Anda di halaman 1dari 3

Aplikasi zeolit ZSM-5 salah satunya adalah sebagai katalis, contohnya katalis zeolit

sintetik ZSM-5 Al2O3 dalam reaksi perengkahan minyak sawit menjadi hidrokarbon fraksi
gasoline. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Di sisi lain, produksi minyak bumi menunjukkan tren yang cenderung menurun. Dii
Indonesia sendiri, konsumsi BBM pada tahun 2004 mencapai 61,7 juta kilo liter dengan
kemampuan produksi 44,8 juta kilo liter. Ini mengakibatkan Indonesia membuang devisa
mencapai 15 triliun rupiah setiap tahunnya. Oleh karena itu, sumber lain untuk dapat
menghasilkan hidrokarbon setara fraksi bensin sangat diperlukan. Telah dilakukan penelitian
yang memberikan hasil bahwa minyak berbasis tumbuhtumbuhan dapat digunakan sebagai
bahan baku pembuatan bahan bakar. Oleh karena itu, penggunaan minyak sawit sebagai salah
satu sumber bahan baku pembuatan hidrokarbon fraksi bensin sangat mungkin untuk
dilakukan. Pemilihan minyak sawit ini sendiri dikarenakan Indonesia diperkirakan akan
menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Selain itu, hasil pembakaran bahan bakar
berbasis minyak sawit juga lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi yang
berlebihan. Proses yang dapat diadopsi untuk pembuatan hidrokarbon setaraf fraksi bensin ini
adalah proses perengkahan katalitik (catalytic cracking). Proses perengkahan katalitik ini
telah digunakan oleh para peneliti lain untuk penelitian serupa. Reaksi perengkahan katalitik
adalah suatu reaksi dimana terjadi pemutusan suatu molekul hidrokarbon yang besar menjadi
molekul hidrokarbon yang lebih kecil dengan menggunakan katalis. Perengkahan ini
dilakukan pada temperatur yang realtif lebih rendah jika dibandingkan dengan reaksi thermal
cracking. Katalis yang telah digunakan untuk melangsungkan reaksi ini adalah katalis sintetik
H-ZSM-5 murni yang menghasilkan yield sebesar 49,3%. Reaksi perengkahan ini biasanya
dilakukan pada suhu yang tinggi, yaitu antara 300 500C. Pada suhu yang lebih rendah,
katalis asam yang digunakan belum aktif, namun pada suhu yang lebih tinggi, katalis juga
sudah tidak aktif. Suhu yang tinggi menyebabkan reaksi yang terjadi adalah perengkahan
termal. Oleh sebab itu, pada penelitian ini digunakan temperatur reaksi sebesar 350500C,
sehingga umpan minyak sawit sudah berada dalam fasa uapnya. Optimasi hasil perengkahan
dapat dilakukan dengan memodifikasi katalis yang digunakan. Telah dilaporkan bahwa
penggunaan katalis hibrida (hybrid catalyst) akan menghasilkan produk dengan yield yang
lebih tinggi. Katalis H-ZSM-5 murni akan menghasilkan produk gas yang besar karena
keasamannya yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena katalis ini mengandung asam
Bronsted yang tinggi. Maka dari itu, digunakan katalis hibrida H-ZSM-5/Alumina agar yield
yang dihasilkan meningkat. Katalis Alumina berperan sebagai katalis perengkah utama
karena katalis ini memiliki luas permukaan yang tinggi dan juga katalis ini merupakan katalis
asam. Katalis untuk melakukan reaksi perengkahan haruslah katalis asam. Sedangkan katalis
H-ZSM-5 digunakan untuk menambah keasaman dan menghasilkan yield hidrokarbon fraksi
bensin yang lebih tinggi. Kereaktifan minyak sawit terdapat pada gugus karbonil dan ikatan
rangkapnya. Minyak ini akan mengalami reaksi polimerisasi pada ikatan rangkap dan reaksi
polikondensasi pada gugus karbonil jika dilakukan pemanasan pada suhu tinggi. Maka pada
penelitian ini, minyak sawit terlebih dahulu dipreparasi dengan dilakukan reaksi oksidasi,
transesterifiksai, dan penambahan metanol sehingga kerja katalis untuk merengkah molekul
minyak menjadi lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui temperatur, komposisi
katalis, dan jenis umpan yang optimum untuk mendapatkan hidrokarbon setaraf fraksi bensin.
Dari hasil penelitian, pada reaksi peregkahan, temperatur reaksi memiliki pengaruh
yang cukup signifikan. Temperatur 350C menghasilkan yield bensin sebesar 18,9% dan
temperatur optimum dicapai pada 400C yang menghasilkan yield sebesar 51,3%. Yield

