Anda di halaman 1dari 53

KARYA TULIS ILMIAH

EVALUASI FISIK SEDIAAN SUSPENSI DENGAN


KOMBINASI SUSPENDING AGENT PGA (Pulvis Gummi
Arabici) DAN CMC-Na (Carboxymethylcellulosum Natrium)

AFLAHATUL IFLAHAH

AKADEMI FARMASI SARASWATI


DENPASAR
2014
KARYA TULIS ILMIAH

EVALUASI FISIK SEDIAAN SUSPENSI DENGAN


KOMBINASI SUSPENDING AGENT PGA (Pulvis Gummi
Arabici) DAN CMC-Na (Carboxymethylcellulosum Natrium)

Aflahatul Iflahah
NIM: 11.10.02

AKADEMI FARMASI SARASWATI


DENPASAR
2014

EVALUASI FISIK SEDIAAN SUSPENSI DENGAN


KOMBINASI SUSPENDING AGENT PGA (Pulvis Gummi
Arabici) DAN CMC-Na (Carboxymethylcellulosum Natrium)

Karya Tulis Ilmiah ini untuk Memenuhi Syarat Kelulusan


pada Program Studi Diploma III Farmasi
Akademi Farmasi Saraswati Denpasar

Aflahatul Iflahah
NIM: 11.10.02

AKADEMI FARMASI SARASWATI


DENPASAR
2014

PENETAPAN PANITIA PENGUJI


Karya Tulis Ilmiah ini Telah Diuji Pada
Tanggal 14 Agustus 2014

Panitia Penguji Karya Tulis Ilmiah Berdasarkan


SK Direktur Akademi Farmasi Saraswati
No. 612/AKFAR/E.10.VIII/2014
Tanggal 9 Agustus 2014

Ketua
: Ni Made Dharma Shantini Suena, S.Farm., M.Sc., Apt
Anggota : I Made Agus Sunadi Putra, S.Si., M.Biomed., Apt
Erna Cahyanngsih, S.Si., Apt
Kadek Duwi Cahyadi, S.Farm., M.Sc., Apt

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama

: Aflahatul Iflahah

NIM

: 111002

Program Studi

: Ahli Madya Farmasi

Tempat/Tanggal lahir

: Denpasar, 1 Februari 1993

Alamat

: Jalan Raya Kuta Gg. Sadasari Blok B No. 4

Telepon

: 0361-762316

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa saya tidak menjiplak setengah atau


sepenuhnya karya tulis ilmiah orang lain.

Demikian pernyataan ini saya buat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya,
dan apabila di kemudian hari ternyata tidak benar, maka saya bersedia dituntut sesuai
peraturan perundangan yang berlaku.

Denpasar, 14 Agustus 2014


Yang Membuat Pernyataan,

(Aflahatul Iflahah)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat, hidayah serta kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan
karya tulis ilmiah ini dengan judul Evaluasi Fisik Sediaan Suspensi dengan
Kombinasi Suspending Agent PGA (Pulvis Gummi Arabici) dan CMC-Na
(Carboxymethylcellulosum

natrium) untuk memenuhi syarat kelulusan pada

program studi Diploma III Farmasi Akademi Farmasi Saraswati Denpasar.


Terwujudnya karya tulis ilmiah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang
telah mendorong dan membimbing penulis, baik tenaga maupun ide-ide. Oleh karena
itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada:
1. Drs. I Gede Made Saskara Edi, M.Psi., Apt., selaku Direktur Akademi Farmasi
Saraswati Denpasar.
2. Elis Suwarni, S.Si., Apt., selaku Ketua Program Studi Diploma III Farmasi
Akademi Farmasi Saraswati Denpasar.
3. Ni Made Dharma Shantini Suena, S.Farm., M.sc., Apt., selaku pembimbing I
yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam pelaksanaan bimbingan,
pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan karya tulis ini.
4. I Made Agus Sunadi Putra, S.Si., M.Biomed., Apt., selaku pembimbing II yang
telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam pelaksanaan bimbingan,
pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan karya tulis ini.
5. Seluruh Bapak/Ibu Dosen, Staf, dan Laboran Akademi Farmasi Sarawati
Denpasar yang telah banyak membimbing dan memberikan ilmu pengetahuan
kepada penulis.
6. Ayah, ibu dan keluarga penulis yang telah memberikan semangat, dukungan, dan
bantuan dalam penulisan karya tulis ini.
7. Rekan-rekan di Akademi Farmasi Saraswati Denpasar.

Semoga segala bantuan yang tidak ternilai harganya ini mendapat imbalan di sisi
Tuhan Yang Maha Esa sebagai amal ibadah, Amin.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh karena itu kritik saran yang membangun dari berbagai pihak sangat penulis
harapkan demi perbaikan-perbaikan ke depan.

Denpasar, Agustus 2014

Penulis

ABSTRAK

Suspensi dibuat karena beberapa zat aktif obat mempunyai kelarutan yang
praktis tidak larut dalam air, tetapi diperlukan dalam bentuk cair. Konsentrasi PGA
sebagai suspending agent adalah 5-10%, namun PGA pada konsentrasi kurang dari
10% memiliki viskositas yang rendah sehingga dapat mempercepat terjadinya
sedimentasi. Oleh karena itu PGA dikombinasikan dengan CMC-Na yang merupakan
suspending agent yang dapat meningkatkan viskositas serta dapat meningkatkan
kestabilan suspensi. Sifat fisik yang diinginkan adalah suspensi yang memiliki
partikel tidak cepat mengendap dan mudah diredispersi. Tujuan penelitian adalah
untuk mengetahui karakteristik suspensi dengan kombinasi suspending agent PGA
dan CMC-Na.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan pengolahan data
secara deskriptif. Pada penelitian dibuat empat formula yaitu formula I, II, III, dan IV
untuk diamati tampilan, warna, bau dan rasa, dihitung kecepatan dan volume
sedimentasi yang terbentuk, serta diuji redispersibilitas dari masing-masing formula.
Kombinasi PGA dan CMC-Na berturut-turut dari formula I, II, III, dan IV adalah 5%
dan 0,25%; 3,75% dan 0,5%; 2,5% dan 0,75%; 1,25% dan 1%.
Hasil pengujian kecepatan sedimentasi formula I, II, III, dan IV berturut-turut
adalah 0,2318; 0,233; 0,124; dan 0,0021 (cm/menit). Sedangkan hasil pengujian
volume sedimentasi adalah 0,031; 0,046; 0,152; dan 0,554. Hasil pengujian
redispersibilitas yaitu 0%; 0%; 15%; dan 50%. Formula I dan II merupakan formula
dengan sistem kombinasi dimana sistem deflokulasi lebih dominan sedangkan
formula III dan IV juga merupakan formula dengan sistem kombinasi tetapi sistem
flokulasi lebih dominan. Di akhir pengamatan, pada formula I dan IV tidak ada
perubahan bau dan rasa sedangkan pada formula II dan III ada perubahan bau dan
rasa.

