Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pola prilaku hidup modern seperti mengkonsumsi makanan-makanan siap saji
yang mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman
beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolahraga dan stress, telah menjadi gaya hidup
manusia terutama di perkotaan. Padahal kesemua perilaku tersebut dapat merupakan
faktor-faktor penyebab penyakit berbahaya seperti jantung dan stroke (American
Heart Association, 2009).
Stroke adalah salah satu penyakit kardiovaskuler yang berpengaruh terhadap
arteri utama yang berada di otak, stroke terjadi ketika pembuluh darah yang
mengangkut oksigen dan nutrisi menuju otak pecah atau terblokir oleh bekuan
sehingga pasokan darah ke otak tiba-tiba berhenti, oksigen dan glukosa tidak dapat
dikirim ke otak sehingga otak tidak mendapat darah yang dibutuhkannya. Jika
kejadian berlangsung lebih dari 10 detik akan menimbulkan kerusakan permanen otak
(Soeharto, 2004).
Terhambatnya penyediaan oksigen dan nutrisi ke otak menimbulkan masalah
kesehatan yang serius karena dapat menimbulkan hemiparese bahkan kematian.
Stroke merupakan penyabab kematian ketiga tersering setelah penyakit jantung
koroner dan kanker. Lima belas orang di seluruh dunia terserang stroke setiap tahun,
lima juta meninggal dan lima juta lainnya menderita kecacatan (Price & Wilson,
2006).
Penderita stroke perlu penanganan yang baik untuk mencegah kecacatan fisik
dan mental. Sebesar 30% - 40% penderita stroke dapat sembuh sempurna bila
ditangani dalam waktu 6 jam pertama (golden periode), namun apabila dalam waktu
tersebut pasien stroke tidak mendapatkan penanganan yang maksimal maka akan
terjadi kecacatan atau kelemahan fisik seperti hemiparese. Penderita stroke post
serangan membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan dan memperoleh fungsi
penyesuaian diri secara maksimal. Terapi dibutuhkan segera untuk mengurangi cedera
cerebral lanjut, salah satu program rehabilitasi yang dapat diberikan pada pasien
stroke yaitu mobilisasi persendian dengan latihan range of motion (Levine, 2008).
Range

of

motion

(ROM)

adalah

latihan

yang

dilakukan

untuk

mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan pergerakkan

sendi secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot.
Melakukan mobilisasi persendian dengan latihan ROM dapat mencegah berbagai
komplikasi seperti nyeri karena tekanan, kontraktur, tromboplebitis, dekubitus
sehingga mobilisasi dini penting dilakukan secara rutin dan kontinyu. Memberikan
latihan ROM secara dini dapat meningkatkan kekuatan otot karena dapat
menstimulasi motor unit sehingga semakin banyak motor unit yang terlibat maka akan
terjadi peningkatan kekuatan otot, kerugian pasien hemiparese bila tidak segera
ditangani maka akan terjadi kecacatan yang permanen (Potter & Perry, 2009).
Latihan utuk menstimulasi gerak pada tangan dapat berupa latihan fungsi
menggenggam. Latihan ini dilakukan melalui 3 tahap yaitu membuka tangan.
Menutup jari untuk menggenggam objek dan mengatur kekuatan (Irfan, 2010,
hlm.197). Latihan menggenggam tersebut dikenal dengan latihan spherical grib yang
merupakan latihan fungsional tangan dengan cara menggenggam sebuah benda
berbentuk bulat seperti bola pada telapak tangan (Irfan, 2010, hlm 205).
B. Tujuan
1. Merangsang sirkulasi darah,
2. Mencegah kelainan bentuk, kekakuan dan kontraktur,
3. Meningkatkan atau mempertahankan fleksibilitas dan kekuatan otot.
C. Manfaat
1.
2.
3.

Memperbaiki tonus otot,


Meningkatkan massa otot,
Memperbaiki toleransi otot untuk latihan.

