Anda di halaman 1dari 9

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjuan Pustaka
Beton merupakan bahan bangunan hasil pencampuran semen, agregat dan
air. Semen dan air dalam campuran ini akan membentuk suatu pasta yang
berfungsi sebagai pengikat dan pengisi rongga-rongga antar agregat, sehingga
beton menjadi suatu massa pejal. Campuran ini bersifat plastis dan akan mengeras
menurut waktu. Keunggulan beton seperti kekuatan beton tekan yang besar, harga
murah dan sifat adukan yang plastis sehingga mudah dibentuk merupakan salah
satu sebab beton lebih banyak digunakan sebagai bahan konstruksi. (Kardiyono
Tjokodimuljo, 1996).
Beton kuat terhadap tekan, tetapi lemah terhadap tarik, oleh karena itu,
perlu tulangan untuk menahan gaya tarik dan untuk memikul beban-beban yang
bekerja pada beton. Adanya tulangan ini seringkali digunakan untuk memperkuat
daerah tarik pada penampang balok. Tulangan baja tersebut perlu untuk bebanbeban berat untuk mengurangi lendutan jangka panjang. (Edward G. Navy, 1998).
Beton yang diberi bahan tambah serat disebut beton serat (fiber reinforced
concrete). Serat pada umumnya berupa batang-batang dengan diameter antara 5
sampai 500 m (mikro meter), dan panjang sekitar 25 mm sampai 100 mm. Serat
dapat berupa asbestos, gelas/kaca, plastik, baja atau serat tumbuhan. Maksud
utama penambahan serat kedalam adukan beton adalah untuk menambah kuat
tarik beton, mengingat kuat tarik beton sangat rendah. Kuat tarik yang sangat
rendah berakibat beton mudah retak yang pada akhirnya mengurangi keawetan
beton. Dengan adanya serat, ternyata beton menjadi tahan retak dan tahan
benturan. Dalam hal ini serat dianggap sebagai agregat yang betuknya sangat
tidak bulat. Adanya mengakibatkan berkurangnya sifat kemudahan dikerjakan dan
mempersulit terjadinya segregasi. Serat dalam beton berguna untuk mencegah
adanya retak-retak, sehingga menjadikan beton serat lebih daktail daripada beton
biasa. (Kardiyono Tjokodimuljo, 1996).

Ide dasar penambahan serat kedalam adukan beton adalah menulangi


secara random, sehingga dapat mencegah terjadinya retakan-retakan beton
didaerah tarik yang terlalu dini akibat pembebanan. (Soroushian dan Bayasi,
1987).
Beton serat mempunyai kelebihan daripada beton tanpa serat dalam
beberapa sifat strukturnya, antara lain yaitu keliatan (ductility), ketahanan
terhadap beban kejut (impact resistance), kuat tarik dan kuat lentur (tensile and
flexural strength), ketahan terhadap kelelehan (fatique life), kekuatan terhadap
pengaruh susutan (shrinkage) dan ketahanan terhadap keausan (abrasion).
(Soroushian dan Bayasi, 1987).
Torsi terjadi pada konstruksi beton monolit, terutama apabila beban
bekerja pada jarak yang tidak nol dari sumbu memanjang batang structural. Balok
ujung dari panel lantai, balok tepi (spandrel beam) yang menerima beban dari satu
sisi, atap kanopi dari halte bus yang ditumpu oleh system balok diatas kolom,
balok keliling pada lubang lantai, dan juga tangga melingkar, yang semuanya
merupakan contoh elemen struktural yang mengalami momen puntir. Momen
puntir sering menyebabkan tegangan geser yang yang cukup besar sehingga dapat
terjadi retak-retak yang menjalar sampai melebihi limit serviceability yang
diijinkan. (Edward G. Nawy, 1998).
Torsi dalam system struktur dapat digolongkan atas dua tipe, yaitu : (a)
torsi statis tertentu/ statically determinate torsion (kadang-kadang dinamakan
torsi berimbang, dimana momen torsi dapat ditentukan dari statika saja, (b) torsi
statis tak tentu/ statically indeterminate torsion (kadang-kadang dinamakan torsi
compatible, dimana torsi tidak dapat ditentukan dari statika dan rotasi / puntir),
diperlukan untuk kompatibalitas deformasi antara elemen-elemen yang saling
berhubungan seperti balok sprandel, pelat atau kolom. (Chu-Kia Wang dan
Charles G. Salman, 1987).
Secara umum, torsi (puntiran) terjadi akibat perputaran balok gelagar atau
kolom terhadap sumbunya. Perputaran demikian dapat diakibatkan oleh bebanbeban yang titik kerjanya tidak terletak pada sumbu simetri vertical. Dalam
perhitungan perencanaan suatu balok gelagar terhadap torsi terdapat dua

