Anda di halaman 1dari 6

Artikel Penelitian

Deteksi Microsporidia pada Penderita AIDS


dengan Pewarnaan Kromotrop

Agnes Kurniawan,* Esy Maryanti,* Lisawati Susanto,* Huw Smith**


*Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
**Scottish Parasite Diagnostic Laboratory, Stobhill Hospital, Glasgow, UK

Abstrak: Microsporidia suatu parasit obligat intraseluler yang berspora, merupakan emerging parasite pada manusia. Kebanyakan kasus Microsporidia berkaitan dengan infeksi HIV
dan imunosupresi. Infeksi didapatkan melalui saluran cerna (tertelan) atau inhalasi spora dan
dapat menyebabkan kelainan intestinal, muskular, okular dan sistemik. Di Indonesia sampai
saat ini belum ada data infeksi Microsporidia sedangkan kasus HIV/AIDS makin bertambah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi infeksi pada penderita AIDS dengan diare
kronis dan teknik pewarnaan yang baik untuk identifikasi parasit. Sebanyak 126 sampel tinja
penderita AIDS dengan diare kronis yang datang untuk pemeriksaan di Laboratorium
Parasitologi FKUI dibuat sediaan dan diwarnai dengan pulasan kromotrop standar dan quickhot gram kromotrop. Selanjutnya dilakukan perbandingan durasi proses pewarnaan,
pemeriksaan sediaan dan kualitas pulasan. Hasilnya menunjukkan frekuensi infeksi
Microsporidia intestinal rendah dengan kedua teknik pewarnaan tersebut yaitu sebesar 1,6%
(2/126). Teknik pewarnaan kromotrop stndar memerlukan waktu yang jauh lebih lama untuk
proses pewarnaan, tetapi lebih cepat untuk identifikasi Microsporidia di tinja dengan kontras
latar belakang yang lebih baik dibandingkan teknik quick-hot gram kromotrop. Kedua teknik
tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi Microsporidia di tinja.
Kata kunci: Mikrosporidiosis intestinal, diagnosis mikroskopis, CD4

Koresponden Penulis Agnes Kurniawan: Alamat Surat.


Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jl. Salemba Raya 6 Jakarta 10430.
Telp +6221 3102135
Fax +62121 39832018
E-mail : akadmadja@yahoo.com

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 4, April 2009

159

Deteksi Microsporidia pada Penderita AIDS dengan Pewarnaan Kromotrop

Detection of Microsporidia in Patients with AIDS by Chromotrope Staining


Agnes Kurniawan,* Esy Maryanti,* Lisawati Susanto,* Huw Smith**
*Department Parasitology Faculty of Medicine University of Indonesia, Jakarta
**Scottish Parasite Diagnostic Laboratory, Stobhill Hospital, Glasgow, UK

Abstract: Microsporidia is an obligate intracellular, spore-forming, emerging parasite in human.


Most cases of human microsporidiosis are associated with HIV infection or other forms of
immunosuppression. Human acquire Microsporidia infection through ingestion or inhalation of
the spores and cause gastrointestinal, muscular, ocular and systemic disorders. Until now, there
is no available data on this parasite in Indonesia while the HIV cases rise very quickly. The
objective of this study was to determine the frequency of intestinal Microsporidia among the AIDS
patients with AIDS with chronic diarrhoea in Jakarta and identify better staining method to
diagnose Microsporidia microscopically. A number of 126 stools from patient with AIDS with
chronic diarrhoea referred to Parasitology Laboratory FKUI were examined by standard
chromotrope and quick-hot gram chromotrope staining. Duration of staining process, slide
examination and quality of the slides were compared. The result showed the frequency of intestinal
Microsporidia by both staining is low, 1.6% (2/126). Standard chromotrope stain took much
longer time in process, shorter duration in identification and give better background/contrast for
Microsporidia detection in stool compared to quick-hot gram chromotrope. Both stainings can be
used to detect Microsporidia in stool specimen.
Key words: intestinal microsporidiosis, microscopic detection, CD4 cells count.

