Anda di halaman 1dari 11

MIND MAP

Pengelompokan Larutan
Di bawah ini ada beberapa perbedaan yang dapat di amati antara larutan sejati,
sistem koloid dan suspensi kasar. Perhatikanlah tabel berikut!
No
1

Larutan Sejati
Homogen, tak dapat
dibedakan walaupun
menggunakan
mikroskop ultra

Koloid
Secara makroskopis bersifat
homogen tetapi heterogen jika
diamati dengan mikroskop ultra
(campuran antara homogen dan
heterogen)

Suspensi Kasar
Heterogen
(campuran), dapat
dibedakan secara
kasat mata

Stabil

Pada umumnya stabil

Tidak stabil

Satu fasa

Dua fasa

Dua fasa

Diameter partikel

Diameter partikel antara 1-100

lebih kecil dari 1 nm nm


5

Tidak dapat disaring


dan tak dapat
memisah ketika
didiamkan

Jernih

Bersifat transparan
dan meneruskan
cahaya

Tidak dapat disaring kecuali

Diameter partikel
lebih besar dari 100
nm
Dapat disaring dan

dengan penyaring ultra dan tak dapat memisah ketika


memisah ketika didiamkan

didiamkan

Agak keruh

Tidak jernih
Dapat

Dapat menghamburkan cahaya

menghamburkan
cahaya

Jenis-jenis koloid

a.

Sol Merupakan sistem koloid dengan fase terdispersi berupa zat padat dalam medium
pendispersi zat cair.Contohnya sol sabun, sol deterjen, sol kanji.

b.

Aerosol Merupakan sistem koloid dengan fase terdispersi padat atau cair dalam medium
pendispersi gas.Contoh produk yang dibuat dalam bentuk aerosol, hairspray, semprot
obat nyamuk, farfum, cat semprot. Untuk menghasilkan aerosol diperlukan suatu
bahan pendorong(propelan aerosol). Bahan pendorong yang banyak digunakan adalah
CFC dan karbon dioksida.

c.

Emulsi Merupakan sistem koloid dengan fase terdispersi cair dalam medium pendispersi
cair. Syarat terjadinya emulsi adalah kedua jenis zat cair tersebut tidak saling
melarutkan.Emulsi digolongkan ke dalam dua bagian yaitu :
-

Emulsi minyak dalam air ( M/A )


Contoh : santan, susu, lateks

Emulsi air dalam minyak ( A/M )


Contoh : mayonaise, minyak bumi, minyak ikan

Untuk membuat emulsi diperlukan zat pengemulsi (emulgator). Contohnya, sabun


mengemulsikan minyak ke dalam air, kasein dalam susu, kuning telur dalam mayonaise.
d.

e.

Buih Merupakan sistem koloid dengan fase terdispersi gas dalam medium pendispersi cair.
Seperti halnya emulsi untuk menstabilkan buih diperlukan zat pembuih, misalnya
sabun, deterjen, protein. Buih digunakan pada proses pengolahan biji logam, pada
alat pemadam kebakaran.Adakalanya buih tidak dikehendaki, untuk
memecah/mencegah buih dapat digunakan zat eter, isoamil alkohol.
Gel Merupakan koloid yang setengah kaku ( antara padat dan cair).Contohnya agar-agar,
lem kanji, selai, gelatin, gel silika. Gel dapat terbentuk dari sol yang zat terdispersinya
mengadsorpsi medium pendispersinya.

f. Sol padat merupakan sistem koloid dengan fase terdispersi berupa zat padat dan
medium pendispersi berupa zat padat. Contoh sol padat yaitu kaca
berwarna dan logam campuran (aloi) seperti stainless steel (campuran
antara besi, nikel, dan kromium).
g. Emulsi padat merupakan sistem koloid dengan fase terdispersi berupa zat cair dan
medium pendispersi berupa zat padat. Contoh emulsi padat yaitu
keju, mentega, dan mutiara.
h. buih padat merupakan sistem koloid dengan fase terdispersi berupa zat gas dan
medium pendispersi berupa zat padat. Contoh busa padat yaitu karet
busa dan batu apung.

