kedokteran.

Pasal 1 PP No 10/1966
Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orangorang

tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam

lapangan kedokteran.
Pasal 2 PP No 10/1966
Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang yang tersebut dalam pasal
3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada PP ini
menentukan lain.
Pasal 3 PP No 10/1966
12

Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah:


a

Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan.

Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan, pengobatan


dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri kesehatan.

Pasal 4 PP No 10/1966
Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia kedokteran yang tidak atau
tidak dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112 KUHP, menteri kesehatan dapat
melakukan tindakan administrative berdasarkan pasal UU tentang tenaga kesehatan.
Pasal 5 PP No 10/1966
Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh mereka yang disebut dalam
pasal 3 huruf b, maka menteri kesehatan dapat mengambil tindakan-tindakan berdasarkan
wewenang dan kebijaksanaannya.
Pasal 322 KUHP
1

Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan
atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana
penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu
rupiah.

Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat
dituntut atas pengaduan orang itu.

Pasal 48 KUHP
Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana.
Tanatologi
Tanatologi berasal dari kata thanos (yang berhubungan dengan kematian) dan logos
(ilmu). Tanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mempelajari kematian
dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan
tersebut.3,5-7
Pengetahuan ini berguna untuk :
Menentukan seseorang benar-benar telah meninggal atau belum.
Menentukan kapan seseorang telah meninggal.
Membedakan perubahan-perubahan post mortal dengan kelainan-kelainan yang terjadi
pada waktu korban masih hidup.
Kematian
Kematian itu sendiri memiliki definisi sebagai suatu berakhirnya proses kehidupan
seluruh tubuh yang prosesnya dapat dikenali secara klinis dengan ada nya tanda kematian
berupa perubahan pada tubuh mayat.3,6
Penyebab Kematian, Mekanisme Kematian, dan Cara Kematian:
13

Penyebab kematian
Yakni adalah adanya perlukaan atau penyakit yang menimbulkan kekacauan fisik pada
tubuh yang menghasilkan kematian pada seseorang. Berbagai macam penyebab dari
kematian antara lain dapat berupa akibat luka tembak pada kepala, luka tusuk pada dada,

adenokarsinoma pada paru-paru, dan aterosklerosis koronaria.6


Mekanisme kematian
Yakni adalah kekacauan fisik yang dihasilkan oleh penyebab kematian yang
menghasilkan kematian. Contoh dari mekanisme kematian dapat berupa perdarahan,
septikemia, dan aritmia jantung. Ada yang dipikirkan adalah bahwa suatu keterangan
tentang mekanime kematian dapat diperoleh dari beberapa penyebab kematian dan
sebaliknya. Jadi, jika seseorang meninggal karena perdarahan masif, itu dapat dihasilkan
dari luka tembak, luka tusuk, tumor ganas dari paru yang masuk ke pembuluh darah dan
seterusnya.
Kebalikannya adalah bahwa penyebab kematian, sebagai contoh, luka tembak pada
abdomen, dapat menghasilkan banyak kemungkinan mekanisme kematian yang terjadi,

contohnya perdarahan atau peritonitis.6


Cara kematian
Yakni menjelaskan bagaimana penyebab kematian itu datang. Cara kematian secara
umum dapat dikategorikan sebagai wajar, pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan, dan yang
tidak dapat dijelaskan (pada mekanisme kematian yang dapat memiliki banyak penyebab
dan penyebab yang memiliki banyak mekanisme, penyebab kematian dapat memiliki
banyak cara). Seseorang dapat meninggal karena perdarahan masif (mekanisme
kematian) dikarenakan luka tembak pada jantung (penyebab kematian), dengan cara
kematian secara pembunuhan (seseorang menembaknya), bunuh diri (menembak dirinya
sendiri), kecelakaan (senjata jatuh), atau tidak dapat dijelaskan (tidak dapat diketahui apa

yang terjadi).6
Dalam tanatologi dikenal beberapa jenis-jenis kematian, yaitu antara lain:3,5-7
Mati somatis (mati klinis)
Terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf
pusat, sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan secara menetap (ireversibel). Secara
klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung
tidak terdengar, tidak ada gerakan pernapasan dan suara pernapasan tidak terdengar pada

auskultasi.
Mati suri
Mati suri (near-death experience (NDE), suspend animation, apparent death) adalah
terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang ditentukan oleh alat kedokteran
sederhana.Dengan alat kedokteran yang canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga
14

sistem tersebut masih berfungsi.Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat

tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.


Mati seluler
Kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian
somatis.Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga
terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan.Pengertian ini
penting dalam transplantasi organ.
Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati
seluler dalam empat menit, otot masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira dua jam
paska mati dan mengalami mati seluler setelah empat jam, dilatasi pupil masih terjadi
pada pemberian adrenalin 0,1 persen atau penyuntikan sulfas atropin 1 persen kedalam
kamera okuli anterior, pemberian pilokarpin 1 persen atau fisostigmin 0,5 persen akan
mengakibatkan miosis hingga 20 jam paska mati.
Kulit masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam paska mati dengan cara
menyuntikkan subkutan pilokarpin 2 persen atau asetil kolin 20 persen, spermatozoa
masih dapat bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis, kornea masih dapat
ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai untuk transfusi sampai enam jam

pasca-mati.
Mati serebral
Kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel, kecuali batang otak dan serebelum,
sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskuler masih

berfungsi dengan bantuan alat.


Mati otak (batang otak)
Bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel, termasuk batang
otak dan serebelum.Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak), maka dapat
dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat

bantu dapat dihentikan.


Setelah beberapa waktu timbul perubahan paska mati yang jelas, sehingga memungkinkan
diagnosa kematian menjadi lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal sebagai tanda pasti
kematian berupa:3,5-7
1. Lebam Mayat / Livor Mortis
Salah satu tanda kematian, yaitu mengendapnya darah ke bagian bawah tubuh,
menyebabkan warna merah-ungu di kulit. Karena jantung tidak lagi memompa darah, sel
darah merah yang berat mengendap di bawah serum karena gravitasi bumi. Warna ini tidak
muncul di daerah-daerah yang berhubungan dengan benda lain karena kapilari tertekan.
Livor mortis atau lebam mayat terjadi akibat pengendapan eritrosit sesudah kematian
akibat berentinya sirkulasi dan adanya gravitasi bumi . Eritrosit akan menempati bagian
15

terbawah badan dan terjadi pada bagian yang bebas dari tekanan. Muncul pada menit ke-30
sampai dengan 2 jam. Intensitas lebam jenazah meningkat dan menetap 8-12 jam.
Lebam jenazah normal berwarna merah keunguan. Tetapi pada keracunan sianaida (CN)
dan karbon monoksida (CO) akan berwarna merah cerah (cherry red).
Jenazah dgn posisi terlentang, lebam mayat ditemukan pada bagian :
Kuduk
Punggung
Pantat
bagian flexor tungkai
Jenazah pada posisi telungkup, lebam mayat ditemukan pada bagian :
Dahi, Pipi & Dagu
Dada
Perut
bagian extensor tungkai
Kadang-kadang stagnasi darah demikian hebat, sehingga pembuluh darah dalam rongga
hidung pecah, perdarahan dari hidung.
Pada korban yang menggantung, lebam mayat terdapat pada bagian :
Ujung extremitas atas
Ujung extremitas bawah
genitalia externa (scrotum)
Empat jam setelah meninggal, hemolysa, pigmen darah keluar dan masuk ke dalam jaringan
sekitarnya, lebam mayat akan menetap.
Lebam mayat dapat juga ditemukan pada Organ-organ tubuh, misalnya :
Bagian belakang otak
Bagian belakang paru
Bagian belakang hati
Bagian belakang lambung
Tabel 1. Perbedaan Lebam Mayat dan Luka Memar.5

2.

