Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tetralogi Fallot adalah suatu penyakit dengan kelainan bawaan yang merupakan
kelainan jantung bawaan sianotik yang paling banyak dijumpai. dimana tetralogi fallot
menempati urutan keempat penyakit jantung bawaan pada anak setelah defek septum
ventrikel,defek septum atrium dan duktus arteriosus persisten,atau lebih kurang 10-15 %
dari seluruh penyakit jantung bawaan, diantara penyakit jantung bawaan sianotik
Tetralogi fallot merupakan 2/3 nya. Tetralogi fallot merupakan penyakit jantung bawaan
yang paling sering ditemukan yang ditandai dengan sianosis sentral akibat adanya pirau
kanan ke kiri. Dari banyaknya kasus kelainan jantung serta kegawatan yang ditimbulkan
akibat kelainan jantung bawaan ini, maka sebagai seorang perawat dituntut untuk mampu
mengenali tanda kegawatan dan mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat
(Staf IKA, 2007).
Tetralogi fallot adalah penyakit jantung kongentinal yang merupakan suatu bentuk
penyakit kardiovaskular yang ada sejak lahir dan terjadi karena kelainan perkembangan
dengan gejala sianosis karena terdapat kelainan VSD, stenosispulmonal,
hipertrofiventrikel kanan, dan overiding aorta (Nursalam dkk, 2005). Defek Septum
Ventrikel (VSD) yaitu lubang pada sekat antara kedua rongga ventrikel. Stenosis
pulmonal terjadi karena penyempitan klep pembuluh darah yang keluar dari bilik kanan
menuju paru, bagian otot dibawah klep juga menebal dan menimbulkan penyempitan.
Hipertrofi ventrikel kanan atau penebalan otot di ventrikel kanan karena peningkatan
tekanan di ventrikel kanan akibat dari stenosis pulmonal. Overiding aorta merupakan
keadaan dimana pembuluh darah utama yang keluar dari ventrikel kiri mengangkang
sekat bilik, sehingga seolah-olah sebagian aorta keluar dari bilik kanan.
Tetralogi of fallot paling banyak ditemukan dimana TOF ini menempati urutan
keempat penyakit jantung bawaan pada anak setelah defek septum ventrikel, defek
septum atrium duktus arteriosus, atau lebih kurang 10 % dari seluruh penyakit bawaan,
dan merupakan penyebab utama diantara penyakit jantung bawaan sianostik. 95% dari
sebagian besar bayi dengan kelainan jantung tetralogi of fallot tidak diketahui, namun
berbagai faktor juga turut berperan sebagai penyebabnya seperti pengobatan ibu ketika

Keperawatan Anak

Page 1

sedeang hamil, faktor lingkungan setelah lahir, infeksi pada ibu, faktor genetika dan
kelainan kromosom.
Insidens tetralogi of fallot di laporkan untuk kebanyakan penelitian dalam rentang 8 10
per 1000 kelahiran hidup. Kelainan ini lebih sering muncul pada laki laki daripada
perempuan. Dan secara khusus katup aorta bikuspid bisa menjadi tebal sesuai usia ,
sehingga stenosis bisa timbul. Hal ini dapat diminimalkan dan dipulihkan dengan operasi
sejak dini. Sehingga deteksi dini penyakit ini pada anak anak sangat penting dilakukan
sebelum komplikasi yang lebih parah terjadi. Oleh karena itu, kami membuat makalah ini
agar bermanfaat untuk memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya pembaca
makalah ini yang membahas kelainan jantung tetralogy of fallot serta asuhan keperawatan
yang tepat untuk mengatasi masalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Anatomi Fisiologi jantung ?
2. Apa pengertian Tetralogi Fallot ?
3. Bagaimana etiologi Tetralogi Fallot ?
4. Bagaimana patofisiologi Tetralogi Fallot ?
5. Pathway ?
6. Bagaimana Manifestasi Klinis Tetralogi Fallot ?
7. Bagaimana pemeriksaan diagnostik Tetra Fallot ?
8. Apa Komplikasi Tetra Fallot ?
9. Bagaimana penatalaksanaan Tetralogi Fallot ?
10. Bagaimana Prognosis Tetralogi Fallot ?
11. Bagaimana Pencegahan Tetralogi Fallot ?
Keperawatan Anak

Page 2

1.3 Tujuan
1 Anatomi Fisiologi jantung
2 Mengetahui pengertian Tetralogi Fallot
3 Mengetahui etiologi Tetralogi Fallot
4 Mengetahui patofisiologi Tetralogi Fallot
5 Pathway
6 Mengetahui Manifestasi Klinis Tetralogi Fallot
7 Mengetahui pemeriksaan diagnostik Tetra Fallot
8 Mengetahui Komplikasi Tetra Fallot
9 Mengetahui penatalaksanaan Tetralogi Fallot
10 Mengetahui Prognosis Tetralogi Fallot
11 Mengetahui Pencegahan Tetralogi Fallot

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi Fisiologi


Jantung merupakan organ yang terdiri dari otot yang merupakan jaringan
istimewa karena bentuk dan susunannya sama sengan otot serat lintang, tetapi cara
kerjanya menyerupai otot polos. Jantung terletak di dalam rongga dada asebelah
depan (kavum mediastinum anterior). Ukurannya kurang lebih sebesar genggaman
tangan kanan pemiliknya. Pada bayi ukurannya relative lebih besar dari pada jantung
orang dewasa.
Ruang Jantung terdiri dari:
a. Atrium kanan

Keperawatan Anak

Page 3

Atrium kanan adalah ruang jantung yang menerima darah yang kaya akan
karbondioksida dari pembuluh vena cava yaitu vena cava inferior atu posterior
dan vena cava superior atau vena cava inferior
b. Ventrikel kanan
Ventrikel kanan adalah ruang jantung yang menerima darah kaya akan
karbondioksida dari atrium dextra melalui vulva trikuspidalis. Selain itu
berfungsi memompa darah ke pulmo melalui katup pulmonalis dan disalurkan
ke paru oleh pembuluh polmunalis sinistra
c. Atrium kiri
Atrium kiri adalah ruang jantung yang menerima darah yang kaya oksigen
dari pulmo melalui pembuluh vena pulmonalis sinistra dan darah tersebut
kemudian disalurkan ke ventrikel sinistra melalui vulva bikuspidalis

d. Ventrikel kiri
Ventrikel kiri adalah ruang jantung yang menerima darah yang kaya
oksigen dari atrium sinstra melalui vulva bikuspidalis dan memompa darah ke
seluruh tubuh melalui katup aorta.