Kata Kunci: suspensi, suspending agent, PGA, CMC-Na

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSYARATAN ...................................................................... ii


HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii
HALAMAN PENETAPAN PANITIA PENGUJI ........................................ iv
SURAT PERNYATAAN ............................................................................... v
KATA PENGANTAR .................................................................................... vi
ABSTRAK...................................................................................................... viii
DAFTAR ISI .................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiii
DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN ...................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................................... 3
1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................................... 3
1.4.1 Manfaat teoritis .............................................................................. 3
1.4.2 Manfaat praktis ............................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 4
2.1 Suspensi ..................................................................................................... 4
2.1.1 Pengertian ...................................................................................... 4
2.1.2 Formulasi umum............................................................................. 4
2.1.3 Sifat-sifat partikel suspensi ............................................................. 6
2.1.4 Stabilitas suspensi ........................................................................... 7
2.1.5 Persyaratan suspensi ....................................................................... 9
2.1.6 Pembuatan sediaan suspensi ........................................................... 9
2.1.7 Evaluasi sediaan suspensi ............................................................... 10
2.2 Monografi Formulasi Sediaan Suspensi ...................................................... 11
2.2.1 Talk ................................................................................................ 11
2.2.2 PGA ............................................................................................... 11
2.2.3 CMC-Na ......................................................................................... 12
2.2.4 Gliserin........................................................................................... 13
2.2.5 Sirop gula ....................................................................................... 14
2.2.6 Aqua destillata................................................................................ 14
BAB III METODELOGI PENELITIAN ...................................................... 15
3.1 Rancangan Penelitian ................................................................................. 15
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................................... 15
10

3.3 Alat ............................................................................................................ 15


3.4 Bahan......................................................................................................... 15
3.5 Formula Suspensi ....................................................................................... 16
3.6 Prosedur Penelitian .................................................................................... 16
3.6.1 Pembuatan suspensi ........................................................................ 16
3.6.2 Pengamatan tampilan ...................................................................... 18
3.6.3 Pengamatan warna, bau, dan rasa .................................................... 18
3.6.4 Perhitungan kecepatan sedimentasi dan volume sedimentasi, serta
pengujian redispersibilitas .............................................................. 18
BAB IV HASIL PENELITIAN ..................................................................... 20
4.1 Pengamatan Tampilan ................................................................................ 20
4.2 Pengamatan Warna, Bau, dan Rasa ............................................................ 20
4.3 Perhitungan Kecepatan Sedimentasi dan Volume Sedimentasi, serta Pengujian
Redispersibilitas ......................................................................................... 21
BAB V PEMBAHASAN ................................................................................ 24
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 27
7.1 Kesimpulan ................................................................................................ 27
7.2 Saran.......................................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 29
LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................. 31
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ 37

11

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sifat-Sifat Partikel Suspensi .............................................................. 6


Tabel 3.1 Formula Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent PGA dan
CMC-Na ........................................................................................... 16
Tabel 4.1 Tampilan Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent PGA dan
CMC-Na ........................................................................................... 20
Tabel 4.2 Warna Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent PGA dan CMCNa ..................................................................................................... 20
Tabel 4.3 Bau dan Rasa Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent PGA dan
CMC-Na ........................................................................................... 21
Tabel 4.4 Tinggi Sedimentasi Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent
PGA dan CMC-Na ............................................................................ 21
Tabel 4.5 Kecepatan Sedimentasi Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent
PGA dan CMC-Na ............................................................................ 22
Tabel 4.6 Volume Akhir Sedimentasi Suspensi dengan Kombinasi Suspending
agent PGA dan CMC-Na .................................................................. 22
Tabel 4.7 Volume Sedimentasi Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent
PGA dan CMC-Na ............................................................................ 23
Tabel 4.8 Pengujian Redispersibilitas Suspensi dengan Kombinasi Suspending
agent PGA dan CMC-Na .................................................................. 23

12

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Volume Sedimentasi yang Dihasilkan oleh Penambahan Berbagai


Jumlah Zat Pembentuk Flokulasi .................................................... 9
Gambar 3.1 Skema Pembuatan Suspensi ........................................................... 17
Gambar 3.2 Evaluasi Suspensi .......................................................................... 19

13

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pengamatan Hari Pertama Menit 15 Setelah Pengojokan ................ 32


Lampiran 2 Pengamatan Hari Pertama Menit 30 Setelah Pengojokan ................ 32
Lampiran 3 Pengamatan Hari Pertama Menit 45 Setelah Pengojokan ................ 32
Lampiran 4 Pengamatan Hari Pertama Menit 60 Setelah Pengojokan ................ 33
Lampiran 5 Pengamatan Hari Kedua ................................................................. 33
Lampiran 6 Pengamatan Hari Ketiga ................................................................. 33
Lampiran 7 Pengamatan Hari Keempat ............................................................. 34
Lampiran 8 Pengamatan Hari Kelima................................................................ 34
Lampiran 9 Pengamatan Hari Keenam .............................................................. 34
Lampiran 10 Pengamatan Hari Ketujuh............................................................. 35
Lampiran 11 Pengamatan Hari Ketujuh Setelah Uji Redispersibilitas ................ 35

14

DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN

FI

: Formula 1

FII

: Formula 2

FIII

: Formula 3

FIV

: Formula 4

Suspensi

: Sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam


bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan
pembawa

Suspending Agent

: Agen pensuspensi/bahan pensuspensi/bahan tambahan


yang berfungsi mendispersikan partikel tidak larut dalam
pembawa dan meningkatkan viskositas.

PGA

: Pulvis gummi arabici

CMC Na

: Carboxymethylcellulosum natrium

Dispersi

: Tersebar

Redispersi

: Kembali tersebar

Kombinasi

: Menggabungkan beberapa objek

Hidrofilik

: Zat-zat yang suka air

Hidrofobik

: Zat-zat yang takut air

Viskositas

: Kekentalan

Cake

: Endapan/sedimen yang tidak dapat teredispersi

Caking

: Proses pembentukan sedimen (endapan) yang tidak dapat


teredispersi dalam suatu sistem suspensi

Flokulasi

: Proses terjadinya endapan yang cepat

Deflokulasi

: Proses terjadinya endapan yang lama

Flocculating Agent

: Agen pemflokulasi

Multiple Dose

: Pemakaian berulang

Wetting Agent

: Agen pembasah/bahan pembasah

: Volume sedimentasi
15

Vu

: Volume akhir endapan/sedimentasi

Vo

: Volume awal endapan/sedimentasi

Flocculation Equilibrium : Keseimbangan flokulasi


Incompatibilities

: Ketidakcocokan

Mixer

: Pengadukan cepat

Flok

: Gumpalan yang terbentuk karena agregasi sejumlah


partikel halus yang tersuspensi

: Kecepatan sedimentasi

: Jari-jari partikel terdispersi

: Massa jenis fasa luar

: Percepatan gravitasi

: Viskositas fasa luar

: Kecepatan

: Perpindahan

: Selang waktu.

Rasio

: Perbandingan

Kesetimbangan

: Stabil

Massa jenis fasa dalam

16

BAB I
PENDAHULUAN

1.5 Latar Belakang


Dalam bidang industri farmasi, perkembangan teknologi sangat berperan
aktif dalam peningkatan kualitas produksi obat-obatan. Hal ini banyak
ditunjukkan dengan banyaknya sediaan obat-obatan yang disesuaikan dengan
karakteristik dari zat aktif obat, kondisi pasien, dan peningkatan kualitas obat.
Menurut Priyambodo (2007), berdasarkan bentuk sediaannya, obat dapat
digolongkan menjadi tiga macam, yaitu bentuk sediaan padat/solida, bentuk
sediaan semipadat/semisolida, dan bentuk sediaan cair/liquida. Contoh dari
bentuk sediaan padat/solida adalah tablet dan kapsul, sedangkan contoh dari
bentuk sediaan semipadat/semisolida adalah salep, krim, jel, dan pasta. Contoh
dari bentuk sediaan cair/liquida adalah larutan, suspensi, dan emulsi.
Suspensi merupakan salah satu contoh sediaan obat yang berbentuk cair
terdiri atas bahan padat tidak larut namun dapat tersebar merata ke dalam
pembawanya. Menurut

