Anda di halaman 1dari 9

Nama : Desta Widianingsih

NIM

: F1C014076

Matkul : Teori Komunikasi B

REVIEW CHAPTER 24
Technological Determinism
Determinasi Teknologi
Pengantar
Marshall McLuhan adalah pencetus dari teori determinisme teknologi pada tahun
1962 melalui tulisannya The Guttenberg Galaxy : The Making of Typographic Man. Dasar
teorinya adalah perubahan pada cara berkomunikasi akan membentuk cara berpikir,
berperilaku, dan bergerak ke abad teknologi selanjutnya di dalam kehidupan manusia.
Perkembangan teknologi diwujudkan dengan adanya inovasi, penemuan-penemuan baru, dan
hal-hal lain yang bertujuan mengembangkan teknologi untuk mempermudah kegiatankegiatan manusia, memberikan pengaruh yang besar kepada perkembangan nilai-nilai sosial
dan kehidupan dalam masyarakat. Inti dalam teori ini yaitu penemuan atau perkembangan
teknologi komunikasi merupakan faktor yang mengubah kebudayaan manusia. Di mana
menurut McLuhan, eksistensi manusia ditentukan oleh perubahan mode komunikasi.
Teori
McLuhan mengemukakan bahwa kita yang membentuk alat untuk kita, tetapi justru
sekarang alat itu yang membentuk kita. Maksudnya adalah alat teknologi yang kita bangun
hingga saat ini justru membuat perilaku kita, budaya yang sudah ada dapat berubah mengikuti
perkembangan teknologi yang terus berkembang. McLuhan berpikiran bahwa alat
komunikasilah yang dapat membuat budaya kita berubah. Kehidupan keluarga, tempat
bekerja, sekolah, tempat kesehatan, pertemanan, agama, kerjasama, rekreasi, politik, dan
kehidupan sosial yang lain yang tersentuh oleh teknologi komunikasi.
Medium is the message. Dalam pandangan McLuhan, media dapat membuat sugesti
berbeda untuk kita. Karena perbedaan media yang memberi suatu informasi yang sama, akan
menyebabkan sugesti yang berbeda pula. Dengan kata lain media dapat menimbulkan emosi

yang berbeda dalam menanggapi suatu pesan. Misalkan, ada kabar bahagia bahwa Ari telah
diterima menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Kabar tersebut dikabarkan
melalui telefon, dan emosi yang muncul saat itu akan berbeda ketika pesan penerimaannya
tersebut disampaikan dalam media online atau melalui websitenya.
Marshall McLuhan memetakan sejarah kehidupan manusia ke dalam empat periode.
Menurutnya transisi antar periode tersebut tidak bersifat evolusif, akan tetapi lebih
disebabkan oleh penemuan teknologi komunikasi. Empat periode tersebut antara lain :
1. The Tribal Age (Era Suku atau Purba)
Menurut McLuhan, pada era purba atau era suku zaman dahulu, manusia hanya
mengandalkan panca indera dalam berkomunikasi. Komunikasi pada era itu hanya
mendasarkan diri pada narasi, cerita, dongeng, dan sejenisnya. Jadi, telinga adalah
raja ketika itu, hearing was believing, dan kemampuan visual manusia belum
banyak diandalkan dalam komunikasi.

2. The Edge of Literacy (Era Literal atau Huruf)


Semenjak ditemukannya alfabet atau huruf, maka cara manusia berkomunikasi
banyak berubah. Indera penglihatan kemudian menjadi dominan di era ini, manusia
mulai membaca hingga mengalahkan penggunaan indera pendengaran. Manusia
berkomunikasi tidak lagi mengandalkan pembicaraan, tapi lebih kepada tulisan.

