Anda di halaman 1dari 31

Kebutuhan Air Minum di

Wilayah Perencanaan
(Studi Kasus)
June 2, 2012enviroairjujubandung

Dalam merencanakan instalasi pengolahan air minum diperlukan informasi


mengenai kebutuhan air minum di wilayah perencanaan. Kebutuhan air minum
sangat ditentukan oleh kondisi wilayah perencanaan, pertambahan jumlah penduduk
dan tingkat sosial ekonomi penduduk yang mempengaruhi pola pemakaian air.
Penentuan kebutuhan air minum didasarkan pada beberapa hal yaitu :

Daerah pelayanan

Periode perencanaan

Proyeksi jumlah penduduk, fasilitas umum dan fasilitas sosial selama periode
perencanaan

Pola pemakaian air di suatu wilayah


Daerah Pelayanan
Kebutuhan air minum di wilayah perencanaan sangat tergantung kepada kondisi
daerah pelayanan yang menjadi tujuan perencanaan. Daerah pelayanan yang
ditentukan dalam perencanaan ini adalah wilayah Kecamatan X dengan
pertimbangan :

Daerah yang kekurangan air bersih

Daerah dengan kepadatan penduduk tinggi

Daerah yang telah menerima pelayanan air bersih tetapi belum maksimal

Aspek teknis seperti topografi yang menentukan proses distribusi

Aspek ekonomi

Daerah-daerah dengan kepadatan penduduk rendah dan komunitas yang sangat


rendah tidak akan memperolah pelayanan karena pertimbangan ekonomis.
Periode Perencanaan
Periode perencanaan merupakan jangka waktu yang diberikan kepada instalasi
pengolahan untuk dapat melayani kebutuhan air masyarakat di wilayah
perencanaan. Periode perencanaan instalasi pengolahan air minum pada umumnya
adalah 20-25 tahun. Pada perencanaan ini ditetapkan 20 tahun sebagai periode
perencanaan. Periode perencanaan ini diambil dengan pertimbangan bahwa
perkembangan penduduk di masa mendatang hanya dapat diprediksi dengan baik
untuk periode 20 tahun. Apabila periode perencanaan dilakukan melebihi 20 tahun
maka dikhawatirkan keadaan perkembangan penduduk di masa mendatang justru
sangat berbeda dari apa yang telah diprediksi.
Proyeksi Jumlah Penduduk
Prediksi jumlah penduduk di masa yang akan datang sangat penting dalam
memperhitungkan jumlah kebutuhan air minum di masa yang akan datang. Prediksi
ini didasarkan pada laju perkembangan kota dan kecenderungannya, arahan tata
guna lahan serta ketersediaan lahan untuk menampung perkembangan jumlah
penduduk.
Dengan memperhatikan laju perkembangan jumlah penduduk masa lampau, maka
metode statistik merupakan metode yang paling mendekati untuk memperkirakan
jumlah penduduk di masa mendatang. Ada beberapa metode yang dapat digunakan
untuk menganalisa perkembangan jumlah penduduk di masa mendatang yaitu :

Aritmatika

Geometrik

Linear

Eksponensial

Logaritmik
Metode Aritmatika

Metode ini biasanya disebut juga dengan rata-rata hilang. Metode ini digunakan
apabila data berkala menunjukkan jumlah penambahan yang relatif sama tiap tahun.
Hal ini terjadi pada kota dengan luas wilayah yang kecil, tingkat pertumbuhan
ekonomi kota rendah dan perkembangan kota tidak terlalu pesat. Rumus metode ini
adalah :

Dengan:

Pn = jumlah penduduk tahun ke-n

P0 = jumlah penduduk awal

r = jumlah pertambahan penduduk tiap tahun

Tn = tahun yang diproyeksi

T0 = tahun awal

P1 = jumlah penduduk tahun ke-1 (yang diketahui)

P2 = jumlah penduduk tahun terakhir (yang diketahui)


Metode Geometrik
Untuk keperluan proyeksi penduduk, metode ini digunakan bila data jumlah
penduduk menunjukkan peningkatan yang pesat dari waktu ke waktu.
Rumus metode geometrik :

Dengan:

Pn

= jumlah penduduk tahun yang diproyeksi

P0

= jumlah penduduk tahun awal

= rata-rata angka pertumbuhan penduduk tiap tahun

= jangka waktu

Metode Regresi Linear


Metode regresi linear dilakukan dengan menggunakan persamaan :

Metode Eksponensial
Metode eksponensial dilakukan dengan menggunakan persamaan :

Metode Logaritmik
Metode logaritmik dilakukan dengan menggunakan persamaan :

Dasar Pemilihan Metode Proyeksi Penduduk


Untuk menentukan metode paling tepat yang akan digunakan dalam perencanaan,
diperlukan perhitungan faktor korelasi, standar deviasi dan keadaan perkembangan
kota di masa yang akan datang. Koefisien korelasi dan standar deviasi diperoleh dari
hasil analisa dan perhitungan data kependudukan yang ada dengan data penduduk
dari perhitungan metode proyeksi yang digunakan.
Korelasi, r, dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Kriteria korelasi adalah sebagai berikut:

r < 0, korelasi kuat, tetapi bernilai negatif dan hubungan diantara keduanya
berbanding terbalik.

r = 0, kedua data tidak memiliki hubungan.

r > 1, terdapat hubungan positif dan diperoleh korelasi yang kuat, diantara
kedua variabel memiliki hubungan yang berbanding lurus.
Standar deviasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Metode proyeksi yang dipilih adalah metode dengan nilai standar deviasi terendah
dan koefisien korelasi paling besar. Pola perkembangan kota sesuai dengan fungsi
kota di masa mendatang juga dijadikan acuan dalam menentukan metode proyeksi.
Pada umumnya fungsi sebuah kota dapat menunjukkan kecenderungan
pertambahan penduduk di masa mendatang.
Pemilihan Proyeksi Jumlah Penduduk
Dengan menggunakan lima metode yang telah dijelaskan sebelumnya maka
diperoleh hasil proyeksi jumlah penduduk hingga tahun 2023 yang ditunjukkan
oleh Tabel 1.
Tabel 1. Analisa Statistik Jumlah Penduduk di Kecamatan X

Berdasarkan Tabel 1 dapat ditentukan salah satu metode yang digunakan sebagai
acuan untuk proyeksi penduduk adalah metode eksponensial karena menunjukkan
nilai korelasi yang kuat dan standar deviasi paling kecil. Hasil proyeksi penduduk
selama periode perencanaan ditunjukkan oleh Tabel 2 dan Gambar 1.

Gambar 1. Proyeksi Penduduk di Kecamatan X


Tabel 2. Proyeksi Jumlah Penduduk di Kecamatan X

Selain dengan menggunakan hasil analisa regresi, proyeksi penduduk juga


dilakukan dengan mempertimbangkan Rencana Umum Tata Ruang dan Wilayah
yang telah ditetapkan untuk wilayah perencanaan. Berdasarkan RTRW Kabupaten X
diketahui bahwa jumlah lahan yang dapat digunakan sebagai tempat
tinggal/perumahan akan mempengaruhi daya tampung penduduk di suatu wilayah.
Ada beberapa asumsi yang digunakan untuk menentukan jumlah penduduk
maksimal yang dapat ditampung oleh suatu wilayah yaitu :

Jumlah jiwa per umpi adalah 3-4 orang.

Rumah terbagi menjadi 3 kavling yaitu besar (180 m 2), sedang (120 m2) dan
kecil (60 m2).

Komposisi jumlah kebutuhan menurut tipe rumah didasarkan pada 1 : 3 : 6.

Luas kebutuhan lahan perumahan belum termasuk kebutuhan lahan untuk


fasilitas umum dan prasarana penunjang, sebagai acuan digunakan perbandingan
60 : 40.
RTRW Kabupaten X menyebutkan bahwa luas lahan yang digunakan sebagai acuan
dalam proyeksi penduduk adalah lahan dengan persyaratan sesuai untuk kegiatan
perkotaan. Lahan ini tidak meliputi wilayah air permukaan, lahan-lahan kritis serta
lahan-lahan dengan kemiringan lebih dari 15%. Jadi, lahan yang ditinjau tidak
seluruh luas lahan secara administratif.
Menurut data dari RTRW Kab. X, lahan perkotaan di daerah X memiliki luas sebesar
31.11 km2. Berdasarkan luas ini maka lahan yang dapat digunakan sebagai
perumahan adalah 18.67 km2. Dengan menggunakan asumsi yang telah ditetapkan
oleh RTRW Kabupaten X maka :
Total luas lahan yang dapat digunakan untuk setiap tipe rumah.