Anonim (1979), suspensi adalah sediaan yang

mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi
dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat
mengendap, dan bila dikocok perlahanlahan, endapan harus terdispersi kembali.
Beberapa ditambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi
kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah dikocok dan dituang.
Bentuk sediaan suspensi diformulasikan karena beberapa zat aktif obat
mempunyai kelarutan yang praktis tidak larut dalam air, tetapi diperlukan dalam
bentuk cair agar mudah diberikan kepada pasien yang mengalami kesulitan untuk
menelan, mudah diberikan pada anak-anak, serta untuk menutupi rasa pahit atau
aroma yang tidak enak dari zat aktif obat. Alasan lain adalah karena air
merupakan pelarut yang paling aman bagi manusia. Untuk itu air digunakan
17

sebagai medium pembawa pada sebagian besar sediaan suspensi. Walaupun zat
aktif obat memiliki kelarutan buruk dalam air, zat aktif obat tetap dapat dibuat ke
dalam bentuk sediaan cair/liquida dengan adanya bantuan suspending agent.
Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan suatu bentuk
sediaan suspensi. Salah satunya adalah pemilihan suspending agent. Menurut
Chaerunisaa dkk (2009), suspending agent dibagi menjadi beberapa golongan.
Golongan pertama adalah polisakarida yang terdiri dari gom akasia (gom
arab)/PGA, tragakan, na-alginat (sodium alginat), starch (amilum), karagen
(chondrus extract), xanthan gum (polysaccharide b-1449/ corn sugar gum), serta
guar gum (guar flour). Golongan kedua adalah turunan selulosa, contohnya
metilselulosa, CMC-Na (karboksimetil selulosa), avicel, dan hidroksi etil
selulosa. Golongan ketiga adalah clay misalnya bentonit, aluminium-magnesium
silikat (veegum), dan hectocrite (salah satu senyawa mineral berbentuk tanah
liat). Golongan keempat adalah polimer sintetik contohnya golongan carbomer.
Dalam penelitian ini, akan dilakukan formulasi suspensi menggunakan
kombinasi suspending agent yaitu Pulvis Gummi Arabici (PGA) dan
Carboxymethylcellulosum

Natrium (CMC-Na). Menurut Rowe dkk (2009),

konsentrasi PGA sebagai suspending agent adalah 5-10%. Menurut Nussinovitch


(1997) dalam Anggreini DB (2013), PGA pada konsentrasi kurang dari 10%
memiliki viskositas yang rendah dapat mempercepat terjadinya sedimentasi yang
menyebabkan sediaan menjadi tidak stabil. Oleh karena itu PGA dikombinasikan
dengan CMC-Na yang merupakan suspending agent yang dapat meningkatkan
viskositas serta dapat meningkatkan kestabilan dari suspensi yang dihasilkan.
Untuk itu dilakukan suatu penelitian yang berjudul Hasil Evaluasi Fisik Sediaan
Suspensi dengan Kombinasi Suspending Agent Pulvis Gummi Arabici (PGA) dan
Carboxymethylcellulosum Natrium (CMC-Na).

18

1.6 Perumusan Masalah


Bagaimanakah hasil evaluasi fisik sediaan suspensi dengan kombinasi
suspending agent PGA dan CMC-Na?

1.7 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui hasil evaluasi fisik sediaan suspensi dengan kombinasi
suspending agent PGA dan CMC-Na.

1.8 Manfaat Penelitian


1.8.1 Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi
perkembangan ilmu pengetahuan terutama tentang formulasi suspensi
dengan kombinasi PGA dan CMC-Na sebagai suspending agent.

1.8.2 Manfaat praktis


Penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran tentang hasil
evaluasi fisik sediaan kombinasi dari PGA dan CMC-Na sebagai
suspending agent terhadap suspensi, sehingga nantinya dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan dalam formulasi pembuatan suspensi.

19

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Suspensi
2.3.1 Pengertian
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam
bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa dimana zat
yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap. Jika dikocok
perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali. Dapat mengandung
zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi. Kekentalan suspensi tidak
boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang (Anonim, 1979).
Menurut Agoes (2012), bergantung pada cara/rute pemberian, suspensi dapat
diklasifikasikan dalam 3 kelompok, yaitu suspensi oral, suspensi aplikasi
eksternal seperti losion, dan suspensi sediaan injeksi.

2.3.2 Formulasi umum


Formula umum dari suatu sediaan suspensi meliputi:
1. Zat aktif obat
2. Bahan tambahan, terdiri dari:
a. Bahan pensuspensi (suspending agent)
Fungsinya adalah untuk memperlambat pengendapan, mencegah
penurunan partikel, mencegah penggumpalan resin dan bahan
berlemak.
Penggolongan suspending agent:
1) Golongan polisakarida, terdiri dari
a) Gom akasia (Gom Arab)/PGA
b) Tragakan
c) Na-alginat (Sodium alginat)
20

d) Starch (Amilum)
e) Karagen (Chondrus extract)
f) Xanthan Gum (Polysaccharide B-1449/ Corn Sugar Gum)
g) Guar Gum (Guar Flour)
2) Turunan Selulosa, dapat berupa:
a) Metilselulosa
b) CMC-Na (Karboksimetil Selulosa Natrium)
c) Avicel
d) Hidroksi Etil Selulosa
3) Golongan Clay, misalnya:
a) Bentonit
b) Aluminium-Magnesium Silikat (Veegum)
c) Hectocrite (salah satu senyawa mineral berbentuk tanah liat)
4) Polimer Sintetik contohnya golongan Carbomer
b. Pendapar
Fungsi zat pendapar dalam sediaan adalah untuk:
1) Mengatur pH
2) Memperbesar potensi kerja pengawet
3) Meningkatkan kelarutan zat berkhasiat/obat
c. Bahan pembasah (wetting agent)/humektan
Fungsi dari bahan pembasah adalah untuk menurunkan tegangan
permukaan bahan dengan air memperkecil sudut kontak dan
meningkatkan dispersi bahan yang tidak larut (hidrofobik).
d. Pemanis
Fungsinya adalah untuk memperbaiki rasa dari sediaan.
e. Pewarna dan Pewangi
Penggunaan pewarna dan pewangi harus serasi.

21

f. Pengawet
Pengawet sangat dianjurkan jika dalam sediaan tersebut mengandung
bahan alam atau bila mengandung larutan gula encer karena dapat
merupakan tempat tumbuh mikroba. Selain itu, pengawet diperlukan
juga bila sediaan dipergunakan untuk pemakaian berulang (multiple
dose).
g. Flavour
3. Bahan pembawa: biasanya air (Chaerunissa dkk, 2009).

2.3.3 Sifat-sifat partikel suspensi


Tabel 2.1 Sifat-Sifat Partikel Suspensi (Agoes, 2012)
Terflokulasi
Partikel membentuk agregat longgar.
Kecepatan sedimentasi tinggi karena
partikel tersedimentasi sebagai suatu flok
yang merupakan kumpulan partikel.
Sedimen terbentuk secara cepat.
Sedimen tersusun secara longgar dan
menunujukkan struktur seperti tangga.
Partikel tidak terikat secara ketat satu
dengan yang lainnya, dan tidak
membentuk massa keras dan rapat.
Sedimen mudah diredispersi sehingga
dapat membentuk suspensi aslinya.
Suspensi kadang-kadang tidak terlihat
karena sedimentasi yang cepat dan
keberadaan daerah supernatan yang
jernih. Hal ini dapat diminimalkan jika
volume sedimentasi dibuat besar.
Idealnya jika volume sedimen mencakup
volume dan suspensi.

