Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

METODE PENGUKURAN TRANSPORTASI SEDIMEN


Disusun Oleh :
1. Gintara Agung G

NIM. 135060400111012

2. Ganisa Elsina Salamena

NIM. 135060401111068

3. Marianty Patabang

NIM. 135060401111022

4. Danang Kiswanto

NIM. 135060401111036

5. Rifqi Muhammad Iqbal

NIM. 135060401111038

6. Annida Lisyahadah

NIM. 135060401111048

7. Ria Puspasari

NIM. 135060401111058

8. Moh. Ali Mabrur

NIM. 135060401111059

9. Ivan Dwi Prabowo

NIM. 135060401111066

10. BOY ADI PUTRA

NIM. 125060405111001

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN


TINGGGI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENGAIRAN
MALANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sungai adalah jalur aliran air di atas permukaan bumi yang di samping
mengalirkan air juga mengangkut sedimen yang terkandung dalam air sungai
tersebut. Jadi sedimen terbawa hanyut oleh aliran air, yang dapat dibedakan sebagai
muatan cuci (wash load), muatan dasar (bedload) dan muatan melayang
(suspendedload). Sedimen (sediment transport) yang terbawa oleh aliran sungai
dalam kaitannya dengan debit sungai, mempunyai arti penting dalam kegiatan
pengembangan sumberdaya air. Data sedimen diperlukan untuk perencanaan tanggul
banjir sungai, perencanaan lebar dan kemiringan saluran irigasi, kondisi tingkat
erosi pada daerah pengaliran sungai, perencanaan Jembatan (Soewarno, 1991).
Sehingga perlu dilakukan pengukuran sedimen.
Pengukuran sedimen bertujuan agar dapat menentukan konsentrasi sedimen dan
kuantitas angkutan sedimen persatuan waktu pada suatu lokasi dan waktu tertentu,
dan dapat menentukan besarnya endapan dalam hubungannya dengan angkutan
sedimen tersebut. Pengukuran sedimen dilakukan dengan cara mengambil
sampel/contoh air dan membawa ke laboratoriun untuk dapat diketahui konsentrasi
sedimen dalam satuan mg/liter atau ppm (part per million), selain itu dalam analisa
laboratorium dapat diketahui Berat Jenis (BD) dan besaran ukuran butir. Untuk
dapat mengetahui kandungan sedimen (dalam satuan ton/hari) maka selain data hasil
pemeriksaan laboratorium pada saat yang bersamaan perlu dilakukan pengukuran
debit/aliran sungai.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa saja metode yang digunakan untuk mengukur sedimentasi?
b. Bagaimana cara mengukur sedimen berdasarkan jenisnya?
c. Bagaimana cara menganalisa hasil pengukuran sedimen?
1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui metode pengukururan sedimentasi.
b. Untuk mengetahui cara untuk mengukur sedimentasi berdasarkan jenisnya.
c. Untuk mengetahui cara untuk menganalisa hasil pengukuran sedimentasi.
BAB II
ISI
2.1 Pengukuran Sedimen

Secara umum pengukuran sedimen dibagi atas 2 kelompok, yaitu Pengukuran


dengan pengambilan contoh, dan Metode pelacakan (tracer method). Dimana metode
pengukuran dengan pengambilan contoh dilakukan berdasarkan jenis sedimen yang
akan diukur. Sedangkan, metode perlacakan (tracer method) 1`dilakukan dengan
menggunakan bantuan unsur-unsur radioaktif.
2.1.1 Pengukuran Dengan Pengambilan Contoh
Banyak alat dan metode untuk pengukuran berbagai jenis sedimen seperti:
sedimen dasar, sedimen suspensi, dan wash load telah dikembangkan, namun tidak
semua alat akan dijelaskan pada bab ini hanya beberapa alat yang secara umum sering
digunakan untuk pengukuran. Beberapa organisasi dengan pengalaman yang luas di
bidang survei hidrometri secara kontinu mengembangkan alat-alat yang sudah ada dan
mengembangkan penemuan-penemuan alat dan metode baru. Beberapa alat dan metode
untuk pengukuran transpor sedimen tersaji pada tabel 2.1 berikut ini.

Gambar 2.1 Alat dan Metode Pengukuran Sedimen


2.1.1.1 Bed load Transport Meter Arnhem (BTMA)
BTMA adalah alat untuk mengukur sedimen dasar yang berupa pasir dan kerikil
yang berada pada dasar sungai/ saluran. Keuntungan dari alat adalah mempunyai
konstruksi yang kuat, simple juga mudah diperbaiki dan dipelihara. Kelemahannya
adalah karena dimensinya besar dan berat sehingga membutuhkann penanganan yang
lebih. Adapun ilustrasi gambarnya tersaji pada gambar 2.2. Kecepatan aliran harus lebih
kecil atau sama dengan 2,5 m/s. Pengukuran sedimen dasar dengan BTMA atau HS

mempunyai beberapa asumsi sebagai berikut ;


a. Tidak ada sedimen layang yang masuk
b.