2.2 Pengertian
Keperawatan Anak

Page 4

Tetralogi fallot (TF) merupakan penyakit jantung sianotik yang paling banyak
ditemukan dimana tetralogi fallot menempati urutan keempat penyakit jantung
bawaan pada anak setelah defek septum ventrikel,defek septum atrium dan duktus
arteriosus persisten,atau lebih kurang 10-15 % dari seluruh penyakit jantung bawaan,
diantara penyakit jantung bawaan sianotik Tetralogi fallot merupakan 2/3 nya.
Tetralogi fallot merupakan penyakit jantung bawaan yang paling sering ditemukan
yang ditandai dengan sianosis sentral akibat adanya pirau kanan ke kiri.
Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan jantung dengan gangguan sianosis yang
ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi defek septum ventrikel,
stenosis pulmonal, overriding aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan. Komponen yang
paling penting dalam menentukan derajat beratnya penyakit adalah stenosis pulmonal
dari sangat ringan sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif , makin lama
makin berat.
Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan jantung dengan gangguan sianosis yang
ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi defek septum ventrikel,
stenosis pulmonal, overriding aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan.
Komponen yang paling penting dalam menentukan derajat beratnya penyakit
adalah stenosis pulmonal dari sangat ringan sampai berat. Stenosis pulmonal
bersifat progresif , makin lama makin berat.

2.3 Etiologi
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaan tidak diketahui
secara pasti. diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen. Faktor-faktor
tersebut antara lain :
a. Faktor endogen
Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom.
Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus, hipertensi,
penyakit jantung atau kelainan bawaan.
b. Faktor eksogen
Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program KB oral atau suntik,
minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine,
aminopterin, amethopterin, jamu).
Ibu menderita penyakit infeksi : rubella.
Pajanan terhadap sinar -X

Keperawatan Anak

Page 5

Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut jarang
terpisah menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus
penyebab adaah multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor penyebab
harus ada sebelum akhir bulan kedua kehamilan, oleh karena pada minggu ke
delapan kehamilan pembentukan jantung janin sudah selesai.
2.4 Patofisiologi
Menurut (FK UNRI : 2010) pada tetralogi fallot terdapat empat macam
kelainan jantung yang bersamaan, maka:
a. Darah dari aorta berasal dari ventrikel kanan bukan dari kiri, atau dari sebuah
lubang pada septum, seperti terlihat dalam gambar, sehingga menerima darah
dari kedua ventrikel.
b. Arteri pulmonal mengalami stenosis, sehingga darah yang mengalir dari
ventrikel kanan ke paru-paru jauh lebih sedikit dari normal; malah darah masuk
ke aorta.
c. Darah dari ventrikel kiri mengalir ke ventrikel kanan melalui lubang septum
ventrikel dan kemudian ke aorta atau langsung ke aorta, mengaabaikan lubang
ini.
d. Karena jantung bagian kanan harus memompa sejumlah besar darah ke dalam
aorta yang bertekanan tinggi, otot-ototnya akan sangat berkembang, sehingga
terjadi pembesaran ventrikel kanan.
Kesulitan fisiologis utama akibat Tetralogi Fallot adalah karena darah tidak
melewati paru sehinggatidak mengalami oksigenasi. Sebanyak 75% darah vena yang
kembali ke jantung dapat melintas langsung dari ventrikel kanan ke aorta tanpa
mengalami oksigenasi.
TF dibagi dalam 4 derajat :
1. Derajat I
2. Derajat II
3. Derajat III
4. Derjat IV

Keperawatan Anak

: tak sianosis, kemampuan kerja normal


: sianosis waktu kerja, kemampuan kerja kurang
: sianosis waktu istirahat, kuku gelas arloji, waktu kerja
sianosis bertambah, ada dispneu.
: sianosis dan dispneu istirahat, ada jari tabuh.

Page 6

2.5 Pathway
Terpapar factor endogen dan eksogen selama kehamilan trimester I II
Kelainan jantung congenital sianotik: tetralogi fallot
Stenosis pulmonal
defek septum ventrikel
Overiding aorta
Tekanan Sistolik puncak
Ventrikel kanan = kiri
Obstruksi>>>berat
Obstruksi aliran darah
Keluar ventrikel kanan
Penurunan aliran
Darah paru
Penurunan O2
Dalam darah

hipertrofi ventrikel Aliran darah


kanan
aorta meningkat

Pencampuran darah kaya


O2 dengan CO2

Hipoksia
Sesak
Kelemahan tubuh

sianosis (blue spells)


hipoksia

Anak cepat lelah saat


menyusui
Asidosis metabolic
gg.pola nafas

gg.pertukaran gas

Penurunan O2 di otak
penurunan
kejang
Kesadaran
resiko cidera

gg.nutrisi kurang dr kebutuhan

Keperawatan Anak

Page 7

Kompensasi
Polisitemia
Thrombosis

perdarahan

PK:embolisme

gg.perfusi jaringan

jangka panjang sirkulasi kolateral


gg.keseimbangan cairan dan elektrolit

paru

2.6 Manifestasi Klinis


a. Sianosis, muncul setelah periode neonatal, walaupun anak yang mengalami
obstruksi aliran ventrikular kanan derajat rendah dapat asianotik.
b. Serangan hipersianotik selama masa bayi, juga dikenal sebagai Tet Spells.
Peningkatan frekuensi dan kedalaman pernapasan
Dispnea awitan mendadak
Perubahan kesadaran, iritabilitas sistem saraf pusat yang dapat berkembang
sampai latergi dan sinkop serta akhirnya menimbulkan kejang, stroke dan
kematian (terjadi pada 35% kasus).
c. Jari tabuh (clubbing)
d. Pada awalnya tekanan darah normal, dapat meningkat setelah beberapa tahun
mengalami sianosis dan polisitemia berat.