kemungkinan yaitu : (1) momen torsi yang tidak dapat direduksi oleh redistribusi
gaya-gaya dan momen-momen dalam, (2) momen torsi yang dapat direduksi oleh
redistribusi gaya-gaya dan momen-momen dalam. (WC Vis dan Kusuma Gideon,
1994)
Briggs dkk, 1974 (dalam Sujatmoko, 2000) meneliti bahwa batas
maksimal aspek rasio serat yang masih memungkinkan pengadukan dilakukan
dengan mudah adalah 1/d < 100. Nilai 1/d yang melampaui batas diatas akan
menyebabkan kesulitan dalam pengadukan yang dinyatakan dalam VB-time yang
semakin tinggi.

B. Dasar Teori
1. Bahan Penyusun Beton Bertulang
Beton bertulang merupakan suatu bahan yang heterogen sebagai hasil
pencampuran beberapa macam material. Material penyusun beton bertulang
adalah semen, agregat kasar, agregat halus, air dan baja tulangan. Untuk mencapai
kinerja yang diingkan dapat ditambah bahan tambahan, seperti bahan tambah
kimiawi, bahan tambah mineral, serat ataupun bahan buangan non kimia. Sifat
beton bertulang akan sangat dipengaruhi oleh sifat dan keadaan material
penyusunnya.
a. Semen Portland
Semen Portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara
menghaluskan klinker, yang terutam terdiri dari silikat-silikat kalsium yang
bersifat hidraulis, dengan gips sebagai bahan tambahan.
Senyawa-senyawa semen Portland yaitu Tricalsium Silikat (C3S),
Dicalsium Silikat (C2S), Tricalsium Aluminat (C3A) dan Tetracalsium
Aluminoferit (C4AF) memiliki sifat-sifat yang akan menentukan sifat kekuatan
semen. Sifat-sifat yang penting dari senyawa-senyawa tersebut adalah sebagai
berikut :
Tricalsium Silikat (C3S)
Senyawa ini mengalami hidrasi sangat cepat disertai pelepasan
sejumlah besar panas, menyebabkan pengerasan awal, kurang
ketahanannya terhadap agresi kimiawi, paling menonjol mengalami
disintegrasi oleh sulfat air tanah dan tendensinya sangat besar untuk
retak-retak oleh perubahan volume.
Dicalsium Silikat (C2S)
Formasi senyawa ini berlangsung perlahan dengan pelepasan panas
lambat. Senyawa ini berpengaruh tehadap proses peningkatan
kekuatan yang terjadi dari umur 14 hari sampai 28 hari dan
seterusnya. Semen yang proporsi C2S banyak memiliki ketahanan
terhadap agresi kimiawi yang relative tinggi, oleh karena itu
merupakan semen Portland yang paling awet.

Tricalsium Aluminat (C3A)


Senyawa ini mengeras dalam beberapa jam dengan melepas sejumlah
panas.