Tinggi dari mulut sampler bersesuaian dengan ketebalan dari lapis dasar
(bedlayer)

c.

Ukuran butiran antara 60-300 mikrometer diabaikan

Gambar 2.2 Bedload Transport Meter Arnhem (setelah: Nedeco, 1973)

Gambar 2.3. Alat penangkap sedimen dasar tipe USBLH-84 dan HS


Prinsip kerjanya adalah rangka (frame) dimasukkan ke dalam sungai setelah sampai
didasar lalu ditekan pada bagian leaf spring. Bentuk dari wire mesh sampler
menyebabkan tekanan yang rendah di belakang alat sehingga air dan material dasar
terangkut masuk ke dalam mulut penangkap sedimen (sampler mouth). Butiran sedimen
dasar yang kasar dapat ditangkap oleh wire mesh sampler, BTMA menangkap material
yang lebih kasar dari 300 mikrometer (secara teoritik) sedangkan material diantara 60300 mikrometer akan lolos. Hal perlu diperhatikan dalam pengukuran di lapangan
dengan BTMA ini adalah pengambilan sampel dilakukan pada sungai yang lurus (stabil)
agar kondisi dasar saluran stabil sehingga memudahkan pengukuran, kecermatan dalam
pengukuran terkait kondisi hidraulik juga perlu perhatikan (kedalaman, kecepatan
aliran, ukuran butiran, kemiringan).

Cara pengambilan sampel


Sebaiknya sebelum pengambilan sampel dilakukan pengukuran kedalaman secara

longitudinal terlebih dahulu (sounding) agar memudahkan estimasi peletakkan BTMA


atau sejenisnya. Sedimen dasar diukur dengan bantuan perahu dengan cara menurunkan
alat BTMA atau sejenisnya ke dasar, dengan menentukan jarak panjang sampel yang
diukur (L) bergantung pada kedalaman, kecepatan aliran, dan jenis alat juga harus
mempunyai jarak panjang yang besar dibanding dengan dunes

(panjang konfigurasi
dasar) L sampel diambil secara acak dengan waktu dua menit.

Gambar 1.4. Posisi perahu saat pengambilan sampel pada dasar pasir

Analisa Pengukuran
Sepuluh sampel yan diambil dengan menggunakan BTMA dirata-ratakan dan

volume dari rata-rata sampel atau sampel yang telah diambil dikonversi kedalam
transport harian (m3/ 24 jam/ m) dengan kurva kalibrasi BTMA yang tersaji pada
gambar 1.5. Kurva kalbrasi ini berdasarkan uji laboratorium dengan persamaan sebagai
berikut
Ti = ( . v . f)/b

Gambar 2.5. Kurva kalibrasi BTMA (setelah ; Nedeco, 1973)

( Pers. 2.1 )

Setelah mensubstitusi persamaan (2.1) dengan kurva kalibrasi BTMA


didapatkan persamaan baru yaitu Ti = 0.017 v sehingga total transport T arah
melintang menjadi
Ti = bi . Ti

(Pers. 2.2)

Dimana,
Ti = Transpor sedimen arah melntang (m3/ 24 jam)
bi = Lebar dasar sungai/ saluran yang mewakili Ti (m)
2.1.1.2 Pengukuran sedimen layang (Delft Bottle)
Botol Delft (Delftsen Fles, D.F) adalah alat untuk mengukur sedimen layang/
suspensi pada sungai. Pengukuran dilakukan mulai dari permukaan sampai 0,5 m diatas
dasar sungai, untuk pengukuran dibawah permukaan digunakan alat bantu kabel
sedangkan yang mendekati dasar digunakan rangka (frame). Interval pengukuran
tergantung kebutuhan data semakin banyak semakin baik.
Prinsip kerjanya adalah sedimen layang yang terkandung pada air akan melewati
mulut botol delft, bentuk mulut tersebut menginduksi tekanan rendah di belakang alat
(outlet) sehingga kecepatan air tinggi dan pada akhirnya air dapat masuk kedalam mulut
botol delft. Di bagian dalam botol, kecepatan aliran akan berkurang dan menyebabkan
sedimen mengendap di dalam botol tersebut. Material yang mengendap diambil
kemudian diukur volumenya setelah air dalam botol delft keluar. Biasanya ukuran
butiran sedimen lebih besar dari 50 mikrometer. Botol delft meloloskan sebagian
sampel jika 100 % dari butiran D < 50 mikrometer, sebagian ukuran butirannya 50 < D
< 100 mikrometer. Oleh karena efisiensi dari botol delft adaah fungsi distribusi ukuran
butiran material suspensi. Keuntungannya memepunyai konstruksi yang kuat dan
simple juga mudah untuk dipelihara dan mudah digunakan untuk berbagai kedalaman.

