Anda di halaman 1dari 20

BAB II

PEMBAHASAN

Pada saat sel dan jaringan sedang mengalami cedera, terjadi peristiwa
perusakan sekaligus persiapan sel yang masih bertahan hidup untuk bereplikasi.
Berbagai rangsang yang menginduksi kematian beberapa sel dapat memicu
pengaktifan jalur replikasi pada sel lalinnya. Sel radang di rekrut tidak hanya
memberdihkan debris nekrotik tetapi juga menghasilkan mediator untuk
merangsang sintesis matriks ekstra selular (ECM) yang baru. Pada proses
peradangan, pemulihan dimulai sangat dini dan melibatkan dua proses yang
sangat berbeda, yaitu :
1. Regenerasi jaringan yang mengalami jejas oleh sel parenkim dari jenis sel
yang sama
2. Penggantian oleh jaringan ikat (fibrosis), yang menimbulkan suatu
jaringan parut
Pemulihan jaringan (penyembuhan) umumnya melibatkan kombinasi
kedua proses. Regenerasi dan pembentukan jaringan parut melibatkan mekanisme
yang serupa yaitu :
a. Migrasi
b. Proliferasi
c. Diferensiasi sel
d. Sintesis matriks
Regenerasi epitel yang runut memerlukan suatu matriks membrane basalis
(BM) yang utuh. Jika ECM juga telah dihancurkan oleh suatu jejas, jaringan
hanya bisa sembuh dengan cara pembentukan jaringan parut.
2.1 REGENERASI SEL
Regenerasi (pembentukan) sel adalah pembentukan sel baru untuk
menggantikan sel yang mati/rusak. Ini adalah kemampuan alami tubuh yang
dianugerahkan Tuhan kepada setiap makhluk hidup agar mampu bertahan hidup.
Setiap detik, sel tubuh kita pasti ada yang mati dan setiap itu pula lahir sel baru
yang menggantikannya. Semakin kemampuan regenerasi sel meningkat, semakin
besar peluang mencegah dan mengatasi berbagai penyakit degeneratif.

Proses regenerasi sel dimulai sejak usia anak-anak hingga kira- kira 30
tahun, setelah itu proses degenerasilah (perusakan) yang paling dominan. Proses
regenerasi sel pada manusia dimulai dari sel induk, bahan bangunan seluler
generik yang memungkinkan embrio untuk akhirnya membentuk organ tertentu,
jaringan, dan pelengkap, yang hadir hanya dalam vitro. Setelah sel berkembang
menjadi sel matang, mereka tidak dapat kembali lagi ke sel induk. Sebaliknya, selsel otak dewasa, sel-sel kulit, sel saraf, dan klasifikasi selular lain hanya dapat
membagi dan bereproduksi seperti sel-sel, sehingga membatasi regenerasi sel
pada manusia.
Meskipun terbatas, regenerasi sel pada manusia memainkan peran penting
dalam pembangunan, penyembuhan, dan perbaikan jaringan. Sel-sel pada manusia
secara alami meninggal pada tingkat miliaran per hari karena baik nekrosis,
kematian sel akibat kerusakan atau cedera, atau melalui apoptosis. Apoptosis
adalah suatu bentuk kematian sel terprogram yang memungkinkan sel menjadi
fragmen atau mati sebagai bagian dari proses biokimia yang normal yang terlibat
dalam pengembangan, pertumbuhan, dan penuaan. Tanpa beberapa bentuk
regenerasi sel, nekrosis dan apoptosis pada akhirnya akan mengakibatkan
kehancuran seluruh organ dan daerah jaringan. Sebaliknya, regenerasi sel
memungkinkan tubuh untuk menumbuhkan sel-sel baru untuk menggantikan yang
mati, sekarat, atau ada kerusakan sel dengan memisahkan sel sehat tunggal
menjadi dua sel terpisah.
Meskipun manusia mempertahankan kemampuan untuk meregenerasi sel
berdasarkan kondisi tertentu, kemampuan untuk sepenuhnya meregenerasi seluruh

