Anda di halaman 1dari 11

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA TENTANG

PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN DESIMAL


DI KELAS IV/A SD NEGERI 3 SEKAYU MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT
(TEAMS GAMES TOURNAMENT)
Oleh
Ruslinah
Guru SD Negeri 3 Sekayu
Abstrak

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar


siswa di kelas IV/A SD Negeri 3 Sekayu tentang penjumlahan dan pengurangan
pecahan desimal melalui model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament). Proses pembelajaran yang selama ini masih banyak guru yang aktif
dari pada siswa, hal ini mengakibatkan hasil belajar belum sesuai dengan yang
diharapkan. Penelitian dilaksanakan di kelas IV/A pada tahun pelajaran
2014/2015 dengan kemampuan yang heterogen berjumlah 33 siswa yang terdiri
dari 14 orang laki-laki dan 19 orang perempuan. Metode penelitian ini
menggunakan analisis data kuantitatif yaitu dengan membandingkan hasil belajar
siswa pada siklus pertama dan siklus kedua. Observasi dilakukan dengan
menggunakan lembar observasi untuk mengamati pelaksanaan pembelajaran yang
dilakukan oleh guru. Penelitian berlangsung dalam dua siklus, dapat disimpulkan
bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar
siswa di kelas IV/A SD Negeri 3 Sekayu tentang penjumlahan dan pengurangan
pecahan desimal. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah peserta didik yang
mengalami ketuntasan belajar yaitu 66,67 % (22 orang) pada siklus pertama,
menjadi 87,88 % (29 orang) pada siklus kedua. Berdasarkan hasil yang telah
dicapai dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa salah satu cara untuk
meningkatkan hasil belajar matematika siswa adalah dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).

Kata kunci : Pembelajaran kooperatif, TGT, Hasil belajar, Penjumlahan dan


Pengurangan Pecahan Desimal

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Sebagai salah satu komponen dalam pendidikan, guru menjadi hal yang
begitu penting peranannya. Hal ini senada dengan Rusman (2011) yang
menyatakan bahwa tugas utama guru adalah mendidik, membimbing, melatih
dan mengembangkan kurikulum (perangkat kurikulum). Oleh karena itu,
walaupun pada hakikatnya siswa yang belajar. Namun gurulah yang bertanggung
jawab terhadap proses belajar itu terjadi dengan baik pada setiap siswa. Guru
diharapkan mampu membimbing aktivitas dan potensi siswa dalam mencapai
tujuan pembelajaran dengan menggunkan model yang sesuai. Hal ini perlu
dilaksanakan agar kualitas pembelajaran pada mata pelajaran apapun menjadi
optimal. Salah satu mata pelajaran yang perlu perhatian lebih adalah matematika.
Matematika sangat diperlukan siswa dalam mempelajari dan memahami mata
pelajaran lain.
Begitu pentingnya pelajaran matematika maka dalam melakukan proses
belajar mengajar guru harus dapat menyesuaikan proses pembelajaran yang sesuai
dengan kebutuhan dan perkembangan siswa. Untuk memperoleh kompetensi
tentang pembelajaran matematika tersebut diantaranya siswa harus dapat
menguasai konsep penjumlahan dan pengurangan, salah satunya pecahan desimal.
Berdasarkan pengalaman peneliti berbagai masalah timbul dalam proses belajar
mengajar. Salah satu masalah yang timbul adalah siswa kelas IV/A di SD Negeri 3
Sekayu masih lemah pengetahuannya tentang

penjumlahan dan pengurangan

pecahan desimal. Tidak semua siswa dapat dengan mudah menguasai konsep
penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal. Dari hasil ulangan akhir semester
ganjil yang dilakukan diperoleh bahwa dari 33 siswa yang terdiri dari 14 siswa
laki-laki dan 19 siswa perempuan diperoleh rata-rata kelas 2,64.
Siswa yang mendapat nilai di atas 2,80 adalah sebanyak 39,39 % atau 13
siswa dari 33 siswa. Pada mata pelajaran matematika kriteria ketuntasan minimal
(KKM) yang harus dicapai siswa kelas IV/A di SD Negeri 3 Sekayu adalah 2,80.
Dari hasil ulangan akhir semester ganjil tersebut, yang memperoleh nilai di atas
KKM ada 13 siswa, sedamgkan selebihnya masih di bawah KKM.

