Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Topik kesehatan lingkungan pada Riskesdas 2013 bertujuan
untuk mengevaluasi program yang sudah ada, menindaklanjuti upaya
perbaikan yang akan dijalankan, dan mengidentifikasi faktor risiko
lingkungan berbagai jenis penyakit dan gangguan kesehatan.
Dengan

diperolehnya

data

kesehatan

lingkungan

termutakhir,

diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar kebijakan dalam upaya


pengendalian penyakit berbasis lingkungan(Riskesdas, 2013).
Di era yang modern ini masih saja banyak masalah kesehatan
yang di timbulkan oleh serangga, salah satunya adalah masalah yang
di timbulkan oleh nyamuk. Nyamuk merupakan salah satu vektor
penyakit yang dapat di katakan berbahaya dikarenakan ada jenis
nyamuk yang dapat menyebabkan penyakit yang berdampakkan
kematian pada manusia.
Lebih dari tiga ribu spesies nyamuk beterbangan di muka bumi
ini, baik ditempat yang beriklim panas maupun dingin. Meskipun
mampu hidup di kutub, sebagian besar nyamuk lebih suka hidup di
daerah yang beriklim tropis dengan kelembaban tinggi seperti di
Indonesia.
Akibatnya
penyakit,

banyak

karena

dari

masyarakat

Indonesia

yang

kurangnya

memperhatikan

terjangkit
kesehatan

masyarakat di lingkungan mereka sendiri secara tidak langsung


1

mereka juga tidak memperhatikan masalah kesehatan tempat tinggal


mereka. Karena kurangnya memperhatikan kebersihan dan kesehatan
lingkungan tempat tinggal mereka banyak wabah penyakit yang
mudah berkembang di lingkungan yang kurang sehat

(Anonim ,

2010).
Nyamuk mempunyai tempat perindukan atau habitat yang
berbedabeda tergantung dari jenisnya. Setiap daerah mempunyai
spesies nyamuk dengan perilaku danhabitat yang spesifik. Keadaan
ekologi nyamuk ini perlu diperhatikan karena berkaitan erat dengan
peranan nyamuk sebagai penyebar penyakit disuatu wilayah/
permukiman.
Nyamuk adalah salah satu serangga yang akrab dengan
kehidupan

manusia sehari - hari,

kedekatan

nyamuk

dengan

manusia mempunyai arti yang negatife karena peranan nyamuk


yang

amat

merugikan. Umumnya

nyamuk dikenal

sebagai

serangga yang merugikan karena peranannya tidak hanya sebagai


penggaggu dan penghisap darah tetapi yang lebih penting lagi adalah
peranannya sebagai vektor (pembawa) penyakit. Beberapa penyakit
yang dapat ditularkan melalui perantaraan nyamuk adalah demam
berdarah,

malaria, filariasis, Japanese

chikungunya.
Nyamuk

B.Encephalitis

dan

merupakan vektor beberapa penyakit baik pada

hewan mau pun manusia. Banyak penyakit pada hewan dan manusia

dalam penularannya mutlak memerlukan peran nyamuk sebagai


vektor dari agen penyakitnya, seperti filariasis dan malaria. Sebagian
pesies nyamuk dari genus Anopheles dan Culex yang bersifat zoofilik
berperan dalam penularan penyakit pada binatang dan manusia,
tetapi ada juga spesies nyamuk antropofilik yang hanya menularkan
penyakit pada manusia.
Upaya pemberantasan nyamuk di Indonesia sejauh ini telah
dilakukan dengan berbagai cara oleh pemerintah. Pihak pemerintah
mensosialisasikan cara mengurangi populasi nyamuk melalui iklan di
TV, untuk mencegah terjangkitnya beberapa penyakit yang disebabkan
oleh nyamuk. Salah satunya adalah iklan yang bertemakan 3M, yaitu:
menutup,

membersihkan,

dan

menguburkan

dengan

tujuan

mengurangi populasi nyamuk.


Selain

hal

tersebut,

pemerintah

lewat

dinas

kesehatan

memberikan bantuan foging (pengasapan) kepada perumahan warga,


serta penganjuran penggunaan alat pengusir nyamuk lainnya.Ada juga
dalam penggunaan bahan insektisida dengan metode sprayer yang di
semprotkan di udara atau di dinding.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak nyamuk
sebagai pemicu timbulnya berbagai macam penyakit yaitu dengan
membuat alat pengusir nyamuk. Hal tersebut mengundang berbagai

produsen untuk menciptakan alat pengusir nyamuk. Salah satunya


obat nyamuk yang dijual dalam berbagai bentuk..
Ada berbagai macam obat nyamuk yang banyak di jual di
pasaran seperti contohnya obat nyamuk bakar, semperot, lotion dan
eletrik dengan harga yang bersaing. Namun, memakai obat nyamuk
bukan solusi yang tepat karena obat nyamuk mengandung racun yang
berbahaya terutama bagi yang alergi pada obat nyamuk.
Bukan hanya keracunan yang dapat ditimbulkan oleh obat
nyamuk, akan tetapi dapat menghasilkan sampah karena pembungkus
obat nyamuk. Sadar atau tidak, ternyata obat nyamuk juga sebagai
penyumbang polusi udara dan akan sangat berdampak pada
lingkungan sekitar.
Untuk mengurangi populasi dari resiko karena penggunaan
pestisida kimia, maka harus dilakukan cara pengendalian vektor dengan
bahan dari tanaman (hayati) atau yang ramah lingkungan.
Pengendalian vektor

dilakukan secara hayati

yang

lebih

ramah ligkungan, Mengingat Indonesia merupakan negara yang


kaya keaanekaragaman hayati, yang memiliki banyak jenis tumbuh
- tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai insektisida. Lebih dari 1500
jenis tumbuhan telah dilaporkan dapat dijadikan insektisida nabati
salah satunya pohon serai.

Serai

telah

dikenal

sebagai

salah

digunakan untuk bumbu masak, selain

satu

itu serai

bahan

yang

juga sangat

mudah didapatkan dan banyak tumbuh di Indonesia yang beriklim


tropis. Tetapi

sebenarnya

ada manfaat

lain yang

tidak

kalah

penting yaitu sebagai tanaman pengusir nyamuk. Tanaman yang


termasuk

bangsa

rumput - rumputan

ini

tidak disukai nyamuk

karena memiliki minyak atsiri yang mengandung zat - zat seperti


geraniol,

metilheptenon , alkohol, asam-asam organik, terutama

adalah sitronelal ( Ilyas, 2012 ).


Zat
apabila

zitronelal ini memilki sifat racun kontak yang aman


terhirup oleh manusia. Sebagai racun kontak, ia dapat

menyebabkan

kematian akibat kehilangan

cairan

secara

terus

menerus sehinggah tubuh nyamuk kekurangan cairan sehingga


nyamuk itu mati.
Berdasarkan Penelitian Ilyas (2012) yang memanfaatkan
limbah mat anti nyamuk elektrik dengan dosis 70%, 75% dan 80%
ekstrak daun serai dalam mengendalikan nyamuk, dapat dilakukan
penelitian dengan metode yang dilakukan berbeda, tetapi dengan
bahan yang dipakai sama yaitu ekstrak daun serai.
B. Rumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang tersebut dapat dirumuskan
masalah penelitian yaitu Bagaimana efektivitas ekstrak daun serai
5

dengan menggunakan alat sprayer dalam membunuh nyamuk Culex


Sp ?
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk

mengetahui

efektivitas

ekstrak daun serai dengan

menggunakan alat sprayer dalam membunuh nyamuk Culex Sp


2. Tujuan khusus
a) Untuk mengetahui

efektivitas

ekstrak

daun

serai

dengan

menggunakan alat sprayer dosis 70% dalam membunuh nyamuk


culex sp
b) Untuk mengetahui

efektivitas

ekstrak

daun

serai

dengan

menggunakan alat sprayer dosis 75% dalam membunuh nyamuk


culex sp
c) Untuk mengetahui

efektivitas

ekstrak

daun

serai

dengan

menggunakan alat sprayer dosis 80% dalam membunuh nyamuk


culex sp

D. Manfaat
1. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat, dalam menerapkan
teknologi tepat

guna

mengusir

nyamuk

dengan

menggunakan

bahan alami yang ramah lingkungan dan tidak berbahaya bagi


kesehatan.
2. Sebagai wahana bagi penulis untuk meningkatkan keterampilan serta
menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti pendidikan
dan perkuliahan.
6

3. Sebagai sumbangan ilmiah dan informasi dalam memperkaya ilmu


pengetahuan utamanya di bidang kesehatan lingkungan

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Nyamuk
1. Pengertian nyamuk secara umum
Nyamuk termasuk dalam subfamili culicinae, famili culicidae
merupakan vektor atau penular utama dari penyakit penyakit
arbovirus

demam

berdarah,

chikunganya,

demam

kuning,

encephalitis, dan lain lain), serta penyakit penyakit nematoda


7

(filariasis), riketsia, dan protozoa (malaria). Di seluruh dunia terdapat


lebih dari 2500 spesies nyamuk meskipun sebagian besar dari spesies
spesies nyamuk ini tidak berasosiasi dengan penyakit virus
(arbovirus) penyakit penyakit lainnya. Jenis jenis nyamuk yang
menjadi vektor biasanya Aedes spp, Culex sp, Anopheles spp, dan
Mansonia spp
Semua jenis nyamuk membutuhkan air untuk kelangsungan
hidupnya karena

larva-larva (jentik-jentik) nyamuk melanjutkan

hidupnya di air dan hanya bentuk dewasa yang hidup di darat.