struktur terbatas ke jaringan dan organ-organ tertentu seperti hati dan kulit. Sel-sel
otak, misalnya, perlahan-lahan beregenerasi dari waktu ke waktu, tapi manusia
tidak bisa menumbuhkan otak baru melalui regenerasi sel. Atau, tubuh manusia
dapat regenerasi hati, asalkan setidaknya seperempat dari organ tetap utuh.
Demikian juga, kulit dapat tumbuh kembali untuk menutupi area kerusakan yang
luas, asalkan ada persentase yang cukup dari sisa kulit untuk mereplikasi sel-sel
baru.
Berdasarkan kemampuan untuk regenerasi, sel tubuh dibagi menjadi 3
golongan, yaitu :
a) Sel labil, di sini terus terjadi pembelahan dan kematian
Contohnya : sel hematopoetic dalam sumsum tulang, sel lapis gepeng
kulit, mulut, vagina, servik, sel kobuid saluran kelenjar eksokrin, liur,
pankreas, empedu, sel silindris tract, tuba, uterus, uranius.
b) Sel stabil, sel ini cepat membelah ketika injury
Contohnya : sel parenchyma hepar, sel ginjal, sel pankreas, sel endotel
pembuluh darah.
c) Sel Permanen
Contohnya : sel saraf (neuron), sel otot (ada sedikitnya daya perbaikan dan
poliferasi)
Faktor-faktor Penghambat Regenerasi Sel
Ada beberapa faktor yang menghambat proses regenerasi sel, antara lain:
1) Tingginya penumpukan bahan toksin pada sel-sel jaringan organ tubuh yang
berasal dari sisa metabolisme. Ini biasanya disebabkan tingkat stres yang
tinggi.
2) Pembusukan di usus besar yang biasanya terjadi karena banyak mengonsumsi
daging atau unggas yang sulit dicerna dalam usus.
3) Zat aditif (perasa, pengawet, pewarna). Biasanya didapat dari makananmakanan siap saji atau junk food.
a) Polutan (pestisida, limbah pabrik, asap mobil, asap pabrik, asap rokok).
b) Pemakaian obat-obatan.
2.2 PEMULIHAN JARINGAN IKAT
Jejas jaringan berat atau menetap yang disertai kerusakan pada sel
parenkim dan kerangka stroma menimbulkan suatu keadaan yang pemulihannya
tidak dapat dilaksanakan melalui regenerasi parenkim saja. Dalam kondisi seperti

ini, pemulihan terjadi melalui penggantian sel parenkim non regeneratif oleh
jaringan ikat. Terdapat empat komponen umum proses ini :
1. Pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis)
2. Migrasi dan proliferasi fibroblas
3. Deposisi ECM
4. Maturasi dan reorganisasi jaringan fibrosa (remodelling)
Pemulihan dimulai dalm waktu 24 jam setelah jejas melalui emigrasi
fibroblas dan induksi proliferasi fibroblas dan sel endotel. Dalam 3 sampai 5 hari
muncul jenis jaringan khusus yang mencirikan terjadinya pertumbuhan, yang
disebut jaringan granulasi. Istilah jaringan granulasi berasal dari gambaran
makroskopisnya yang berwarna merah muda, lembut, dan bergranula, seperti
yang terlihat di bawah keropeng pada luka kulit. Gambaran histologisnya ditandai
dengan proliferasi fibroblas dan kapiler baru yang halus dan berdinding tipis di
dalam ECM yang longgar. Jaringan granulasi kemudian akan mengumpulkan
matriks jaringan ikat secara progresif, yang akhirnya menghasilkan fibrosis padat
(pembentukan jaringan parut), yang dapat melakukan remodelling lebih lanjut
sesuai perjalanan waktu.
a. Angiogenesis
Angiogenesis atau neovaskularisasi, yaitu proses saat pembuluh darah
yang telah ada sebelumnya akan mengeluarkan tunas kapiler untuk
menghasilkan pembuluh darah baru. Angiogenesis merupakan suatu proses
penting dalam penyembuhan pada lokasi jejas, dalam pengembangan sirkulasi
kolateral pada lokasi iskemia, dan dalam memberi kemungkinan pada tumor
untuk semakin membesar melampaui desakan pasokan darah semula. Empat
tahapa umum yang terjadi dalam perkembangan pembuluh darah kapiler yang
baru.
1) Degradasi

proteolitik

pada

pembuluh

darah

induk

baru

BM,

memungkinkan pembentukan suatu tunas kapiler.


2) Migrasi sel endotel dari kapiler asal menuju suatu rangsang angiogenik
3) Proliferasi sel endotel di belakang ujung terdepan sel yang bermigrasi.
4) Maturasi sel endotel dengan penghambatan pertumbuhan dan penataan
menjadi pembuluh kapiler; tahapan ini mencakup rekrutmen dan
proliferasi perisit (untuk kapiler) dan sel otot polos (untuk pembuluh darah
yang lebih besar ) untuk menyokong pembuluh endotel dan untuk
memberikan fungsi tambahan.