BAB 2

PEMBAHASAN
A. Pengertian CVA
CVA (Cerebro Vascular Accident) merupakan kelainan fungsi otak yang
timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran darah otak
yang dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja dengan gejala-gejala berlangsung
selama 24 jam atau lebih yang menyebabakan cacat berupa kelumpuhan anggota
gerak, gangguan bicara, proses berpikir, daya ingat dan bentuk-bentuk kecacatan lain
hingga menyebabkan kematian (Muttaqin, 2008:234).
B. Anatomi dan Fisiologi
a. Otak
Berat otak manusia sekitar 1400 gr dan tersusun oleh lebih kurang 100 triliun
neuron.

Otak terdiri dari 4 bagian besar yaitu : Cerebrum (otak besar),

Cerebelum (otak kecil), Brain Steam (Batang otak) dan Dien Cepalon.
Cerebrum terdiri 2 hemisfer cerebri, korpus colosum dan corteks cerebri.
Himisfer cerebri terdiri lobus frontalis, termasuk area motorik untuk gerakan
volunteer, lobus parietal berperan memproses dan mengintegrasi informasi
sensorik, lobus temporalis adalah sensori untuk impuls pendengaran, oksipitalis
mengandung korteks penglihatan primer.
Cerebelum terletak di fossa cranii posterior dan ditutupi oleh durameter.
Fungsi utamanya adalah pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus
gerakan

otot,

serta

mengubah

tonus

dan

kekuatan

kontraksi

untuk

mempertahankan keseimbangan.
Bagian-bagian batang otak dari bawah ke atas yaitu : Medulla oblongata,
pons, dan main cefalon (otak tengah).

Medulla oblongata merupakan pusat

refleks untuk jantung, vasokontriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan,


mengeluarkan air liur dan muntah. Pons merupakan penghubung yang penting
pada kortiko cerebralis yang merupakan bagian pendek dari batang otak.
Diencefalon terbagi 4 : Talamus, sub thalamus, epitalamus dan hipotalamus.
Talamus merupakan penerima dan pengintegrasi sub cortical yang penting.
Epitalamus berperan pada emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan
pengaturan rangsangan dari system saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi
tingkah dan emosi.
b. Sirkulasi Darah Otak
Otak menerima 17% curah jantung dan menggunakan 20% konsumsi oksigen
total tubuh manusia untuk metabolisme erobiknya. Otak diperdarahi 2 pasang
arteri : arteri carotis interna, arteri vertebralis. Sirkulasi disebut sirkulus wilisi

Arteri carotis interna dan eksterna bercabang dari arteri carotis comunis.
Arteri Carotis interna masuk dalam tengkorak dan bercabang kira-kira kiasma
optikum, menjadi arteri cerebri anterior dan media.

Arteri cerebri anterior

mensuplai darah pada nucleus caudatus, putamen basal ganglion, capsula interna,
korpus colosum, lobus frontalis parietalis, korteks somastatik dan korteks motorik.
Arteri cerebri media mensuplai ke lobus temporalis, parietalis dan frontalis
corteks cerebri.
Arteri vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteri sub clavia sisi yang sama.
Arteri ini masuk melalui foramen magnum.

Cabang-cabang arteri ini

memperdarahi medulla oblongata, pons, cerebellum, otak tengah dan sebagian


diencefalon.

Arteri cerebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi

sebagian diencefalon, sebagian oksipitaslis temporalis, koklearis dan organ-organ


vestibular.
Darah vena dialirkan melalui 2 sistem : kelompok vena interna,
mengumpulkan darah ke vena galen dan sinus rektus, vena eksterna yang terletak
di permukaan himesfer otak mencurahkan darah ke sinus sagitalis superior dan
sinus basalis lateralis seterusnya ke vena-vena jugularis dicurahkan ke jantung.
c. Patofisiologi
Otak sangat tergantung oksigen dan tidak mempunyai cadangan oksigen. Bila
terjadi anoksia seperti halnya pada CVA, metabolisme di otak segera mengalami
perubahan. Kematian sel dan kerusakan permanen dapat terjadi dalam 3 10
menit.