Keperawatan Anak

Page 8

e. Posisi jongkok klasik, mengurangi aliran balik vena dari ekstremitas bawah dan
meningkatkan aliran darah pulmonal dan oksigenasi arterial sistemik.
f. Gagal tumbuh
g. Anemia (jika terdapat hipoksia dan polisitemia berat), menyebabkan perburukan
h.
i.
j.
k.

gejala.
Penurunan toleransi terhadap latihan.
Asidosis
Murmur (murmur ejeksi sistolik pada garis sternal kiri atas).
Posisi lutut atau kepala ke dada selama serangan atau setelah latihan.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


a.

Pemeriksaan laboratorium
Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat
saturasi oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18
gr/dl dan hematokrit antara 50-65 %. Nilai BGA menunjukkan peningkatan
tekanan partial karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan parsial oksigen
(PO2) dan penurunan PH.pasien dengan Hn dan Ht normal atau rendah
mungkin menderita defisiensi besi.

b.

Radiologis
Sinar X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah pulmonal,
tidak ada pembesaran jantung . gambaran khas jantung tampak apeks jantung
terangkat sehingga seperti sepatu.

c.

Elektrokardiogram
Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan. Tampak pula
hipertrofi ventrikel kanan. Pada anak besar dijumpai P pulmonal

d.

Ekokardiografi
Memperlihatkan dilatasi aorta, overriding aorta dengan dilatasi ventrikel
kanan,penurunan ukuran arteri pulmonalis & penurunan aliran darah ke paruparu

e.

Kateterisasi
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan untuk mengetahui defek
septum ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri koronari dan mendeteksi

Keperawatan Anak

Page 9

stenosis pulmonal perifer. Mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen,


peningkatan tekanan ventrikel kanan, dengan tekanan pulmonalis normal atau
rendah.
2.8 Komplikasi
Komplikasi dari Tetralogi fallot pada anak yaitu:
a. Trombosis otak
Biasanya terjadi pada vena cerebralis atau sinus dura dan kadang-kadang
pada arteri cerebralis, lebih sering bila ada polisitemia berat. Dapat juga
dipercepat dengan dehidrasi. Trombosis paling sering terjadi pada penderita di
bawah usia 2 tahun. Penderita ini dapat menderita anemia defisiensi besi, sering
kali dengan kadar hemoglobin dan hematokrit dalam batas-batas normal.
b. Endokarditis bakterialis
Terjadi pasca bedah rongga mulut dan tenggorokan seperti manipulasi
gigi, tonsilektomi. Infeksi lokal di kulit juga merupakan sumber infeksi. Pada
penderita yang ingin melakukan pembedahan harus melakukan profilaksis
antibiotik.
c. Abses otak
Penderita sering di atas 2 tahun. Gejala berupa demam ringan, atau
perubahan perilaku sedikit demi sedikit. Pada beberapa penderita ada gejala
yang mulainya akut, yang dapat berkembang sesudah riwayat nyeri kepala,
nasea dan muntah. Serangan epileptiform dapat terjadi, terdapatnya tanda-tanda
neurologis local tergantung tempat dan ukuran abses dan adanya kenaikan
tekanan intracranial. Laju endap darah dan hitung sel darah putih biasanya
meningkat.
d. Perdarahan
Pada polisitemia berat, trombosit dan fibrinogen menurun hingga dapat
terjadi ptekie, perdarahan gusi.
e. Anemia relatif
2.9 Penatalaksanaan
Pada penderita yang mengalami serangan sianosis maka terapi ditujukan untuk
memutus patofisiologi serangan tersebut, antara lain dengan cara :
a. Posisi lutut ke dada agar aliran darah ke paru bertambah
b. Morphine sulfat 0,1-0,2 mg/kg SC, IM atau Iv untuk menekan pusat pernafasan
dan mengatasi takipneu.
Keperawatan Anak

Page 10

c. Bikarbonas natrikus 1 Meq/kg BB IV untuk mengatasi asidosis


d. Oksigen dapat diberikan, walaupun pemberian disini tidak begitu tepat karena
permasalahan bukan karena kekuranganoksigen, tetapi karena aliran darah ke
paru menurun. Dengan usaha diatas diharapkan anak tidak lagi takipnea,
sianosis berkurang dan anak menjadi tenang. Bila hal ini tidak terjadi dapat
dilanjutkan dengan pemberian :
e. Propanolo l 0,01-0,25 mg/kg IV perlahan-lahan untuk menurunkan denyut
jantung sehingga seranga dapat diatasi. Dosis total dilarutkan dengan 10 ml
cairan dalam spuit, dosis awal/bolus diberikan separohnya, bila serangan belum
teratasi sisanya diberikan perlahan dalam 5-10 menit berikutnya.
f. Ketamin 1-3 mg/kg (rata-rata 2,2 mg/kg) IV perlahan. Obat ini bekerja
meningkatkan resistensi vaskuler sistemik dan juga sedatif
g. penambahan volume cairan tubuh dengan infus cairan dapat efektif dalam
penganan serangan sianotik. Penambahan volume darah juga dapat
meningkatkan curah jantung, sehingga aliran darah ke paru bertambah dan
aliran darah sistemik membawa oksigen ke seluruh tubuh juga meningkat.
Lakukan selanjutnya
a. Propanolol oral 2-4 mg/kg/hari dapat digunakan untuk serangan sianotik
b. Bila ada defisiensi zat besi segera diatasi
c. Hindari dehidrasi
Pembedahan
a. Bedah paliatif
Bedah paliatif yang biasa dilakukan adalah operasi B-T (BlalockTaussig) Shunt yang bertujuan meningkatkan sirkulasi pulmonal dengan
menghubungkan a.subklavia dengan a.pulmonalis yang ipsilateral. Umumnya
operasi paliatif dilakukan pada bayi kecil atau dengan hipoplasia a.pulmonalis
dan pasien yang sering mengalami sianotik. Selain BT Shuntterdapat pula Potts
Shunt, Waterston Shunt, dan Glenn Shunt. Tetapi BT Shunt merupakan yang
paling sering digunakan karena memberikan hasil yang paling baik. Tetapi BT
Shunt juga menimbulkan beberapa komplikasi walaupun angka kejadiannya
sangat kecil. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain : hipoplasia pada
lengan, gangren pada digitalis, cedera nervus frenikus, stenosis a.pulmonal.
b. Bedah Korektif
Pada bedah korektif dilakukan koreksi total yang dapat didahului atau
tanpa bedah paliatif. Bila arteri pulmonalis tidak terlalu kecil, umumnya koreksi
total dilakukan pada pasien tetralogi Fallot di bawah usia 2 tahun.