Beberapa faktor menginduksi angiogenesis, tetapi yang terpenting


adalah faktor pertumbuhan dasar fibroblas (bFGF) dan faktor pertumbuhan
endotel vaskular (VEGF). Meskipun faktor angiogenik dihasilkan oleh
berbagai jenis sel, pada sebagian besar reseptor hal tersebut terbatas pada sel
endotel saja. Selain menyebabkan proliferasi, faktor tersebut menginduksi sel
endotel untuk menyekresi proteinase untuk mendegradasi membran basalis,
meningkatkan migrasi sel endotel, dan mengarahkan pembentukan pembuluh
darah barudari populasi sel endotelyang semakin meluas Protein ECM
struktural juga mengatur pembentukan tunas pembuluh darah baru pada
angiogenesis, terutama melalui interaksi dengan integrin pada sel endotel yang
bermigrasi. Protein non struktural berperan dalam proses tersebut dengan
mendestabilkan interaksi sel ECM untuk memudahkan migrasi sel yang
berlanjut.
b. Fibrosis ( pembentukan jaringan parut )
Fibrosis atau pembentukan jaringan parut, menambah kerangka
jaringan granulasi pada pembuluh darah baru dan ECM longgar yang
berkembang dini pada tempat pemulihan. Proses fibrosis berlangsung dalam
dua langkah : (1) emigrasi dan proliferasi fibroblas ke dalam tempat jejas, dan
(2) deposisi sel ini pada ECM. Rekrutmen dan stimulasi fibroblas dikendalikan
oleh banyak faktor pertumbuhan yang akan digambarkan kemudian, meliputi
faktor pertumbuhan yang berasal dari trombosit(PDGF), bFGF, dan TGF-.
Salah satu sumber dari berbagai faktor ini adalh endotel teraktivasi.
Ketika proses penyembuhan mengalami kemajuan , jumlah fibroblas yang
berproliferasi dan pembuluh darah baru akan berkurang namun, secara
progresif fibroblas akan lebih mengambil fenotipe sintesis sehungga terjadi
peningkatan deposisi ECM. Secara khusus, sintesis kolagen sangat penting
untuk pengembangan kekuatan pada tempat penyembuhan luka. Namun
pnumpukan kolagen yang sesungguhnya tidak hanya bergantung pada
peningkatan sintesis, tetapi juga degradasi kolagen. Pada akhirnya , bangunan
dasar jaringan granulasi berkembang menjadi suati jaringan parut yang
sebagian besar terdiri atas fibroblas inaktif berbentuk kumparan, kolagen
padat, fragmen jaringan elastis, dan komponen ECM lainnya. Saat jaringan
parut menjadi matang, akhirnya regresi pembuluh darah akan mengubah

jaringan granulasi yang sangat banyak pembuluh darahnya menjadi suatu


jaringan parut yang pucat dan avaskular.
c. Remodelling Jaringan Parut
Perubahan dari jaringan granulasi menjadi jaringan parut melibatkan
perubahan dalam komposisi ECM ; bahkan setelah sintesis dan deposisinya,
ECM jaringan parut akan diubah dan dilakukan remodelling. Hasil akhir dari
setiap

tahapan

adalah

keseimbangan

antara

sintesis

dan

degradasi

ECM. Degradasi kolagen dan komponen ECM lainnya dilakukan oleh suatu
kelompok metaloproteinase. Metaloproteinase harus dibedakan dengan
neutrofil, katepsin G, plasmin, dan proteinase serin lain yang dapat memecah
ECM, tetapi bukan metaloenzim. Metaloproteinase, meliputi kolagenase
interstisial, yang memecah kolagen fibril tipe I, II, dan III; gelatinase yang
memecah

kolagen

amorf

dan

fibronektin;

dan

stromelisin

yang

mengatabolisasi berbagai unsur pokok ECM, termasuk proteoglikan, laminin,


fibronrktin, dan kolagen amorf.
Enzim ini dihasilkan oleh berbagai macam jenis sel (fibroblas,
makrofag, neutrofil, sel sinovial, dan beberapa sel epitel) serta sintesis dan
sekresinya diatur oleh faktor pertumbuhan, sitokin, fagositosis bahkan tekanan
fisik. Sintesis dihambat oleh TGF- dan secara farmakologis dapat ditekan
dengan streoid.karena berpotensi menimbulkan kerusakan berat

pada

jaringan, aktivitas metaloproteinase dikendalikan secara ketat. Oleh karena itu


enzim enzim ini secara khusus dihasilkan sebagai prekusor inaktifyang harus
diaktifkan pertama kali yang dilakukan oleh bahan kimiawi tertentu (misalnya
plasmin) yang mungkin harus muncul pada tempat jejas. Selain itu, kolagenase
aktif dapat dihambat dengan cepat oleh inhibitor metaloproteinase jaringan
(TIMP, tissue inhibitor of metaloproteinase) tertentu, yang dihasilkan oleh
sebagian besar sel mesenkim. Kolagenase dan inhibitornya diatur secara
spasial dan temporal pada penyembuhan luka.
Faktor Pertumbuhan pada Regenerasi Sel dan Fibrosis
Meskipun terdapat susunan faktor pertumbuhan yang mengesankan (dan
faktor pertumbuhan baru terus ditemukan), disini hanya meninjau ulang faktor
yang mempunyai suatu kerja bersasaran luas, atau yang terlibat khusus dalam
mengarahkan proses penyembuhan pada tempat jejas.

