Anda di halaman 1dari 12

Analisis Shift Share Ekonomi Wilayah Propinsi Sulawesi Selatan, Sektor

pertanian Industri dan perdagangan dan jasa-jasa


Analisis Shift Share Ekonomi Wilayah
Propinsi Sulawesi Selatan

Oleh :
Yusrin, Muh. Jufri Hamdan, Fitriani, Putra Ananda Loyd

I.Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari pembangunan nasional
dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Pembangunan
ekonomi dalam suatu daerah atau negara dapat dilihat dari perkembangan pertumbuhan ekonominya
dalam jangka panjang yang tercermin dari perkembangan PDRB-nya.

Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilaksanakan
berdasarkan prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumber daya nasional yang memberikan
kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan kinerja daerah untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat menuju masyarakat yang bebas dari kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Pembangunan di Provinsi Sulawesi Selatan yang berlangsung secara menyeluruh dan


berkesinambungan telah meningkatkan perekonomian masyarakat merupakan agregat pembangunan
dari 23 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan yang tidak terlepas dari usaha keras bersama antara
pemerintah dan swasta. Namun di sisi lain berbagai kendala dalam memaksimalkan potensi sumber daya
manusia dan sumber modal masih dihadapi oleh penentu kebijakan di tingkat provinsi maupun di
kabupaten/kota.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-

undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah, telah mengubah konsep dan kewenangan daerah yang ada selama ini. Undang-undang ini
memiliki makna substansial dalam pemberian kewenangan daerah yang semula ditujukan atas dasar
porsi kebijakan pusat yang menonjol dalam pembagian kewenangan pusat-daerah selanjutnya diarahkan
menjadi kemandirian daerah dalam mengelola kawasannya termasuk kebijakan-kebijakan dalam
pembiayaan.
Konsekuensi logis dari hal tersebut berdampak terhadap kemajuan perekonomian daerah yang
pada akhirnya terciptanya peningkatan pembangunan daerah dengan memperhatikan potensi dan
keaneka ragaman daerah. Oleh karena itu sudah menjadi tuntutan daerah untuk dapat mengembangkan
potensi yang dimiliki guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerahnya. Menurut Todaro (1999) ada
tiga faktor atau komponen utama yang berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi suatu daerah,
ketiganya adalah akumulasi modal, pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknologi. Akumulasi modal
(capital accumulation) meliputi semua jenis investasi baru baik yang dilakukan oleh pemerintah ataupun
swasta yang ditanamkan dengan bentuk tanah, peralatan fisik, dan modal sumber daya. Akumulasi modal
akan terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabungkan (diinvestasikan) kembali dengan tujuan untuk
memperbesar output atau pendapatan di kemudian hari.

Sulawesi selatan memiliki sumber daya alam yang cukup potensial untuk di kembangkan oleh para
investor diberbagai sektor.potensi tersebut sampai saat ini belum dikelola secara maksimal oleh para
pengusaha yang ada dan oleh karenanya,masih terbuka lahan investasi untuk dikembangkan lebih
lanjut.selain itu, tersedianya berbagai infrastruktur yang mamadai serta iklim investasi yang kondusif
menjadikan sulawesi selatan sebagai daerah alternativ bagi investor untuk berinvestasi.beberapa
indikator yang menggambarkan besarnya potensi dan peluang investasi di sulawesi selatan dapat dilihat
sebagai berikut total wilayah sulawesi selatan mencapai 62.361,71 km persegi yang mencapai 5% dari
lahan tersebut dapat ditanami,24% lahan tambak, 22.7% kolam air payau yang cocok untuk budidaya
komoditi udang dan tingginya laju sektor perdagangan menjadikan sulawesi selatan merupakan pintu
gerbang memasuki wilayah kawasan timur indonesia yang dilengkapi oleh kelengkapan infrastruktur
sehingga pada tahun 1999 nilai investasi sebesar Rp.713,1 milyar dan meningkat sangat drastis menjadi
Rp.29.982 milyar lebih pada tahun 2000. Kemudian setelah itu dalam tahun 2002 ,PMDN turun menjadi
Rp.146 M dan mulai bankit kembali pada tahun 2003 hingga 2006.Pada tahun 2007 PMDN kembali turun
namun menjadi masih lebih baik dibandingkan periode tahun 2002-2003 dengan nilai Rp.245 M .investasi
sebesar itu terutama dipergunakan bagi sektor perdagangan,Hotel,dan restoran senilai Rp.186.36 milyar,
sektor industri Rp.54.26 milyar atau 22,18% dan sisanya dengan nilai kurang dari 1 persen masing-

masing digunakan oleh sektor pertanian dan jasa, dan pada tahun 2008 investasi meningkat di sektor
jasa dengan PMDN Rp.1.213.999 triliun dalam juta dan PMA Rp.611.550 Milyar hingga ketahun 2009.
Memposisikannya sebagai pusat pelayanan di wilayah indonesia timur, sulawesi selatan memiliki
penduduk muda di bawah umur 25 tahun sebesar 51.7% yang merupakan jaminan tersedianya suplai
tenaga kerja.

