Anda di halaman 1dari 29

SEKSOLOGI PADA LANSIA

BAB I
PENDAHULUAN
Masalah seksual merupakan masalah yang dianggap pribadi bagi setiap individu,karena seksualitas
tidak hanya berarti adanya hubungan seks pada manusia secara fisik tetapi juga merupakan perpaduan antara
cinta,permainan,persahabatan,juga hasrat antara dua orang individu yang berbeda.Kehidupan seksual
merupakan bagian dari kehidupan manusia, sehingga kualitas kehidupan seksual ikut menentukan kualitas
hidup. Hubungan seksual yang sehat ialah hubungan seksual yang dikehendaki, dapat dinikmati bersama dan
tidak menimbulkan akibat buruk, baik fisik maupun psikik.
Seksualitas dalam arti yang luas ialah semua aspek badaniah, psikologik, dan kebudayaan yang
berhubungan langsung dengan seks dan hubungan seks manusia. Dalam arti sempit sebagai sarana untuk
penciptaan keturunan (prokreasi) dimana dalam seks terjadi suatu potensi alami yang mengarah pada persatuan
pria dan wanita, atau dengan kata lain suatu keterarahan alami antara pria dan wanita untuk bersatu dan
menghasilkan keturunan.Di dunia ini,manusia dan hewan akan lenyap dari permukaan bumi apabila mereka oleh
alam tidak dibekali dengan naluri untuk berkembang biak ( vita sexualis,sexual instinct) demi untuk meneruskan
keturunan.Dalam peradaban manusia, seks biasanya merupakan bagian dari suatu lembaga perkawinan.
Lembaga perkawinan mencakup kedua segi seks yaitu segi unitif dan segi prokeasi, dan di dalam
lembaga inilah hubungan seks dianggap sah dan diperbolehkan oleh norma-norma baik sosial maupun agama.
Seks dalam perkawinan dapat menghasilkan anak. Anak ini akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan
dari mulai fase pembuahan, janin, kemudian lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa
hingga lanjut usia.
Proses Menua
Setiap manusia secara alamiah akan mengalami proses menua.Hal ini tidak dapat dihindari.Adapun
definisi dari menua (=menjadi tua = aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya
sehingga dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
( Constatinides,1994 )
Berbagai macam faktor yang saling berkaitan memegang peranan penting dalam proses menua.Oleh
karena itu proses menua bukanlah suatu proses yang terjadi dengan tiba-tiba melainkan terjadi secara bertahap
dan bervariasi bagi setiap individu. Pada umumnya manusia mulai mengalami penurunan fungsi dengan cepat
pada usia pertengahan 30 tahun. Namun beberapa hal lain seperti produksi sperma atau air mani pada pria
masih dapat berfungsi sampai usia 80 tahun.Penurunan yang terjadi secara bertahap mulai usia sekitar 45
tahun.
Menjadi tua dan mengalami berbagai penurunan fungsi tubuh tidak berarti setiap kaum lansia itu renta
dan berpenyakitan, sebaliknya para lansia diharapkan bisa tetap hidup sehat dan aktif berperan serta dalam
segala aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan seksualnya.
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

238

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Berdasarkan penelitian jumlah penduduk lansia di Indonesia tercatat sebagai paling pesat di dunia
dalam kurun waktu tahun 1990-2025. Jumlah lansia yang kini sekitar 16 juta orang, akan menjadi 25,5 juta pada
tahun 2020, atau sebesar 11,37 persen dari jumlah penduduk. Dengan demikian jumlah lansia di Indonesia akan
berada di peringkat empat dunia di bawah Cina, India, dan Amerika Serikat. Kenaikan jumlah lansia Indonesia
antara tahun 1990-2025 mencapai 414 persen, tertinggi di dunia. Kenaikan pesat itu berkait dengan usia harapan
hidup penduduk Indonesia rata-rata 66.84 tahun untuk kaum pria, dan wanita 71.8 tahun
Diagram 1. Populasi Indonesia tahun 2000

Diagram 2. Populasi Indonesia tahun 2050

Aktivitas seksual pada lansia umumnya berkurang sesuai dengan usia yang tambah lanjut.Namun
ternyata kemampuan lansia untuk mempertahankan seks yang aktif tidak hanya mengacu pada pertambahan
usia saja ( fisik ) melainkan bergantung pada beberapa faktor yaitu kesehatan mental, dan eksistensi yang aktif
serta pasangan yang menarik
Penelitian Kinsey, Master Johnson serta Hite mengambil kesimpulan bahwa terdapat pandangan yang
bias terhadap seksualitas pada usia lanjut. Bias tersebut tidak semata-mata terbatas pada segi seks itu sendiri
tetapi juga meliputi segi sosio-ekonomi.
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

239

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa :


Banyak golongan lansia tetap menjalankan aktivitas seksual sampai usia yang cukup lanjut dan
aktivitas tersebut hanya dibatasi oleh status kesehatan.
Aktivitas dan perhatian seksual dari pasangan suami istri lansia yang sehat berkaitan dengan
pengalaman seksual kedua pasangan tersebut sebelumnya.
Mengingat bahwa kemungkinan hidup seorang wanita lebih panjang daripada pria, seorang lansia
wanita yang ditinggal mati oleh suaminya akan sulit untuk menemukan pasangan hidup.
Ternyata faktor psikologik juga memegang peranan yang penting dalam penuruan aktivitas seksual pada lansia
seperti misalnya :
1.

Rasa tabu / malu bila mempertahankan kehidupan seksual sampai lansia.

2.

Tradisi dan budaya yang kurang menunjang.

3.

Lelah/ bosan karena kehidupan yang monoton

4.

Pasangan hidup telah meninggal

5.

Perubahan hormonal atau masalah kesehatan seperti cemas,depresi,pikun dll.


Kehidupan seksual lansia memegang peranan penting dalam keseluruhan hidup lansia itu sebagai

seorang individu,oleh karena itu perawatan kesehatan seksual termasuk keluhan disfungsi seksual harus menjadi
perhatian bagi praktisi medis secara umum.

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

240

SEKSOLOGI PADA LANSIA

BAB II
SEKSOLOGI PADA LANSIA
Sebelum kita mengetahui definisi disfungsi seksual terlebih dulu kita mengerti perubahan fisiologik
aktivitas seksual akibat proses penuaan bila ditinjau dari pembagian tahapan seksual menurut Kaplan

Tabel 1. Perubahan fisiologik aktivitas seksual akibat proses menua berdasarkan pembagian tahapan seksual
menurut Kaplan.

Fase

Perubahan

tanggapan
seksual
Fase desire

Dipengaruhi oleh penyakit, masalah hubungan dengan pasangan, harapan


kultural, kecemasan akan kemampuan seks.
Hasrat pada lansia wanita mungkin menurun seiring makin lanjutnya usia, tetapi
bias bervariasi
Interval untuk meningkatkan hasrat seksual pada lansia pria meningkat serta
testoteron menurun secara bertahap sejak usia 55 tahun akan mempengaruhi

Fase
arousal

libido
Lansia wanita: pembesaran payudara berkurang; terjadi penurunan flushing,
elastisitas dinding vagina, lubrikasi vagina dan peregangan otot-otot;

iritasi

uretra dan kandung kemih.


Lansia pria : ereksi membutuhkan waktu lebih lama, dan kurang begitu kuat;
penurunan produksi sperma sejak usia 40tahun akibat penurunan testoteron;
Fase

elevasi testis ke perineum lebih lambat.


Lansia wanita : tanggapan orgasme kurang intens disertai lebih sedikit konstraksil

orgasmik

kemampuan mendapatkan orgasme multipel berkurang.


Lansia pria : kemampuan mengontrol ejakulasi membaik; kekuatan dan jumlah

Fase pasca

konstraksi otot berkurang; volume ejakulat menurun.