Setiap kondisi yang menyebabkan perubahan perfusi otak akan

menimbulkan hipoksia atau anoksia.

Hipoksia sampai iskemia otak, iskemia

dalam waktu singkat (kurang dari 10 15 menit) menyebabkan defisit sementara


dan bukan defisit permanen. Iskemia dalam waktu lama menyebabkan sel mati
permanen dan berakibat terjadi infark otak yang disertai edem otak. Tipe defisit
fokal permanen akan tergantung kepada daerah otak yang mana terkena. Daerah
otak tergantung kepada pembuluh darah otak yang mana terkena. Yang paling
sering terkena arteri cerebral tengah, defisit fokal permanen dapat tidak diketahui
jika pertama kali pasien dijumpai iskemia otak keseluruhan yang bisa teratasi.
C. Penyebab CVA
a. Trombosis
Trombosis merupakan penyebab paling umum dari CVA, yang paling sering
adalah aterosklerosis.

Penyakit tambahan seringkali dijumpai pada trombosis :

hipotensi, dan tipe lain dari cedera vaskuler. CVA trombosis ini sering pada usia

60 90 tahun. Timbul pada pembuluh darah besar dengan kerusakan dinding


pembuluh darah pada tempat sumbatan.
Serangan gejala ini sering datang pada waktu tidur atau mulai bangun, diduga
ada hubungan dengan pernyataan bahwa aktivitas simpatis pada orang tua
menurun dan tidur telentang merendahkan tekanan darah yang menyebabkan
iskemia otak. Tanda-tanda dan gejala neurologis seringkali memburuk pada 48
jam setelah trombosis.
b. Emboli Cerebral
Emboli cerebral merupakan penyebab kedua paling sering.

Pasien CVA

sekunder dari emboli biasanya lebih muda, seringkali emboli bersumber dari
thrombus di jantung. Trombus miokardial yang paling sering akibat penyakit
jantung rematik yang disertai mitral stenosis dan atrial fibrilasi.

Biasanya

mengenai pembuluh darah kecil, paling sering terjadi pada arteri cerebral tengah.
c. Transient Ischemia Attack (TIA)
Terminologi ini ialah transient iskemia dengan episod temporer disfungsi
neurologi. Disfungsi neurologi bisa sangat parah disertai tidak sadar sama sekali
dan hilang fungsi sensorik serta fungsi motorik atau mungkin hanya defisit dari
focus. Paling sering ialah : kelemahan kolateral dari muka, tangan, lengan dan
kaki, transient disfasia dan sebagian sensori. Serangan iskemia bisa terjadi sehari,
seminggu, sebulan . Diantara serangan pemeriksaan neurology normal. TIA
sering mendahului serangan trombosis. Juga bisa oleh salah satu penyebab CVA.
D. Klasifikasi CVA
CVA dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu :
1. Non hemorragi / iskomik / infarte.
a. Transient ischemic attack ( TIA )serangan islamik sepintas TIA merupakan
tampilan peristiwa berupa episode-episode serangan sesaat yaitu dari suatu
disfungsi serebral fekal akibat gangguan vaskuler dengan lama serangan
sekitar 2-15 menit sampai paling lama 24 jam.
b. Devisit neurologis iskemik sepintas /reversibel ischemic neurologis devisit
( RIND).
Gejala dan tada gangguan neurolgis yang berlangsung lebih lama dari 24 jam
dan kemudian pulih kembali ( dalam jangka waktu kurang dari 3 minggu )
c. In Evolution/progresing stroke
Gejala gangguan neurologis yang progresif dalam waktu 6 jam atau lebih.
d. Stroke komplit ( Complete stroke/permannent stroke )
Gejala gangguan neurologis dengan LESI yang stabil sesama periode 18-24
jam tanpa adanya progresif lanjut.
2. Stroke Hemorrgi

