Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Urgensi syahadat (ahamiyyah asy-syahadatain) perlu dijabarkan
kepada masyarakat agar dapat benar-benar memahami syahadah secara
konsepsional dan secara operasional aplikatif. Syahadah penting karena
dengan bersyahadah seseorang bisa menyatakan dirinya sebagai muslim,
syahadah sebagai pintu bagi masuknya seseorang ke dalam islam.
Pemahaman seorang muslim terhadap syahdatain dapat melakukan
perubahan perubahan individu, keluarga atau msyarakat. Dalam sejarah
para nabi dan rasul, syahadah merupakan kalimat yang diperjuangkan.
Dan kalimat inilah yang menggerakkan dakwah nabi dan rasul.
Dengan syahadah tentunya setiap muslim akan mendapatkan
banyak pahala dan ganjaran yang besar dari Allah SWT. Rasulullah SAW
bersabda, barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut
disembah kecuali Allah semata dan tidak menyekutukanNya dan bahwa
Nabi Muhammmad adalah hambaNya dan utusanNya, bahwa Nabi Isa
adalah hamba Allah dan utusanNya serta RuhNya dicampakkan ke dalam
diri Maryam, surge dan neraka adalah Haq, ia akan dimasukkan ke dalam
surga oleh Allah sesuai dengan amal perbuatannya (HR. Bukhari).
Dalam agama islam pokok-pokok ajarannya terangkum dalam
Arkanul Islam (rukun islam), sebagaimana tertulis dalam hadis Rasulullah
SAW yang diriwayatkan oleh Abi Abdu Al-Rahmandan Umar Bin Khatab,
yang artinya sebagai berikut : Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam
bersabda,

Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat bahwa tidak ada


tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berhaji, dan berpuasa
Ramadlan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini merupakan salah satu
rujukan para penyusun hadis dan ulama fiqih, apabila merujuk dari hadis
tersebut, seharusnya pembahasan pokok-pokok syariat islam dimulai dari
rukun islam yang pertama yaitu syahadatain. Ucapan atau lafadz
Asyahadah adalah ucapan yang didasari pengetahuan baik pengetahuan
yang dihasilkan dari penglihatan mata maupun dari keyakinan hati.
Kalimat syahadat juga menjadi bukti seseorang telah menjadi seorang
muslim, dia telah mengakui kebenaran islam. Dalam mengucapkan nyata
dan tidak ada paksaan atau tekanan dari pihak apapun. Dia secara tulus
1

ikhlas dari lubuk hatinya sendiri untuk melafadzkan kalimat itu. Adapun
lafadznya
berbunyi,
Asyhaduallaillaahaillaahwaasyahaduannamuhammaadarasulullah yang artinya: saya bersaksi tiada
tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul
Allah. Kalimat ini juga disebut dengan Syahadatain (dua kalimat
syahadat).
1.2.

Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui makna kepribadian muslim Asy-Syahadatain
1.1.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui Kepentingan/Urgensi Dua Kalimat Syahadat
2. Mengetahui makna dan pengertian Asy-Syahadatain
2. Mengetahui syarat-syarat Syahadat
3. Sepuluh perkara yang membatalkan syahadat
4. Mengetahui aplikasi Asy-Syahadatain dalam keseharian
5. Mengetahui peran perawat terhadap aplikasi Asy-Syahadatain
1.3 Manfaat
1. Mahasiswa mengerti tentang makna Asy-Syahadatain sehingga dapat menunjang
pembelajaran perkuliahan pada mata kuliah Agama II.
2. Sebagai seorang perawat harus mengerti makna Asy-Syahadatain dan dapat
mengaplikasikannya dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan
syariat islam.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Makna Ahammiyah Asy-Syahadatain (Kepentingan/Urgensi Dua Kalimat Syahadat)
Syahadatain adalah rukun islam yang pertama. Urgensi syahadat ini karena
syahadah sebagai dasar dan asas bagi rukun islam lainnya dan menjadi tiang untuk rukun
iman. Syahadatain ini menjadi ruh (semangat), inti dan landasan seluruh ajaran islam.
Oleh sebab itu, sangat penting syahadah dalam kehidupan setiap muslim. Sebab-sebab
kenapa syahadah penting bagi kehidupan muslim karena syahadah adalah
a. Pintu masuknya dalam islam (Madkhal Illa Al-Islam)
b. Intisari ajaran islam (khulaashah taaaliim al-islaam)
c. Dasar-dasar perubahan menyeluruh (asaas al-inqilaab)
d. Hakikat seruan para rasul (haqiqaah dawah ar-rusul)
e. Keutamaan yang besar (fadhaail azhiimah)
2.2 Makna Dan Pengertian Asy-Syahadatain
2.1.1. Pengertian
Syahadatain atau dua kalimah syahadat merupakan kalimat yang utama dan
pertama yang harus diucapkan dan dipahami apabila seseorang masuk Islam dan bagi
seluruh umat Islam pada umumnya. Syahadatain ini mengandung dua pengertian yang
sangat mendasar yaitu bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad SAW adalah
Rasulullah.
2.1.2. Makna Laa Ilaaha Illallah
Secara umum kalimat ini terdiri atas dua bagian yaitu Laa Ilaaha (tiada Ilah) dan
Illallah ( selain Allah). "Laa" yang terdapat pada kalimat "Laa Ilaaha Illallah" adalah
merupakan muruf nafi (penghilangan) yang menghilangkan segala jenis, dalam hal ini
yang di nafi-kan adalah segala jenis Ilah. Illa adalah huruf istisna (pengecualian) yang
mengecualikan Allah dengan segala jenis Ilah yang di nafi-kan. Bentuk kalimat seperti ini
disebut kalimat manfi ( negatif) lawan dari kalimat mutsabat ( positif). Kata Illa telah
meng"itsbat"kan kalimat yang negatif (manfi).
Dalam bahasa Arab, itsbat setelah nafi mempunyai maksud membatasi ( Al
Hasru), dan taukid ( menguatkan). Dengan demikian Laa Ilaaha Illallah berarti
membuang seluruh ilah dan illahllah berarti menetapkan Allah sebagai satu-satunya Ilah
yang sebenar-benarnya berhak di sembah. Oleh karena itu nafi (menghilangkan) ilah-ilah
yang ada harus disertai dengan itsbat ( menetapkan) Allah sebagai ilah yang tunggal
dalam kehidupan. Jadi kedua hal itu tidak dapat dipisahkan.
"Ilah" di dalam bahasa Arab memiliki akar kata alaha yang berarti antara lain :
tenteram, lindungan, cinta, dan sembah. Hal ini sesuai dengan firman Allah, "Orangorang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah
bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram"(QS. Ar Raad(13) : 28).
Allah juga berfirman, "Adapun orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah"
(QS. Al Baqarah(2) : 165).
Jika seseorang memperhambakan diri terhadap sesuatu maka ia akan
mengikutinya, memuliakan, mengagungkan, mematuhi dan tunduk kepadanya serta
3