1) EGF bersifat mitogenik untuk sejumlah sel epitel dan fibroblas. EGF
merangsang pembelahan sel dengan berikatan pada reseptor tirosin kinase
pada membran sel (ERB B-1), diikuti dengan fosforilasi serta peristiwwa
aktivasi lain.
2) PDGF merupakan suatu heterodimer rantai-A dan rantai-B kationik. PDGF
dihasilkan oleh makrofag teraktivasi, sel endotel, dan sel otot polos, serta
berbagai macam tumor. PDGF menginduksi migrasi dan proliferasi fibroblast,
sel otot polos, dan monosit, tetapi mempunyai perangkat proinflamasi juga.
3) FGF berikatan erat dengan heparin dan molekul anionik lain (sehingga afinitas
yang kuat pada BM); selain merangsang pertumbuhan, FGF menunjukkan
aktivitas lain. Secara khusus, bFGF merekrut makrofag dan fibroblast di
tempat luka dan mampu menginduksi semua tahapan yang diperlukan
agiogenesis.
4) TGF- mempunyai efek pleiotropik dan sering kali menimbulkan efek yang
betentangan. Meskipun penghambat pertumbuhan untuk sebagian besar tipe
sel epitel dalam kultur, TGF- mempunyai efek yang bermacam- macam pada
proliferasi sel masenkim. Pada konsentrasi rendah menginduksi sintesis dan
sekresi PDGF, pada kosentrasi tinggi menajdi inhibitor pertumbuhan karena
memblok reseptor PDGF. TGF- juga merangsang kemotaksis fibroblast,
produksi kolagen dan fibronektin oleh sel, pada saat sama menghambat
pemecahan ektraseluler oleh metaloproteinase. Semua efek ini cenderung
membantu fibrogenesis, dan TGF- mempunyai peranan yang semakin besar
pada fibrosis yang terdapat pada keadaan peradangan kronik.
5) VEGF sesungguhnya merupakan suatu rangkaian isoform glikoprotein dimerik
yang memiliki homologi parsial terhadap PDGF. Aktivitas VEGF pada
mulanya di isolasi tumor dan mempunyai peran sentral bagi pertumbuhan
angiogenesis

tumor.

VEGF

juga

meningkatkan

angiogenesis

pada

perkembangan embrionik normal, penyembuhan luka, radang kronis, serta


peningkatan permeabilitas vaskular.
6) Sitokin dalam berbagai kasus juga merupakan faktor pertumbuhan. IL-1 dan
TNF, misalanya menginduksi proliferasi fibroblast.

2.3 PROSES PENYEMBUHAN LUKA

1) Definisi Luka
Sjamsuhidajat (1997) mendefinisikan luka sebagai hilang atau rusaknya
sebagian jaringan tubuh. Sedangkan Mansjoer (2002) mendefinisikan luka sebagai
keadaan hilang/terputusnya kontinuitas jaringan. Fisiologis penyembuhan adalah
pemulihan jaringan hidup yang rusak fungsi normal. Ini adalah proses di mana
sel-sel dalam tubuh mengalami regenerasi dan perbaikan untuk mengurangi
ukuran rusak atau nekrotik daerah.
Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks karena
berbagai kegiatan bio-seluler, bio-kimia terjadi berkisanambungan. Penggabungan
respons vaskuler, aktivitas seluler dan terbentuknya bahan kimia sebagai substansi
mediator di daerah luka merupakan komponen yang saling terkait pada proses
penyembuhan luka. Besarnya perbedaan mengenai penelitian dasar mekanisme
penyembuhan luka dan aplikasi klinik saat ini telah dapat diperkecil dengan
pemahaman dan penelitian yang berhubungan dengan proses penyembuhan luka
dan pemakaian bahan pengobatan yang telah berhasil memberikan kesembuhan.

Penyembuhan luka meliputi 2 kategori yaitu, pemulihan jaringan ialah


regenerasi jaringan pulih seperti semula baik struktur maupun fungsinya dan
repair ialah pemulihan atau penggantian oleh jaringan ikat (MawardiHasan,2002).
2) Klasifikasi Luka
Jenis luka menurut mekanismenya:
1. Luka mekanik
a) Luka Insisi terjadi karena teriris benda tajam.
b) Luka memar, terjadi akibat benturan dengan benda tumpul.
c) Luka Lecet, terjadi karena bergesekan dengan benda yang kasar tapi tidak
tajam.
d) Luka Tusuk, terjadi akibat benda tajam yang berdiameter kecil dan masuk
dalam tubuh termasuk juga karena tembak (peluru).
e) Luka Robek, terjadi karena benda tajam dan kasar.
f) Luka Tembus, terjadi luka yang menembus organ tubuh.
g) Luka gigitan, terjadi karena gigitan binatang atau manusia
2. Luka Non Mekanik
Luka Bakar, kehilangan atau kerusakan jaringan tubuh terjadi karena
disebabkan oleh energi panas atau bahan kimia atau listrik.
Menurut Kontaminasi Luka :
1. Luka Bersih
Luka yang tidak terdapat imflamasi dan infeksi, tidak melibatkan saluran
pencernaan, pernafasan dan perkemihan.
2. Luka Bersih Terkontaminasi
Luka bedah yang melibatkan saluran pernafasan, perkemihan dan pencernaan.
Namun luka tidak menunjukkan infeksi.
3. Luka Terkontaminasi
Luka terbuka, segar, luka kecelakaan dan bedah yang berhubungan dengan
saluran pencernaan, pernafasan dan perkemihan yang menunjukkan adanya
infeksi.
4. Luka Kotor
Luka lama, luka kecelakaan yang mengandung jaringan mati dan
mikroorganisme.
Berdasarkan kedalaman dan luasnya, luka dapat dibagi menjadi:

1. Luka superfisial; terbatas pada lapisan dermis.


2. Luka partial thickness; hilangnya jaringan kulit pada lapisan epidermis dan
lapisan bagian atas dermis.
3. Luka full thickness; jaringan kulit yang hilang pada lapisan epidermis,
dermis, dan fasia, tidak mengenai otot.
4. Luka mengenai otot, tendon dan tulang.
Terminologi luka yang dihubungkan dengan waktu penyembuhan dapat
dibagi menjadi :
1. Luka akut; luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep
penyembuhan yang telah disepakati. Kriteria luka akut adalah luka baru,
mendadak dan penyembuhannya sesuai dengan waktu yang diperkirakan
Contoh : Luka sayat, luka bakar, luka tusuk, crush injury. Luka operasi dapat
dianggap sebagai luka akut yang dibuat oleh ahli bedah. Contoh : luka jahit,
skin grafting.
2. Luka kornis; luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan,
dapat karena faktor eksogen atau endogen. Pada luka kronik luka gagal
sembuh pada waktu yang diperkirakan, tidak berespon baik terhadap terapi
dan punya tendensi untuk timbul kembali. Contoh : Ulkus dekubitus, ulkus
diabetik, ulkus venous, luka bakar dll.
3) Proses Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka merupakan suatu proses penggantian jaringan yang
mati atau rusak dengan jaringan baru dan sehat oleh tubuh dengan jalan
regenerasi. Luka dikatakan sembuh apabila permukaannya dapat bersatu kembali
dan didapatkan kekuatan jaringan yang mencapai normal. Penyembuhan luka
dapat terjadi secara :
a. Per Primam yaitu penyembuhan yang terjadi setelah segera diusahakan
bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan.
b. Per Sekundem yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan per
primam. Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Luka
jenis ini biasanya tetap terbuka. Biasanya dijumpai pada luka-luka dengan
kehilangan jaringan, terkontaminasi/terinfeksi. Penyembuhan dimulai dari
lapisan dalam dengan pembentukan jaringan granulasi.

c. Per Tertiam atau Per Primam tertunda yaitu luka yang dibiarkan terbuka
selama beberapa hari setelah tindakan debridemen setelah diyakini bersih,
tetapi luka dipertautkan (4-7 hari).
Setiap kejadian luka, mekanisme

tubuh

akan

mengupayakan

mengembalikan komponen-komponen jaringan yang rusak tersebut dengan


membentuk struktur baru dan fungsional sama dengan keadaan sebelumnya.
Proses penyembuhan tidak hanya terbatas pada proses regenerasi yang bersifat
lokal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor endogen (seperti: umur, nutrisi,
imunologi, pemakaian obat-obatan, kondisi metabolik).
Pada dasarnya proses penyembuhan ditandai dengan terjadinya proses
pemecahan atau katabolik dan proses pembentukan atau anabolik.Setiap proses
penyembuhan luka akan terjadi melalui 3 tahapan yang dinamis, saling terkait dan
berkesinambungan serta tergantung pada tipe/jenis dan derajat luka. Sehubungan
dengan adanya perubahan morfologik, tahapan penyembuhan luka terdiri dari:
a) Fase Inflamasi (terjadi setelah luka sampai dengan 7 hari)
Fase inflamasi adalah adanya respons vaskuler dan seluler yang terjadi
akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak dicapai
adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda
asing, sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses
penyembuhan. Pada awal fase ini, kerusakan pembuluh darah akan
menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi hemostasis. Platelet akan
menutupi vaskuler yang terbuka (clot) dan juga mengeluarkan substansi
vasokonstriksi yang mengakibatkan pembuluh darah kapiler vasokonstriksi,
selanjutnya terjadi penempelan endotel yang akan menutup pembuluh darah.
Komponen hemostasis ini akan melepaskan dan mengaktifkan sitokin yang
meliputi Epidermal Growth Factor (EGF), Insulin-like Growth Factor (IGF),
Plateled-derived Growth Factor (PDGF) dan Transforming Growth Factor
beta (TGF-) yang berperan untuk terjadinya kemotaksis netrofil, makrofag,
mast sel, sel endotelial dan fibroblas. Pada fase ini kemudian terjadi
vasodilatasi dan akumulasi leukosit Polymorphonuclear (PMN). Agregat
trombosit akan mengeluarkan mediator inflamasi Transforming Growth
Factor beta 1 (TGF 1) yang juga dikeluarkan oleh makrofag. Adanya TGF 1
akan mengaktivasi fibroblas untuk mensintesis kolagen.