Kaku Mayat (Rigor Mortis)


Terjadi akibat hilangnya ATP. ATP digunakan untuk memisahkan ikatan aktin dan myosin

sehingga terjadi relaksasi otot. Namun karena pada saat kematian terjadi penurunan cadangan
ATP maka ikatan antara aktin dan myosin akan menetap (menggumpal) dan terjadilah
kekakuan jenazah. Rigor mortis akan mulai muncul 2 jam postmortem semakin bertambah
16

hingga mencapai maksimal pada 12 jam postmortem. Kemudian setelah itu akan berangsurangsur menghilang sesuai dengan kemunculannya. Pada 12 jam setelah kekakuan maksimal
(24 jam postmortem) kaku jenazah sudah tidak ada lagi. Faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya kaku jenazah adalah suhu tubuh, volume otot dan suhu lingkungan. Makin tinggi
suhu tubuh makin cepat terjadi kaku jenazah.
Rigor mortis diperiksa dengan cara menggerakkan sendi fleksi dan antefleksi pada
seluruh persendian tubuh.
Hal-hal yang perlu dibedakan dengan rigor mortis atau kaku jenazah adalah:
a. Cadaveric Spasmus, yaitu kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap
sesudah kematian akibat hilangnya ATP lokal saat mati karena kelelahan atau emosi
yang hebat sesaat sebelum mati.
b. Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein karena panas sehingga
serabut otot memendek dan terjadi flexi sendi. Misalnya pada mayat yang tersimpan
dalam ruangan dengan pemanas ruangan dalam waktu yang lama.
c. Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan yang dingin sehingga terjadi
3.

pembekuan cairan tubuh dan pemadatan jaringan lemak subkutan sampai otot.
Penurunan Suhu Tubuh (Algor Mortis)
Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda

yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi, dan konveksi.
Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran, dan kelembaban
udara, bentuk tubuh, posisi tubuh, pakaian. Selain itu suhu saat mati perlu diketahui untuk
perhitungan perkriraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada suhu
keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang kurus,
posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta
anak kecil.
Bila suhu lingkugan rendah, badannya kurus dan pakaiannya tipis maka suhu badan
akan menurun lebih cepat. Lama kelamaan suhu tubuh akan sama dengan suhu lingkungan.
Perkiraan saat kematian dapat dihitung dari pengukuran suhu jenazah perrektal (Rectal
Temperature/RT).
4. Pembusukan (decomposition, putrefaction)
Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolysis dan kerja
bakteri. Autolysis adalah pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril.
Autolisis timbul akibat akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan pasca mati dan hanya
dapat dicegah dengan pembekuan jaringan. Mulai muncul 24 jam postmortem, berupa warna
kehijauan dimulai dari daerah sekum menyebar ke seluruh dinding perut dan berbau busuk
karena terbentuk gas seperti HCN, H2S dan lainlain. Gas yang terjadi menyebabkan
pembengkakan. Akibat proses pembusukan rambut mudah dicabut, wajah membengkak, bola
17

mata melotot, kelopak mata membengkak dan lidah terjulur. Pembusukan lebih mudah terjadi
pada udara terbuka suhu lingkungan yang hangat/panas dan kelembaban tinggi. Bila penyebab
kematiannya adalah penyakit infeksi maka pembusukan berlangsung lebih cepat.
5. Mummifikasi
Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi
pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Syarat untuk dapat
terjadi mummifikasi :
Suhu udara harus tinggi
Udara harus kering
Harus ada aliran udara yang terus menerus
Mummifikasi terjadi pada suhu panas dan kering sehingga tubuh akan terdehidrasi
dengan cepat. Mummifikasi terjadi pada 12-14 minggu. Jaringan akan berubah menjadi keras,
kering, warna coklat gelap, berkeriput dan tidak membusuk.
6. Adiposera
Adiposera adalah proses terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak dan
berminyak yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh postmortem. Lemak akan terhidrolisis
menjadi asam lemak bebas karena kerja lipase endogen dan enzim bakteri.
Faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembaban dan suhu panas.
Pembentukan adiposera membutuhkan waktu beberapa minggu sampai beberap bulan.
Adiposera relatif resisten terhadap pembusukan.
Syarat untuk terjadinya adiposera :
Tempat harus basah, artinya harus mengandung air
Tempat harus mengandung alkali
Tanda-tanda yang tampak adalah berupa:
Tubuh berwarna putih sampai putih kekuningan
Bila diraba terasa seperti sabun
Pada pemanasan akan meleleh
Berbau tengik
Manfaat bagi kedokteran forensik :
Untuk kepentingan identifikasi
Adanya tanda-tanda kekerasan masih dapat ditemukan
Selain beberapa tanda kematian pasti diatas, ada pula tanda-tanda kematian tidak pasti, yaitu
antara lain:3,6
1. Pernapasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit
2. Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba
3. Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin
terjadi spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi
5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian
6. Pengerigan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat
dihilangkan dengan meneteskan air.

18

Traumatologi Forensik
Trauma atau kecelakaan merupakan hal yang biasa dijumpai dalam kasus forensik.
Hasil dari trauma atau kecelakaan adalah luka, perdarahan dan/atau skar atau hambatan dalam
fungsi organ. Agen penyebab trauma diklasifikasikan dalam beberapa cara, antaralain
kekuatan mekanik, aksi suhu, agen kimia, agen elektromagnet, asfiksia dan trauma emboli.
Dalam prakteknya nanti seringkali terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh satu jenis
penyebab, sehingga klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang
menyebabkan trauma.3,5-6
Trauma Tumpul
Dua variasi utama dalam trauma tumpul adalah:
1. Benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam.
2. Korban yang bergerak pada benda tumpul yang diam.
Sekilas nampak sama dalam hasil lukanya namun jika diperhatikan lebih lanjut terdapat
perbedaan hasil pada kedua mekanisme itu.
Organ atau jaringan pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan kerusakan yang
disebabkan objek atau alat, daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka.3,6
Abrasi
Abrasi per definisi adalah pengelupasan kulit. Dapat terjadi superfisial jika hanya
epidermis saja yang terkena, lebih dalam ke lapisan bawah kulit (dermis)atau lebih dalam
lagi sampai ke jaringan lunak bawah kulit.
Jika abrasi terjadi lebih dalam dari lapisan epidermis pembuluh darah dapat terkena
sehingga terjadi perdarahan. Arah dari pengelupasan dapat ditentukan dengan pemeriksaan
luka. Dua tanda yang dapat digunakan. Tanda yang pertama adalah arah dimana epidermis
bergulung, tanda yang kedua adalah hubungan kedalaman pada luka yang menandakan
ketidakteraturan benda yang mengenainya.
Pola dari abrasi sendiri dapat menentukan bentuk dari benda yang mengenainya.
Waktu terjadinya luka sendiri sulit dinilai dengan mata telanjang. Perkiraan kasar usia luka
dapat ditentukan secara mikroskopik. Kategori yang digunakan untuk menentukan usia
luka adalah saat ini (beberapa jam sebelum), baru terjadi (beberapa jam sebelum sampai
beberapa hari), beberapa hari lau, lebih dari benerapa hari. Efek lanjut dari abrasi sangat
jarang terjadi. Infeksi dapat terjadi pada abrasi yang luas.