Keperawatan Anak

Page 11

2.10 Prognosis
Menurut Prof.Dr.dr.A. Samik Wahab, SpA(K) dalam bukunya yang
berjudul Penyakit Jantung Anak tahun 2003 prognosis bayi dengan TOF
sangat bergantung pada beratnya lesi. Bayi dengan atresi pulmonal atau
stenosis pulmonal yang berat bila tidak segera di operasi akan meninggal
karena hipoksia. Jarang hidup melebihi umur 1 tahun. Bila penderita seperti
ini dapat hidup melebihi tahun pertama, berarti pada penderita tersebut timbul
sirkulasi kolateral bronchial yang intensif. Pada penderita dengan sianosis
berat dengan polisetemia dan tidak dapat bekerja karena dispnea, biasanya
sukar mencapai umur 20 tahun.
Penderita yang lebih ringan (penderita golongan 3) yang sianosisnya
timbul pada waktu umur setahun. Serangan hipoksia hanya kadang-kadang
terjadi pada umur setahun, tetapi sebagian besar penderita tanpa keluh kesah
sampai dapat berjalan. Oleh karena itu, penderita tipe ini dapat hidup sampai
umur 30 tahun.
Penderita yang pada waktu bayi sampai masa kanak-kanak tidak
sianosis (penderita golongan 2) dan kalau bekerja hanya timbul keluh kesah
ringan, pendrita tipe ini dapat hidup sampai kurang lebih 40 tahun.
2.11Pencegahan
a. Pemenuhan nutrisi yang baik pada ibu hamil;
b. usia maksimal ibu prenatal tidak lebih 40 tahun;
c. Menghindari pajanan sinar x.

Keperawatan Anak

Page 12

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan langkah awal dari tahapan proses keperawatan. Dalam
melakukan pengkajian, harus memperhatikan data dasar pasien. Pengkajian yang
perlu dilakukan pada klien anak dengan Tetralogi of fallot diantaranya adalah:

A. Pengkajian Umum
1. Identitas pasien
Pada sebagian besar kasus, diagnosis kelainan ini ditegakkan setelah
melewati masa neonatus, ditemukan pada anak yang berusia diatas 5 tahun
dan prevalensi menurun setelah berumur 10 tahun.
2. Riwayat Kesehatan Pasien
a. Keluhan utama
1 Dispnea terjadi bila penderita melakukan aktivitas fisik.
2 Berat badan bayi tidak bertambah
b. Riwayat penyakit dahulu
Anak yang sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan
c. Riwayat penyakit sekarang
1. sesak saat beraktivitas
2.
3.
4.
5.

berat badan bayi tidak bertambah


pertumbuhan berlangsung lambat
jari tangan clubbing (seperti tabuh genderang)
kebiruan

3. Riwayat kesehatan keluarga

Keperawatan Anak

Page 13

Tetralogi of falot biasanya juga bisa dikarenakan kelainan genetik,


seperti sindrom down, adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti
hipertensi,diabetes mellitus, penyakit jantung atau kelainan bawaan.
4. Riwayat kehamilan dan persalinan
Adanya penyakit rubela atau infeksi virus lainnya pada ibu saat hamil
khususnya bila terserang pada trimester 1, penggunaan obat-obatan tanpa
resep dokter seperti talidomid,dextroamphetamine,aminopterin,jamu.
5. Riwayat tumbuh
Biasanya anak cendrung mengalami keterlambatan pertumbuhan
karena fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori sebagai akibat
dari kondisi penyakit.
6. Riwayat psikososial/ perkembangan
a. Kemungkinan mengalami masalah perkembangan.
b. Mekanisme koping anak/ keluarga.
c. Pengalaman hospitalisasi sebelumnya
7. Riwayat kesehatan lingkungan
Tidak ada hubungan atau keterkaitan.
8. Imunisasi
Tidak ada hubungan atau keterkaitan.
B. Pengkajian Khusus
1. Persepsi terhadap kesehatan manajemen kesehatan
Tidak dapat terkaji.
2. Pola aktivitas dan latihan
Pasien tetralogi fallot mengalami intoleransi aktivitas sehingga pola
aktivitas dan latihan mengalami penurunan sehingga dapat mempengaruhi
proses tumbuh kembang dari pasien itu sendiri.
3. Pola istirahat dan tidur
Anak yang menderita tetralogi fallot membutuhkan pola istirahat yang
cukup, teratur, dan lebih banyak daripada anak normal untuk menghindari
kelelahan yang terjadi serta meminimalkan terjadinya intoleransi aktivitas
sehingga dapat mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak sendiri.
4. Pola nutrisi dan metabolik
Pasien tetralogi fallot dapat mengalami penurunan nafsu makan yang
dapat berakibat status nutrisi pada pasien tetralogi fallot berada pada rentang
gizi sedang dan gizi buruk. Status gizi seorang anak dapat dihitung dengan
rumus (BB terukur dibagi BB standar) X 100 %, dengan interpretasi yaitu
<60% (gizi buruk), <30% (gizi sedang) dan >80% (gizi baik).
5. Pola eliminasi
Pola eliminasi pasien tetralogi of fallot normal.
Keperawatan Anak