Terdeflokulasi
Partikel berada dalam suspensi sebagai
satuan terpisah.
Kecepatan sedimentasi lambat karena
tiap-tiap partikel tersedimentasi secara
terpisah dan ukuran partikel minimal.
Sedimen terbentuk lambat.
Sedimen menjadi sangat kompak
sebagai hasil tekanan berat dari lapisan
lebih atas dari material tersedimentasi.
Forsa tolak-menolak antarpartikel
dilewati dan terbentuk (massa) kue
yang keras yang sulit, jika tidak
mungkin, diredispersi.
Suspensi menunjukkan tampilan yang
menyenangkan (bagus), karena partikel
tersuspensi untuk waktu relatif lama.
Cairan supernatan juga masih keruh,
walaupun sedimentasi terjadi secara
tampak.

Menurut Priyambodo (2007), sistem kombinasi suatu suspensi yang


ideal, tentu saja adalah kecepatan sedimentasi harus sekecil mungkin sehingga
partikel tetap dalam bentuk dispersi merata dan apabila terbentuk endapan
(cake) maka dapat dengan mudah terdispersi kembali dengan pengojokan

22

ringan, sehingga stabilitas suspensi menjadi optimal. Kondisi ideal ini dapat
dicapai dengan penggabungan sistem di atas.

2.3.4 Stabilitas suspensi


Suspensi yang mengendap harus dapat menghasilkan endapan yang
dapat terbagi rata kembali bila dikocok, karena hal ini merupakan suatu
persyaratan dari suatu suspensi. Pengendapan itu sendiri disebabkan adanya
tegangan antar permukaan zat padat dengan zat cairnya bila tegangan antar
permukaan zat padat ini lebih besar dari teganga permukaan zat cairnya, maka
zat padat tersebut akan mengendap dan sebaliknya bila tegangan antar
permukaan zat padat lebih kecil maka zat padat tersebut akan ditekan ke atas
sehingga pengendapan tidak akan terjadi. Selain dari tegangan antar
permukaan zat, Hukum Stokes juga perlu dipertimbangkan yaitu:
d2 1 2 g
V=
18
Dimana:
V = kecepatan sedimentasi
d = jari-jari partikel terdispersi
1 = massa jenis fasa dalam
2 = massa jenis fasa luar
g = percepatan gravitasi
= viskositas fasa luar
Dari rumus di atas terlihat bahwa:
a. Semakin kecil ukuran partikel laju pengendapan suspensi akan semakin
lambat.
b. Semakin tinggi viskositas maka kecapatan pengendapan akan semakin
berkurang.
c. Selisih massa jenis yang semakin kecil menyebabkan kecepatan
pengendapan juga semakin lambat (Alviany, 2008).
23

Menurut Hartanto (2010), kecepatan adalah hasil bagi antara


perpindahan dan waktu dengan rumus umum kecepatan yaitu :
=

Dimana:
V = kecepatan
s = perpindahan
t = selang waktu.
Hal lain yang perlu dipertimangkan adalah volume sedimentasi (F),
yaitu:
=

Menurut Martin dkk (2008), volume sedimentasi (F) didefenisikan


sebagai perbandingan atau rasio volume akhir endapan (Vu) terhadap volume
awal dari suspensi (Vo) sebelum mengendap. Volume sedimentasi dapat
mempunyai nilai yang berjarak kurang dari 1 sampai lebih besar dari 1 dan
dalam hal ini, volume akhir dari endapan (F) adalah lebih kecil dari volume
awal suspensi seperti terlihat dalam Gambar 2.1, di mana F=0,5. Jika volume
endapan dalam suatu suspensi yang mengalami flokulasi sama dengan volume
awal suspensi, maka F=1 (Gambar 2.1). Produk yang demikian dikatakan
dalam keseimbangan flokulasi (flocculation equilibrium) dan menunjukkan
tidak adanya supernatan jernih pada pendiaman. Oleh karena itu, secara
farmasetis dapat diterima. F dapat mempunyai harga lebih dari 1, yang berarti
bahwa volume akhir suspensi dari endapan adalah lebih besar dari volume
suspensi awal. Hal ini terjadi karena hasil flokulat yang terbentuk dalam
suspensi adalah sebegitu longgar dan lunak sehingga volume yang dapat
dicapai lebih besar dari volume suspensi awal. Keadaan ini terlukis dalam
Gambar 2.1, di mana terlihat ditambahkan pembawa ekstra yang cukup untuk

24

mengisi endapan dan nilai F adalah 1,5. (Gambar 2.1) formula (b) dan (c)
secara farmasetis dapat diterima.

Gambar 2.1 Volume Sedimentasi yang Dihasilkan oleh Penambahan


Berbagai Jumlah Zat Pembentuk Flokulasi
Sumber: Martin dkk (2008)
2.3.5 Persyaratan suspensi
Persyaratan suspensi adalah:
1. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap
2. Jika dikocok perlahan-lahan, endapan harus segera terdispersi kembali
3. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi
4. Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sedimen mudak
dikocok dan dituang (Anonim, 1979).

2.3.6 Pembuatan sediaan suspensi


1. Metode dispersi
Pada metode ini, pembawa harus diformulasikan agar fase padat
dengan mudah dibasahi dan didispersikan. Dalam hal ini surfaktan dapat

25

digunakan untuk menjamin pembasahan zat padat hidrofobik dengan


seragam (Lachman dkk, 2012).
2. Metode presipitasi (pengendapan)
Dalam bagian ini, ada tiga metode pengendapan yakni pengendapan
pelarut organik, pengendapan yang dipengaruhi oleh perubahan pH dari
medium, serta penguraian rangkap.
Pada metode pengendapan pelarut organik, obat-obat yang tidak
larut dalam air dapat diendapkan dengan melarutkannya dalam pelarutpelarut organik yang bercampur dengan air, kemudian menambahkan fase
organik pada air murni di bawah kondisi standar. Contoh pelarut organik
yang digunakan adalah etanol dan metanol.
Pada metode pengendapan yang dipengaruhi oleh perubahan pH
dapat diterapkan pada obat-obat yang memiliki kelarutan yang tergantung
pada harga pH. Contohnya pada suspensi estradiol dan suspensi insulin.
Pada metode penguraian rangkap hanya melibatkan proses kimia
yang sederhana (Lachman dkk, 2012).

2.3.7 Evaluasi sediaan suspensi


Pokok bahasan selanjutnya akan menguraikan tentang metode
pengujian. Kriteria kinerja berikut bermanfaat untuk menetukan stabilitas
sistem terflokulasi dari sistem dispersi:
1. Tampilan
Tampilan dalam gelas ukur silinder berskala atau kontener gelas
transparan.
Jawab pertanyaan berikut:
a. Pada saat kesetimbangan, apakah warna dan tampilan sedimen terlihat
sama?
b. Apakah terlihat sedimen retak/pecah atau apakah ada kantong udara dalam
sedimen?
26

c. Apakah terlihat sisa/residu penuangan di atas sedimen yang uniform dan


jumlahnya minimal, atau apakah ada bahan terkoagulasi melengket pada
dinding dalam kontener?
2. Warna, bau, dan rasa
Karakteristik ini penting pada suspensi yang diberikan secara oral.
Variasi warna mengindikasikan distribusi yang buruk dan/atau perbedaan
ukuran pertikel. Variasi rasa terutama konstituen aktif sering disebabkan oleh
perubahan ukuran partikel, bentuk kristal, dan disolusi partikel. Perubahan
warna, bau, dan rasa dapat pula mengindikasikan ketidakstabilan kimia.
3. Penentuan kecepatan sedimentasi, volume sedimentasi, dan resuspendabilitas.
Sampel tidak mahal dimasukkan ke dalam silinder kaca berkalibrasi
(100-1000 ml) yang digunakan untuk menentukan stabilitas fisika suspensi.
Dapat pula digunakan untuk menentukan kecepatan sedimentasi dari suspensi
terflokulasi dan terdeflokulasi.
Tinggi sedimen yang terbentuk ditentukan sebagai fungsi waktu, dan
pengujian kecepatan sedimentasi diulang secara periodik selama penyimpanan
(Agoes, 2012).