Laserasi
Suatu pukulan yang mengenai bagian kecil area kulit dapat menyebabkan kontusio

dari jaringan subkutan, seperti pinggiran balok kayu, ujung dari pipa, permukaan benda
tersebut cukup lancip untuk menyebabkan sobekan pada kulit yang menyebabkan laserasi.
Laserasi disebabkan oleh benda yang permukaannya runcing tetapi tidak begitu tajam
sehingga merobek kulit dan jaringan bawah kulit dan menyebabkan kerusakan jaringan
19

kulit dan bawah kulit. Tepi dari laserasi ireguler dan kasar, disekitarnya terdapat luka lecet
yang diakibatkan oleh bagian yang lebih rata dari benda tersebut yang mengalami
indentasi.
Pada beberapa kasus, robeknya kulit atau membran mukosa dan jaringan dibawahnya
tidak sempurna dan terdapat jembatan jaringan. Jembatan jaringan, tepi luka yang ireguler,
kasar dan luka lecet membedakan laserasi dengan luka oleh benda tajam seperti pisau. Tepi
dari laserasi dapat menunjukkan arah terjadinya kekerasan. Tepi yang paling rusak dan tepi
laserasi yang landai menunjukkan arah awal kekerasan. Sisi laserasi yang terdapat memar
juga menunjukkan arah awal kekerasan.
Bentuk dari laserasi dapat menggambarkan bahan dari benda penyebab kekerasan
tersebut. Karena daya kekenyalan jaringan regangan jaringan yang berlebihan terjadi
sebelum robeknya jaringan terjadi.
Sehingga pukulan yang terjadi karena palu tidak harus berbentuk permukaan palu atau
laserasi yang berbentuk semisirkuler. Sering terjadi sobekan dari ujung laserasi yang
sudutnya berbeda dengan laserasi itu sendiri yang disebut dengan swallow tails.
Beberapa benda dapat menghasilkan pola laserasi yang mirip.
Seiring waktu, terjadi perubahan terhadap gambaran laserasi tersebut, perubahan
tersebut tampak pada lecet dan memarnya. Perubahan awal yaitu pembekuan dari darah,
yang berada pada dasar laserasi dan penyebarannya ke sekitar kulit atau membran mukosa.
Bekuan darah yang bercampur dengan bekuan dari cairan jaringan bergabung membentuk
eskar atau krusta. Jaringan parut pertama kali tumbuh pada dasar laserasi, yang secara
bertahap mengisi saluran luka. Kemudian, epitel mulai tumbuh ke bawah di atas jaringan
skar dan penyembuhan selesai. Skar tersebut tidak mengandung apendises meliputi
kelenjar keringat, rambut dan struktur lain.
Perkiraan kejadian saat kejadian pada luka laserasi sulit ditentukan tidak seperti luka
atau memar. Pembagiannya adalah sangat segera segera, beberapa hari, dan lebih dari
beberapa hari. Laserasi yang terjadi setelah mati dapat dibedakan ddengan yang terjadi saat
korban hidup yaitu tidak adanya perdarahan.
Laserasi dapat menyebabkan perdarahan hebat. Sebuah laserasi kecil tanpa adanya
robekan arteri dapat menyebabkan akibat yang fatal bila perdarahan terjadi terus menerus.
Laserasi yang multipel yang mengenai jaringan kutis dan sub kutis dapat menyebabkan
perdarahan yang hebat sehingga menyebabkan sampai dengan kematian.
Adanya diskontinuitas kulit atau membran mukosa dapat menyebabkan kuman yang
berasal dari permukaan luka maupun dari sekitar kulit yang luka masuk ke dalam jaringan.
Port d entree tersebut tetap ada sampai dengan terjadinya penyembuhan luka yang
sempurna. Bila luka terjadi dekat persendian maka akan terasa nyeri, khususnya pada saat
20

sendi tersebut di gerakkan ke arah laserasi tersebut sehingga dapat menyebabkan disfungsi
dari sendi tersebut. Benturan yang terjadi pada jaringan bawah kulit yang memiliki
jaringan lemak dapat menyebabkan emboli lemak pada paru atau sirkulasi sistemik.
Laserasi juga dapat terjadi pada organ akibat dari tekanan yang kuat dari suatu pukulan
seperi pada organ jantung, aorta, hati dan limpa.
Hal yang harus diwaspadai dari laserasi organ yaitu robekan yang komplit yang dapat
terjadi dalam jangka waktu lama setelah trauma yang dapat menyebabkan perdarahan
hebat.
Kontusi/ruptur
Kontusio Superfisial
Kata lazim yang digunakan adalah memar, terjadi karena tekanan yang besar dalam
waktu yang singkat. Penekanan ini menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil
dan dapat menimbulkan perdarahan pada jaringan bawah kulit atau organ dibawahnya.
Pada orang dengan kulit berwarna memar sulit dilihat sehingga lebih mudah terlihat
dari nyeri tekan yang ditimbulkannya.
Perubahan warna pada memar berhubungan dengan waktu lamanya luka, namun
waktu tersebut bervariasi tergantung jenis luka dan individu yang terkena. Tidak ada
standart pasti untuk menentukan lamanya luka dari warna yang terlihat secara pemeriksaan
fisik.
Pada mayat waktu antara terjadinya luka memar, kematian dan pemeriksaan
menentukan juga karekteristik memar yang timbul. Semakin lama waktu antara kematian
dan pemeriksaan luka akan semakin membuat luka memar menjadi gelap.
Pemeriksaan mikroskopik adalah sarana yang dapat digunakan untuk menentukan
waktu terjadinya luka sebelum kematian. Namun sulit menentukan secara pasti karena hal
tersebut pun bergantung pada keahlian pemeriksa.
Efek samping yang terjadi pada luka memar antara lain terjadinya penurunan darah
dalam sirkulasi yang disebabkan memar yang luas dan masif sehingga dapat menyebabkan
syok, penurunan kesadaran, bahkan kematian.
Yang kedua adalah terjadinya agregasi darah di bawah kulit yang akan mengganggu
aliran balik vena pada organ yang terkena sehingga dapat menyebabkan ganggren dan
kematian jaringan. Yang ketiga, memar dapat menjadi tempat media berkembang biak
kuman. Kematian jaringan dengan kekurangan atau ketiadaaan aliran darah sirkulasi
menyebabkan saturasi oksigen menjadi rendah sehingga kuman anaerob dapat hidup,
kuman tersering adalah golongan clostridium yang dapat memproduksi gas gangren.
Efek lanjut lain dapat timbul pada tekanan mendadak dan luas pada jaringan subkutan.
Tekanan yang mendadak menyebabkan pecahnya sel sel lemak, cairan lemak kemudian
memasuki peredaran darah pada luka dan bergerak beserta aliran darah dapat menyebabkan
21