Nyamuk betina biasanya memilih tipe air tertentu untuk meletakkan
telurnya di permukaan air,ada yang meletakkan telur pada air bersih,
air kotor, air payau, atau tipe air lainnya. Bahkan ada nyamuk yang
meletakkan telurnya pada tanaman, lubang kayu, tanaman yang
berkantung yang dapat menampung air, atau dalam kontainerkontainer bekas yang menampungi air hujan dan air bersih.
Telur nyamuk menetas dalam air menjadi larva atau jentik.
Larva-larva nyamuk hidup dengan memakan organisme-organisme
kecil, tetapi ada juga yang bersifat sebagai predator seperti larva
toxorhynchties sp, yang memangsa jenis nyamuk lainnya yang hidup
dalam air. Kebanyakan nyamuk betina harus menghisap

darah

manusia atau hewan lainnya seperti kuda, sapi, babi, dan burung
dalam jumlah yang cukup sebelum perkembangan telurnya terjadi.
8

Bila tidak mendapatkan cairan darah yang cukup, nyamuk betina ini
akan mati. Namun ada jenis nyamuk yang bersifat spesifik dan
hanya mengigit manusia atau mamlia. Bentuk jantan nyamuk biasanya
hidup dengan memakan cairan tumbuhan.
Tingkah laku dan aktivitas nyamuk pada saat terbang berbedabeda menurut jenisnya. Ada nyamuk yang aktif pada waktu siang
seperti aedes aegypty

dan ada pula

yang aktif pada malam hari

seperti anopheles. Demikian pula ada nyamuk yang aktif menghisap


darah pada waktu pagi atau sore dan ada nyamuk yang aktif pada
waktu malam sebelum tengah malam dan ada yang aktif pada waktu
subuh.( Hamsir ,dkk 2013)

2. Klasifikasi Nyamuk
Klasifikasi nyamuk adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Hewan ( Animalia)
Fillum
: Arthropoda
Kelas
: Serangga (Insecta)
Ordo
: Diptera
Famili
: Culicidae
3. Jenis Jenis Nyamuk
a. Nyamuk Aedes Aegypti

Gambar 2.1 Nyamuk aedes aegypty


Nyamuk

aedes

aktif

pada

waktu

siang

hari,biasanya

meletakkan telurnya dan berkembang biak pada tempat tempat


penampungan air bersih atau air hujan seperti bak mandi, tangki
penampungan air, vas bunga, kaleng kaleng atau kantong kantong
plastic bekas, di atas lantai gedung terbuka, talang rumah, kulit kulit
buah dan sebagainya.
b. Nyamuk Anopheles

Gambar 2.2 Nyamuk Anopheles

10

Nyamuk ini membawa penyakit Malaria. Penyakit ini amat


digeruni satu ketika dahulu tetapi agak berkurangan sekarang.
Nyamuk ini aktif di waktu malam untuk menghisap darah dan juga
bertelur. Nyamuk anopheles biasanya membiak di kawasan air yang
mengalir dan disinari matahari. Sebab itu nyamuk jenis ini ada banyak
di kawasan hutan yang mana airnya sentiasa mengalir dan disinari
matahari.(Anonim, B.2014).

c. Nyamuk culex

Gambar 2.3 Nyamuk Culex


Nyamuk culex ada yang aktif paa waktu pagi, siang, dan ada
pada waktu sore atau malam hari. Nyamuk nyamuk ini meletakkan
11

telur dan berkembang biak di selokan selokan yang berisi air bersih
ataupun selokan air pembuangan domestic yang kotor (air organik),
serta di tempat tempat penggenangan air domestic atau air hujan di
atas permukaan tanah.
d. Nyamuk Mansonia

Gambar 2.4 Nyamuk Mansonia


Nyamuk mansonia biasanya berkembang biak di dalam kolam
kolam air tawar seperti kolam ikan. Larva larva nyamuk ini bernafas
dengan memenetrasi akar tanaman air. Nyamuk mansonia selain
menularkan penyakit chikungannya juga dapat menularkan penyakit
filariasis dan ensefalitis. ( Anonim, B. 2014).
B. Pengertian Tentang Nyamuk Culex
Culex Quinquefasciatus adalah nyamuk yang dapat menularkan
penyakit kaki gajah (filariasis ). Hal ini terjadi saat nyamuk Culex
menghisap darah pengidap filariasis sehingga larva cacing filariasis
masuk dan berkembang biak ditubuhnya
menularkan

larva

tersebut

kepada

lalu nyamuk Culex

manusia

dengan

cara
12

menggigitnya.

Kasus

penyakit

kaki

gajah

banyak

ditemukan

dibeberapa daerah di Indonesia seperi Malang Selatan dan Kediri.


Nyamuk Culex memiliki kebiasaan yang berbeda dengan Aedes
Aegepty, bila Aedes aegepty suka hidup pada air bersih maka Culex
menyukai air yang kotor seperi genangan air, limbah pembuangan
mandi, got ( selokan ) dan sungai yang penuh sampah. Culex, nyamuk
yang memiliki ciri fisik coklat keabu-abuan ini mampu berkembang
biak disegala musim. Hanya saja jumlahnya menurun saat musim
hijan

karena

jentik-jentiknya

terbawa

arus.

Culex

melakukan

kegiatannya dimalam hari.(Anonim B, 2013)


Culex sp adalah genus dari nyamuk yang berperan sebagai
vektor

penyakit

yang

penting

seperti

West

Nile

Virus,

Filariasis , Japanese enchepalitis, St Louis encephalitis.


Nyamuk dewasa dapat berukuran 4 10 mm (0,16 0,4 inci).
Dan dalam morfologinya nyamuk memiliki tiga bagian tubuh umum:
kepala, dada, dan perut. Nyamuk Culex sp yang banyak di temukan di
Indonesia yaitu jenis Culex sp quinquefasciatus (Anonim A, 2014).
1. Taksonomi nyamuk culex
Klasifikasi nyamuk Culex sp. adalah sebagai berikut :
Kindom

: Animalia

Phylum

: Arthropoda

Class

: Insecta
13

Ordo

: Diptera

Famili

: Culicidae

Genus

: Culex

Species

: Culex sp.

2. Morfologi Nyamuk Culex


a. Telur

Gambar 2.5 Telur nyamuk Culex


Telur berwarna coklat, panjang dan silinder, vertical pada
permukaan air, tersementasi pada susunan 300 telur. Panjangnya
biasanya 3-4mm dan lebarnya 2-3mm. telur-telur Culex sp diletakkan

14

secara berderet-deret rapi seprti kait tanpa pelampung yang berbentuk


menyerupai peluru senapan.
b. Larva

Gambar 2.6 Larva nyamuk culex


Pada larva nyamuk culex sp mempunyai siphon yang
mengandung bulu-bulu siphon (siphonal tuft) dan pekten, sisir atau
comb dengan gigi-gigi sisir (comb teeth), segmen anal dengan pelana
tertutup dan tampak tergantung pada permukaan air.
Nyamuk Culex mempunyai 4 tingkatan atau instar sesuai
dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu :
1. Larva instar I, berukuran paling kecil yaitu 1 2 mm atau 1 2
hari setelah menetas. Duri-duri (spinae) pada dada belum jelas
dan corong pernafasan pada siphon belum jelas.
2. Larva instar II, berukuran 2,5 3,5 mm atau 2 3 hari setelah
telur menetas. Duri-duri belum jelas, corong kepala mulai
menghitam.