Page 14

6. Pola kognitif perceptual


Pasien tetralogi of fallot mengalami gangguan tumbuh kembang karena
fatiq selama makan.
7. Konsep diri
Pasien tetralogi fallot dapat mengalami gangguan citra diri karena
kelemahan dan adanya keadaan patologi dalam tubuhnya.
8. Pola koping
Tidak ada hubungan dan keterkaitan.
9. Pola seksual reproduksi
Tidak ada hubungan dan keterkaitan.
10. Pola peran hubungan
Tidak ada hubungan dan keterkaitan.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Tidak ada hubungan dan keterkaitan.
C. Pemerikaan Fisik
1. Keadaan umum
a. Kesadaran
Kesadaran pasien ventrikel septum defek dapat mengalami penurunan
karena ketidakadekuatan suplai O2 dan nutrisi ke jaringan dan otak.
b. Sirkulasi
Pada auskultasi terdengar bising sistolik yang keras di daerah pulmonal
yang semakin melemah dengan bertambahnya derajat obstruksi.
c. Respirasi
Sering sianotik mendadak ditandai dengan dyspnea, napas cepat dan
dalam, lemas, kejang, sinkop bahkan sampai koma dan kematian.
d. Eliminasi
Sistem eliminasi pada pasien tetralogi of fallot dalam batas normal.
e. Neurosensori
Sistem neurosensori pasien tetralogi of fallot dalam batas normal.
f. Gastrointestinal
Ginggiva hipertrofi, gigi sianotik

g. Muskuloskeletal
Bentuk dada bayi masih normal, namun pada anak yang lebih besar
tampak menonjol akibat pelebaran ventrikel kanan
h. Integumen

Keperawatan Anak

Page 15

Pada awal bayi baru lahir biasanya belum ditemukan sianotik, bayi
tampak biru setelah tumbuh. Clubbing finger tampak setelah usia 6 bulan
i. Endokrin
Sistem endokrin pada pasien tetralogi fallot dalam batas normal.
j. Reproduksi
Sistem reproduksi pada pasien tetralogi fallot dalam batas normal.
2. Inspeksi
a. Status nutrisi
Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan
dengan penyakit jantung.
b. Warna
Sianosis merupakan gambaran umum dari penyakit jantung congenital.
c. Deformitas dada
Bentuk dada menonjol akibat pelebaran ventrikel kanan
d. Pulsasi tidak umum
Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.
e. Ekskursi pernafasan
Pernafasan dispnea, nafas cepat dan dalam.
f. Jari tabuh
Berhubungan dengan beberapa tipe penyakit jantung congenital,
clubbing finger
g. Perilaku
Anak akan sering squatting (jongkok) setelah anak dapat berjalan,
setelah berjalan beberapa lama anak akan berjongkok dalam beberapa
waktu sebelum ia berjalan kembali.
3. Palpasi dan perkusi
a. Dada
Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan karakteristik
lain (seperti thrill, vibrasi yang dirasakan pemeriksa saat mempalpasi)
yang berhubungan dengan penyakit jantung.
b. Nadi perifer
Frekuensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat menunjukkan
ketidaksesuaian.
4. Auskultasi
a. Jantung
Mendeteksi adanya murmur jantung.
b. Frekuensi dan irama jantung
Observasi adanya ketidaksesuaian antara nadi apikal dan perifer.
c. Karakteristik bunyi jantung
Bunyi jantung I normal, sedang bunyi jantung II tunggal dan keras
d. Paru-paru
Menunjukkkan adanya sesak nafas.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium

Keperawatan Anak

Page 16

Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht)


akibat saturasi oksigen yang rendah. Nilai AGD menunjukkan
peningkatan tekanan partial karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan
parsial oksigen (PO2) dan penurunan pH. Pasien dengan Hb dan Ht
normal atau rendah mungkin menderita defisiensi besi. Nilai juga faktor
pembekuan darah (trombosit, protombin time)
b. Radiologis
Sinar X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah pulmonal,
tidak ada pembesaran jantung . Tampak pembesaaran aorta asendens.
Gambaran khas jantung tampak apeks jantung terangkat sehingga seperti
sepatu.
c. Elektrokardiogram
Pada neonatus EKG tidak berbeda dengan anak normal. Pada anak
mungkin gelombang T positif di V1, EKG sumbu QRS hampir selalu
berdeviasi ke kanan. Tampak pula hipertrofi ventrikel kanan.
Gelombang P di hantaran II tinggi (P pulmonal)
d. Ekokardiografi
Memperlihatkan dilatasi aorta, overriding aorta dengan dilatasi
ventrikel kanan,penurunan ukuran arteri pulmonalis & penurunan
aliran darah ke paru-paru.
e. Kateterisasi
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan untuk mengetahui defek
septum ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri koronari dan
mendeteksi stenosis pulmonal perifer. Melihat ukuran a.pulmonalis.
Mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen, peningkatan tekanan
ventrikel kanan, dengan tekanan pulmonalis normal atau rendah.

Keperawatan Anak

Page 17

3.2 ANALISA DATA


No.
1.

Data Fokus
DS: -

Etiologi
sirkulasi yang tidak

DO:

efektif sekunder

a. dispnea;

dengan adanya

b. mudah lelah.

malformasi jantung

Masalah
Penurunan kardiac output

c. WPK<3
2.

d. Akral dingin
DS: -

ketidakseimbangan

DO:

antara suplai dan

a. Dispneu

Intoleransi aktivitas

kebutuhan oksigen

b. Kelemahan
3.

c. sianosis
DS: -

fatiq selama makan

Gangguan nutrisi kurang

DO:

dan peningkatan

dari kebutuhan

a. Berat Badan rendah/tidak


bertambah
b. Pertumbuhan lambat

Keperawatan Anak

kebutuhan
kalori,penurunan
nafsu makan

Page 18

3.3 DIAGNOSA
Setelah pengumpulan data, menganalisa data, dan menentukan diagnosa
keperawatan yang tepat sesuai dengan data yang ditemukan, kemudian direncanakan
membuat prioritas diagnosa keperawatan, membuat kriteria hasil, dan intervensi
keperawatan.
1. Penurunan kardiak output b.d sirkulasi yang tidak efektif sekunder dengan
adanya malformasi jantung
2. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d fatiq selama makan dan
peningkatan kebutuhan kalori,penurunan nafsu makan
4. Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan sirkulasi (anoxia kronis , serangan
sianotik akut)
5. Gangguan pertukaran gas b.d penurunan alian darah ke pulmonal
6. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai oksigen
dan zat nutrisi ke jaringan
7. Koping keluarga tidak efektif b.d kurang pengetahuan klg tentang
diagnosis/prognosis penyakit anak
8. Risti gangguan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intrakranial
sekunder abses otak, CVA trombosis