Pendahuluan
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah
penyakit imunodefisiensi didapat yang disebabkan oleh
Human Immunedeficiency Virus (HIV). HIV adalah retrovirus
yang menginfeksi sistem imun terutama sel T CD4 yang
memiliki reseptor dengan afinitas tinggi untuk HIV. Jumlah
penderita AIDS di dunia semakin hari semakin bertambah.1
Di Indonesia sampai bulan Maret tahun 2008 telah dilaporkan
peningkatan jumlah kasus AIDS mencapai 11868 kasus dan
6130 kasus HIV positif.2
Diare merupakan salah satu gejala yang menyebabkan
morbiditas dan mortalitas tinggi pada penderita yang
terinfeksi HIV. Diare itulah yang menjadi salah satu alasan
penderita AIDS datang berobat.3 Microsporidia merupakan
salah satu parasit yang ditemukan pada tinja penderita AIDS
dengan diare kronis. Dilaporkan 5-50% penderita diare kronis
tersebut terinfeksi Microsporidia.4
Ada 14 spesies Microsporidia yang dapat menginfeksi
manusia terutama individu imunokompromis.5 Enterocytozoon bieneusi dan Encephalitozoon intestinalis adalah
spesies Microsporidia yang tersering ditemukan pada
penderita AIDS dan di antara dua spesies tersebut Enterocytozoon bieneusi yang paling banyak dilaporkan.6
Mikrosporidiosis adalah penyakit yang disebabkan oleh
Microsporidia dan merupakan an emerging and opportu-

160

nistic infection pada manusia.5 Pada tahun 1999 di Perancis


dilaporkan 26% kasus mikrosporidiosis intestinalis pada
penderita AIDS,7 Pada tahun 2000 dan 2001 di Zimbabwe dan
Guinea Bisseau terdapat 18% dan 11% kasus mikrosporidiosis
intestinalis pada penderita AIDS dengan diare kronis.8 Di
India tahun 2005 terdapat 10% kasus mikrosporidiosis intestinal pada penderita AIDS dengan diare kronis.9
Sebelum ada antiretroviral therapy (ART), prevalensi
mikrosporidiosis intestinal tinggi pada penderita AIDS
dengan diare kronis.10 Sejak digunakannya ART pada tahun
1995-1996, prevalensi mikrosporidiosis intestinal pada
penderita HIV/AIDS di negara maju menurun.10 Di negara
berkembang seperti Afrika dengan penggunaan ART masih
terbatas prevalensi mikrosporidiosis intestinal masih tinggi.11
Gejala klinis mikrosporidiosis intestinal adalah diare
kronis dan wasting syndrome. Diare terjadi tiga sampai tujuh
kali perhari bahkan dapat lebih dari 20 kali per hari, tinja lunak
atau encer tanpa darah, kadang demam, anoreksia, mual,
muntah dan penurunan berat badan sekitar 2 kg/bulan. Diare
yang berkepanjangan disertai penurunan berat badan akan
berlanjut menjadi kaheksia merupakan faktor yang
mempercepat terjadinya kematian pada penderita AIDS.12
Respons imun seluler mempunyai peran utama dalam
mengontrol infeksi Microsporidia.13 Mikrosporidiosis yang
disebabkan oleh E.bieneusi lebih sering terjadi pada penderita