2.4 Monografi Formulasi Sediaan Suspensi


2.4.1 Talk
Talk merupakan senyawa yang tidak larut dalam hampir semua pelarut.
Pemerian talkum adalah serbuk hablur, sangat halus licin, mudah melekat
pada kulit, bebas dari butiran; warna putih atau putih kelabu. Penyimpanan
senyawa ini dalam wadah tertutup baik (Anonim, 1979).

2.4.2 PGA/Pulvis Gummi Arabici


Gom akasia yang dikenal sebagai gom Arab merupakan eksudat kering
yang diperoleh dari batang dan akar Acacia Senegal L dengan struktur berupa
sebuah kompleks, yaitu agregat dari gula dan hemiselulosa dengan berat
27

molekul kurang lebih 240.000-580.000. Agregat tersebut terdiri dari inti asam
arabat yang terhubung dengan kalsium, magnesium, dan kalium bersama
dengan gula arabinosa, galaktosa, dan rhamnosa. Secara mikroskopis, akasia
berupa serpihan (flake) tipis/tetesan sferoidal/granul/serbuk

berwarna

putih/putih kekuningan.
Kegunaan dari akasia/PGA adalah sebagai agen pengemulsi (emulsifying
agent), agen penstabilisasi (stabilizing agent), agen pensuspensi (suspending
agent), pengikat tablet, dan agen peningkat viskositas (viscosity-increasing
agent). Akasia/PGA umumnya dipakai pada formulasi farmasetik untuk obat
oral dan topical yang membutuhkan suspending agent atau emulsifying agent
di mana pemakainnya juga terkadang dikombinasikan dengan gom tragakan.
Gom Arab tidak kompatibel dengan natrium alginate dan gelatin karena dapat
menyebabkan terjadinya endapan. Penggunaan gom Arab dalam sediaan
suspensi yaitu pada konsentrasi 5-10%. Menurut Hui (1992) dalam Meliala
dkk (2014), gum arab/ PGA memiliki keunikan karena kelarutannya yang
tinggi dan viskositasnya rendah.
Cara pencampuran dengan bahan aktif dilakukan di dalam mortir, bahan
aktif yang ingin disuspensi digerus bersama dengan gom Arab/PGA hingga
homogen lalu ditambahkan air sebanyak 1 kali berat gom Arab/PGA, gerus
hingga terbentuk campuran yang homogen, selanjutnya ditambahkan sisa air
yang tersedia sambil diaduk hingga homogen. Pada pemakainnya, gom
Arab/PGA ternyata memiliki beberapa ketidakcocokan (incompatibilities)
dengan bahan-bahan tertentu, seperti: amidopirin, kresol, etanol 95%, garamgaram ferri, morfin, fenol, fisostigmin, tannin, timol, vanillin, dan lain-lainnya
(Anwar, 2012).

2.4.3 CMC-Na/Carboxymethylcellulosum Natrium


Aplikasi CMC-Na dalam sediaan farmasi banyak digunakan dalam
sediaan topikal ataupun oral karena sifatnya yang dapat meningkatkan
28

viskositas. Sebagai peningkat viskositas, konsentrasi yang dibutuhkan adalah


0,25-1,0%, bila lebih dari itu akan terbentuk cairan dengan kekentalan yang
tinggi. Berwarna putih atau hampir putih, tidak berbau, serbuk granul dengan
titik leleh: 227-2520C. Praktis tidak larut dalam aseton, alkohol, eter, dan
toluene. Mudah didispersikan dalam air dengan berbagai suhu membentuk
larutan koloidal yang jernih. Dapat larut dalam air panas dan dingin,
menghasilkan larutan jernih tetapi membentuk agregat saat pertama kali
dibasahi oleh air. Karakteristik larutan tergantung panjang rantai dan
substitusi. Sebagai peningkat viskositas, konsentrasi yang dibutuhkan adalah
0,25-1,0%, bila lebih dari itu akan terbentuk cairan dengan kekentalan yang
tinggi. Menurut Adinugraha dkk (2005) dalam Nisa dan Putri (2014), CMCNa bersifat hidrofilik dimana partikel akan menyerap air dan terjadi
pembengkakan. Air yang sebelumnya ada di luar granula dan bebas bergerak,
tidak dapat bergerak lagi dengan bebas sehingga keadaan larutan lebih mantap
dan terjadi peningkatan viskositas.
Cara melarutkan CMC yang baik adalah dengan ditaburkan dalam air
dingin/air hangat dan dibiarkan selama 30 menit lalu diaduk perlahan-lahan
sampai larut. Atau diaduk kuat-kuat dengan pengadukan cepat (mixer).
Pertimbangan formulasi bahan ini larut dalan cairan lambung-usus dan
beberapa pelarut organik polar. Banyak digunakan dalam sediaan dan topikal
sebagai bahan pengental, bahan pengemulsi, bahan penstabil, dan bahan
pensuspensi (Anwar, 2012).

2.4.4 Gliserin
Gliserin merupakan senyawa kimia yang memiliki kelarutan dapat
dicampur dengan air dan dengan etanol (95%) P; praktis tidak larut dalam
kloroform P, dalam eter P, dan dalam minyak lemak. Pemerian dari gliserin
adalah cairan seperti sirop; jernih, tidak berbau; manis diikuti rasa hangat.
Higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat
29

membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu
mencapai lebih kurang 200. Penyimpanan senyawa ini dalam wadah tertutup
baik. Khasiat dan penggunaan gliserin sebagai zat tambahan (Anonim, 1979).
Menurut Rowe dkk (2009), pemakaian gliserin untuk wetting agent adalah
kurang dari atau sama dengan 30%, sedangkan menurut Anwar (2012),
pemakain gliserin pada konsentrasi lebih dari 20% efektif sebagai
antimikroba.

2.4.5 Sirop gula


Sirupus simplex atau sirop gula adalah senyawa yang memiliki pemerian
cairan jernih, tidak berwarna. Cara pembuatan sirup simplek adalah dengan
melarutkan 65 bagian sakarosa dalam larutan metil paraben 0,25% b/v
secukupnya sehingga diperoleh 100 bagian sirop. Penyimpanan senyawa ini
dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk (Anonim, 1979). Menurut Anwar
(2012), konsentrasi pemanis dalam larutan oral atau suspensi rata-rata diantara
10% sampai dengan 50% pada formulasi.

2.4.6 Aqua destillata


Aqua destillata atau juga bisa disebut dengan air suling merupakan air
yang dibuat dengan menyuling air yang dapat diminum. Pemerian aqua
destilasi berupa cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai
rasa. Untuk penyimpanan yaitu dalam wadah tertutup baik (Anonim, 1979).

30

BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan metode pengolahan
data secara deskriptif. Perlakuan yang diberikan pada unit eksperimen yaitu
mengombinasikan PGA dan CMC-Na dengan konsentrasi berbeda. Perlakuan ini
dilakukan untuk mengetahui karakteristik suspensi dengan kombinasi suspending
agent PGA dan CMC-Na terhadap tampilan, warna, bau, rasa, kecepatan
sedimentasi, volume sedimentasi dan kemampuan redispersi.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Akademi Farmasi Saraswati
Denpasar pada bulan Februari sampai dengan Mei 2014.

3.3 Alat
Alat yang digunakan adalah beberapa alat yang berada di laboratorium
Akademi Farmasi Saraswati Denpasar, yaitu mortir dan stamper, gelas ukur,
sudip, timbangan analitik, sendok tanduk, botol semprot, kertas perkamen,
aluminium foil, Beaker glass, dan lain sebagainya.

