Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sampai saat ini belum pernah ada laporan hasil penelitian dan kajian yang
menyatakan bahwa ada sebuah masyarakat yang tidak mempunyai konsep tentang agama
termasuk di dalamnya Indonesia yang multi agama. Walaupun peristiwa perubahan sosial
telah mengubah orientasi dan makna agama, hal itu tidak berhasil meniadakan eksistensi
agama dalam masyarakat. Sehingga kajian tentang agama selalu akan terus berkembang dan
menjadi kajian yang penting. Karena sifat universalitas agama dalam masyarakat, maka
kajian tentang masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu
faktornya.1
Pemeluk agama-agama di dunia termasuk di dalamnya masyarakat pemeluk agama
lokal sekalipunseperti aliran kebatinanmeyakini bahwa fungsi utama agama atau
kepercayaan itu adalah memandu kehidupan manusia agar memperoleh keselamatan di dunia
dan keselamatan sesudah hari kematian. Mereka menyatakan bahwa agamanya mengajarkan
kasih sayang pada sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan, alam tumbuh-tumbuhan,
hewan, hingga benda mati.2
Perbincangan tentang agama atau kepercayaan memang tidak akan pernah selesai,
seiring dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Baik secara teologis maupun
sosiologis, agama atau kepercayaan dapat dipandang sebagai instrument untuk memahami
dunia. Dalam konteks itu, hampir-hampir tak ada kesulitan bagi agama apapun untuk
menerima premis tersebut. Secara teologis, hal itu dikarenakan oleh watak omnipresent
agama. Yaitu, agama, baik melalui simbol-simbol atau nilai-nilai yang dikandungnya hadir
dimana-mana, ikut mempengaruhi, bahkan membentuk struktur sosial, budaya, ekonomi
dan politik serta kebijakan publik.

Jamhari Ma'ruf, Pendekatan Antropologi Dalam Kajian Islam, Artikel Pilihan Dalam Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam
Departemen Agama RI, www.ditpertais.net.
2

Abdul Munir Mulkan, Dilema Manusia Dengan Diri dan Tuhan kata pengantar dalam Th. Sumartana (ed.), Pluralis, Konflik,
dan Pendidikan Agama Di Indonesia, (Jogjakarta, Pustaka Pelajar, 2001). Hal. 20

Dengan ciri ini, dipahami bahwa dimanapun suatu agama atau kepercayaan berada, ia
diharapkan dapat memberi panduan nilai bagi seluruh diskursus kegiatan manusia, baik yang
bersifat sosial-budaya, ekonomi maupun politik. Sementara itu, secara sosiologis tak jarang
agama dan aliran kepercayaan menjadi faktor penentu dalam proses transformasi dan
modernisasitermasuk di dalamnya para penganut agama lokal seperti aliran kebatinan yang
dianggap menyimpang.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pandangan agama secara umum terhadap aliran kebatinan
2. Bagaimana usaha dan prestasi golongan kebatinan

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pandangan agama secara umum terhadap aliran kebatinan
2. Untuk mengetahui usaha dan prestasi golongan kebatinan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Agama dan Aliran Kebatinan
Dalam kehidupan manusia di negara maju dan berkehidupan modern, agama dan
kebatinan merupakan hal yang bersifat pribadi dan perbedaan-perbedaan pandang di
dalamnya tidak dipermasalahkan selama tidak menyentuh langsung privacy mereka. Mereka
menekankan

pada

kehidupan

yang

rasional,

menghargai

privacy,

dan

tidak

mempermasalahkan kehidupan religi dan kepercayaan seseorang. Dalam kehidupan seharihari, mereka tidak membawa-bawa urusan agama atau urusan pribadi lainnya, tetapi lebih
menekankan kepentingan bersama dan kemampuan manusia sendiri untuk mengatur dan
mengusahakan jalan hidupnya sendiri. Jati diri dan kepribadian mereka sudah mapan.3
Tetapi

di

Indonesia,

kepribadian

masyarakatnya

masih

labil.

