Anda di halaman 1dari 15

KONSEP URBAN CATALYST SUNGAI JAJAR

Justifikasi Pemilihan Konsep Perancangan Sungai Jajar


Konsep yang akan diterapkan untuk merancang sungai jajar koridor Makam Kadilangu
Agrowisata adalah konsep transportasi air sebagai pendukung aktivitasaktivitas pariwisata yang telah ada yakni Makam Kadilangu dan Agrowisata. Sebagai
salah satu katalis demi terwujudnya kota terpadu berbasis pariwisata, konsep transportasi
sungai ini dikembangkan berdasarkan perspektif Supply sides. Karena konsep tersebut
lebih bertujuan pada meningkatnya pengunjung wisata dan membuat atraksi baru yang
sekaligus bisa memperlancar pergerakan wisatawan. Dalam justifikasi pemilihan lokasi
hingga tema, condong pada pengembangan potensi yang selama ini diabaikan.

Dalam penentuan nama konsep, disesuaikan dengan konsep umum di atas, dengan kata
kunci berupa sungai, transportasi, wisata, dan tentunya Demak. Nama konsep tersebut
adalah Jajar Transriver yang memiliki arti transportasi untuk wisata yang
menggunakan prasarana air berupa sungai. Dalam konsep Transriver, ditambahkan
makna Tourism Transportation yang berarti transportasi sebagai penunjang wisata
sekaligus menjadi daya tarik wisata yang nantinya ikut mempercepat pertumbuhan
(catalyst) Kota Demak. Berikut ini ilustrasi mengenai tahapan terbentuknya Jajar
Transriver :

Dengan konsep tersebut, permasalahan mendasar pada Sungai Jajar dapat teratasi karena
sungai akan dijadikan sebagai prasarana transportasi yang disertai dengan pengelolaan
sungai secara berkelanjutan. Sehingga Sungai Jajar tidak menjadi sumber daya potensial
yang tidak bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan Kecamatan Demak.
Benchmarking
Benchmarking diperlukan sebagai tolok ukur dan pembanding suatu konsep perencanaan
dengan konsep yang telah diterapkan pada suatu wilayah. Dengan memperhatikan
berbagai aspek, kriteria tertentu, dan tujuan dari perencanaan itu sendiri. Dalam proses
pembandingan tersebut menggunakan dua sudut pandang. Yang pertama adalah sudut
pandang positif dan akan dijadikan sebagai salah satu contoh baik karena
keberhasilannya, dan sudut pandang negative yakni berasumsi bahwa suatu konsep yang
diterapkan pada suatu perancangan adalah gagal dalam penerapannya. Dalam
perancangan ini digunakan sudut pandang positif.
Best Practice
Best practice menjadi tolok ukur dalam menentukan suatu konsep yang telah berhasil dan
bisa dimasukkan pada konsep perancangan Sungai Jajar.
1.

Sungai Kuching, Serawak

Salah satu contoh yang dijadikan best practice adalah perancangan Sungai Kuching,
Serawak Malaysia. Transportasi air pada Sungai Kuching menghubungkan antara pusat
kota dengan permukimannya, dengan menggunakan sarana transportasi berupa kapalkapal kecil yang di sana disebut dengan istilah tambang. Sungai Kuching pada awalnya
juga memiliki latar belakang yang sama dengan Kali Jajar, yang juga digunakan sebagai
tempat MCK. Sungai tersebut masih terpolusi, baik oleh kotoran, bahan organik, limbah
rumah tangga, limbah kimia, plastik, hingga erosi dan sedimentasi. Oleh karena itu
dirancang pengelolaan pembangunan Sungai Kuching untuk menjadi media transportasi
air yang baik dan memadai di Sarawak. Pembangunan tersebut pada akhirnya
meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengelola keberlanjutan sungai, serta
menciptakan pendapatan bagi masyarakat menengah ke bawah.