bersedia mengorbankan kemerdekaan yang dimiliki. Allah SWT adalah satu-satunya


Yang Memiliki dan Yang Menguasai langit dan bumi dan segala isinya. Oleh karena itu
Dialah yang menciptakan (Al Khaliq), Yang Memberi rizqi (Ar Raziq) dan Dia pula yang
Mengelola ( Al Mudabbir). Allah Taala adalah satu-satunya yang wajib di taati jadi
Dialah yang menentukan segala hukum dan segala aturan (Al Hakim), Yang Melindungi
(Al Wali), dan Dia lah yang menjadi tumpuan harapan dan kepada-Nya-lah ditujukan
segala amalan ( Al Ghayah) dan pada puncaknya Dialah yang Maha disembah satusatunya (Al Mabud) Jadi dengan demikian maka kalimat Laa Ilaaha Illallah mengandung
beberapa pengertian, yaitu :
a.
Laa khaliqa Illallah (Tiada Pencipta kecuali Allah)
b.
Laa Raziqa Illallah (Tiada Pemberi Rizqi kecuali Allah)
c.
Laa Mudabbira Illallah (Tiada Pengelola kecuali Allah)
d.
Laa Hakima Illallah (Tiada Pembuat Hukum kecuali Allah)
e.
Laa Waliyya Illallah (Tiada Pelindung kecuali Allah)
f.
Laa Ghayata Illallah (Tiada Tujuan kecuali Allah)
g.
Laa Mabuda Illallah (Tiada Sesembahan kecuali Allah).
Di dalam Al Quran Allah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus
rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah
thaghut itu....." (QS. An Nahl(16) : 36). Thaghut adalah merupakan syaitan dan apa saja
yang disembah selain Allah SWT. Dari uraian diatas maka dapatlah disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan Ilah adalah segala sesuatu yang mendominasi dan menguasai diri
kita. Maka Laa Ilaaha Illallah juga dapat diartikan sebagai Tiada segala sesuatu yang
mendominasi diri kita selain daripada kekuasaan Allah semata. Sebagai suatu ilustrasi
apabila seseorang mendengar panggilan untuk beribadah kepada Allah tetapi dia tidak
segera menyambutnya hanya karena sesuatu hal yang bersifat duniawi maka baginya
masih terdapat suatu ilah selain Allah dan ia belum mengamalkan syahadatain dengan
sebenar-benarnya karena ia masih mendekati apa yang disebut dengan thaghut.
2.1.3. Makna Muhammadurrasulullah
Persaksian Laa Ilaaha Illallah diatas tidak akan terwujud secara benar dalam
kehidupan sehari-hari tanpa mengikuti petunjuk yang diberikan Rasulullah Muhammad
SAW maka persaksian terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW dijadikan sebagai salah
satu dari dua kalimah syahadat yang merupakan pintu gerbang untuk memasuki Dienul
Islam. Rasulullah merupakan contoh teladan yang utama bagi setiap muslim dan
keteladanan ini bersifat total baik secara vertikal kepada Allah yang berupa ibadah-ibadah
khusus maupun yang bersifat horizontal kepada sesama makhluk yang berupa ibadahibadah yang bersifat umum. Hal ini difirmankan oleh Allah di dalam surat QS. Al Ahzab
ayat 21, Sesungguhnya telah ada pada ( diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat
dan dia banyak menyebut Allah (QS. Al Ahzab(33) : 21).
2.1.4. Keutamaan Laa Ilaaha Illallah
Dalam kalimat (Laa Ilaaha Illallah) terhimpun banyak keutamaan, dan faedah
yang bermacam-macam. Akan tetapi keutamaan tersebut tidak akan bermanfaat bagi yang
mengucapkannya jika sekedar diucapkan saja. Dia baru memberikan manfaat bagi orang
4

yang mengucapkannya dengan keimanan dan melakukan kandungan-kandungannya.


Diantara keutamaan yang paling utama adalah bahwa orang yang mengucapkannya
dengan ikhlas semata-mata karena mencari ridho-Nya maka Allah taala haramkan
baginya api neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah :

:) ( ))
((

Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi siapa yang mengatakan: Laa
Ilaaha Illallah semata-mata karena mencari ridho-Nya (Muttafaq Alaih).
Dan banyak lagi hadits-hadits yang lain yang menyatakan bahwa Allah
mengharamkan orang-orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dari api neraka. Akan
tetapi ada syarat yang dijelaskan oleh hadits-hadits tersebut.
Banyak orang yang mengucapkannya, namun disaat kematian dia dikhawatirkan
terkena fitnah sehingga dia terhalang dari kalimat tersebut karena dosa-dosa yang selama
ini selalu dilakukannya dan dianggapnya remeh. Banyak juga orang yang
mengucapkannya dengan dasar ikut-ikutan atau rutinitas semata, sementara keimanan
tidak meresap kedalam hatinya. Orang-orang yang disebutkan di atas yang sering
mendapatkan fitnah saat kematiannya dan saat di kubur sebagaimana terdapat dalam
sebuah hadits Saya mendengarkan manusia mengatakannya, maka saya mengatakannya
(H.R. Ahmad dan Abu Daud).
Dengan demikian maka tidak ada kontradiksi antara hadits-hadits yang
menjelaskan tentang keutamaan ucapan Laa Ilaaha Illallah, karena jika seseorang
mengucapkannya dengan ikhlas dan penuh keyakinan maka dia tidak mungkin berbuat
dosa terus menerus, lantaran kesempurnaan keikhlasan dan keyakinan menuntutnya untuk
menjadikan Allah sebagai sesuatu yang lebih dicintainya dari segala sesuatu, maka tidak
ada lagi dalam hatinya keinginan terhadap apa yang diharamkan Allah taala dan
membenci apa yang Allah perintahkan. Hal seperti itu yang membuatnya diharamkan dari
api neraka meskipun dia melakukan dosa sebelumnya, karena keimanan, taubat,
keikhlasan, kecintaan dan keyakinannya membuat dosa yang ada padanya terhapus
bagaikan malam yang menghapus siang.
2.2. Syarat-syarat Syahadat
Syarat syahadat terdiri dari 4 macam yaitu:
)
(4
"Dan disyaratkan dalam membaca dua kalimat syahadat yaitu dengan;
1. Mutawwaliyatain (berturut-turut dalam membacanya)
2. Murattabatain (Membacanya harus tertib antara syahadat tauhid dan syahadat
rasul)
3. Membacanya harus dengan berbahasa arab, bagi yang mampu
4. Mengetahui arti atau maknanya".
Fardunya syahadat terdiri dari tiga macam
1. Diucapkan dengan lisan
2. Meyakinkan dalam hati
3. Diamalkan dalam anggota badan
5

