Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

Bab I Pendahuluan........................................................................................... 3
Bab II Kajian Pustaka........................................................................................ 5
2.1Absorption Costing........................................................................................ 5
2.1.1 Mengurangi Insentif Akibat Overproduksi...........................................7
2.2Variabel Costing............................................................................................ 8
2.2.1 Keunggulan dan Kelemahan Variable Costing.....................................10
2.3Pengklasifikasian dan Estimasi Biaya............................................................13
2.3.1 Metode Pendekatan Estimasi Biaya....................................................15
2.3.2 High and Low Method.........................................................................17
2.3.3 Analisis Regresi................................................................................... 18
2.3.4 Variabel Costing dan Theory of Constraint..........................................19
Kesimpulan.........................................................................................................
21
Daftar Pustaka.................................................................................................... 23

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam sejarah perkembangan penentuan harga pokok penjualan, selama
bertahun-tahun perusahaan telah menggunakan metode penyerapan biaya
tradisional atau absorption cost system lebih dari seratus tahun yang dimulai
saat revolusi industri. Selama itu pula metode ini telah dikritik karena cenderung
memberikan informasi yang menyimpang serta menciptakan insentif yang
berlebihan dalam rangka meningkatkan nilai perusahaan.
Perhitungan biaya penyerapan (absorption cost) memperlakukan semua
biaya manufaktur sebagai biaya produk, tanpa membedakan apakah biaya itu
biaya variable atau biaya tetap. Dengan demikian biaya produk per unit terdiri
atas bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, biaya overhead variable dan
biaya overhead tetap. Dengan metode absorption cost biaya overhead pabrik
tetap juga dialokasikan kedalam tiap unit produk bersama-sama dengan biaya
overhead variable. Karena perhitungan absorption cost melibatkan semua biaya
produksi, metode ini sering disebut sebagai metode full costing. Metode ini
nantinya dalam pembahasan lebih lanjut berusaha disempurnakan dengan
metode variable costing.
Dengan menggunakan perhitungan biaya variabel (Variable Costing),
hanya biaya manufaktur yang berubah-ubah sesuai dengan output yang
diperlakukan sebagai biaya produk. Termasuk di dalamnya adalah bahan baku
langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Overhead
pabrik tetap tidak akan diperlakukan sebagai biaya produk. Biaya overhead
pabrik tetap dan biaya tetap (fixed cost) diperlakukan sebagai biaya periodik
yang dibebankan secara utuh ke dalam pendapatan setiap periodenya.

Perhitungan ini sering disebut sebagai perhitungan biaya langsung (direct


costing) atau perhitungan biaya marginal (marginal costing).
Dalam

menggunakan

metode

perhitungan

dan

kaitannya

terhadap

keakuratan biaya tentunya membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam


dari driver dan output biaya itu sendiri serta terminologi yang berkaitan dengan
biaya. Baik alokasi pembebanan biaya pada produk, klasifikasi biaya variable dan
biaya tetap serta objek lain yang menjadi perhatian manajemen adalah salah
satu tujuan dasar dari system informasi akuntansi manajemen. Perusahaan atau
organisasi akan menggunakan berbagai metode terbaik dalam mengalokasikan
biaya langsung dan mengestimasi biaya overhead sebagai perkiraan pendapatan
yang didapat dalam suatu periode.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Harga Pokok Produksi merupakan jumlah dari biaya produksi yang terdiri
dari biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
Penentuan metode harga pokok yang tepat

bagi

perusahaan

akan

mempengaruhi penentuan laba yang layak bagi perusahaan.