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 4, April 2009

Deteksi Microsporidia pada Penderita AIDS dengan Pewarnaan Kromotrop


dengan imunodefisiensi seluler berat dengan jumlah CD4
<100/mm3.14
Diagnosis mikrosporidiosis intestinal adalah dengan
menemukan Microsporidia di tinja. 10 Pemeriksaaan
mikroskopis dengan menemukan spora Microsporidia masih
merupakan metode yang umum dilakukan untuk menegakkan
diagnosis.12
Ukuran Microsporidia yang sangat kecil, memerlukan
ketelitian pemeriksa untuk mengenali parasit ini. Selain itu
dapat dilakukan pewarnaan khusus agar dapat dibedakan
dengan organisme lain di tinja seperti sel ragi dan bakteri.
Pewarnaan yang biasa digunakan adalah pewarnaan
kromotrop yang mempunyai sensitivitas 88%15 dan 72,7%6,
akan tetapi proses pewarnaan tersebut membutuhkan waktu
lama yaitu 120 menit sehingga diperlukan teknik lain yang
lebih cepat dan tepat. Teknik quick-hot gram kromotrop
merupakan modifikasi teknik kromotrop yang prosesnya lebih
cepat dengan latar belakang lebih terang sehingga Microsporidia lebih mudah terdeteksi.16
Di Indonesia sampai saat ini belum ada data infeksi
Microsporidia sedangkan kasus HIV/AIDS makin
bertambah, karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai
infeksi Microsporidia pada penderita AIDS dengan diare
kronis dan teknik pewarnaan yang baik untuk identifikasi
parasit.
Metode
Penelitian dilakukan di Laboratorium Parasitologi FKUI.
Sampel penelitian adalah tinja penderita AIDS dengan diare
kronis yang tidak diketahui status terapi antivirusnya dari
berbagai rumah sakit di Jakarta yang dikirim ke Laboratorium
Parasitologi FKUI dari bulan September 2007 - Mei 2008.
Sebanyak 126 sampel tinja diberi larutan pengawet formalin
10% dengan perbandingan 1:3, kemudian diperiksa untuk
mengetahui ada tidaknya Microsporidia dengan pewarnaan
kromotrop standar dan quick-hot gram kromotrop. Sebagai
kontrol positif adalah tinja Microsporidia dari CDC Atlanta,
USA. Data klinis penderita dan jumlah CD4 diambil dari data
sekunder.
Pemeriksaan Tinja dengan Pewarnaan Kromotrop
Standar17
Sebanyak 10l tinja diletakkan pada kaca tutup (cover
glass) lalu diratakan dengan lidi aplikator dan kemudian
dibiarkan kering. Selanjutnya difiksasi dengan metanol
absolut 5 menit. Diwarnai dengan kromotrop selama 90 menit,
lalu dibilas dengan alkohol asam 90% selama 1-3 detik,
kemudian dengan alkohol 95% dan 100% masing-masing
selama 3 menit. Setelah dibilas dengan alkohol lalu dengan
xylol sebanyak dua kali masing-masing 10 menit. Sediaan
dikeringkan dan dibuat sediaan permanen. Selanjutnya
diperiksa dengan mikroskop perbesaran 1000x dengan
minyak emersi. Untuk satu sampel dibuat 2 sediaan (duplo).