Sebagai ilustrasi, selama periode 2000-2009, perekonomian Sulawesi Selatan relatif stabil dengan
rata-rata pertumbuhan 6,34 persen pertahun. Sejak pasca krisis ekonomi, pada periode ini ekonomi mulai
membaik walaupun belum lebih baik dibanding saat sebelum krisis tahun 1997, namun dari tahun ke
tahun tampak terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan
ekonomi Sulawesi Selatan yang semakin membaik, yakni pada tahun 2000 tumbuh 4,89 persen,
kemudian tumbuh 5,23 persen pada tahun 2001, meningkat tajam pada tahun 2002 dengan tingkat
pertumbuhan 9,52 persen, tahun 2003 pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan menurun dari tahun
sebelumnya dengan tingkat pertumbuhan 6,05 persen. Tahun 2004 pertumbuhan ekonomi Sulawesi
Selatan kembali mengalami penurunan yang signifikan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 5,26
persen.

Pertumbuhan ekonomi pada lima tahun terakhir mencerminkan dinamisnya perekonomian nasional
yang mempunyai rata-rata 4.5% pertahun. Pertumbuhan ekonomi pada lima tahun terakhir
mencerminkan dinamisnya perekonomian nasional yang mempunyai rata-rata 4.5% pertahun.
Berdasarkan uraian permasalahan tersebut diatas, maka perlu dilakukan perhitungan atau analisis
perekonomian wilayah dengan menggunakan salah satu metode analisis yaitu analisis shift share.

I.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yaitu :

1.Seberapa besar pengaruh komponen pertumbuhan sektor Pertanian Sulawesi Selatan terhadap
penyerapan tenaga kerja nasional ?

2.Seberapa besar pengaruh komponen bauran industri terhadap pertumbuhan tenaga kerja di propinsi
Sulawesi Selatan ?

3.Bagaimana pertumbuhan komponen tenaga kerja pada sektor pertanian terhadap pertumbuhan
ekonomi nasional ?

I.3 Tujuan

Adapun tujuan dari jurnal ini yaitu :

1.Untuk mengetahui pengaruh komponen pertumbuhan sektor Pertanian Sulawesi Selatan terhadap
penyerapan tenaga kerja nasional ?

2.Untuk mengetahui pengaruh komponen bauran industri terhadap pertumbuhan tenaga kerja di propinsi
Sulawesi Selatan ?

3.Untuk mengetahui pertumbuhan komponen tenaga kerja pada sektor pertanian terhadap pertumbuhan
ekonomi nasional ?

II. Metodologi

II.1 Variabel

Variabel yang digunakan adalah tenaga kerja (jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja
menurut lapangan usaha utama) serta PDRB menurut lapangan usaha utama (pertanian, industri,
perdagangan dan jasa) atas dasar harga berlaku dengan data-data time series 5 tahun terakhir.

II.2 Analisis Data

Analisis data yang digunakan adalah analisis shift share yaitu kinerja atau produktivitas kerja

perekonomian daerah dengan membandingkannya dengan daerah yang lebih besar (regional atau
nasional).

III. Hasil dan Pembahasan

III.1 Gambaran Umum Wilayah Studi

Propinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di Makassar terletak antara 0012-800 Lintang Selatan dan
116048-122036 Bujur Timur. Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan
dengan Propinsi Sulawesi Barat, Sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Tenggara,
Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores, sedangkan disebelah Barat berbatasan dengan Selat
Makassar.

Luas wilayah propinsi Sulawesi Selatan tercatat 45.764,53 km2 yang meliputi 21 kabupaten dan 3 kota.
Pare-pare merupakan kabupaten/kota terkecil dengan luas sekitar 99,33 km 2 dan kabupan Luwu Utara
merupakan kabupaten terluas dengan luas 7.502,68 km2 atau 16,45% dari seluruh wilayah Sulawesi
Selatan.

Struktur ekonomi Sulawesi Selatan pada kurun waktu tahun 1993-2009 tidak mengalami pergeseran
yang berarti. Peranan sektor pertanian terhadap perekonomian Sulawesi Selatan masih cukup besar
yakni 8,24% di tahun 1996, walaupun terus menurun hingga tahun 1998 mengalami devisit menjadi
-5,33%. Tingginya peranan ini ditopang oleh sub-sektor tanaman bahan makanan (tabama) dengan
kontribusi rata-rata 13,52 %. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Sulawesi Selatan
perekonomiannya masih mengandalkan pada pertanian tanaman pangan.