2.1

Absorption Costing
Absorption Costing adalah metode yang membebankan seluruh biaya

manufaktur baik itu variabel cost maupun fixed cost ke dalam produk. Biaya
manufaktur adalah biaya-biaya yang terdiri dari biaya bahan baku langsung
(direct material), biaya tenaga kerja langsung (direct labor) dan biaya overhead
pabrik (factory overhead). Metode job order costing dan process costing
menggunakan metode ini.
Apabila seluruh biaya manufaktur digunakan dalam menghitung biaya per
unit produk maka ketika terjadi peningkatan inventory akibat over atau under
produksi maka penyerapan tersebut mengakibatkan naik atau turunnya biaya
tetap per unit. Sering diklaim bahwa absorption cost akan menciptakan insentif
untuk over produksi, seperti yang terjadi pada contoh berikut.
Tabel 2.1 Laporan Profit yang Bertambah Seiring Meningkatnya
Produksi

Dari table diatas dengan menggunakan metode absorption cost system


(atau sering juga disebut full costing), biaya overhead pabrik diserap oleh setiap
pertambahan unit produksi sehingga menimbulkan distorsi profit yang seolaholah meningkat seiring dengan peningkatan unit yang diproduksi. Manajer yang
menghitung profit dengan menggunakan metode ini melaporkan pertambahan
profit (dengan asumsi volume penjualan konstan) dan mendapatkan bonus
insentif lebih banyak daripada yang seharusnya akibat overproduksi.
Demikian pula ketika tingkat produksi turun atau lebih kecil dari penjualan
maka dalam laporan keuangan biaya tetap akan naik dan menyebabkan
penurunan profit. Hal ini diakibatkan penyerapan biaya tetap lebih besar per
unit.

Biaya Tetap yang diserap per unit =

Biaya Tetap
Unit yang diproduksi

x unit yang

terjual;
maka hubungan antara penyerapan biaya pada pertambahan atau pengurangan
produksi dan penjualan dapat diringkas sebagai berikut:
Hubungan antara
Produksi dan
Penjualan
Produksi =

Akibat Pada
Inventory
Tidak

Hubungan antara Profit dengan


metode Absorption dan Variabel
Cost
Profit Absorption = Profit Variabel Cost
5

Penjualan
Produksi >

berubah
Meningkat

Penjualan
Produksi <

Turun

Penjualan

Profit Absorption > Profit Variabel Cost*)


Profit Absorption < Profit Variabel
Cost**)

Catatan:

*)Laba bersih lebih tinggi dengan menggunakan perhitungan Absorption Cost,


karena dengan perhitungan ini overhead pabrik tetap ditanguhkan ke dalam

persedian seiring dengan naiknya persediaan.


**)Laba operasi lebih rendah dengan menggunakan perhitungan Absorption
Cost, karena dengan perhitungan ini overhead pabrik tetap dilepaskan dari
persedian sairing dengan turunnya persediaan.

2.1.1 Mengurangi Insentif Akibat Overproduksi


Meningkatnya profit yang disebabkan kenaikan produksi berdampak semu
terhadap laporan keuangan perusahaan. Para manajer berusaha mengejar profit
karena ada insentif namun pertambahan profit bukan disebabkan karena
penjualan, tetapi karena proses pembebanan biaya manufaktur yang kurang
tepat. Dampaknya, perusahaan harus mengeluarkan tambahan insentif bagi
manajer padahal pendapatan dari penjualan tidak bertambah. Ada beberapa
cara

untuk

mengurangi

dampak

pertambahan

insentif

yang

disebabkan

overproduksi, yaitu:
1. Memperhitungkan profit dengan biaya penyimpanan persediaan.
Biaya penyimpanan persediaan adalah pertambahan cost of capital plus
biaya

gudang.

menyepakati

Kontrak

suatu

antara

persentase

perusahaan
untuk

dan

manajer

menyesuaikan

profit

dapat
dan

mengevaluasi kinerja manajer yang sebenarnya.