3. The Print Age (Era Cetak)


Sejak ditemukannya mesin cetak, menjadikan alfabet semakin menyebarluas ke
penjuru dunia. Kekuatan kata-kata melalui mesin cetak tersebut semakin merajalela.
Kehadiran mesin cetak, menjadikan manusia lebih bebas lagi untuk berkomunikasi.
McLuhan menyebutnya dengan revolusi industri.

4. The Electronic Age (Era Elektronik)


Era ini juga menandai ditemukannya berbagai macam alat atau teknologi komunikasi.
Telegram, telpon, radio, film, televisi, VCR, fax, komputer, dan internet. Manusia
kemudian menjadi hidup di dalam apa yang disebut sebagai global village. Media
massa pada era ini mampu membawa manusia untuk dapat bersentuhan dengan
manusia yang lainnya, kapan saja, di mana saja, seketika itu juga.
Catatan Kritis
Teori yang dikemukakan oleh Marshall McLuhan tentang perkembangan media atau
teknologi komunikasi mengubah budaya dalam kehidupan sosial masyarakat masih kurang
tepat. Karena perubahan budaya dalam masyarakat tidaklah terjadi hanya karena
perkembangan teknologi saja. Mode pakaian, sesuatu yang sedang trend pada saat itu juga
dapat menyebabkan budaya dalam masyarakat berubah seiring berkembangnya zaman.
Penerapan
Teori yang dikemukakan oleh Marshall McLuhan berguna untuk mengetahui
bagaimana alat teknologi yang kita ciptakan mampu mempengaruhi kehidupan kita seharihari dan budaya yang telah ada sebelumnya dapat berubah pula. Sehingga kita sebagai
pencipta dapat mengurangi atau bahkan dapat merubah pemikiran kita bahwa alat teknologi
yang selalu dikembangkan ini mempengaruhi kehidupan dan budaya yang telah dibangun
dengan proses yang cukup lama.
Contoh Kasus
Teknologi komunikasi kini telah berkembang pesat. Contohnya adalah perkembangan
ponsel genggam yang saat ini daya saingnya terus meningkat. Pencipta ponsel genggam
tersebut terus memikirkan kebutuhan-kebutuhan atau segala sesuatu yang diperlukan untuk
meningkatkan kualitas dari ponsel genggam tersebut, salah satunya adalah aplikasi dalam
ponsel genggam. Ditingkatkannya kualitas ponsel genggam tersebut dapat dikarenakan dari
faktor kebutuhan manusia yang kini hanya ingin menggunakan sesuatu atau melakukan
sesuatu dengan cepat. Seperti saat ini ada aplikasi yang dapat digunakan untuk memecahkan
soal matematika hanya dengan memotret soalnya, lalu muncul cara penyelesaian soal
tersebut. Sehingga kebudayaan kita dalam belajar telah berubah seiring berkembangnya alat
teknologi komunikasi.

REVIEW CHAPTER 25
Semiotics
Semiotik
Pengantar
Salah satu tokoh dari teori semiotik adalah Ronald Barthes. Ronald Barthes adalah
seorang kritikus sastra dan semiologi (semiotika) Perancis yang lulus dari Perguruan Tinggi
Perancis. Semiotika berasal dari bahasa Yunani, semeion yang berarti tanda. Semiotika adalah
model penelitian yang memperhatikan tanda-tanda. Tanda tersebut mewakili sesuatu objek
representatif. Semiotik merujuk pada sebuah disiplin, dan semiologi adalah ilmu yang
mempelajarinya. Istilah semiotik lebih mengarah pada tradisi Saussurean yang diikuti oleh
Charles Sanders Pierce dan Umberto Eco, sedangkan istilah semiologi lebih banyak dipakai
oleh Barthes. Baik semiotik ataupun semiologi merupakan cabang penelitian sastra atau
sebuah

pendekatan

keilmuan

yang

mempelajari

hubungan

antara

tanda-tanda.

