Anda di halaman 1dari 4

Pemecah Belah, Masyarakat Kritis, dan Bumerang

(Oleh Azhar Ritonga)

Tahun 2014 keadaan politik tanah air semakin memanas, bukan karena adanya
kebijakan kontroversional dari pemegang kuasa maupun gejolak masyarakat yang
tidak puas dengan pemerintahan yang berlangsung. Jawabannya adalah ajang "curi"
suara rakyat, Pemilihan Umum (Pemilu), akan segera dilaksanakan. Namun ajang
yang seharusnya menjadi pesta skala nasional dan langkah awal pembangunan bangsa
berubah menjadi mimpi buruk dan penyulut emosi antar pendukung untuk beradu
argumen tak beralasan yang tiada akhirnya. Terdapat satu kekuatan besar yang
berperan dalam membangun beragam argumen masyarakat tersebut, yaitu media
massa. Sangat disayangkan media yang ada di Indonesia terlanjur dibeli oleh orangorang yang punya kepentingan tertentu di dalamnya, sehingga terjadi ketimpangan
komposisi berita yang cenderung mendukung satu pihak dan menyecar pihak lainnya.
Keadaan diperparah menyusul dua stasiun TV berita nasional yang memihak masingmasing calon presiden yang juga berjumlah dua kandidat, TV One memihak kepada
Prabowo Subianto dan Metro TV dengan Joko Widodo, mantan walikota Solo
sekaligus gubernur DKI Jakarta saat itu. Persaingan terus berlanjut pada media cetak
dan online yang merupakan anak perusahaan atau kongsi masing-masing stasiun,
sebut saja Kompas, Jakarta Post, Sindo, Vivanews.com, dan lain-lain.

Pemecah Belah
Ada dua penyebab utama mengapa komposisi berita cenderung berat sebelah yaitu
pemilik saham perusahaan dan pengiklan. Pemilik saham yang juga merupakan orang
politik secara otomatis akan mengerahkan stasiun TV miliknya agar menyiarkan sisi
baik calon pilihannya dan berupaya menjatuhkan lawan politik dengan membangun
opini publik yang kadang belum terbukti kebenarannya. Usut punya usut, saham
terbesar Metro TV merupakan milik Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem (salah
satu partai pendukung Joko Widodo). Sementara TV One tergabung dalam Viva Grup
milik Bakrie Grup, perusahaan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie. Tujuan

yang sama juga dilakukan oleh para pengiklan yang rela menghabiskan uangnya
untuk memenangkan sang jagoan. Tak banyak yang memerhatikan apa isi kolom
iklan di berbagai media cetak selama masa kampanye. Koran nasional Kompas
dengan bangga memasang iklan kampanye Joko Widodo dalam ukuran besar, hal
yang sama dilakukan oleh harian Seputar Indonesia (Sindo) dalam mendukung
Prabowo Subianto. Inilah kambing hitam mengapa berita yang seharusnya memuat
fakta dan objektivitas menjadi terabaikan, dimana masyarakat yang terus diobokobok opini sepihak menjadi terkotak-kotak karena termakan berita yang belum
diperiksa sebelumnya lantaran mind-set yang tertanam dalam masyarakat bahwa
semua yang diberitakan merupakan benar dan patut dipercaya. Sejalan dengan hal ini,
masing-masing media telah melanggar kaidah dan etika jurnalistik, di antaranya
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat,
berimbang, dan tidak beritikad buruk (Pasal 1).

Masyarakat Kritis
Berkaca pada sistem rating penonton TV yang menjadi pedoman semua stasiun TV
untuk berlomba-lomba meraih perhatian penonton, nyatanya terjadi perubahan
signifikan pemirsa masing-masing stasiun TV. Massa pendukung Prabowo Subiato
lebih memilih menonton TV One walaupun sebelumnya mereka adalah penikmat
Metro TV, sebaliknya pendukung Joko Widodo yang fokus menyaksikan Metro TV.
Keberhasilan Joko Widodo dalam memimpin Solo dan Jakarta menjadi lahan
keberuntungan untuk meningkatkan rating-nya. Sistem ini juga memaksa semua
stasiun TV untuk mengedepankan unsur hiburan semata dan menyampingkan nilai
pendidikan di dalamnya. Terlebih lagi untuk stasiun TV berita yang berusaha
membangun opini publik berdasarkan orientasi bad news is a good news, good news
is a bad news. Dasar pemikiran inilah yang kemudian menjadi alasan untuk
membuat sensasi dan menggiring masyarakat untuk percaya nilai keburukan lawan
dengan menyelipkan opini yang belum terbukti benar.
Bahaya besar memang sudah mengintai di saat media kita terpecah dan tidak lagi
independen, jawabnya adalah perpecahan, pembohongan, atau dampak buruk lainnya.