2. Aturan ketat bagi Manajer untuk memproduksi barang.
Berikan daftar kompensasi manajemen yang berisi klausula-klausula
dengan menyertakan sangsi terhadap bonus apabila memproduksi barang
melebihi kuota yang sudah ditentukan. Dengan ini maka manajer tidak
akan memperoleh manfaat untuk menambah kuota produksi.
3. Menggunakan konsep Just in Time Manufacturing. Bila perusahaan
menggunakan metode JIT, masalah ini akan berkurang. Berubah-ubahnya
laba bersih dengan perhitungan absorption cost dan perbedaan laba
bersih diantara kedua metode tersebut disebabkan oleh perubahan unit
persedian. Dengan JIT, barang diproduksi hanya apabila ada pesanan dari
pelanggan dengan tujuan menghilangkan persedian barang jadi dan
mengurangi persedian barang dalam proses. Jika jika tingkat persediaan
kecil, perubahan persediaan juga akan kecil dan kedua metode tersebut
akan menunjukan perhitungan laba bersih yang sama. Dalam hal ini, laba

bersih dengan metode perhitungan biaya penyerapan akan searah dengan


pergerakan penjualan. Tentu saja biaya produksi per unit akan berbeda
dengan penekanan perbedaan metode perhitungan baik dengan Variable
Cost atau dengan perhitungan Absorption Cost seperti yang telah dibahas
sebelumnya. Tetapi jika digunakan metode JIT, perbedaan yang besar
tidak akan terjadi.
2.2

Variabel Costing
Variabel costing diklaim mengeliminasi kekurangan-kekurangan diatas

dalam hal insentif yang ditimbulkan akibat overproduksi, walaupun sebenarnya;


dalam pembahasan selanjutnya tidak seratus persen sukses. Menurut Mulyadi
(2005:122) variabel costing adalah metode penentuan biaya yang hanya
memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel kedalam biaya
produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan
biaya overhead pabrik variabel.
Variable costing adalah metode penentuan harga pokok yang hanya
membebankan biaya-biaya produksi variabel saja ke dalam harga pokok produk.
Tidak seperti full costing, dalam variable cost seluruh biaya variable termasuk
biaya overhead

variable akan

dikumpulkan sebagai direct cost sebagai

pengurang penjualan untuk dapat menghitung contribution margin. Harga pokok


produk terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, biaya overhead
pabrik variable. Biaya tetap

dan biaya overhead pabrik tetap digolongkan

sebagai period cost bersama-sama biaya adminisitrasi dan umum.


Untuk memahami lebih lanjut perbedaan perhitungan antara metode
variable dan absorbtion cost, kita akan mencoba menghitung dampak perubahan
laporan keuangan kedua metode dengan data-data sebagai berikut.

Tabel 2.2 Laporan Laba Rugi Absorption Cost dan Variabel Cost

Dari perhitungan dua metode pada tabel di atas, terdapat dua poin terkait
perubahan biaya tetap.
1. Ketika produksi dan penjualan seimbang, baik absorption cost dan variable
cost memberikan angka profit yang sama (dengan asumsi tidak ada
beginning inventory).
2. Angka profit pada absorption cost tahun kedua lebih tinggi dibanding
tahun pertama karena beberapa biaya tetap telah diserap inventory pada
tahun kedua. Sebaliknya profit variable cost konstan.

Pengertian variable costing sama dengan direct costing tetapi tidak sama
dengan direct cost (biaya langsung). Direct cost (biaya langsung) adalah biaya
yang mudah diidentifikasikan atau ditelusuri secara langsung kepada produk.
Apabila pabrik hanya memproduksi satu jenis produk, maka semua biaya
produksi merupakan biaya langsung dalam hubungannya dengan produk. Oleh
karena itu tidak selalu biaya langsung dalam hubungannya dengan produk
merupakan biaya variabel. Dalam metode variable costing, biaya overhead
pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai unsur harga
pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya
dalam periode terjadinya. Dengan demikian biaya overhead pabrik tetap di
dalam

metode variable

costing tidak melekat pada persediaan produk yang

belum laku dijual, tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode
terjadinya. Menurut metode variable costing, penundaan pembebanan suatu
biaya hanya bermanfaat jika dengan penundaan tersebut diharapkan dapat
dihindari terjadinya hanya yang sama dalam periode yang akan datang.
Menurut

metode variable

costing,

period

cost adalah

biaya untuk

mempertahankan tingkat kapasitas tertentu guna memproduksi dan menjual


produk. Dalam metode variabel costing, period costs meliputi

seluruh

biaya

tetap atau seluruh biaya kapasitas (capacity cost). Dengan demikian period cost
menurut pengertian variable costing adalah biaya yang dalam jangka pendek
tidak berubah dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, yang
meliputi:

biaya

overhead

pabrik

tetap,

biaya

pemasaran

tetap,

biaya

administrasi dan umum tetap.