Periode ini hanya berlangsung 5-10 menit, dan setelah itu akan terjadi
vasodilatasi kapiler stimulasi saraf sensoris (local sensoris nerve ending), local
reflex action, dan adanya substansi vasodilator: histamin, serotonin dan
sitokins. Histamin selain menyebabkan vasodilatasi juga mengakibatkan
meningkatnya permeabilitas vena, sehingga cairan plasma darah keluar dari
pembuluh darah dan masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi edema
jaringan dan keadaan lokal lingkungan tersebut asidosis.
Eksudasi ini juga mengakibatkan migrasi sel leukosit (terutama
netrofil) ke ekstra vaskuler. Fungsi netrofil adalah melakukan fagositosis
benda asing dan bakteri di daerah luka selama 3 hari dan kemudian akan
digantikan oleh sel makrofag yang berperan lebih besar jika dibanding dengan
netrofil pada proses penyembuhan luka. Fungsi makrofag disamping
fagositosis adalah:
a. Sintesa kolagen
b. Pembentukan jaringan granulasi bersama-sama dengan fibroblas
c. Memproduksi growth factor yang berperan pada re-epitelisasi
d. Pembentukan pembuluh kapiler baru atau angiogenesis
Dengan berhasilnya dicapai luka yang bersih, tidak terdapat infeksi
atau kuman serta terbentuknya makrofag dan fibroblas, keadaan ini dapat
dipakai sebagai pedoman atau parameter bahwa fase inflamasi ditandai dengan
adanya: eritema, hangat pada kulit, edema dan rasa sakit yang berlangsung
sampai hari ke-3 atau hari ke-4.
b) Fase Proliferasi
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki
dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas
sangat besar pada proses perbaikan, yaitu bertanggung jawab pada persiapan
menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses
rekonstruksi jaringan.
Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel
fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan
penunjang. Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan
sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi)
serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid,
fibronectin

dan

profeoglycans)

(rekonstruksi) jaringan baru.

yang

berperan

dalam

membangun

Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membnetuk cikal bakal


jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannnya subtrat
oleh fibroblast, memberikan tanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan
juga fibroblas sebagai satu kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka.
Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam di dalam
jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan granulasi, sedangkan proses
proliferasi fibroblas dengan aktifitas sintetiknya disebut fibroblasia. Respons
yang dilakukan fibroblas terhadap proses fibroplasia adalah:
a. Proliferasi
b. Migrasi
c. Deposit jaringan matriks
d. Kontraksi luka
Angiogenesis suatu proses pembentukan pembuluh kapiler baru
didalam luka, mempunyai arti penting pada tahap proliferasi proses
penyembuhan

luka.

Kegagalan

vaskuler

akibat

penyakit

(diabetes),

pengobatan (radiasi) atau obat (preparat steroid) mengakibatkan lambatnya


proses sembuh karena terbentuknya ulkus yang kronis. Jaringan vaskuler yang
melakukan invasi kedalam luka merupakan suatu respons untuk memberikan
oksigen dan nutrisi yang cukup di daerah luka karena biasanya pada daerah
luka terdapat keadaan hipoksik dan turunnya tekanan oksigen. Pada fase ini
fibroplasia dan angiogenesis merupakan proses terintegrasi dan dipengaruhi
oleh substansi yang dikeluarkan oleh platelet dan makrofag (growth factors).
Proses selanjutnya adalah epitelisasi, dimana fibroblas mengeluarkan
keratinocyte growth factor (KGF) yang berperan dalam stimulasi mitosis sel
epidermal. Keratinisasi akan dimulai dari pinggir luka dan akhirnya
membentuk barrier yang menutupi permukaan luka. Dengan sintesa kolagen
oleh fibroblas, pembentukan lapisan dermis ini akan disempurnakan
kualitasnya dengan mengatur keseimbangan jaringan granulasi dan dermis.
Untuk membantu jaringan baru tersebut menutup luka, fibroblas akan merubah
strukturnya menjadi myofibroblast yang mempunyai kapasitas melakukan
kontraksi pada jaringan. Fungsi kontraksi akan lebih menonjol pada luka
dengan defek luas dibandingkan dengan defek luka minimal.
Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen
telah terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai
growth factor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.

c) Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir
sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah
menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan
yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan
garunalasi, warna kemerahan dari jaringan mulai berkurang karena pembuluh
mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk
memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai
puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan. Sintesa kolagen yang telah
dimulai sejak fase proliferasi akan dilanjutkan pada fase maturasi kecuali
pembentukan kolagen juga akan terjadi pemecahan kolagen oleh enzim
kolagenase. Kolagen muda ( gelatinous collagen) yang terbentuk pada fase
proliferasi akan berubah menjadi kolagen yang lebih matang, yaitu lebih kuat
dan struktur yang lebih baik (proses re-modelling).
Untuk mencapai penyembuhan yang

optimal

diperlukan

keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan.