Namun apakah kita pernah membayangkan apa yang menjadi nilai positif yang
diperoleh dari fenomena ini. Di tengah gempuran berita yang syarat politis tanpa kita
sadari ternyata telah membantu masyarakat kita menjadi individu yang kritis terhadap
tayangan yang disiarkan oleh stasiun televisi. Sistem rating yang menjadi pedoman
masing-masing stasiun TV ternyata memiliki manfaat di saat-saat tertentu. Pasca
Pemilihan Presiden (Pilpres) yang diadakan Juli 2014 silam, ternyata masyarakat kita
tidak sebodoh saat masa kampanye sebelumnya. Dari rating yang dirilis per Agustus
2014, TV One berhasil meraup rating tertinggi dari seluruh televisi swasta lainnya,
padahal TV One sempat terpuruk oleh dugaan tayangan quick count bohong yang
memenangkan Prabowo Subianto. TV One jauh unggul dengan persentase sebesar
14,51% dibanding Metro TV yang hanya meraup rating sebesar 6,39%. Artinya
masyarakat tidak mau terlena dengan berita Metro TV yang hanya akan berisi
sanjungan seiring dengan kemenangan Joko Widodo. Namun masyarakat lebih
memilih untuk menonton berita dari TV One yang memang mau tidak mau harus
menjadi pihak kontra/penentang dari presiden terpilih, sejalan dengan kubunya yang
kalah dalam Pilpres. Dengan kata lain di saat Metro TV berusaha menutupi
keburukan Joko Widodo, TV One sudah akan menyiarkan hal tersebut. Keberpihakan
media ini justru menyadarkan masyarakat untuk perlu mengkritisi pemerintahan yang
ada, baik pendukung Prabowo Subianto yang memilih tetap kritis maupun pendukung
Joko Widodo yang merasa kurang puas dengan pemerintahan yang sedang berjalan.

Sumber gambar:
abdisuhamdi.com/2014/08/23/rating-13stasiun-tv-teratas-indonesia/

Fakta menarik lainnya adalah masyarakat yang selama ini lebih cenderung menyukai
program hiburan saja, namun keberhasilan TV One menjadi peringkat pertama
menandakan masyarakat perlu mengetahui perkembangan politik yang berlangsung.
Sekali lagi, masyarakat menjadi lebih kritis oleh keberpihakan masing-masing media.

Bumerang
Kita memang tidak tahu sampai kapan masing-masing stasiun akan bersikap seperti
ini. Bak senjata makan tuan, TV One sudah merasakan akibat dari keberpihakan
mereka, dimana saham Viva Grup mengalami penurunan akibat penayangan quick
count yang berbeda dari sebagian besar lembaga quick count. Dan yang menjadi
pertanyaan besar adalah apakah Metro TV akan terus berada di barisan pendukung
Joko Widodo atau kembali menjadi media yang independen seperti yang seharusnya?
Karena tidak tertutup kemungkinan banyak kebijakan Joko Widodo akan
menimbulkan protes dari masyarakat, contohnya adalah kenaikan harga BBM, upaya
pemberantasan korupsi, dan lain-lain. Metro TV tidak akan dapat menahan malu saat
tetap berusaha menutupi keburukan Joko Widodo yang sangat jelas terlihat di depan
mata masyarakat. Hal ini tak ubahnya seperti bumerang bagi mereka sendiri.

Keberpihakan media tanah air memang sudah di luar batas kewajaran dan melanggar
kaidah dan etika jurnalistik. Media yang ada hanya mengedepankan kepentingan
pihak-pihak tertentu. Namun di balik upaya ini justru menyadarkan masyarakat untuk
semakin kritis terhadap tayangan berita televisi, ada tempat untuk melihat prestasi
terkini pemerintahan dan ada juga tempat menyimak dampak buruk kebijakan yang
keluar. Untuk media bersangkutan sendiri akan merasakan akibat dari berita keliru
yang mereka publikasikan. Mulutmu adalah harimaumu, ada saat mereka akan
terjatuh oleh ulah mereka sendiri karena hakekat fakta yang seharusnya diutamakan
akan tetap menjadi nilai kebenaran dari suatu peristiwa. Good news is always great
news, bad news is always bad news.