Variable costing menyajikan data yang bermanfaat untuk pembuatan
keputusan jangka pendek. Dalam pembuatan keputusan jangka pendek yang
menyangkut mengenai perubahan volume kegiatan, period costs tidak relevan

10

karena tidak berubah dengan adanya perubahan

volume

kegiatan. Variable

costing khususnya bermanfaat untuk penentuan harga jual jangka pendek.


Dan jika ditinjau dari sudut penentuan harga, perbedaan pokok antara
full costing dan variable costing adalah terletak pada konsep penutupan biaya
(concept ofcost recovery). Menurut metode full costing, harga jual harus dapat
menutup total biaya, termasuk biaya tetap di dalamnya. Di dalam metode
variable costing, apabila harga

jual

tersebut

telah

menghasilkan

laba

kontribusi guna menutup biaya tetap adalah lebih baik daripada harga jual yang
tidak menghasilkan laba kontribusi sama sekali.
2.2.1 Keunggulan dan Kelemahan Variable Costing
Keunggulan Variable Costing adalah dapat digunakan untuk pengendalian
biaya karena dengan menyajikan semua biaya tetap dalam satu kelompok
tersendiri, manajemen dapat memusatkan perhatian pada perilaku biaya tetap
ini. Variable costing bermanfaat untuk penentuan harga jual jangka pendek.
Keunggulan lainnya adalah:
1. Data yang akan digunakan untuk melakukan analisis Cost-Volume-Profit
dapat diambil langsung dari laporan laba rugi yang disusun dengan format
kontribusi. Data-data tersebut tidak tersedia apabila laporan laba rugi
disusun dengan pendekatan konvensional.
2. Dengan menggunakan variable costing, laba periodik tidak dipengaruhi
oleh tingkat persediaan. Dengan asumsi hal-hal lain tetap (harga jual,
biaya, bauran penjualanm dan sebagainya) laba akan

searah

dengan

penjualan apabila menggunakan variable costing.


3. Manajer selalu mengasumsikan bahwa biaya produksi per unit adalah
biaya

variabel.

Hal

ini

telah

dijelaskan

menjadi

masalah

insentif

overproduksi dalam pendekatan absorption costing, karena biaya produksi


per unit adalah kombinasi biaya variabel dan biaya tetap. Dengan
11

menggunakan variable costing, biaya produksi per unit tidak mengandung


biaya tetap.
4. Dampak biaya tetap terhadap laba lebih ditekankan dalam variable
costing, dan pendekatan kontibusi. Jumlah total biaya tetap dinyatakan
secara eksplisit dalam laporan laba-rugi. Bila menggunakan absorption
costing, biaya tetap dicampur dengan biaya tetap dan dialokasikan ke
harga pokok penjualan dan persediaan.
5. Data variable costing memudahkan estimasi tingkat profitabilitas produk,
konsumen dan segmen bisnis yang lain. Dengan absorption costing,
profitabilitas tampak samar-samar karena alokasi biaya tetap yang
arbitrer.
6. Variable costing berkaitan dengan metode pengendalian biaya seperti
biaya standart dan anggaran fleksibel.
7. Laba bersih berdasarkan variable costing lebih dekat dengan aliran kas
bersih dibandingkan dengan laba bersih berdasarkan absorption costing.
Hal ini akan sangat penting untuk perusahaan yang mengalami masalah
aliran kas.
8. Selain karena tradisi, absorption costing masih dipakai karena telah
meberikan gambaran pandangan biaya dan pendapatan di mata akuntan
dan manajer. Absorption costing memiliki argumen bahwa seluruh biaya
produksi harus dibebankan ke produk untuk membandingkan secara tepat
biaya produksi dengan pendapatan yang diperoleh dari unit yang terjual.
Biaya tetap seperti penyusutan, pajak, asuransi, gaji supervisor, dan
sebagainya bersifat esenial terhadap biaya produksi dan diperlakukan
sebagai biaya variabel.
9. Varabel costing
berpendapat bahwa

biaya

produksi tetap bukanlah

biaya dari unit produksi tertentu. Biaya tersebut terjadi untuk mencapai
kapasitas untuk membuat produk selama periode tertentu dan tetap akan
terjadi meskipun tidak ada aktivitas produksi. Oleh karena itu para
penganjur variable costing berpendapat bahwa biaya produksi tetap

