Anda di halaman 1dari 4

PETUNJUK PELAKSANAAN BUDIDAYA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei)

(Sumino : 0310060911)
I.

PENDAHULUAN
Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu jenis udang introduksi

yang akhir-akhir ini banyak diminati, karena memiliki keunggulan seperti tahan penyakit,
pertumbuhannya cepat (masa pemeliharaan 100-110 hari), sintasan selama pemeliharaan tinggi
dan nilai konversi pakan (FCR-nya) rendah (1:1,3). Namun dimikian pembudidaya udang yang
modalnya terbatas masih menggangap bahwa udang vannamei hanya dapat dibudidayakan secara
intensif. Anggapan tersebut ternyata tidaklah sepenuhnya benar, karena hasil kajian menunjukan
bahwa udang vannamei juga dapat diproduksi dengan pola tradisional. Bahkan dengan pola
tradisional petambak dapat menghasilkan ukuran panen yang lebih besar sehingga harga per kilo
gramnya menjadi lebih mahal. Teknologi yang tersedia saat ini masih untuk pola intensif dan
semi intensif, pada hal luas areal pertambakan di Indonesia yang mencapai sekitar 360.000 ha,
80% digarap oleh petambak yang kurang mampu. Informasi teknologi pola tradisional plus untuk
budi daya udang vannamei sampai saat ini masih sangat terbatas. Diharapkan dengan adanya
brosur ini dapat menambah wawasan pengguna dalam mengembangkanbudi daya udang
vannamei pola tradisional plus.
II.

PERSIAPAN TAMBAK
1.

Pengeringan/ pengolahan tanah dasar


Air dalam tambak dibuang, ikan-ikan liar diberantas dengan saponin, genangaan air

yang masih tersisa dibeberapa tempat harus di pompa keluar. Selanjutnya tambak
dikeringkan sampai retak-retak kalau perlu di balik dangan cara ditraktor sehingga H 2S
menghilang karena teroksidasi. Pengeringan secara sempurna juga dapat membunuh
bakteri patogen yang yang ada di pelataran tambak.
2.

Pemberantasan hama
Pemberantasan ikan-ikan dengan saponion 15-20 ppm (7,5-10 kg/ ha) dengan tinggi

air tembak 5 cm.

3.

Pengapungan dan pemupukan


Untuk menunjang perbaikan kualitas tanah dan air dilakukan pemberian kapur bakar

(CaO) 1000 kg/ ha, dan kapur pertanian sebanyak 320 kg/ ha. Selanjutnya masukkan air
ketambak sehingga tambak menjadi macak-macak kemudian dilakukan pemupukan dengan
pupuk urea (150 kg/ ha), pupuk kandang (2000 kg/ ha).
4.

Pengisian air
Pengisian air dilakukan setelah seluruh persiapan dasar tambak telah rampung dan air

dimasukkan ke dalam tambak secara bertahap. Ketinggian air tersebut dibiarkan dalam
tambak selama 2-3 minggu sampai kondisi air betul-betul siap ditebari benih udang. tinggi
air di petak pembesaran diupayakan 1,0 m.
III. PENEBARAN
Penebaran benur udang vannamei dilakukan setelah plankton tumbuh baik (7-10 hari)
sesudah penumpukan. Benur vanname yang digunakan adalah PL 10 - PL 12 berat awal
0,001g/ekor diperoleh dari hatchery yang telah mendapatkan rekomendasi bebas patogen,
Spesific Pathogen Free (SPF). Kriteria benur vannamei yang baik adalah mencapai ukuran PL 10 atau organ insangnya telah sempurna, seragam atau rata, tubuh benih dan usus terlihat jelas,
berenang melawan arus.
Sebelum benuh di tebar terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi terhadap suhu dengan cara
mengapungkan kantong yang berisi benuh ditambak dan menyiram dengan perlahan-lahan.
Sedangkan aklimatisasi terhadap salinitas dilakukan dengan membuka kantong dan diberi sedikit
demi sedikit air tambak selama 15-20 menit. Selanjutnya kantong benur dimiringkan dan
perlahan-lahan benur vannamei akan keluar dengan sendirinya. Penebaran benur vannamei
dilakukan pada saat siang hari.
Padat penebaran untuk pola tradisional tanpa pakan tambahan dan hanya mengandalkan
pupuk susulan 10% dari pupuk awal adalah 1-7 ekor/m. Sedangkan apabila menggunakan pakan
tambahan pada bulan ke dua pemeliharaan, maka disarankan dengan padat tebar 8-10 ekor/m.