Hal ini

menunjukkan rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran


matematika. Sehubungan dengan hal tersebut, maka diperlukan suatu alternatif

pemecahan agar dapat memberi perubahan yang lebih baik dalam menguasai
materi penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal.
Untuk mengatasi permasalahan pada pembelajaran matematika tersebut,
akan digunakan suatu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam menjumlahkan dan mengurangkan pecahan desimal
yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams
Games Tournament). Menurut Rusman (2011), TGT adalah salah satu tipe
pembelajaran kooperatif yang menenpatkan siswa dalam kelompok-kelompok
belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan,
jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda.
Pembelajaran juga akan lebih bervariasi dan menyenangkan karena
disertai dengan permainan-permanian akademik. Berdasarkan latar belakang di
atas peneliti mengambil judul Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Tentang
Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Desimal Di Kelas IV/A SD Negeri 3
Sekayu Melalui

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT(Teams Games

Tournament).
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, diperoleh rumusan masalah adalah
Apakah melalui model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang penjumlahan dan
pengurangan pecahan desimal di kelas IV/A SD Negeri 3 Sekayu ?
3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa di
kelas IV/A SD Negeri 3 Sekayu tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan
desimal melalui model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament).
4. Manfaat Penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat :

a. Bagi siswa, dapat meningkatkan hasil belajar tentang penjumlahan dan


pengurangan pecahan desimal melalui model pembelajaran kooperatif tipe
TGT (Teams Games Tournament).
b. Bagi guru, sebagai bahan masukan

dan

pertimbangan

dalam

mengefekifkan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran sehingga


dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
c. Bagi peneliti, sebagai umpan balik untuk mengembangkan kurikulum
dalam mengembangkan model-model pembelajaran.
B. KAJIAN TEORI
1. Hasil Belajar Siswa
Belajar

adalah

modifikasi

atau

memperteguh

kelakuan

melalui

pengalaman. Maksudnya belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan


dan bukan suatu hasil atau tujuan, belajar bukan hanya mengingat akan tetapi
lebih luas lagi daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu
penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan. Menurut Soemanto
(1998) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap
kemampuan siswa yang ditentukan dalam bentuk angka. Hasil belajar digunakan
guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan
pendidikan. Untuk mengetahui sejauh mana proses belajar mengajar mencapai
tujuan pembelajaran yang diharapkan, maka perlu diasakan tes hasil belajar.
Menurut pendapat Winata Putra dan Rosita (1997), tes hasil belajar adalah salah
satu alat ukur yang paling banyak digunakan untuk menentukan keberhasilan
seseorang dalam suatu proses belajar mengajar atau untuk menentukan
keberhasilan suatu program pendidikan.
Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar memiliki peranan besar dalam
proses pembelajaran. Menurut Abidin (dalam Sutinah, 2013) hasil belajar
memiliki berbagai peranan, seperti :
a. Memberikan informasi tentang kemajuan belajar siswa setelah mengikuti
proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu;
b. Sebagai bahan pertimbangan apakah siswa diberikan program perbaikan,
pengayaan atau menjelaskan pada program pengajaran berikutnya;

c. Untuk keperluan bimbingan dan penyuluhan bagi siswa yang mengalami


kegagalan dalam suatu program bahan pembelajaran;
d. Untuk keperluan supervisi bagi kepala sekolah dan pengawas agar guru lebih
berkompeten;
e. Sebagai bahan dalam memberikan informasi kepada orang tua siswa dan
sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan dalam pengajaran.
2. Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Desimal
Pecahan merupakan bilangan yang dapat dinyatakan sebagai perbandingan

dua bilangan cacah

dan b, ditulis

a
b

dengan syarat b 0. Dengan

demikian secara simbolik pecahan dapat dinyatakan sebagai salah satu : (1)
pecahan desimal, (2) pecahan desimal, (3) persen, dan (4) pecahan campuran.
Menurut Heruman (2008), pecahan diartikan sebagai bagian dari sesuatu yang
utuh..
Salah satu bagian dari pecahan yang merupakan kompetensi yang
dipelajari anak Sekolah Dasar adalah penjumlahan dan pengurangan pecahan
desimal. Materi ini sudah mulai diperkenalkan sejak di kelas IV. Kompetensi
dasar yang dipilih adalah menjumlahkan dan mengurangkan pecahan desimal.
Untuk melalukuan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal
dapat dilakukan dengan cara susun ke bawah.
3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Menutut Sanjaya (2010), salah satu strategi dari model pembelajaran
kelompok adalah stategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning).
Menurut Joyce & Weil (dalam Rusman : 2011) model pembelajaran adalah suatu
rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana
pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran dan
membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Guru boleh memilih model
pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.