12

bukanlah bagian dari biaya produksi unit tertentu dan prinsip matching
menyatakan bahwa biaya produksi tetap harus dibebankan pada periode
berjalan.
10.Pada tingkat tertentu, absorbtion costing diterima sebagai metode yang
digunakan untuk menyiapkan laporan eksternal yang diwajibkan dan
laporan pajak penghasilan. Dengan alasan biaya dan kemungkinan
kebingungan

untuk

membuat

sistem

costing

ganda,

kebanyakn

perusahaan menggunakan absorption costing untuk laporan eksternal dan


internal.
Kelemahan Variabel Costing
Pemisahan biaya-biaya ke dalam biaya variabel dan tetap sebenarnya sulit
dilaksanakan karena jarang sekali suatu biaya benar-benar variabel atau benarbenar tetap. Penggolongan biaya sebagai suatu biaya variabel dengan asumsi:
1.
2.
3.

Bahwa harga barang atau jasa tidak berubah


Bahwa metode dan prosedur produksi tidak berubah-ubah
Bahwa tingkat efisiensi tidak berfluktuasi
Permasalahan lainnya dengan variable cost adalah mengklasifikasikan

biaya tetap sebagai biaya variable. Ketika awal tahun kita dapat dengan mudah
menggunakan estimasi biaya dan mengklasifikasikan biaya-biaya menjadi biaya
variable dan biaya tetap. Namun pada akhir tahun, dengan banyaknya biaya
yang timbul akan timbul kerumitan untuk mengidentifikasikan mana biaya
overhead actual yang bersifat variable dan memisahkan biaya overhead
tetapnya.
2.3

Pengklasifikasian dan Estimasi Biaya


Dengan

adanya

pemahaman

akan

perilaku

biaya,

manajer

dapat

mengetahui cara pengklasifikasian biaya dan bagaimana perilaku biaya berubah

13

seiring dengan perubahan aktifitas, sehingga dapat dilakukan perencanaan,


pengendalian dan pengambilan keputusan yang sesuai dan efektif apabila terjadi
perubahan perubahan tertentu dalam perusahaan serta dapat dilakukan estimasi
biaya di masa yang akan datang, dan evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan.
1. Berdasarkan objek biaya.
Contohnya ketika kita naik taksi maka perusahaan taksi mengenakan
biaya buka pintu dan biaya argo yang bertambah seiring jarak tempuh.
Dalam perspektif perusahaan taksi, menurut objek biaya maka total biaya
terdiri dari biaya variable yaitu biaya argo sementara biaya registrasi,
biaya izin usaha dan biaya operasi lainnya diklasifikasikan sebagai biaya
tetap.
2. Berdasarkan rentang waktu.
Rentang waktu dapat mempengaruhi klasifikasi biaya tetap dan variabel
karena biaya dapat berubah dari tetap menjadi variabel tergantung pada
apakah keputusan tersebut untuk jangka pendek atau jangka panjang.
Jangka pendek artinya paling tidak satu biaya adalah tetap.
panjang artinya semua biaya adalah variable.
3. Berdasarkan rentang yang relevan.
Jumlah total biaya variable berubah secara

proposional

Jangka

terhadap

perubahan aktivitas dalam rentang yang relevan (relevant range). Dengan


kata lain, biaya variable menunjukkan jumlah per unit yang relatif konstan
dengan berubahnya aktivitas dalam rentang yang relevan, sementara
biaya tetap bersifat konstan secara total dalam rentang yang relevan.