Keperawatan Anak

Page 19

3.4 PERENCANAAN
1.

Penurunan cardiac output

berhubungan dengan sirkulasi yang tidak efektif dengan adanya malformasi


jantung.
Kriteria Hasil :
Setelah diberi asuhan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan gangguan
pertukaran gas dalam tubuh klien, dapat diatasi dengan outcome :
a. bernafas dengan normal yaitu 25 32 x/menit
b. saturasi O2 kembali normal.
c. warna kebiruan yang timbul pada tubuh dapat berkurang
Intervensi :
a. Melakukan observasi terhadap tanda tanda vital klien.
Rasional
: Dari data tanda tanda vital yang di padat dari pasien
melalui observasi dapat sebagai acuan untuk
menentukan tindakan yang dapat diberikan kepada
pasien.
b. Observasi adanya serangan sianosis yuang di alami klien.
Rasional
: Untuk membandingkan dengan pasien sebelumnya,
sehingga dapat membantu dalam diagnosa etiologi dan
untuk menentukan tindakan selanjutnya.
c. Berikan posisi knee chest pada klien.
Rasional
:Dari tindakan tersebut diharapkan dapat mempermudah
aliran darah.
d. Sediakan waktu istirahat yang cukup bagi anak dan dampingi anak pada
saat melakukan aktivitas.
Rasional
: Agar klien tidak terlalu kecapekan saat melakukan
sesuatu, dan agar dapat memantau sejauh mana klien
dapat beraktivitas sebelum klien merasa lelah.
e. Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG danfoto thorax serta
kolaborasi dalam tindakan pembedahan.
Rasional
: Untuk mengetahui, keadaan dan kondisi kelainan yang
terdapat pada jantung, juga untuk mengatasi masalah
menurunnya cardiac output karena adanya defeks
ventrikel.

Keperawatan Anak

Page 20

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai


dan kebutuhan oksigen
Kriteria hasil :
Klien menunjukkan kemampuan beraktivitas tanpa gejala-gejala yang berat,
terutama mobilisasi di tempat tidur.
Intervensi
a. Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah
melakukan aktivitas.
Rasional : Respons klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan
penurunan oksigen jantung.
b. Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan berikan aktivitas senggang yang
tidak berat.
Rasional : Menurunkan kerja dan konsumsi oksigen jantung.
c. Anjurkan menghindari peningkatan tekanan abdomen seperti mengejan
saat defekasi.
Rasional : Mengejan mengakibatkan kontraksi otot dan vasokontriksi
yang dapat meningkatkan preload, tahanan vascular sistemis,
dan beban jantung.
d. Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas.
Rasional : Aktivitas yang maju memberikan kontrol jantung,
meningkatkan regangan, dan mencegah aktivitas berlebihan.
e. Pertahankan klien tirah baring sementara sakit akut.
Rasional : Untuk mengurangi beban kerja jantung.
f. Posisikan klien dengan meninggikan kaki klien.
Rasional : Untuk meningkatkan aliran balik vena.
g. Pertahankan tentang gerak pasif selama sakit kritis.
Rasional : Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu aliran balik
vena.
h. Evaluasi tanda vital saat kemajuan aktivitas terjadi.
Rasional : Untuk mengetahui fungsi jantung, bila dikaitkan sengan
aktivitas.
i. Berikan waktu istirahat di antara waktu aktivitas.
Rasional : Untuk mendapatkan cukup waktu resolusi bagi tubuh dan
tidak terlalu memaksa kerja jantung.
j. Pertahankan penambahan oksigen sesuai kebutuhan.
Rasional : Untuk meningkatkan oksigenasi jaringan.
k. Selama aktivitas kaji EKG, dispnea, sianosis, kerja napas, dan frekuensi
napas serta keluhan subjektif.
Rasional : Untuk mengetahui dampak dari aktivitas terhadap fungsi
jantung.
l. Berikan diet sesuai kebutuhan (pembatasan cairan dan natrium)
Rasional : Untuk mencegah retensi cairan dan edema akibat penurunan
kontraktilitas jantung.
Keperawatan Anak

Page 21

m. Rujuk ke program rehabilitasi jantung.


Rasional : Meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk kebutuhan
miokardium.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

3.

dengan fatigue selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori,


penurunan nafsu makan yang ditandai dengan berat badan kurang dari
normal.
Kriteria Hasil :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan
penurunan cardiac output pada klien dapat diatasi, dengan outcome :
a. denyut nadi klien kembali normal, yaitu 90 140 x/mnt
b. Klien tidak terlihat pucat.
c. Klien tidak terlihat lemah.
d. mengalami sianosis pada tubuhnya.
Intervensi :
a. Melakukan observasi terhadap tanda tanda vital klien.
Rasional : Dari data tanda tanda vital yang di padat dari pasien melalui
observasi dapat sebagai acuan untuk menentukan tindakan yang
dapat diberikan kepada pasien.

b. Buat ketententuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian.


Rasional : Malnutrisi adalah kondisi gangguan minat yang yang
menyebabkan depresi, agitasi dan mempengaruhi fungsi
kognitif /pengambilan kmeputusan. perbaikan status nutrisi
dapat meningkatkan keputusan. Perbaikan status nutrisi,
meningkatkan kemampuan berpikir dan kerja psikologis.
c. Timbang berat badan anak setiap pagi tanpa diaper pada alat ukur yang
sama, pada waktu yang sama dan dokumentasikan.
Rasional : Mambari cacatan lanjut penurunan dan atau peningkatan berat
berat badan yang akurat. Juga untuk menurunkan obsesi
tentang peningkatan dan atau penurunan.
d. Catat intake dan output secara akurat.
Rasional : Hal itu untuk memantau masukan dan keluaran, sehingga
berat badan klien juga dapat terpantau lewat itu.
Keperawatan Anak

Page 22

e. Berikan makan sedikit tapi sering.