Kuantitas

yang

terbentuk

dalam

ikatan

menentukan

pengaruhnya terhadap kekuatan beton pada awal umurnya, terutama


14 hari pertama.
Tetracalsium Aluminoferit (C4AF)
Adanya senyawa ini kurang penting,

karena

tidak

tampak

pengaruhnya terhadap kekuatan dan sifat semen keras lainnya. C 4AF


hanya berfungsi mempercepat dan menyempurnakan reaksi pada
dapur pembakaran proses pembentukan semen.
Semen Portland untuk pembuatan beton harus memenuhi syarat-syarat
yang klasifikasinya dapat dilihat dalam table 2.1
Jenis
I
II

Penggunaan
Konstruksi biasa dimana persyaratan yang khusus tidak diperlukan.
Konstruksi biasa dimana diinginkan perlawanan terhadap panas hidrasi
yang sedang.

III

Jika kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan diinginkan.

IV

Jika panas hidrasi yang rendah yang diinginkan.

Jika daya tahan tinggi terhadap sulfat yang diinginkan.

Tabel 2.1 Jenis Semen Portland Sesuai ASTM C 150-81/1981


(Sumber : Chu-Kia-Wang, 1983)
b. Agregat
Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan
pengisi dalam campuran mortar atau beton. Agregat ini menempati sebanyak
60%-80% dari volume mortar atau beton. Meskipun hanya sebagai bahan pengisi,
namun agregat sangat berpengaruh terhadap sifat mortar atau beton, sehingga
pemilihan agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan mortar atau
beton.

1. Agregat Halus
Agregat halus umumnya terdiri dari pasir atau pertikel-partikel yang lewat
saringan no. 4 sampai dengan no. 100 saringan standar Amerika ( standard
ASTM). Atau dengan kata lain agregat halus merupakan butiran yang lebih kecil
dari 5 mm. Agregat halus merupakan pengisi rongga-rongga pada agregat kasar
atau rongga-rongga diantara agregat kasar. Menurut PBI 1971 NI 2 agregat
halus untuk beton bertulang harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dank eras dan bersifat
kekal yang artinya tidak akan pecah atau rusak karena pengaruh cuaca.
b. Agregat halus tidak boleh mengandung Lumpur lebih dari 5%, apabila
kadar Lumpur lebih dari 5% maka agregat harus dicucu sebelum
digunakan pada campuran.
c. Agregat halus tidak boleh mengandung zat organik terlalu banyak yang
haruus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan
larutan NaOH).
d. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam dan melewati
ayakan sebesar 4,75 mm.
e. Pasir laut tidak boleh digunnakan sebagai agregat halus untuk semua
mutu beton, kecuali dengan petunjuk lembaga pemeriksaan bahan yang
diakui.
Untuk memperoleh hasil beton yang seragam, mutu pasir harus benarbenar dikendalikan. Oleh karena itu pasir sebagai agregat halus harus benar-benar
memenuhi gradasi dan persyaratan yang telah digunakan salam ASTM C.33-97,
seperti yang terlihat dalam Tabel 2.2 dibawah ini :

Tabel 2.2 Batasan Gradasi Agregat Halus menurut ASTM C 33-97


Ukuran Saringan
9,5 mm
4,75 mm
2,36 mm
1,16 mm
600 m
300 m
150 m
Sumber : ASTM C 33-97