Mungkin terdapat periode refrakter dimana pembangkitan gairah sampai

orgasmik

timbulnya fase orgasme berikutnya lebih sukar terjadi

Gambar 1. Siklus respon seksual manusia


Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

241

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Disfungsi seksual dapat diartikan sebagai suatu keadaan berkurangnya respon erotis terhadap orgasme,
ejakulasi prematur, dan sakit pada alat kelamin sewaktu masturbasi.
Disfungsi seksual pada lansia tidak hanya disebabkan oleh perubahan fisiologik saja, terdapat banyak
penyebab lainnya seperti :
1.

Penyebab iatrogenik. Tingkah laku buruk beberapa klinisi, dokter, suster dan orang lain yang
mungkin membuat inadekuat konseling tentang efek prosedur operasi terhadap fungsi seksual.

2.

Penyebab biologik dan kasus medis. Hampir semua kondisi kronis melemahkan baik itu berhubungan
langsung atau tidak dengan seks dan system reproduksi mungkin memacu disfungsi seksual psikogenik
Beberapa hal yang dapat menyebabkan masalah kehidupan seksual dan sebaiknya menjadi petunjuk
untuk mendiagnosa banding, pengobatan, rehabilitasi dan hasil akhir.
a.

Infark miokard
mungkin mempunyai efek yang kecil pada fungsi seksual. Banyak pasien segan untuk terlibat
dalam hubungan seksual karena takut menyebabkan infark.

b. Pasca stroke.
Masalah seksual mungkin timbul setelah perawatan di rumah sakit karena pasien mengalami
anxietas akibat perubahan gambaran diri, hilangnya kapasitas, takut akan kehilangan cinta atau
dukungan relasi serta pekerjaan atau rasa bersalah dan malu atas situasi. Pola seksual termasuk
kuantitas dan kualitas aktivitas seksual sebelum stroke sangat penting untuk diketahui sebelum
nasehat spesifik tentang aktivitas seksual ditawarkan. Karena sistem saraf otonomik jarang
mengalami kerusakan pada stroke, maka respon seksual mungkin tidak terpengaruh. Libido
biasanya tidak terpengaruh secara langsung. Jika terjadi hemiplegi permanent maka diperlukan
penyesuaian pada aktivitas seksual. Perubahan penglihatan mungkin membatasi pengenalan orang
atau benda-benda, dalam beberapa kasus, pasien dan pasangannya mungkin perlu belajar untuk
menggunakan area yang tidak mengalami kerusakan. Kelemahan motorik dapat menimbulkan
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

242

SEKSOLOGI PADA LANSIA

kesulitan mekanik, namun dapat diatasi dengan bantuan fisik atau tehnik bercinta alternatif.
Kehilangan kemampuan berbicara mungkin memerlukan sistem non-verbal untuk berkomunikasi.
c.

Kanker
Masalah seksual tidak terbatas pada kanker yang mengenai organ-organ seksual. Baik operasi
maupun pengobatan mengubah citra diri dan dapat menyebabkan disfungsi seksual (kekuatan dan
libido) untuk sementara waktu saja, walaupun tidak ada kerusakan saraf.

d. Diabetes melitus
Diabetes menyebabkan arteriosklerosis dan pada banyak kasus menyebabkan neuropati autonomik.
Hal ini mungkin menyebabkan disfungsi ereksi dan disfungsi vasokonstriksi yang memberikan
kontribusi untuk terjadinya disfungsi seksual.
e.

Arthritis
Beberapa posisi bersenggama adalah menyakitkan dan kelemahan atau kontraktur fleksi mungkin
mengganggu apabila distimulasi secara memadai. Nyeri dan kaku mungkin berkurang dengan
pemanasan, latihan, analgetik sebelum aktivitas seksual

f.

Rokok dan alkohol


Pengkonsumsian alkohol dan rokok tembakau mengurangi fungsi seksual, khususnya bila terjadi
kerusakan hepar yang akan mempengaruhi metabolisme testoteron. Merokok juga mungkin
mengurangi vasokongesti respon seksual dan mempengaruhi kemampuan untuk mengalami
kenikmatan.

g.

Penyakit paru obstruktif kronik


Pada penyakit paru obstruktif kronik, libido mungkin terpengaruh karena adanya kelelahan umum,
kebutuhan pernafasan selama aktivitas seksual mungkin dapat menyebabkan dispnoe, yang
mungkin dapat membahayakan jiwa.

h. Obat-obatan
Beberapa obat-obatan dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual. Obat-obatan tersebut dapat
dilihat pada tabel dibawah ini.

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

243

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Tabel 2. Efek obat-obat yang sering diberikan dan pengaruhnya pada fungsi seksual lansia

Golongan obat
Anti hipertensi

Contoh

Pengaruh pada fase

Anjuran obat pengganti

Gol. Tiazid

Arousal

Ca antagonis

sentral

Klonidin,

Arousal

Ca antagonis

blocker

metildopa

Desire, arousal

Ca antagonis

Propanolol

Arousal

Ca antagonis

diuretika

ACE inhibitor
Anti psikotik

Captopril
Torasin, tiotiksen,

Desire, arousal,

haloperidol

priapismus, ejakulasi

Anti anxietas

Diazepam

retrograd
Desire, orgasme

Buspiron, turunkan dosis

Antikolinergik

Atropine,

Desire, arousal

bertahap
Lebih ditekankan pada

Estrogen

hidroksisin
Premarin

Arousal

pemuasan
Estrogen oral merupakan
pilihan pada yang tidak

Progestin

Provera

Desire

bisa peroral
Bila ada efek samping

Antagonis reseptor

Simetidin

Desire, arousal,

berikan secara siklik


Alternatif bloker H2

H2
Narkotik

Kodein

orgasme
Desire, arousal,

Waktu pemberian sangat

orgasme

penting (berhubungan
dengan waktu aktivitas

Sedatif
Lain-lain

Alcohol, barbiturat
Digitalis

Desire, arousal

seksual)
Kenali dan obati adiksi
Obati kecemasan,
yakinkan ketakutan akan
serangan jantung waktu
aktivitas seksual

Antidepresan

Imipramin,

Desire, arousal

Prozac, zoloft

trisiklik
Antidepresan lain

amitriptilin
Trasodon, inhibitor

Priapismus, arousal,

Prozac, Zoloft

MAO
orgasme
2.1 LANSIA PRIA DAN PERMASALAHAN SEKSUAL

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

244

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Pada lansia pria yang sehat waktu untuk dapat ereksi dan waktu yang diperlukan sebelum mengalami
ereksi berikutnya lebih panjang dibandingkan dengan tahun-tahun yang telah berlalu dan hal ini bersifat
fisiologis. Pria mulai usia 40 tahun mengalami kesulitan untuk mendapatkan ereksi dari waktu ke waktu.
Beberapa studi menyatakan bahwa penurunan yang berkaitan dengan usia lebih dirasakan efeknya pada
potensi seksual dibandingkan dengan libido. Fenomena inilah yang bertanggung jawab pada libido-potency gap
yang sering kali menjadi pangkal permasalahan pada lansia pria.
Proses penuaan biasanya menimbulkan efek pada potensi baik ereksi maupun ejakulasi, biarpun
perubahan ereksi sendiri secara klinis merupakan kata-kata keluhan yang sangat penting. Respon ereksi pada
pria usia 48-65 tahun enam kali lebih rendah dibandingkan pada pria usia 19-30 tahun, hal ini diperoleh dari
suatu penelitian laboratorium yang menggunakan monitor untuk menilai perubahan bentuk penis.

2.1.1

FISIOLOGIS REPRODUKSI PRIA


Secara embrionis, testis berkembang dari gonadal ridge yang terletak di belakang rongga abdomen.