emboli lemak pulmoner atau emboli pada organ lain termasuk otak. Pada mayat dengan
kulit yang gelap sehingga memar sulit dinilai sayatan pada kulit untuk mengetahui resapan
darah pada jaringan subkutan dapat dilakukan dan dilegalkan.
Kontusio pada organ dan jaringan dalam
Semua organ dapat terjadi kontusio. Kontusio pada tiap organ memiliki karakteristik
yang berbeda. Pada organ vital seperti jantung dan otak jika terjadi kontusio dapat
menyebabkan kelainan fungsi dan bahkan kematian.
Kontusio pada otak, dengan perdarahan pada otak, dapat menyebabkan terjadi
peradangan dengan akumulasi bertahap produk asam yang dapat menyebabkan reaksi
peradangan bertambah hebat. Peradangan ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran,
koma dan kematian. Kontusio dan perangan yang kecil pada otak dapat menyebabkan
gangguan fungsi organ lain yang luas dan kematian jika terkena pada bagian vital yang
mengontrol pernapasan dan peredaran darah.
Jantung juga sangat rentan jika terjadi kontusio. Kontusio ringan dan sempit pada
daeran yang bertanggungjawab pada inisiasi dan hantaran impuls dapat menyebabkan
gannguan pada irama jantung atau henti jantung. Kontusio luas yang mengenai kerja otot
jantung dapat menghambat pengosongan jantung dan menyebabkan gagal jantung.
Kontusio pada organ lain dapat menyebabkan ruptur organ yang menyebabkan
perdarahan pada rongga tubuh.
Fraktur
Fraktur adalah suatu diskontinuitas tulang. Istilah fraktur pada bedah hanya memiliki
sedikit makna pada ilmu forensik. Pada bedah, fraktur dibagi menjadi fraktur sederhana
dan komplit atau terbuka. Terjadinya fraktur selain disebabkan suatu trauma juga
dipengaruhi beberapa faktor seperti komposisi tulang tersebut.
Anak-anak tulangnya masih lunak, sehingga apabila terjadi trauma khususnya pada
tulang tengkorak dapat menyebabkan kerusakan otak yang hebat tanpa menyebabkan
fraktur tulang tengkorak. Wanita usia tua sering kali telah mengalami osteoporosis, dimana
dapat terjadi fraktur pada trauma yang ringan.
Pada kasus dimana tidak terlihat adanya deformitas maka untuk mengetahui ada
tidaknya fraktur dapat dilakukan pemeriksaan menggunakan sinar X, mulai dari
fluoroskopi, foto polos. Xero radiografi merupakan teknik lain dalam mendiagnosa adanya
fraktur.
Fraktur mempunyai makna pada pemeriksaan forensik. Bentuk dari fraktur dapat
menggambarkan benda penyebabnya (khususnya fraktur tulang tengkorak), arah
kekerasan.
Fraktur yang terjadi pada tulang yang sedang mengalami penyembuhan berbeda
dengan fraktur biasanya. Jangka waktu penyembuhan tulang berbeda-beda setiap orang.
22

Dari penampang makros dapat dibedakan menjadi fraktur yang baru, sedang dalam
penyembuhan, sebagian telah sembuh, dan telah sembuh sempurna. Secara radiologis
dapat dibedakan berdasarkan akumulasi kalsium pada kalus. Mikroskopis dapat dibedakan
daerah yang fraktur dan daerah penyembuhan. Penggabungan dari metode diatas
menjadikan akurasi yang cukup tinggi. Daerah fraktur yang sudah sembuh tidaklah dapat
menjadi seperti tulang aslinya.
Perdarahan merupakan salah satu komplikasi dari fraktur. Bila perdarahan sub
periosteum terjadi dapat menyebabkan nyeri yang hebat dan disfungsi organ tersebut.
Apabila terjadi robekan pembuluh darah kecil dapat menyebabkan darah terbendung
disekitar jaringan lunak yang menyebabkan pembengkakan dan aliran darah balik dapat
berkurang. Apabila terjadi robekan pada arteri yang besar terjadi kehilangan darah yang
banyak dan dapat menyebabkan pasien shok sampai meninggal. Shok yang terjadi pada
pasien fraktur tidaklah selalu sebanding dengan fraktur yang dialaminya.
Selain itu juga dapat terjadi emboli lemak pada paru dan jaringan lain. Gejala pada
emboli lemak di sereberal dapat terjadi 2-4 hari setelah terjadinya fraktur dan dapat
menyebabkan kematian.
Gejala pada emboli lemak di paru berupa distres pernafasan dapat terjadi 14-16 jam
setelah terjadinya fraktur yang juga dapat menyebabkan kematian. Emboli sumsum tulan
atau lemak merupakan tanda antemortem dari sebuah fraktur.
Fraktur linier yang terjadi pada tulang tengkorak tanpa adanya fraktur depresi tidaklah
begitu berat kecuali terdapat robekan pembuluh darah yang dapat membuat hematom
ekstra dural, sehingga diperlukan depresi tulang secepatnya. Apabila ujung tulang
mengenai otak dapat merusak otak tersebut, sehingga dapat terjadi penurunan kesadaran,
kejang, koma hingga kematian.
Kompresi
Kompresi yang terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek lokal
maupun sistemik yaitu asfiksia traumatik sehingga dapat terjadi kematiaan akibat tidak

terjadi pertukaran udara.3,6


Perdarahan
Perdarahan dapat muncul setelah terjadi kontusio, laserasi, fraktur, dan kompresi.

Kehilangan 1/10 volume darah tidak menyebabkan gangguan yang bermakna. Kehilangan
volume darah dapat menyebabkan pingsan meskipun dalam kondisi berbaring.
Kehilangan volume darah dan mendadak dapat menyebabkan syok yang berakhir pada
kematian. Kecepatan perdarahan yang terjadi tergantung pada ukuran dari pembuluh darah
yang terpotong dan jenis perlukaan yang mengakibatkan terjadinya perdarahan. Pada arteri
besar yang terpotong, akan terjadi perdarahan banyak yang sulit dikontrol oleh tubuh
23

sendiri.Apabila luka pada arteri besar berupa sayatan, seperti luka yang disebabkan oleh
pisau, perdarahan akan berlangsung lambat dan mungkin intermiten.
Luka pada arteri besar yang disebabkan oleh tembakan akan mengakibatkan luka yang
sulit untuk dihentikan oleh mekanisme penghentian darah dari dinding pembuluh darah
sendiri. Hal ini sesuai dengan prinsip yang telah diketahui, yaitu perdarahan yang berasal
dari arteri lebih berisiko dibandingkan perdarahan yang berasal dari vena.
Hipertensi dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan cepat apabila terjadi
perlukaan pada arteri. Adanya gangguan pembekuan darah juga dapat menyebabkan
perdarahan yang lama. Kondisi ini terdapat pada orang-orang dengan penyakit hemofili
dan gangguan pembekuan darah, serta orang-orang yang mendapat terapi antikoagulan.
Pecandu alcohol biasanya tidak memiliki mekanisme pembekuan darah yang normal,
sehingga cenderung memiliki perdarahan yang berisiko. Investigasi terhadap kematian
yang diakibatkan oleh perdarahan memerlukan pemeriksaan lengkap seluruh tubuh untuk
mencari penyakit atau kondisi lain yang turut berperan dalam menciptakan atau
memperberat situasi perdarahan.6
Kombinasi dari luka lecet, memar dan laserasi
Luka lecet, memar dan laserasi dapat terjadi bersamaan. Benda yang sama dapat
menyebabkan memar pada pukulan pertama, laserasi pada pukulan selanjutnya dan lecet
pada pukulan selanjutnya. Tetapi ketiga jenis luka tersebut dapat terjadi bersamaan pada
satu pukulan.
Trauma Tajam
Benda tajam seperti pisau, pemecah es, kapak, pemotong, dan bayonet menyebabkan
luka yang dapa dikenali oleh pemeriksa. Tipe lukanya akan dibahas di bawah ini :
Luka insisi
Luka insisi disebabkan gerakan menyayat dengan benda tajam seperti pisau atau silet.
Karena gerakan dari benda tajam tersebut, luka biasanya panjang, bukan dalam. Panjang dan
kedalaman luka dipengaruhi oleh gerakan benda tajam, kekuatannya, ketajaman, dan keadaan
jaringan yang terkena. Karakteristik luka ini yang membedakan dengan laserasi adalah
tepinya yang rata.
Luka tusuk
Luka tusuk disebabkan oleh benda tajam dengan posisi menusuk atau korban yang
terjatuh di atas benda tajam.
Bila pisau yang digunakan bermata satu, maka salah satu sudut akan tajam, sedangkan
sisi lainnya tumpul atau hancur. Jika pisau bermata dua, maka kedua sudutnya tajam.
Penampakan luar luka tusuk tidak sepenuhnya tergantung dari bentuk senjata. Jaringan
elastis dermis, bagian kulit yang lebih dalam, mempunyai efek yang sesuai dengan bentuk
senjata. Harus dipahami bahwa jaringan elastis terbentuk dari garis lengkung pada seluruh
24