Kolagen yang berlebihan akan terjadi penebalan jaringan parut atau
hypertrophic scar, sebaliknya produksi yang berkurang akan menurunkan
kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka.
Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan
kekuatan ajringan kulit mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan
aktivitas yang normal. Meskipun proses penyembuhan luka sama bagi setiap
penderita, namun outcome atau hasil yang dicapai sangat tergantung dari
kondisi biologik masing-masing individu, lokasi serta luasnya luka. Penderita
muda dan sehat akan mencapai proses yang cepat dibandingkan dengan kurang
gizi, disertai dengan penyakit sistemik (diabetes melitus).
4) Faktor-Faktor Penyembuhan Luka
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
a. Koagulasi; Adanya kelainan pembekuan darah (koagulasi) akan
menghambat penyembuhan luka sebab hemostasis merupakan tolak dan
dasar fase inflamasi.
b. Gangguan sistem Imun (infeksi,virus); Gangguan sistem imun akan
menghambat dan mengubah reaksi tubuh terhadap luka, kematian jaringan
dan kontaminasi. Bila sistem daya tahan tubuh, baik seluler maupun

humoral terganggu, maka pembersihan kontaminasi dan jaringan mati


serta penahanan infeksi tidak berjalan baik.
c. Gizi (kelaparan, malabsorbsi), Gizi kurang juga: mempengaruhi
sistem imun.
d. Penyakit Kronis;

Penyakit kronis seperti TBC, Diabetes, juga

mempengaruhi sistem imun.


e. Keganasan; Keganasan tahap lanjut dapat menyebabkan gangguan sistem
imun yang akan mengganggu penyembuhan luka.
f. Obat-obatan; Pemberian sitostatika, obat penekan reaksi imun,
kortikosteroid dan sitotoksik mempengaruhi penyembuhan luka dengan
menekan pembelahan fibroblast dan sintesis kolagen.
g. Teknik Penjahitan; Tehnik penjahitan luka yang tidak dilakukan lapisan
demi lapisan akan mengganggu penyembuhan luka.
h. Kebersihan diri atau Personal Hygiene; Kebersihan diri seseorang akan
mempengaruhi proses penyembuhan luka, karena kuman setiap saat dapat
masuk melalui luka bila kebersihan diri kurang.
i. Vaskularisasi baik proses penyembuhan berlangsung; cepat, sementara
daerah yang memiliki vaskularisasi kurang baik proses penyembuhan
membutuhkan waktu lama.
j. Pergerakan, daerah yang relatif sering bergerak; penyembuhan terjadi
lebih lama.
k. Ketegangan tepi luka, pada daerah yang tight (tegang) penyembuhan
lebih lama dibandingkan dengan daerah yang loose.
2.4 PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR
Tulang merupakan jenis jaringan ikat khusus yang telah mengalami
diferensiasi dan spesialisasi yang tinggi. Karenanya, tulang memiliki kapasitas
bereaksi yang terbatas dalam menghadapi kondisi yang abnormal. Reaksi yang
dilakukan oleh tulang saat terpapar dengan kondisi abnormal di antaranya:
kematian lokal, perubahan deposisi tulang, perubahan resorpsi tulang, dan
kegagalan mekanik atau fraktur. Kematian lokal terjadi saat suatu area tulang
tidak menerima suplai darah sama sekali. Kematian sel ini menjadi suatu
abnormalitas lain yang menyebabkan jaringan di sekitarnya bereaksi dengan
melakukan perubahan deposisi atau perubahan resorpsi. Sementara itu, fraktur
terjadi apabila tulang menerima gaya berlebih dan gagal menahan tegangan yang
ada, contohnya saat terjadi kecelakaan. Tulang yang mengalami fraktur dapat

melakukan regenerasi. Adapun tahapan pemulihan fraktur secara umum dapat


dikategorikan sebagai berikut :
a. Inflamasi, terjadi pendarahan pada situs fraktur dan jaringan lunak di
sekitarnya

menyebabkan

hematoma

yang

menyediakan

sumber

sel

hematopoietik yang dapat menyekresikan faktor pertumbuhan. Pada situs


fraktur ditemukan sel fibroblas, sel mesenkimal, dan osteoprogenitor.
Ditemukan juga jaringan granulasi pada ujung fraktur. Jaringan granulasi
terbentuk dari akumulasi makrofag, proliferasi fibroblas, dan angiogenesis.
b. Pembentukan callus, disebut juga proses repair. Respon callus primer akan
muncul dalam 2 minggu. Awalnya callus ini masih lunak, namun melalui
proses osifikasi endokondral, callus berubah menjadi tulang woven yang
keras.
c. Remodelling. Proses ini mulai selama pertengahan fase pemulihan dan
belanjut hingga tulang nyaris sembuh. Dengan adanya proses remodelling,
memungkinkan tulang untuk mempertahankan konfigurasi dan bentuk
normalnya.
Gambar Pemulihan Tulang

Pemulihan fraktur dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang


dikategorikan menjadi faktor biologis dan faktor mekanik. Faktor biologis
meliputi usia pasien, status nutrisi, fungsi saraf, cedera vaskular, homon, faktor
pertumbuhan, sterilitas, dan tipe tulang yang mengalami fraktur. Sedangkan,

