Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk daging

dan telurnya. Umumnya merupakan bagian dari ordo Galliformes (seperti ayam dan kalkun)
dan Anseriformes (seperti bebek). Pengertian lain juga menyebutkan bahwa unggas adalah
hewan bersayap, berkaki dua, berparuh dan berbulu, yang mencakupi segala jenis burung,
dapat dipelihara dan diternakan sebagai penghasil pangan (daging dan telur).
Penyakit unggas biasanya terjadi akibat adanya faktor lingkungan, agen infeksi
(bakteri/virus), iklim, cara pemeliharaan dan sanitasi. Contoh penyakit yang terjadi pada
unggas yaitu; ND, Worm Disease, gumboro, snot, Infectious Bronchitis, Colibacillosis,
Chronic Respiratory Disease, kolera, berak kapur.
Bakteri Haemophilus asal unggas pertama kali ditemukan pada tahun 1931 oleh de
Blieck yang diberi nama Bacillus haemoglobinophilus coryzae gallinarum sebagai penyebab
snot atau coryza. Kemudian pada Tahun 1934, Eliot dan Lewis, Delaplane et al., yang
masing-masing bekerja secara terpisah memberi nama bakteri penyabab snot pada ayam ini
Haemophilus gallinarum. SCHALM dan BEACH (1936) melaporkan bahwa isolat H.
gallinarum yang mereka temukan memerlukan haemin (faktor x) dan faktor v (nicotinamide
adenine dinucleotideINAD) untuk pertumbuhannya. Kemudian PAGE (1962) melaporkan
bahwa Haemophilus penyebab snot (coryza) hanya memerlukan faktor v, tetapi tidak faktor x
untuk pertumbuhan in vitro . Selanjutnya dikenal spesies baru dengan nama H.
paragallinarum untuk Haemophilus yang hanya memerlukan faktor v untuk pertumbuhan in
vitro, sebagai penyebab snot pada ayam.
Penyakit snot atau infectious coryza, adalah penyakit pernapasan pada ayam, yang
disebabkan oleh bakteri dan berlangsung akut sampai kronis. Secara umum snot adalah
penyakit yang menyebabkan morbiditas tinggi, tetapi mortalitas rendah. Penyakit ini bersifat
sangat infeksius dan menyerang saluran pernapasan bagian atas (El-sawah, et al., 2012).
Penyakit tersebut sangat penting pada industri peternakan ayam, baik di negara-negara maju
maupun negara berkembang, termasuk Indonesia. Semua jenis ayam baik ayam pedaging
maupun petelur pada semua umur mudah terserang penyakit snot. Jika dilihat dari aspek
etiologinya, snot menular sangat komplek bila terjadi infeksi sekunder, sehingga masalah
1

penyakit yang ditimbulkan lebih parah dan mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat
besar. Bila terjadi wabah pada ayam petelur, produksi telur turun hingga 10 40% dan jika
menyerang ayam pada stadium grower dapat mengakibatkan penurunan pertumbuhan (Miao,
2000).
1.2.

Rumusan Masalah
1. Apa etiologi dari penyakit snot atau infectious coryza?
2. Bagaimana epidemiologi dari penyakit snot atau infectious coryza?
3. Apa pathogenesis dari penyakit snot atau infectious coryza?
4. Bagaimana gejala klinis yang timbul dari penyakit snot atau infectious coryza?
5. Bagaimana patologi anatomi dari penyakit snot atau infectious coryza?
6. Bagaimana histopatologi dari penyakit snot atau infectious coryza?
7. Apa diagnosia dari penyakit snot atau infectious coryza?
8. Apa diagnosia banding dari penyakit snot atau infectious coryza?
9. Apa pengobatan yang dilakukan untuk mengobati penyakit snot atau
infectious coryza?
10. Apa pencegahan yang dilakukan untuk menghindari penyakit snot atau
infectious coryza?

1.3.

Tujuan dan Manfaat


Mengetahui tentang penyakit snot atau infectious coryza, gejala yang
ditimbulkan serta pengobatan dan pencegahan penyakit ini.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Etiologi
Penyakit snot atau infectious coryz disebabkan oleh Haemophilus Paragallinarum,

yang merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang pendek atau cocobacil, non motil,
tidak membentuk spora fakultatif anaerob. Haemophilus paragallinarum merupakan
organisme yang mudah mati atau mengalami inaktivasi secara cepat diluar tubuh hospes.
Eksudat infeksiusyang dicampur dengan air ledeng akan mengalami inaktivasi dalam waktu 4
jam pada temperatur yang berfluktuatif. Eksudat atau jaringan yangmengandung kuman ini
akan tetap infeksius selama 24 jam pda temperatur 4o C eksudat infeksius dapat bertahan
selama beberapa hari padatemperatur 45-55 oC, kultur Haemophilus paragallinarum dapat
diinaktivasi dalam waktu 2-10 menit. Haemophilus paragallinarum terdiri atas sejumlah
strain dengan antigenitas yang berbeda dan paling sedikit 3 sterotipe yaitu A,B,C telah
dikarakterisasi secara terperinci
2.2