Jumlah rumah yang dapat dibangun untuk setiap lahan peruntukan.

Total rumah yang ada di lahan perkotaan adalah 243748 rumah. Dengan asumsi
jumlah jiwa per umpi adalah 4 orang maka total penduduk maksimal yang dapat
ditampung oleh wilayah perencanaan adalah 974992 jiwa.
Berdasarkan hasil analisa regresi, jumlah penduduk pada akhir periode
perencanaan adalah 384996 jiwa. Jumlah penduduk ini tidak melebihi jumlah
penduduk maksimal yang dapat ditampung oleh wilayah perkotaan daerah
perencanaan berdasarkan RTRW sehingga hasil proyeksi dengan menggunakan
analisa regresi eksponensial dapat digunakan. Pola pertumbuhan penduduk yang
mengikuti pola eksponensial yaitu peningkatan jumlah penduduk yang sangat pesat,
sangat sesuai dengan fungsi Kecamatan X sebagai kota penyangga kehidupan
metropolis kota X. Dengan daya tampung penduduk yang masih tinggi maka di masa
mendatang diperkirakan akan terjadi peningkatan jumlah penduduk dengan sangat
pesat.
Proyeksi Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial
Proyeksi fasilitas umum dan fasilitas sosial digunakan untuk menentukan kebutuhan
air non domestik. Proyeksi dilakukan dengan mengacu kepada karakteristik wilayah
perencanaan, RUTR yang telah ditetapkan dan standar penduduk pendukung untuk
setiap fasilitas umum dan fasilitas sosial yang telah ditetapkan oleh Ditjen Cipta
Karya, Departemen Pekerjaan Umum.
Fasilitas Pendidikan
Secara umum fasilitas pendidikan telah mencukupi kebutuhan dan penyebarannya
cukup merata karena semua desa telah memiliki SD. Penambahan SD tidak
diprioritaskan karena pemenuhan kebutuhan akan SD diperkirakan masih dapat
ditampung dengan meningkatkan jumlah ruang di SD yang sudah ada. Jumlah
fasilitas TK, SLTP dan SMU harus ditingkatkan. Dengan peningkatan jumlah

penduduk maka diperkirakan pada 10 tahun mendatang akan dibangun sebuah


perguruan tinggi skala kecil karena wilayah ini tidak dijadikan sebagai pusat
pendidikan. Hasil proyeksi fasilitas pendidikan ditunjukkan oleh Tabel 3.
Tabel 3 Proyeksi Fasilitas Pendidikan di Kecamatan X

Fasilitas Peribadatan
Fasilitas peribadatan sudah cukup menyebar dan memenuhi kebutuhan.
Penambahan fasilitas perlu dilakukan akibat tuntutan pertambahan jumlah
penduduk. Fasilitas yang perlu dikembangkan adalah mesjid yang menjadi pusat
orientasi penduduk kota. Jumlah penganut agama Kristen yang cukup banyak
menuntut diperlukan adanya pembangunan gereja pada lima tahun pertama.
Fasilitas pura dan vihara tidak menjadi sasaran pembangunan karena jumlah
penganut agama Hindu dan Budha tidak terlalu banyak. Hasil proyeksi fasilitas
peribadatan ditunjukkan oleh Tabel 4.
Tabel 4 Proyeksi Fasilitas Peribadatan di Kecamatan X

Fasilitas Kesehatan

Fasilitas ini dikembangkan dengan pertimbangan utama tingkat pelayanan yang


maksimal dengan mendekati daerah perumahan penduduk. Fasilitas yang ada
belum mencukupi terutama balai pengobatan dan apotek. Rumah sakit perlu
dibangun karena jumlah penduduk telah melebihi 150000 jiwa. Hasil proyeksi
fasilitas kesehatan ditunjukkan oleh Tabel 5.
Tabel 5. Proyeksi Fasilitas Kesehatan di Kecamatan X