Menurut Agus Suprijono dalam (Yunika, 2011) pembelajaran kooperatif


adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk
bentuk-bentuknya yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.
Roger dan David Johnson (dalam Lie, 2008) menyatakan bahwa ada lima unsur
dasar dalam pembelajaran kooperatif, yaitu a. Saling ketergantungan positif; b.
Tanggung jawab perseorangan; c. Interaksi tatap muka; d. Partisipasi dan
komunikasi; e. Evaluasi proses kelompok.
Lebih lanjut Muslimin Ibrahim (2000) menyatakan ada 6 langkah utama
dalam pembelajaran yang menggunakan pembelajan kooperatif seperti tertera
dalam Tabel 1 seperti di bawah ini.
Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase
Fase-1
Menyampaikan
tujuan
memotivasi siswa

dan

Fase-2
Menyajikan Informasi
Fase-3
Mengorganisasikan siswa ke
dalam
kelompok-kelompok
belajar
Fase-4
Membimbing kelompok bekerja
dan belajar
Fase-5
Evaluasi
Fase-6
Memberikan penghargaan
Menurut Robert E. Slavin

Tingkah laku Guru


Guru
menyampaikan
semua
tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
belajar
Guru menyampaikan informasi kepada
siswa dengan jalan demontrasi atau lewat
bahan bacaan
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana
caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien
Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
meteri yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya
Guru mencari cara-cara untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu
dan kelompok.
(2009) menyatakan bahwa beberapa tipe

pembelajaran kooperatif antara lain Student Teams Achievement Division (STAD),


Jigsaw, Teams Games Tournament, Cooperatif Integrated Reading dan
Compositio (CIRC) dan Teams Accelerated Instruction (TAI). Menurut Saco
(dalam Rusman : 2011), dalam TGT siswa memainkan permainan dengan

anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masingmasing.

4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT tentang Penjumlahan dan


Pengurangan Pecahan Desimal
Pembelajaran tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) membutuhkan persiapan yang matang. Persiapan yang diperlukan
oleh guru meliputi:
a. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
b. Membuat media, kartu soal, Lembar Kerja Kelompok (LKK), lembar observasi
pelaksanaan pembelajaran.
Langkah-langkah pembelajaran penjumlahan dan pengurangan pecahan
desimal menggunakan tipe TGT yaitu :
a. Presentasi kelas, guru menjelaskan materi pembelajaran penjumlahan dan
pengurangan pecahan desimal dengan menggunakan media gambar pecahan.
b. Kerja tim / kelompok, pemberian tugas kelompok dan Lembar Kerja
Kelompok tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal.
c. Permainan, permainan dengan kartu soal yang berisi soal-soal tentang
penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal.
Contoh kartu soal :
Kartu Soal
Penjumlahan
Pecahan

Kartu Soal
Penjumlahan
Pecahan

Kartu Soal
Penjumlahan
Pecahan

3,5 + 3,2 = . . . .

3,5 - 1,4 = . . . .

3,5 4,2
=....

Skor : 10

Skor : 10

Skor : 20
d. Turnamen, turnamen dilaksanakan pada akhir pembelajaran untuk memilih
kelompok terbaik. Turnamen berisi kuis-kuis tentang soal-soal cerita

penjumalahan dan pengurangan pecahan desimal yang harus dijawab peserta


turnamen secara lisan.
e. Penghargaan terhadap kelompok, kelompok terbaik mendapatkan penghargaan
dari guru berupa hadiah dan pujian untuk menambah semangat dalam belajar.
5. Penelitian yang relevan
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Yunika (2011) dalam penelitiannya
yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams
Games Tournament) untuk Meningkatkan Kemampuan Menyelesaiakan Soal
Cerita Pecahan pada Siswa Kelas IV SD Negeri Tlompakan III Kecamatan
Tuntang Tahun Ajaran 2010/2011, adanya peningkatan hasil kemampuan
menyelesaikan soal cerita pecahan siswa kelas IV SD Negeri Tlompakan III
dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament), terlihat dari adanya peningkatan rata-rata kelas.