Menginterpretasikan tanda dalam berkomunikasi adalah tujuan adanya semiologi. Walaupun


semiologi bersangkutan dengan anything that can stand for something else, Barthes tertarik
pada tanda-tanda sederhana dengan mengkomunikasikan ideologi atau makna konotatif dan
mengabadikan nilai-nilai dominan dalam masyarakat.
Teori
Awalnya teori tentang semiotik dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure. Melalui
teorinya bahwa terdapat sistem tanda, yaitu signified dan signifier yang memiliki hubungan
yang tidak dapat dipisahkan. Konsep yang dimaksudkan adalah adanya suatu tanda muncul
dikarenakan adanya sesuatu yang ditandai (signified) dan ada yang menandai (signifier).
Dengan kata lain, penanda adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna.
Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan

apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep yang
muncul dari suatu penanda.
Ronald Barthes adalah seorang kritikus yang mengemukakan tentang ilmu
mempelajari semiotik. Barthes adalah tokoh yang melanjutkan teori dari tokoh Ferdinand de
Saussure. Dalam teorinya, Barthes mengembangkan teori signified dan signifier dalam
membentuk tanda melalui 2 tingkatan, yaitu :
-

Denotasi : tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada
realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti. Atau dapat dikatakan
bahwa denotasi adalah interpretasi kita terhadap suatu obyek.

Konotasi : tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang
di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti.
Dengan kata lain, konotasi adalah obyek dalam pembuatan tanda.

Saussure lebih tertarik pada rumitnya pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentu
kalimat tersebut dapat diartikan menjadi sebuah makna, dan kurang memperhatikan
kenyataan yang terjadi bahwa dari suatu kalimat yang sama dapat memberikan makna yang
berbeda pada situasi yang berbeda. Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan
menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya
atau budaya yang telah dimiliki oleh seseorang, interaksi antara konvensi dalam teks dengan
konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal
dengan order of signification, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan
konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik
perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifiersignified yang dikemukakan oleh Saussure.
Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan yaitu mitos yang menandai suatu hal
yang terjadi dalam masyarakat. Mitos menurut Barthes terletak pada tingkat kedua
penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda tersebut akan menjadi
penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi,
ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna
denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.
Catatan Kritis

Penerapan
Teori yang dikemukakan oleh Ronald Barthes bahwa suatu tanda muncul dikarenakan
ada yang ditandai (signified) dan yang menandai (signifier) ini sering digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Dimana dalam setiap bidang atau aspek kehidupan sosial manusia
dipenuhi

dengan

penggunaan

tanda-tanda.

Tanda-tanda

muncul

dapat

membantu

memudahkan dan memperlancar manusia dalam mengerti tanda yang terdapat dalam
berkomunikasi sehari-hari. Contohnya ada tanda dimana kita harus berbicara empat mata
saja.
Contoh Kasus
Hampir disetiap sudut tentunya terdapat rambu lalu lintas. Salah satu dari rambu lalu
lintas adalah rambu dengan huruf P dicoret. Karena telah menjadi suatu budaya, ketika
melihat rambu tersebut dengan cepat kita berpikir bahwa rambu dengan huruf P dicoret
memiliki arti kita tidak dapat parkir di tempat tersebut. Dalam teori Barthes, huruf P dicoret
tersebut menggambarkan yang menandai (signifier) yang termasuk pada tahap pertandaan
konotasi. Sedangkan pemikiran yang muncul dari kita melihat rambu tersebut berarti yang
ditandai (signified) yang termasuk pada tahap pertandaan denotasi. Maka tandanya adalah
huruf P dicoret berarti dilarang parkir di tempat tersebut.