Rasional : Walaupun klien mengalami fatiq saat makan, aktivitas makan
klien harus tetap ditingkatkan untuk mengurangi kelemahan
disesuaikan dengan aktivitas selama makan
f. Berikan makan yang tinggi protein dan tinggi kalori.
Rasional : Makan yang mengandung banyak protein dan kalori adalah
makan yang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
g. Kolaborasi dengan merujuk pasien ke ahli gizi.
Rasional : Perlu bantuan diet dalam perencanaan diet yang memenuhi
kebutuhan nutrisi.
4. Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan sirkulasi (anoxia kronis ,
serangan sianotik akut)
Kriteria Hasil :
a.Klien tidak mengeluh pusing.
b.
Tanda vital dalam batas normal.
c.CRT < 3 detik.
d.
Urine > 600 ml/ hari.

Intervensi :
a. Ukur tekanan darah. Bandingkan kedua lengan, ukur dalam keadaan
berbaring, duduk, atau berdiri bila memungkinkan.
Rasional

: Hipotensi dapat terjadi sehubungan dengan disfungsi


ventrikel, hipertensi juga merupakan fenomena umum yang
berhubungan dengan nyeri, cemas, dan pengeluaran
katekolamin.

b. Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer, dan diaphoresis secara
teratur.
Rasional

: Mengetahui derajat hipoksemia dan peningkatan tahanan


perifer.

c. Kaji kualitas peristaltic, jika perlu pasang slang nasogastrik.


Rasional

: Mengetahui pengaruh hipoksia terhadap fungsi saluran


cerna serta dampak penurunan elektrolit.

Keperawatan Anak

Page 23

d. Kaji adanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas.


Rasional

: Sebagai dampak gagal jantung kananberat akan ditemukan


adanya tanda kongesti pada hepar.

e. Pantau urine output klien.


Rasional

: Penurunan curah jantung mengakibatkan menurunnya


produksi urine, pemanyauan yang ketat pada produksi urine
< 600 ml/ hari merupakan tanda-tanda terjadinya syok
kardiogenik.

f. Cacat adanya murmur


Rasional

: Menunjukkan gangguan aliran darah dalam jantung


(kelainan katup, kerusakanseptum, atau vibrasi otot
paliparis)

g. Pantau frekuensi jantung dan irama jantung.


Rasional

: Perubahan frekuensi dan irama jantung menunjukkan


komplikasi disritmia.

h. Berikan makanan kecil/mudah dikunyah, batasi intake kafein.


Rasional

: Makanan besar dapat meningkatkan kerja jantung. Kafein


dapat merangsang langsung ke jantung sehingga
meningkatkan frekuensi jantung.

i. Kolaborasi dengan pertahankan cara masuk heparin (IV) sesuai indikasi.


Rasional

: Jalur yang paten penting untuk pemberian obat darurat.

5. Gangguan pertukaran gas b.d penurunan alian darah ke pulmonal


Kriteria Hasil :

Keperawatan Anak

Page 24

Setelah diberi asuhan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan tanda tanda vital


klien ada pada kondisi normal, dengan outcame :
a. HR : 90 140 x/menit
b. RR : 25 32 x/menit
c. BP : 95/65 mmHg
d. T : 35,5 39OC
Intervensi :
a. Melakukan observasi terhadap tanda tanda vital klien
Rasional

: Dari data tanda tanda vital yang di padat dari pasien


melalui observasi dapat sebagai acuan untuk menentukan
tindakan yang dapat diberikan kepada pasien.

b. Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas.


Rasional

: Manifestasi distress pernafasan tergantung pada drajat


keterlibatan paru dan kesehatan umum.

c. Observasi warna kulit, membrane mukosa, dan kuku, catat adanya


sianosis periferatau sianosis sentral.
Rasional

: Untuk menentukan tindakan lebih lanjut jika sianosis


berkurang atau malah bertambah parah.

d. Kolaborasi pemberian terapi oksigen dengan benar. Missal, dengan masal,


masker atau masker venture.
Rasional

: Kebutuhan oksigen klien terpenuhi dan mengurangi


kekurangan oksigen pada klien. Oksigen diberikan dengan
metode yang sesuai dengan keadaan klien.

6. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai


oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
Kriteria Hasil :
Perkembangan status penuaan fisik normal yang dibuktikan dengan indicator
sebagai berikut :

Keperawatan Anak

Page 25

a. Anak akan mencapai norma pertumbuhan yaitu persentil ke-97 atau di


bawah persentil ke-3 untuk usianya.
b. Anak akan mencapai tahapan penting perubahan fisik, kognitif, dan
kemajuan psikososial sesuai rentang yang diharapkan.
c. Kematangan fisik akan berkembang secara normal
Intervensi :
a. Ajarkan orang tua untuk memfasilitasi motorik kasar, motorik halus,
kognitif, social, dan pertumbuhan emosi yang optimal pada anak.
Rasional : Untuk meningkatkan perkembangan pasien.
b. Lakukan pengumpulan dan analisis data nutrisi pasien.
Rasional

: Pemantauan nutrisi pasien untuk mencegah atau


meminimalkan malnutrisi.

c. Berikan terapi nutrisi pada pasien.


Rasional

: Pemberian makanan dan cairan untuk mendukung proses


metabolic pasien yang malnutrisi atau berisiko tinggi
terhadap malnutrisi.

d. Fasilitasi tanggung jawab diri.


Rasional

: Mendukung pasien untuk menerima tanggung jawab yang


lebih atas perilaku dirinya.

7. Koping keluarga tidak efektif b.d kurang pengetahuan klg tentang


diagnosis/prognosis penyakit anak
Kriteria Hasil :
Dengan diberikannya asuhan keperawatan pada klien selama 1 x 24 jam
diharapkan, koping keluarga tidak efektif dapat diatasi dengan outcome :
a. Orang tua klien menjadi tenang dan tidak cemas.
Intervensi :
Keperawatan Anak

Page 26

a. Melakukan observasi terhadap tanda vital klien.


