Anda di halaman 1dari 3

Teknologi Pembuatan Permen Jelly Temulawak

Shofi Maratul Husna, Yoshinta Puspitasari, Niti Rahayu, Dwi Rischa


Mufitasari, Shofwatur Rohman, Sulihati Jannah, Erwanda Virgiawan
Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember
Jalan Kalimantan nomor 37, Jember 68121
ABSTRAK

PENDAHULUAN

BAHAN DAN METODE


Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini adalah neraca analitik, pisau,
parutan, kain saring, sendok, baskom, pan, spatula, kompor gas, loyang, dan oven.
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tepung karagenan dan tepung
konjak ( dengan perbandingan 2 : 1), sukrosa (20 gram), HFS (100 gram), asam
sitrat (2 mg) , temulawak (240 gram), dan air 40 mL.
Tahapan Percobaan
Pembuatan Ekstrak Temulawak
Temulawak segar sebanyak 240 gram dilakukan pencucian dan pengupasan untuk
menghilangkan kotoran yang masih menempel pada permukaan kulitnya.
Kemudian, dilakukan pemarutan dan penambahan air sebanyak 120 ml.
Selanjutnya, hasil ekstrak temulawak yang didapatkan digunakan dalam
pembuatan permen jelly temulawak.
Pembuatan Permen Jelly Temulawak
Sebanyak 80 ml air, 20 gram sukrosa dan 100 gram HFS (Hight Fruktosa Syrup)
dilakukan pencampuran dan pengadukan menggunakan sendok hingga larut.
Selanjutnya, dilakukan penambahan campuran tepung karagenan dan tepung

konjak sedikit demi sedikit sambil dilakukan pengadukan. Setelah itu, dilakukan
pemanasan di atas api kecil hingga mencapai suhu 80

sambil dilakukan

pengadukan selama 5 menit. Kemudian, adonan diturunkan dari atas kompor


hingga suhu adonan mencapai 40 . Setelah suhu tersebut tercapai, dilakukan
penambahan ekstrak temulawak dan asam sitrat sambil dilakukan pengadukan.
Adonan yang telah jadi dicetak pada loyang dengan ketebalan 1,5 cm. Setelah
dicetak dilakukan pemotongan adonan dan pengovenan pada suhu 55

selama 24

jam. Setelah 24 jam dilakukan uji organoleptik pada parameter aroma, warna,
rasa, dan tekstur permen jelly temulawak yang dihasilkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa tingkat kesukaan dari


yang paling tinggi hingga paling rendah berturut-turut yaitu warna, tekstur, aroma
dan rasa. Maka dapat diketahui dari 15 panelis yang melakukan uji organoleptik,
warna yang paling disukai karena warnanya menarik dan sesuai dengan warna
alami dari temulawak itu sendiri. Kemudian, yang disukai pada urutan kedua
adalah tekstur karena tekstur kenyal dari permen jelly temulawak ini sudah seperti
permen jelly pada umunya. Lalu, yang disukai pada urutan ketiga adalah aroma,
aroma kurang disukai oleh panelis karena aroma dari temulawak terlalu kuat
sehingga ketika akan dikonsumsi, aroma temulawak sudah tercium dan konsumen
enggan untuk mengonsumsi permen tersebut. Apalagi tidak semua orang
menyukai temulawak, terutama anak-anak sehingga perlu perbaikan pada aroma

dengan cara mengurangi konsentrasi ekstrak temulawak dan memberikan aroma


yang umumnya disukai oleh semua orang seperti aroma buah-buahan. Untuk rasa
paling tidak disukai karena tidak semua orang menyukai jamu-jamuan seperti
temulawak. Selain itu, konsentrasi ekstrak temulawak yang ditambahkan terlalu
banyak sehingga rasanya terlalu kuat dan perasa jeruk yang ditambahkan kalah
dengan rasa dari temulawak itu sendiri.
SARAN

DAFTAR PUSTAKA