Kepribadian

masyarakatnya campur aduk. Sebagian masyarakatnya masih hidup dengan memelihara


budaya lama. Agama dan kebatinan merupakan bagian hidupnya. Sebagian lagi
menggantikan kehidupan budaya lama dengan kehidupan yang agamis dan ada yang
"memaksakan" agamanya kepada negara atau orang lain. Sebagian lagi berusaha untuk hidup
rasional, tidak terkekang dalam urusan fanatisme agama. Sebagian lagi tidak peduli dengan
urusan agama ataupun budaya, hidup menurut jalan dan prinsip hidupnya sendiri.
Di Indonesia sebagian masyarakatnya tidak menghargai privacy, tidak menghargai
kehidupan religi dan kepercayaan orang lain, tidak menghargai hidup rukun dan
kebersamaan, memaksakan egoisme pribadinya terhadap orang lain yang tidak sejalan.
Konflik kesukuan dan agama sering terjadi karena adanya orang-orang yang memaksakan
egoismenya. Fanatisme memuliakan agama tidak dilakukan dengan perbuatan-perbuatan
yang mulia. Banyak orang yang berperilaku rendah dan meyakini perbuatan-perbuatannya
yang rendah sebagai perbuatan memuliakan agama.
Ada kalangan yang mengatakan bahwa kebatinan adalah aliran kepercayaan di
Indonesia yang tidak termasuk sebagai agama yang diakui seperti Islam, Kristen, Katolik,
Budha dan Hindu. Selain yang mencerca agama lain, ada kalangan agama yang mencerca
3

Sofwan, Ridin. 1999. Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan. Aneka Ilmu : Semarang. Hal.12

kehidupan berkebatinan sebagai haram, menganggapnya sebagai jalan kepercayaan yang


rendah, yang harus diberantas, karena dianggap berpotensi meracuni iman dan agama. Tapi
sebenarnya itu adalah persepsi yang dangkal dan keliru, karena orang hanya memandang
secara harfiah saja, hanya memandang dari kulit dan "bungkus kemasan" formalitasnya saja,
karena kebatinan tidak sesempit itu maknanya, tetapi lebih dalam dan luas. Kebatinan
memiliki banyak makna dan definisi, tergantung dari sudut mana kita memandang.
Jika kebatinan hanya dipandang secara harfiahnya saja, hanya dipandang dari sisi
bentuk formalnya saja, maka manusia telah memandang kebatinan secara dangkal.
Seharusnya manusia bisa berpikir dan bersikap lebih kritis, jangan segala sesuatu hanya
dipandang secara dangkal, jangan hanya dari kulitnya saja. Manusia harus belajar
memandang dari sisi hakekatnya, arti dan makna di dalamnya. Termasuk tentang agamanya
sendiri, seharusnya orang bisa berpikir dan bersikap kritis, jangan memandang secara
dangkal, jangan hanya dari kulitnya saja, sehingga orang mengagung-agungkan agamanya
sendiri dan merendahkan agama lain. Orang harus belajar memandang dari sisi hakekatnya,
arti dan makna di dalamnya, supaya orang tahu betul agama dan Tuhannya.4
Kebatinan tidak hanya terkait dengan keilmuan kebatinan, atau ketuhanan dan aliran
kepercayaan, tetapi bersifat universal, berkaitan dengan segala sesuatu yang dirasakan
manusia pada batinnya yang paling dalam. Kebatinan melandasi kehidupan manusia seharihari. Di dalam kebatinan masing-masing orang terkandung keyakinan dan kepercayaan
pribadi, pandangan dan pendapat pribadi, prinsip dan sikap hidup pribadi, yang semuanya itu
menjadi bagian dari kepribadian seseorang dan juga tercermin dan melandasi perbuatan dan
perilakunya sehari-hari.
Di dalam sikap hidup berkebatinan ada laku-laku dan ritual yang dilakukan manusia,
seperti laku dan ritual dalam peribadatan agama atau laku-laku yang dilakukan dalam
kepercayaan dan tradisi, seperti laku dan ritual yang dilakukan masyarakat dalam budaya dan
kepercayaan kejawen, atau laku memperingati / merayakan hari-hari besar agama, atau lakulaku pribadi dan kelompok sesuai kepercayaan kebatinan masing-masing orang, seperti puasa
mutih, puasa senin-kamis, wiridan / zikir, pengajian, doa bersama, tahlilan, selametan, dsb.
Tetapi sikap dan laku dalam berkebatinan tidak selalu harus ditunjukkan dengan laku-laku
4