2.3. Sepuluh Perkara yang Membatalkan Syahadat


Para fuqoha dalam kitab-kitab fikih telah menulis bab khusus yang diberi nama
Riddah (kemurtadan). Dan yang terpenting adalah 10 hal, yaitu :
1. Syirik Kepada Allah,
2. Orang yang menjadikan antara dia dan Allah perantara-perantara
Ia berdoa kepada mereka, meminta syafaat kepada merekadan bertawakkal
kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara ijma. Kejadian ini pernah terjadi
pada zaman Rosulullah SAW yaitu yang telah dilakukan oleh kaum kair Quraisy.
Salah jika menganggap kaum Quraisy sepenuhnya berTuhan kepada Latta, Uzza,
Manat, serta Huban. Mereka hanyalah Ghoroniq buatan kaum mereka sendiri
dengan dalih para ghoroniq inilah yang akan menyampaikan doa-doa serta
permohonan mereka kepada Allah. Tuhan mereka hanyalah pemberi syafaat
kepada mereka. Tampaknya hal ini juga banyak terjadi di kalangan masyarakat di
negeri kita saat ini yaitu generasi-generasi jahiliyah modern.
3. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang musyrik dan orang yang masih ragu
terhadap kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka, dia itu kafir
4. Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi Muhammad SAW, dan
petunjuk tersebut lebih sempurna dari petunjuk beliau
5. Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang dibawa oleh Rosulullah SAW
sekalipun ia juga mengamalkannya, maka ia kafir.
6. Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rosul SAW atau pahala maupun
siksanya, maka ia kafir.
7. Sihir
diantaranya sharf dan athf (barangkali adalah amalan yang membuat suami benci
kepada istrinya atau membuat wanita cinta kepadanya/pelet). Barangsiapa
melakukan atau meridhoinya, maka ia kafir.
8. Mendukung kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat
islam.
9. Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari
syariat Nabi Muhammad SAW seperti halnya Nabi Khidir boleh keluar dari
syariat Nabi Musa maka ia kafir. Sebagaimana diyakini oleh ghulat sufiyah (sufi
yang berlebihan / melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat
atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rosulullah SAW
10. Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak pula
mengamalkannya.
Sedangkan batal syahadat terdiri dari empat macam, yaitu;
1. Mengucapkan Allah tidak satu
2. Ragu-ragu terhadap af'alullah
3. Memungkiri bahwa dirinya diciptakan oleh Allah
4. Tidak yakin kepada Allah