IV. PEMELIHARAAN
Selama pemeliharaan, dilakukan monitoring kualitas air meliputi: suhu, salinitas,
transparasi, pH dan kedalaman air dan oksigen setiap hari. Selain itu, juga dilakukan pemberian
pemupukan urea dan TPS susulan setiap 1 minggu sebanyak 5-10% dari pupuk awal. (urea
150kg/ha) dan hasil fermentasi probiotik yang diberikan seminggu sekali guna menjaga
kestabilan plangton dalam tambak. Pengapuran susulan dengan dolomit super dilakukan apabila
pH berfluktuasi. Pakan diberikan pada hari ke-70 dimana pada saat itu dukungan pakan alami
(plangton) sudah berkurang atau pertumbuhan udang mulai lambat. Dosis pakan yang di berikan
5-2% dari biomassa udang dengan frekuensi pemberian 3kali/hari yakni 30% pada jam 7.00 dan
16.00 serta 40% pada jam 22.00. Pergantian air yang pertama kali dilakukan setelah udang
berumur > 60 hari dengan volume pergantian 10% dari volume total, sedangkan pada bukan
berikutnya hingga panen, volume pergantian air ditingkatkan mencapai 15-20% pada setiap
periode pasang. Sebelum umur pemeliharaan mencapai 60 hari hanya dilakukan penambahan air
sebanyak yang hilang akibat penguapan atau rembesan. Kualitas air yang layak untuk
pembesaran vannamei adalah salinitas optimal 10-25 ppt (toleransi 50 ppt), suhu 28-31 0C,
oksigen > 4 ppm, amoniak < 0,1 ppm, pH 7,5-8,2 dan H2S < 0,003 ppm.
V.

PANEN
Panen harus mempertimbangkan aspek harga, pertumbuhan dan kesehatan udang. Panen

dilakukan setelah umur pemeliharaan 100-110 hari. Perlakukan sebelum panen adalah pemberian
kapur dolomit sebanyak 80 kg/ha (tinggi air tambak 1 m), dan mempertahankan ketinggian air
(tidak ada pergantian air) selama 2-4 hari yang bertujuan agar udang tidak mengalami molting
(ganti kulit) pada saat panen. Selain itu disiapkan peralatan panen berupa keranjang panen, jaring
yang dipasang di puntu air, jala lempar, stiroform, ember, baskom, dan lampu penerangan
dilakukan dengan menurunkan volume air secara gravitasi dan di bantu pengeringan dengan
pompa.
Bersamaan dengan aktifitas tersebut juga dilakukan penangkapan udang dengan jala.
Sebaiknya panen dilakukan pada malam hari yang bertujuan untuk mengurangi resiko kerusakan
mutu udang, karena udang hasil panen sangat peka terhadap sinar matahari. Udang hasil
tangkapan juga harus di cuci kemudian direndam es, selanjutnya dibawa ke cold storage. Dengan

pola tradisional plus produksi udang vannamei 835-1050 kg/ha/musim tanam dengan sintasan
60-96%, ukuran panen antara 55-65 ekor/kg
Tabel. Analisis ekonomi usaha budi daya udang vannamei pola tradisional plus dilahan tambak
1ha, padat penebaran 80000 ekor/ha, dan lama pemeliharaan 105 hari

No

Uraian

Investasi
Pompa air (unit)
Sewa tambak (ha/tahun)

Jumlah

Harga (Rp)
1
1

4.500.000
2.500.000

Sub total
B

Biaya Operasional
Benur udang vannamei (ekor)
Pakan (kg)
Pupuk organik (kg)
Pupuk anorganik (kg)
Dolomit (kg)
Saponin (kg)
Solar (L)
Pemeliharaan tambak (paket)
Pemeliharaan peralatan (paket)
Lain-lain (paket)
Bunga modal (Rp 11 juta+Rp 7 juta/musim)

80.000
450
6.000
250
1.00
200
1
1
1
1
-

40
8.000
110
2.960
500
2.000
4.500
600.000
400.000
200.000
1.350.000

Penyesutan investigasi
Pompa (6 musim)
Sewa tambak/musim
Biaya total/musim
Penjaulan udang (kg/musim)
Upah penjaga (20%)
Keuntungan
Keuntungan/Ha/musim

3.200.000
3.600.000
660.000
740.000
500.000
200.000
900.000
600.000
400.000
200.000
1.350.000
12.350.000

750.000
1.250.000

Sub total
D

4.500.000
2.500.000
7.000.000

Sub total
C

Total (Rp)

750.000
1.250.000
2.000.000

1
835
1
1

14.350.000
29.500
2.057.000
8.288.000

14.350.000
24.632.500
2.057.000
8.225.500