14

2.3.1 Metode Pendekatan Estimasi Biaya


Mengukur hubungan antara biaya yang terjadi pada masa lalu terhadap
tingkat aktifitas adalah estimasi biaya. Para Manajer tertarik untuk mengestimasi
karena menolong mereka untuk semakin akurat dalam memprediksi biaya di
masa mendatang. Adapun metode pendekatan untuk mengestimasi biaya adalah
dengan menggunakan pendekatan kualitatif sebagai berikut:
1. Industrial Engineering Method. Industrial Engineering method sering juga
disebut work measurement method yaitu mengestimasi fungsi biaya
dengan cara menganalisa hubungan input output dalam fisik. Sebagai
contoh, dengan metode time-motion-study ditentukan 30% dari biaya
tenaga kerja langsung untuk menghasilkan sebuah unit. Jika biaya tenaga
kerja langsung adalah Rp. 5,000 per jam maka biaya tenaga kerja per unit
output adalah Rp. 1,500 (0,3 x 5000).
2. Confrence Method. Metode ini mengestimasi fungsi biaya berdasarkan
analisis dan opini tentang biaya dan drivernya dari berbagai sumber.
Biasanya metode ini memerlukan opini dari ahli di bidangnya dari
berbagai departemen. Karena metode ini tidak memerlukan analisis biaya,
biasanya lebih cepat proses pengembangannya. Namun demikian tetap
bergantung pada skill dan profesionalisme tim penyusun.
3. Account Analysis Method. Para penganalisa biaya

menggunakan

pengalamannya untuk menentukan dan memisahkan antara variable dan


fixed cost. Mereka menganalisa buku pembantu (subsidiary ledger) untuk
menentukan apakah

biaya digolongkan biaya tetap, variable atau

campuran. Metode ini luas digunakan dalam prakteknya oleh para


manajer.
Selain pendekatan kualitatif manajer dapat melakukan pendekatan lain
yaitu dengan pendekatan kuantitatif dimana pendekatan ini menggunakan
15

model matematis dalam meneliti fungsi linear dari biaya yang timbul di masa
lalu. Metode ini memerlukan enam langkah dalam mengestimasi biaya, yaitu:
Langkah 1 Menentukan objek biaya yang akan diestimasi. Akuntan harus
menjawab pertanyaan: apa objek biaya dan berapa besarnya, kemudian
mempertimbangkan siapa yang mengeluarkan biaya, sehingga estimasi biaya
relevan dengan penggunaannya.
Langkah 2 Menentukan cost driver. Cost driver adalah faktor penyebab yang
dipakai untuk mengestimasi biaya. Contoh estimasi biaya dan hubungannya
dengan cost driver:
Biaya Yang Diestimasi
Biaya bahan bakar untuk kendaraan
Biaya pemanas ruangan untuk

Cost Driver
Jarak tempuh
Suhu untuk pemeliharaan bangunan

bangunan
Biaya
pemeliharaan

Jam mesin, jam kerja langsung

untuk

bangunan pabrik
Biaya perancangan produk

Jumlah

rancangan,

perubahan

rancangan

Langkah 3 Mengumpulkan data-data yang konsisten dan akurat. Setelah cost


driver terpilih, maka manajemen harus mengumpulkan data mengenai objek
biaya dan cost driver. Data yang diperoleh dapat berdasarkan time series atau
cross-sectional yang diperoleh dari dokumen perusahaan atau dengan cara
menginterview
menggunakan

para

manajer

scatterplot

terkait.

graphic

Lebih

untuk

lanjut

melihat

manajer

perilaku

dapat

biaya

pula

apakah

cenderung variable atau fixed.


Langkah

4 Membuat grafik berdasarkan

data biaya,

dengan tujuan

mengidentifikasi trend biaya.

16

Langkah 5 Memilih dan menggunakan metode estimasi yang tepat. Manajer


dapat memilih metode-metode estimasi sebagai berikut:

High and Low Method.


Regresion Analysis.