Dalam penerapan pembangunan Sungan Kuching, digunakan moda efektif dengan


Community Water Transport (CWT), dengan mempertimbangkan akses, ukuran, dan
biaya operasi, serta pemberdayaan sungai itu sendiri. Kapal-kapal kecil sebagai sarana
transportasi air dimanfaatkan dengan prinsip low-emission, sehingga keseimbangan

ekologis tetap terjaga. Untuk meminimalisasi dampak dan resiko, dilakukan penyuluhan
dan sosialisasi pada masyarakat untuk menghargai nilai sungai mereka dan turut
membantu memelihara dan mengatasi permasalahan-permasalahan sungai mereka.
Sasaran pembangunan CWT sebagai manajemen sungai juga untuk meningkatkan
aktivitas pasar, memperbaiki kehidupan, serta meningkatkan akses ke fasilitas-fasilitas
yang dibutuhkan. Karena masyarakat banyak bergantung pada Sungai Kuching, maka
pembangunannya juga harus mengubah atau memperbaiki gaya hidup masyarakatnya,
sehingga perubahan dilakukan secara menyeluruh, untuk memperbaiki aspek sosial,
ekonomi, dan ekologis.
Dalam pengelolaan dermaganya, Sungai Kuching tak hanya mempertimbangkan
keseimbangan ekologis, namun juga memperhatikan aspek fisik, seperti bentuk lahan dan
bangunan, elemen kehidupan flora dan fauna, elemen lain seperti pencayahaan dan
kondisi cuaca, serta aktivitas sosial.
2.

Sungai Chao Praya dan Ton Son, Thailand

Best Practice yang lainnya adalah transportasi air yang berada di Bangkok, dimana
Bangkok merupakan Ibu Kota Negara Thailand masih berusaha menggunakan
transportasi air sebagai tranportasi utama yang menghubungkan antara tata guna
lahan satu dengan lainnya, baik dari kawasan permukiman ke perdagangan dan jasa serta
kawasan pariwisata. Adapun salah satu transportasi air yang menghubungkan antara
kawasan wisata satu dengan yang lainnya yaitu berada di sungai chao phraya. Adapun
penggerak perahu menggunakan mesin.

3.

Boat Quay, Singapura

Selain mengadopsi sebagian konsep pada Sungai Kuching (Serawak) dan Sungai Chao
Phraya & Ton Son (Thailand), juga mengadopsi konsep yang ada pada kawasan Kali
Singapur. Kali singapura pada jaman dahulu digunakan sebagai tempat parkir kapal
untuk barang perdagangan, dan kondisinya sangat kumuh tapi sekarang mampu menjadi
daya tarik wisata di pusat Kota Singapura. Dengan mengandalkan konsep transportasi
sungai untuk wisata yang dengan memperhatikan aktivitas pada sekitar sungai, Kali
Singapura menjadi lebih hidup dengan banyak spot-spot yang bisa menjadi kunjungan
wisata. Seperti Central Clark Quay, Boat Quay, Merchant Loop, dan lainnya yang
merupakan aktivitas wisata di sepanjang Kali Singapura. Yang akan di jadikan sebagai
contoh desain adalah pada penyediaan jalur pedestrian dan cafe-cafe yang ada di kanan
kiri sungai. Wisata pada bantaran Kali Sigapura tersebut lebih menekankan pada wisata

pedestrian sehingga lebih bisa menikmati keindahan sungai dan mengharuskan


pengunjung untuk menggunakan transportasi air ketika ingin mengunjungi spot wisata
lain yang jaraknya jauh. Transportasi sungai yang ada di Singapura memiliki branding
Singapur River Cruise yang berarti Pelayaran Kapal Sungai Singapura. Yang
menghubungkan titik titik wisata dan menghidupkan aktivitas di sekitar sungai.

4.

Sungai Binatur, Pekalongan

Sungai Binatur merupakan sungai yang terdapat di Pekalongan dimana pada awalnya
sugai ini memiliki permasalahan yang hampir menyerupai permasalahan Sungai Jajar
yaitu terkait dengan kebersihan karena lokasinya yang terletak di sekitar perumahan
dimana masyarakat kurang menjaga sanitasi di sungai tersebut dan kurang adanya sistem
pengelolaan yang baik sehingga sungai ini terkesan diabaikan oleh masyarakat setempat.
Namun demikian, melihat potensi yang dimiliki sungai tersebut dari segi lokasi dan
karakteristik sungai itu sendiri maka pemerintah setempat yaitu Dinas Pekerjaan Umum
di Pekalongan melakukan konsep untuk menata kawasan tepi Kali Asem Binatur di
Kelurahan Podosugih atau yang lebih dikenal dengan Binatur Riverwalk (BRW). Ide
tersebut berawal dari impian dan gagasan warga Podosugih, yang ingin mewujudkan
lingkungan dan hunian yang sehat, aman, nyaman, lestari, dan produktif. Langkah awal
yang dilakukan untuk memulai konsep tersebut adalah melakukan sosialisasi kepada
masyarakat mengenai arti pentingnya menjaga lingkungan sekitar sungai demi
kebersihan dan kesehatan. Melalui sosialisasi tersebut masyarakat mulai sadar hingga
sebagian warga pun rela membongkar bangunan rumahnya yang menjorok ke tepi sungai
untuk dibangun sarana akses jalan, serta mau mengubah orientasi bangunannya
menghadap ke sungai. Pencemarang yang terdapat di sungai pun ditangani melalui
pembuatan Instalasi Pengolahan Limbah atau IPAL terpadu di sekitar kawasan Sungai
Binatur. Dan yang terpenting adalah adanya keterlibatan langsung dari masyarakat
setempat dalam menjalankan rencana yang diterapkan oleh pemerintah.