Sifat-sifat koloid
a.Efek tyndall
Hamburan cahaya oleh partikel partikel koloid, sehingga jalannya sinar yang
melewati koloid dapat terlihat. Sifat khas pada sistem koloid yang
membedakannya dengan sistem dispersi yang lain diantaranya adalah efek
Tyndall dan gerak Brown. Efek Tyndall adalah peristiwa penghamburan cahaya
oleh partikel koloid. Efek ini dikemukakan oleh John Tyndall, ahli fisika
berkebangsaan Inggris. Partikel dalam sistem koloid dapat berupa molekul atau
ion yang berukuran cukup besar akan menghamburkan cahaya ke segala arah.
Larutan sejati/larutan tidak menunjukkan efek Tyndall, karena ukuran
partikelnya terlalu kecil untuk menghamburkan cahaya.
Di lingkungan kita sering terjadi efek Tyndall, diantaranya :
1. Terjadinya warna biru di langit pada siang hari dan warna merah atau
jingga di langit pada saat matahari terbenam di ufuk barat.
2. Sorot lampu proyektor di gedung bioskop akan tampak jelas ketika ada
asap rokok.
3. Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut.
4. Berkas sinar matahari yang melalui celah daun pepohonan pada pagi hari
yang berkabut.
b.Gerak Brown

Gerakan partikel koloid terus-menerus dengan gerak patah-patah (zig-zag), yang


diakibatkan oleh adanya tumbukan antara partikel-partikel koloid dengan medium
pendispersinya.Gerak Brown adalah gerak acak (zig-zag) partikel koloid dalam
medium pendispersinya. Gerak ini ditemukan oleh Robert Brown. Gerak Brown
terjadi karena adanya tumbukan yang tidak seimbang antara molekul-molekul
medium terhadap partikel koloid. Semakin tinggi suhu semakin cepat gerak
Brown berlangsung karena energi kinetik molekul medium meningkat sehingga
menghasilkan tumbukan yang lebih kuat.Gerak Brown dalam sistem koloid
menyebabkan partikel koloid tersebar merata dalam medium pendispersinya dan
tidak memisah meskipun didiamkan (stabil).
c.Elektroforesa
Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik. Elektroforesis adalah
pergerakan partikel koloid di bawah pengaruh medan listrik. Partikel-partikel
koloid dapat bermuatan listrik karena terjadi penyerapan ion pada permukaan
koloid. Kestabilan sistem koloid disebabkan adanya muatan listrik pada
permukaan partikel koloid, selain karena adanya gerak Brown. Pada peristiwa
elektroforesis, partikel koloid akan dinetralkan muatannya dan digumpalkan pada
elektroda. Kegunaan dari sifat ini adalah untuk menentukan muatan yang
dimiliki oleh suatu partikel koloid. Pada elektroforesis ini, ke dalam elektrolit
dimasukkan dua batang elektroda kemudian dihubungkan dengan sumber arus
searah, maka partikel-partikel koloid akan bergerak ke salah satu elektroda
tergantung pada jenis muatannya. Koloid yang bermuatan negatif akan bergerak
ke anode (elektode positif) sedangkan koloid yang bermuatan positif bergerak ke
katode (elektrode negatif).
d.Adsorpsi
Kemampuan partikel koloid mengikat materi di permukaan. Adsorpsi adalah
proses penyerapan suatu zat di permukaan zat lain. Zat yang diserap disebut
fase terserap dan zat yang menyerap disebut adsorpen. Peristiwa adsorpsi
disebabkan gaya tarik molekul-molekul pada permukaan adsorpen. Contoh
pemanfaatan adsorpsi :1. Penyembuhan sakit perut yang disebabkan bakteri
patogen dengan serbuk karbon atau norit. Di dalam usus, norit akan menjadi
koloid yang dapat mengadsorpsi zat racun(bakteri patogen) 2. Penjernihan air
keruh dengan tawas Al2(SO4)3. Dalam air tawas terhidrolisis menjadi Al(OH) 3
yang berbentuk koloid dan mampu mengadsorpsi kotoran dalam air khususnya zat
warna. 3. Penjernihan air tebu pada pembuatan gula pasir dengan tanah diatome
dan arang tulang (pemutihan gula).Zat warna dalam gula akan diadsorpsi sehingga
diperoleh gula yang putih. Adsorpsi gas oleh zat padat, misalnya pada masker
gas.

