Anda di halaman 1dari 4

KARANGAN BUNGA UNTUK MOTIFATOR

Diora Agnesa gadis kecil yang mempunyai semangat besar. kini dia tepat
berumur 7 tahun , namun di usia segitu dia sudah banyak memotifasi orang
walau pun tidak semua orang tahu bahwa motifator cilik ini menderita
penyakit kanker darah dan hidupnya di fonis tidak akan lama lagi.
Bukan diora malu orang mengetahui penyakitnya tapi dia tidak
mau membuat orang lain sedih dan kasihan padanya , walaupun terkadang
dia merasa sedikit iri melihat anak seusianya memiliki rambut yang indah
yang bisa mereka ubah kapanpun mereka mau , tapi tidak dengan diora karna
kanker darahlah rambut indahnya harus dia relakan gugur , karena itulah dia
menutupi kepalanya dengan kerudung.
Diora tidak pernah kehilangan kasih sayang sedikitpun , karena
dia sangat di sayangi oleh orang orang yang dia motifasi , sebab itulah diora
mempunyai keinginan yang kuat untuk hidup lebih lama lagi , walaupun
takdir telah menentukan dia akan pergi dari dunia ini , akan tetapi kehendak
tuhan tidak bisa di elakan kalau suatu saat nanti dia panjang umur dan bisa
menggapai cita-citanya sebagai seorang polisi wanita.
Siang itu diora pulang sekolah ,karena mamanya tidak dapat
menjemput diorapun menunggu bus di halte , saat dia sedang duduk
menunggu di halte ada seorang polwan cantik menghampirinya dan bertanya
padanya adik mau kemana , kok sendirian .? tanya polwan itu padanya ,
diora menjawab saya , mau pulang kerumah kak, mama tidak sempat
menjemput saya sehingga saya naik bus saja polwan itu tersenyum padanya ,
dan kemudian bertanya kembali kakak boleh tidak tahu cita-cita adik diora
membalas senyum polwan itu , kemudian dia mengambil buku gambarnya dan
memperlihatkanya pada polwan itu , polwan itu terkejut melihat gambaran
diora yang menggambarkan cita-citanya oh ya , kamu ingin jadi polwan
seperti kakak , mulia sekali cita-citamu. Diora tersenyum kembali .
Lama diora menunggu di halte itu bersama polwan yang baru
saja dia kenal , mereka nampak akrab seperti kakak dan adik . entah mengapa
polwan itu panik melihat dirinya dan segera mengambil sesuatu dari kantong
seragamnya , setelah menyadari dirinya mimisan , kepalanya terasa pusing
pandanganya buram , hanya bisa melihat bayangan polwan itu mengusab
hidungnya dan tiba-tiba gelap gulita.
Setelah diora terperangkap dalam kegelapan selama berjam-jam ,
akhirnya dia pun sadar , saat dia membuka mata dengan perlahan dia melihat
di sekelilingnya suatu lingkungan yang tidak asing baginya , dia hanya di
temani inpus , alat pendeteksi denyut jantung dan seorang suster . dalam
hatinya itu tempat yang sangat membosankan di mana dia hanya bisa

berbaring, tidak lama kemudian seorang wanita , yang sering dia panggil
mama membuka pintu itu dan mengusap pipinya.
Tiga hari berlalu dengan membosankan , tanpa aktifitas yang
berarti , diora hanya melamun memandang keluar jendela hmmm, dimana
kakak polwan kemarin ya.? Berangan angan , kemudian dia tersadar
astaga buku diary ku ( menoleh kearah tas sekolahnya , dan mengambil
sesuatu ), huuh untung saja ada di dalam tas. Dalam hatinya lega bisa
menemukan buku diarinya , ketika dia membuka buku itu , dia memandang ke
arah , hitungan hari yang dia tulis oh , tidak mengapa begitu cepat hidup ku
tinggal tiga hari lagi , apa yang harus aku lakukan .? .
Diam-diam dia keluar dari kamar itu, lalu berniat ke halte tempat dia
bertemu kakak polwan kemarin , namun dia tidak menjumpai polwan itu , diora
menunggu sampai petang tiba , tanpa menghiraukan mama yang sedang
khawatir mencarinya , orang yang lewat di halte itu terheran-heran melihatnya
karna memakai baju pasien , namun diora tidak menghiraukanya , dia tetap
menunggu dan menunggu hingga malam pun tiba , dia bangun dari
penantianya , samar-samar seperti seseorang yang pernah dia kenal , suaranya
pun lembut menyejukan hati, dengan spontan , diora memeluk orang itu yang
ternyata kakak polwan . diora pun di ajak polwan itu kembali ke rumah sakit
karna mamanya meminta polwan untuk mencarinya.
Sesampainya di kamar rumah sakit , diora di temani oleh polwan
yang masih berpakaian seragam , tapi diora tidak melihat mamanya , diora
tidak terlalu memusing kan itu karena yang dia ingin kan bisa bersama polwan
itu kak , kakak ada masalah tidak ?, kalau ada cerita dong sama aku. Diora
mengajukan pertanyaan yang membuat polwan itu , terperangak mengerutkan
keningnya , emm , ada sih , haaa kakak tahu motifator cilik ini mulai beraksi
nih kaya wartawan saja . kata polwan itu saat mencubit pipi diora karena
gemes , dari mana kakak tahu aku motifator cilik , yeee kakak sok tahu nih.
Kata diora karna tidak mau di sebut motifator ,.
Jam menunjukan tepat 09.00 malam , polwan itu segera pulang
karena melihat diora telah tertidur pulas , polwan itu berdiri dan beranjak dari
kursi , tiba-tiba tanganya di tarik oleh diora kakak jangan lupa datang ya
jenguk aku lagi besok . melepas genggamanya lalu tidur kembali , polwan itu
hanya tersenyum kemudian merapatkan kembali selimut diora , lalu pulang.
Ke esokan harinya diora menunggu polwan itu lagi , namun tidak
kunjung datang , pikirnya mungkin sedang sibuk bertugas , diora mencoba
sabar hingga dia tertidur , dan di bangunkan oleh suara wanita diora , ini
waktunya kamu bangun nak suara itu menggugahnya dan kemudian
terbangun kakak tidak ada siapa-siapa selain mamanya yang