Kendala
Dalam memilih konsep dan best practice harus tetap memperhatikan kondisi eksisting di
lapangan. Baik itu mengenai kondisi fisik maupun non fisiknya. Best Practice tersebut
bisa diterapkan di Sungai Jajar akan tetapi dengan kendala yang cukup signifikan
terhadap berjalannya konsep tersebut. Kendala yang ada di wilayah studi adalah
keberadaan suatu teknologi sungai yakni Check Dam yang telah dibangun pada masa
penjajahan Belanda yang berfungsi sebagai pemisah antara air laut dengan air sungai.
Akan tetapi keberadaannya dapat membahayakan laju perahu karena terdapat perbedaan
kedalaman. Berikut ini ilustrasi penampang Check Dam :

Keberadaan check dam ini menjadikan perahu tidak dapat berlayar di sungai
sebagaimana mestinya, baik air dalam keadaan normal maupun tidak. Apabila perahu
dipaksakan untuk melewati check dam maka perahu akan terguling sehingga
membutuhkan solusi yang mampu mengatasi kendala tersebut.

Penerapan Konsep Perancangan Kawasan Mikro Pada Site


Sungai Jajar
Konsep Transriver tersebut merupakan konsep besar yang membutuhkan teknis-teknis
konsep secara detail. Dalam hal ini teknis konsep disebut dengan strategi untuk
tercapainya konsep utama dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada.
Strategi konsep untuk perancangan Kawasan Sungai Jajar adalah sebagai berikut :
1. Menciptakan Transportasi sungai yang memperhatikan lingkungan dengan
pemanfaatan moda perahu yang menghubungkan Kadilangu, Pasar Bintoro dan
Agrowisata. Strategi yang digunakan untuk mendukung pengoptimalan transportasi
sungai adalah:
a. Menyediakan dermaga dan shelter sebagai tempat berhentinya perahu dan tempat
untuk naik turunnya penumpang.
b. Membuat perjalanan wisata menjadi 2 bagian yakni :
Perjalanan yang menjadi lokasi tujuan dalam konsep transportasi Sungai Jajar
diantaranya Makam Kadilangu, Pasar Bintoro dan Agrowisata. Lokasi ini merupakan
lokasi yang menjadi tujuan utama wisata bagi pengunjung sekaligus lokasi yang dilintasi
oleh Sungai Jajar. Pengunjung yang melakukan perjalanan di sungai ini setidaknya harus

satu kali mengganti kapal yang telah disediakan di dermaga yang terletak di Pasar
Bintoro. Hal ini disebabkan adanya check dam di tengah-tengah Sungai Jajar sehingga
menghalangi laju perahu yang melintasi kawasan tersebut.

Berikut ini adalah rician penggalan perjalanan wisata di Sungai Jajar :

Bagian pertama Kadilangu Pasar Bintoro

Bagian kedua yakni Pasar Bintoro Agrowisata.

c. . Normalisasi Sungai Jajar untuk memperlancar aliran air dan memperlancar


pergerakan perahu wisata.
Normalisasi sungai dilakukan dengan cara pengerukan pada kedua sisi sungai sehingga
mampu meningkatkan dan menormalkan debit air yang mampu menunjang pergerakan
transportasi di Sungai Jajar. Normalisasi juga diharapkan mampu meminimalkan resiko
banjir yang mungkin terjadi apabila debit air menjadi sangat tinggi terutama jika musim
hujan. Normalisasi sendiri dilakukan menjadi 3 bagian disesuaikan dengan kepentingan
aktivitas yang dilakukan pada tiap lokasi.