15

3. Larva instar III, berukuran 4 5 mm atau 3 4 hari setelah telur


menetas. Duri-duri dada mulai jelas dan corong pernafasan
berwarna coklat kehitaman.
4. Larva IV, berukuran paling besar yaitu 5 6 mm atau 4 6 hari
setelah telur menetas, dengan warna kepala

c. Pupa

Gambar 2.7 Pupa nyamuk culex


Tubuh pupa berbentuk bengkok dan kepalanya besar. Pupa
membutuhkan waktu 2-5 hari. Pupa tidak makan apapun. Sebagian
kecil tubuh pupa kontak dengan permukaan air, berbentuk terompet
panjang dan ramping, setelah 1 2 hari akan menjadi nyamukCulex.
d. Dewasa

16

Gambar 2.8 Nyamuk dewasa culex


Ciri-ciri nyamuk Culex dewasa adalah berwarna hitam belangbelang putih, kepala berwarna hitam dengan putih pada ujungnya.
Pada bagian thorak terdapat 2 garis putih berbentuk kurva. Palpus
nyamuk betina lebih pendek dari proboscis, sedagkan pada nyamuk
jantan palpus dan proboscis sama panjang. Pada sayap mempunyai
bulu yang simetris dan tanpa costa. Sisik sayap membentuk
kelompok sisik berwarna putih dan kuning atau putih dan coklat juga
putih

dan

hitam.

Ujung

abdomen

nyamuk

culex

selalu

menumpul. (Anonim A, 2014)


3. Siklus Hidup nyamuk culex

17

(http://citrayunita01.blogspot.com/2014/09/nyamuk-culex-sp.html)
1. Telur
Seekor nyamuk betina mampu meletakan 100-400 butir telur.
Setiap spesies nyamuk mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda.
Nyamuk Culex sp meletakan telurnya diatas permukaan air secara
bergelombolan dan bersatu membentuk rakit sehingga mampu untuk
mengapung.
2. Larva
Setelah kontak dengan air, telur akan menetas dalam waktu 2-3
hari. Pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh faktor
temperature, tempat perindukan dan ada tidaknya hewan predator.
Pada kondisi optimum waktu yang dibutuhkan mulai dari penetasan
sampai dewasa kurang lebih 5 hari.

18

3. Pupa
Pupa merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di
dalam air, pada stadium ini tidak memerlukan makanan dan terjadi
pembentukan sayap hingga dapat terbang, stadium kepompong
memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari. Pada fase ini
nyamuk membutuhkan 2-5 hari untuk menjadi nyamuk, dan selama
fase ini pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva
menjadi nyamuk yang dapat terbang dan keluar dari air.

4. Dewasa
Setelah muncul dari pupa nyamuk jantan dan betina akan kawin
dan nyamuk betina yang sudah dibuahi akan menghisap darah waktu
24-36 jam. Darah merupakan sumber protein yang esensial untuk
mematangkan telur. Perkembangan telur hingga dewasa memerlukan
waktu sekitar 10 sampai 12 hari.(Anonim A, 2014)
4. Daur Hidup Nyamuk Culex
Nyamuk Culex sp betina dapat meletakkan telur sampai 100
butir setiap datang waktu bertelur. Telur telur tersebut diletakkan
diatas permukaan air dalam keadaan menempel pada dinding vertical
bagian dalam tempat tempat penampungan air . Nyamuk Culex sp
betina lebih menyukai tempat penampungan air yang tertutup longgar
19

untuk meletakkan telurnya dibandingkan dengan tempat penampunga


air yang terbuka, karena tempat penampungan air yang tertutup
longgar

tutupnya

jarang

dipasang

dengan

baik

sehingga

mengakibatkan ruang didalamnya lebih gelap.


Telur akan menetas dalam waktu 1-3 hari pada suhu 30o C,
sementara pada suhu 16o C telur akan menetas dalam waktu 7 hari.
Telur dapat bertahan tanpa media air dengan syarat tempat tersebut
lembab.
Telur dapat bertahan sampai berulan bulan pada suhu -2o C
sampai 42o C. Stadium larva berlangsung selama 6-8 hari. Stadium
larva terbagi menjadi 4 tingkatan perkembangan atau instar. Instar I
terjadi setelah 1-2 hari telur menetas, Instar II terjadi setelah 2-3 hari
telur menetas, instar III terjadi setelah 3-4 hari telur menetas dan instar
IV terjadi setelah 4-6 hari telur menetas. Stadium pupa terjadi seteah 6
-7 hari telur menetas. Stadium pupa berlangsung selama 2 -3 hari.
Lama

waktu

stadium

pupa

dapat

diperpanjang

dengan

menurunkan suhu pada tempat perkembangbiakan, tetapi pada suhu


yang

sangat

rendah

dibawah

10o C

pupa

tidak

mengalami

perkembangan. Stadium dewasa terjadi setelah 9 10 hari telur


menetas. Meskipun umur nyamuk Culex sp betina di alam pendek
yaitu kira kira2 minggu, tetapi waktu tersebut cukup bagi nyamuk

20

Culex sp. Betina untuk menyebarkan virus dengue dari manusia yang
terinfeksi ke manusia yang lain. (Anonim B, 2013 )
Pupa merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di
dalam air, padastadium ini tidak memerlukan makanan dan terjadi
pembentukan sayap hingga dapat terbang, stadium kepompong
memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari.Pada fase ini
nyamuk membutuhkan 2-5 hari untuk menjadi nyamuk, dan selama
faseini pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva
menjadi

nyamuk

yang

dapat

terbang

dan

keluar dari

air.d.

DewasaSetelah muncul dari pupa nyamuk jantan dan betina akan


kawin dan nyamuk betina yang sudah dibuahi akan menghisap darah
waktu 24-36 jam. Darah merupakansumber protein yang esensial
untuk

mematangkan

telur. Perkembangan

telur hingga

dewasa

memerlukan waktu sekitar 10 sampai 12 hari.


5. Bionomik Nyamuk Culex
Nyamuk betina menghisap darah untuk proses pematangan
telur,

berbeda

dengan

nyamuk

jantan.

Nyamuk

jantan

tidak

memerlukan darah tetapi hanya menghisap sari bunga. Setiap nyamuk


mempunyai waktu menggigit, kesukaan menggigit, tempat beristirahat
dan berkembang biak yang berbeda-beda satu dengan yang lain.
1. Tempat berkembang biak

21

Nyamuk Culex sp suka berkembang biak di sembarang tempat


misalnya di air bersih dan air yang kotor yaitu genangan air, got
terbuka dan empang ikan.
2. Perilaku makan
Nyamuk Culex sp suka menggigit manusia dan hewan terutama
pada malam hari. Nyamuk Culex sp suka menggigit binatang
peliharaan, unggas, kambing, kerbau dan sapi. Menurut penelitian
yang lalu kepadatan menggigit manusia di dalam dan di luar rumah
nyamuk Culex sp hampir sama yaitu di luar rumah (52,8%) dan
kepadatan menggigit di dalam rumah (47,14%).
3. Kesukaan beristirahat
Setelah nyamuk menggigit orang atau hewan nyamuk tersebut
akan beristirahat selama 2 sampai 3 hari. Setiap spesies nyamuk
mempunyai kesukaan beristirahat yang berbeda-beda. Nyamuk Culex
sp suka beristirahat dalam rumah. Nyamuk ini sering berada dalam
rumah sehingga di kenal dengan nyamuk rumahan.
4. Aktifitas menghisap darah
Nyamuk Culex sp suka menggigit manusia dan hewan terutama
pada malam hari (nocturnal). Nyamuk Culex sp menggigit beberapa
jam setelah matahari terbenam sampai sebelum matahari terbit. Dan
puncak menggigit nyamuk ini adalah pada pukul 01.00-02.00.( Anonim
B, 2013).
22

6. Habitat Nyamuk Culex


Nyamuk dewasa

merupakan

ukuran

paling

tepat

untuk

memprediksi potensi penularan arbovirus.Larva dapat di temukan


dalam air yang mengandung tinggi pencemaran organik dan dekat
dengan tempat tinggal manusia. Betina siap memasuki rumah-rumah
di malam hari dan menggigit manusia dalam preferensi untuk mamalia
lain.

7. Faktor Lingkungan Fisik yang Mempengaruhi Pertumbuhan


Nyamuk culex
1.

