Anda di halaman 1dari 6

Anamnesis ITP1

Langkah langkah anamnesis dilakukan oleh dokter terhadap pasien adalah :


a. Anamesis penyakit, meliputi : keluhan utama dan keluhan tambahan
Berbagai keluhan yang dapat dijumpai pada pasien adalah :

perdarahan gusi

perdarahan dari hidung

mudah memar

purpura (perdarahan kecil di dalam kulit)

petekia (bintik merah kecil)

perdarahan saluran pencernaan

menometrorrhagia (perdarahan dari uterus yang berlebihan). Akibat kurangnya


jumlah trombosit darah tidak dapat dibekukan.

Pemeriksaan Fisik ITP


Jika dokter mencurigai ITP, maka akan dilakukan pemeriksaan kulit pasien yang
dicurigai memar, daerah purpura, atau petekiae. Jika pasien ada riwayat mimisan atau
perdarahan dari mulut atau bagian lain dari tubuh, akan diperiksa penyebab lain dari perdarahan.
Pasien dengan ITP biasanya terlihat dan merasa sehat kecuali apabila terjadi perdarahan. Hal
paling penting diperiksa adalah spleen dan adanya demam. Pasien dengan ITP biasanya tidak
demam, sedangkan pasien dengan lupus atau adanya trombositopenia biasanya demam.1

Pemeriksaan Penunjang ITP2,3

Pemeriksaan darah rutin


Pada

pemeriksaan

darah

rutin

sering

terjadi

penurunan

jumlah

trombosit

(trombositopenia) antara 10.000 50.000/mmk

Morfologi darah tepi


Pemeriksaan pada darah tepi sering ditemukan gambaran trombosit berukuran besar
(megatrombosit)
Gambaran sumsum tulang memperlihatkan megakariosit dan megatrombosit pada
morfologi darah tepi : megakariosit megatrombosit

Pemeriksaan sumsum tulang


Pada sumsum tulang dijumpai peningkatan jumlah megakariosit imatur dan agranuler
yang tidak mengandung trombosit

Uji penapisan koagulasi


Pada uji penapisan koagulasi ditemukan masa perdarahan (bleeding time) memanjang,
tetapi masa pembekuan (clotting time), activated partial thromboplastin time (APTT),
dan plasma prothrombin time (PPT) normal.

Pemeriksaan imunologi
Pada pemeriksaan imunologi dapat pula ditemukan adanya antiplatelet IgG pada
permukaan trombosit atau dalam serum, yang lebih spesifik yaitu antibodi terhadap Gp
IIb/IIIa dan Gp Ib

Diagnosa ITP

Perdarahan gusi dan epistaksis sering terjadi, ini dapat berasal dari lesi petekie pada
mukosa nasal, juga dapat ditemukan pada tenggorokan dan mulut. Traktus genitourinarius
merupakan tempat perdarahan yang paling sering, menoragia dapat merupakan komplikasi yang
paling serius pada ITP. Hal ini mengenai hampir 1% pasien dengan trombositopenia berat.
Perdarahan biasanya di subaraknoid, sering multipel, dan ukuran bervariasi dari petekie sampai
ekstravasasi darah yang luas.1,4
Manifestasi Klinis4
ITP Akut
Sering pada anak
Onset mendadak
Sering didahului infeksi
Dapat dijumpai eksantema

ITP Kronik
Dewasa
Onset tidak menentu
Infeksi jarang terjadi

(rubeola/rubella), ISPA, VZV, dan EBV

Ekimosis, petekie, purpura.


Frekuensi perdarahan terkait
dengan jumlah trombosit.

Trombosit > 50.000/uL:


asimptomatik

Trombosit 30.000 50.000/uL:


luka memar/hematoma

Trombosit 10.000 30.000/uL:


perdarahan spontan, menoragia,
perdarahan memanjang pada luka.

Trombosit

<

10.000/uL:

perdarahan mukosa dan risiko


perdarahan SSP
Perdarahan ringan paling sering,

Perdarahan ringan-sedang, selama

perdarahan intrakranial hanya < 1%


Self-limiting; remisi spontan terjadi pada

beberapa hari-minggu, intermiten/kontinu


Remisi spontan jarang terjadi

90% pasien
ITP akut dewasa keadaannya lebih buruk

Klinis fluktuatif

Kriteria diagnosis1,4

Diagnosa pasti ditegakkan atas dasar thrombositopenia dengan penyebab yang tidak
diketahui.
a) Trombositopeni (megatrombosit): (<150.000/mcL), darah lain normal
b) Ruam purpura, petekiae
c) Perdarahan konjungtiva, perdarahan selaput lendir lain
d) Sumsum tulang (bagi sitopenia & tidak respon dengan terapi) : banyak megakariosit dan
agranuler, atau tidak mengandung trombosit
e) Usia dewasa 18-40 tahun, sering pada wanita 2-3 kali dari pria
f) Splenomegali ringan, tidak ada limfadenofati
g) ITP akut : berumur < 10 thn, =
h) ITP kronis (> 6 bln) : lebih sering pada remaja, >
i) Tidak musiman
j) Megakariosit dalam sumsum tulang yang agranuler.
Diagnosa pada Ibu Hamil
Diagnosa ITP selama kehamilan cukup sulit dilakukan, karena jumlah sel-sel darah
merah pada wanita hamil memang cukup rendah. Sekitar 5% wanita hamil memiliki jumlah sel
darah merah yang normalnya juga cukup rendah di masa kehamilan tuanya. Penyebabnya juga
tidak diketahui. Tetapi kondisi ini akan kembali normal sesaat setelah proses bersalin dilakukan.
Bayi yang lahir dari seorang ibu yang penderita ITP kemungkinan juga memiliki jumlah sel
darah merah yang rendah dalam tubuhnya. Kodisi ini biasa berlangsung selama beberapa hari
hingga beberapa minggu setelah ia dilahirkan. Setelah lahir, bayi umumnya tetap dirawat di
rumah sakit untuk keperluan observasi beberapa hari. Sampai diperoleh kepastian bahwa tidak
ada masalah, bayi boleh dibawa pulang ke rumah.1

Diagnosa Banding ITP1,2


a. Anemia aplastik
b. Leukemia akut
c. DIC (Dissaminated intravascular coagulation)
d. TTP-HUS (Thrombotic Thrombocytopenic purpura-hemolytic uremic syndrome)
e. APS (Antiphospholipid antibody syndrome)
f. Myelodysplastic syndrome
g. Hipersplenisme
h. Alcohol liver disease
i. Bentuk Sekunder PTI : SLE, HIV, leukemia limfositik kronik
Pencegahan ITP1
1. Menghindari obat-obatan seperti aspirin atau ibuprofen yang dapat mempengaruhi
platelet dan meningkatkan risiko pendarahan.
2. Lindungi dari luka yang dapat menyebabkan memar atau pendarahan.

Sumber :
1. Sudoyo, Aru W dkk. 2006. Purpura Trombositopenia Idiopatik, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II,
hal : 659. Jakarta: FKUI.
2. Bakta, I Made, Prof. Dr. Hematologi Klinik Ringkas. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. 2006: 241 243

3. Baratawidjaja, Karnen, dkk. 2010. Buku Imunologi Dasar, edisi IX. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.
4. Staf pengajar ilmu kesehatan anak. 2007. Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 1, hal: 479. Jakarta :
FKUI.