Selain pertanian, sektor lain yang mempunyai kontribusi cukup besar adalah, sektor perdagangan hotel
dan restoran, sektor jasa-jasa, dan sektor industri pengolahan yang masing-masing menyumbang
16,71%, 6,72 %, dan 12,53 % (keadaan tahun 2009) terhadap pembentukan total PDRB Sulawesi
Selatan. Sedangkan sektor listrik, gas, dan air bersih pada tahun yang sama mempunyai kontribusi yang
paling kecil, hanya sekitar 0,95 %.

III.2 Hasil
A.Ketenagakerjaan usia 15 tahun ke atas

Tabel 1. Jumlah penduduk Sulawesi Selatan usia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapang usaha
utama di Propinsi Sulawesi Selatan.

Tabel 2. Jumlah penduduk Nasional usia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapang usaha
utama Nasional

B. PDRB menurut lapangan usaha utama

Tabel 3. PDRB Sulawesi Selatan menurut lapangan usaha utama atas dasar harga berlaku (Jutaan Rp)

Tabel 4. PDRB Nasional menurut lapangan usaha utama atas dasar harga berlaku (Jutaan Rp)

C. Hasil perhitungan Shift Share tiap tahun untuk ketenagakerjaan usia 15 tahun ke atas

Tabel 5. Hasil Shift Share tahun 2006

Tabel 6. Hasil Shift Share tahun 2007

Tabel 7. Hasil Shift Share tahun 2008

Tabel 8. Hasil Shift Share tahun 2009

D. Hasil perhitungan Shift Share ketenagakerjaan untuk totalitas 5 tahun

Tabel 9. Hasil perhitungan shift share ketenagakerjaan untuk totalitas 5 tahun

Tabel 9 memperlihatkan besarnya pertumbuhan ekonomi menurut lapangan usaha utama pada tahun
2006-2010. Dari lima lapangan usaha utama yang ada terlihat sektor pertanian yang mempunyai total
ketenagakerjaan lebih tinggi dibandingkan 4 sektor yang lain yaitu 499.509 jiwa. Sementara jumlah
terendah pada sektor industri yaitu 50.044 jiwa.

Tabel 10. Persentase ketenagakerjaan untuk totalitas 5 tahun

Tabel 10 terlihat bahwa persentase pertumbuhan sektor pertanian untuk komponen ketenagakerjaan
selama tahun 2006-2010 berfluktuatif dari tahun ke tahun dengan totalitas pertumbuhan 60,94 % yang
merupakan pertumbuhan tertinggi diantara sektor lainnya. Dimana pertumbuhan sektor lapangan usaha
utama terendah terjadi pada sektor industri yaitu sebesar 6,10 %.

E. Hasil perhitungan Shift Share tiap tahun untuk PDRB tiap tahun

Tabel 11. Hasil Shift Share tahun 2006

F. Hasil perhitungan Shift Share PDRB untuk totalitas 5 tahun

Tabel 15 memperlihatkan besarnya pertumbuhan ekonomi menurut lapangan usaha utama pada tahun
2006-2010. Dari lima lapangan usaha utama yang ada terlihat sektor pertanian yang mempunyai totalitas
PDRB lebih tinggi dibandingkan 4 sektor yang lain yaitu Rp 4.043,33 juta. Sementara jumlah terendah
pada sektor jasa yaitu Rp 1.556,81 juta.

Tabel 16 terlihat bahwa persentase pertumbuhan sektor pertanian untuk komponen PDRB selama tahun
2006-2010 berfluktuatif dari tahun ke tahun dengan totalitas pertumbuhan 42,09 % yang merupakan
pertumbuhan tertinggi diantara sektor lainnya. Dimana pertumbuhan sektor lapangan usaha utama
terendah terjadi pada sektor jasa yaitu sebesar 16,21 %.

IV.

Penutup

V.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari jurnal ini adalah sebagai berikut :

1. Pengaruh komponen pertumbuhan nasional (Nij) sektor pertanian mempunyai efek positif dalam
menyerap tenaga kerja yaitu sebesar 499.509 atau 60,94 % tenaga kerja terhadap penyerapan tenaga
kerja nasional.

2. Pengaruh komponen bauran industri (Mij) mempunyai efek posotif, hal ini menyebabkan pertumbuhan
tenaga kerja di provinsi Sulawesi Selatan meningkat sebanyak 499.510 atau 60,93 % tenaga kerja.

3. Pertumbuhan sektor pada semua lapangan usaha utama dalam sisi tenaga kerja tumbuh relatif lebih
maju dibandingkan pertumbuhan sektor yang sama di tingkat nasional.

V.2 Saran
Saran yang dapat diajukan adalah dalam kaitan mengenai topik terkait berikutnya perlu
mempertimbangkan mengenai peggunaan data time series dengan periode waktu triwulan selain data
tahunan.

Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik, 2011, Sulawesi Selatan dalam angka 2010. Makassar, Sulawesi Selatan.
http://ten-teng-maros.blogspot.com/2011/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

Progrm Pasca Sarjana Universitas Haluoleo Kendari, Tugas Analisis Wilayah