Fasilitas Perdagangan dan Jasa


Kegiatan perdagangan tumbuh di sekitar jalan utama sehingga menyebabkan
kemacetan. Kondisi ini menyebabkan perlu dibentuk pusat bisnis baru.
Kebijaksanaan pemerintah tentang kota X sebagai kota satelit menuntut harus dapat
menjadi pusat perdagangan regional. Dengan dijadikannya Kecamatan X sebagai
pusat perdagangan dan industri maka akan meningkatkan kegiatan ekonomi
sehingga jumlah fasilitas dagang dan jasa akan meningkat pula. Hasil proyeksi
fasilitas perdagangan dan jasa ditunjukkan olehTabel 6.
Tabel 6. Proyeksi Fasilitas Perdagangan dan Jasa di Kecamatan X

Fasilitas Umum dan Rekreasi


Fasilitas umum seperti kantor pos hanya terdiri dari satu unit dengan wilayah
pelayanan meliputi seluruh Kecamatan X. Kondisi ini tidak mampu memenuhi
kebutuhan penduduk, oleh karena itu diperlukan penambahan unit ini terutama di
daerah dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi selain ibukota kecamatan.
Kecamatan X merupakan tempat singgah dari jalur wisata yang berada di daerah X
Selatan. Hal ini merupakan potensi yang baik untuk meningkatkan sarana yang
berhubungan dengan pariwisata dan rekreasi seperti hotel dan restoran. Untuk
memenuhi kebutuhan hiburan maka perlu dibangun sebuah bioskop lokal. Hasil
proyeksi fasilitas umum dan rekreasi ditunjukkan oleh Tabel 7.
Tabel 7. Proyeksi Fasilitas Umum dan Rekreasi di Kecamatan X

Fasilitas Olahraga
Kondisi eksisting belum mencukupi kebutuhan karena sarana yang ada tidak dapat
menampung aktivitas penduduk. Direncanakan akan dibangun sebuah GOR. Hasil
proyeksi fasilitas olahraga ditunjukkan oleh Tabel 8.

Tabel 8. Proyeksi Fasilitas Olahraga di Kecamatan X

Kegiatan Industri
Pola pengembangan kegiatan industri didasarkan kepada fungsi Kecamatan X
sebagai kota satelit dan pusat kegiatan industri terutama industri tekstil. Hal ini
menyebabkan akan terjadi peningkatan kegiatan industri baik besar, sedang maupun
kecil/rumah tangga. Peningkatan ini diiringi pula dengan peningkatan jumlah tenaga
kerja. Hasil proyeksi kegiatan industri ditunjukkan oleh Tabel 9.
Tabel 9. Proyeksi Kegiatan Industri di Kecamatan X

Proyeksi Kebutuhan Air Minum


Proyeksi kebutuhan air minum dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor
yang dapat menunjang atau menyebabkan pertambahan kebutuhan air minum.
Faktor-faktor tersebut adalah :

Pertambahan jumlah penduduk

Tingkat sosial ekonomi penduduk

Keadaan iklim daerah setempat

Rencana daerah pelayanan dan perluasannya


Untuk memperkirakan kebutuhan air minum kota maka dapat diklasifikasikan
beberapa jenis pemakaian air yaitu adalah :

Pemakaian untuk kebutuhan domestik/rumah tangga

Pemakaian untuk kebutuhan nondomestik

Pemakaian untuk keperluan perkotaan


Standar Kebutuhan Air Minum
Untuk menentukan besarnya kebutuhan air minum maka dapat digunakan standar
kebutuhan air. Ada berbagai macam standar kebutuhan seperti standar yang telah
ditetapkan oleh Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum dalam Petunjuk
Teknis Tata Cara Rancangan Teknik Bidang Air Minum. Standar kebutuhan air
minum ditunjukkan oleh Tabel 10.
Tabel 10. Standar Kebutuhan Air Minum (PU Cipta Karya, 1998)

Untuk menentukan jumlah konsumsi air dapat juga digunakan pedoman


perencanaan penentuan jumlah konsumsi air yang diberikan oleh Iwaco-Waseco
seperti ditunjukkan oleh Tabel 11.
Tabel 11. Pedoman Perencanaan Jumlah Konsumsi Air (dalam L/org/hari)
(Iwaco-Waseco, 1990)