bensin menunjukkan jumlah hidrokarbonsetaraf fraksi bensin dalam produk hasil reaksi.
Temperatur yang lebih tinggi mengahsilkan yield yang lebih kecil karena produk cair yang
terbentuk lebih sedikit, dan menghasilkan produk gas yang lebih besar. Reaksi perengkahan
merupakan reaksi endotermis sehingga jika temperatur yang digunakan terus dinaikkan, maka
reaksi perengkahan akan terus terjadi. Hal ini mengakibatkan molekul yang terengkah
menjadi sangat kecil dan sangat memungkinkan produk yang didapatkan adalah produk gas.
Pada temperatur tinggi, kinetika reaksi juga akan meningkat karena kinetika molekul juga
tinggi. Difusi molekul dengan katalis juga akan meningkat pada temperatur yang tinggi.
Namun, pada temperatur tinggi, kokas juga akan lebih cepat terbentuk. Kokas yang menutupi
inti aktif katalis, akan mengakibatkan penurunan kereaktifan katalis, sehinggafungsi katalis
tidak optimum. Penambahan H-ZSM-5 pada komposisi katalis akan menyebabkan
berkurangnya yield hidrokarbon fraksi bensin. Penambahan 5% katalis H-ZSM-5 pada
Alumina menghasilkan yield bensin dari umpan POME yang paling tinggi yaitu sebesar
63,1% dan yield akan terus mengalami penurunan seiring dengan penambahan H-ZSM-5.
Begitu pula dengan umpan minyak yang ditambah dengan metanol, komposisi katalis HZSM-5/Alumina 5% juga menghasilkan yield yang paling besar yaitu 26,8%. Untuk umpan
POME, penambahan katalis HZSM-5 sebesar 5% menyebabkan penurunan yield yang sangat
signifikan, sedangkan untuk umpan minyak + metanol, penambahan 5 % H-ZSM-5 tidak
menurunkan yield dengan sangat signifikan. Katalis sintetik H-ZSM-5 mengandung sisi asam
Bronsted yang besar sehingga keasamannya tinggi. Meningkatnya keasaman dalam katalis ini
menyebabkan kemampuan katalis untuk merengkah molekul minyak menjadi semakin tinggi.
Katalis dengan keasaman yang tinggi lebih banyak menghasilkan produk gas. Yield produk
gas yang dihasilkan akan meningkat seiring dengan meningkatnya komposisi katalis H-ZSM5. Penambahan H-ZSM-5 berarti juga mengurangi jumlah dari Alumina. Berkurangnya
Alumina ini menyebabkan pengurangan yang signifikan terhadap luas permukaan katalis.
Dengan berkurangnya luas permukaan katalis maka inti aktif yang terdapat dalam katalis juga
berkurang sehingga umpan yang terengkah oleh katalis Alumina, yang keasamannya di
bawah H-ZSM-5, juga menjadi lebih sedikit.
Pengaruh Umpan
Umpan POME menghasilkan produk hidrokarbon setaraf fraksi bensin yang lebih
tinggi daripada umpan minyak + metanol. Umpan POME memiliki rantai molekul yang lebih
pendek, yaitu sekitar 1/3 dari umpan minyak sawit murni. Oleh sebab itu, kerja katalis akan
menjadi lebih ringan jika dibandingkan dengan umpan minyak. Hal ini menyebabkan umur
katalis juga akan bertambah lama. Namun penambahan metanol yang langsung dilakukan di
dalam reaktor ini lebih mempermudah jalur reaksi karena tidak perlu melakukan reaksi
transesterifikasi secara terpisah. Maka dengan perbedaan yield sekitar 35%, penyingkatan
jalur reaksi ini dapat dijadikan pertimbangan untuk memilih metode ini. Yield dari umpan
minyak yang lebih sedikit disebabkan karena metanol tidak berperan secara optimal sebagai
sumber alkil yang baik. Tidak adanya katalis NaOH juga dapat menyebabkan terjadinya hal
ini. Sedangkan untuk umpan minyak yang telah dioksidasi, didapatkan produk yang sangat
kental dan berwarna hitam. Kemungkinan yang menyebabkan terjadinya hal ini adalah karena
ikatan rangkap pada asam lemak yang terkandung dalam minyak sawit sedikit. Kandungan
asam lemak yang terbanyak dalam minyak sawit adalah asam palmitat, asam stearat, serta
asam linoleat dimana kandungan ikatan rangkapnya sedikit sehingga oksigen menyerang
gugus ester dari minyak yang adalah gugus polar. Pada suhu reaksi yang tinggi, ester dengan
hidrogen alfa dapat bereaksi kondensasi diri. Produk intermediet yang dihasilkan adalah suatu

ion enolat yang diikuti dengan eliminasi ROH. Jadi keseluruhannya merupakan reaksi
substitusi nukleofilik. Kondensasi ini mirip dengan kondensasi aldol, namun kondensasi ester
merupakan reaksi substitusi, sedangkan kondensasi aldol adalah reaksi adisi. Kemungkinan
lain yang menyebabkan hal ini terjadi ialah bahwa terjadi pembentukan gugus baru. Produk
hasil reaksi mungkin adalah asam lemak dengan rantai yang lebih pendek (telah terjadi reaksi
perengkahan), namun karena memiliki gugus yang asam yang baru, maka properti yang
dimiliki juga berubah. Salah satu sifat yang berubah tersebut adalah titik beku yang tinggi,
sehingga pada suhu ruang produk hasil reaksi memiliki fasa padat (seperti pada asam miristat,
asam azealat, dll). Perbedaan absorbansi antara POME dan produk setelah reaksi
perengkahan menunjukkan bahwa POME yang digunakan sebagai umpan reaksi perengkahan
telah mengalami perubahan. Gugus ester yang terdapat dalam POME telah mengalami
pemutusan, yang ditandai dengan berkurangnya absorbansi pada gugus ester tersebut.
Terjadinya reaksi perengkahan juga ditandai dengan meningkatnya absorbansi pada ikatan
RC(CH3)3 dan RCH(CH3)2. Dengan semakin banyaknya rantai karbon yang putus, maka
jumlah ikatan C(CH3)3 dan CH(CH3)2 akan semakin banyak dan ditandai dengan naiknya
absorbansi.