Langkah 6 Menilai

Akurasi Estimasi Biaya. Mempertimbangkan potensi

kesalahan dari estimasi yang dibuat. Aspek kunci dari mengestimasi biaya
adalah memilih cost driver yang tepat.
2.3.2 High and Low Method
Metode high and low adalah metode yang memilih nilai tertinggi dan
terendah dari satu cost driver dan biaya yang mengikutinya dengan metode
persamaan matematis. Metode ini memenuhi dua tujuan yaitu; pertama,
menambah tingkat presisi kuantitatif terhadap momen biaya yang unik dan
bukan sekedar estimasi kasar berdasarkan pengamatan terhadap grafik. Kedua,
memungkinkan menambah informasi yang dapat berguna dalam mengestimasi
biaya pemeliharaan.
Contohnya, dari data perusahaan tahun lalu ditemukan bahwa kegiatan
produksi pada saat high capacity di bulan December adalah sebesar 55,000
machine hours dengan total biaya listrik bulan itu sebesar $80,450. Pada saat
low capacity terjadi di bulan September 30,000 machine hours digunakan
dengan biaya listrik sebesar $64,200. Pertanyaannya:
Berapa tarif biaya variable?
= ($80,450 $64,200) (55,000 30,000)
= $16,250 25,000 = $0.65
Berapa biaya tetap?
17

$80,450 = Fixed cost + 55,000 x $0.65


Fixed cost = $80,450 $35,750 = $44,700
$64,200 = Fixed cost + 30,000 x $0.65
Fixed cost = $64,200 $19,500 = $44,700
y = a + bx = $44,700 + ($0.65 Machine-hours)

18

2.3.3 Analisis Regresi


Regresi linear sederhana adalah metode statistik yang berfungsi untuk
menguji sejauh mana hubungan sebab akibat antara Variabel Faktor Penyebab
(X) terhadap Variabel Akibatnya. Faktor Penyebab pada umumnya dilambangkan
dengan X atau disebut juga dengan Predictor sedangkan Variabel Akibat
dilambangkan dengan Y atau disebut juga dengan Response. Regresi Linear
Sederhana atau sering disingkat dengan SLR (Simple Linear Regression) juga
merupakan salah satu Metode Statistik yang dipergunakan dalam produksi untuk
melakukan peramalan ataupun prediksi tentang karakteristik kualitas maupun
Kuantitas.
Model Persamaan Regresi Linear Sederhana adalah seperti berikut ini:
Y = a + bX
Dimana :
Y = Variabel Response atau Variabel Akibat (Dependent)
X = Variabel Predictor atau Variabel Faktor Penyebab (Independent)
a = konstanta
b = koefisien regresi (kemiringan); besaran Response yang ditimbulkan
oleh Predictor.
Nilai-nilai a dan b dapat dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini :

a=

( y)( x )(x)(xy)
n(x ) (x)

b=

n(xy) ( x)( y)
n(x ) (x)
19

Adapun perbandingan antara metode estimasi biaya high and low dan
analisis regresi diringkaskan sebagai berikut:
Fitur yang digunakan
Data yang digunakan

High-low method
Hanya pada titik tertinggi

Analisis Regresi
Semua data digunakan

Akurasi hasil

dan terendah
Relative kurang akurat

Lebih

akurat

karena

dari

seluruh

diambil
Upaya dan biaya
Flexibilitas
Factor

kualitatif

(bulan

ramai/ bulan sepi, musim

Relative Lebih murah


Hanya satu cost driver

data
Relative lebih mahal
Memungkinkan
lebih

Tidak

dari satu cost driver


Dapat dipertimbangkan

dapat

dipertimbangkan

(sebagai

panas/ musim hujan, dsb)

dummy

variable)

2.3.4 Variabel Costing dan Theory of Constraint


Teori Constraint berfokus untuk mengelola kendala-kendala yang ada
dalam perusahaan sebagai kunci untuk meningkatkan laba. Teori kendala
mengharuskan pengidentifikasian biaya variabel dalam setiap produk. Sebagai
konsekuensinya,

perusahaan

yang

menggunakan

teori

kendala

harus

menggunakan perhitungan biaya variabel. Dalam perusahaan yang menerapkan


teori

kendala,

ada

dua

alasan

mengapa

biaya

tenaga

kerja

langsung

diperlakukan sebagai biaya tetap:


a. Tenaga kerja langsung tidak mesti sebagai kendala. Dalam kasus yang
paling sederhana, yang menjadi kendala adalah mesin. Dalam kasus yang
lebih kompleks, kendalanya adalah kebijakan (seperti desain kompensasi
yang tidak baik untuk tenaga penjualan) yang menghambat perusahaan
untuk menggunakan sumber daya secara efektif.