Pada bulan-bulan terakhir kehidupan janin, testis mulai perlahan-lahan turun keluar rongga abdomen melintasi
kanalis inguinalis ke dalam skrotum. Testoteron dari testis janin merupakan penyebab dari turunnya testis ke
dalam skrotum.
Suhu dalam skrotum rata-rata beberapa derajat celcius lebih rendah daripada suhu tubuh (inti) normal.
Penurunan testis ke lingkungan yang lebih dingin ini sangat penting karena spermatogenesis adalah proses yang
peka terhadap suhu dan tidak dapat berlangsung pada suhu tubuh normal.
Testis berfungsi dalam menghasilkan sperma dan mengeluarkan testoteron. Sekitar 80% masa testis
terdiri dari tubulus seminiferus yang berkelok-kelok yang didalamnya berlangsung spermatogenesis. Testoteron
setelah dihasilkan, sebagian diekskresikan ke dalam darah untuk diangkut terutama terikat dengan protein
plasma ke jaringan sasaran. Dan sebagian lagi mengalir ke tubulus seminiferus, tempat hormon ini berperan
penting dalam spermatogenesis.
Testoteron ini memiliki banyak efek diantaranya :
Maskulinisasi saluran reproduksi dan genitalia eksterna
Mendorong turunnya testis ke dalam skrotum
Mendorong pertumbuhan dan pematangan sistem reproduksi
Spermatogenesis
Memicu pola pertumbuhan rambut pada pria
Menyebabkan suara menjadi berat karena pita suara menjadi tebal
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

245

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Mendorong pertumbuhan otot yang menyebabkan timbulnya konfigurasi tubuh pria


Memiliki efek anabolik protein
Mendorong pertumbuhan tulang pada pubertas dan kemudian menutup epifisis
Mungkin memicu perilaku agresif

Gambar 2. Efek testoteron pada pria

2.1.2

MASALAH SEKSUAL PADA LANSIA PRIA

Master dan Jhonson mendeskripsikan efek penuaan pada ejakulasi dan orgasme. Mereka melaporkan adanya
penurunan kekuatan dan frekuensi kontraksi otot-otot lurik pelvis mempunyai efek penurunan dalam kekuatan
pengeluaran semen.
Beberapa perubahan yang terjadi pada lansia pria adalah :
Produksi testoteron menurun secara bertahap. Penurunan ini mungkin juga akan menurunkan
hasrat dan kesejahteraan . Testis menjadi lebih kecil dan kurang produktif . Tubular testis akan menebal
dan berdegenerasi. Perubahan ini akan menurunkan proses spermatogenesis, dengan penurunan jumlah
sperma tetapi tidak mempengaruhi kemampuan untuk membuahi ovum

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

246

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Kelenjar prostat biasanya membesar, dimana hipertrofi prostate jinak terjadi pada 50% pria diatas
usia 40 tahun dan 90% pria diatas usia 80 tahun. Dan hipertrofi prostat jinak ini memerlukan terapi.
Namun hal ini dibahas lebih lanjut dalam pembahasan sistem traktus urinarius.
Respon seksual terutama fase penggairahan, menjadi lambat dan ereksi yang sempurna mungkin
juga tertunda. Elevasi testis dan vasokongesti kantung skrotum berkurang, mengurangi intensitas dan
durasi tekanan pada otot sadar dan tak sadar serta ereksi mungkin kurang kaku dan bergantung pada
sudut dibandingkan pada usia yang lebih muda. Dan juga dibutuhkan stimulasi alat kelamin secara
langsung untuk untuk menimbulkan respon. Pendataran fase penggairahan akan berlanjut untuk periode
yang lebih lama sebelum mencapai osrgasme dan biasanya pengeluaran pre-ejakulasi berkurang bahkan
tidak terjadi.
Fase orgasme, lebih singkat dengan ejakulasi yang tanpa disadari. Intensitas sensasi orgasme menjadi
berkurang dan tekanan ejakulasi serta jumlah cairan sperma berkurang. Kebocoran cairan ejakulasi
tanpa adanya sensasi ejakulasi yang kadang-kadang dirasakan pada lansia pria disebut sebagai ejakulasi
dini atau prematur dan merupakan akibat dari kurangnya pengontrolan yang berhubungan dengan
miotonia dan vasokongesti, serta masa refrakter memanjang pada lansia pria. Ereksi fisik frekuensinya
berkurang termasuk selama tidur.
Penurunan tonus otot menyebabkan spasme pada organ genital eksterna yang tidak biasa. Frekuensi
kontaksi sfingter ani selama orgasme menurun.
Kemampuan ereksi kembali setelah ejakulasi semakin panjang, pada umumnya 12 sampai 48 jam
setelah ejakulasi. Ini berbeda pada orang muda yang hanya membutuhkan beberapa menit saja.
Ereksi pagi hari (morning erection) juga semakin jarang terjadi. Hal ini tampaknya berhubungan
dengan semakin menurunnya potensi seksual. Oleh karena itu, jarang atau seringnya ereksi pada pagi
hari dapat menjadi ukuran yang dapat dipercaya tentang potensi seksual pada seorang pria. Penelitian
Kinsey, dkk menemukan bahwa frekuensi ereksi pagi rata-rata 2,05 perminggu pada usia 31-35 tahun
dan hal ini menurun pada usia 70 tahun menjadi 0,50 perminggu.
Gambar 3.Perbedaan sistem reproduksi pria muda dan pria lansia

Para lansia dapat mengalami berbagai masalah disfungsi seksual diantaranya disfungsi ereksi dan andropause.

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

247

SEKSOLOGI PADA LANSIA

A.

Disfungsi Ereksi (Impotensia)


Disfungsi ereksi (DE) atau impotensia adalah ketidakmampuan secara konsisten untuk mencapai dan/

atau mempertahankan ereksi sedemikian rupa sehingga mencapai aktivitas seksual yang memuaskan. (Vinik,
1998). Secara umum impotensia dibedakan menjadi impotensia coendi (ketidakmampuan untuk melakukan
hubungan seksual), impotensia erigendi (tidak mampu ber-ereksi) dan impotensia generandi (tidak mampu
menghasilkan keturunan). Prevalensi DE sekitar 52% pada pria di antara 40-70 tahun dan bahkan lebih besar
pada pria yang lebih tua.
Untuk timbul ereksi diperlukan adanya rangsangan yang bisa berasal dari rangsangan psikologik
(fantasi, bayangan erotik), olfaktorik (bau-bauan) dan rangsangan sentuh atau rabaan. Rangsangan tersebut
melalui jalur kortiko-talamikus, limbik maupun talamo-retikularis dan sebaliknya kemudian akan diteruskan ke
susunan saraf otonom (parasimpatis) akan menyebabkan vasodilatasi korpus kavernosa penis. Setelah aktivitas
seksual terjadi, saraf simpatis akan membantu terjadinya ejakulasi. Dari gambaran tersebut dapat disimpulkan
bahwa proses ereksi menyangkut berbagai fungsi diantaranya saraf, vascular, hormonal, psikologik dan kimiawi.
Etiologi
Secara garis besar DE dapat dibagi menjadi 2 bagian besar sebagai berikut :
DE organik, sebagai akibat gangguan akibat gangguan endokrin, neurogenik, vaskuler (aterosklerosis atau
fibrosis).
o

DE endokrinologik biasanya berupa sindroma ADAM (Androgen Deficiency in the Aging Male),
yang merupakan hipogonadisme pada lansia. DE tipe ini disebabkan oleh gangguan testikular baik
primer maupun sekunder. Selain itu juga dapat disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan
hiperprolaktinemia, hipertiroid, hipotiroid dan Cushings disease.

DE neurogenik dapat disebabkan oleh gangguan jalur impuls terjadinya ereksi. Lesi dilobus
temporalis sebagai akibat trauma atau multiple scelrosis stroke, gangguan atau rusaknya jalur asupan
sensorik misalnya pada polineuropati diabetik, tabes dorsalis atau penyakit ganglia radiks dorsalis
medula spinalis, juga pada gangguan nervus erigentes akibat pasca prostatektomi total atau operasi
rektosigmoid.