Kebutuhan Air Domestik


Kebutuhan air domestik ialah pemakaian air untuk aktivitas di lingkungan rumah
tangga. Penyediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dihitung berdasarkan :

Jumlah penduduk

Persentase jumlah penduduk yang akan dilayani

Cara pelayanan air

Konsumsi pemakaian air


Berdasarkan cara pelayanan air minum maka kebutuhan air domestik terbagi
menjadi dua jenis yaitu :

Sambungan Rumah

Hidran Umum
Kebutuhan Air untuk Sambungan Rumah
Sambungan rumah adalah jenis sambungan pelanggan yang menyediakan air
langsung ke rumah-rumah dengan menggunakan sambungan pipa-pipa distribusi air
melalui water meter dan instalasi pipa yang dipasang di dalam rumah. Pelayanan air
minum dengan menggunakan sambungan rumah ditujukan bagi warga yang telah
menempati rumah permanen. Golongan masyarakat ini akan sanggup membayar air
untuk mendapatkan air bersih demi kesehatan. Biasanya yang termasuk golongan ini
adalah golongan ekonomi kelas menengah hingga atas.
Selama periode perencanaan, diperkirakan jumlah rumah permanen akan meningkat
sesuai dengan fungsi kota yaitu sebagai pusat industri dan permukiman. Fungsi kota
ini berpengaruh kepada perekonomian masyarakat yang diperkirakan akan

meningkat seiring berjalannya waktu. Proyeksi kebutuhan air untuk sambungan


rumah ditunjukkan oleh Tabel 12.
Tabel 12. Proyeksi Kebutuhan Air untuk Sambungan Rumah di Kecamatan X

Kebutuhan Air untuk Hidran Umum


Hidran umum adalah jenis sambungan yang menyediakan air melalui kran yang
dipasang di suatu tempat tertentu agar mudah dipergunakan oleh masyarakat umum
untuk mencukupi kebutuhan mandi, cuci dan minum. Pelayanan air minum ini
ditujukan bagi masyarakat dengan golongan ekonomi bawah atau menempati rumah
non permanen yaitu rumah yang terbuat dari bambu atau kayu. Golongan ini
berpenghasilan rendah dan lebih mengutamakan penggunaan air tanah yang bebas
biaya sehingga tingkat penggunaan air dengan sumber air permukaan akan menjadi
sangat rendah karena memerlukan biaya.
Jumlah penduduk yang menempati rumah non permanen di masa mendatang akan
mengalami penurunan karena diperkirakan akan terjadi peningkatan kondisi
perekonomian masyarakat. Proyeksi kebutuhan air untuk hidran umum ditunjukkan
olehTabel 13.
Tabel 13. Proyeksi Kebutuhan Air untuk Hidran Umum di Kecamatan X

Kebutuhan Air Non Domestik


Kebutuhan air non domestik merupakan kebutuhan air yang digunakan oleh
berbagai fasilitas penunjang kegiatan masyarakat seperti :

Fasilitas Pendidikan

Fasilitas Peribadatan

Fasilitas Kesehatan

Fasilitas Perdagangan dan Jasa

Fasilitas Umum dan Rekreasi

Fasilitas Olahraga

Kegiatan industri
Jumlah kebutuhan air non domestik selama periode perencanaan ditunjukkan
oleh Tabel 14.
Tabel 14. Proyeksi Kebutuhan Air Non Domestik di Kecamatan X

Kebutuhan Air untuk Keperluan Kota


Kebutuhan air untuk keperluan perkotaan terbagi menjadi dua bagian yaitu untuk :

Hidran Kebakaran
Hidran kebakaran adalah hidran yang digunakan untuk mengambil air jika terjadi
kebakaran. Menurut Al-Layla, kebutuhan air untuk hidran kebakaran dapat
ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Dengan:
Q

= debit kebutuhan (L/menit)