area tubuh. Jika tusukan terjadi tegak lurus garis tersebut, maka lukanya akan lebar dan
pendek. Sedangkan bila tusukan terjadi paralel dengan garis tersebut, luka yang terjadi sempit
dan panjang.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk, salah satunya adalah
reaksi korban saat ditusuk atau saat pisau keluar, hal tersebut dapat menyebabkan lukanya
menjadi tidak begitu khas. Atau manipulasi yang dilakukan pada saat penusukan juga akan
mempengaruhi. Beberapa pola luka yang dapat ditemukan :
1. Tusukan masuk, yang kemudian dikeluarkan sebagian, dan kemudian ditusukkan kembali
melalui saluran yang berbeda. Pada keadaan tersebut luka tidak sesuai dengan gambaran
biasanya dan lebih dari satu saluran dapat ditemui pada jaringan yang lebih dalam maupun
pada organ.
2. Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut, sehingga
luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan kulit seperti ekor.
3. Tusukan masuk kemuadian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain, sehingga saluran
luka menjadi lebih luas. Luka luar yang terlihat juga lebih luas dibandingkan dengan lebar
senjata yang digunakan.
4. Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam sebagai
landasan, sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar pada bagian
superfisial. Sehingga luka luar lebih besar dibandingkan lebar senjata yang digunakan.
5. Tusukan diputar saat masuk, keluar, maupun keduanya. Sudut luka berbentuk ireguler dan
besar.
Jika senjata digunakan dengan kekuatan tambahan, dapat ditemukan kontusio minimal
pada luka tusuk tersebut. Hal ini dapat diindikasikan adanya pukulan. Panjang saluran luka
dapat mengindikasikan panjang minimun dari senjata yang digunakan. Harus diingat bahwa
posisi tubuh korban saat ditusuk berbeda dengan pada saat autopsi. Posisi membungkuk,
berputar, dan mengangkat tangan dapat disebabkan oleh senjata yang lebih pendek
dibandingkan apa yang didapatkan pada saat autopsi.
Manipulasi tubuh untuk memperlihatkan posisi saat ditusuk sulit atau bahkan tidak
mungkin mengingat berat dan adanya kaku mayat. Poin lain yang perlu dipertimbangkan
adalah adanya kompresi dari beberapa anggota tubuh pada saat penusukan. Pemeriksa yang
sudah berpengalaman biasanya ragu-ragu untuk menentukan jenis senjata yang digunakan.
Pisau yang ditusukkan pada dinding dada dengan kekuatan tertentu akan mengenai
tulang rawan dada, tulang iga, dan bahkan sternum. Karakteristik senjata paling baik dilihat
melalui trauma pada tulang. Biasanya senjata yang tidak begitu kuat dapat rusak atau patah
pada ujungnya yang akan tertancap pada tulang. Sehingga dapat dicocokkan, ujung pisau
yang tertancap pada tulang dengan pasangannya.
25

Luka Bacok
Luka bacok dihasilkan dari gerakkan merobek atau membacok dengan menggunakan
instrument yang sedikit tajam dan relatif berat seperti kapak, kapak kecil, atau parang.
Terkadang bayonet dan pisau besar juga digunakan untuk tujuan ini. Luka alami yang
disebabkan oleh senjata jenis tersebut bervariasi tergantung pada ketajaman dan berat
senjata. Makin tajam instrument makin tajam pula tepi luka.
Sebagaimana luka lecet yang dibuat oleh instrument tajam yang lebih kecil, penipisan
terjadi pada tempat dimana bacokan dibuat. Abrasi lanjutan dapat ditemukan pada jenis
luka tersebut pada sisi diseberang tempat penipisan, yang disebabkan oleh hapusan bilah
yang pipih. Pada instrumen pembacok yang diarahkan pada kepala, sudut besatan bilah
terkadang dapat dinilai dari bentuk patahan tulang tengkorak. Sisi pipih bilah bisa
meninggalkan cekungan pada salah satu sisi patahan, sementara sisi yang lain dapat tajam
atau menipis.
Berat senjata penting untuk menilai kemampuannya memotong hingga tulang di
bawah luka yang dibuatnya. Ketebalan tulang tengkorak dapat dikalahkan dengan
menggunakan instrumen yang lebih berat. Pernah dilaporkan bahwa parang dapat membuat
seluruh gigi lepas. Kerusakan tulang yang hebat tidak pernah disebabkan oleh pisau biasa.
Juga perlu dicatat kemungkinan diakukannya pemelintiran setelah terjadi bacokan dan
dalam upaya melepaskan senjata. Gerakan tersebut, jika dilakukan dengan tekanan, dapat
mengakibatkan pergeseran tulang, umumnya didekat kaki-kaki luka bacok.
Efek utama dari luka tusuk, luka lecet, dan luka bacok adalah perdarahan. Disfungsi
karena kerusakan saraf di ekstremitas juga dapat dicatat. Luka tusuk yang dalam dapat
mengenai organ-organ dalam.
Instrumen teramat kecil yang menyebabkan luka tipe tusuk dapat menyebabkan luka
kecil yang dengan keelastisan dari jaringan normal dapat kembali tertutup setelah intrumen
dicabut, dan tidak ada darah yang keluar setelahnya. Pemecah es, awls, dan hatpins diakui
dapat menyebabkan luka jenis tersebut.
Sebagimana telah didiskusikan pada pembahasan luka tembak, bentuk alami
terpotongnya arteri besar dan jantung oleh karena luka tusuk menyebabkan perdarahan
lebih lambat dibandingkan kerusakan yang sama yang disebabkan luka tembak.
Pada keadaan tertentu, senjata yang tidak umum digunakan, menyebabkan luka tusuk,
lecet, atau bacok. Anak panah berburu yang setajam silet yang umumnya dipakai jarak
jauh, pernah juga dipakai untuk menusuk korban dengan tangan. Potongan tajam gelas,
botol pecah, dan objek gelas lain yang tajam terkdang dipakai sebagai senjata untuk
merobek atau menusuk. Pisau bedah, jarum jahit, dan tonggak tajam dapat digunakan
26