REVIEW CHAPTER 26
Cultural Studies
Studi Budaya
Pengantar
Teori dari studi budaya ini dikemukakan oleh Stuart Hall. Stuart Hall adalah seorang
kritikus dan profesor sosiologi yang berasal dari Universitas Terbuka, Milton Keynes,
England. Menurut Hall, yang diperbincangkan dalam cultural studies adalah persoalan
kekuasaan dan politik, dan kebutuhan akan perubahan dengan adanya representasi atas dan
bagi kelompok sosial yang terpinggirkan atau biasa saja. Dalam teori Hall banyak yang

dipengaruhi oleh pemikiran Marxis yang melihat bahwa terdapat hubungan antara kekuatan
atau kekuasaan dibalik praktek masyarakat, terutama dalam praktek komunikasi massa dan
media massa. Hall juga mengkritik para ilmuwan yang hanya sekedar mampu
menggambarkan tentang dunia, akan tetapi tidak berusaha untuk mengubah dunia tersebut ke
arah yang lebih baik. Tujuan Hall dan para ilmuwan dari Teori Kritis adalah memberdayakan
dan memberikan kekuatan kepada masyarakat yang terpinggirkan terutama dalam dunia
komunikasi massa.
Teori
Stuart Hall menyatakan bahwa media merupakan alat yang kuat bagi kaum elite.
Media berfungsi untuk mengkomunikasikan cara-cara berpikir yang dominan, tanpa
mempedulikan efektifitas pemikiran tersebut. Media merepresentasikan ideologi dari kelas
yang dominan didalam masyarakat. Karena media dikontrol oleh korporasi (kaum elite),
informasi yang ditampilkan kepada publik juga pada akhirnya dipengaruhi dan ditargetkan
dengan tujuan untuk mencapai keuntungan. Pengaruh media dan peranan kekuasaan harus
dipertimbangkan ketika menginterpretasikan suatu budaya.
Cultural Studies pada dasarnya adalah pemikiran yang rumit. Teori Hall banyak
dipengaruhi oleh pemikiran dalam ide tentang determinisme ekonomi, analisis tekstual dalam
studi semiotika, dan terutama pemikiran tentang kritik filsafat atau bahasa kritikan yang
dibentuk oleh Michel Foucault. Hall juga mengadopsi konsep hegemoni. Menurutnya, terjadi
hegemoni penguasaan atau dominasi satu pihak oleh pihak yang lain, terutama dalam peran
budaya dalam praktek media massa. Praktek hegemoni tidak bersifat disadari, koersif, dan
memiliki efek yang total. Meskipun tayangan media massa itu beragam namun pada dasarnya
mengarahkan kepada perspektif yang cenderung kepada standar yang dimiliki oleh pemilik
media massa itu sendiri. Hasilnya, media massa tidak menggambarkan apa yang ada di
masyarakat, tetapi berubah menjadi mampu menentukan apa yang seharusnya terjadi dalam
masyarakat.
-

Hegemoni: Pengaruh terhadap Massa


Hegemoni adalah pengaruh, kekuasaan, atau dominasi dari sebuah kelompok sosial
terhadap yang lain. Adanya perbedaan ideologi budaya dalam masyarakat.