Pada penggal pertama, dilakukan normalisasi hingga lebar sungai nantinya


mencapai 30 m dimana pada penggal inimerupakan kawasan historis sehingga
akan dikembangkan untuk lokasi museum bernuansa islami.

Pada penggal ketiga, normalisasi dilakukan hingga lebar sungai mencapai 25 m


karena pada penggal tersebut akan digunakan untuk aktivitas rekreasi.

Penggal kedua, normalisasi dilakukan hingga lebar sungai mencapai 35 m karena


pada penggal ini akan dikembangkan aktivitas untuk perdagangan dan jual beli
dengan memanfaatkan keberadaan Pasar Bintoro.

2. Membuat perjalanan menjadi 3 karakteristik. Yang pertama adalah karakteristik


sejarah, kedua adalah karakteristik belanja, dan yang terakhir adalah karakteristik
rekreasi. Yang bertujuan agar dalam perjalanan mampu memberikan kesan menarik dan
tidak membosankan.

3. Mengadopsi sistem transportasi TOD yakni berupa peralihan moda perahu menjadi
sepeda di Agrowisata

menyediakan parkir komunal untuk sepeda sebagai alih moda.

membuat halte dan parkir motor di dermaga sebagai peralihan moda dari
angkutan dari Kadilangu menjadi perahu.

4. Menghidupkan aktivitas bantaran sungai dengan cara pengelolaan open space untuk
daya tarik pengunjung (Perancangan Ruang Terbuka Hijau pasif dan aktif di bantaran
sungai)

Taman aktif berupa taman yang dilengkapi sarana dan prasarana taman bermain,
rekerasi yang mempehatikan kesejukan lingkungan yang berada di dekat kebun
buah Agrowisata.

Taman pasif untuk lokasi landmark dan penekanan untuk jalur hijau pada
sempadan sungai.

Jalur hijau yang berada di sisi barat sungai, ditanami pohon mahoni yang
mempunyai kemampuan menyerap timbal tinggi, sehingga dapat mengurangi
polusi dan meningkatkan kenyamanan pejalan kaki.

Jalur hijau yang berada di sisi timur sungai, ditanami pohon dan rumput yang
digunakan sebagai pengendali erosi.

5. Perancangan street furniture di bantaran sungai

Jalur pedestrian untuk membiasakan berjalan kaki dan menjaga lingkungan di


sepanjang sungai).

Menyediakan lampu-lampu, tempat duduk, tempat sampah, vegetasi, serta


pepohonan agar menciptakan kondisi aman dan terang pada malam hari.

6. Perancangan fasilitas penunjang


Menyediakan fasilitas perdagangan, toilet, dan fasilitas untuk atraksi lain berupa spotspot untuk memancing.

7. Pengoptimalan infrastruktur

Perbaikan jalan sebagai akses masuk.

Pengelolaan sungai berupa normalisasi dengan lebar rata-rata 30 meter dan


perawatan secara berkala.

8. Melakukan pengelolaan Sungai Jajar dengan melakukan kerjasama baik anatar pihak
pemerintah sebagai pemrakarsa konsep, swasta sebagai pelaksana konstruksi serta
keikutsertaan masyarakat dalam menjalankan konsep tersebut.

Rencana Aktivitas di Kawasan Sungai Jajar


Aktivitas yang ada di Sungai Jajar direncanakan semenarik mungkin untuk
menghidupkan pariwisata Sungai Jajar dan sekaligus sebagai upaya peningkatan daya
tarik wisatawasan sehingga banyak pengunjung yang ingin mendatangi kawasan ini dan
sekitarnya. Aktivitas yang direncanakan pada kawasan Sungai Jajar memanfaatkan
potensi yang ada di Sungai Jajar itu sendiri maupun potensi lain di sekitarnya seperti
Makam Kadilangu dan Agrowisata. Aktivitas yang direncanakan di kawasan ini adalah :
1. Atraksi berupa kesenian Islami yang mencirikan kebudayaan Demak yang diadakan
tiap bulan besar Islam seperti Maulud Nabi Muhammad, Menjelang Ramadhan Lebaran
dan tiap hari Sabtu.