sebagai senjata yang mematikan. Beberapa catatan sebaiknya dibuat mengenai kerusakan
yang tertutupi oleh instrumen tajam yang dipakai sebagai sejata untuk menusuk. Jika pisau
bermata dua atau sejata sejenis digunakan, tepi pemotongan yang tajam menyebabkan
sudut tajam atau robekan dengan kaki-kaki bersudut akut. Senjata bermata satu seringkali
menyebabkan salah satu kaki luka bersudut tajam dan yang satunya tumpul.
Pemeriksaan pakaian korban penusukan dapat memeberi perkiraan ciri-ciri senjata
yang digunakan. Pemeriksaan tersebut menjadi sangat penting nilainya apabila luka tusuk
diperlebar oleh dokter bedah untuk tujuan menilai luka secara lebih akurat untuk
kepentingan medikolegal. Pemeriksaan ini juga penting untuk menilai apakah senjata
benar-benar menembus pakaian hingga kelapisan dibawahnya. Beberapa individu yang
menggunakan senjata tajam untuk bunuh diri dapat membuka sedikit bagian pakaiannya
sehingga tidak akan ditemukan robekan tembus pada pakaian. Tidak adanya kerusakan
pada pakaian yang dipakai oleh korban, padahal luka terdapat pada area yang tertutupi
pakaian, dapat menunjukkan bahwa kematian disebabkan masalah internal.
Terdapat 2 tipe luka oleh karena instrumen yang tajam dikenal dengan baik dan
memiliki ciri yang dapat dikenali dari aksi korban. tanda percobaan adalah insisi
dangkal, luka tusuk atau luka bacok yang dibuat sebelum luka yang fatal oleh individu
yang berencana bunuh diri. Luka percobaan tersebut seringkali terletak paralel dan terletak
dekat dengan luka dalam di daerah pergelangan tangan atau leher. Bentuk lainnya antara
lain luka tusuk dangkal didekat luka tusuk dalam dan mematikan.
Meskipun jarang sekali dilaporkan, luka bacok superfisial di kepala dapat terjadi
sebelum ayunan yang keras dan menyebabkan kehilangan kesadaran dan/atau kematian.
Bentuk lain dari luka oleh karena instrumen yang tajam adalah luka perlawanan.
Luka jenis ini dapat ditemukan di jari-jari, tangan, dan lengan bawah (jarang ditempat lain)
dari korban sebagaimana ia berusaha melindungi dirinya dari ayunan senjata, contohnya
dengan menggenggam bilah dari instrumen tajam.
Jelas bahwa tanda percobaan merupakan ciri khas bunuh diri dan tanda
perlawanan menunjukkan pembunuhan. Bagaimanapun juga, boleh saja berpikir bahwa
luka lecet dapat ditemukan, umumnya pada leher atau sekitar leher, disebabkan oleh
penyerang pada kasus pembunuhan. Luka lecet multipel di lengan bawah dapat pula,
meskipun jarang, menjadi tanda perlawanan, namun tampil seperti luka percobaan.
Interpretasi dari tanda perlawanan dan percobaan yang tampak sebaiknya disimpulkan
setelah pemeriksaan yang lengkap dan seksama.
Tabel 2. Klasifikasi Cara Mati.6

27

Luka Tembak
Harus selalu ada di dalam benak kita bahwa saat tembakan terjadi, dilepaskan 3 substansi
berbeda dari laras senjata. Yaitu anak peluru, bubuk mesiu yang tidak terbakar, dan gas.
Gas tersebut dihasilkan dari pembakaran bubuk mesiu yang memberikan tekanan pada
anak peluru untuk terlontar keluar dari senjata. Proses tersebut akan menghasilkan jelaga.
Ada bagian yang berbentuk keras seperti isi pensil untuk menyelimuti bubuk mesiu.
Sebenarnya tidak semua bubuk mesiu akan terbakar; sejumlah kecil tetap tidak terbakar,
dan sebagian besar lainnya diledakkan keluar dari lubang senjta sebagai bubuk, yang
masing-masing memiliki kecepatan inisial sama dengan anak peluru atau misil lain. Massa
materi yang terlontar dari laras pada saat penembakan dapat menjadi patokan jarak yang
ditempuhnya. Gas, yang bersamanya juga terkandung jelaga, sangat jelas dan dapat melalui
jarak yang sangat pendek yang diukur dengan satuan inch. Bubuk mesiu yang tidak
terbakar, dengan massa yang lebih besar, dapat terlontar lebih jauh. Tergantung kepada tipe
bubuknya, kemampuan bubuk mesiu untuk terlontar bervariasi antara 2-6 kaki (0,6-2 m).
Makin berat anak peluru tentu saja membuatnya terlontar lebih jauh menuju target yang
ditentukan atau tidak ditentukan

Autopsi Kematian akibat Asfiksia mekanik


Asfiksia mekanik meliputi peristiwa pembekapan, penyumbatan, pencekikan, penjeratan
dan gantung serta penekanan pada dinding dada. Pada pemeriksaan mayat, umumnya kan
ditemukan tanda kematian akibat asfiksi berupa lebammayat yang gelap dan luas,
perbendungan pada bola mata, busa halus pada lubang hidung, mulut dan saluran pernafasan,
perbendungan pada alat-alat dalam serta bintik perdarahan Tardieu.3,5,6,7
a. Mati akibat pencekikan
Pada korban pencekikan, kulit daerah leher menunjukkan tanda-tanda kekerasan yang
ditimbulkan oleh ujung jari atau kuku berupa luka memar dan luka lecet jenis tekan. Pada
pembedahan akan ditemukan pula tanda kekerasan berupa resapan bawah kulit daerah leher
serta otot atau alat leher. Tulang lidah kadang-kadang ditemukan patah unilateral.
b. Mati akibat penjeratan
28

Pada kasus penjeratan, kadangkala masih ditemukan jerat pada leher korban. Jerat harus
diperlakukansebagai barang bukti dan dilepaskan dari leher korban dengan jalan menggunting
secara miring pada jerat, di tempat yang paling jauh dari simpul, sehingga simpul pada jerat
tetap utuh. Pada kasus penjeratan, jerat biasanya berjalan horizontal/mendatar dan letaknya
rendah. Jerat ini meninggalkan jejas jerat berupa luka lecet jenis tekan yang melingkari leher.
Catat keadaan jejas jerat dengan teliti, dengan menyebutkan arah, lebar, serta letak jerat yang
tepat. Perhatikan apakah jejas jerat menunjukkan pola (pattern) tertentu yang sesuai dengan
permukaan jerat yang bersentuhan dengan kulit leher.
Pada umumnya dikatakan simpul mati ditemukan pada kasus pembunuhan, sedangkan
simpul hidup ditemukan pada kasus bunuh diri. Namun perkecualian selalu terjadi.
Waktu Perkiraan Mati
Beberapa perubahan yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati:
1. Perubahan pada mata.
Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sclera di kiri-kanan kornea akan berwarna
kecoklatan dalam waktu beberapa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi kornea (taches
noires sclerotiques). Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis. Kekeruhan yang terdapat pada
lapisan luar masih dapat dihilangkan dengan meneteskan air. Kekeruhan yang menetap terjadi
sejak kira-kira 6 jam pasca mati.Kira-kira 10-12 jam pasca mati dalam beberapa jam saja
fundus tidak tampak jelas. Setelah kematian distorsi pupil pada penekanan bola mata. Tidak
ada hubungan diameter pupil dengan lama mati.
Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati.
Hingga 30 menit pasca mati terjadi kekeruhan macula dan mulai memucatnya discus optikus.
Kemudian hingga 1 jam pasca mati, macula lebih pucat dan tepinya tidak tajam lagi. Selama 2
jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar discus menjadi kuning. Warna kuning
juga tampak disekitar macula yang menjadi lebih gelap. Pada saat itu pola vascular koroid
yang tampak sebagai bercak-bercak dengan latar belakang merah dengan pola segmentasi
yang jellas, tetapi pada kira-kira 3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi
homogen dan lebih pucat.
Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas discus kabur dan hanya pembuuh-pembuluh
besar yang megalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kuning-kelabu.
Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas discus akan sangat
kabur. Pada 12 jam pasca mati discus hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi
beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi
gambaran pembuluh darah retina dan discus, hanya macula saja yang berwarna coklat gelap.

