Anda di halaman 1dari 8

BAB II

ISI
II.1 Pharmaceutical Care dan Implikasinya
Secara leksikogarafi (ilmu yang mempelajari tentang pemaknaan bahasa),
kata care diantaranya bermakna merawat, memberi perhatian, dan peduli.
Pharmaceutical merupakan bentuk kata sifat (adjective) dari kata pharmacy
yang memiliki padanan Indonesia farmasi. Dalam penerjemahan berlaku
ketentuan pemaknaan kata dasarnya secara konsisten atau pemaknaan
berdasarkan hakekat. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia pharmaceutical
care dapat bermakna kepedulian atau tanggung jawab profesi dalam hal
farmakoterapi dengan tujuan untuk mencapai hasil yang dapat meningkatkan
atau menjaga kualitas hidup pasien. Dalam hal ini seorang apoteker/farmasis
mempunyai kewajiban mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaikan
masalah yang berkaitan dengan obat dan kesehatan (Rantucci, 1997 cit.
Arifiyanti, 2004 ).
Konsep asuhan kefarmasian menjadi penting karena meningkatnya biaya
kesehatan dan adverse drug reactions dari obat-obat yang diresepkan. Obat
menjadi lebih mahal, penggunaanya meningkat, biaya kesalahan penggunaan
obat (drug misuse) meningkat, dan efek samping obat. Asuhan kefarmasian
adalah konsep yang melibatkan tanggung jawab farmasis yang dapat menjamin
terapi optimal terhadap pasien secara individu sehingga pasien membaik dan
kualitas hidupnya meningkat. Peran farmasis dalam asuhan kefarmasian di
awal proses terapi adalah menilai kebutuhan pasien. Di tengah proses terapi,
mereka memeriksa kembali semua informasi dan memilih solusi terbaik bagi
DRP (drug related problem) pasien. Diakhir proses terapi, mereka menilai hasil
intervensi farmasis sehingga didapatkan hasil optimal dan kualitas hidup
meningkat serta hasilnya memuaskan.
Fungsi utama dari asuhan kefarmasian adalah:
1. Identifikasi aktual dan potensial masalah yang berhubungan dengan obat.
2. Menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan obat.
3. Mencegah terjadinya masalah yang berhubungan dangan obat.

Manfaat pelayanan kefarmasian, antara lain:


1. Mendapat pengalaman yang lebih efisien memantau terapi obat.
2. Memperbaiki komunikasi dan interaksi antara farmasis dengan profesi
kesehatan lainnya.
3. Membuat dokumentasi kaitan dengan terapi obat.
4. Identifikasi, penyelesaian dan pencegahan masalah yang berkaitan dengan
obat (DRP).
5. Justifikasi layanan farmasi dan assessment kontribusi farmasi terhadap
layanan pasiendan hasilnya bagi pasien.
6. Memperbaiki produktivitas farmasis.
7. Jaminan mutu dalam layanan farmasi secara keseluruhan.
II.2 Fungsi dan Tugas Apoteker di Apotek
1. Fungsi apoteker dalam melaksanakan profesi di apotek
Melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek sesuai dengan fungsi apotek
sebagaisarana pelayanan kesehatan masyarakat dalam menyediakan dan
penyaluran perbekalan farmasi yang dibutuhkan oleh masyarakat terutama
golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah, sebagai pengejawantahan
fungsi sosial apotek (Permenkes No.922/MenKes/ Per/X/1993: Pasal 11)
2. Tugas apoteker dalam melaksanakan profesi di apotek
a. Menjalankan pekerjaan kefarmasian di apotek berdasarkan keahlian dan
kompetensi yang dilandasi oleh sumpah jabatan dan kode etik. Pada
melaksanakan pekerjaan kefarmasian, apoteker bertugas melakukan
pekerjaan kefarmasian tertentu sesuai dengan keahlian dan kewenangannya
dengan dibantu oleh karyawan lainnya dan mengarahkan karyawan yang
bertugas sebagai pendukung pekerjaan kefarmasian menjadi tim terpadu
untuk tercapainya keserasian proses pekerjaan sehingga menghasilkan
penyelesaian pekerjaan yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan.
b. Melakukan pekerjaan pemantauan sediaan farmasi yang meliputi : mutu,
ketersediaan, keabsahan dan kemanfaatan sediaan farmasi serta melakukan
pendidikan, konsultasi dan informasi kepada klien atau masyarakat sehingga

obat yang dikonsumsi masyarakat akan dipergunakan secara benar dan


memberi manfaat terapi yang optimal. Disamping itu melakukan
pemantauan lingkungan dalam rangka membantu ketertiban distribusi obat
masyarakat.
c. Melakukan komunikasi yang intens dengan sejawat profesi kesehatan lain
sehingga

tercapai

kesamaan

persepsi

sehingga

akan

mengurangi

kesalahpahaman dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap


profesi kesehatan (Permenkes No. 922/MenKes/Per/X/1993: Pasal 19).
II.3 Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
1. Pelayanan Resep.
Apoteker melakukan skrining resep meliputi :
a. Persyaratan administratif :
1) Nama, SIP dan alamat dokter.
2) Tanggal penulisan resep.
3) Tanda tangan/paraf dokter penulis resep.
4) Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien.
5) Nama obat , potensi, dosis, jumlah yang minta.
6) Cara pemakaian yang jelas.
7) Informasi lainnya.
b. Kesesuaian

farmasetik:

bentuk

sediaan,

dosis,

potensi,

stabilitas,

inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.


c. Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian
(dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain).
Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada
dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif
seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.
2. Penyiapan obat.
a. Peracikan.
Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan
memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus

dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah
obat serta penulisan etiket yang benar.
b. Etiket.
Etiket harus jelas dan dapat dibaca.
c. Kemasan obat yang diserahkan.
Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga
terjaga kualitasnya.
d. Penyerahan Obat.
Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir
terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan
oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada
pasien dan tenaga kesehatan.
3. Informasi Obat.
Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah
dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat
pada pasien sekurangkurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara
penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan
minuman yang harus dihindari selama terapi.
4. Konseling.
Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi,
pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki
kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya
penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan
kesehatan lainnya. Untuk penderita penyakit tertentu seperti cardiovascular,
diabetes, TBC, asthma, dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus
memberikan konseling secara berkelanjutan.
5. Monitoring Penggunaan Obat.
Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan
pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti
cardiovascular, diabetes, TBC, asthma, dan penyakit kronis lainnya.

6. Promosi dan Edukasi.


Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi
secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu
diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet / brosur, poster,
penyuluhan, dan lain-lainnya.
7. Pelayanan residensial (Home Care).
Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan
kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok
lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk
aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan
(medication record) (KepMenkes No. 1027 / MenKes / sk / IX / 2004).
II.4 Sumber Daya Manusia
Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku Apotek harus dikelola oleh
seorang apoteker yang professional. Pada pengelolaan Apotek, Apoteker
senantiasa harus memiliki kemampuan menyediakan dan memberikan
pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat, kemampuan
berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi
multidisipliner, kemampuan mengelola SDM secara efektif, selalu belajar
sepanjang karier, dan membantu memberi pendidikan dan memberi peluang
untuk meningkatkan pengetahuan (Permenkes No.1027/MenKes/Per/IX/2004)
II.5 Sarana dan Prasarana
Apotek berlokasi pada daerah yang dengan mudah dikenali oleh
masyarakat. Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis
kata apotek. Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh anggota
masyarakat. Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang
terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna
untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi resiko
kesalahan penyerahan.
Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker
untuk memperoleh informasi dan konseling. Lingkungan apotek harus dijaga

kebersihannya. Apotek harus bebas dari hewan pengerat, serangga/pest. apotek


memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pendingin.
Apotek harus memiliki :
1. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.
2. Tempat untuk mendisplai informasi bagi pasien, termasuk penempatan
brosur/materi informasi.
3. Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja
dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien
4. Ruang racikan.
5. Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien.
Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak penyimpanan obat dan
barangbarang lain yang tersusun dengan rapi, terlindung dari debu, kelembaban
dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan dengan
temperatur yang telah ditetapkan. (KepMenkes No.1027/ Menkes/sk/IX/2004).

II.6 Mengevaluasi Pelayanan


Kinerja pelayanan ini kita kaitkan dengan harapan (expectation) dan kepuasan
(satisfaction), maka gambarannya adalah sebagai berikut :
1. Kinerja < Harapan (performance < expectation)
Bila kinerja menunjukan keadaan dibawah harapan pelanggan maka
pelayanan kepada pelanggan dapat dianggap tidak memuaskan.
2. Kinerja = Harapan (performance = expectation)
Bila kinerja menunjukan sama atau sesuai dengan yang diharapkan
pelanggan, maka pelayanan dapat dianggap memuaskan, tetapi tingkat
kepuasannya adalah minimal karena pada keadaan sepeti ini dapat dianggap
belum ada keistimewaan layanan. Jadi pelayanan dianggap biasa atau wajarwajar saja.
3. Kinerja > Harapan (performance > expectation)
Bila kinerja menunjukan lebih dari yang diharapkan pelanggan, maka
pelayanan dianggap istimewa atau sangat memuaskan karena pelayanan
yang diberikan ada pada tahap optimal. Selanjutnya untuk keluasan

wawasan dalam mempersiapkan diri agar mampu melaksanakan pelayanan


prima dilingkungan internal maupun ekstenal, dapat kita simak pokokpokok pendapat para praktisi bisnis mengenai harapan-harapan utama dari
para pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Namun harus selalu
diingat, kesuksesan pelayanan pihak lain belum tentu bisa diterapkan
didalam perusahaan kita. Kesuksesan pelayanan hari ini belum tentu
berhasil digunakan untuk hari esok. Selalu ada perubahan. Kehendak
konsumen selalu berubah, dan itulah yang menyebabkan pelayanan dai
waktu ke waktu selalu berubah (Barata, 2003: 38-39).

DAFTAR PUSTAKA
Barata. 2003. Dasar-dasar Pelayanan Prima. Jakarta. PT Gramedia
Pustaka
Depkes RI. 2004. Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek. Jakarta:
Direktorat Jenderal