3.4 Bahan
1. Talk

: 10 g

2. PGA

: 12,5 g

3. CMC-Na

: 2,5 g

4. Gliserin

: 40 ml

5. Sirop Gula

: 80 ml

6. Aqua Destillata

: 258 ml
31

3.5 Formulasi suspensi


Tabel 3.1 Formulasi suspensi dengan Kombinasi Suspending Agent PGA dan
CMC-Na
Konsentrasi (%)
Bahan
Talk
PGA
CMC-Na
Gliserin
Sirop Gula
Aqua Destillata

FI

F II

F III

F IV

2,5
5
0,25
10
20
63

2,5
3,75
0,5
10
20
64

2,5
2,5
0,75
10
20
65

2,5
1,25
1
10
20
66

Fungsi
Bahan aktif
Suspending agent
Suspending agent
Wetting agent
Pemanis
Cairan pembawa

3.6 Prosedur Penelitian


3.6.1 Pembuatan suspensi
Sediaan suspensi terdiri dari empat formula (Tabel 3.1). PGA dan CMCNa digerus sampai homogen kemudian dilarutkan dengan air sampai
terbentuknya mucilago, kemudian bahan yang akan dibuat suspensi
ditambahkan gliserin dan digerus sampai homogen pada mortir dan stemper
lain. Campuran bahan yang akan dibuat suspensi dan gliserin dituang sedikit
demi sedikit ke dalam larutan PGA dan CMC-Na sambil diaduk sampai
homogen. Setelah itu, dimasukkan ke dalam gelas ukur beserta dengan air
bilasan dari mortir dan ditambahkan sirop gula. Terakhir ditambahkan Aqua
destillata hingga 100 ml.

32

PGA

CMC-Na

Talk

Gerus

Gerus

Mucilago

Campur ke dalam mortir

Gerus
Tambahkan sirop gula

Gerus
Masukkan ke dalam gelas ukur termasuk air
bilasan dari mortir

Tambahkan aqua destillata


sampai 100 ml
Gambar 3.1 Skema Pembuatan Suspensi

33

Gliserin

3.6.2 Pengamatan tampilan


Pengamatan tampilan dilakukan secara manual dengan pencahayaan
masing-masing formula dalam gelas ukur dengan senter dari hari pertama
sampai hari ke tujuh. Pokok pengamatannya adalah warna dan tampilan
sedimen, tingkat kekeruhan, serta terbentuknya cake/endapan.

3.6.3 Pengamatan warna, bau, dan rasa


Pengamatan warna dilakukan secara manual dengan pencahayaan
masing-masing formula dalam gelas ukur dengan senter dari hari pertama
sampai hari ke tujuh, sedangkan pengamatan bau dan rasa dilakukan di awal
dan di akhir pengujian.

3.6.4 Perhitungan kecepatan sedimentasi dan volume sedimentasi, serta


pengujian redispersibilitas
Suspensi disimpan dalam gelas ukur dengan keadaan tidak terganggu.
Suspensi tersebut diukur meliputi tinggi suspensi, tinggi sedimentasi, volume
suspensi, serta volume akhir sedimentasi dari hari pertama sampai hari ke
tujuh. Data yang didapat, digunakan untuk menghitung kecepatan dan volume
sedimentasi.
Kecepatan sedimentasi dihitung menggunakan rumus umum kecepatan
yaitu persamaan satu (1) sedangkan untuk mengukur rasio volume akhir
endapan terhadap volume awal dari suspensi (volume sedimentasi) digunakan
persamaan dua (2).
V = s/t .....................Persamaan 1 (Hartanto, 2010)
F = Vu/Vo ....................Persamaan 2 (Martin dkk, 2008)
Pengujian redispersibilitas dilakukan secara manual dengan menggojok
silinder setelah terjadi sedimentasi. Satu kali inversi menyatakan bahwa
suspensi 100 % mudah teredisperi. Setiap penambahan inversi mengurangi
persen kemudahan redispersi sebanyak 5% seluruh sediaan (Anggreini, 2013).
34

Formula I

Formula II

Formula III

Formula IV

Evaluasi

Tampilan

Warna, bau, dan rasa

Kecepatan dan volume sedimentasi


serta redispersibilitas

Gambar 4.2 Evaluasi Suspensi

35

BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.4 Pengamatan Tampilan


Tabel 4.1 Tampilan Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent PGA dan
CMC-Na
Hari
15
30
I
45
60
II
III
IV
V
VI
VII

FI
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+o

FII
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+o

FIII
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+

FIV
-
-
-
-
+
+
+
+
+
+

Keterangan : + = sedimen terlihat sama, - = belum terbentuk sedimen, o = cake,


= tingkat kekeruhan

4.5 Pengamatan Warna, Bau, dan Rasa


Tabel 4.2 Warna Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent PGA dan
CMC-Na
Hari
15
30
I
45
60
II
III
IV
V
VI
VII

FI
-

FII
-

FIII
-

Keterangan : - = warna tidak berubah

36

FIV
-

Tabel 4.3 Bau dan Rasa Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent PGA
dan CMC-Na
Hari
I
VII

FI
FII
Bau khas dan rasa Bau khas dan
manis
rasa manis
Bau khas dan rasa Bau dan rasa
manis
kurang sedap

FIII
Bau khas dan
rasa manis
Bau dan rasa
tidak sedap

FIV
Bau khas
rasa manis
Bau khas
rasa manis

dan
dan

Keterangan : bau dan rasa diamati di awal dan di akhir

4.6 Perhitungan Kecepatan Sedimentasi dan Volume Sedimentasi, serta


Pengujian Redispersibilitas
Tabel 4.4 Tinggi Sedimentasi Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent
PGA dan CMC-Na
Hari
15
30
I
45
60
II
III
IV
V
VI
VII

Rumus: =

FI
0,4 cm
0,6 cm
0,6 cm
0,7 cm
0,7 cm
0,7 cm
0,6 cm
0,6 cm
0,6 cm
0,6 cm

FII
0,1 cm
0,6 cm
0,7 cm
1 cm
1,4 cm
1,4 cm
0,8 cm
0,8 cm
0,8 cm
0,6 cm

FIII
0,1 cm
0,1 cm
0,3 cm
1,7 cm
1,7 cm
1,4 cm
1,2 cm
1,2 cm
1,2 cm

Keterangan :
V = kecepatan (cm/menit)
s = perpindahan (cm)
t = selang waktu (menit)
Diketahui : s1 = 17 cm

37

FIV
5,5 cm
4,5 cm
4 cm
4 cm
3,5 cm
3,4 cm

Tabel 4.5 Kecepatan Sedimentasi Suspensi dengan Kombinasi Suspending


agent PGA dan CMC-Na
Hari
15
30
I
45
60
II
III
IV
V
VI
VII
Rata-rata

FI
1,107
0,547
0,364
0,272
0,011
0,006
0,004
0,003
0,002
0,002
0,2318

FII
1,127
0,547
0,362
0,267
0,011
0,005
0,004
0,003
0,002
0,002
0,233

FIII
0
0,563
0,376
0,278
0,011
0,005
0,004
0,003
0,002
0,002
0,124

FIV
0
0
0
0
0,008
0,004
0,003
0,002
0,002
0,002
0,0021

Tabel 4.6 Volume Akhir Sedimentasi Suspensi dengan Kombinasi


Suspending agent PGA dan CMC-Na
Hari
15
30
I
45
60
II
III
IV
V
VI
VII

FI
1 ml
3 ml
3 ml
4 ml
4 ml
4 ml
3 ml
3 ml
3 ml
3 ml

FII
0,3 ml
3 ml
4 ml
7 ml
8 ml
8 ml
5 ml
4 ml
4 ml
3 ml

Rumus: F = Vu/Vo
Keterangan :
F : volume sedimentasi
Vu : volume akhir endapan/sedimentasi (ml)
Vo : volume awal suspensi (ml)
Jadi diperoleh hasil:

38

FIII
100 ml
0,3 ml
0,3 ml
1 ml
10 ml
10 ml
9 ml
7 ml
7 ml
7 ml

FIV
100 ml
100 ml
100 ml
100 ml
34 ml
28 ml
25 ml
24 ml
22 ml
21 ml

Tabel 4.7 Volume Sedimentasi Suspensi dengan Kombinasi Suspending agent


PGA dan CMC-Na
Hari
15
30
I
45
60
II
III
IV
V
VI
VII
Rata-rata

FI
0,01
0,03
0,03
0,04
0,04
0,04
0,03
0,03
0,03
0,03
0,031

FII
0,003
0,03
0,04
0,07
0,08
0,08
0,05
0,04
0,04
0,03
0,046

FIII
1
0,003
0,003
0,01
0,1
0,1
0,09
0,07
0,07
0,07
0,152

FIV
1
1
1
1
0,34
0,28
0,25
0,24
0,22
0,21
0,554

Tabel 4.8 Pengujian Redispersibilitas Suspensi dengan Kombinasi


Suspending agent PGA dan CMC-Na
Pengojokan

FI
Caking/0%

FII
Caking/0%

39

FIII
17 kali/15%

FIV
10 kali/50%

BAB V
PEMBAHASAN

Kestabilan fisik suspensi adalah hambatan utama dalam memformulasikan


suspensi karena masalah yang sering terjadi meliputi kecepatan sedimentasi yang
tinggi maupun kemampuan redispersi yang buruk. Oleh karena itu diperlukan
penggunaan suspending agent untuk meningkatkan kestabilan fisik suspensi. Dalam
penelitian ini, setiap formula suspensi menggunakan kombinasi suspending agent
yaitu Pulvis Gummi Arabici (PGA) dan Carboxymethylcellulosum Natrium (CMCNa). Menurut Anggreini (2013), pemilihan suspending agent didasarkan pada
karakteristik suspending agent yaitu dapat meningkatkan kekentalan untuk
membentuk suspensi yang ideal, bersifat kompatibel dengan eksipien lain, dan tidak
toksik.
Penelitian yang dilakukan meliputi pengamatan tampilan, warna, bau, dan rasa,
perhitungan

volume

sedimentasi,

kecepatan

sedimentasi,

dan

pengujian

redispersibilitas. Pengamatan tampilan, warna, bau, dan rasa dilakukan untuk


mengetahui perbedaan tampilan, warna, bau, dan rasa dari masing-masing formula.
Perhitungan volume sedimentasi dilakukan untuk mengetahui rasio pengendapan
yang terjadi selama penyimpanan pada waktu tertentu, sedangkan perhitungan
kecepatan sedimentasi dilakukan untuk mengetahui hasil bagi antara perpindahan zat
yang terdispersi dalam selang waktu tertentu. Pengujian redispersibilitas dilakukan
untuk mengetahui kemampuan suspensi untuk teredispersi dengan pengojokan.
Percobaan ini dilakukan dengan membuat suspensi dengan formulasi PGA dan
CMC-Na, gliserin, sirop gula, serta air sebagai pembawa. PGA dan CMC-Na
berfungsi sebagai suspending agent, gliserin berfungsi sebagai wetting agent/agen
pembasah, dan sirop gula berfungsi sebagai pemanis. Suspensi ini dibuat dengan
metode dispersi karena talk merupakan senyawa yang tidak larut dalam hampir semua
pelarut sehingga ditambahkan gliserin agar mudah dibasahi. Menurut Priyambodo
40

(2007), zat-zat hidrofobik sangat sukar untuk terdispersi dan seringkali mengambang
pada permukaan cairan karena pembasahan cairan yang jelek. Menurut Lachman dkk
(2012), prinsip metode dispersi adalah pembawa harus diformulasikan agar fase padat
dengan mudah dibasahi dan didispersikan. Dalam hal ini surfaktan dapat digunakan
untuk menjamin pembasahan zat padat hidrofobik dengan seragam.
Hasil pengujian dan pengamatan menunjukkan bahwa formula I dan II
merupakan formula dengan kombinasi sistem flokulasi dan deflokulasi dimana sistem
deflokulasi lebih dominan. Di akhir pengamatan sedimen menjadi sangat kompak
(cake) sehingga tidak dapat didispersikan kembali. Suspensi menunjukkan tampilan
yang menyenangkan (bagus) dengan cairan yang masih keruh walaupun sedimentasi
terjadi secara tampak. Sifat tersebut merupakan sifat dari sistem deflokulasi,
sedangkan sifat dari sistem flokulasi yang muncul adalah sedimen terbentuk secara
cepat. Hasil pengujian kecepatan sedimentasi formula I adalah sebesar 0,2318
cm/menit dan formula II sebesar 0,233 cm/menit. Tidak ada perubahan bau dan rasa
pada formula I, sedangkan timbul bau dan rasa kurang sedap pada formula II.
Formula III dan IV juga merupakan formula dengan kombinasi sistem flokulasi
dan deflokulasi dimana sistem flokulasi lebih dominan. Sifat dari sistem deflokulasi
yang muncul pada kedua formula tersebut adalah sedimen terbentuk lambat,
sedangkan sifat dari sistem flokulasi yang muncul yaitu suspensi tidak terlihat karena
cairan berwarna jernih, partikel membentuk agregat longgar sehingga sedimen dapat
diredispersi. Hasil pengujian redispersibilitas yaitu 15% untuk formula III dan 50%
untuk formula IV. Di akhir pengamatan timbul bau dan rasa tidak sedap pada formula
III sedangkan pada formula IV tidak timbul bau dan rasa tidak sedap. Hasil pengujian
kecepatan sedimentasi formula III adalah sebesar 0,124 cm/menit dan formula IV
sebesar 0,0021 cm/menit.
F merupakan volume sedimentasi dengan nilai F adalah 1 menunjukkan bahwa
partikel suspensi yang dihasilkan terdispersi merata dalam cairan pembawanya.
Menurut Hui (1992) dalam Meliala dkk (2014), gum arab/PGA memiliki keunikan
karena kelarutannya yang tinggi dan viskositasnya rendah. Menurut Adinugraha dkk
41

(2005) dalam Nisa dan Putri (2014), CMC-Na bersifat hidrofilik dimana partikel akan
menyerap air dan terjadi pembengkakan. Air yang sebelumnya ada di luar granula
dan bebas bergerak, tidak dapat bergerak lagi dengan bebas sehingga keadaan larutan
lebih mantap dan terjadi peningkatan viskositas. Menurut Agoes (2012), viskositas
yang lebih besar dari medium dispersi akan memberikan keuntungan sedimentasi
yang lebih lambat.
Pengujian redispersibilitas dipengaruhi oleh partikel yang terbentuk dalam suatu
sistem suspensi. Apabila partikel berada sebagai satuan terpisah maka partikel akan
membentuk sedimen yang sangat kompak (cake) sehingga sediaan akan sulit
diredispersi, sedangkan partikel dengan agregat longgar menyebabkan partikel tidak
terikat secara ketat antara satu dengan yang lainnya maka suspensi tidak membentuk
massa yang keras dan rapat sehingga sediaan masih dapat teredispersi secara
homogen dan membentuk suspensi aslinya.
Suspensi yang ideal adalah suspensi yang memenuhi persyaratan. Menurut
Farmakope Indonesia Edisi III (1979), persyaratan suspensi adalah:
5. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap
6. Jika dikocok perlahan-lahan, endapan harus segera terdispersi kembali
7. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi
8. Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sedimen mudak dikocok dan
dituang.
Pada penelitian ini volume sedimentasi (F) dicari nilai paling besar karena
suspensi yang ideal memiliki nilai volume sedimentasi mendekati 1, sedangkan
redispersibilitas juga dicari nilai paling besar dengan nilai mendekati 100% karena
suspensi yang baik memiliki kemampuan untuk teredispersi dengan sedikit
pengojokan.