29

2. Perubahan dalam lambung. Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehingga


tidak dapat digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat
mati. Namun keadaan lambung dan isinya dapat membantu dalam membuat keputusan,
dengan menemukan makanan tertentu, dapat menyimpulkan korban sebelum meninggal
mengkonsumsi makanan tersebut.
3. Perubahan rambut. Kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari, panjang rambut kumis
dan jenggot dapat dipergunakan untuk memerkirakan saat kematian,apabila diketahui kapan
terakhir ia mencukur.
4. Pertumbuhan kuku. Pertumbuhan kuku sekitar 0,1 mm per hari dapat digunakan untuk
memperkirakan kematian sejak kuku terakhir kali dipotong.
5. Perubahan dalam cairan serebrospinal. Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg%
menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80 mg%
menunjukkan kematian belum 24 jam,kadar keratin kurang dari 5 mg% dan 10mg% masingmasing menunjukkan kematian sebelum mencapai 10 jam dan 30 jam.
6. Dalam cairan vitreus terjadi peningkatan kadar Kalium yang cukup akurat untuk
memperkirakan saat kematian antara 24 hingga 100 jam pascamati.
7. Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisersebis darah pasca
mati tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya. Perubahan
tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan permebealitas dari sel
yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses kematian dapat menimbulkan
perubahan dalam darah bahkan sebelum kematian itu terjadi. Hingga saat ini belum
ditemukan perubahan dalam darah yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati
dengan lebih tepat.
8. Reaksi supravital, yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti
reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Beberapa uji dapat dilakukan terhadap
mayat yang masih segar, misalnya rangsang listrik masih dapat menimbulkan kontraksi otot
mayat hingga 90-120 menit pasca mati dan mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai
60-90 menit pasca mati, sedangkan trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit
sampai 1 jam pasca mati.
Hasil Pemeriksaan
Pada pemeriksaan luar ditemukan mayat tidak terbungkus serta mayat berpakaian kaos dalam
(oblong) berwarna putih merk Rider, celana celana panjang merek Levis yang di bagian
bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya, celana dalam dari kaus warna pink
terang dengan karet berwarna hijau pada pinggang dengan tulisan Rider berwarna hitam.

30

Leher korban terikat oleh lengan kemeja milik sendiri, dan lengan kemeja
sebelahnya tadi terdapat serat-serat kayu karena tadinya terikat dengan pohon perdu. Tidak
terdapat lebam mayat, kaku mayat dan mayat telah membusuk.
Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur kurang lebih tiga puluh tahun,
kulit berwarna hitam langsat, gizi baik, panjang badan 173 cm, berat badan 67 kg dan zakar
disunat. Rambut kepala tidak ada. Alis berwarna hitam, tumbuh lurus dengan panjang 6 mm.
Kedua mata tertutup. Selaput bening mata keruh, kedua teleng mata bundar dengan
garis tengah 4 mm. Tirai mata berwarna coklat muda. Selaput bola mata dan selaput kelopak
mata kanan dan kiri berwarna putih, tidak tampak perdarahan maupun pelebaran pembuluh
darah.
Hidung mancung. Kedua daun telinga berbentuk biasa. Kedua bibir tampak tebal. Gigi
geligi lengkap. Dari lubang hidung, telinga, mulut dan lubang lainnya tidak keluar apapun.
Alat kelamin berbentuk biasa tidak menunjukkan kelainan. Lubang dubur berbentuk biasa
tidak menunjukkan kelainan.
Pada tubuh terdapat luka-luka, pada daerah ketiak sebelah kiri, terdapat luka tusuk
dengan pisau bermata satu. Pada sekujur kaki kiri dan kanan korban terdapat luka-luka akibat
kekerasan benda tajam.
Kesimpulan
Kematian korban dapat dipastikan telah melebihi waktu 1x24 jam. Beberapa luka
terbuka yang ditemukan adalah akibat kekerasan tajam. Pada kekerasan tajam daerah ketiak
yang menyebabkan putusnya pembuluh darah memungkinkan penyebab kematian adalah
akibat perdarahan. Namun perlu diperhatikan apakah pembuluh darah tersebut merupakan
pembuluh darah besar yang dapat mengakibatkan perdarahan yang menyebabkan kematian.
Daftar Pustaka
1. Ilmu kedokteran forensik diunduh dari
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/0356d8c1f4e9fb12634ab943684e443bbc3108
fd.pdf, pada tanggal 16 Desember 2014.
2. Identifikasi forensik. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Ke-1. Bagian Kedokteran Forensik
FK UI. Jakarta: 2001; h.204-6.
3. Teknik Autopsi Forensik. Edisi ke-1. Bagian Kedokteran Forensik FK UI. Jakarta:2001
4. Widiatmaka W. Visum Et Repertum. Jurnal Kedokteran Bagian Departemen Forensik
Universitas Indonesia. Jakarta: 2009.

31

5. Soegandhi, R.

Pedoman Pemeriksaan Jenazah Forensik dan Kesimpulan Visum et

Repertum di RSUP Dr. Sardjito. Edisi ke-2. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FK UGM,
Yogyakarta; 2001.
6. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kejahatan terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia. Peraturan Perundangan-Undangan Bidang
Kedokteran. Edisi ke-1. Bagian Kedokteran Forensik FK UI. Jakarta:1994
7. T Noguchi Thomas. Forensic Medicine. The McGraw Hill Companies. USA; 2003.
8. Prosedur medikolegal. Peraturan Perundangan-Undangan Bidang Kedokteran. Edisi ke-1.
Bagian Kedokteran Forensik FK UI. Jakarta:1994.h 11-20.

Bagian Ilmu Kedokteran Forensik


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Salemba Raya 6 Telp 3106197, Fax 3154626 Jakarta 10430

Jakarta, 17 Desember 2014


Nomor: 1234-SK III/5678/9-10.
Lamp.: satu sampul tersegel
Perihal: Hasil Pemeriksaan Pembedahan---------------------------------------------------------------Atas jenazah Tn. Sutarno----------------------------------------------------------------------------------

PROJUSTITIA
Visum Et Repertum
No 123/TU. RSKab. Tangerang/XII/2014

32

Yang bertandatangan di bawah ini, dr. Steaffie, dokter ahli kedokteran forensik pada
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, menerangkan bahawa atas permintaan dari kepolisian sektor Tangerang dengan
suratnya nomor 314/VER/XII/2014/Res.Tg tertanggal 17 Desember 2014 maka dengan ini
menerangkan bahwa pada tanggal 18 Desember 2014 pukul 13.25 bertempat di ruang bedah
jenazah Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, telah
melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah:---------Nama

: Sutarno--------------------------------------------------------------------------

Umur

: 24 tahun--------------------------------------------------------------------------

Jenis Kelamin : Laki-laki------------------------------------------------------------------------Warga negara : Indonesia------------------------------------------------------------------------Pekerjaan

: Petani----------------------------------------------------------------------------

Agama

: Islam ----------------------------------------------------------------------------

Alamat

: jl. Budi Luhur nomor 14 RT 001 RW 011, kecamatan Sukajaya,


Tangerang-------------------------------------------------------------------------