Atraksi yang dilakukan berupa atraksi sungai seperti bermain rebana dan nasyid
diatas kapal di koridor Sungai Jajar.

Mengadakan arak-arakan (Grebeg Besar) yang melibatkan warga setempat di


sekitar sungai dan sempadan sungai.

Dugderan dengan cara menjual barang diatas sungai (dugderan apung)

2. Adanya tempat makan apung berupa cafe yang terletak di sempadan Sungai Jajar
tepatnya di penggal peratama (berdekatan dengan lokasi Agrowisata) dan penggal ketiga
(berdekatan dengan Makam Kadilangu), tetapi bangunannya agak menjorok kedalam
sungai. Cafe ini menawarkan pemandangan di sekitar Sungai Jajar serta menjual
makanan laut dengan cita rasa khas Demak.
3. Dibangun museum kecil yang menawarkan relief kapal atau perahu Sungai Jajar,
historis Wali Songo dan Kerajaan Demak (Sunan Kalijaga). Selain itu didalam museum
ini juga terdapat bangunan kecil yang menjual pernak-pernik islami khas Demak.
4. Adanya spot memancing yang diletakkan di sepanjang penggal pertama (di sekitar
kawasan Agrowisata). Spot memancing ini juga dapat dijadikan tempat rekreasi untuk
sekedar bersantai karena di sepanjang sempadan Sungai Jajar akan disediakan RTH.

KONSEP URBAN CATALYST KECAMATAN DEMAK


Pada dasarnya pusat pertumbuhan suatu Kecamatan dimulai di pusat-pusat pemerintahan.
Pusat pertumbuhan ini timbul dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat
setempat dan sekitarnya. Pusat pertumbuhan Kecamatan juga dapat dimulai dari letak
pusat pemerintahan yang disebelahnya yang memiliki pusat perdagangan dan bisnis serta
memiliki intensitas pergerakan manusia yang tinggi di dalam daerah tersebut atau keluar
masuk daerah tersebut. Inti Kecamatan ini berfokus pada pembangunan ekonomi yang
dapat bersaing secara regional dengan memperhatikan pembangunan berkelanjutan (tidak
hanya memikirkan sekarang tetapi juga dampak jangka panjang bagi masyarakat).
Salah satu pusat aktivitas yang bisa dikembangkan di Kecamatan Demak adalah aktivitas
pariwisata. Aktivitas pariwisata dapat menunjang perkembangan suatu wilayah karena
pariwisata merupakan leading industri yang mampu menjadi stimulan perkembangan
sektor lain. Aktivitas pariwisata ini merupakan salah satu Urban Catalyst sehingga
mampu memberikan pengaruh bagi perkembangan wilayah dan perekonomian di
Kecamatan Demak dan sekitarnya. Pertumbuhan ekonomi tersebut akan mampu
meningkatkan pertumbuhan Kecamatan Demak melalui terwujudnya Kecamatan Terpadu
Berbasis Pariwisata. Kecamatan terpadu berbasis pariwisata memerlukan sektor
pendukung agar dapat mewujudkan perkembangan perekonomian Kecamatan Demak
dan wilayah disekitarnya. Elemen-elemen tersebut yaitu :

Posisi tema transportasi yakni berada pada Catalyst yang menghubungkan antara obyek
wisata yang satu dengan obyek wisata yang lain, tema satu dengan tema yang lain.
Karena transport lebih bersifat universal dan semua aspek membutuhkannya.
Transportasi sendiri terbagi menjadi dua yakni transportasi darat dan transportasi air.

Transportasi air yakni menggunakan media Sungai Jajar sebagai prasarana utama dan
bantarnnya sebagai pendukung. Perancangan transportasi air akan bisa menjadi salah satu
catalyst terwujudnya Kota Terpadu Berbasis Pariwisata karena pengembangannya
berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki dan pemecahan permasalahan pada kawasan
tersebut. Berdasarkan permasalahan yang terjadi di Kecamatan Demak yakni pusat kota
tidak mampu memberikan pengaruh terhadap perkembangan sekitarnya, maka
transportasi sungai berkontribusi pada terhubungkannya Kadilangu dengan Agrowisata
dengan moda dan cara yang berbeda. Dengan demikian, pariwisata akan terpadu dan
aktivitas lain juga ikut tumbuh. Untuk lebih rincinya, akan dijelaskan pada konsep
perancangan Sungai Jajar di berikut ini.