= populasi dalam ribuan

Pada perencanaan ini ditentukan bahwa kebutuhan air untuk hidran kebakaran
adalah 10 % dari total kebutuhan air.
Tata Kota
Kebutuhan air untuk tata kota meliputi kebutuhan air bagi pemeliharaan tamantaman di wilayah perencanaan. Jumlah air yang disediakan adalah 5% dari total
kebutuhan air.
Rekapitulasi Kebutuhan Air di Wilayah Perencanaan
Berdasarkan perhitungan kebutuhan air untuk berbagai keperluan maka total
kebutuhan air di wilayah perencanaan dapat diketahui dan ditunjukkan oleh Tabel
15.
Tabel 15. Rekapitulasi Kebutuhan Air di Kecamatan X

Tingkat Pelayanan
Periode perencanaan selama 20 tahun terbagi menjadi dua tahap dan setiap tahap
berlangsung selama 10 tahun. Tingkat pelayanan air minum di setiap tahap berbedabeda dan di setiap tahap terjadi peningkatan pelayanan. Kondisi topografi dan
tingkat kepadatan penduduk yang berada di wilayah perencanaan menyebabkan
keterbatasan dalam pelayanan penyediaan air minum. Berdasarkan faktor-faktor
yang menentukan daerah pelayanan maka tingkat pelayanan tiap tahap
perencanaan adalah sebagai berikut :

Tahap I

(2004-2013)

Tahap II (2014-2023)

: 40 %
: 50 %

Tingkat Kehilangan Air


Kehilangan air adalah besarnya selisih air yang diproduksi dengan air yang
didistribusikan. Nilai ini perlu diperhitungkan dalam pengolahan air karena dijadikan
pedoman untuk melihat performance dari suatu instalasi pengolahan air minum.

Semakin besar tingkat kehilangan air maka semakin buruk pula performance dari
instalasi pengolahan. Penyediaan air minum dengan jaringan besar biasanya
memiliki tingkat kehilangan air yang besar dan sebaliknya.
Penyebab kehilangan air terbagi menjadi dua macam yaitu :

Fisik. Kehilangan air disebabkan oleh jaringan pipa yang sudah rusak, tua dan
bocor, kerusakan meter air dan pengaliran air tidak tercatat oleh meter air.

Administrasi. Kehilangan air disebabkan oleh keberadaan sambungan ilegal


dan ketidakakuratan dalam pencatatan administrasif.
Tingkat kehilangan air pada perencanaan ini untuk setiap tahap diperkirakan
sebagai berikut :

Tahap I

: 30 %

Tahap II

: 25 %

Fluktuasi Kebutuhan Air


Dalam perencanaan suatu sistem penyediaan air bersih, dikenal istilah fluktuasi
pemakaian air. Data tentang fluktuasi pemakaian air bersih ini merupakan data yang
sangat penting. Hal ini dikarenakan kapasitas sistem harus mencukupi untuk
mengatasi kebutuhan air saat hari maksimum maupun pada jam puncak. Data
fluktuasi pemakaian air bersih juga dapat digunakan untuk menghitung kapasitas
dari bak penampung atau reservoir.
Fluktuasi pemakaian ini dapat dibedakan menjadi dua (2) jenis yaitu fluktuasi
pemakaian pada waktu hari maksimum dan pada saat jam puncak. Fluktuasi
pemakaian air bersih di tiap daerah dapat berbeda-beda dipengaruhi oleh beberapa
hal. Diantaranya adalah:

Kebiasaan konsumen dalam penggunaan air.

Tingkat sosial ekonomi di daerah pelayanan.

Untuk menghitung kebutuhan air bersih, diperlukan pula angka faktor pengali
tertentu yaitu faktor maksimum harian (fm) dan faktor jam puncak (fp) sehingga akan
diperoleh kebutuhan air maksimum dan kebutuhan air puncak.