6. Hipotesis Tindakan
Penerapan model pembelajaran tipe TGT (Teams Games Tournament)
dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang penjumlahan dan pengurangan
pecahan desimal di kelas IV/A SD Negeri 3 Sekayu.
C. PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan selama proses pelaksanaan tindakan dapat diketahui
adanya perkembangan ke arah yang lebih baik pada peningkatan peran aktif dalam
proses pembelajaran, yang terkait dengan aktivitas guru dan siswa secara
menyeluurh. Dari hasil pengamatan aktivitas guru pada pelaksanaan tindakan
siklus I dan siklus II terlihat jelas adanya perkembangan yang positif. Pada siklus
I, hasil observasi pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru
memperoleh nilai 93,33 %, sedangkan pada siklus II mencapai 100%.

Dari data awal yang diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 2,64. Setelah
dilaksanakan siklus I diperoleh nilai rata-rata 2,87 meningkat 0,23 dari data awal
sebelum menggunakan model kooperatif tipe TGT. Hal ini menunjukkan adanya
peningkatan antara kondisi awal dengan siklus I, namun indikator keberhasilan
belum tercapai dikarenakan hanya 66,67 % siswa yang mencapai nilai dengan
kriteria ketuntasan minimal 2,80.
Dari hasil siklus I kemudian dilakukan perbaikan pada siklus II diperoleh
nilai rata-rata 3,04 dan indikator keberhasilan tercapai. Hal ini dapat dilihat dari
jumlah siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal adalah sebanyak 29
orang. Peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran penjumlahan dan
pengurangan pecahan desimal melalui model kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.

Data Rata-rata Hasil Belajar Siswa, Ketuntasan Klasikal dan


Peningkatannya
Nilai Rata-rata

% Ketuntasan Klasikal

Siklus I
2,87
87,88 %
Siklus II
3,04
66,67 %
Peningkatan
0,17
21,21 %
Pada Tabel 2, dapat dilihat peningkatan hasil belajar siswa sebesar 0,17
dan persentase ketuntasan secara klasikal sebesar 21,21 %.

Pelaksanaan

pembelajaran pecahan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams


Games Tournament (TGT) secara umum telah menunjukkan hasil yang
diharapkan yaitu lebih 85 % siswa telah mencapai batas Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yaitu 2,80. Dari data tebel di atas dapat dinyatakan dalam
gambar berikut.

Nilai Rata-rata Ke las Hasil Be lajar Siswa Siklus I dan Siklus II

3.05
3
2.95

Siklus I

Siklus II

2.9
2.85
2.8
2.75

Berdasarkan hasil pelaksanaan pada siklus I, siklus II dapat disimpulkan


bahwa meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV.A SD Negeri 3 Sekayu dapat
dilakukan melalui model kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).

D. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dalam dua siklus
dengan menerapkan model kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)
dalam pembelajaran penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal pada siswa
kelas IV.A SD Negeri 3 Sekayu, maka dapat diambil kesimpulan bahwa melalui
model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dapat
meningkatkan hasil belajar siswa tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan
desimal pada siswa kelas IV.A SD Negeri 3 Sekayu Kecamatan Sekayu Tahun
Pelajaran 2014/2015.
F. DAFTAR PUSTAKA
Gatot, Muhsetyo,dkk. 2007.
Universitas Terbuka.

Pembelajaran Matematika SD. Jakarta :

Heruman. 2008. Model Pembelajaran Matematika. Bandung : Remaja


Rosdakarya.
Kasbolah, K. 1998. Penelitian Tindakan Kelas. Malang : Depdiknas.

10

Rusman.
2011.
Model-model
Pembelajaran
Profesionalisme Guru. Jakarta : Rajawali Pers.

Mengembangkan

Sanjaya, Wina. 2010. Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses


Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Soemanto, W. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Putra.
Sutinah. 2013. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada
Operasi Penjumlahan Pecahan Melalui Pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL) Pada Siswa Kelas IVB MIN Kebonagung
Imogiri Bantul. Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sukajati. 2008. Pembelajaran Operasi Penjumlahan Pecahan di SD
Menggunakan Berbagai Media. Yogyakarta : P4TK Matematika.
Wardani,dkk. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka
Winata Putra,S Udin dan Rosita,Tita. 1997. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta : Depdikbud.
Yunika, Erni Putri. 2011. Penerapan Model Pembelajaran kooperatif Tipe
TGT (Teams Games Tournament) Untuk meningkatkan Kemampuan
Menyelesaikan Soal Cerita Pecahan Pada Siswa Kelas IV SD Negeri
Tlompakan III Kecamatan Tuntang Tahun Ajaran 2010/2011.
Surakarta:Universitas Sebelas Maret.

11