Adsorbsi keringat oleh alumium stearat yang terdapat dalam rol on deodorant.
Partikel koloid mampu mengadsorpsi ion positif dan ion negatif sehingga koloid
menjadi bermuatan listrik. Koloid yang bermuatan positif contohnya Fe(OH) 3 dan
yang bermuatan negatif contohnya As2S3.
e.Koagulasi

Koagulasi atau penggumpalan adalah peristiwa pengendapan partikel-partikel


koloid sehingga fase terdispersi terpisah dari medium pendispersinya.
Koagulasi disebabkan hilangnya kestabilan untuk mempertahankan partikelpartikel agar tetap tersebar di dalam medium pendispersinya. Koagulasi dapat
dilakukan secara mekanis, fisis dan kimia
1)
Mekanik, menggumpalkan koloid dengan pemanasan, pengadukan, dan
pendinginan. Proses ini akan mengurangi air atau ion di sekeliling koloid sehingga
koloid akan mengendap.Contohnya : protein, agar-agar dalam air akan menggumpal
bila didinginka.
2)

Fisis

Contoh : penggunakan alat cottrel. Alat Cottrel biasanya dipakai pada cerobong
asap di industri-industri besar, untuk menggumpalkan asap dan debu. Hal ini
bertujuan untuk mengurangi pencemaran asap dan debu yang berbahaya. Caranya
dengan melewatkan asap atau debu pada Cottrel sebelum keluar dari cerobong
pabrik. Alat ini terdiri dari dua pelat elektrode listrik bertegangan tinggi. Bila
sudah jenuh elektrode tersebut dibersihkan.
3)

Kimia

Cara ini dilakukan dengan penambahan zat elektrolit ke dalam koloid.


Contoh :
- Proses pengolahan karet dari bahan mentah (lateks) dengan menambahkan
asam formiat atau cuka.
- Pembentukan delta di muara sungai
- Proses penjernihan air dengan menambahkan tawas. Tawas digunakan untuk
menggumpalkan partikel koloid dalam air.
f.Dialysis

Penghilangan muatan koloid dengan cara memasukkan koloid ke dalam membrane


semipermeabel dan kemudian dimasukkan ke dalam aliran zat cair.
g.Koloid pelindung
Koloid yang dapat menstabilkan system koloid lain.

Pembuatan Koloid
Sistem koloid dapat dibuat dengan pengelompokan (agregasi) partikel larutan
sejati atau menghaluskan bahan dalam bentuk kasar, kemudian diaduk dengan
medium pendispersi.
Cara yang pertama disebut cara kondensasi, sedangkan yang kedua disebut cara
dispersi.
A. Cara Kondensasi

Dengan cara kondensasi, partikel larutan sejati (molekul atau ion)


bergabung menjadi partikel koloid.

Cara ini dapat dilakukan dengan reaksi-reaksi kimia, seperti reaksi redoks,
hidrolisis, dan dekomposisi rangkap, atau dengan pergantian pelarut.

1. Reaksi Redoks

Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi.

Contoh 1:
Pembuatan sol belerang dari reaksi antara hidrogen sulfida (H2S) dengan
belerang dioksida (SO2), yaitu dengan mengalirkan
gas
H2S ke dalam
larutan SO2.
H2S(g) + SO2(aq) 2 H2O(l) + 3 S (koloid)
Contoh 2:
Pembuatan sol emas dari reaksi antara larutan HAuCl4 dengan larutan K2CO3
dan HCHO (formaldehida).
2 HAuCl4(aq)+6 K2CO3(aq) + 3 HCHO(aq) 2 Au(koloid) + 5 CO2(g) + 8
KCl(aq) + KHCO3(aq) + 2 H2O(l)
2. Hidrolisis

Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.