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 4, April 2009

Kontrol positif selalu disertakan tiap 10 sediaan. Hasil


dinyatakan positif bila ditemukan spora Microsporidia yang
berwarna merah muda berukuran 1,0-1,6 x 0,9 m berbentuk
oval dengan belt melintang. Pemeriksaan dilakukan pada di
seluruh lapang pandang pada masing-masing sediaan
dengan perbesaran 1000x.
Pemeriksaan Tinja dengan Pewarnaan Quick-Hot Gram
Kromotrop16
Sebanyak 10 L tinja diletakkan di atas kaca tutup lalu
dioleskan dengan lidi aplikator dan dibiarkan kering. Sediaan
difiksasi dengan cara dilewatkan di atas api 3 kali, masingmasing 1 detik kemudian didinginkan pada suhu kamar.
Sediaan diwarnai dengan solusi gentian violet dan dibiarkan
30 detik, setelah itu dibilas dengan air mengalir. Selanjutnya
sediaan diwarnai dengan solusi gram iodin selama 30 detik
dan dibilas dengan decolorizer (HCl alkohol). Setelah itu
dibilas dengan air mengalir dan diwarnai dengan kromotrop
pada suhu 55C selama 1 menit, lalu dibilas dengan alkohol
asam 90% selama 1-3 detik, kemudian berturut-turut dengan
alkohol 95%, alkohol 100%, masing-masing selama 30 detik.
Sediaan dikeringkan dan dibuat sediaan permanen. Setelah
kering, sediaan diperiksa dengan mikroskop cahaya
perbesaran 1000x. Untuk satu sampel dibuat 2 sediaan (duplo).
Kontrol positif selalu disertakan tiap 10 sediaan.
Hasil dinyatakan positif bila ditemukan spora
Microsporidia berwarna ungu/violet berukuran 1,0-1,6 x 0,9
m berbentuk oval dengan dinding spora yang jelas dan
gambaran a belt-like stripe. Pemeriksaan dilakukan di seluruh
lapang pandang dengan pembesaran 1000x.
Pencatatan waktu yang diperlukan untuk pewarnaan
satu sediaan (mulai dari fiksasi sampai selesai tahap akhir
proses pewarnaan dan siap untuk dikeringkan) dan waktu
untuk pemeriksaan satu sediaan, dilakukan baik pada
pewarnaan kromotrop standar maupun quick-hot gram
kromotrop. Dari hasil tersebut kemudian dipilih teknik yang
terbaik berdasarkan waktu pewarnaan, waktu pemeriksaan
(waktu untuk membaca satu sediaan pada seluruh lapang
pandang) dan kualitas sediaan (latar belakang pewarnaan
dan kontras antara Microsporidia dengan sekitarnya.) dari
126 sampel. Hasil yang didapat kemudian dikonfirmasi ke
Scottish Parasite Diagnostic Laboratory (SPDL) UK, yang
merupakan laboratorium rujukan untuk parasitologi
Hasil
Pada pulasan kromotrop standard, kontras antara
Microsporidia dengan sekitarnya jelas, spora Microsporidia
berwarna merah muda dengan latar belakang hijau pucat.
Tampak garis diagonal (belt-like strip) melingkari spora
Microsporidia (Gambar 1).
Pada pulasan quick-hot gram kromotrop, latar belakang
terang bewarna hijau sangat pucat. Kontras antara Microsporidia dengan sekitar kurang jelas, spora Microsporidia

161

Deteksi Microsporidia pada Penderita AIDS dengan Pewarnaan Kromotrop


berwarna ungu gelap sampai ungu kebiru-biruan, agak sulit
dibedakan dari bakteri yang juga berwarna ungu kebiruan.
Kadang tampak garis diagonal (belt-like stripe) melingkari
spora Microsporidia (Gambar 2).
Perbandingan durasi proses pewarnaan dan waktu
pemeriksaan menunjukkan bahwa teknik pewarnaan
kromotrop standard memerlukan waktu yang lama untuk
proses pewarnaan, rata-rata 126 menit/sediaan sedangkan
waktu pemeriksaan kurang lebih 20 menit/sediaan. Pewarnaan
dengan quick-hot gram kromotrop, memerlukan proses
pewarnaan yang lebih cepat, rata-rata 9 menit/sediaan dan
waktu pemeriksaan kurang lebih 45 menit/sediaan. Dengan
demikian teknik kromotrop standar memerlukan waktu lebih
lama untuk proses pemulasannya tetapi waktu pemeriksaannya lebih cepat dibandingkan teknik quick-hot gram
kromotrop.
Tabel 1. Hasil Pembacaan Sediaan dengan Teknik Pewarnaan
Kromotrop Standar dan Quick-hot Gram Kromotrop
Kromotrop Standar
+
Total
Quick-hot
Gram
Kromotrop

Total

+
-

2
0

2/126
(1,5%)

0
124

2/126
124/126
(98,5%)

124/126
(98,5%)

126
(100%)