Faktor Hari Maksimum (fm)


Yang dimaksud dalam fluktuasi hari maksimum adalah fluktuasi yang dapat terjadi
dari hari ke hari yang bervariasi namun terdapat satu hari dimana pemakaian air
lebih besar dibanding hari lainnya dalam satu tahun tadi. Kebutuhan air maksimum
harian dihitung dari kebutuhan rata-rata dikalikan dengan faktor maksimum harian.
Faktor ini merupakan perbandingan antara pemakaian pada hari terbesar dengan
pemakaian air rata-rata selama satu tahun.
Besarnya kebutuhan air pada hari maksimum dapat dipengaruhi oleh:

Tingkat ekonomi dan kondisi sosial budaya. Tingkat ekonomi masyarakat


berpengaruh terhadap pola penggunaan air. Semakin tinggi tingkat ekonomi
masyarakat maka pemakaian air juga akan bertambah besar dan semakin beragam
tingkat sosial budaya masyarakat begitu pula dengan pemakaian airnya yang
menjadi semakin besar.

Iklim. Iklim akan berpengaruh terhadap fluktuasi pemakaian air. Seperti pada
umumnya daerah di Indonesia, Kota X juga dipengaruhi oleh dua musim dan
perbedaan temperatur yang tidak terlalu besar. Namun demikian tetap terdapat
perbedaan pola penggunaan air diantara kedua musim tersebut dimana pada musim
kemarau terjadi kecenderungan pemakaian air yang lebih besar daripada musim
hujan.

Faktor Jam Puncak (fp)


Jam puncak merupakan jam dimana terjadi pemakaian air terbanyak dalam 24 jam.
Faktor jam puncak (fp) mempunyai nilai yang berbanding terbalik dengan jumlah
penduduk. Semakin tinggi jumlah penduduk maka besarnya faktor jam puncak akan
semakin kecil. Hal ini terjadi karena dengan bertambahnya jumlah penduduk maka
aktivitas penduduk tersebut pun akan semakin beragam sehingga fluktuasi
pemakaian akan semakin kecil pula.
Faktor lain yang juga dapat mempengaruhi kebutuhan jam puncak adalah
perkembangan dari kota yang bersangkutan. Perkembangan yang terjadi dapat

menentukan karakteristik kota. Namun secara garis besar, untuk kota besar nilai fp
akan sebesar 1,3, kota sedang sekitar 1,5, dan untuk kota kecil adalah 2.
Tabel 16. Nilai Faktor Maksimum dan Faktor Puncak untuk Beberapa Kategori
Kota

Berdasarkan Tabel 16 maka nilai fm dan fp pada perencanaan ini adalah 1.1 dan 1.5.
Rekapitulasi Kebutuhan Air Terlayani
Dalam usaha penyediaan air minum, kebutuhan air minum di wilayah perencanaan
tidak dapat dilayani secara keseluruhan. Berdasarkan tingkat pelayanan, kebocoran
dan nilai fluktuasi yang direncanakan maka dapat diketahui jumlah kebutuhan air
terlayani. Nilai ini ditunjukkan oleh Tabel 17.
Tabel 17. Rekapitulasi Kebutuhan Air Terlayani di Kecamatan X

Perhitungan
Standar Kebutuhan Air Minum
Kebutuhan air minum dihitung dengan mengacu kepada standar kebutuhan air
minum yang telah berlaku dan pola penggunaan air di wilayah perencanaan.
Berbagai standar kebutuhan air diberikan pada Tabel 1, 2 dan 3.
Tabel 1. Standar Pemakaian Air menurut PPSAB, Jawa Barat

Tabel 2. Standar Pemakaian Air Menurut PU Cipta Karya

Tabel 3. Pedoman Perencanaan Jumlah Konsumsi Air (dalam


L/org/hari) (Iwaco-Waseco)

Kebutuhan Air Domestik


Kebutuhan air domestik meliputi kebutuhan air untuk sambungan rumah dan hidran
umum. Standar kebutuhan air untuk sambungan rumah dan hidran umum mengacu
kepada jumlah kebutuhan eksisting dari PDAM Kab. Bandung yaitu :

Sambungan Rumah: 100 L/orang/hari

Hidran Umum: 30 L/orang/hari


Perhitungan kebutuhan air domestik diberikan oleh Tabel 4 dan 5.