Suhu
Faktor suhu sangat mempengaruhi nyamuk Culex sp dimana

suhu

yang

tinggi

akan

meningkatkan

aktivitas

nyamuk

dan

perkembangannya bisa menjadi lebih cepat tetapi apabila suhu di atas


350C akan membatasi populasi nyamuk. Suhu optimum untuk
pertumbuhan nyamuk berkisar antara 200C 300C. Suhu udara
mempengaruhi perkembangan virus dalam tubuh nyamuk
2.

Kelembaban Udara
Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung

dalam udara yang dinyatakan dalam (%). Jika udara kekurangan uap
23

air yang besar maka daya penguapannya juga besar. Sistem


pernafasan nyamuk menggunakan pipa udara (trachea) dengan
lubang-lubang pada dinding tubuh nyamuk (spiracle). Adanya spiracle
yang terbuka lebar tanpa ada mekanisme pengaturannya. Pada saat
kelembaban rendah menyebabkan penguapan air dalam tubuh
sehingga menyebabkan keringnya cairan tubuh. Salah satu musuh
nyamuk

adalah

penguapan,

kelembaban

mempengaruhi

umur

nyamuk, jarak terbang, kecepatan berkembang biak, kebiasaan


menggigit, istirahat dan lain-lain.

3.

Pencahayaan
Pencahayaan ialah jumlah intensitas cahaya menuju ke

permukaan per unit luas. Merupakan pengukuran keamatan cahaya


tuju yang diserap. Begitu juga dengan kepancaran berkilau yaitu
intensitas cahaya per unit luas yang dipancarkan dari pada suatu
permukaan. Dalam unit terbitan SI, kedua-duanya diukur dengan
menggunakan unit lux. Bila dikaitkan antara intensitas cahaya terhadap
suhu dan kelembaban, hal ini sangat berpengaruh. Semakin tinggi atau
besar intensitas cahaya yang dipancarkan ke permukaan maka
keadaan suhu lingkungan juga akan semakin tinggi. Begitu juga
dengan kelembaban, semakin tinggi atau besar intensitas cahaya yang

24

dipancarkan ke suatu permukaan maka kelembaban di suatu


lingkungan tersebut akan menjadi lebih rendah (Anonim A, 2014).
8. Penyakit Yang Di Tularkan Nyamuk Culex
1. Filariasis
Filariasis atau penyakit kaki gajah adalah penyakit menular
yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai
jenis nyamuk seperti Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan
Armigeres. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tak
mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa
pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun
laki-laki.
Cara penularan
Penderita awalnya digigit nyamuk yang sudah "terkontaminasi"
larva stadium III. Siklus penularan penyakit kaki gajah melalui dua
tahap. Pertama, tahap perkembangan dalam tubuh nyamuk. Kedua,
tahap perkembangan dalam tubuh manusia.
a. Gejala
Demam selama 3 5 hari, pembengkakan kelenjar getah bening,
panas dan sakit terasa menjalar dari pangkal kaki atau pangkal
lengan.

25

b. Pengobatan
Dititik beratkan untuk mencegah kecacatan dan mengurangi
sakit.( Anonim A, 2014)
2. West Nile Virus
Virus Nil Barat (west nile virus/WNV) termasuk arbovirus yang
ditularkan nyamuk. Tiga faktor utama kemunculan WNV adalah
perubahan iklim, populasi burung yang terinfeksi dan penyebaran
populasi nyamuk, khususnya nyamuk culex.
c. Cara penularan
Pada awalnya virus tersebut hidup pada tubuh burung. Dari
burung lalu

disebarluaskan

oleh nyamuk. Virus ini dapat

menimbulkan penyakit bagi manusia dan sejumlah mamalia.

d. Gejala
Saat terinfeksi WNV tidak terlihat gejala-gejala tertentu kecuali
seperti orang terkena flu. Namun akibatnya bisa sangat serius
termasuk encephalitis (radang otak).
e. PengobataN
Sejauh ini belum ada pengobatan khusus atau vaksin untuk
mengatasi infeksi WNV.
3. Japanese Encephalitis

26

Japanese Encephalitis adalah penyakit yang disebabkan oleh


virus. Virus ini disebarkan melalui gigitan nyamuk Culex.
f. Cara penularan
Awalnya virus Japanese Encephalitis berkembang biak dalam
tubuh babi. Lalu, nyamuk betina Culex mengisap darah babi dan
menularkan virus ini saat menggigit manusia.
g. Gejala
Demam, sakit kepala, lemah, mengingau, mengantuk, lumpuh,
bahkan pingsan ( Anonim A, 2014).
9. Cara Pengendalian Nyamuk Culex
Secara garis besar ada 2 cara pengendalian vector, yaitu :
1. Pengendalian secara kimiawi biasanya digunakan insektisida
dari

orghanochlorine,

organ

ophosphor,

carbamatedan

pyrethoid. Bahan - bahan tersebut dapat diaplikasikan dalam


bentuk penyemprotan terhadap rumah rumah penduduk.
2. Pengendalian lingkungan digunakan beberapa cara antara lain
dengan mencegah nyamuk kontak dengan manusia yaitu
dengan memasang kawat kasa pada lubang ventilasi, jendela
dan pintu. Cara yang lain yaitu dengan gerakan 3M Plus
yaitu:
a. Menguras tempat-tempat penampungan air,
b. Menutup rapat tempat penampungan air,
c. Menimbung barang-barang bekas atau sampah yang dapat
menampung air hujan dalam tanah.
27

d. Plus

menabur

bubuk

pembasmi

jentik

(larvasida),

memelihara ikan pemakan jentik di tempat penampungan air


dan pemasangan kelambu.(Anonim A, 2014)
C. Tinjauan tentang daun serai
1. Sejarah Perkembangan Serai
Untuk mengetahui asal usul serai wangi di Indonesia, pastilak
dapat dipisahkan dengan usaha penyulingan minyak serai wangi itu
sendiri, sabab hampir tiada gunanya serai wangi ditanam jika daunnya
tidak disuling untuk diambil minyaknya.
Ketika AKJ Kaffer berburu ke kawasan sekitar Cirebon pada
tahun 1890, ia sempat menemukan ketel penyulingan yang ketemukan
tersebut dapat berfungsi maka perlu dicari bahan baku, maka
ditanamlah serai wangi.
Percobaan penanaman Kaffer ini ternyata menarik perhatian
orang, sehingga dicoba pula di Kebun Raya Bogor. Namun usahan
penyulingan minyak serai wangi ini, selain dipelopori oleh Kaffer di
pelopori juga beberapa ahli distilasi lainyya seperti: M Trueb, PV Van
Rombutgh, AWK de jong, HW hofstede dan sebagainya.
Pada tahun 1899 untuk pertama kalinya tanaman serai wangi
jenis mahapengiri dari Srilangka di tanam di kebun raya bogor.
Sedangkan sumber lain menulis serai jenis mahapengiri justru
dianggap asli tanaman Indonesia. Ketika itu sampai tahun 1902, hanya
terdapat dua buah industri penyulingan yang mampu menunjukkan
28

eksistensinya, yaitu pabrik Orodata milik Kaffer di Cicurung dan


Cikancana di Cianjur. Hanya saying sekali pada waktu itu minyak serai
wangi jawa belum mampu bersaing dengan minyak serai wangi asal
Ceylon. Akan tetapi setelah tahun 1900, konsumen Eropa justru mulai
tertarik kepada minyak serai wangi produk jawa. Bahkan pada tahun
1919, produk ekspor minyak serai wangi asal jawa berhasil
menandingi ekspor ari Ceylon (Budi, 1992).

2. Deskripsi tumbuhan serai

(www.kaskus.co.id)
Tanaman serai memiliki beberapa jenis, sehingga kekeliruan
memliki jenis sereh wangi. Itulah sebabnya, dalam bab ini akan

29

membahas atau diuraikan sejarah penyebaran serai wangi danbotani


(Budi, 1992).
Serai adalah tanaman tahunan termasuk suku gramininae,
membentuk rumpun yang padat, batangnya kaku dan pendek, bentuk
daunnya seperti pipa yang meruncing keujung, menghasilkan minyak
serai, bonggol batang yang mudah digunakan sebagai penyedap
masakan.
Serai (andropogon nardus) banyak ditemui diberbagai daerah
dan biasa digunakan sebagai bumbu masak yang ternyata bias
digunakan sebagai insektisida alamiah. Tanaman ini mengandung
minyak atsiri yang antara lain memiliki senyawa sitronela dan bias
membunuh serangga, termasuk nyamuk. Selain mudah didapat serai
juga relative murah harganya.
Serai merupakan tumbuhan menahun yang termasuk jenis
rumput-rumputan. Tanaman ini mempunyai tinggi 50 cm- 100 cm.
Daunnya berwarna hijau, tunggal berjumbai kasar dan tajam,
permukaan atas dan bawahnya berambut, berakar serabut dan bias
diperbanyak dengan pemisahan tunas. Selain sebagai bumbu masak,
serai juga di manfaatkan untuk minyak wangi, pencampur pada jamu,
Tiap Negara memiliki bahasa masing-masing untuk istilah daun
serai, berikut adalah
3. Klasifikasi Daun Serai :
30

Tiap Negara memiliki bahasa masing-masing untuk istilah daun


serai, berikut adalah
Regnum

: Plantae

Division

: Magnoliophyta

Kelas

: Anginospermaea

Ordo

: Graminales

Familia

: Graminaea

Genus

: Andropogon

Spesies

: Andropogon citratus

Umum

: Serai (Indonesia), sereh (sunda), lemongrass (English),


citronelle (French), zitroneng ras (german), erba di
limone (Italian), hierba de limon (Spanish), bhustrina,sera
(india), takrai (thai) ( Ichsan, 2009).