Tabel 1 memperlihatkan bahwa jumlah penderita


mikrosporidiosis yang terdeteksi dengan pewarnaan
kromotrop standar dan quick-hot gram kromotrop sama
jumlahnya yaitu dua orang.
Gambaran Hasil Pemeriksaan dengan Teknik Pewarnaan
Kromotrop Standar
Dari 126 sampel yang diperiksa dengan teknik pewarnaan
kromotrop standar didapatkan dua sampel tinja positif
Microsporidia yaitu berasal dari pasien laki-laki dengan
jumlah CD4 188 sel/mm3 dan jumlah spora Microsporidia 12/
100 lapang pandang (pembesaran 1000 kali) dan satu pasien
perempuan dengan jumlah CD4 8 sel/mm3, dengan jumlah
spora 20 /100 lapang pandang 1000 kali. Pada kedua sampel
tersebut juga ditemukan Blastocystis hominis. Dari 126
sampel pada penelitian ini, B.hominis merupakan protozoa
yang paling sering ditemukan yaitu 73% baik sebagai infeksi
tunggal maupun campur dengan parasit usus lainnya. Parasit
usus lainnya yang ditemukan adalah Cryptosporidium sp,
Giardia intestinalis, Cyclospora cayetanensis dan Entamoeba histolytica.
Diskusi
Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan sampel tinja
penderita AIDS dengan diare kronis sebanyak 126 sampel
162

dengan teknik pewarnaan kromotrop standar dan quick-hot


gram kromotrop. Hasil pemeriksaan dengan pewarnaan
kromotrop standar memperlihatkan kontras yang jelas antara
spora Microsporidia dengan sekitarnya yaitu spora
Microsporidia berwarna merah muda sampai merah dengan
latar belakang hijau pucat sehingga mudah dibedakan dari
elemen tinja lainnya yaitu sel ragi, bakteri dan debris. Hasil
tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan Weber et
al.12 Bila terdapat sel ragi, maka akan berwarna merah mudamerah dengan ukuran yang lebih besar dari spora
Microsporidia dan kadang-kadang terlihat bertunas
sedangkan bakteri akan terwarna hijau atau abu-abu
transparan sehingga mudah dibedakan dari spora
Microsporidia. Sisa sel atau debris kadang berwarna merah
muda/merah sehingga sering diragukan dengan spora
Microsporidia. Hal itu dapat disingkirkan karena debris atau
sisa sel mempunyai bentuk yang tidak teratur dan isi dalamnya
transparan/kosong sedangkan spora Microsporidia mempunyai belt yaitu struktur filamen polar yang merupakan ciri
khas Microsporidia dan membedakannya dari mikroorganisme lain.5
Pada sediaan yang dipulas dengan quick-hot gram
kromotrop spora Microsporidia berwarna ungu gelap/ungu
kebiruan dengan latar belakang hijau pucat. Hal tersebut sama
seperti yang dilaporkan oleh Moura et al. 16 Spora
Microsporidia dapat dibedakan dari sel ragi yang juga
berwarna ungu gelap tapi berukuran lebih besar, sedangkan
terhadap bakteri, spora Microsporidia agak susah dibedakan
karena ukuran yang hampir sama dan keduanya bersifat gram
positif dan berwarna ungu kebiruan.
Berdasarkan lamanya proses pewarnaan dan pemeriksaan, pewarnaan kromotrop standar membutuhkan waktu
lama, rata-rata 126 menit, mulai dari fiksasi dengan metanol
hingga bilasan terakhir dengan xylol. Bila ditambah waktu
untuk mengeringkan tinja sebelum fiksasi dengan methanol
(10 menit) dan waktu untuk mengeringkan sediaan sebelum
dibuat sediaan permanen (10 menit), maka total waktu
adalah 151 menit/sediaan. Hasil tersebut agak berbeda dari
penelitian Weber et al.12 yang membutuhkan waktu 120 menit.
Perbedaan itu mungkin disebabkan waktu pengeringan antar
tahap tidak ikut diperhitungkan.
Proses pewarnaan quick-hot gram kromotrop memerlukan waktu yang sangat singkat, 9 menit. Hal tersebut
sedikit berbeda dari penelitian Moura et al.16 yang membutuhkan waktu 5 menit.16 Perbedaan ini disebabkan karena
pada penelitian Moura et al.16 hanya menghitung waktu
pewarnaan tanpa memperhitungkan waktu pengeringan antar
tahap. Waktu untuk mengeringkan tinja sebelum difiksasi
dan waktu pengeringan sebelum dibuat sediaan permanen
pada pewarnaan quick-hot gram kromotrop sama dengan
kromotrop standar. Total waktu yang diperlukan mulai dari
pembuatan apusan tinja sampai dibuat sediaan permanen
pada pewarnaan quick-hot gram kromotrop kurang lebih 34
menit/sediaan.
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 4, April 2009