DE vaskuler merupakan DE yang paling sering pada lansia yang mungkin berhubungan erat dengan
prevalensi penyakit aterosklerosis yang tinggi pada lansia. Gangguan aliran darah arteri ke korpus
kavernosus seperti bekuan darah, aterosklerosis, atau hilangnya kelenturan dinding pembuluh darah
dapat menyebabkan DE. Selain itu DE bisa terjadi pada penyakit Leriche, yaitu obstruksi dipangkal
bifurkasio a. iliaka di daerah a.abdominalis. Serta penyakit Peyronie mengakibatkan pengisian darah
tidak sempurna yang akan menyebabkan DE.

DE psikogenik, sebelum ini selalu dikatakan sebagai penyebab utama DE, namun menurut penelitian hal
ini tidak benar. Justru penyebab utama DE pada lansia gangguan organik, walaupun faktor psikogenik ikut
memegang peranan. DE jenis ini yang berpotensi reversibel potensial biasanya yang disebabkan oleh
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

248

SEKSOLOGI PADA LANSIA

kecemasan, depresi, rasa bersalah, masalah perkawinan atau juga akibat dari rasa takut akan gagal dalam
hubungan seksual.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa impotensi merupakan akibat masturbasi yang dahulu atau karena
terlalu sering ejakulasi atau sebaliknya karena terlalu lama menahan dan tidak disalurkan hasrat seks-nya itu.
Namun penelitian membuktikan bahwa ejakulasi atau tidak ejakulasi dalam waktu yang lama tidak langsung
mengganggu kesehatan. Masters dan Johnson mengatakan bahwa ereksi dan ejakulasi tidak dapat dipelajari
karena hal ini terjadi secara reflektoris.
Selain yang telah disebutkan diatas, sekitar 25 % DE disebabkan oleh obat-obatan terutama obat
antihipertensi ( Reserpin, blocker, guanethidin dan metildopa), alkohol, simetidin, antipsikotik, antidepresan,
lithium, hipnotik sedatif, dan hormon-hormon seperti estrogen dan progesteron. Obat-obatan dan pengaruhnya
terhadap disfungsi seksual dapat dilihat pada tabel 2 (hal. 6 )
Diagram 3. Penyebab impotensia

Diagnosa
Ada kemungkinan para lansia yang mengalami disfungsi ereksi akan mencari pertolongan pada dokter,
hal pertama yang perlu dilakukan dokter adalah memberikan perasaan nyaman pada pasien dengan menjelaskan
bahwa disfungsi ereksi merupakan hal biasa yang dialami oleh para lansia pria dan berusaha mencarikan solusi
yang efektif hingga hal ini akan menenangkan diri pasien. Setiap pasien memiliki privasi, oleh karena itu perlu
ditanyakan apakah pasien ingin mendiskusikan hal ini dengan atau tanpa pasangannya, namun cara yang terbaik
adalah bersama pasangan. Karena pandangan serta dukungan dari pasangan seksual mereka sangat berharga dan
dapat mengembalikan kepercayaan diri pasien untuk kembali memulai lagi fungsi seksualnya dan secara tidak
langsung dapat membantu mengatasi masalah disfungsi ereksi.
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

249

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Selain dari segi psikologis perlu juga digali apakah disfungsi ereksi yang terjadi murni disfungsi ereksi
psikogenik atau ada penyakit atau kelainan lain yang menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi. Bila terdapat
penyakit atau kelainan yang mendasari terjadinya disfungsi ereksi maka perlu ditangani penyakit dan kelainan
yang mendasarinya. Peninjauan terhadap obat-obatan yang selama ini dikonsumsi oleh pasien juga perlu
diperhatikan.
Selain dari anamnesa perlu juga diadakan suatu pemeriksaan fisik untuk mengetahui ada tidaknya disfungsi
ereksi :
apakah ada tanda-tanda penyakit vaskuler, seperti arteri femoral dan perifer berkurang atau terdengar
bruit.
Adakah perubahan kulit. Turgor menurun mengakibatkan kulit menjadi kurang elsatis.
Adakah perubahan neuropati otonom (simpatis dan parasimpatis) seperti adanya reflek bulbo
kavernosus dan kremaster.
Adakah gejala hipotensi ortostatik.
Adakah gejala neuropati perifer seperti DM, alkoholisme, kekurangan vitamin B1, dan lain-lain
Pemeriksaan genitalia, adanya atrofi testis atau dan plak pada peyronies disease. Peyronies disease
adalah keadaan dimana terjadi kelainan anatomis penis, berupa tumbuhnya jaringan ikat atau plak yang
tidak biasa pada jaringan penis sehingga aliran darah dalam badan kavernosa penis terganggu untuk
mencapai ereksi.
Pemeriksaan rektal untuk melihat prostate
Pemeriksaan laboratorium umum diperlukan untuk menentukan adanya kondisi medis penyerta, faktor
resiko vaskular atau endokrin yang abnormal.
Pemeriksaan hormone testoteron dan prolaktin

Terapi
Phosphodiesterase-5 (PDE5) inhibitors merupakan terapi pilihan utama ( DOC )untuk disfungsi ereksi.
PDE5 berada di jaringan kavernosa penis dan akan mendegradasi cyclic 3' 5' guanosine monophosphate (cGMP)
yang bila bekerja bersama nitrat oksida akan menyebabkan relaksasi otot. Oleh karena itu dengan menghambat
PDE5, obat ini berpotensi untuk mendorong terjadinya ereksi. Namun obat ini menjadi kontra indikasi pada
pasien yang mendapatkan terapi nitrogliserin atau golongan nitrat lainnya, karena efeknya dapat menyebabkan
tekanan darah turun drastis dan penurunan perfusi arteri koroner dan dapat menyebabkan miokard infark.
Pemakaian obat ini bersama obat-obatan alfa bloker.
Salah satu obat yang sangat populer di dunia untuk mengatasi DE adalah sildenafil sitrat (Viagra ).
Obat ini bekerja dengan jalan mem-blok pemecahan GMP siklik yang mempertahankan vasodilatasi korpora
kavernosa, tetapi obat ini hanya bisa diberikan bila keadaan vaskuler penis masih intak. Seperti PDE5 obat ini
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