4. Jenis Jenis Serai


Secara umum, sereh dibagi menjadi 2 jenis, yaitu sereh dapur
(lemongrass) dan sereh wangi (sitronella). Keduanya memiliki aroma
yang berbeda. Minyak sereh yang selama ini dikenal di Indonesia
merupakan minyak sereh wangi (citronella oil) yang biasanya terdapat
dalam komposisi minyak tawon dan minyak gandapura.
Minyak sereh wangi telah dikembangkan di Indonesia dan
minyak atsirinya sudah diproduksi secara komersial dan termasuk
komoditas ekspor. Sedangkan minyak sereh dapur (lemongrass oil)
31

belum pernah diusahakan secara komersial. Dari segi komposisi


kimianya, keduanya memiliki komponen utama yang berbeda. Sereh
wangi kandungan utamanya adalah citronella, sedangkan sereh dapur
adalah sitral.
Sereh dapur terbagi menjadi 2 varitas, yaitu sereh flexuosus
(Cymbopogon Flexuosus) dan sereh citratus (Cymbopogon Citratus).
Dalam dunia perdagangan minyak atsiri, minyak sereh flexuosus
disebut sebagai East Indian lemongrass oil (minyak sereh dapur India
Timur).

Sedangkan

sereh citrates

dikenal

dengan West

Indian

lemongrass oil (minyak sereh dapur India Barat).


Keduanya dapat tumbuh subur di Indonesia meskipun yang
terbanyak adalah jenisWest Indian. Perbedaan yang sangat jelas dari
keduanya terletak pada sifat-sifat minyak atsiri yang dihasilkan. Minyak
sereh India Timur lebih berharga dari pada India Barat, terutama
karena kandungan sitralnya yang lebih tinggi.(Anonim C, 2013).
5. Pengertian Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair, yang dibuat
dengan menyaring simplisa atau hewani menurut cara yang cocok,
diluar pengaruh cahaya sinar matahari langsung. Simplisa merupakan
bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belu mengalami
pengolahan apapun.( Ichsan, 2009)
6. Kandungan dalam daun serai
32

Selama ini, serai wangi dipakai untuk bumbu masak dan bahan
penjampur jamu. Namun, ternyata serai wangi terutama batanh dan
daun bias pula dimanfaatkan sebagai pengusir nyamuk. Ya pasalnya
tanaman serai wangi ini memiliki minyak atsiri yang mengandung
senyawa sitral, sitranela, geraniol, mirsena, nerol, marsenol methyl
heptenon, dan dipentena.
Kandungan yang paling besar adalah sitronela yaitu sebesar
50% dan graniol sebesar 35-45%. Senyawa sitronela mempunyai sifat
racun dehidrasi (dessicent). Racun tersebut merupakan racun kontak
yang dapat menyebabkan kematian karena kehilangan cairan terusmenerus.
Kebiasaan masyarakat saat mengambil serai, masyarakat
hanya mengabil bonggol batangnya saja yang akan dijadikan sebagai
penyedap masakan, sedangkan daunnya akan dibuang begitu saja.
Padahal daun serai ini akan sangat dimanfaatakan sebagai anti
nyamuk (Ilyas,2012).

33

BAB III
METODE PENELITIAN
1.

Jenis Penelitian
Adapun

jenis

penelitian

ini

adalah

eksperimen

menggunakan sprayer dengan bahan ekstrak daun serai dalam


membunuh nyamuk culex
2.

Gambaran Umum
a. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian di laksanakan di kampus jurusan
kesehatan

lingkungan

politeknik

kesehatan

Makassar

sedangkan pembuatan ekstrak daun serainya dibuat di


Laboratorium kampus jurusan kesehatan lingkungan politeknik
kesehatan Makassar.
34

b. Waktu penelitian
1) Tahap pertama, yaitu tahap persiapan penelitian meliputi
pengumpulan data, pembuatan proposal, seminar dan
perbaikan proposal yang dimulai pada bulan Januari
2015.
2) Tahap ke dua, yaitu tahap pelaksanaan kegiatan
penelitian mulai dari persiapan alat dan bahan yang
berlangsung pada bulan Maret April 2015.
3.

Kerangka Konsep
Gambar 3.1 : Kerangka Konsep Penelitian
Ekstrak daun serai
Konsentrasi
Kontrol

70%

75%

80%

Nyamuk culex
Nyamuk culex
yang mati
Selama pengamatan 1
jam
Ekstrak Daun serai tidak
efektif membunuh nyamuk
culex
Berdasarkan kerangka konsep penelitian diatas, penelitian
manfaatkan ekstrak daun serai sebagai insektisida alami merupakan
salah satu metode untuk mengendalikan serangga yang mengganggu
sekaligus
yang
membawa
Ekstrak Daun
serai
efektif penyakit.. pada dosis yang berbeda 70%,
membunuh nyamuk culex
75%, dan 80% yaitu untuk membandingkan mana yang lebih efektif

35

membunuh

nyamuk

culex.

Sedangkan

kontrol

tidak

diberikan

perlakuan apa apa, gunanya untuk membandingkan pengujian yang


diberikan perlakuan. Lama pengamatan yang dilakukan selama 60
menit.
4. Variable Penelitian
Pada penelitian ini mencakup tiga variable yaitu variable bebas,
variable terikat, dan variable pengganggu, namun yang menjadi pokok
dalam eksperimen ini yaitu efektivitas ekstrak daun serai dalam
mengendalikan nyamuk culex.
Gambar 3.2 Skema Variable Penelitian

Variabel Bebas
Variasi dosis ekstrak daun
serai :
Dosis 70%
Dosis 75%
Dosis 80%

Variabel Terikat
Kematian nyamuk Culex
Variabel Pengganggu
Suhu

Kelembaban udara

Variable yang terdapat di dalam penelitian ini adalah sebagai


berikut :
a. Variable bebas adalah variabel yang akan memberi pengaruh
terhadap variabel terikat, yaitu variasi dosis ekstrak daun
serai 70%, 75% dan 80%.

36

b. Variabel terikat adalah variabel yang di pengaruhi oleh


variabel bebas yaitu nyamuk culex Sp
c. Variabel pengganggu adalah variabel yang turut berpengaruh
terhadap variabel terikat yang meliputi suhu dan kelembaban
udara
5. Definisi Operasional
a. Ekstrak daun serai dalam penelitian ini adalah cairan yang
berasal dari proses ekstraksi daun serai yang diukur
dengan volumemetri yang menggunakan satuan ukuran
mili liter (ml)
b. Dosis ekstrak daun serai dalam penelitian ini adalah
sejumlah bahan ekstrak daun serai yang diukur dengan
satuan persen (%).
c. Nyamuk Culex adalah semua jenis nyamuk culex yang
akan diujikan dalam penelitian tersebut.

6. Kriteria Objektif
a. Efektif
1) Ekstrak daun serai dosis 70% efektif apabila nyamuk yang
mati 90%
2) Ekstrak daun serai dosis 75% efektif apabila nyamuk yang
mati 90%
3) Ekstrak daun serai dosis 80% efektif apabila nyamuk yang
matir 90%
b. Tidak efektif

37

1) Ekstrak daun serai

dosis 70%

tidak efektif apabila

nyamuk yang mati< 90%


2) Ekstrak daun serai dosis 75%

tidak efektif apabila

nyamuk yang mati < 90%


3) Ekstrak daun serai dosis 80%

tidak efektif apabila

nyamuk yang mati < 90%


7. Pengumpulan Data
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh berdasarkan
hasil pengamatan langung selama melakukan penelitian.
b.

Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai
referensi baik arttikel artikel, buku, maupun literature yang
lain dianggap dapat mendukung teori yang ada, serta
dianggap memiliki keterkaitan dengan penelitian lain.
8. Metode Pengumpulan Data
a. Populasi
Yang menjadi populasi dalam penilitian ini adalah
semua nyamuk culex dengan habitat dan bersarang di Kampus
Kesehatan Lingkungan
b. Sampel
Sampel pada penelitian ini nyamuk culex sebanyak 20
ekor yang akan diuji kerentanan ke dalam wadah/kurungan
yang telah di semprotkan insektisida dengan dosis 70%, 75%
dan 80%.
9. Prosedur Pelaksanaan Penelitiaan

38

Penelitian ini dilaksanakn dengan beberapa tahapan


prosedur penelitian yaitu sebagai berikut :
a. Tahap Persiapan
Sebelum melakukan percobaan, ada beberapa persiapan
yang perlu dilakukan yaitu

penentuan lokasi penelitian, lokasi

pengambilan sampel, persiapan alat dan bahan serta prosedur


kerja penelitian yang akan di butuhkan pada percobaan.
Selanjutnya alat atau bahan bahan yang dibutuhkan
pada percobaan juga perlu dipersiapkan, misalnya bahan
insektisida yang akan dipakai untuk pengujian, sampel, wadah
atau kurungan nyamuk, stopwatch, aspirator, kapas, dan
sebagainya.
b. Pembuatan bahan ekstrak daun serai
Adapun cara pembuatan ekstrak daun serai adalah
sebagai berikut:
1) Alat :
a). 2 buah bejana maserasi (toples besar)
b). Kain anyakan
c). Pisau atau gunting
d). Pengaduk
e). Gelas ukur
f). Pipet ukur 00 ml
2). Bahan
a). Daun serai
b). Methanol
c). Alkohol 70%
3). Cara kerja
a). Siapakan alat dan bahan

39

b). Cincang daun serai hingga menjadi potongan


potongan kecil
c). Timbang daun serai 500 gr
d). Kemudian daun serai yang sudah ditimbang
dimasukkan dalam bejana maserasi dan lembabkan
dengan 500 ml methanol.
e). Celupkan 1000 ml methanol hingga menutupi
permukaan daun serai dalam bejana 2 3 cm
f). Diamkan daun serai yang direndam dengan methanol
selama 5 hari, selama perendaman hindarkan dari
cahaya matahari.
g). Sekali kali aduk daun serai yang direndam dengan
methanol
h). Setelah direndam selama 5 hari, saring serai yang
direndam denga methanol dengan menggunakan
kain anyakan, untuk memisahkan ampas serai
dengan ekstrak daun serai.
i). Kemudian ampas daun serai tadi direndam kembali
dengan methanol yang telah disaring dan diamkan
selama 5 hari, hal ini dilakukan selama 3 kali jadi
serai direndam kedalam methanol selama 15 hari
agar ekstrak daun serai diperoleh sempurna.
j). Setelah 15 hari, saring kembali daun serai dengan
kain anyakan untuk memisahkan ampas dan ekstrak
daun serainya.
c. Pembuatan kurungan

40

Adapun pembuatan kurungan yaitu :


1). Alat :
a). gergaji
b). Parang
c). Tali rapiah
d). Plaster
2). Bahan :
a). Bambu
b). Kertas karton
c). Kain kasa
3). Cara kerja
a). Siapkan alat dan bahan yang digunakan
b). Potong bamboo dengan ukuran 60 cm
c). Kemudian buat rangkanya dengan potongan
bamboo tersebut dengan ukuran 60 x 60 cm
d). Setelah rangkanya selesai kemudian tempel
dindingnya

yang

dari

kertas

karton

dengan

menggunakan plester.
e). Kemudian buat jendela yang dari kain kasa
f). Setelah itu kurungan siap di pakai
d. Konsentrasi atau dosis
Sebelum melakukan pengujian insektisida, terlebih dahulu
ekstrak diencerkan dengan aquadest sebanyak 100 ml. Tiap
kurungan

percobaan di berikan dosis yang berbeda-beda.

kurungan yang pertama sebanyak 70%, wadah kedua 75%, dan


wadah yang ketiga 80%. Alat sprayer yang digunakan yaitu
ukuran 1 liter.
e. Pengujian
Pada proses pengujian ada beberapa hal yang perlu
dipahami, misalnya teknik perlakuan pada sampel. Pada
41

percobaan ini, perlu adanya ketelitian dalam memindahkan


sampel dari wadah ke wadah yang lain dan harus memperhatikan
kondisi sampel, jika ada yang mati segera ganti yang hidup.
Masukkan sampel ke dalam wadah tersebut dan biarkan selama
1 jam.
f. Pengamatan
Konsentrasi pertama yang akan digunakan adalah
konsentrasi 70% ekstrak daun serai yang akan diujikan kepada
nyamuk culex sp yang berada pada wadah/kurungan

yang

sudah disediakan, saat diujikan amati prilaku nyamuk dan amati


kapan ekstrak daun serai yang sudah di semprotkan pada wadah
yang sudah disediakan, serta perhatikan juga berapa ekor
nyamuk yang mati selama 1 jam. Setelah pengujian yang
pertama dilakukan selanjutnya yaitu pengujian pada konsentrasi
75% dan 80% ekstrak daun serai, cara pengujian dan
perlakuannya sama dengan yang dilakukan pada konsentrasi
70% ekstrak daun serai.
Pengumpulan data
Berdasarkan

perlakuan

diatas,

diharapkan

adanya

kematian pada sampel percobaan berkisar diatas 90% untuk


masing- masing wadah percobaan agar dapat menganalisa hasil
yang didapatkan pada penelitian ini
42

10. Pengolahan dan Analisa Data.


a. Pengolahan data
Table 3.1 Tabel Pengamatan
Wadah/

Dosis

Dosis

Dosis

Kontrol

Kurungan
Wadah I
Wadah II
Wadah III
Rata- rata

70%

75%

80%

Data yang diperoleh dalam penelitian ini, data secara manual


dengan bantuan alat hitung dan dianalisa secara deskriftif selanjutnya
disajikan dalam bentuk table silang.
b. Analisa Data
Setiap hasil uji coba dianalisa secara visual, dicacat secara
teliti, tepat dan benar dalam bentuk uraian kegiatan secara ringkas
namun menyeluruh agar diperoleh kesimpulan yang benar.

43

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pengujian Ekstrak Daun Serai
Hasil penelitian

menggunakan ekstrak daun serai

dengan

berbagai macam konsentrasi yaitu 70%, 75%, 80% yang diberikan


pada nyamuk culex sp selama 1 jam pada kurungan nyamuk yang
sudah disediakan kemudian direplikasi sebanyak 1 kali,dimana setiap
kurungan diberikan 20 ekor nyamuk culex sp, juga diberikan kontrol
yang berisi 20 ekor nyamuk culex sp.
Pada pengujian tersebut, adapun faktor lingkungan yang turut
berpengaruh terhadap kondisi nyamuk yaitu suhu dan kelembaban.
Oleh karena itu pada tiap pengujian dilakukan pengukuran suhu dan

44

kelembaban untuk mengontrol kondisi penghawaan ruangan. Hasil


penelitian dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4.1
Hasil pengujian ekstrak daun serai konsentrasi 70% dalam
membunuh nyamuk culex sp selama 1 jam
Di Laboratorium Kesehatan Lingkungan tahun 2015
Kematian nyamuk culex sp
selama 1 jam
Pengujian/perlakuan

I
II
Jumlah
Rata-rata

Aplikasi ekstrak
daun serai 70%
Mati
Hidup
16
18
34
17

4
2
6
3

Kontrol
Mat
i
0
0
0
0

Hidu
p
20
20
40
20

Suhu dan
Kelembaban
Suhu
(C)
25C
25C

Kelembaba
(%)
61%
61%

Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui bahwa perlakuan


nyamuk selama 1 jam di dalam kurungan nyamuk yang disemprotkan
ekstrak daun serai dengan konsentrasi 70% diperoleh jumlah nyamuk
yang mati rata-rata 17

ekor dengan dilakukan replikasi 1 kali dan

diperoleh suhu dan kelembaban ruangan 25C dan 61%. Ini


menunjukkan bahwa konsentrasi 70%

tidak efektif membunuh

nyamuk culex sp dengan persentase kematian nyamuk yaitu 85%,

45

sesuai kriteria objektif hasil tersebut dikatakan efektif apabila kematian


nyamuk mencapai 90%.