Ibid, hal. 18

tertentu yang kelihatan mata, karena kebatinan terutama berisi sikap hati dan pandanganpandangan pribadi yang semuanya tidak selalu terwujud dalam laku dan ritual yang kelihatan
mata. Termasuk sikap hidup rasional manusia yang hidup di negara-negara maju dan modern,
itu adalah sikap kebatinan mereka dalam hidup mereka sehari-hari.
Selain yang formal berbentuk kelompok keagamaan, sebagian besar pemahaman
kebatinan dan aliran kebatinan yang ada (di seluruh dunia) adalah bersifat kerohanian dan
keagamaan, berisi upaya penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan (Roh Agung
Alam Semesta) dengan cara pemahaman mereka masing-masing. Tujuan tertinggi
penghayatan kebatinan mereka adalah untuk mencapai kesatuan dan keselarasan dengan
Sang Pribadi Tertinggi (Tuhan). Oleh sebab itu penganut kepercayaan kebatinan berusaha
mencapai tujuan utamanya, yaitu menyatu dengan Tuhan, menyelaraskan jiwa manusia
dengan Tuhan, melalui olah batin, laku rohani dan keprihatinan, menjauhi kenikmatan hidup
keduniawian, dan menyelaraskan hidup mereka dengan sifat-sifat Tuhan.
Kebatinan adalah segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batinnya yang paling
dalam, dalam bidang apapun, termasuk dalam hal berkeagamaan dan berketuhanan, dan itu
terjadi pada siapa saja, termasuk pada orang-orang yang sangat tekun beribadah dan murni
dalam agamanya.
Mungkin tidak banyak orang yang menyadari bahwa setiap agama pun mengajarkan
juga kebatinan dalam berkeagamaan, tentang apa yang dirasakan hati dan batin, mengajarkan
untuk selalu membersihkan hati, bagaimana harus berpikir dan bersikap, dsb. Dan di dalam
masing-masing firman dan sabda terkandung makna kebatinan yang harus dihayati dan
diamalkan oleh para penganutnya. Bahkan panggilan yang dirasakan seseorang untuk
beribadah, itu juga batin. Dan dalam batin itu tersimpan sebuah kekuatan yang besar jika
dilatih dan diolah. Kekuatan batin menjadi kekuatan hati dalam menjalani hidup dan
memperkuat keimanan seseorang.5
Pengertian kebatinan bersifat luas. Kebatinan terutama berisi pengimanan atau
penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya, apapun agama
atau kepercayaannya, dan di dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung
5

Rahnip. 1987. Aliran Kebatinan Dan Kepercayaan Dalam Sorotan. Pustaka Progressif : Surabaya. Hal. 15-17

suatu kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Dan di dalam
masing-masing firman dan sabda terkandung makna kebatinan yang harus dihayati dan
diamalkan oleh para penganutnya. Sayangnya, sikap kebatinan dalam berkeagamaan ini
sudah banyak yang meninggalkannya, digantikan dengan ajaran tata ibadah saja atau dogma
dan doktrin ke-Aku-an agama. Orang lebih memilih menjalani kehidupan formal agamis dan
menjalankan sisi peribadatan yang bersifat formal dan wajib saja. Sisi kebatinan dari
agamanya sendiri tidak ditekuni.
Tetapi seringkali orang memandang istilah kebatinan secara dangkal, membabi-buta
menyamaratakan semuanya sebagai aliran kebatinan atau aliran kepercayaan dan
mempertentangkannya dengan agama. Perilaku kebatinan (misalnya kejawen) yang
dilakukan oleh seseorang yang beragama, seringkali memang menjadi objek yang
dipertentangkan orang, dianggap bertentangan dengan agama, atau juga dianggap sebagai
aliran atau ajaran yang bisa merusak keimanan seseorang.
Jika kebatinan dipandang sesuai hakekatnya, sesuai arti dan maknanya seperti disebut
di atas, maka yang selama ini disebut sebagai aliran-aliran agama, sekte-sekte, kelompokkelompok agama yang tokoh-tokohnya memiliki pengikut, dsb, adalah bentuk-bentuk formal
dari aliran kebatinan yang masing-masing memiliki pemahaman kebatinan sendiri-sendiri
dan berbeda, tidak persis sama, antara satu dengan lainnya, walaupun masih dalam wadah
agama yang sama. Karena adanya paham kebatinan yang berbeda, pandangan-pandangan dan
pendapat yang berbeda, maka di dalam suatu agama terbentuklah kelompok-kelompok di
dalamnya yang mewujud dalam bentuk aliran-aliran agama, sekte-sekte, lembaga-lembaga
agama, ormas-ormas, dsb. Hanya saja karena kelompok dan paham kebatinan mereka masih
dalam lingkup agama yang sama dan berlatar-belakangkan agama keberadaannya tidak
dipermasalahkan orang-orang yang seagama.
Masing-masing kelompok itu bisa juga disebut sebagai aliran kebatinan, atau aliran
kepercayaan, di bawah payung agama. Masing-masing paham kebatinan keagamaan di dalam
kelompok-kelompok itu berbeda, tidak persis sama, dan tidak mau dikatakan sama, dengan
kelompok-kelompok yang lain, walaupun masih dalam wadah agama yang sama. Apalagi
jika kelompok-kelompok itu berbeda agama, atau malah diperbandingkan dengan kelompok /
aliran kepercayaan yang bukan agama, ya sudah pasti berbeda.