20

b. Teori kendala menekankan pada perbaikan yang terus menerus untuk


mempertahankan kemampuan kompetitif. Tanpa komitmen dan tanggapan
positif dari karyawan, perbaikan yang berkelanjutan tersebut mustahil
terlaksana. Karena pemutusan hubungan kerja dapat merusak moral
karyawan,

manajer

yang

menggunakan

teori

kendala

enggan

memberhentikan karyawan.
Dengan

alasan-alasan

ini,

kebanyakan

manajer

perusahaan

yang

menerapkan teori kendala menganggap bahwa tenaga kerja langsung sebagai


committed fixed cost dan bukannya variabel cost.

21

KESIMPULAN
Perhitungan biaya variabel dan perhitungan biaya penyerapan adalah
metode alternative untuk menentukan biaya produksi per unit. Dengan
menggunakan perhitungan biaya variabel, hanya biaya produksi yang berubah
sesuai dengan tingkat output yang diperlakukan sebagai biaya variabel. Biaya
tersebut termaksud bahan langsung, overhead variabel, dan biaya kerja
langsung. Biaya overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai biaya periodic dan
dibebankan langsung pada periode terjadinya sama halnya dengan beban
administrasi

dan

penjualan.

Sebaliknya,

perhitungan

biaya

penyerapan

memperlakukan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya produk bersamaan


dengan bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead variabel.
Karena perhitungan biaya penyerapan memperlakukan biaya overhead
pabrik tetap sebagai biaya produk, bagian overhead pabrik tetap dibebankan ke
setiap unit produksi. Jika unit produk tersebut tidak terjual sampai akhir periode,
biaya overhead pabrik tetap yang melekat pada unit produksi tersebut terjual,
biaya overhead pabrik tetap tersebut bagian dari harag pokok penjualan. Maka
metode, perhitungan biaya penyerapan memungkinkan untuk menunda sebagai
biaya overhead pabrik tetap pada suatu period eke periode berikutnyanya dalam
rekening persedian.
Sayangnya, perubahan biaya overhead pabrik tetap antar periode ini
dapat

menimbulkan

laba

bersih

menjadi

berubah-ubah

dan

dapat

membingunkan dan juga memungkinkan manajer salah menentukan keputusan.


Untuk menjaga agar tidak terjadi kesalahan pada saat membuat interprestasi
data laba-rugi. Manajer harus berhati-hati terhadap perubahan yang terjadi pada
tingkat persedian atau unit produksi selama periode tertentu.

22

Pendapat umum menyatakan bahwa perhitungan biaya variabel tidak


dapat digunakan untuk laporan eksternal dan laporan pajak. Meskipun demikian,
metode tersebut dapat digunakan untuk kepentingan internal dalam membuat
perencanaan. Pendekatan perhitungan biaya variabel berhubungan erat dengan
konsep biaya-volume-laba yang selalu dipertimbangkan oleh manajer dalam
perencanaan laba dan pembuatan keputusan.

23

DAFTAR PUSTAKA
Zimmerman, 2011, Accounting For Decision Making And Control, Seventh
Edition, McGraw-Hill Irwin.
Blocher, 2011, Manajemen Biaya, Penekanan Strategis, penerbit Salemba Empat
Hansen, D.R. & Mowen, M.M. 2004.

Management Accounting Akuntansi

Manajemen Buku 1. Terjemahan Fitriasari & Kwary. 2004. Jakarta : Salemba


Empat
Mulyadi, 2005. Akuntansi Biaya, Edisi 5, BPEF STIE YPKPN, Yogyakarta.

24