Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan tentang pengujian efek


antikonvulsan. Antikonvulsan digunakan terutama untuk mencegah dan
mengobati bangkitan epilepsi (Epileptic seizure). Epilepsi adalah nama umum
untuk sekelompok gangguan atau penyakit susunan saraf pusat yang timbul
spontan dengan epilepsi singkat (disebut bangkitan atau seizure) dengan gejala
utama kesadaran menurun sampai hilang.
Mekanisme kerja obat antiepilepsi atau antikonvulsan adalah obat yang
dapat mencegah timbulnya pelepasan listrik yang abnormal dipangkalnya
dalam sistem saraf pusat, misalnya fenobarbital dan kloronazepam. Sedangkan
mencegah besarnya aktifitas berlebih tersebut ke neuron neuron otak lain
seperti pada obat kloronazepam, fenitoin dan trimetadion.
Pada percobaan ini digunakan diazepam sebagai obat antikonvulsan
dan larutan PGA 2% sebagai pembanding atau kontrol negatif serta striknin
digunakan sebagai pemberi efek konvulsi . Pemberian obat uji yang berupa
diazepam dan PGA untuk hewan uji mencit (Mus musculus) dilakukan secara
intraperintonial. Sedangkan Untuk pemberian striknin dilakukan secara
subkutan. Pada percobaan ini menggunakan metode proteksi, jadi hewan
percobaan diberi obat terlebih dahulu lalu di induksi oleh striknin.
Diazepam adalah suatu obat dari golongan benzodiazepin. Disamping
sebagai antisietas, sebagian golongan obat benzodiazepin bermanfaat sebagai
antikonvulsi, khususnya untuk epilepsi. Mekanisme diazepam sendiri adlah
dengan menghambat neurotransmitter y-aminobutyrik acid (GABA). Bat ini
bekerja pada limbik, talamus, hipotalamus dari sistem saraf pusat dan
menghasilkan efek ansiolitik, sedatif, hipnotik, relaksan otot skelet dan anti
konfulsan. Benzodiasepin dapat menghasilkan berbagai tingkat depresi SSP
sampai mulai sedasiringan sampai hipnosis hingga koma.
Striknin merupakan konvulsan kuat dengan sifat kejang yang khas.
Obat ini bekerja dengan cara mengadakan antagonisme kompetitif terhadap
transmitor penghambatan yaitu glisin di daerah penghambatan pasca sinaps.
Striknin menyebabkan perangsangan pada semua bagian SSP. Pada hewan
coba konvulsi ini berupa ekstensi tonik dari badan dan semua anggota gerak.

Gambaran konvulsi oleh striknin ini berbeda dengan konvulsi oleh obat yang
merangsang langsung neuron pusat. Sifat khas lainnya darikejang striknin
ialah kontraksi ekstensor yang simetris yang diperkuat oleh rangsangan
sensorik yaitu pendengaran,penglihatan dan perabaan. Konvulsi seperti ini
juga terjadi pada hewan yang hanya mempunyai medula spinalis. Striknin
ternyata juga merangsang medula spinalis secara langsung. Atas dasar ini efek
striknin dianggap berdasarkan kerjnya pada medula spinalis dan konvulsinya
disebut konvulsi spinal.
Gejala keracunan striknin yang mula-mula timbul ialah kaku ototmuka
dan leher. Setiap rangsangan sensorik dapat menimbulkan gerakan motorik
hebat. Pada stadium awal terjadi gerakan ekstensi yang masih terkoordinasi,
akhirnya terjadi konvulsi tetanik. Episode kejang ini terjadi berulang,
frekuensi dan hebatnya kejang bertambah dengan adanya perangsangan
sensorik. Kontraksi otot ini menimbulkan nyeri hebat,dan penderita takut mati
dalam serangan berikutnya. Obat yang paling bermanfaat untuk mengatasi hal
ini adalah diazepam, sebab diazepam dapat melawan kejang tanpa
menimbulkan potensiasi terhadap depresi post ictal, seperti yang umum terjadi
pada penggunaan barbiturat atau depresan non selektif lainnya.