Walaupun pengertian kebatinan bersifat luas, tetapi dunia kebatinan pada masa
sekarang memang sudah termasuk "haram" untuk diperbincangkan, karena orang
berpandangan sempit dan dangkal tentang kebatinan. Kebatinan dalam berkeagamaan saja
jarang orang yang menekuni, karena orang lebih suka menjalani sisi agama yang formal saja.
Sekalipun banyak orang hafal dan fasih ayat-ayat suci, tetapi tidak banyak orang yang
mengerti sisi dan makna kebatinan dan spiritual di dalamnya, sehingga pencitraan,
pengkultusan, dan dogma dalam kehidupan beragama terasa sekali mengisi kehidupan
beragama, akibatnya banyak sekali terjadi perbedaan pandang dan pertentangan di kalangan
mereka sendiri. Banyaknya aliran dan sekte dalam suatu agama adalah bentuk dari ketidakseragaman kebatinan dan spiritual dari para penganut agama itu sendiri.6
Tetapi sebenarnya jika orang mau mengakui, seseorang yang memandang kebatinan
dan aliran kebatinan sebagai "haram", yang menjadikannya alasan dianggap "haram"
sebenarnya adalah bukan karena kebatinan atau aliran kebatinan itu sendiri, tetapi karena
aliran kebatinan itu tidak merupakan bagian dari agamanya, posisi aliran kebatinan itu sama
dengan agama lain yang "haram" baginya yang tidak diterima dan tidak diakui oleh
agamanya. Sekalipun seseorang menganggap agamanya sendiri mulia, tetapi, jika semua
orang menganggap "haram" agamanya orang lain, maka agamanya sendiri yang "mulia" itu
adalah "haram" bagi orang lain yang tidak sama agamanya dengannya.
B. Usaha dan Prestasi Kebatinan
Untuk memahami hakikat kebatinan, terlebih dahulu yang perlu diketahui adalah
kedudukan Kebatinan yang secara konkret perwujudannya ada di tengah-tengah masyarakat
dalam berbagai macam organisasi aliran Kebatinan. Menurut ketua BKKI, Mr.
wongsonegoro dalam suatu kesempatan pidatonya menyatakan bahwa diantara Kebatinan
dan agama tidak ada perbedaan prinsipil, kedua-duanya mempunyai unsure yang sama ialah
panembah (kebaktian terhadap Tuhan Yang Maha Esa) dan budi luhur. Perbedaan hanya
terdapat pada pemberian tekanan, yaitu agama tekanannya diberikan kepada panembah,
sedangkan Kebatinan tekanannya kepada budi luhur dan kesempurnaan hidup.

Ibid

Dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kedudukan Kebatinan tak ubahnya