250

SEKSOLOGI PADA LANSIA

juga menjadi kontraindikasi pada pemakaian obat-obatan golongan nitrat karena dapat menyebabkan hipotensi
bahkan syok (Vinik, 1998). Karena tidak menstimulasi pembentukan cGMP, melainkan hanya memperkuat /
memperpanjang daya kerjanya, sildenafil tidak efektif jika belum / tidak terdapat stimulasi atau eksitasi seksual.
Efek samping Sildenafil umumnya bersifat singkat dan tidak begitu serius, yang tersering berupa sakit kepala,
muka merah, gangguan penglihatan (buram sampai melihat segala sesuatu kebiru-biruan), dan mual, yang
kesemuanya berkaitan dengan blokade PDE5 inhibitor yang terdapat di seluruh tubuh. Obat lain yang kini
beredar antara lain Alprostadil (Caverject , Muse ), Vardenafil (Levitra ), dan Tadalafil (Cialis ).
Apomorfin (Uprima ) adalah agonis dopamin dengan afinitas bagi reseptor-D1 dan -D2 di
hipotalamus yang terkait antara lain pada regulasi ereksi. Daya erektogennya berdasarkan efek terhadap afinitas
lokal dari nitrogenmonoksida, kemudian konversi guanyltriphosphate menjadi cGMP. Reaksi ini menimbulkan
relaksasi otot-otot licin dari corpus cavernosum, yang dapat terisi darah dan terjadilah ereksi. Setelah
penggunaan sublingual kadarnya dalam darah memuncak dalam 40-60 menit dan ereksi dapat terjadi setelah 20
menit. Efek samping yang tersering berupa nausea, sakit kepala, dan pusing-pusing.
HRT (hormon replacement therapy) diindikasikan pada pria dengan hipogonadal. Pengobatan yang
aman dan efektif dengan injeksi intra muscular jangka panjang, maupun transdermal testoteron gel. Testoteron
oral sebaiknya dihindari karena kemungkinan toksik hepatik pada penggunaan jangka lama. Pada pemakaian
testoterone-containing gel sebaiknya menunggu sekitar 10 -15 menit sampai gel tersebut diabsorbsi dan kering
sebelum melakukan aktivitas seksual. Semua pria yang menggunakan terapi testoterone replacement perlu
mendapatkan pemeriksaan rektal digital dan PSA test sedikitnya 1 tahun sekali.
Pemberian testoteron dapat menyebabkan beberapa efek samping, antara lain :
Pada laki-laki : testis mengecil, produksi sperma berkurang, ginekomastia, pembesaran prostat
Pada wanita : klitoris membesar, tumbuh rambut di daerah muka, volume suara membesar
Umum : hepatotoksik, peningkatan hematokrit darah, aterosklerosis, dan hipertrofi jantung.
Ada beberapa cara lain selain dengan terapi testoteron. Misalnya alat vakum maupun protesa. Alat vakum
meningkatkan pembesaran penis dengan membuat keadaan vakum yang menarik darah ke dalam penis. Saat
terjadi ereksi, sebuah gelang karet atau cincin konstriksi pasang pada pangkal penis dan alat vakum tersebut
dilepas. Gelang tersebut dapat memperlambat aliran balik vena dan membantu mempertahankan ereksi lebih
dari 30 menit. Alat vakum ini dapat mengakibatkan petekhie dan membuat ujung penis lebih dingin dari
biasanya.
Protesa pada penis mungkin membantu ketika cara lain tidak berhasil. Pembedahan revaskularisasi penis
relatif bersifat eksperimental dan belum ada kesuksesan yang tinggi.

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

251

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Male Hypogonadism

Fungsi testis turun, baik produksi sel gamet (sperma) maupun hormone, atau keduanya. Penyebab
hypogonadism ini dibagi atas sejak lahir (congenital) dan didapat (acquired). Hypogonadism pada laki-laki
terdiri atas :
Hypogonadisme primer. Terjadi kerusakan pada sel leydig hingga produksi androgen dan testoteron
turun atau kerusakan pada duktus seminiferus, sehingga jumlah sperma yang keluar berkurang atau
tidak sama sekali. Untuk mengimbangi penurunan hormon ini, otak meningkatkan pengeluaran hormon
gonadotropin
Hypogonadisme sekunder. Terjadi kerusakan di hipotalamus hingga hormon gonadotropin yang
dikeluarkan berkurang dan mengakibatkan kemandulan atau impotent.
Produksi hormon androgen yang kurang, menyebabkan kesediaan hayati testoteron (bioavaibilitas testoteron
/BT) berkurang yang dapat mengakibatkan hilangnya libido, penurunan masa otot dan kekakuan otot serta
perubahan energi dan kesehatan.

Gejala dan tanda


Tergantung pada beratnya kekurangan produksi hormon. Secara umum terlihat perkembangan kurang
baik, misalnya testis tidak turun, malahan kadang-kadang bentuk alat kelaminnya tidak khas.
Bila hypogonadisme terjadi pada usia puber, akan terjadi pembesaran buah dada pada laki-laki
(gynecomastia), dan rambut kemaluan kurang lebat sampai tidak tumbuh penis dan testis kecil, otot-otot kurang
gempal.
Bila hypogonadisme terjadi setelah usia dewasa, akan mengakibatkan kurangnya gairah seks,
terganggu ereksi penis, otot-otot kendur tidak bertenaga, rambut rontok, merasa tertekan dan berbagai gangguan
emosi lainnya.
Hypogonadisme pada lansia umumnya hanya memiliki beberapa gejala yang non-spesifik atau tandatanda fisik. Gejala yang paling umum adalah penurunan libido/gairah seksual yang berhubungan langsung
dengan penurunan kadar testoteron, gangguan libido yang berat dapat menyebabkan disfungsi ereksi.
Hipogonadism pada pria juga dapat menyebabkan rasa lelah, kehilangan energi, lemah otot dan menurunkan
perasaan sehat yang dapat mengarah pada depresi.
Masa otot yang menurun sejalannya dengan usia dapat berkaitan dengan kelemahan, imobilitas,
gangguan cara berjalan dan keseimbangan. Masa otot dan keseimbangan berkaitan erat dengan testoteron bebas
atau yang terikat.Hilangnya jaringan tulang sering dihubungkan dengan hipogonadisme. Hal itu mungkin karena
rendahnya substrat testoteron untuk aromatisasi estrogen memegang peranan dalam osteoporosis.

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

252

SEKSOLOGI PADA LANSIA

C.

Andropause
Andropause berasal dari kata Andro = kejantanan dan pause = istirahat. Andropause dapat

diartikan sebagai perubahan akibat proses menua pada sistem reproduksi pria mungkin didalamnya termasuk
perubahan pada jaringan testis, produksi sperma dan fungsi ereksi.
Ada yang memberi istilah andropause sebagai klimakterium laki-laki yang berarti seorang laki-laki
sedang berada pada tingkat kritis fase kehidupannya, dimana terjadi perubahan fisik, hormon dan psikis serta
penurunan aktivitas seksual. Perubahan-perubahan ini biasanya terjadi secara bertahap. Tingkah laku, stress
psikologik, alkohol, trauma, ataupun operasi, medikasi, kegemukan dan infeksi dapat memberikan kontribusi
pada onset terjadinya andropause ini.
Sebenarnya andropause bukanlah suatu fenomena baru, hal ini terjadi karena kemampuan kita untuk
mendiagnosa andropause ini sangat terbatas karena tidak ada cara untuk menprediksi siapa yang akan
mengalami gejala andropause. Test yang sensitif untuk mengetahui bioavaibilitas testoteron baru tersedia akhirakhir ini, sehingga sebelum ada test ini andropause terlewatkan begitu saja tanpa terdiagnosa dan tidak
memperoleh penatalaksanaan.

Etiologi
Mulai sejak kira-kira usia 30 tahun, kadar testoteron dalam tubuh menurun kurang lebih 10% setiap
dekadenya. Pada saat yang sama Sex Binding Hormone Globulin (SHBG) meningkat. SHBG ini akan
menangkap banyak testoteron yang bersirkulasi dan membuat testoteron tidak tersedia untuk digunakan pada
jaringan tubuh khususnya untuk terjadinya perilaku seksual yang normal dan terjadinya ereksi.

Faktor-faktor yang mempercepat andropause


Beberapa faktor yang dapat mempercepat proses penuaan dapat berasal dari luar tubuh dan dari dalam tubuh itu
sendiri, antara lain :
a.

Faktor lingkungan dan psikis


Pencemaran lingkungan baik polutan, kimia maupun suara bising.
Kondisi lingkungan hidup kumuh serta kurangnya penyediaan air bersih akan meningkatkan
pemakaian energi tubuh untuk meningkatkan kekebalan tubuh, sehingga sel-sel kekebalan
akan cepat menua.
Pemakaian obat-obat/ jamu yang tidak terkontrol menyebabkan turunnya hormone tubuh
secara langsung maupun tidak langsung melalui mekanisme umpan balik

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

253

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Sinar matahari dapat mempercepat penuaan kulit dengan hilangnya elastisitas dan rusaknya
kolagen kulit.
Pola hidup dan diet
Stress fisik dan psikis
b.