Epidemiologi
Penyakit ini dapat menyerang semua jenis ayam, baik ayam Kampung, ayam petelur,

dan ayam potong/pedaging. Penyakit berjalan akut dan kadang-kadang kronis, dengan masa
inkubasi 1-3 hari. Pada sekelompok ayam penyakit ini dapat berlangsung antara 1-3 bulan.
Angka kematian umumnya rendah, yaitu antara 1-5% walau pernah ada laporan sampai 30%,
tetapi angka kesakitan dapat mencapai 80-100%
Penyebaran penyakit ini hampir ditemukan di seluruh dunia, terutama di daerah yang
beriklim tropis. Wabah penyakit sering terjadi pada musim peralihan dari penghujan ke
musim kemarau atau sebaliknya. Ayam yang sembuh dari sakit tahan terhadap reinfeksi
sekurang-kurangnya untuk satu tahun .
Penularan penyakit dapat terjadi melalui kontak langsung dengan ayam sakit atau
ayam karier, tetapi dapat pula terjadi secara tidak langsung melalui air minum, pakan, dan
peralatan yang terkontaminasi. Infeksius coryza dapat menyerang ayam semua umur, tetapi
yang paling peka adalah ayam umur 18-23 minggu atau menjelang bertelur. Jika terinfeksi,
kelompok ayam ini akan sangat terlambat berproduksinya. Pada ayam yang sedang bertelur,
penurunan produksi dapat mencapai 10-40%, sedangkan pada ayam dara pengafkirannya
(culling rate) dapat mencapai 20%.
3

2.3

Pathogenesis
Penularan penyakit coryza terjadi secara horizontal, ayam menderita infeksi kronis

atau carrier merupakan sumber utama penularan penyakit. Infectious coryza ditemukan
saat pergantian musim atau berhubungan dengan adanya berbagai jenis stres,misalnya akibat
cuaca, lingkungan kandang,nutrisi, perlakuan vaksinasi dan penyakit imunosupresif. Penyakit
ini dapat menular secara cepat dari ayam satu ke ayam lainnya dalam satu flock atau dari
flock satu ke flock lainnya.
Penularan dapat tejadi secara tidak langsung melalui kontak dengan pakan atau
berbagai

bahan

lain,

alat/

perlengkapan

peternakan

atau

pekerja yang tercemar bakteri penyebab infectious coryza. Penularan melalui udara dapat
terjadi, jika kandang ayam terletak berdekatan sehingga udara yang tercemar debu/kotoran
yang mengandung bakteri Haemopilus paragallinarum dihirup oleh ayam yang peka
(Murtidjo, 1992).
2.4

Genala Klinis
Penyakit snot atau infectious coryza dapat terjadi pada ayam semua umur yang sedang

dalam pertumbuhan, baik pada ayam pedaging atau ayam petelur. Gejala klinis yang terlihat
berupa keluarnya eksudat atau lendir dari sinus hidung dan mulut, kepala bagian depan
bengkak, nafsu makan turun ( anorexia) dan diare. gejala khasnya adalah cairan mukoid dari
rongga hidung yang berbau busuk dan sedikit berbusaPada ayam leyer dapat menurunkan
produksi telur antara 10-40%
2.5

Patologi Anatomi
Penyakit snot akan menyebabkan peradangan kataralis akut pada membran mukosa

cavum nasal dan sinus. Terdapat konjungtivitis kataralis dan edema subkutan pada daerah
facialis dan pial. Pada penyakit ini jarang terjadi adanya peradangan pada paru dan kantong
udara.
2.6

Histo Patologi
Perubahan histopathologik penyakit snot adalah

pada cavum nasal dan sinusin

fraorbitalis dan trachea mengalami deskuamasi, desintegrasi dan hiperplasia lapisan mukosa
dan glandularis edema, hiperemia,infiltrasi heterofil, mast cell dan makorfag dan di daerah
tunika propia. Jika infeksi meluas ke saluran pernafasan bagian bawah,

maka

akan

ditemukannya bronkopneumonia akut,yang ditandai oleh adanya infiltrasi heterofil diantara


dinding parabronki.
2.7

Diagnosa
4

Diagnosis sangkaan terhadap snot dapat didasarkan atas gejala klinis dan perubahan
patologi yang ditimbulkan oleh penyakit ini. Diagnosis akhir dapat dilakukan dengan isolasi
dan identifikasi bakteri dari kasus snot pada stadium akut yaitu antara 1-7 hari pasca infeksi
(Tabbu, 2000). Diagnosis snot dapat juga dilakukan secara in vivo dengan cara inokulasi pada
ayam yang sensitif menggunakan eksudat dari sinus ayam sakit atau suspensi kultur kuman
Haemophilus Paragallinarum.
Metode lain untuk mendiagnosis penyakit ini adalah secara serologik dengan uji agar
gel presipitasi (AGP), uji hemaglutinasi inhibisi (HI), uji hemaglutinasi (HA) tidak langsung
dan uji fluorescent abtibody (FA) langsung (Blackall, 2011).
2.8