sebagaimana agama atau aliran-aliran keagamaan, yaitu merupakan suatu gerakan yang
sasarannya menitikberatkan kepada bidang pembinaan kehidupan rohani.7
Sebagai gerakan kerohanian, upaya mensejajarkan diri dengan agama sesungguhnya
telah di mulai sejak awal, tatkala diantara aliran-aliran Kebatinan ada yang minta diakui
sebagai agama, atau setidak-tidaknya memberikan nama alirannya dengan sebutan agama
atau igama, seperti : Agama Pransuh, Agama Sapta Darma (sekarang dirubah Kerohanian
Sapta Darma), Agama Jawa Budha Jawa Sejati, dan lain-lain. Begitu juga ada diantaranya
yang berusaha untuk mengadakan suatu tata cara upacara kematian, upacara pernikahan
tersendiri yang sebenarnya hal itu sudah diatur secara jelas dalam setiap agama.
Sistem spiritual Kebatinan ternyata menunjukkan bahwa gerakan kerohanian ini
mempunyai komponen-komponen yang serupa dengan agama, yaitu:
1) Adanya system kepercayaan yang mengandung keyakinan serta bayangan-bayangan
manusia tentang sifat-sifat Tuhan, serta wujud dari alam gaib (supranatural).
2) Adanya system upacara religius mencari hubungan manusia dengan Tuhan, atau
makhluk-makhluk halus yang mendiami alam gaib.
3) Adanya kelompok-kelompok religious atau kesatuan sosial yang menganut system
kepercayaan dan melakukan system upacara, dalam hal ini kelompok kebatinan.
Semua sistem tersebut (1,2, dan 3) didasarkan atas emosi religius.
Namun demikian apabila dilihat dari sisi lain yakni tentang isi dari system
kepercayaannya maupun system upacaranya, atau juga isi ajaran pada umumnya, Kebatinan
tidak bisa disejajarkan dengan agama dalam arti sebenarnya, melainkan hanya sekedar
menyerupai karena pada dasarnya ajaran Kebatinan merupakan perwujudan dari ajaran yang
sudah ada pada agama-gama resmi: Islam, Kristen, Hindu maupun Budha. Dalam ungkapan
yang sekarang lebih dianggap sesuai bahwa Kebatinan merupakan budaya warisan nenek
moyang terdahulu yang dapat diartikan sebgai warisan penghayatan terhadap ajaran-ajaran
agama yang telah mereka peluk sepanjang sejarah. Dan melihat kenyataan bahwa
penghayatan Kebatinan Kepercayaan mayoritas sebagai orang Islam yang kadar ke-islamannya masih dangkal maka pembinaannya agar selayaknya diarahkan kepada penghayatan
ketakwaan sesuai dengan ajaran agamanya itu, sebab meskipun mereka mengikuti aliran
Kebatinan/Kepercayaan tidaklah kehilangan agama yang dipeluk.
Jadi, melihat tujuan Kebatinan dapatlah dikatakan bahwa Kebatinan merupakan
gerakan kerohanian yang berupaya ikut membina budi pekerti luhur atas dasar kepercayaan
7

Prof. Kamil Kartapradja, Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia, (Jakarta: CV Haji Masagung), hal. 71.

kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk mencapai kebahagiaan hidup. Hanya saja meskipun
sasaran pembinaan dan unsur-unsurnya mempunyai kesamaan dengan agama, kedudukannya
berada di luar agama dan tidak bisa disebut agama karena ajaran-ajarannya merupakan
campuran dari berbagai agama yang ada.
I.

Kebatinan sebagai Budaya Spiritual


Budaya spiritual disini yaitu budaya warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Corak
budaya jawa yang menonjol dalam hal ini terbukti di Indonesia terdapat 45 % aliran
kebatinan berada di Jawa Tengah. Karena pada dasarnya kebatinan adalah inti sari dari
falsafah orang Jawa yang di sebut ngelmu kejawen atau menurut Koentjaraningrat disebut
sebagai agama lawi. Beberapa pengertian tentang kebatinan atau kepercayaan:
1) Dalam GBHN 1978 di ungkapkan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
bukanlah agama.
2) Menurut Keppres No. 7 tahun 1978 tentang pelita III Bab 18, dinyatakan bahwa
kepercayaan adalah sebagai bagian dari kebudayaan Nasional.
3) Definisi kerja dari Direktorat PPK menyatakan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan YME
adalah budaya spiritual yang berunsurkan: tuntunan luhur dalam wujud perilaku, hukum
dan ilmu suci, yang di hayati oleh penganutnya dengan hati nurani dalam kesadaran dan
keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan membina keteguhan tekad dan
kewaspadaan batin serta menghaluskan budi pekerti dalam tata pergaulan menuju
kebersihan jiwa dan kedewasaan rohani, demi mencapai kesejahteraan dan kesempurnaan
hidup di dunia ini dan di alam kekal.

II.