Cara Pengambilan Sampel


Sampel sedimen layang diambil dengan botol Delft yang diturunkan dari perahu

kedalam sungai dengan bantuan kabel. Kedalaman alat ditentukan oleh kuantitas paidout cable dan menunjukan counter block. Saat botol Delft tenggelam untuk sementara,
alat akan menjadi landai pada arah belakang. Setelah alat diisi dengan air

menurunkannya dengan cepat untuk mengetahu kedalaman. Waktu sampling mulai


diukur dengan stop-watch selama tiga menit sudah memberikan hasi yang baik. Botol
Delft diangkat kembali ke perahu, setelah perhitungan total sedimen. Secara umum
sampel diambil dengan interval 1,5 m dan diukur secara vertikal dengan mengambil
lima sampel dengan interval 10 cm. . Berikut disajikan pada gambar 2.6 alat Botol Delft
dengan bagian-bagian kerangkanya kemudian gambar 2.7. menunjukkan beberapa
kedalaman yang akan diukur juga tabel 2.2 form perhitungan pengukuran sedimen dasar
dan layang.

Gambar 2.6. Skets Botol Delft

Gambar 2.7. Botol Delft dengan variasi pengukuran

Tabel 2.2 Formulir perhitungan pengukuran sedimen dasar dan sedimen layang

Analisa Hasil Pengukuran


Pengambilan sampel sedimen sebaiknya dilakukan secara bersamaan dengan

kegiatan pengukuran debit dan setiap sampel sedimen harus dikirim ke laboratorium
untuk di analisa. Data lapangan yang diperoleh adalah data debit sebagai hasil

pengukuran langsung dan data konsentrasi sedimen diperoleh dari berdasarkan hasil
analisa sedimen dilaboratorium.Nilai kandungan sedimen diperoleh berdasarkan hasil
perkalian konsentrasi sedimen dengan debit, dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
Qs = k Cs Qw
Keterangan:
Qs : Debit sedimen (ton/hari)
Cs : Konsentrasi sedimen (mg/l)
Qw : Debit (m3/dt)
k

: faktor konversi yaitu 0.0864


Konsentrasi sedimen suspensi (Cs) umumnya ditulis dalam mg/l atau dalam

satuan part per million (ppm).Untuk mendapatkan nilai konsentrasi dalam mg/l maka
nilai konsentrasi dalam satuan ppm sebagai hasil analisa dari laboratorium harus
dikoreksi dengan nilai c
Tabel 2.3 Faktor konversi c (mengkonversi satuan ppm menjadi mg/l)
Konsentrasi (ppm)

Konsentrasi (ppm)

0 15900
16000 46800
46900 76500
76600 105000
106000 133000
134000 159000
160000 185000
186000 210000
211000 233000
234000 256000
257000 279000
280000 300000
301000 321000

1.00
1.02
1.04
1.06
1.08
1.10
1.12
1.14
1.16
1.18
1.20
1.22
1.24

322000 341000
342000 361000
362000 380000
381000 399000
400000 416000
417000 434000
435000 451000
452000 467000
468000 483000
484000 498000
499000 514000
515000 528000
529000 542000

1.26
1.28
1.30
1.32
1.34
1.36
1.38
1.40
1.42
1.44
1.46
1.48
1.50

2.1.1.3 Pengukuran Sedimen Cuci (Water Sampler)


Water sampler digunakan untuk mengukur konsentrasi wash load terdiri dari
botol, rubber stopper, suspension-line, heavy weight meta body. Pengukuran dilakukan
dengan menurunkan water sampler ke dalam sungai dengan kedalaman yang fix dalam
waktu tertentu hingga botol terisi wash load yang cukup, setelah terisi diangkat lalu
ditandai sesuai lokasi pengambilan sampel. Keuntungannya adalah mempunyai berat
yang ringan sehingga memungkinkan untuk dibawa dengan tangan dan dapat juga
digunakan untuk survey pendahuluan.
Kelemahannya adalah posisi water sampler saat pengambilan sampel
mengganggu pola aliran sehingga tidak dapat digunakan untuk mengukur total sedimen
yang terangkut oleh sungai. Wash load terdiri atas butiran yang sangat halus dan tidak
terpengaruh oleh distorsi aliran, hasil pengukuran lalu dielabaorasi sehingga didapatkan
estimasi besarnya transpor wash load. Ada banyak jenis alat water sampler dua diantara
yaitu metal water sampler dan Perspex water sampler ilustrasinya tersaji pada gambar
2.8 dan 2.9