Diagnosa Banding
Diagnosa banding dari penyakit snot adalah chronic respiratory diseases (CRD),

swollen head syndrome (SHS), infectious bronchitis (IB), kolibasilosis, Infectious


laryngotracheitis (ILT), dan fowl pox bentuk basah (wet pox). Mortaliltas akan lebih tinggi
dan proses penyakit akan lebih lama pada kondisi ini (Yamamoto, 1972; Sandoval et
al.,1994).
2.9

Pengobatan
Beberapa jenis antibiotik yang digunakan untuk mengobati snot meliputi gentamisin,

ceftriakson, tobramisin, kloramfenikol, nitrofurantoin, neomisin, sulfadiasin, tetrasiklin,


enrofloksasin, metronidasol, dan siprofloksasin. Haemophilus Paragallinarum masih sensitif
terhadap gentamisin, ceftriakson, tobramisin, kloramfenikol, nitrofurantoin dan resisten
terhadap neomisin, sulfadiasin, tetrasiklin, enrofloksasin, metronidazole, dan siprofloksasin
(Priy, et al, 2012).
2.10

Pencegahan
Pengurangan jumlah kelompuk umur yang sama dalam suatu lokasi peternakan

sebaiknya dikurangi untuk mengindari penularan ke ayam lain.Penyakit ini dapat dicegah
dengan pemberian vaksin inaktif sekitar umur 8-11 minggu dan 3-4 minggu sebelum
prosuksi. Pemberian vaksin in aktif pada ayam petelur atau parent stocks, pada fase grower
dan menjelang produksi telur. Sehubungan dengan kenyataan bahwa vaksin snot hanya
memberikan

kekebalan

silang

yang

minimal

diantara

berbagai

serotipe

Haemophilus Paragallinarum, maka vaksin yang terbaik seharusnya bersifat otogenus atau
homolog dengan kuman penyebab snot yang terdapat dilapangan. Dalam hal ini
menggunakan vaksin snot yang mempunyai serotipe yang sama atau serotipe yang dapat
5

mengadakan reaksi silang dengan serotipe Haemophilus Paragallinarum yang berada di


lapangan.
Juga upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan
kandang dan lingkungan dengan baik. Kandang sebaiknya terkena sinar matahari langsung
sehingga mengurangi kelembaban. Kandang yang lembab dan basah memudahkan timbulnya
penyakit.

BAB III
3.1

Kesimpulan

Melihat

pembahasan

diatas

dapat

disimpulkan

bahwa Infectious

Coryza

(Snot) menyerang ternak unggas. Infectious coryza disebabkan oleh bakteri Haemophillus
gallinarum yang

menyerang

saluran

pernafasan

pada

unggas.

Penularan infectious

coryza dapat melalui kontak langsung antara unggas yang terserang dengan unggas yang
sehat, dapt juga melalui pakan dan minum unggas. Tingkat kematian unggas akibat penyakit
ini tergolong rendah tetapi morbiditas nya tinggi, dapat menyebabkan penurunn bobot badan
pada unggas pedaging dan menurunkan produksi telur pada unggas petelur serta
meningkatkan jumlah unggas afkir pada sebuah usaha peternakan unggas.

DAFTAR PUSTAKA

El-Sawah, A. M., Soliman, Y. A., and Shafey, S. M. 2012. Molecular Characterization of


Avibacterium paragallinarum Strains Used in Evaluation of Coryza Vaccine in
Egypt. J. Am. Sci. 8(3):253-263.
Poernomo, S. 1975. Haemophilus gallinarum pada Ayam: Isolasi Haemophilus gallinarum
pada Ayam. Bull LLPH. (8-9):11-22.
Prasetyo, DW. 2014. Pengamatan Makroskopis Kadaver Ayam Broiler di Rumah
Pemotongan Unggas PT. Ciomas Adi Swasta di Desa Kaba kaba Tabanan Bali
yang didasarkan atas Causa Primernya. Indonesia Medikus Veterinus. 3(1):73-83.
Priya, P. M., S. V. Krishna, V. Dineskhumar, and M. Mini. 2012. Isolation and
Charaecterization of Avibacterium paragallinarum from Ornamental Birds in
Thrissur, Kerala. Int. J. Life. Sci. 1(3):87-88.
Sandoval, V. E., H. R. Twerzolo, and P. J. Blackall. 1994. Complicated Infectious Coryza
Cases in Argentina. Av. Dis. (38):672-678.
Tabbu, C. R. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Vol. 1. Penerbit Kanisius,
Yogyakarta. Pp. 14-20.
Tati dan Supar. 2007. Pengendalian Coryza Infeksius pada Ayam. Balai Besar Penelitian
Veteriner. 185 191.