Deteksi Microsporidia pada Penderita AIDS dengan Pewarnaan Kromotrop


Waktu yang dibutuhkan untuk pemeriksaan sediaan
yang dipulas dengan kromotrop standar lebih cepat yaitu
20 menit sedangkan dengan quick-hot gram kromotrop 45
menit.
Hasil pemeriksaan dengan kedua teknik pewarnaan
tersebut mendapatkan dua dari 126 (1,6%) tinja penderita
AIDS dengan diare kronis positif Microsporidia. Hasil ini
mirip dengan penelitian di India (n=120) dan Peru (n=2652)
yang mendapatkan prevalensi infeksi Microsporidia pada
penderita HIV sebesar 2,5% dan 3 % dengan pewarnaan
kromotrop standar dan quick-hot gram kromotrop.18,19 Di
Kano Nigeria pada tahun 2007 dilaporkan prevalensi
mikrosporidiosis intestinal pada penderita AIDS sebesar
7,29%, dengan teknik ELISA dan pewarnaaan modifikasi Giemsa.20 Perbedaan prevalensi tersebut mungkin disebabkan
oleh tingkat endemisitas HIV dan geografi daerah yang
berbeda serta ketersediaan highly active antiretroviral
therapy (HAART) di negara tersebut, yaitu sejak penggunaan HAART mulai tahun 1996 prevalensi mikrosporidiosis pada penderita AIDS mulai menurun. Di USA
prevalensi mikrosporidiosis intestinal 14,1% - 34,8% sebelum
era HAART menjadi 1,5% setelah penggunaan HAART.21 Di
Australia dilaporkan juga bahwa terjadi penurunan insiden
mikrosporidiosis intestinal dari 11% pada tahun 1996 menjadi
0% pada tahun 2006.22 Di negara-negara berkembang dimana
ketersediaan ARV masih kurang terjamin dan distribusi
kurang baik, prevalensi mikrosporidiosis intestinal masih
tinggi.10
Pada penelitian ini status pemberian anti retroviral (ARV)
tidak diketahui, beberapa penderita mungkin sudah
mendapatkan pengobatan ARV. Rendahnya frekuensi
Microsporidia pada penelitian ini dapat pula disebabkan
oleh pemilihan bagian tinja untuk pembuatan spesimen yang
tidak tepat, pengambilan sampel tinja yang hanya satu kali
sedangkan ekskresi spora terjadi secara intermiten dan kurang
sensitifnya teknik pemeriksaan. Pemeriksaan secara mikroskopis dengan pulasan kromotrop standar maupun quick hot
gram kromotrop merupakan teknik yang paling sederhana,
sangat mengandalkan keahlian pemeriksa, tak dapat untuk
mengidentifikasi spesies dan rendah sensitivitasnya akan
tetapi dapat diterapkan di laboratorium standar. Dari kedua
teknik pewarnaan tersebut, teknik quick hot gram kromotrop
sangat hemat waktu dalam proses pewarnaan akan tetapi
memerlukan ketelitian yang lebih tinggi terutama bila
spesimen berupa tinja yang umumnya mengandung banyak
debris dan bakteri yang bentuk maupun warna mirip
Microsporidia. Pewarnaan kromotrop standar lebih baik
untuk identifikasi Microsporidia di tinja akan tetapi memakan
waktu yang lama dalam proses pewar-naannya.
Jumlah CD4 sebagai komponen sistem imun mempunyai
peran penting dalam mengontrol infeksi Microsporidia dan
infeksi oportunistik lainnya pada penderita HIV.13 Kedua
sampel tinja yang positif Microsporidia berasal dari pasien
AIDS dengan jumlah CD4 <200/mm 3. Pada penderita
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 4, April 2009