Hasil Pemeriksaan---------------------------------------------------------------------------------------Pemeriksaan luar------------------------------------------------------------------------------------------

mayat tidak terbungkus


Lanjutan VER 123/TU. RSKab. Tangerang/XII/2014
Halaman ke 2 dari 4 halaman

1. Mayat tidak terbungkus.--------------------------------------------------------------------2. Mayat berpakai sebagai berikut:-----------------------------------------------------------(a) pakaian dalam oblong polos berwarna putih dengan merek Rider, berukuran
M dengan rembesan daerah di sekitar bagian kiri pakaian dalam tersebut-----(b) kemeja lengan panjang berwarna abu-abu polos merek Nevada berukuran M.
terdapat robekan pada bagian lengan kiri kemeja dengan ukuran 5 sentimeter
kali 2 milimeter dan robekan di daerah kerah kemeja. terdapat rembesan
darah sekitar bagian kiri kemeja.-----------------------------------------------------(c) celana panjang bahan berwarna coklat merek Boston berukuran L, dengan
saku masing-masing satu pada kanan dan kiri celana, dan masing-masing 1 di
bagian belakang celanan kanan dan kiri. Celana digulung bagian bawah duaduanya setingi 5 sentimeter dari bagian bawah celana.---------------------------(d) celana dalam polos berwarna biru tua.---------------------------------------------3. Pada tubuh terdapat luka-luka sebagai berikut:-----------------------------------------a) Pada leher mayat terdapat kesan terjerat oleh baju--------------------------------b) Pada daerah ketiak kiri terdapat luka sayat benda tajam berukuran 3
sentimeter kali 2 milimeter, terbuka yang mengakibatkan terputusnya
pembuluh darah ketiak----------------------------------------------------------------33

c) Tungkai bawah kanan dan kiri ada luka terbuka berukuran 2 sentimeter kali 3
milimeter akibat kekerasan benda tajam--------------------------------------------d) Tulang tidak terdapat tanda-tanda patah tulang-------------------------------------

Pemeriksaan dalam (bedah jenazah)-----------------------------------------------------------------1. Jaringan lemak bawah kulit daerah dada dan perut berwarna kuning kecoklatan,
tebal di daerah dada lima milimeter sedangkan di daerah perut sebelas sentimeter.
Otot-otot berwarna merah terang dan cukup tebal. Sekat rongga badan sebelah
kanan setinggi sela iga keempat dan yang kiri setinggi sela iga kelima.-------------2. Semua iga serta tulang dada tidak menunjukan kelainan. -----------------------------3. Kandung jantung tampak tiga jari di antara kedua tepi paru. Kandung jantung
tidak menunjukan adanya kelainan.-------------------------------------------------------4. Jaringan ikat bawah kulit, pada daerah kiri sisi depan leher, satu sentimeter di
bawah tulang jakun terdapat resapan darah seluas satu sentimeter kali satu
sentimeter. Otot leher pada pangkal anak lidah terdapat sembab dan resapan darah.
-----------------------------------------------------------------------------------------5. Dinding rongga perut tampak licin, berwarna kelabu mengkilat dengan sedikit
berwarna merah terang. Dalam rongga perut tidak terdapat darah maupun cairan.
cairan. Otot dinding perut berwarna cokelat cukup tebal.-----------------6. Lidah berwarna cokelat pucat, penampang berwarna cokelat. Tulang lidah utuh,
rawan gondok patah pada ujung kanan dan kiri, dan terdapat resapan darah. Tonsil
tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukan kelainan. Kelenjar
gondok berwarna coklat
Lanjutan VER 123/TU. RSKab. Tangerang/XII/2014
Halaman ke 3 dari 4 halaman

gondok berwarna coklat merah, perabaan kenyal, tidak membesar dan


penampangnya tidak menunjukan kelainan, berat dua puluh gram. --------------7. Batang tenggorok berisi busa dan selaput lendirnya terdapat pelebaran
pembuluh darah.--------------------------------------------------------------------------8. Kerongkongan kosong dan selaput lendirnya terdapat pelebaran pembuluh
darah.--------------------------------------------------------------------------------------9. Seluruh permukaan paru kanan dan kiri melekat pada dinding dada pada kedua
paru terdapat perkejuan dengan perabaan padat. Paru kanan terdiri atas tiga
baga, berwarna ungu, perabaan kenyal padat, penampang berwarna ungu, pada
pemijatan keluar busa dan darah, berat enam ratus lima puluh gram. Paru kiri
terdiri dari dua baga, berwarna ungu, perabaan kenyal padat, penampang
berwarna ungu, pada pemijatan keluar busa dan darah, berat lima ratus enam
puluh gram.-------------------------------------------------------------------------------10. Jantung tampak sebesar tinju kanan mayat, berwarna cokelat keunguan,
perabaan kenyal, ukuran lingkar katub serambi kanan sebelas sentimeter, kiri
sembilan sentimeter, pembuluh nadi paru lima koma lima sentimeter dan
batang nadi lima sentimeter, tebal otot bilik kanan empat millimeter dan kiri
34

dua belas millimeter, pembuluh nadi jantung tidak tersumbat, berat dua ratus
gram.---------------------------------------------------------------------------------------11. Hati berwarna cokelat keunguan, permukaannya rata, tepinya tajam dan
perabaan kenyal padat. Penampang hati berwarna cokelat dan gambaran hati
tampak jelas. Berat hati adalah seribu dua ratus gram.-----------------------------12. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendirnya
berwarna hijau seperti beludru. Saluran empedu tidak menunjukan
penyumbatan.-----------------------------------------------------------------------------13. Limpa berwarna ungu pucat, permukaannya rata dan perabaan kenyal.
Penampangnya berwarna ungu dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa
seratus sepuluh gram. -------------------------------------------------------------------14. Kelenjar liur perut berwarna cokelat, permukaan berbaga-baga, dan perabaan
kenyal. Penampang berwarna cokelat dengan gambaran kelenjar jelas Berat
kelenjar liur perut delapan puluh lima gram. ----------------------------------------15. Lambung kosong. Selaput lendirnya terdapat pelebaran pembuluh darah. Usus
dua belas jari, usus halus, dan usus terdapat pelebaran pembuluh darah.--------Kelenjar anak ginjal kanan berbentuk trapezium berwarna kuning penampang
berlapis. Kelenjar anak ginjal kiri berbentuk bulan sabit, warna kuning
penampang berlapis. Berat anak ginjal kanan delapan gram dan yang kiri
sembilan gram.---------------------------------------------------------------------------16. Ginjal kanan dan kiri bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri
tampak rata dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal kanan
sembilan puluh lima gram dan yang kiri seratus gram. Penampang ginjal

menunjukkan gambaran yang


Lanjutan VER 123/TU. RSKab. Tangerang/XII/2014
Halaman ke 4 dari 4 halaman

menunjukan gambaran yang jelas. Piala ginjal terdapat bintik perdarahan dan
saluran kemih tidak menunjukan sumbatan. -----------------------------------------17. Kandung kencing kosong dan selaput lendirnya licin, berwarna putih, tidak
menunjukan kelainan.-------------------------------------------------------------------18. Kulit kepala bagian dalam pada daerah puncak kepala terdapat resapan darah
seluas dua sentimeter kali dua sentimeter dan pada puncak kepala kiri terdapat
resapan darah seluas dua koma lima sentimeter kali dua sentimeter. Tulang
tengkorak utuh, selaput keras otak utuh, selaput lunak otak utuh.----------------19. Otak besar terdapat pelebaran pembuluh darah dan permukaan agak mendatar.
Otak kecil terdapat pelebaran pembuluh darah dan tampak penonjolan otak
kecil bagian bawah. Batang otak utuh. Bilik otak kosong, berat seribu empat
ratus enam puluh gram.------------------------------------------------------------------

35

Kesimpulan
Pada mayat laki-laki ini ditemukan luka terbuka pada ketiak kiri yang memperlihatkan
pembuluh darah ketiak putus, dan beberapa luka terbuka pada daerah tungkai bawah kanan
dan kiri akibat kekerasan tajam dan ditemukan juga kekerasan tajam pada ketiak kiri yang
menyebabkan terputusnya pembuluh darah sehingga terjadi pendarahan yang banyak.
-----------------------------------------------------------------------------------------------sebab mati laki-laki ini adalah asfiksia karena leher diikat menggunakan lengan
kemeja nya sendiri yang dilakukan oleh tersangka.---------------------------------------------------Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan
keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana. -----------------------------------------------------------------------------------------------

Dokter yang memeriksa,

(Steaffie)
NIP 102011391

36