Prosentase Berat Butiran yang Lolos


100
95 - 100
80 100
50 85
25 60
10 30
2 - 10

2. Agregat Kasar
Agregat kasar adalah kerikil sebagai hasil disintegrasi alami dari
batuan atau batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai
ukuran butiran antara 5 sampai 40 mm. Agregat kasar beton yang digunakan harus
memenuhi persyaratan yang terdapat dalama Peraturan Beton Indonesia 1971 NI2, Bab 3 pasal 3, 4 dan ASTM C 33-97.
Agregat kasar yang akan dicampurkan dalam adukan beton harus
memenuhi syarat mutu yang telah ditetapkan. Persyaratan mutu agregat kasar
sebagaimana telah diatur dalam PBI Bab 3.4, adalah :
a. Agregat kasar harus terdiri dari butiran-butiran keras dan tidak berpori.
Butir-butir agregat kasar tersebut harus bersifat kekal artinya tidak
hancur oleh pengaruh cuaca.
b. Agregat kasar tidak boleh mengandung Lumpur lebih dari 1%
(ditentukan dari berat kering). Yang diartikan dengan Lumpur adalah
bagian-bagian yang dapat melewati ayakan 0,063 mm. Apabila kadar
Lumpur melebihi 1% maka agregat harus dicuci terlebih dahulu
sebelum digunakan.
c. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak
beton, seperti zat reaktif alkali.
d. Keausan agregat kasar diperiksa dengan mesin Los Angelos dengan
syarat-syarat tertentu.
e. Agregat kasar terdiri dari butiran-butiran yang beraneka ragam besarnya
dan tidak melewati saringan 5 mm.
Susunan untuk butiran (gradasi) yang baik akan dapat menghasilkan
kepadatan (density) maksimum dan porositas (voids) minimum. ASTM C 33-97

memberikan batasan susunan ukuran butiran untuk agregat kasar seperti yang
terlihat pada Tabel 2.3 dibawah ini :
Ukuran Saringan
Prosentase Berat Butiran yang Lolos
50 mm
100
38,1 mm
90 - 100
25 mm

19 mm
35 70
12,5 mm

9,5 mm
10 30
4,75 mm
05
Tabel 2.3 Batasan Gradasi Agregat Kasar menurut ASTM C 33-97
Sumber : ASTM C 33-97
c. Air
Air disini yang dimaksudkan adalah kualitas air yang digunakan untuk
pengecoran dan kandungan air pada saat adukan beton (faktor air semen).
Dalam proses pembuatan beton, air mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Menyebabkan terjadi hidrasi, yaitu reaksi kimia antara semen dan air
yang meyebabkan campuran air dan semen menjadi keras setelah lewat
beberapa waktu tertentu.
2. Sebagai pelican campuran kerikil, pasir, dan semen agar memudahkan
pekerjaan.
3. Untuk merawat beton selama pengerasan.
Air yang memenuhi syarat sebagai air minum, memenuhi syarat pula
untuk bahan campuran beton. Tetapi tidak berarti harus memenuhi persyaratan air
minum. Jika diperoleh air dengan standar air minum, maka dapat dilakukan
pemeriksaansecara visual yang menyatakan bahwa air tidak berwarna, tidak
berbau dan cukup jernih. Tetapi jika masih meragukan dapat dilakukan uji
laboratorium sehingga memenuhi persyaratan, yaitu :
a. Tidak mengandung lumpur (benda melayang lainnya) lebih dari 2 gr/liter
b. Tidak mengandung garam-garam yang merusak beton ( asam, zat
organic, dll) lebih dari 15 gr/liter.
c. Tidak mengandung klorida lebih dari 0,5 gr/liter.
d. Tidak mengandung senyaa sulfat lebih dari 1 gr/liter.

d. Baja Tulangan

Beton tidak dapat menahan gaya tarik melebihi nilai tertentu tanpa
mengalami retak-retak. Agar beton dapat bekerja dengan baik dalam suatu system
struktur, perlu dibantu dengan memberinya perkuatan penulangan yang terutama
akan menahan gaya tarik yang timbul di dalam sistem struktur tersebut. Untuk
keperluan penulangan tersebut digunakan bahan baja yang memiliki sifat teknis
menguntungkan, dan baja tulangan yang digunakan dapat berupa batang baja
lonjoran ataupun kawat rangkai las (wire mesh ) yang berupa batang kawat baja
yang dirangakai atau dianyam dengan teknik pengelasan.