Faktor genetik sangat dipengaruhi oleh genetik orang tuanya, namun dapat berubah karena infeksi
virus, radiasi, dan zat racun dalam makanan/minuman/kulit yang diabsorbsi tubuh.

c.

Faktor organik yang secara umum dapat ditemukan adalah :


Rendahnya kebugaran
Pola makanan kurang sehat
Penurunan growth hormone, insuline-like growth factor-1 yang akan menyebabkan proses
apoptosis di berbagai sel tubuh dan hal ini akan menyebabkan proses penuaan berjalan lebih
cepat
Penurunan testoteron yang diproduksi testis.
Peningkatan prolaktin yang disekresi oleh kelenjar pituitary anterior. Hormon ini meningkat
sejalan dengan perubahan emosi dan stress.

Gejala dan efek yang ditimbulkan oleh andropause


Andropause berhubungan dengan kadar testoteron yang rendah. Setiap pria mengalami kemunduran
bioavaibilitas testoteron, namun berbeda kadarnya pada setiap invididu.Ketika hal ini terjadi pria akan
mengalami gejala andropause.
Beberapa gejala yang dapat timbul antara lain :
Depresi
Kelelahan
Iritabilitas
Libido menurun
Sakit dan nyeri
Berkeringat dan flushing
Penurunan performa seksual atau disfungsi ereksi
Sulit berkonsentrasi
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

254

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Pelupa
Insomnia

Setiap ketidakseimbangan yang terjadi dalam tubuh akan menimbulkan efek tertentu, demikian juga
andropause dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan:
Osteoporosis
Obesitas
Kehilangan masa otot
Resiko menderita arteriosklerosis
Resiko menderita kanker payudara
Resiko menderita kanker prostat
Gambar 4. Pengaruh terapi hormon testoteron pada andropause

Terapi
Terapi yang dapat diberikan pada andropause tidak jauh berbeda dengan terapi yang diberikan pada
disfungsi ereksi yaitu dengan testoterone replacement therapy baik secara injeksi maupun oral.

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

255

SEKSOLOGI PADA LANSIA

D.

Somatopause
Somatopause adalah defisiensi Human Growth Hormone (HGH) dan Insuline Like Growth Hormone

(IGF-1). Somatopause adalah fase kemerosotan usia pertengahan didalam hidup manusia dimana terjadi
pengurangan HGH, menyebabkan penurunan fungsi fisiologi yang jelas termasuk peningkatan lemak badan,
kemerosotan daya tahan, warna kulit yang berbeda daripada sebelumnya, kemerosotan keinginan seksual, dan
simptom-simptom lain yang lazim dikaitkan denga usia lanjut.
Menjelang usia 70 hingga 80 tahun, pada asasnya seseorang itu akan kekurangan hormon pertumbuhan,
mengakibatkannya mengalami SDS ( Sindrom Defisiensi Somatotropin)
HGH biasanya dilepaskan semasa tidur dalam bentuk denyutan sebagai tindak balas terhadap isyarat
positif, seperti tindakan faktor pelepasan hormon pertumbuhan GRF (Growth Releasing Hormone) dan isyarat
negatif daripada hipotalamus. Apabila pituitari melepaskan hormon tersebut, HGH bergerak dari pituitari ke
dalam aliran darah dan ia menduduki ruang penerima didalam setiap sel, khususnya sel hati, yang sebenarnya
akan menggunakan kimia ini. Apabila HGH mengaktifkan ruang penerima di dalam hati, kimia
yang dikenali IGF-1 dikeluarkan. HGH memperkuatkan kesan anabolik diseluruh tubuh melalui penghantar
bersama IGF-1, membantu pertumbuhan jaringan, tulang rawan, dan otot-otot. Justru dengan menentukan
kepekatan IGF-1 di dalam darah, kita boleh mengukur kadar rembesan HGH di dalam tubuh kita.

Gejala-gejala
Gejala-gejala lain yang dapat dijumpai pada somatopause yaitu :
Tampak menua dan kulit keriput
Pikun
Gairah seksual menurun
Tekanan darah dan kadar kolesterol meningkat
Penyembuhan luka amat lambat
Organ mengecil (hati, ginjal, limpa)
Tulang lemah
Berat badan naik
Sistem imunitas tubuh melemah

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

256

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Pencegahan dan pengobatan Somatopause


Senam. Senam yang dilakukan secara rutin adalah penting untuk melewatkan penuaan. Untuk meningkatkan
pelepasan HGH, program latihan ketat seperti angkat berat dan senam aerobik diperlukan.
Pil oral. Obat yang lazim digunakan adalah Levadopa, Hydergine, clonidine, dan dilantin yang bekerja untuk
merangsang pelepasan HGH dan meningkatkan feed back-nya. Walaupun obat-obatan ini diluluskan oleh FDA
yang mana keselamatan dan kegunaannya telah disahkan, nnama tidak ada satupun telah diluluskan untuk tujuan
meningkatkan kadar HGH

2.2

LANSIA WANITA DAN PEMASALAHAN SEKSUAL


Sistem reproduksi pada wanita lebih kompleks dibandingkan pada pria. Perbedaan yang sangat

mencolok adalah pembentukan sperma pada pria berlangsung terus-menerus dan sekresi testoteron yang relatif
konstan, sedangkan pada wanita biasanya berdasarkan suatu siklus menstruasi yang cukup panjang dan dari
setiap siklusnya hanya satu ovum yang dikeluarkan pada ovulasi yang siap untuk dibuahi bila tidak terjadi
pembuahan maka siklus akan berulang tetapi bila terjadi pembuahan maka sistem reproduksi akan beradaptasi
sedemikian rupa sehingga zigot yang terbentuk akan tumbuh dan berkembang menjadi janin dan sampai saatnya
janin tersebut mampu hidup diluar uterus.
2.2.1

FISIOLOGIS REPRODUKSI WANITA


Jumlah ovum pada wanita tidaklah sebanyak sperma yang dapat dihasilkan oleh pria sepanjang

hidupnya. Seorang wanita saat dilahirkan mempunyai ovum hanya 2 juta dan hanya terdapat 300000-400000
ovum pada pubertas. Kemudian sepanjang masa reproduktif dari seorang wanita antara umur 13 sampai 46
tahun, kira-kira 400 folikel ini akan berkembang sehingga cukup untuk dapat mengeluarkan ovum, satu ovum
setiap bulan, sisanya berdegenerasi (menjadi atresia). Pada akhir kapasitas reproduksi, yaitu pada masa
menopause hanya beberapa folikel premordial yang tetap berada di dalam ovarium, dan bahkan folikel ini juga
segera berdegenerasi sesudahnya.
Ovarium mempunyai dua tugas yaitu menghasilkan ovum dan mengeluarkan hormon-hormon seks
wanita seperti estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini berperan dalam mempersiapkan sistem reproduksi
wanita untuk kehamilan.
Satu hal lagi yang menjadi perbedaan yang mencolok antara sistem reproduksi wanita dan pria adalah
pria mempunyai potensi reproduksi seumur hidup, sedangkan wanita berhenti pada usia pertengahan saat
terjadinya menopause.

2.2.2

MASALAH SEKSUAL PADA LANSIA WANITA

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

257

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Proses menua pada wanita biasanya selalu diidentikkan dengan penurunan daya tarik fisik atau
kecantikan. Beberapa perubahan yang ditimbulkan oleh proses penuaan, antara lain :
Menstruasi menjadi tidak teratur dan semakin sedikit. Lalu lama kelamaan berhenti sama sekali.
Perubahan juga terjadi pada jaringan payudara wanita, buah dada menipis, jaringan kolagen nya
berkurang jadi terlihat menggantung.
Berkurangnya tekanan otot
Distensi meatus urinary
Klitoris mengerut, perfusi berkurang, berkurangnya pembesaran klitoris serta pelambatan waktu reaksi
dari klitoris.
Berkurangnya vaskularisasi dan lubrikasi vagina
Atrofi alat kelamin

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

258

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Gambar 5. Perbedaan sistem reproduksi wanita muda dan wanita usia lanjut

A.