42

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Hasil pengujian kecepatan sedimentasi formula I adalah 0,2318 cm/menit.
Sedangkan hasil pengujian volume sedimentasi adalah 0,031. Hasil pengujian
redispersibilitas yaitu 0% (cake). Tidak ada perubahan bau dan rasa di akhir
pengamatan.
2. Hasil pengujian kecepatan sedimentasi formula II adalah 0,233 cm/menit.
Sedangkan hasil pengujian volume sedimentasi 0,046. Hasil pengujian
redispersibilitas yaitu 0% (cake). Ada perubahan bau dan rasa di akhir
pengamatan.
3. Hasil pengujian kecepatan sedimentasi formula III adalah 0,124 cm/menit.
Sedangkan hasil pengujian volume sedimentasi adalah 0,152. Hasil pengujian
redispersibilitas yaitu 15%. Ada perubahan bau dan rasa di akhir pengamatan.
4. Hasil pengujian kecepatan sedimentasi formula IV adalah 0,0021 cm/menit.
Sedangkan hasil pengujian volume sedimentasi adalah 0,554. Hasil pengujian
redispersibilitas yaitu 50%. Tidak ada perubahan bau dan rasa di akhir
pengamatan.

43

7.2 Saran
1. Disarankan untuk melakukan optimasi suspensi dengan kombinasi suspending
agent PGA dan CMC-Na.
2. Disarankan untuk menggunakan kombinasi suspending agent yang lain.
3. Disarankan untuk melakukan optimasi suspensi dengan kombinasi suspending
agent yang lain.

44

DAFTAR PUSTAKA

Adinugraha MP dkk, 2005, Synthesis and Characterization of Sodium


Carboxymethyl Cellulose From Cavendish Banana Pseudo Stem (Musa
Cavendishii LAMBERT), Carbohydrate Polymers, 62: 164-169.
Agoes G, 2012, Sediaan Farmasi Liquida-Semisolida (SFI-7), Penerbit ITB
Bandung, 124, 142-143.
Alviany M, 2008, Formulasi Suspensi Kering Yang Mengandung Ekstrak Akar
Kucing, (online), (http://lontar.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-126128.pdf, diakses
13 Januari 2014).
Anggreini DB, 2013, Optimasi Formula Suspensi Siprofloksasin Menggunakan
Kombinasi Pulvis Gummi Arabici (Pga) Dan Hydroxypropyl Methylcellulose
(Hpmc) Dengan Metode Desain Faktorial, Skripsi tidak dipublikasikan,
Pontianak, Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas
Tanjungpura Pontianak.
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta,
32, 96, 271, 567, 591.
Chaerunisaa AY, 2009, Farmasetika Dasar, Widya Padjajaran, Bandung, 95-97.
Effionora A, 2012, Eksipien dalam Sediaan Farmasi Karakterisasi dan Aplikasi, PT
Dian rakyat, Jakarta, 114-116, 149-151, 162, 285.
Hartanto H, 2010, Rumus Jitu Fisika SMP, IndonesiaTera, Yogyakarta, 116.
Hui YH, 1992, Encyclopedia of Food Science and Technology, Volume II, John
Willey and Sons Inc, Canada.
Lachman L, Lieberman AH, Kanig LJ, 2008, Teori Dan Praktek Fisika Farmasi
Industri III, Terjemahan oleh Siti Suyatmi, 1994, Jakarta, UI-Press.
Martin A, Swarbrik J, Cammarata A, 1983, Farmasi Fisik Edisi III, Terjemahan oleh
Yoshita, 2009, Jakarta, UI-Press.
Meliala M, Suhaidi I, Nainggolan JR, 2014, Pengaruh Penambahan Kacang Merah
dan Penstabil Gum Arab Terhadap Mutu Susu Jagung, Skripsi tidak
dipublikasikan, Medan, Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas
Pertanian USU.
45

Nisa D, Putri RDW, 2014, Pemanfaatan Selulosa dari Kulit Buah Kakao sebagai
Bahan Baku Pembuatan CMC, Jurnal Pangan dan Agroindustri, Vol. 2 No. 3 p.
34-42, (online), (
Nussinovitch A, 1997, Hydrocolloid Applications Chapman & Hall, UK, hal 128.
Popa L, Ghica MV, 2011, Ibuprofen Pediatric Suspension Design and Optimized by
Response Surface Phys Colloidal Chem (4).
Priyambodo B, 2007, Manajemen Farmasi Industri, Global Pustaka Utama,
Yogyakarta, 116, 190-191.
Rincon F dkk, 2008, Rheological Properties of Cedrela Orodata Gum Exudates
Aqueous Dispersion Food Hydrocolloids 23 (2009).
Rowe CR, Sheskey JP, Quinn EM, 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th
Ed, Washington, American Pharmacists Association.

46

LAMPIRAN-LAMPIRAN

47

Lampiran 1 Pengamatan Hari Pertama Menit 15 Setelah Pengojokan

Lampiran 2 Pengamatan Hari Pertama Menit 30 Setelah Pengojokan

Lampiran 3 Pengamatan Hari Pertama Menit 45 Setelah Pengojokan

48

Lampiran 4 Pengamatan Hari Pertama Menit 60 Setelah Pengojokan

Lampiran 5 Pengamatan Hari Kedua

Lampiran 6 Pengamatan Hari Ketiga

49

Lampiran 7 Pengamatan Hari Keempat

Lampiran 8 Pengamatan Hari Kelima

Lampiran 9 Pengamatan Hari Keenam

50

Lampiran 10 Pengamatan Hari Ketujuh

Lampiran 11 Pengamatan Hari Ketujuh Setelah Uji Redispersibilitas

51

FORMULIR PERSETUJUAN NASKAH KARYA TULIS ILMIAH


Nama Mahasiswa

: Aflahatul Iflahah

NIM

: 111002

Judul KTI

: Evaluasi Fisik Sediaan Suspensi dengan Kombinasi


Suspending Agent PGA (Pulvis Gummi Arabici) dan CMCNa (Carboxymethylcellulosum Natrium)

No
1

Dosen

Tanda Tangan

Pembimbing I
Ni Made Dharma Shantini Suena, S.Farm., M.Sc., Apt
Pembimbing II
I Made Agus Sunadi Putra, S.Si., M.Biomed., Apt

Penguji I
Kadek Duwi Cahyadi, S.Farm., M.Sc., Apt

Penguji II
Erna Cahyaningsih, S.Si., Apt

Denpasar, 1 September 2014


Mahasiswa

(Aflahatul Iflahah)

52

RIWAYAT HIDUP
Aflahatul Iflahah lahir di kota Denpasar, Bali, pada tanggal
1 Februari 1993, merupakan anak terakhir dari empat
bersaudara pasangan Muhammad Sukan dan Sumarni. Pada
tahun 1999 memulai pendidikannya di SDN 1 Kuta,
kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Kuta pada tahun 2005.
Pada tahun 2008 melanjutkan ke SMAN 1 Kuta. Untuk
memperoleh gelar Ahli Madya Farmasi ia melanjutkan
studinya di Akademi Farmasi Saraswati Denpasar, angkatan
2011. Setelah menyelesaikan program studi DIII farmasi, ia
berniat untuk mengabdikan diri di bidang kefarmasian yang berkompetensi.

53

Anda mungkin juga menyukai