Anda di halaman 1dari 6

Pertanyaan

1. Jelaskan mekanisme kerja yang mendasari efek farmakologi amfetamin


Jawaban: Sistem saraf utama yang dipengaruhi oleh amfetamin sebagian besar terlibat
dalam sirkuit otak. Selain itu, neurotransmiter yang terlibat dalam jalur berbagai hal
penting di otak tampaknya menjadi target utama dari amfetamin. Salah satu
neurotransmiter tersebut adalah dopamin , sebuah pembawa pesan kimia sangat aktif dalam
mesolimbic dan mesocortical jalur imbalan. Tidak mengherankan, anatomi komponen jalur
tersebut-termasuk striatum , yang nucleus accumbens , dan ventral striatum -telah
ditemukan untuk menjadi situs utama dari tindakan amfetamin. Fakta bahwa amfetamin
mempengaruhi aktivitas neurotransmitter khusus di daerah terlibat dalam memberikan
wawasan tentang konsekuensi perilaku obat, seperti timbulnya stereotip euforia
.Amphetamine telah ditemukan memiliki beberapa analog endogen, yaitu molekul struktur
serupa yang ditemukan secara alami di otak. l- Fenilalanin dan - phenethylamine adalah
dua contoh, yang terbentuk dalam sistem saraf perifer serta dalam otak itu sendiri.
Molekul-molekul ini berpikir untuk memodulasi tingkat kegembiraan dan kewaspadaan,
antara lain negara afektif terkait.

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi toksisitas amfetamin


Jawaban:
a. Konsentrasi Obat: Umumnya kecepatan biotransformasi obat bertambah bila konsentrasi
obat meninggi. Hal ini berlaku sampai titik dimana konsentrasi menjadi sedemikian tinggi
sehingga seluruh molekul enzim yang melakukan metabolisme berikatan terus menerus
dengan obat dan tercapai kecepatan biotransformasi yang konstan.
b. Fungsi Hati: Pada gangguan fungsi hati, metabolsime dapat berlangsung lebih cepat atau
lebih lambat, sehingga efek obat menjadi lebih lemah atau lebih kuat dari yang diharapkan
c. Usia: Pada bayi baru lahir (neonatus) belum semua enzim hati terbentuk, maka reaksi
metabolisme obat lebih lambat (terutama pembentukan glukoronida antara lain untuk
reaksi konjugasi dengan kloramfenikol, sulfonamida, diazepam, barbital, asetosal, petidin).

Untuk menghindari keracunan maka pemakaian obat-obat ini untuk bayi sebaiknya
dihindari, atau dikurangi dosisnya.Pada orang usia lanjut banyak proses fisiologis telah
mengalami kemunduran antara lain fungsi ginjal, enzim-enzim hati, jumlah albumin serum
berkurang. Hal ini menyebabkan terhambatnya biotrnasformasi obat yang seringkali
berakibat akumulasi atau keracunan.
d. Genetik: Ada orang orang yang tidak memiliki faktor genetika tertentu misalnya enzim
untuk asetilasi sulfonamida atau INH, akibatnya metabolisme obat-obat ini lambat sekali.
e. Pemakaian Obat lain: Banyak obat, terutama yang bersifat lipofil (larut lemak) dapat
menstimulir pembentukan dan aktivitas enzim-enzim hati. Hal ini disebut induksi enzim.
Sebaliknya dikenal pula obat yang menghambat atau menginaktifkan enzim hati disebut
inhibisi enzim.
3. Jelaskan efek apa yang terlihat pada mencit setelah pemberian amfetamin dan bagaimana
gejala keracunan pada amfetamin
Jawaban: Meningkatkan suhu tubuh, Kerusakan sistem kardiovaskular, Paranoia,
Meningkatkan denyut jantung, Meningkatkan tekanan darah, Menjadi hiperaktif,
Mengurangi rasa kantuk, Tremor, Menurunkan nafsu makan, Euforia, Mulut kering,
Dilatasi pupil, Mual, Sakit kepala, Perubahan perilaku seksual
4. Bila terjadi keracunan, obat apa yang daapat digunakan untuk mengatasinya? Jelaskan
Jawaban: Antidotum yaitu zat yang memiliki daya kerja bertentangan dengan racun, dapat
mengubah sifat kimia racun, atau mencegah absorbsi racun. Jenis antidotum yang
digunakan pada keracunan :
a. Keracunan insektisida (alkali fosfat), asetilkolin, muskarin : atropine, reaktivator
kolinesteras (pralidoksin, obidoksin).
b. Keracunan sianida : 4 dimetilaminofenol HCl (4-DMAP) dan natrium tiosulfat.
c. Keracunan methanol dengan etanol.
d. Keracunan methenoglobin : tionin.
e. Keracunan besi : deferoksamin
f. Keracunan As,Au, Bi, Hg, Ni, Sb : dimerkaprol(BAL =british anti lewisit).
g. Keracunan glikosida jantung : antitoksin digitalis.
h. Keracunan Au,Cd,Mn,Pb,Zn : kalsium trinatrium pentetat.
5. Jelaskan mekanisme kerja mengapa dengan jalan memperbanyak ekskresi gejala racun
amfetamin dapat dihilangkan