Disfungsi Seksual Pada Lansia Wanita


Masalah seksual pada lansia wanita tidak secara luas dipahami dengan baik seperti pada pria. Masalah

pada lansia pria adalah tidak dapat mencapai dan atau mempertahankan ereksi, tetapi begitu ereksi orgasme
akan tercapai tanpa diikuti kesulitan. Sedangkan pada wanita ada tiga tahap yang harus dilewati sebelum terjadi
orgasme yaitu desire (libido), excitement (arousal) and wetness (lubrication). Dan kita akan membahasnya satu
persatu.
a.

Tahap Desire (libido)


Dari survey yang dipublikasikan baru-baru ini menunjukkan bahwa kurangnya minat pada seks
merupakan masalah seks yang utama pada wanita lansia. Gangguan tahap ini dapat berupa dorongan
seksual hipoaktif, yaitu lenyapnya dorongan seksual ataupun fantasi seksual sehingga tidak bergairah untuk
melakukan aktivitas seksual.
Penyebab kelainan ini antara lain :
Penyebab organik
Disebabkan oleh gangguan keseimbangan hormonal yang sering dijumpai pada operasi ovariektomi
bilateral, ketegangan pre-haid, pasca persalinan, sindroma pre-menopause dan kemoterapi. Obat-obatan
yang juga dapat menjadi penyebab termasuk androgen, antiestrogen (termasuk obat KB), sitotoksika
dan psikofarmaka.

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

259

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Penyebab psikis
Penyebab utama hipoaktif seksual nampaknya karena masalah relasi dimana salah satu pasangan tidak
merasa intim secara emosial atau dekat dengan pasangan mereka. Insomnia yang menyebabkan
kelelahan, serta pengalaman trauma seksual, tabu seks juga dapat mempengaruhi kelainan ini.
b. Tahap arousal dan lubrication
Gangguan tahap ini merupakan masalah yang paling sering terjadi pada wanita setelah mengalami
menopause. Reaksi seksual yang seharusnya terjadi adalah peningkatan aliran darah ke panggul, yang akan
menyebabkan terjadinya bendungan dan pembesaran pada jaringan dinding vagina. Klitoris akan
mengalami ereksi mini dan dinding vagina akan memproduksi cairan pelumas agar tidak sakit sewaktu
penetrasi.
Gangguan tahap ini bertambah buruk apabila disertai dengan diabetes, hipertensi, radioterapi pada
tumor pelvis, dan penggunaan anti-estrogen pada pengobatan kanker payudara. Vagina yang kering dan
hilangnya elastisitas tidak akan bertambah buruk apalagi sering melakukan aktivitas seksual, dalam hal ini
berlaku istilah use it or lose it
Hal ini dapat diatasi dengan pemberian substitusi seperti vaselin, krem estrogen atau testoteron,
estrogen oral. Terkadang vitamin E suppositoria juga efektif.
c. Tahap orgasme
Tahap ini tidak akan terjadi bila terjadi gangguan pada tahap-tahap sebelumnya. Pada beberapa wanita
walau tahap-tahap sebelumnya telah dilalui secara lengkap mereka tetap sulit memperoleh orgasme.
Kegagalan ini tentu saja dapat memberikan tekanan stres pada wanita tersebut. Selain itu dispareunia juga
dapat menghambat terjadinya orgasme.
Terapi seks menyarankan wanita yang mengalami gangguan orgasme agar mulai berlatih aktif pada
dirinya, misalnya dengan masturbasi dapat membantu mereka untuk mengetahui tekanan atau ritme yang
seperti apa sehingga dapat mencapai orgasme, kemudian mereka dapat memberitahukannya pada pasangan
seksual mereka.
d. Gangguan rasa sakit
Terdapat beberapa gangguan yang menimbulkan rasa sakit, antara lain :
Dispareunia, yaitu timbulnya rasa sakit sewaktu bersenggama. Umumnya rasa sakit ini terjadi di vulva
dan 1/3 luar vagina, tetapi ada juga rasa sakit dalam namun jarang terjadi kecuali ada penyakit
ginekologi. Dispareunia bisa disebabkan oleh :
o

Lubrikasi vagina yang inadekuat

Iritasi pada genitalia ekstena

Kekeringan pada genitalia eksterna

Vulva vaginitis

o Trauma lokal seperti episiotomi


Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

260

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Uretritis

Intromission (sudut penetrasi) yang kurang tepat

Penyakit anorektal

Anomali traktus genitalia wanita

Vaginismus , yaitu vagina mengalami kontraksi bila ada benda yang masuk ke vagina (misalnya penis,
jari atau tampon). Biasanya terjadi karena dispareuni, fobia terhadap penetrasi.
Berbagai penyakit ginekologi dapat menyebabkan rasa sakit seperti kista Bartholini, abses vagina, dan
sebagainya.

Penatalaksanaan disfungsi seksual


Pada dasarnya gangguan fungsi seksual dipengaruhi oleh faktor fisik dan psikis. Gangguan fungsi
dapat diatasi sesuai dengan penyebabnya. Akan tetapi hasilnya sangat bergantung pada jenis, penyebab, lama
terjadinya dan ada tidaknya penyulit.
Pada prinsipnya tata cara mengatasi gangguan fungsi adalah meliputi konseling seksual, terapi
obat/tindakan operatif, terapi nutrisi dan penggunaan alat bantu. Bisa tunggal maupun kombinasi kembali
kepada masalah dan keadaan individu.

B.

Menopause
Dalam proses menua setiap wanita akan mengalami masa klimakterium. Masa klimaketrium ini

berlangsung beberapa taun, kadang-kadang lebih dari 10 tahun, antara usia 40-65 tahun. Masa klimakterium ini
berakhir kira-kira 6-7 tahun sesudah menopause, dan terdiri dari beberapa fase yaitu :
Pra menopause adalah masa 4-5 tahun sebelum menopause, dimana telah ada keluhan-keluhan
klimakterik dan pendarahan yang tidak teratur.
Menopause, artinya berhenti menstruasi yang permanent, diagnosa ini dibuat bila telah terdapat
amenorea sekurang-kurangnya satu tahun. Pada umumnya menopause terjadi pada usia sekitar 45-50
tahun.
Pasca menopause adalah masa 3-5 tahun setelah menopause.
Ooforopause adalah pada saat ovarium kehilangan sama sekali fungsi hormonalnya.
Namun didalam dunia medis dan masyarakat umum yang paling banyak mendapatkan perhatian adalah
menopause.

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

261

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Gejala menopause
Dr. Janet Mc Arthur (1981) memerinci beberapa gejala yang terjadi pada menopause menurut waktu terjadinya :
Gejala dini
Beberapa gejala dini yang menandai terjadinya proses menopause, antara lain :
o

Gangguan menstruasi dimana siklus menstruasi menjadi tidak teratur

Rasa panas (hot flushes). Hot flushes adalah sensasi subyektif yang terasa pada tubuh bagian atas,
biasanya berlangsung 4 menit. Vasomotor flushes merupakan bagian obyektif dari gejala hot
flushes, yaitu berupa kemerahan pada dada, leher, muka yang diikuti dengan keluarnya keringat.
Palpitasi atau rasa tertekan pada kepala, rasa lemah, pusing, dan vertigo dapat menyertai hot
flushes. Hot flushes terjadi jika ada penurunan kadar estrogen dan menghilang jika kadar estrogen
meningkat.

Keringat pada malam hari , sehingga menyebabkan sulit tidur, sering terbangun pada malam hari
dan mudah lelah.