Pendarahan intrakronis dibedakan berdasarkan tempat pendarahnnya, yakni


dirongga suprapraknoid yang bocor kedalam otak (intra cerebra) . Ada juga
pendarahan subarakhnoid yang bocor kedalam otak atau sebaliknya. Selanjutnya
gangguan-gangguan arteri yang menimbulkan pendarahan otak spontan di
sebabkan lagi berdasarkan ukuran dan lokasi regional otak.
E. ROM (Range Of Mation)
Tindakan latihan pergerakan sendi mendorong terjadinya latihan fisik untuk
mempertahankan tonus otot dan mobilitas sendi pasien stroke. Latihan pergerakan
sendi atau ROM (Range Of Mation) merupakan pergerakan maksimum yang mungkin
dilakukan oleh sendi. Latihan ROM dapat dilakukan dengan cara menggunakan ROM
pasif, ROM aktif-asistif.

ROM aktif yaitu gerakan yang dilakukan oleh seseorang

(pasien) dengan menggunakan energi sendiri. Perawat memberikan motivasi, dan


membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendiri secara mandiri sesuai
dengan rentang gerak sendi normal (klien aktif). Keuatan otot 75 %.
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara
menggunakan otot-ototnya secara aktif. Sendi yang digerakkan pada ROM aktif
adalah sendi di seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien sendri
secara aktif.
ROM aktif merupakan latihan isotonik dengan pasien secara mandiri
menggerakkan setiap sendi tubuhnya melalui rentang pergerakan sendi yang lengkap,
peregangan seluruh kelompok otot secaramaksimal pada setiap bidang diatas
(Berman, 2009, hlm 298).
1. Indikasi dan Sasaran ROM
ROM Aktif :
1. Indikasi
a. Pada saat pasien dapat melakukan kontraksi otot secara aktif dan
menggerakkan ruas sendinya baik dengan bantuan atau tidak.
b. Pada saat pasien memiliki kelemahan otot dan tidak dapat menggerakkan
persendian sepenuhnya, digunakan A-AROM (Active-Assistive ROM, adalah
jenis ROM Aktif yang mana bantuan diberikan melalui gaya dari luar apakah
secara manual atau mekanik, karena otot penggerak primer memerlukan
bantuan untuk menyelesaikan gerakan).
c. ROM Aktif dapat digunakan untuk program latihan aerobik.
d. ROM Aktif digunakan untuk memelihara mobilisasi ruas diatas dan dibawah
daerah yang tidak dapat bergerak.
2. Sasaran

a. Apabila tidak terdapat inflamasi dan kontraindikasi, sasaran ROM Aktif


serupa dengan ROM Pasif.
b. Keuntungan fisiologis dari kontraksi otot aktif dan pembelajaran gerak dari
kontrol gerak volunter.
c. Sasaran spesifik:
- Memelihara elastisitas dan kontraktilitas fisiologis dari otot yang terlibat
- Memberikan umpan balik sensoris dari otot yang berkontraksi
- Memberikan rangsangan untuk tulang dan integritas jaringan persendian
- Meningkatkan sirkulasi
- Mengembangkan koordinasi dan keterampilan motorik
2. Kontraindikasi
Kontraindikasi dan hal-hal yang harus diwaspadai pada latihan ROM
a. Latihan ROM tidak boleh diberikan apabila gerakan dapat mengganggu proses
penyembuhan cedera.
- Gerakan yang terkontrol dengan seksama dalam batas-batas gerakan yang
bebas nyeri selama fase awal penyembuhan akan memperlihatkan manfaat
-

terhadap penyembuhan dan pemulihan


Terdapatnya tanda-tanda terlalu banyak atau terdapat gerakan yang salah,

termasuk meningkatnya rasa nyeri dan peradangan


b. ROM tidak boleh dilakukan bila respon pasien atau kondisinya membahayakan
(life threatening)
- PROM dilakukan secara hati-hati pada sendi-sendi besar, sedangkan AROM
pada sendi ankle dan kaki untuk meminimalisasi venous stasis dan
-

pembentukan trombus
Pada keadaan setelah infark miokard, operasi arteri koronaria, dan lain-lain,
AROM pada ekstremitas atas masih dapat diberikan dalam pengawasan yang