Rasiona

: Dari data tanda vital yang di padat dari pasien melalui


observasi dapat sebagai acuan untuk menentukan tindakan
yang dapat diberikan kepada pasien.

b. Beri kesempatan pada klien untuk menghadapi situasi dan


memperlihatkan kondisi yang sedang dihadapi klien saat ini.
Rasional

: Untuk mengeksplorasi keadaan perasaan keluarga klien


untuk memberikan tindakan pada keluarga klien

c. Jangan memberi jaminan palsu. Tekankan kemampuan mereka untuk


mengatasi secara efektif.
Rasional

: Dalam berkomunikasi dengan keluarga klien diharapkan


tidak member janji tentang kesembuhan klien, karena
sebagai para medis perawat hanya bisa berusaha.

d. Gali teknik yang dapat meningkatkan koping.


Rasional

: Dengan pemberian teknik teknik yang baik dalam


meningkatkan koping keluarga, dapat lebih menenangkan
klien sehingga tidak panic dalam menghadapi penyakit
klien.

e. Pemberian HE pada klien terhadap penangan yang dapat dikalukan oleh


kluarga pada klien.
Rasional

: Dengan pemberian HE pada klien, klien lebih mengerti


tentang penyakit yang dialami oleh anak mereka sehingga
mampu member penangan yang tepat pada anak klien.

f. Tetapkan metode untuk mendapat informasi dan dukungan.


Rasional

: Agar keluarga klien dapat mencari informasi dan


berkonsultasi dengan tim medis lain yang dapat member

Keperawatan Anak

Page 27

pengetahuan yang lebih akurat tentang penyakit yang


diderita oleh anak mereka

3.5 IMPLEMENTASI
Implementasi ini disusun menurut Patricia A. Potter (2005)
Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan keperawatan
yang telah disusun / ditemukan, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien
secara optimal dapat terlaksana dengan baik dilakukan oleh pasien itu sendiri
ataupun perawat secara mandiri dan juga dapat bekerjasama dengan anggota tim
kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan fisioterapis. Perawat memilih intervensi
keperawatan yang akan diberikan kepada pasien. Berikut ini metode dan langkah
persiapan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yang dapat dilakukan oleh
perawat :
a.Memahami rencana keperawatan yang telah ditentukaan
b. Menyiapkan tenaga dan alat yang diperlukan
c.Menyiapkan lingkungan terapeutik
d. Membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
e.Memberikan asuhan keperawatan langsung
f. Mengkonsulkan dan memberi penyuluhan pada klien dan keluarganya.
Implementasi membutuhkan perawat untuk mengkaji kembali keadaan
klien, menelaah, dan memodifikasi rencana keperawatn yang sudah ada,
mengidentifikasi area dimana bantuan dibutuhkan untuk mengimplementasikan,
mengkomunikasikan intervensi keperawatan.
Implementasi dari asuhan keperawatan juga membutuhkan pengetahuan
tambahan keterampilan dan personal. Setelah implementasi, perawat menuliskan
dalam catatan klien deskripsi singkat dari pengkajian keperawatan, Prosedur
spesifik dan respon klien terhadap asuhan keperawatan atau juga perawat bisa
mendelegasikan implementasi pada tenaga kesehatan lain termasuk memastikan
bahwa orang yang didelegasikan terampil dalam tugas dan dapat menjelaskan
tugas sesuai dengan standar keperawatan.

Keperawatan Anak

Page 28

3.6 EVALUASI
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, maka diharapkan pasien dalam keadaan
normal, seperti:
a. Tanda-tanda vital normal sesuai umur.
b. Tidak ada dyspnea, napas cepat dan dalam,sianosis, gelisah/letargi ,
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.

takikardi, mur-mur
Pasien komposmentis.
Akral hangat
Pulsasi perifer kuat dan sama pada kedua ekstremitas
Capilary refill time < 3 detik
Urin output 1-2 ml/kgBB/jam.
Anak mau berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dijadwalkan.
Anak mencapai peningkatan toleransi aktivitas sesuai umur.
Fatiq dan kelemahan berkurang.
Anak dapat tidur dengan lelap
Anak menunjukkan penambahan BB sesuai dengan umur.
Peningkatan toleransi makan.
Anak dapat menghabiskan porsi makan yang disediakan.
Hasil lab tidak menunjukkan tanda malnutrisi. Albumin,Hb.
Mual muntah tidak ada.
Anemia tidak ada.

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Tepatnya penanganan dan pemberian asuhan keperawatan pada anak dengan kelainan
jantung bawaan sianotik : tetralogi fallot sangat menentukan untuk kelangsungan hidup
anak mengingat masalah yang komplit yang dapat terjadi pada anak TF bahkan dapat
menimbulkan kematian yang diakibatkan karena hipoksia , syok maupun gagal. Oleh
Keperawatan Anak

Page 29

karena itu perawat harus memiliki keterampilan dan pengetahuan konsep dasar
perjalanan penyakit TF yang baik agar dapat menentukan diagnosa yang tepat bagi anak
yang mengalami tetralogi fallot sehingga angka kesakitan dan kematian dapat ditekan.
4.2 SARAN
Dari penjelasan diatas kita tahu bahwa kita tidak dapat langsung menerima
pengetahuan dijadikan sebuah ilmu. Suatu pengetahuan harus kita teliti kembali dan bisa
kita tunjukkan kebenarannya, barulah hal itu bisa dikatakan sebagai ilmu.

DAFTAR PUSTAKA
A.H Markum. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. Jakarta: Fakultas Kedokteran
UI.
Bambang M,Sri endah R,Rubian S. 2005. Penanganan Penyakit Jantung pada Bayi dan
Anak
Carpenito J.Lynda. 2001. Diagnosa Keperawatan edisi 8. Jakarta:EGC.
Colombro Geraldin C. 1998. Pediatric Core Content At-A- Glance. Lippincott-Philladelphia:
New York.
Doengoes, Marylin E. (2000). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 3.
Jakarta:EGC.
Ngastiah.1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Nelson. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC.
Sacharin,Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi II. Jakarta: EGC.
Samik Wahab. 1996. Kardiologi Anak Nadas. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta,Indonesia
Sudigdo & Bambang. 1994. Buku Ajar Kardiologi Anak. Jakarta:IDAI.
Keperawatan Anak

Page 30

Sharon,Ennis Axton. 1993. Pediatric Care Plans. Cumming Publishig Company: California.
Whaley and Wong. 1995. Essential of Pediatric Nursing. Cv.Mosby Company: Toronto.

Keperawatan Anak

Page 31