Tabel 4.2
Hasil pengujian ekstrak daun serai konsentrasi 75% dalam
membunuh nyamuk culex sp selama 1 jam
Di Laboratorium Kesehatan Lingkungan tahun 2015

Pengujian/perlakuan

Kematian nyamuk culex sp


selama 1 jam
Aplikasi
ekstrak daun
serai 75%
Mati
Hidup

I
II
Jumlah
Rata-rata

18
20
38
19

2
0
2
1

Kontrol
Mat
i
1
1
2
1

Hidu
p
19
19
38
19

Suhu dan
Kelembaban
Suhu
()

25C
25C

Kelembaba
n
(%)
60%
60%

Berdasarkan tabel 4.2, dapat diketahui bahwa perlakuan


nyamuk selama 1 jam di dalam kurungan nyamuk yang disemprotkan
ekstrak daun serai dengan konsentrasi 75% diperoleh jumlah nyamuk
yang mati rata-rata 19 ekor dimana telah dilakukan replikasi 1 kali dan

46

diperoleh

suhu

dan

kelembaban

ruangan

25C

dan

60%.Ini

menunjukkan bahwa konsentrasi 75% efektif membunuh nyamuk


culex sp dengan persentase kematian nyamuk 95%, Sesuai kriteria
objektif hasil dikatakan efektif apabila mencapai kematian nyamuk
90%

Tabel 4.3
Hasil pengujian ekstrak daun serai konsentrasi 80% dalam
membunuh nyamuk culex sp selama 1 jam
Di Laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan tahun 2015

Pengujian/perlakuan

Kematian nyamuk culex sp


selama 1 jam
Aplikasi
ekstrak daun
serai 80%
Mati
Hidup

I
II
Jumlah
Rata-rata

20
20
40
20

0
0
0
0

Kontrol
Mat
i
0
0
0
0

Hidu
p
20
20
40
20

Suhu dan
Kelembaban
Suhu
( C )

25C
25C

Kelembaba
n
(%)
60%
60%

Berdasarkan tabel 4.3, dapat diketahui bahwa perlakuan


nyamuk selama 1 jam di dalam kurungan nyamuk yang disemprotkan

47

ekstrak daun serai dengan konsentrasi 80% diperoleh jumlah nyamuk


yang mati rata-rata 20 ekor dimana telah dilakukan replikasi 1 kali dan
diperoleh suhu dan kelembaban ruangan 25C dan 60%. Ini
menunjukkan bahwa konsentrasi 80% efektif membunuh nyamuk
culex sp dengan persentase kematian nyamuk 100%, sesuai kriteria
objektif hasil tersebut di katakan efektif apabila kematian mencapai
90%.
Gambar 4.1 diagram rata - rata kematian nyamuk culex sp dengan pengujian ekstrak daun serai selama 1 jam
25
20
15
10
Angka kematian nyamuk

5
0

kontrol

Konsentrasi ekstrak daun serai

Berdasarkan gambar 4.1 menunjukkan bahwa kontrol yang


tidak diberi penambahan ekstrak daun serai, dapat membunuh
nyamuk culex sp rata rata 1 ekor selama 1 jam ini dipengaruhi oleh
tubuh

nyamuk

tersebut

lemah

karena

cara

penangkapan

menggunakan aspirator, dan konsentrasi tertinggi yaitu 80% dapat

48

membunuh nyamuk culex sp secara keseluruhan. Ini menunjukkan


bahwa lebih tinggi konsentrasi dipakai maka lebih tinggi pula jumlah
kematian nyamuk.
Pengukuran Suhu dan Kelembaban Ruang Penelitian
Pada penelitian ini, suhu dan kelembaban merupakan salah
satu variabel penganggu. Oleh karena itu dilakukan pengukuran suhu
dan kelembaban pada ruangan penelitian. Adapun alat yang
digunakan yaitu hygrometer dengan hasil pengukuran suhu rata - rata
29C dan hasil pengukuran kelembaban sekitar 60%-61%.
1.

B. Pembahasan
Aplikasi Ekstrak Daun Serai Dengan Variasi Konsentrasi
Hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan 3
macam konsentrasi yaitu 70%, 75%, 80% ekstrak daun serai
menggunakan alat sprayer dengan perlakuan yang sama dan kontrol
dengan perlakuan yang sama pula, kemudian direplikasi/diulangi satu
kali selama masing-masing dilakukan 1 jam dan diperoleh jumlah
nyamuk culex sp yang mati pada waktu pemaparan yang berbedabeda

dan menggunakan

konsentrasi berbeda pula. Pada kontrol

terlihat bahwa nyamuk yang mati itu hampir tidak ada itupun nyamuk
yang mati pada kontrol adalah nyamuk yang tubuhnya lemah, karena
di pengaruhi oleh faktor cara penangkapan nyamuk, cara perlakuan
pada saat penangkapan nyamuk dan kondisi nyamuk.

49

a) Kemampuan Ekstrak Daun Serai Menggunakan Sprayer Dengan


Konsentrasi 70% Dalam Membunuh Nyamuk Culex Sp
Pada konsentrasi 70% ekstrak daun serai menggunakan alat
sprayer jumlah nyamuk yang mati setelah dilakukan replikasi diperoleh
rata-rata nyamuk yang mati 17 ekor selama 1 jam pengamatan. Pada
pengamatan pertama jumlah nyamuk yang mati 16 ekor dan setelah
dilakukan replikasi jumlah nyamuk yang mati 18 ekor. Ini menunjukkan
bahwa ekstrak daun serai dengan konsentrasi 70%

tidak efektif

membunuh nyamuk karena tidak memenuhi standar uji kerentanan


nyamuk yaitu 90% ( Anonim B, 2010 ).
b) Kemampuan ekstrak daun serai menggunakan sprayer dengan
konsentrasi 75% dalam membunuh nyamuk culex sp
Pada konsentrasi 75% ekstrak daun serai menggunakan alat
sprayer jumlah nyamuk yang mati setelah dilakukan replikasi diperoleh
rata-rata nyamuk yang mati 19 ekor selama 1 jam pengamatan. Pada
pengamatan pertama jumlah nyamuk yang mati 18 ekor dan setelah
dilakukan replikasi jumlah nyamuk yang mati 19 ekor. Ini menunjukkan
bahwa ekstrak daun serai dengan konsentrasi 75% efektif membunuh
nyamuk karena memenuhi standar uji kerentanan nyamuk yaitu 90%
c) Kemampuan ekstrak daun serai menggunakan sprayer dengan
konsentrasi 80% dalam membunuh nyamuk culex sp

50

Pada konsentrasi 80% ekstrak daun serai menggunakan alat


sprayer jumlah nyamuk yang mati setelah dilakukan replikasi diperoleh
rata-rata nyamuk yang mati 20 ekor selama 1 jam pengamatan. Pada
pengamatan pertama jumlah nyamuk yang mati 20 ekor dan setelah
dilakukan replikasi jumlah nyamuk yang mati 20 ekor. Ini menunjukkan
bahwa ekstrak daun serai dengan konsentrasi 80% efektif membunuh
nyamuk karena

memenuhi standar uji kerentanan nyamuk yaitu

90%.( Anonim B, 2010 )


Sebangaimana yang telah kita ketahui bahwa serai merupakan
tumbuhan menahung yang tingginya berkisar 50 100 cm. Selain
digunakan sebagai bumbu masak, juga dapat digunakan sebagai
insektisida

pembasmi

serangga

karena

mengandung

senyawa

sitronela yang berfungsi untuk menyerap cairan tubuh serangga


secara terus menerus. Selain itu ekstrak daun serai juga menghasilkan
bau yang tidak sedap bagi nyamuk sehingga akan mengurangi daya
tahan tubuh nyamuk.
Pada proses pengujian ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, misalnya teknik perlakuan pada sampel, pengujian yang
telah dilakukan, memindahkan sampel ke dalam kurungan nyamuk,
tidak ditemukan nyamuk dalam kondisi yang mati karena itu butuh
kewaspadaan dan ketelitian. Sampel yang dimasukkan kedalam

51

kurungan nyamuk tersebut

dibiarkan kontak dengan ekstrak daun

serai yang sudah disemprotkan pada kurungan nyamuk selama 1 jam.