Contoh:

Pembuatan sol Fe(OH)3 dari hidrolisis FeCl3. Apabila ke dalam air mendidih
ditambahkan larutan FeCl3, maka akan terbentuk sol
Fe(OH)3.
FeCl3(aq)+ 3 H2O(l) Fe(OH)3 (koloid) + 3 HCl(aq)
3. Dekomposisi Rangkap
Contoh 1:
Sol As2S3 dapat dibuat dari reaksi antara larutan H3AsO3 dengan larutan H2S.
2 H3AsO3(aq) + 3 H2S(aq) As2S3(koloid) + 6 H2O(l)
Contoh 2:
Sol AgCl dapat dibuat dengan mencampurkan larutan perak nitrat encer dengan
larutan HCl encer.
AgNO3(aq) + HCl(aq) AgCl(koloid) + HNO3(aq)
4. Penggantian Pelarut
Selain dengan cara-cara kimia seperti di atas, koloid juga dapat terjadi dengan
penggantian pelarut.
Contoh:
Apabila larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alkohol, maka akan
terbentuk suatu koloid berupa gel.
B. Cara Dispersi

Dengan cara dispersi, partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid.

Cara dispersi dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi, atau dengan


loncatan bunga listrik (cara busur Bredig).

1. Cara Mekanik

Menurut cara ini, butir-butir kasar digerus dengan lumping atau penggiling
koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu,
kemudian diaduk
dengan medium dispersi.

Contoh:

- Sol belerang dapat dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama-sama


dengan suatu zat inert (seperti gula pasir),

- kemudian mencampur serbuk halus itu dengan air.


2. Cara Peptisasi

Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari
suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah).

Zat pemeptisasi memecahkan butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid.

Istilah peptisasi dikaitkan dengan peptonisasi, yaitu proses pemecahan


protein (polipeptida) yang dikatalisis oleh enzim pepsin.

Contoh:

- Agar-agar dipeptisasi oleh air


- Nitroselulosa oleh aseton
- Karet olehbensin
- Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S
- Endapan Al(OH)3 oleh AlCl3.
3. Cara Busur Bredig

Cara busur Bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam.

Logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektrode yang


dicelupkan dalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik di
antara kedua ujungnya.

Mula-mula atom-atom logam akan terlempar ke dalam air, lalu atom-atom


tersebut mengalami kondensasi, sehingga membentuk partikel koloid.

Jadi, cara busur ini merupakan gabungan cara dispersi dan cara
kondensasi.

Aplikasi Koloid dalam Kehidupan Sehari-Hari


Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat
digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen
dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.

Berikut ini adalah tabel aplikasi koloid:


Jenis industry

Contoh aplikasi

Industri makanan

Keju, mentega, susu, saus salad

Industri kosmetika dan perawatan tubuh

Krim, pasta gigi, sabun

Industri cat

Cat

Industri kebutuhan rumah tangga

Sabun, deterjen

Industri pertanian

Peptisida dan insektisida

Industri farmasi

Minyak ikan, pensilin untuk suntikan

Berikut ini adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid:


1.

Pemutihan Gula

Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air,
kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel
koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut
mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih.
2.

Penggumpalan Darah

Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka,
maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ionion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat
netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.
3.

Penjernihan Air

Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah
liat,lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk
menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel
koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara menambahkan tawas
(Al2SO4)3.Ion Al3+ yang terdapat pada tawas tersebut akan terhidroslisis membentuk
partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif melalui reaksi:
Al3+ + 3H2O

Al(OH)3 +

3H+

Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel koloid tanah
liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur tersebut kemudian mengendap
bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh gravitasi.

Daftar Pustaka
Referensi melalui buku:
Priscilla Retnowati. (2007) .seribupena kimia 2 . jakarta: Erlangga
Referensi melalui internet(tgl 27 april 2014 pukul 10.00 wib):
1. http://alfikimia.wordpress.com/kelas-xi/sistem-koloid/pembuatankoloid/
2. http://gapurapangarti.blogspot.com/2008/06/pengelompokan-sistemkoloid.html
3. http://semuacoretankuliah.blogspot.com/2012/12/laporan-kimia-dasar-iipembuatan-dan.html
4. http://partinifakhri.wordpress.com/koloid/
5. http://diaryvazha.blogspot.com/2011/11aplikasi-koloid-dalam-kehidupansehari.html