imunodefisiensi berat dengan jumlah sel CD4 <100/ mm3 akan


memberikan gejala klinis yang nyata, diare kronis bahkan
infeksi dengan E. bimeusi memberikan mortalitas hingga
56%.14
Selain Microsporidia, pada tinja penderita tersebut juga
ditemukan parasit usus lain yaitu B. hominis yang dapat
memperberat diare. B. hominis juga merupakan protozoa usus
terbanyak (73% , n=126) yang ditemukan dari seluruh sampel
pada penelitian ini. Hasil ini hampir sama dengan penelitian
yang dilakukan oleh Kurniawan et al (2009)2,3 di Jakarta yaitu
B.hominis merupakan parasit yang paling umum ditemukan
(72,4%, n=318) pada penderita HIV/AIDS.23 Peran Microsporidia sebagai agen oportunistik penyebab diare pada HIV
AIDS telah banyak diteliti.3,5,6
Pada penelitian ini Microsporidia dapat menjadi salah
satu penyebab diare kronis pada kedua penderita AIDS namun
dapat juga diare yang disebabkan oleh adanya koinfeksi
B.hominis. Tidak semua penderita yang terinfeksi Microsporidia intestinal akan bermanifestasi sebagai diare, ada pula
yang tanpa gejala.24 Selain parasit usus, diare dapat juga
disebabkan oleh jamur atau bakteri yang pada pemeriksaan
mikroskopis terlihat bersama-sama dengan Microsporidia,
akan tetapi tidak diketahui jenis bakterinya apakah komensal
atau patogen, berasal dari tubuh penderita atau kontaminan
sebab tidak dilakukan identifikasi bakteri atau jamur, dan
kontainer tinja tidak selalu steril. Diare pada penderita AIDS
dapat juga disebabkan oleh keadaan lain, seperti HIV enteropathy, efek samping obat termasuk anti retroviral (ARV).
Ucapan Terimakasih
Terimakasih kepada British Council (proyek DelPHE
73) yang telah membiayai penelitian ini dan kepada Mr. Grant
Spence dari Scottish Parasite Diagnostic Laboratory untuk
konfirmasi hasil.
Daftar Pustaka
1.
2.
3.

4.

5.
6.

7.

Baratawidjaja KG. Imunologi dasar. Edisi ke7. Jakarta: Balai


penerbit FKUI; 2006:334-57.
Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia sampai 31 Maret 2008.
Diunduh dari: http://www.aidsindonesia.or.id. Tanggal 14 juli 2008.
Weber R, Ledergerber B, Zbinden R, Altwegg M, Pfyffer GE,
Spyser MA, et al. Enteric infection and diarrhea in human immunodeficiency virus-infected persons. Arch Intern Med
1999;159:1473-80.
Fischer J, West J, Agochukwu N, Suire C, Hale-Donze H. Induction of host chemotactic response by Encephalitozoon spp. Infection and Immunity. 2007;75(4):1619-25.
Didier ES. Microsporidiosis: An emerging and opportunistic infection in humans and animals. Acta Trop 2005;94:61-76.
Graczyk KT, Johansson MA, Tamang L, Visvesvara GS, Moura
LS, DaSilva AS, et al. Retrospective species identifications of
Microsporidian spores in diarrheic fecal samples from HIV/AIDS
patients by multiplexed fluorencence in situ hybridization. J Clin
Microbiol. 2007;45(4):1255-60.
Cotte L, Rabodonirina M, Chapus F, Bailly F, Bissuel F, Raynal C,
et al. Waterborne outbreak of intestinal microsporidiosis in persons with and without HIV infection. J Infect Dis 1999;
180(6):2003-8.

163

Deteksi Microsporidia pada Penderita AIDS dengan Pewarnaan Kromotrop


8.

9.

10.
11.

12.
13.

14.
15.

16.

17.