Kebatinan Sebagai Gerakan Mistik-magis


Para ahli kebatinan mempunyai kesesuaian pendapat tentang ajaran kebatinan.
Kebatinan adalah gerakan mistik magis, yaitu suatu gerakan yang bertujuan menciptakan
hubungan sedekat mungkin antara manusia dengan Tuhan, bahkan bersatu dengan-Nya, serta
berusaha mengembangkan kekuatan daya linuwih yaitu kemampuan-kemampuan di luar
kemampuan manusia biasa dalam bentuk ilmu gaib.
Prof. Kamil Karta praja menyatakan bahwa Kebatinan (ngelmu Kebatinan) adalah
suatu ilmu yang bersangkutan dengan mistik, sufi.8

Ibid. Hal 8

Prof. M. M. Djajadigoena, SH, menyatakan bahwa kebatinan adalah usaha manusia


untuk mencapai kesempurnaan dirinya. Kesempurnaan tersebut yaitu tercapainya
Panunggaling Kawula gusti (bersatunya makhluk dengan khalik) seperti bersatunya keris
dengan rangka dan rangka dengan keris, dalam bahasa latin Unio Mystica serta orang
Budha menyebutnya Nirwana, jumbuhing kawula Gusti, makripating makripat, tan ono,
loro-loro ning atunggaling. Jalan yang dipergunakan untuk itu disebut samadhi atau
meditasi. Apabila manusia tidak bisa mencapai kesempurnaan itu, maka setelah meninggal
dunia akan Reinkarnasi hidup kembali dalam bentuk yang berbeda.
Hasil-hasil dari Panunggaling kawula Gusti:
1) Akan memperoleh kekuatan ghaib.
2) Mendapatkan kekuatan luar biasa diluar batas kemampuan manusia.
Menurut Rahmat Subaya, mengungkapkan bahwa kebatinan adalah suatu gerakan:
1) Untuk meningkatkan integritas manusia.
2) Meningkatkan kesempurnaan kedudukan manusia
3) Partisipasi daya luar biasa manusia untuk mengatasi kemampuan orang biasa.
Drs. Niels Mulder mendefinisikan bahwa kebatinan adalah mistik penembusan dan
pengetahuan mengenai alam raya dengan tujuan mengadakan suatu hubungan langsung
antara individu dengan lingkungan Yang Maha Kuasa. Contohnya: ilmu ghaib, ilmu sihir,
ramalan-ramalan, mantra, jimat, dan lain-lain.Dengan adanya ilmu gaib, maka aliran
kebatinan di bagi menjadi 2:
1) Aliran yang bersifat positif konstruktif dalam membina mental para anggotanya, dengan
cara mengembangkan dan mengamalkan white magic. Contohnya: memberi pengobatan
dengan daya gaib, ramalan cari jodoh dan lain-lain.
2) Aliran yang bersifat negatif Destruktif, yaitu yang menyimpang dari ketentuan moral, di
dorong oleh nafsu dunia serta mengembangkan dan mengamalkan black magic.
Contohnya: praktek guna-guna, tenung, dan lain sebagainya.
Ungkapan kesempurnaan hidup menjadi tujuan mistik kebatinan atau kepercayaan.
Perkataan batin adalah salah satu nama dari Allah. Kemudian di tarik melalui pendekatan
bahasa bahwa kebatinan adalah ke-Allah-an yaitu Yang Maha Gaib, yang Maha Esa.
Kemudian diungkapkan oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi, sebagaimana yang dikutip dari
pendapat Prof. M.M. djajadigoeno, SH. Menggolongkan aliran-aliran kebatinan menjadi 4
golongan:

1.
2.
3.
4.
III.

Aliran Okkultis
Aliran Mistik
Aliran Metafisik
Aliran Ethis
Kebatinan Sebagai Gerakan Pemurnian Jiwa
Gerakan pemurnian jiwa ini tidak lepas dari latar belakang munculnya aliran

kebatinan. Dr. Harun Hadiwijoyo dan Rahmat Subagya serta para ahli lain mengungkapkan
bahwa latar belakang itu adalah kondisi sosial yang penuh dengan kegoncangan dalam
bidang kenegaraan dan kerohanian seperti terjadinya perubahan sosial, pudarnya nilai-nilai
agama resmi, hancurnya pegangan hidup tradisional.
Selain itu, dari kalangan agama Islam, para pemimpin agama dan mubaligh kurang
memberikan perhatian terhadap kehidupan batin/rohani, atau tidak cukup menyimpulkan
ajaran-ajaran Islam dalam prinsip sederhana sebagai pegangan pokok bagi manusia dalam
menentukan sikap terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta menghadapi berbagai kesulitan
sehari-hari.9
Dari semua kondisi itu, akhirnya kebatinan muncul mengetengahkan ajaran
mementingkan kehidupan batin yang mengutamakan faktor rasa, hidup gotong royong, ,juju,
kesucian jiwa, dan berusaha menciptakan keselarasan hidup (diri sendiri, Tuhan, lingkungan)
dan keseimbangan hidup.