Berdasarkan hasil pengujian ekstrak daun serai pada tabel 4.3
menunjukkan bahwa minyak astiri yang mengandung senyawa
sitronella memiliki daya proteksi tertinggi pada konsentrasi 80%
ekstrak daun serai sehingga mampu membunuh nyamuk culex sp
secara keseluruhan.
Di samping itu ekstrak daun serai juga mengandung senyawa
graniol ( CCC 10H8O ) yang menimbulkan aroma yang kurang sedap
terhadap nyamuk sehingga akan menurunkan daya tahan tubuh
nyamuk. Hal ini merupakan faktor pendukung mempercepat terjadinya
kematian nyamuk culex sp. ( Anonim C, 2013 ).
Semakin tinggi konsentrasi perlakuan semakin banyak jumlah
nyamuk culex sp yang mati. Hal ini disebabkan karena kandungan
dalam ekstrak daun serai yaitu minyak atrisi yang mengandung zat
insektisida mempunyai dasar toksitas yang juga tinggi. Apabila
diperhatikan dari waktu lamanya pemajanan bahwa semakin lama
waktu pemajanan, maka jumlah nyamuk culex sp yang mati semakin
banyak.
Ektrak

daun

serai

menggunakan

alat

sprayer

efektif

membunuh nyamuk culex sp dengan konsentras 70%, 75% dan 80%,

52

dan konsentrasi yang paling efektif membunuh nyamuk adalah 75%


dan 80%.
2.

Pengaruh Lama Pemajanan


Ciri-ciri nyamuk Culex dewasa adalah berwarna hitam belangbelang putih, kepala berwarna hitam dengan putih pada ujungnya.
Pada bagian thorak terdapat 2 garis putih berbentuk kurva. Palpus
nyamuk betina lebih pendek dari proboscis, sedagkan pada nyamuk
jantan palpus dan proboscis sama panjang. Pada sayap mempunyai
bulu yang simetris dan tanpa costa. Sisik sayap membentuk kelompok
sisik berwarna putih dan kuning atau putih dan coklat juga putih dan
hitam.
Nyamuk Culex memiliki kebiasaan yang berbeda dengan
Aedes Aegepty, bila Aedes aegepty suka hidup pada air bersih maka
Culex menyukai air yang kotor seperi genangan air, limbah
pembuangan mandi, got ( selokan ) dan sungai yang penuh sampah. ,
nyamuk yang memiliki ciri fisik coklat keabu-abuan ini mampu
berkembang biak disegala musim. Hanya saja jumlahnya menurun
saat musim hujan karena jentik-jentiknya terbawa arus. Culex
melakukan kegiatannya dimalam hari.( Anonim B, 2013 )
Nyamuk Culex sp betina dapat meletakkan telur sampai 100
butir setiap datang waktu bertelur. Telur telur tersebut diletakkan
diatas permukaan air dalam keadaan menempel pada dinding vertical
53

bagian dalam tempat tempat penampungan air . Nyamuk Culex sp


betina lebih menyukai tempat penampungan air yang tertutup longgar
untuk meletakkan telurnya dibandingkan dengan tempat penampunga
air yang terbuka, karena tempat penampungan air yang tertutup
longgar

tutupnya

jarang

dipasang

dengan

baik

sehingga

mengakibatkan ruang didalamnya lebih gelap.


Telur akan menetas dalam waktu 1-3 hari pada suhu 30 C,
sementara pada suhu 16 C telur akan menetas dalam waktu 7 hari.
Telur dapat bertahan tanpa media air dengan syarat tempat tersebut
lembab.
Telur dapat bertahan sampai berulan bulan pada suhu 2 C
sampai 42 C. Stadium larva berlangsung selama 6-8 hari. Stadium
larva terbagi menjadi 4 tingkatan perkembangan atau instar. Instar I
terjadi setelah 1-2 hari telur menetas, Instar II terjadi setelah 2-3 hari
telur menetas, instar III terjadi setelah 3-4 hari telur menetas dan instar
IV terjadi setelah 4-6 hari telur menetas. Stadium pupa terjadi seteah 6
-7 hari telur menetas. Stadium pupa berlangsung selama 2 -3 hari.
Lama

waktu

stadium

pupa

dapat

diperpanjang

dengan

menurunkan suhu pada tempat perkembangbiakan, tetapi pada suhu


yang

sangat

rendah

dibawah

10 C

pupa

tidak

mengalami

perkembangan. Stadium dewasa terjadi setelah 9 10 hari telur


menetas. Meskipun umur nyamuk Culex sp betina di alam pendek
54

yaitu kira kira 2 minggu, tetapi waktu tersebut cukup bagi nyamuk
Culex sp betina untuk menyebarkan virus dengue dari manusia yang
terinfeksi ke manusia yang lain. (Anonim B, 2013 )
Pupa merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di
dalam air, pada stadium ini tidak memerlukan makanan dan terjadi
pembentukan sayap hingga dapat terbang, stadium kepompong
memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari.Pada fase ini
nyamuk membutuhkan 2-5 hari untuk menjadi nyamuk, dan selama
fase ini pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva
menjadi nyamuk yang dapat terbang dan keluar dari air. Setelah
muncul dari pupa nyamuk jantan dan betina akan kawin dan
nyamuk betina yang sudah dibuahi akan menghisap darah waktu 2436 jam. Darah merupakansumber protein yang esensial untuk
mematangkan telur. Perkembangan telur hingga dewasa memerlukan
waktu sekitar 10 sampai 12 hari. ( Anonim B, 2013 ).
Setelah kontak dengan insektisida nabati selama satu jam
terlihat bahwa pergerakan nyamuk tidak terlihat atau tidak banyak
melakukan pergerakan dan ada juga sudah mati. Ini menunjukkan
bahwa ekstrak daun serai efektif membunuh nyamuk.
Kejadian tersebut dapat dianalisa bahwa kandungan senyawa
sitronela yang bersifat sebagai racun dehidrasi pada ekstrak daun
serai telah bereaksi pada tubuh nyamuk culex sp secara perlahan
55

lahan cairan tubuh nyamuk tersebut teresap secara terus menerus.


Selain itu, senyawa linalol juga memberikan pengaruh terhadap
penurunan daya tahan tubuh nyamuk. Hal ini dikarenakan bau yang
ditimbulkan oleh senyawa linalol tidak disukai oleh nyamuk.
Untuk percobaan pada jenis nyamuk lain, sebenarnya tidak
dilakukan, mengingat objek utama dalam penelitian ini adalah nyamuk
culex sp. Tetapi jika dibandingkan dengan nyamuk selain spesies culex
dapat dianalisa bahwa struktur dan kondisi tubuh nyamuk hampir
sama, jika dilakukan pengujian ekstrak daun serai terhadap spesies
lain, hasil yang didapatkan tidak jauh beda dengan spesies culex sp
karena racun kontak yang bersifat dehidrasi akan menyerap cairan
tubuh nyamuk secara terus menerus hingga menimbulkan kematian.
Adapun hasil pengukuruan

suhu ruangan penelitian yang

diukur selama melakukan penelitian adalah rata rata


udara tersebut tidak mempengaruhi

25C suhu

penelitian karena suhu yang

terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat mempengaruhi kelansungan


hidup nyamuk, dimana suhu minimum adalah 15C dan suhu
maksimum 45C.
Hasil pengukuran kelembaban udara dalam ruangan penelitian
yang juga diukur selama melakukan penelitian yaitu rata rata 60%..
Kelembaban tersebut tidak menganggu kelancaran penelitian karena

56

kelembaban udara yang mendukung kehidupan nyamuk adalah sekitar


60% - 89%.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisa hasil yang telah
dilakukan,maka dapat disimpulkan sesuai dengan tujuan yang akan
dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :.
1. Ekstrak daun serai dengan dosis 80% dengan menggunakan
alat sprayer efektif membunuh nyamuk culex sp secara
keseluruhan dengan presentase kematian mencapai 100%.
2. Ekstrak daun serai dengan dosis 75% dengan menggunakan
alat sprayer efektif membunuh nyamuk culex sp dengan
presentase kematian mencapai 95%.

57

3. Ekstrak daun serai dengan dosis 70% dengan menggunakan


alat sprayer tidak efektif membunuh nyamuk culex sp dengan
presentase kematian mencapai 85%, karena tidak memenuhi
standar uji kerentanan nyamuk yaitu 90%.
B. SARAN
1. Pihak yang terkait hendaknya melakukan pendekatan kepada
masyarakat dan mensosialisasikan potensi sumber daya alam,
dalam hal ini pemanfaatan ekstrak daun serai sebagai anti
nyamuk.
2. Untuk peniliti selanjutnya dapat mencoba bahan herbal lainnya
yang dapat digunakan sebagai bahan aktif yang spesifik bersifat
racun terhadap nyamuk

58