BAB 3
Aplikasi Asy-Syahadatain Dalam Keperawatan
3.2 Peran Perawat terhadap aplikasi Asy-Syahadatain
Bimbingan rohani pasien merupakan bagian integral dari bentuk pelayanan
kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan bio-Psyco-Socio-Spritual (APA, 1992 )
yang komprehensif, karena pada dasarnya setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar
spiritual (Basic spiritual needs, Dadang Hawari, 1999 ). Pentingnya bimbingan spiritual
dalam kesehatan telah menjadi ketetapan WHO yang menyatakan bahwa aspek agama
( spiritual )merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya (WHO,
1984).
1. Peran perawat menurut Virginia Henderson mencakup segala 14 KDM (kebutuhan
dasar manusia) dalam hal ini adalah terutama nomor 11 worship according to ones
faith, membantu klien melakukan ibadah menurut kepercayaannya. Didalam agama
islam ibadah yang wajib dilaksanakan secara rutin adalah shalat. Pada orang sakit
mungkin mengalami kesulitan dalam melakukan shalat atau persiapannya, sebagai
perawat yang sudah jelas tujuannya adalah memenuhi KDM klien, maka perawat
berkewajiban secara moral untuk membantu klien. Shalat pada pasien yang mengalami
keterbatasan bergerak ( tidak dapat berdiri) dapat dilakukan dengan duduk ataupun
terlentang, karena Allah SWT selalu memberi kemudahan kepada umatnya. Dan peran
perawat adalah membantu pasien melaksanakan ibadah tersebut, seperti menyiapkan
peralatannya, menyiapkan arah kiblat yang benar, jika pasien tidak mampu membantu
membersihkan hadas besar maupun kecil, membantu ketika berwudhu ataupun jika
pasien tidak boleh terkena air maka membantu bertayamum.
2. Perawat memiliki peran untuk memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis,
dan spiritual klien. Dalam konsep islam, fase sakaratul maut sangat menentukan baik atau
tidaknya seseorang terhadap kematiannya untuk menemui Allah dan bagi perawat pun
akan dimintai pertanggungjawabannya nanti untuk tugasnya dalam merawat pasien di
rumah sakit. Begitu sakitnya menghadapi sakaratul maut sehingga perawat harus
membimbing pasien dengan cara-cara,seperti ini :
a. Menalqin(menuntun) dengan syahadat
Sesuai sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Talqinilah orang yang akan wafat
di antara kalian dengan, Laa illaaha illallah.
b. Hendaklah mendoakannya dan janganlah mengucapkan dihadapannya kecuali katakata yang baik. Maka perawat harus berupaya memberikan suport mental agar pasien
merasa yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan selalu memberikan yang terbaik buat
hambanya, mendoakan dan menutupkan kedua matanya yang terbuka saat roh terlepas
dari jasadnya.
3. Berbaik Sangka kepada Allah.
7

4. Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut.


Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan orang yang
sedang sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian disunnahkan juga
untuk membasahi bibirnya dengan kapas yg telah diberi air. Karena bisa saja
kerongkongannya kering karena rasa sakit yang menderanya, sehingga sulit untuk
berbicara dan berkata-kata. Dengan air dan kapas tersebut setidaknya dapat meredam rasa
sakit yang dialami orang yang mengalami sakaratul maut, sehingga hal itu dapat
mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. (Al-Mughni : 2/450
milik Ibnu Qudamah).
5. Menghadapkan orang yang sakaratul maut ke arah kiblat.

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat bahwa tidak ada tuhan yang
berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan
shalat, mengeluarkan zakat, berhaji, dan berpuasa Ramadlan. (HR. Al-Bukhari dan
Muslim). Dua kalimah syahadat merupakan kalimat yang utama dan pertama yang
harus diucapkan dan dipahami apabila seseorang masuk Islam dan bagi seluruh umat
Islam pada umumnya. Syahadatain ini mengandung dua pengertian yang sangat
mendasar yaitu bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad SAW adalah
Rasulullah. Dalam kalimat (Laa Ilaaha Illallah) terhimpun banyak keutamaan, dan
faedah yang bermacam-macam. Akan tetapi keutamaan tersebut tidak akan
bermanfaat bagi yang mengucapkannya jika sekedar diucapkan saja.
4.2 Saran
Sebaiknya kita mengetahui keutamaan syahadat, keutamaan tersebut tidak akan
bermanfaat bagi yang mengucapkannya sekedar diucapkan saja. Karena keutamaan
syahadat baru memberikan manfaat bagi orang yang mengucapkannya dengan
keimanan dan melakukan kandungan-kandungannya. Sebaiknya peran perawat
terhadap aplikasi syahadat lebih diterapkan karena perawat memiliki peran untuk
memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis, dan spiritual klien.