Jawaban: Ginjal merupakan organ yang penting untuk ekskresi obat. Obat diekskresikan
dalam struktur tidak berubah atau sebbagai metabolit melalui ginjal dala urine. Obat yang
diekskresikan bersama feses berasal dari :
1.

Obat yang tidak diabsorbsi dari penggunaan obat melalui oral.

2.

Obat yang diekskresikan melalui empedu dan tidak direabsorbsi dari usus.
Obat dapat diekskresikan melalui paru paru, air ludah, keringat atattu dalam air susu.
Obat dalam badan akan mengalami metabolisme dan ekskresi. Maka dalam penggunaan
obat pada pasien perlu diperhatikan keadaan pasien yang fungsi hati atau ginjalnya tidak
normal. Perlu diketahui apakah obat yang diberikan dapat dimetabolismekan atau tidak,
rute ekskresinya dan sebagainya.Pengeluaran obat dari tubuh melalui organ ekskresi
dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Ekskresi suatu
obat dan atau metabolitnya menyebabkan penurunan konsentrasi zat berkhasiat dalam
tubuh. Ekskresi dapat terjadi bergantung pada sifat fisikokimia (bobot molekul, harga
pKa, kelarutan, tekanan gas) senyawa yang diekskresi, melalui

1.

ginjal (dengan urin)

2.

empedu dan usus (dengan feses) atau

3.

paru-paru (dengan udara ekspirasi)


Ekskresi melalui kulit dan turunannya tidak begitu penting. Sebaliknya pada ibu yang
menyusui, eliminasi obat dan metabolitnya dalam ASI dapat menyebabkan intoksikasi
yang membahayakan bayi.
6. Obat apa yang digunakan untuk mengendalikan gejala-gejala kardiovaskular yang
disebabkan amfetamin
Jawaban :
berikan atropine 2 mg secara IV perlahan-lahan ddan diulangi secara IM setiap 24

jam sampai kesukaran bernafas dapat diatasi.


Infuse Na 1-1,5 mmol per kgBB per hari apabila ada gangguan elktrolit dan asam
basa.

Kolaboratif thiamine 100 mg IV untuk profilaksis mencegah terjadinya wernick

ensefalopati.
Pemberian 5 mg dextrose 5 % IV dan 0,4-2 mg naloksone jika klien memiliki

riwayat pemsakaian opioid.


Jika klien agresif bisa diberikan haloperidol IM.