membangunkan dia dari tidurnya , kemudian dia bertanya pada mamanya


ma , kakak polwan tadi datang tidak.? Namun mamanya hanya menggeleng .
Malam pundatang kembali sayangnya diora telah menunggu
sampai jam 09.00 orang yang dia tunggu tidak datang juga padahal diora ingin
menyampaikan sesuatu yang penting sebelum hari kematianya esok , di
tempat tidur rumah sakit itu , diora tidak merasa nyaman , badanya mulai
terasa dingin , padahal ruangan itu telah di pasang mesin penghangat , air
matanya tidak berhenti berlinang , tidak seperti biasanya karena diora tidak
suka tipikal orang yang cengeng , bahkan diora tidak pernah menangis saat
dia di fonis dokter dengan penyakit yang mematikan itu.
Diora mencoba untuk tidur nyenyak tapi dia selalu di hantui
mimpi buruk , hingga dia merasakan dirinya tidak terkendali sampai dia
menjerit menyebut mamanya mamaaaaaa. Mendengar teriakan diora dari
dalam kamar, mamanya pun masuk dan menemukan diora telah pingsan
tertelungkup di lantai dengan darah yang tidak hentinya mengalir dari hidung
dan mulut juga telinganya , dokter, dokter anak saya dok bagaimana ini , nak
sadar nak ini mama .
Setelah dokter telah menangani diora denyut jantungnya
mulai stabil , matanya mulai terbuka lebar walaupun dia susah berbicara
karena terhalang alat bantu pernafasan , namun suaranya terdengar lirih
meminta pada sang mama ma , a,aku mi , nta .polwan da di sini,?
Walaupun suaranya kurang jelas tapi mamanya sangat mengerti apa maksut
dan permintaanya , karena mungkin ini permintaanya yang terakhir. Diora
melihat mamanya pergi ke luar ruangan dan menggenggam handpon di
tanganya , setelah itu gelap kembali mendera. Hingga dia membuka mata
hari telah pagi.
Pandanganya tidak terlalu jelas , terasa sebuah tangan
yang dingin menggenggam tanganya , kemudian dia menoleh sedikit , betapa
senang hatinya ada kakak polwan yang dia tunggu-tunggu , bersama
sahabatnya juga orang-orang yang pernah dia motifasi kenapa kamu tidak
mau kasih tahu kalau kamu mempunyai penyakit separah ini,? Polwan itu
bertanya , sambil tidak bisa menahan air matanya yang jatuh , diora melepas
alat bantu pernafasanya aku tidak mau kakak dan semua orang yang ada di
sini sedih , makanya aku rahasiakan. Seorang sahabatnya maju mendekati
diora dan mengusap pipinya , aku akan sangat sedih karena kehilangan mu
diora tersenyum lebar jangan sedih , kalian seharusnya lega karena aku
lepas dari penyakit yang mebebaniku selama ini. Diora meyakinkan
sahabatnya , kemudian polwan itu meminta diora untuk duduk di kursi roda.
Setelah diora duduk , dia di antar ke depan rumah sakit dan betapa
terkejutnya dia sebuah karangan bunga yang besar bertuliskan kami sayang
kamu diora , semua orang yang ada di situ memeluknya , hingga dia menangis

sekencang kencangnya , dan ketika itu telinganya berdengung kencang ,


dadanya terasa sesak. Akhirnya diora menghembuskan nafas terakhir di
pelukan orang-orang dia cintai dan yang mencintainya .
Itulah kisah motifator cilik yang dapat menginpirasi semua orang
hingga kebaikanya tidak dapat di lupakan bahkan sampai dia telah tiada
sekalipun , walau semangatnya untuk hidup lebih lama telah kandas ,
namun kebaikan dan jasanya tidak akan pernah kandas di hati semua orang.

Anda mungkin juga menyukai