Tabel 4. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Sambungan Rumah

Tabel 5. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Hidran Umum

Kebutuhan Air Non Domestik


Kebutuhan air non domestik meliputi kebutuhan air untuk berbagai fasilitas umum
dan sosial yang berada di wilayah perencanaan selama periode perencanaan.
Fasilitas Pendidikan
Kebutuhan air untuk fasilitas pendidikan ditentukan dengan menggunakan standar
kebutuhan setiap tingkat pendidikan yaitu :

TK : 10 L/murid/hari

SD : 10 L/murid/hari

SLTP: 10 L/murid/hari

SMU: 10 L/murid/hari

Perguruan Tinggi: 10 L/murid/hari


Perhitungan kebutuhan air fasilitas pendidikan diberikan oleh Tabel 6.

Tabel 6. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Pendidikan

Fasilitas Peribadatan
Kebutuhan air untuk fasilitas peribadatan ditentukan dengan menggunakan standar
kebutuhan setiap tempat peribadatan yaitu :

Mesjid: 1500 L/unit/hari

Mushala: 750 L/unit/hari

Gereja: 500 L/unit/hari

Pura: 200 L/unit/hari

Vihara: 200 L/unit/hari

Pesantren: 5000 L/unit/hari


Perhitungan kebutuhan air fasilitas peribadatan diberikan oleh Tabel 7.
Tabel 7. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Peribadatan

Fasilitas Kesehatan
Kebutuhan air untuk fasilitas kesehatan ditentukan dengan menggunakan standar
kebutuhan setiap fasilitas kesehatan yaitu :

Rumah sakit: 200 L/tempat tidur/hari

Pukesmas: 2000 L/unit/hari

Puskesmas Pembantu: 1000 L/unit/hari

BKIA/RS Bersalin: 750 L/unit/hari

Balai Pengobatan: 1500 L/unit/hari

Apotek: 100 L/unit/hari


Perhitungan kebutuhan air fasilitas kesehatan diberikan oleh Tabel 8.
Tabel 8. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Kesehatan

Fasilitas Perdagangan dan Jasa


Kebutuhan air untuk fasilitas perdagangan dan jasa ditentukan dengan
menggunakan standar kebutuhan setiap fasilitas perdagangan dan jasa yaitu :

Warung/Toko: 8 L/unit/hari

Bank: 250 L/unit/hari

Pasar: 3000 L/unit/hari

Koperasi: 750 L/unit/hari

Asuransi: 1100 L/unit/hari

Terminal: 4500 L/unit/hari

Supermarket: 2000 L/unit/hari

Restoran: 100 L/kursi/hari


Perhitungan kebutuhan air fasilitas perdagangan dan jasa diberikan oleh Tabel 9.
Tabel 9. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Perdagangan dan Jasa

Fasilitas Umum dan Rekreasi


Kebutuhan air untuk fasilitas umum dan rekreasi ditentukan dengan menggunakan
standar kebutuhan setiap fasilitas umum dan rekreasi yaitu :

Balai Pertemuan: 2000 L/unit/hari

Kantor Pos: 2000 L/unit/hari

Kantor Polisi: 2000 L/unit/hari

Bioskop: 2000 L/unit/hari

Hotel/Penginapan: 150 L/tempat tidur/hari


Perhitungan kebutuhan air fasilitas umum dan rekreasi diberikan oleh Tabel 10.
Tabel 10. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Umum dan Rekreasi

Fasilitas Olahraga
Kebutuhan air untuk fasilitas olahraga ditentukan dengan menggunakan standar
kebutuhan setiap fasilitas olahraga yaitu :

GOR: 1500 L/unit/hari

Kolam renang: 1200 L/unit/hari


Perhitungan kebutuhan air fasilitas olahraga diberikan oleh Tabel 11.
Tabel 11. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Fasilitas Olahraga

Kegiatan Industri
Kebutuhan air untuk kegiatan industri ditentukan dengan menggunakan standar
kebutuhan setiap kegiatan indutri yaitu :

Industri besar dan sedang: 10 L/pegawai/hari

Industri rumah tangga: 10 L/pegawai/hari


Perhitungan kebutuhan air kegiatan industri diberikan oleh Tabel 12.
Tabel 12. Perhitungan Kebutuhan Air untuk Kegiatan Industri

Rekapitulasi Kebutuhan Air Non Domestik

Jumlah dari kebutuhan air non domestik selama periode perencanaan dapat
diketahui pada Tabel 13.
Tabel 13. Rekapitulasi Kebutuhan Air Non Domestik

Anda mungkin juga menyukai