Hegemoni Tandingan: Massa Mulai Mempengaruhi Kekuatan Dominan

Hegemoni tandingan adalah ketika pada masa-masa tertentu, orang akan


menggunakan perilaku hegemonis untuk menantang dominasi di dalam kehidupan
mereka.
Tidak adanya pesan hegemoni atau hegemoni tandingan tanpa kemampuan khalayak
untuk menerima pesan dan membandingkannya dengan makna yang telah tersimpan di dalam
pikiran mereka. Ini disebut pendekodean (decoding). Ketika kita menerima pesan dari orang
lain, kita mendekodekan pesan-pesan tersebut berdasarkan persepsi, pemikiran, dan
pengalaman masa lalu kita.
Hall mengemukakan bahwa seorang khalayak melakukan pendekodean terhadap
pesan melalui tiga sudut pandang atau posisi, yaitu:
1. Posisi dominan-hegemonis
Individu beroperasi dalam kode yang memungkinkan orang untuk memiliki kontrol terhadap
orang yang lainnya. Contohnya adalah kode profesional untuk seorang penyiar televisi, di
mana akan selalu bekerja di dalam hegemoni kode yang lebih dominan.
2. Posisi ternegoisasi
Anggota khalayak dapat menerima ideologi dominan tetapi akan bekerja dengan beberapa
pengecualian menyangkut aturan budaya.
3. Posisi oposisional
Anggota khalayak memasukan kode alternatif bagi kode yang disediakan oleh media.
Konsumen yang kritis akan menolak makna sebuah pesan yang dipilih dan ditentukan oleh
media dan menggantikannya dengan pemikiran mereka sendiri mengenai subyek tertentu.
Catatan Kritis
Hall menuduh McLuhan bahwa ia terlalu sering menggunakan peran media massa.
Yang dimaksudkan adalah ia selalu memperbolehkan media massa untuk meliput tentang
dirinya pada tahunnya sebagai kaum elite dan membuat media massa melupakan tentang
masalah di dalam masyarakat. Analisis budaya yang dilakukan Hall tidak terlalu berpengaruh
tinggi terhadap studi budaya atau teori-teori kritik yang lainnya.
Penerapan
Teori yang dikemukakan oleh Stuart Hall biasa digunakan untuk kegiatan dalam
media massa. Dimana digunakannya sebuah kode-kode yang menimbulkan hegemoni dan

hanya diketahui oleh pekerja dalam media massa. Pembuatan berita yang dilakukan oleh
media massa juga tidak terlepas dari teori studi budaya Stuart hall. Dapat terlihat saat ini
banyak berita yang memunculkan suatu berita dari apa yang terjadi dalam masyarakat, bukan
sesuatu yang dapat mempengaruhi hidup atau membuat suatu kejadian di dalam masyarakat.
Contoh Kasus
Dunia kerja saat ini lebih tertarik dengan menggunakan karyawan yang
berpenampilan menarik. Contohnya ada seorang wanita yang berparas cantik bernama Cika
dan ada seorang wanita yang berparas biasa saja bernama Cita, melamar pekerjaan di stasiun
TV. Mereka berdua melakukan tes agar dapat masuk dalam perusahaan tersebut. Dan ternyata
yang lolos dari serangkaian tes tersebut adalah Cika. Hal ini menunjukan Cika sebagai kaum
elite yang memiliki relasi dari perusahaan tersebut akan lebih diperhatikan dan memiliki nilai
lebih di mata para penguji. Hal tersebut menunjukan tanggapan Hall dimana kaum elite lebih
berkuasa atau menguasai dalam suatu ideologi daripada kaum yang biasa saja.

DAFTAR PUSTAKA
-

Griffin ,EM .2003. A First Look At Communication Theory. 5th ed. New York: Mc

Graw Hill.
https://ndahindah.wordpress.com/2012/05/17/semiotika-makna-dalam-komunikasi/

(diakses pada tanggal 30 Maret 2015)


http://id.wikipedia.org/wiki/Determinisme_teknologi (diakses pada tanggal 30 Maret

2015)
http://filsafat.kompasiana.com/2012/11/06/teory-determinisme-technology-marshall-

mcluhan-1962--507089.html (diakses pada tanggal 30 Maret 2015)


http://bahana-suara.blogspot.com/2012/11/teori-determinisme-teknologi.html (diakses

pada tanggal 30 Maret 2015)


https://yearrypanji.wordpress.com/2008/06/03/determinisme-teknologi-marshall-

mcluhan/ (diakses pada tanggal 30 Maret 2015)


http://rennynataliaa.blogspot.com/2013/01/teori-kritis-habermas.html (diakses pada

tanggal 29 Maret 2015)


http://vitakent.blogspot.com/2012/02/kajian-budaya.html (diakses pada tanggal 29

Maret 2015)
https://yearrypanji.wordpress.com/2008/08/22/cultural-studies/ (diakses pada tanggal
29 Maret 2015)