Ibid, hal 17

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Aliran kebatinan, kejawen, kepercayaan adalah sama istilah dalam penyebutan
tergantung dari penganut masing-masing mungkin dilihat dari sudut pandang dan masa
masing-masing, menurut sejarah Faham Kebatinan ini dalam proses perkembangannya
senantiasa didukung oleh golongan priyayi, yaitu golongan keluarga istana dan pejabat
pemerintahan kraton. Mereka termasuk ke dalam kategori orang-orang Islam abangan lapisan
atas, yakni orang-orang Islam yang kurang mengetahui ajaran-ajaran Islam dan oleh
karenanya tidak mengamalkan syariat Islam. Mereka masih mempertahankan budaya Hindu,
sementara Islam yang datang kemudian dipandang sebagai unsur tambahan. didalam ajaran
inti dari kebatinan dibagi menjadi tiga ajaran tentang tuhan, manusia dan alam selain itu juga
terdapat ajaran etika terhadap sesama. kebatinan identik dengan tasawuf falsafi karena
keduanya berkecenderungan mendasarkan kepada faham keTuhanan yang bercorak monism

panteistik dan bertujuan untuk mencapai persatuan antara manusia dengan Tuhan. Lain
halnya dengan mistik Kebatinan itu dihubungkan dengan Tasawuf sunni atau Tasawuf
akhlaki yang mendasarkan kepada faham keTuhanan monoteistik serta bertujuan hanya
sebatas marifatullah, maka jelas keduanya tampak berbeda.
Misalnya ritual dalam tasawuf guna mendekatkan diri kepada Alloh dengan cara
dzikir, mengucapkan lafad allah dan lain sebagainya. Tetapi dalam aliran Kebatinan
menjalankan dengan menghindari sifat-sifat ataupun sikap-sikap tercela serta mengutamakan
budi luhur, berbuat yang baik dengan cara mengekang hawa nafsu, mengambil jarak dari
dunia materi. Untuk mencapai tujuan mistik tasawuf memilih melakukan perbuatan baik atas
dasar akhlakul karimah, tetapi kebatinan dalam melemahkan jasmani harus menjalankan
laku, di antaranya berbuat yang baik dan meninggalkan wewaler (segala yang dilarang). Dan
untuk menjaga jarak dengan dunia penganut tasawuf menjalani hidup zuhud dan uzlah Lalu
kebatinan menjalaninya dengan mengurangi dahar lan guling (makan, minum dan tidur),
puasa pati geni, asketik, tapa brata, dll dilihat dari ritual kedua aliran yang terlihat
bersebranyan sebenarnya terdapat keidentikan segi tujuannya tetapi hanyalah bentuk
ritualnya yang agak sedikit berbeda. Namun sebenarnya tujuan utama dari kedua aliran
tersebut tetap mempunyai tujuan yang sama yakni bersatu dengan tuhan dan dapat lebih
mengenal tuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Jamhari Ma'ruf, Pendekatan Antropologi Dalam Kajian Islam, Artikel Pilihan Dalam Direktorat
Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI, www.ditpertais.net.
Abdul Munir Mulkan, Dilema Manusia Dengan Diri dan Tuhan kata pengantar dalam Th.
Sumartana (ed.), Pluralis, Konflik, dan Pendidikan Agama Di Indonesia. Jogjakarta: Pustaka
Pelajar. 2001.
Sofwan, Ridin. Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan. Aneka Ilmu : Semarang. 1999.
Rahnip. Aliran Kebatinan Dan Kepercayaan Dalam Sorotan. Pustaka Progressif : Surabaya.
1987.

Prof. Kamil Kartapradja, Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia.Jakarta: CV Haji


Masagung. 1989

Anda mungkin juga menyukai