164

Tumwine JK, Kekitiinwa A, Nabukeera N, Akiyossi D, Bukholt


MA, Tzipori S. Enterocytozoon bieneusi among children with
diarrhea attending Mulago Hospital in Uganda. Am J Trop Med
Hyg. 2002;67(3):299-303.
Kumar SS, Ananthan S, Joyee AG. Detection of Enterocytozoon
bieneusi by PCR using species-specific primer in stool samples of
HIV patients. Indian J Med Res. 2005;121:215-9.
Mathis A, Weber R, Deplazes P. Zoonotic potential of the
Microsporidia. Clin Microbiol Rev. 2005;18(3):423-45.
Tumwine JK, Kekitiinwa A, Bakeerakitaka S, Ndeezi G, Downing
R, Feng X, et al. Cryptosporidiosis and microsporidiosis in Ugandan children with persistent diarrhea with and without concurrent infection with the HIV. Am J Trop Med Hyg 2005;73(5):9215.
Weber R, Bryan RT, Schwartz DA, Owen RL. Human
Microsporidia infections. Rev Clin Microbiol 1994;7:426-61.
Canning EU. Microsporidia. In: Gillespie SH, Pearson RD, editors. Principle and practice of clinical parasitology. London:
John Wiley & Sons Ltd; 2001.p.171-95.
Microsporidiosis in immnunocompromised hosts. CID 2006;
42:119-20.
Ignatus R, Henschel S, Liesenfeld O, Mansmann U, Schmidt W,
Koppe S et al. Comparative evaluation of modified trichrome
and uvitex 2B Stains for detection of low numbers of
Microsporidial spores in stool specimens. J Clin Microbiol
1997;35(9):2266-9.
Moura H, Schwartz DA, Bornay-Llinares F. A new and improved
quick-hot gram chromotrope technique that differentially stains
Microsporidian spores in clinical samples, including paraffinembedded tissue section. Arch Pathol Lab Med. 1997;121:88893.
Staining procedures. In National standard methode. 2007. Diunduh
dari: www.evaluations-standards.org.uk. tanggal 27 Mei 2007

18. Mohandas K, Sehgal R, Sud A, Malla N. Prevalence of intestinal


parasitic pathogens in HIV-Seropositive individuals in Northern
India. Jpn J Infect Dis. 2002;55:83-4.
19. Bern C, Kawai V, Vargas D, Rabke-Verani J, Williamson J, ChavezValdez R, et al. The Epidemiology of intestinal microsporidiosis
in patients with HIV/AIDS in Lima Peru. J Infect Dis. 2005;
191:1658-64.
20. Omalu ICJ, Duhlinska DD, Anyanwu GI, Pam VA, Inyama PU.
Seroprevalence of microsporidiosis in immunocompromised patients in Kano-Nigeria. The Internet Journal of Parasitic Diseases. 2007;1(2).
21. Dworkin MS, Buskin SE, Davidson AJ, Cohn DL, Morse A, Inungu
J, et al. Prevalence of intestinal microsporidiosis in human
immunodeficieny virus infected patients with diarrhea in Major
United States Cities. Rev Inst Med Trop S Paulo. 2007;49(6):33942.
22. Van Hal SJ, Muthiah K, Matthews G, Harkness J, Stark D, Cooper
D, et al. Declining incidence of intestinal microsporidiosis and
reduction in AIDS-related mortality following introduction of
HAART in Sydney Australia. Trans Royal Soc Trop Med Hyg.
2007;101:1096-100.
23. Kurniawan A, Dwintasari SW, Poespa I, Karyadi T, Yunihastuti
E, Djauzi S, et al. Opportunistic intestinal parasites infections in
HIV/AIDS patients presenting with diarrhoea in Jakarta Indonesia. Trans Royal Soc Trop Med Hyg. In press 2009.
24. Norhayati M, Azlin M, Rukman, Chan BT, Sabiha P, Fatmah MS,
Rozlida AR, et al. Prevalence of intestinal microsporidiosis in
patients with and without gastrointestinal symptoms in Malaysian hospital setting, 2004.
25. Sastroasmoro S. Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis
edisi 2. Jakarta: CV Sagung Seto; 2006.
SS

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 4, April 2009