7. Apakah semua obat-obat lain yang segolongan dengan asetanilida secara kimia dan
farmakologi mempunyai toksisitas sama dengan asetanilida dalam dosis yang setara
jawaban
: Obat-obat yang segolongan dengan asetanilida mempunyai toksisitas
yang berbeda dengan asetanilida yang lainnya. Hal ini terkait dengan dosis pemberian,
interval serta frekuensi pemberian pada setiap obat. Sebagai contoh pada pemberian
parasetamol, Kejadian toksik pada hati (hepatotoksisitas) akan terjadi pada penggunaan
7,5-10 gram dalam waktu 8 jam atau kurang. Kematian bisa terjadi (mencapai 3-4% kasus)
jika parasetamol digunakan sampai 15 gram.
8. Mekanisema CN
Jawaban: : Sianida menjadi toksik bila berikatan dengan trivalen ferric (Fe+++). Tubuh
yang mempunyai lebih dari 40 sistem enzim dilaporkan menjadi inaktif oleh cyanida. Yang
paling nyata dari hal tersebut ialah non aktif dari dari sistem enzim cytochrom oksidase
yang terdiri dari cytochrom a-a3 komplek dan sistem transport elektron. Bilamana cyanida
mengikat enzim komplek tersebut, transport elektron akan terhambat yaitu transport
elektron dari cytochrom a3 ke molekul oksigen di blok. Sebagai akibatnya akan
menurunkan penggunaan oksigen oleh sel dan mengikut racun PO2.Sianida dapat
menimbulkan gangguan fisiologik yang sama dengan kekurangan oksigen dari semua
kofaktor dalam cytochrom dalam siklus respirasi. Sebagai akibat tidak terbentuknya
kembali ATP selama proses itu masih bergantung pada cytochrom oksidase yang
merupakan tahap akhir dari proses phoporilasi oksidatif.Selama siklus metabolisme masih
bergantung pada sistem transport elektron, sel tidak mampu menggunakan oksigen
sehingga menyebabkan penurunan respirasi serobik dari sel. Hal tersebut menyebabkan
histotoksik seluler hipoksia. Bila hal ini terjadi jumlah oksigen yang mencapai jaringan
normal tetapi sel tidak mampu menggunakannya. Hal ini berbeda dengan keracunan CO
dimana terjadinya jarinngan hipoksia karena kekurangan jumlah oksigen yang masuk. Jadi
kesimpulannya adalah penderita keracunan cyanida disebabkan oleh ketidak mampuan
jaringan menggunakan oksigen tersebut.

9. Apakah perbedaan rute pemberina racun dan obat berpengaruh pada efek toksin CN yang
diamati? Jelaskan
Jawaban: Intravena (IV) : suntikan intravena adalah cara pemberian obat parenteral yan
sering dilakukan. Untuk obat yang tidak diabsorbsi secara oral, sering tidak ada pilihan.
Dengan pemberian IV, obat menghindari saluran cerna dan oleh karena itu menghindari
metabolisme first pass oleh hati. Rute ini memberikan suatu efek yang cepat dan kontrol
yang baik sekali atas kadar obat dalam sirkulasi. Namun, berbeda dari obat yang terdapat
dalam saluran cerna, obat-obat yang disuntukkan tidak dapat diambil kembali seperti
emesis atau pengikatan dengan activated charcoal. Suntikan intravena beberapa obat dapat
memasukkan bakteri melalui kontaminasi, menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan
karena pemberian terlalu cepat obat konsentrasi tinggi ke dalam plasma dan jaringanjaringan. Oleh karena it, kecepatan infus harus dikontrol dengan hati-hati. Perhatiab yang
sama juga harus berlaku untuk obat-obat yang disuntikkan secara intra-arteri.
10. Sebutkan sumber-sumber racun sianida dalam kehidupan sehari-hari
Jawaban: Sumber racun sianida berasal dari Ketela Pohon Bagian dalam umbinya
berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun
ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru
gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat meracun bagi manusia.Umbi ketela
pohon merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein.
Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam
amino metionina.
11. Dalam praktek apakah ada pendekatan untuk mencegah keracunan seperti yang saudara
kerjakan. Jelaskan
Jawaban: Antidot adalah sebuah substansi yang dapat melawan reaksi peracunan, atau
dengan kata lain antidotum ialah penawar racun.
Dalam arti sempit, antidotum adalah senyawa yang mengurangi atau menghilangkan
toksisitas senyawa yang diabsorpsi.Sementara keracunan adalah masuknya zat yang
berlaku sebagai racun, yang memberikan gejala sesuai dengan macam, dosis, dan cara
pemberiannya