ketat.
3. Penatalaksanaan
Pemberian tindakan keperawatan bagi pasien stroke dapat dilakukan dengan
latihan pergerakan sendi (ROM), selain itu juga ada intervensi yang lain yaitu dengan
cara:
a. Meletakkan tangan dalam posisi menggenggam berfungsi dengan jari-jari
sedikit fleksi dan ibu jari dalam posisi berhubungan dengan abduksi.
b. Gunakan pegangan berbentuk roll. Benda berbentuk roll dapat menyebabkan
pergelangan spastik (peningkatan tonus otot yang menyebabkan adanya suatu
tahanan), gunakan splint
(Batticaca 2008, hlm. 76).
Latihan genggaman pada tangan dapat dilakukan dengan menggunakan
spherical grip karena paling mudah dan praktis digunakan , yaitu:
a. Memberikan benda berbentuk bulat (seperti bola tenis),
b. Lakukan koreksi pada jari-jari agar menggenggam sempurna,
c. Kemudian posisi wrist joint 45 derajat,

d. Berikan instruksi untuk menggenggam (menggenggam kuat) selama lima detik


kemudian rileks, ini dilakukan pengulangan sebanyak tujuh kali.
(Irfan 2010, hlm 205)

BAB 3
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Penatalaksanaan medis pada pasien stroke biasanya menggunakan obat
neuroprotektif, selain penatalaksanaan medis jugga dapat melakukan penatalaksanaan
keperawatan dengan menggunakan ROM yang bertujuan untuk

mempengaruhi

kekuatan otot. Latihan ROM aktif dilakukan dengan tujuan mempertahankan atau
meningkatkan dan melenturkan kekuatan otot. Latihan ROM aktif-asistif bertujuan
untuk membantu proses pembelajaran motorik. Setiap gerakan yang dilakukan
hendaknya secara perlahan dan aggota gerak yang mengalami kelumpuhan ikut aktif
melakukan gerakan seoptimal mungkin dan sesuai kemampuan, sedangkan anggota
gerak yang tidak mengalami kelemahan hendaknya dapat membantu proses
terbentuknya gerakan.
Pasien dengan penatalaksanaan ROM aktif-asistif dengan menggunakan
spherical grip biasanya dengan pasien stroke non hemoragik dan jarang mengalami
serangan berulang. Efektifitas terapi dilakukan selama 7 hari.
B. Saran
1. Latihan ROM aktif-asistif spherical grip dapat diaplikasikan dalam praktek
keperawatan minimal 2 kali sehari aau lebih dari 2 kali sehari karena sangat
efektif bagi pemulihan pasien stroke yang mengalami hemiparesis.
2.

DAFTAR PUSTAKA
Batticaca, Fransisca, 2012 , Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan , Jakarta : Salemba Medika.
Beman, Audrey, Snyder, Shirlee, Kozier, Barbara & Erb, Glenora. (2009).
Buku ajar praktik keperawatan klinis kozier & erb. Alih bahasa: Eny
Jakarta: EGC.

Meilia.

Irfan, Muhammad. (2010). Fisioterapi bagi insan stroke. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Levine, Peter G. (2009). Stronger after stroke panduan lengkap dan efektif terapi pemulihan
stroke. Alih bahasa: Rika Iffati Farihah. Jakarta: Etera.
Perry, Anne G. (2010). Fundamental keperawatan .Alih bahasa: Diah Nur
Onny Tampubolon &Farah Diba. Edisi 7. Buku 3. Jakarta: Salemba Medika.

Fitriani,

Sudoyo, 2009, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi 5, Jakarta: Internal

Publishing.

Sukmaningrum, Febrina, 2011, Efektivitas Range Of Motion (Rom) Aktif-Asistif: Spherical


Grip Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Ekstremitas Atas
Pada Pasien Stroke Di
RSUD
Tugurejo
Semarang
di
ambil
dari
<http://ejournal.stikestelogorejo.ac.id/index.php/ilmukeperawatan/article/view/53>
diperoleh pada tanggal 10 Februari 2013.