faktor mekaniknya antara lain: perlekatan jaringan lunak pada tulang, stabilitas,
lokasi anatomis, dan lain-lain.
Salah satu faktor pemulihan fraktur adalah faktor pertumbuhan. Pada situs
fraktur, sel-sel lokal menyekresikan faktor pertumbuhan yang terlibat dalam
proses pemulihan fraktur, salah satunya di antaranya BMP, TGF-, IGF-II, dan
PDGF.1,2 BMP (Bone Morphogenic Protein) memiliki sifat osteoinduktif dan
merangsang sel mesenkim pervaskular untuk menghasilkan tulang pada situs
fraktur. TGF- merangsang sel mesenkim untuk menghasilkan kolagen tipe II dan
proteoglikan. Ia juga merangsang osteoblas untuk menyintesis kolagen. Hal ini
digunakan untuk mengatur pembentukan tulang dan tulang rawan pada callus.
IGF-II merangsang kolagen tipe I, proliferasi sel, sintesis matriks tulang rawan,
dan pembentukan tulang. PDGF atau Platelet-derived Growth Factor berperan
dalam faktor kemotaktik yang menarik sel radang untuk menuju situs fraktur.
Dalam proses pemulihan tulang, hormon turut berperan dan memberikan
efek melalui suatu mekanisme tertentu. Hormon kortison, cenderung berefek
negatif karena ia menurunkan proliferasi callus. Berlawanan dengan hormon
pertumbuhan yang meningkatkan volume dari callus. Sementara itu, TH dan PTH
turut berperan dalam merangsang remodelling tulang.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Regenerasi (pembentukan) sel adalah pembentukan sel baru untuk
menggantikan sel yang mati/rusak. Ini adalah kemampuan alami tubuh yang
dianugerahkan Tuhan kepada setiap makhluk hidup agar mampu bertahan hidup.
Pemulihan terjadi melalui penggantian sel parenkim non regeneratif oleh jaringan
ikat. Terdapat empat komponen umum proses ini : Pembentukan pembuluh darah
baru (angiogenesis), Migrasi dan proliferasi fibroblas, Deposisi ECM, Maturasi
dan reorganisasi jaringan fibrosa (remodelling). Penyembuhan luka merupakan
suatu proses penggantian jaringan yang mati atau rusak dengan jaringan baru dan
sehat oleh tubuh dengan jalan regenerasi. Luka dikatakan sembuh apabila
permukaannya dapat bersatu kembali dan didapatkan kekuatan jaringan yang
mencapai normal. Penyembuhan luka dapat terjadi secara : Per Primam, Per
Sekundem, dan Per Tertiam atau Per Primam tertunda.
Sehubungan dengan adanya perubahan morfologik, tahapan penyembuhan
luka terdiri dari : Fase Inflamasi (terjadi setelah luka sampai dengan 7 hari), Fase
Proliferasi, dan Fase Maturasi. Adapun tahapan pemulihan fraktur secara umum
dapat dikategorikan yaitu Inflamasi, Pembentukan callus, dan Remodelling.
Pemulihan fraktur dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang
dikategorikan menjadi faktor biologis dan faktor mekanik. Faktor biologis
meliputi usia pasien, status nutrisi, fungsi saraf, cedera vaskular, homon, faktor
pertumbuhan, sterilitas, dan tipe tulang yang mengalami fraktur. Sedangkan,
faktor mekaniknya antara lain: perlekatan jaringan lunak pada tulang, stabilitas,
lokasi anatomis, dan lain-lain.
3.2 Saran
Semoga pembuatan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami
selaku penulis memohon adanya kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Dengan mempelajari materi pemulihan jaringan,

diharapkan agar dapat memahami mengenai regenerasi sel, pemulihan jaringan


ikat, proses penyembuhan luka, dan proses penyembuhan fraktur.

DAFTAR PUSTAKA
A. Price, Sylvia. 2006. Patologi Fisiologi Volume 1 edisi 6. Jakarta : EGC
CNI Wakasa. Meregenerasi Sel yang Rusak dengan Cepat. Diakses dari
http://www.cni.co.id/index.php/corporate-info/news/info-cni/1803-cniwakasa-meregenerasi-sel-yang-rusak-dengan-cepat pada tanggal 10 April
2015 pukul 21.37 WITA
Diska, Madissa. Pemulihan Oleh Jaringan Ikat (Fibrosa). Diakses dari
https://www.scribd.com/doc/201646915/Fibrosis pada tanggal 13 April 2015
pukul 18.15 WITA
Elsmee.

Pemulihan

Jaringan.

Diakses

https://www.scribd.com/doc/246281073/PEMULIHAN-JARINGAN

dari
pada

tanggal 13 April 2015 pukul 18.10 WITA


Kartono,

Angela.

Healing

Repair.

Diakses

dari

https://www.scribd.com/doc/213984731/Healing-Repair pada tanggal 13


April 2015 pukul 18.05 WITA
Pringgautomo, Sudarto,dkk. 2002. Buku Ajar Patologi I (umum). Jakarta : Sagung
Sento
Sridianti.

2014.

Pengertian

Regenari

Sel

dan

Peran.

Diakses

http://www.sridianti.com/pengertian-regenerasi-sel-dan-peran.html

dari
pada

tanggal 10 April 2015 pukul 21.36 WITA


Vidia,

Nadira.

Pemulihan

Jaringan.

Diakses

dari

https://www.scribd.com/doc/247097729/pemulihan-jaringan pada tanggal


10 April 2014 pukul 22.10 WITA