Konsentrasi menurun

Rasa cemas dan khawatir

Rasa percaya diri menurun dan merasa tidak berguna

Gejala lanjut
o

Atrofi vagina dan pada keadaan lebih lanjut bisa menyebabkan atrofi uterus dan ovarium, serta
terjadinya dispareunia

Elastisitas uretra berkurang

Perubahan-perubahan pada kulit. Kulit menjadi tipis, kering, dan kurang elastis karena penurunan
produksi kolagen akibat menurunnya kadar estrogen.

Payudara kehilangan bentuknya, dan mulai kendur akibat kadar estrogen yang menurun.

Osteoporosis. Pada keadaan menopause yang sudah lanjut, kecepatan remodeling tulang tidak
sebanding dengan kecepatan resopsi tulang yang masih lebih cepat. Percepatan hilangnya masa
tulang 10 tahun setelah menopause 10 kali lipat., sehingga osteoporosis muncul terutama pada usia
60 tahun keatas dan dapat menyebabkan fraktur.

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

262

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Gambar 6. Resiko osteoporosis pada menopause dan HRT estrogen dapat


menguranginya

Resiko menderita penyakit jantung koroner akibat aterosklerosis meningkat, hal ini mungkin
berkaitan dengan penurunan kadar estrogen.

Seksualitas pada menopause


Banyak penelitian berpendapat bahwa kualitas dan kuantitias aktivitas seksual pada lansia bergantung
pada kualitas dan kuantitas aktivitas seksual pada masa sebelum menginjak usia lanjut.Walaupun gejala-gejala
menopause secara tidak langsung mempengaruhi responsitivitas seksual pada lansia namun bukan berarti
menopause adalah akhir dari kehidupan seksual.
Hal ini didukung oleh Master dan Johnson yang mengatakan bahwa kapabilitas seksual wanita tidak
menurun sampai usia tua (sesudah 60 tahun sampai 80 tahun), namun diatas usia 60 tahun semakin sedikit
wanita yang aktif seksual. Beberapa penelitian pun menemukan bahwa menurunnya minat akan aktivitas seksual
lebih disebabkan karena faktor usia dan gejala vasomotor tidak berhubungan dengan aspek fungsi seksual.

Diagnosa menopause
Seperti telah dikatakan diatas diagnosa dibuat apa bila telah terdapat amenorea sekurang-kurangnya
satu tahun dan harus dikonfirmasikan dengan peningkatan kadar FSH dan kadar estradiol yang rendah. Dan dari
anamnesa didapatkan berbagai gejala seperti diatas.
Terapi
Terapi dengan pemberian hormon estrogen dan progestin dapat membantu mengatasi gejala-gejala
menopause yang ada dan juga dapat mengurangi resiko terjadinya osteoporosis. Namun penelitian yang disebut
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

263

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Women's Health Initiative (WHI) yang dilakukan the National Institutes of Health mengatakan bahwa terapi
hormone estrogen dan progesteron meningkatkan resiko terkena stroke, serangan jantung dan kanker payudara
pada wanita. Dan sampai saat ini masih menjadi kontroversial.
Tabel 3. Terapi Hormon pada menopause

Estrogen
Oral : Conjugated estrogens

Dosis
0,625 1,25 mg/hari

Ethenyl estradiol
Parenteral : Transdermal estradiol

5-10 g/hari
0,05-0,10 mg patch, 2x seminggu

Vaginal conjugated estrogen


Progestin : medroxy progesterone

0,2 0,525 mg, 2-7 x seminggu


2,5 5 mg sehari

norethindrone

5 mg sehari

Efek samping dari hormon estrogen :


Hyperplasia endometrium
Kanker payudara
Kolelithiasis
Hipertensi
Penyakit trombo embolik
Toleransi glukosa terganggu sehingga menyebabkan diabetes mellitus
Efek samping dari hormone progestin antara lain :
Perdarahan abdominal
Sakit kepala
Perubahan suasana hati
jerawat

BAB III
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

264

SEKSOLOGI PADA LANSIA

KESIMPULAN
Kehidupan seksual merupakan bagian dari kehidupan manusia, sehingga kualitas kehidupan seksual
ikut menentukan kualitas hidup. Hubungan sekual yang sehat ialah hubungan seksual yang dikehendaki, dapat
dinikmati bersama dan tidak menimbulkan akibat buruk, baik fisik maupun psikik.
Para lanjut usia umumnya mengalami penurunan aktivitas seksual,ini merupakan proses yang
alamiah,karena diakibatkan menurunnya fungsi-fungsi seluruh tubuh akibat proses menua sehingga otomatis
kemampuan organ-organ seksual juga menurun. Selain itu faktor psikis lanjut usia juga memegang peranan
penting yang dapat menyebabkan menurunnya aktivitas seks, hal ini dapat mengenai lanjut usia pria maupun
wanita.
Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa banyak golongan lansia tetap menjalankan aktivitas
seksual sampai usia yang cukup lanjut, dan aktivitas tersebut hanya dibatasi oleh status kesehatan dan ketiadaan
pasangan. Tapi tidak semua lansia dapat merasakan kehidupan seksual yang harmonis.
Ada tiga penyebab mengapa kehidupan seksual tidak harmonis. Pertama, komunikasi seksual diantara
pasangan tidak baik. Kedua, pengetahuan seksual tidak benar. Ketiga karena gangguan fungsi seksual pada salah
satu maupun kedua pihak bisa karena perubahan fisiologis maupun patologis.
Pada akhirnya,agar kualitas hidup tidak sampai terganggu karena masalah seksual, maka setiap
disfungsi seksual harus segera diatasi dengan cara yang benar dan ilmiah. Yang perlu diperhatikan dalam
penanganan disfungsi seksual ialah pertama kita harus menentukan jenis disfungsi seksual dengan tepat,
mencari penyebabnya, memberikan pengobatan sesuai penyebab dan untuk memperbaiki fungsi seksual.

DAFTAR PUSTAKA
Kepaniteraan Gerontologi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

265

SEKSOLOGI PADA LANSIA

Adimoelja, Arif. 2003 Organo-physical and Psychogenic Influences in Male Sexual Dysfunction. Buku
kumpulan Makalah Kongres Nasinal Gerontologi Paradoxical Toward Active-Ageing Jakarta :
Perhimpunan Gerontologi
Aldridge, Susan. Sexual functioning among middle-aged men. from http://www.healthandage.com
Davidson, Julian.M. 1990. Sexuality and Ageing on Principle Of Geriatric Medicine and Gerontology. USA
Elmer, Eddy M. Sexual dysfunction and aging: Multidimensional perspectives from http://www.eddyelmer.com
Gendel, Evalyn. Sex on Lange Clinical Manual of Geriatrics
Hazzard, William R. 1990. Principle Of Geriatric Medicine and Gerontology. USA : Mc. Grow-Hill.Inc
Kakialatu, Frits A. 200 Gender dan Aktivitas Seksual Pada Usia Pertengahan. Buku kumpulan Makalah
Kongres Nasinal Gerontologi Paradoxical Toward Active-Ageing Jakarta : Perhinpunan Gerontologi
Martono, H.Hadi. Aspek Seksualitas Pada Golongan Usia Lanjut. Buku Ajar Geriatri. FK UI. Jakarta
Ontowirjo. 2003 Gangguan Fungsi Seksual Pada Wanita. Buku kumpulan Makalah Kongres Nasinal
Gerontologi Paradoxical Toward Active-Ageing Jakarta : Perhimpunan Gerontologi
Setiabudhi, Tony dkk. 1995. Menuju Lanjut Usia Sejahtera. Jakarta : Forum Komunikasi Lansia.
Sherwood, Lauralle. 1996. Fisiologi Manusia. Jakarta : EGC.
Wiknjosastro,Hanifa dkk. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
http://www.niapublications.org/engagepages/sexuality.asp

Kepaniteraan Gerontologi Medik


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan, Cibubur
Periode 25 Juni 2012 - 28 Juli 2012

266