Gambar 2.8. Metal Water Sampler (setelah; Nedeco, 1973)

Gambar 2.9. Perspex Water Sampler (setelah: Nedeco, 1973)

Analisa Pengukuran
Mengukur wash load sangatlah mudah, tetapi harus dilakukan dengan cara-cara
laboratoris. Data banyaknya kadar sedimen dapat dinyatakan dengan satuan konsentrasi
sedimen sebagai berikut:
6

Berat kering sedimen(kg x 10 )


=mg/ atau ppm
Berat contoh air keseluruhan (Kg)

2.1.2 Pengukuran Sedimen Dengan Metode Perlacakan


Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mempelajari pola transpor sedimen
adalah dengan menggunakan perunut artifisial zat radioaktif. Perunut radioaktif mempunyai
banyak kelebihan dibandingkan dengan perunut artifisial lainnya seperti dalam hal sistem
deteksinya peka, unik serta pengerjaannya relatif cepat.
Tracer dapat berupa material setempat yang diberi tanda (warna) atau material khusus
yang dicampurkan ke material setempat.
Metode penempatan tracer instant (sesaat), continuous (menerus), Spatial Sampling Method
(SIM)/Pengambilan Simultan pada Beberapa Lokasi, Temporal Sampling Method
(TIM)/Pengambilan berturut-turut pada lokasi tertentu.
Metode penempatan sesaat dapat diikuti oleh kedua metode pengukuran sedangkan
metode penempatan tracer menerus hanya sesuai dengan metode pengukuran pengambilan

berturut-turut. Hitungan perkiraan transpor sedimen, q, berdasarkan pada kecepatan


pergerakan titik berat sebaran tracer, v, dikalikan dengan tebal lapisan sedimen yang
bergerak, h, (q= v h). Pergerakan titik berat tracer dapat didekati dengan metode sebagai
berikut. Untuk penempatan sesaat yang diikuti pengukuran dengan SIM, jarak antara lokasi
penempatan tracer dan titik berat kontur konsentrasi/ jumlah tracer dapat diperkirakan dari
plot hasil pengukuran pada peta. Kecepatan pergerakan diperoleh dan jarak tersebut dibagi
dengan selang waktu antara saat penempatan tracer dan saat pengambilan sampel tracer.
Untuk penempatan sesaat yang diikuti dengan TIM, kecepatan pergerakan tracer diperkirakan
dari jarak antara lokasi penempatan tracer dan lokasi pengamatan dibagi dengan waktu
mencapai konsentrasi/jumlah tracer maksimum. Lokasi pengukuran tracer terletak di sebelah
hilir lokasi penempatan tracer.
Untuk motode penempatan tracer menerus yang diikuti dengan TIM, perkiraan
kecepatan pergerakan tracer dilakukan mirip seperti pada metode penempatan sesaat yang
diikuti dengan TIM, hanya saja perkiraan waktu mencapai puncak diganti dengan waktu
mencapai konsentrasi/jumlah tracer tetap. Tebal lapisan sedimen yang bergerak diperkirakan
dari profil konsentrasi tracer vertikal.
Hasil beberapa penelitian rnenunjukkan hubungan antara kecepatan pergerakan
sedimen, v, dan kecepatan arus, V, di surfzone adalah sebagai berikut ini.
v =0.014 V (Kraus et al.,1982)
v=0.01 V (Kato et al, 1985)
v = 0.0081V (Komar, 1978)
Untuk tebal lapisan yang bergerak, h, telah diperoleh beberapa pedoman empiris sebagai
berikut.
h = 0,027Hb

( Kraus, 1985)

h = 810 4d (b - crit) (Samura dan Kraus, 1985)

dengan Hb adalah tinggi gelombang pecah, d adalah median ukuran butiran dasar, dan

adalah parameter Shield. Indeks b menunjuk pada lokasi gelombang pecah dan indeks crit
menunjuk pada keadaan permulaan gerak butiran.

Gambar 2.10 Pengukuran dengan tracer

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pengukuran sedimen bertujuan agar dapat menentukan konsentrasi sedimen dan
kuantitas angkutan sedimen persatuan waktu pada suatu lokasi dan waktu tertentu, dan dapat
menentukan besarnya endapan dalam hubungannya dengan angkutan sedimen tersebut.
Secara umum pengukuran sedimen dibagi atas 2 kelompok yaitu :
a. Pengukuran dengan pengambilan contoh
Beberapa contoh alat pengukuran sedimen :
- Bed load Transport Meter Arnhem (BTMA) ( Pengukur sedimen dasar )
- Delft Bottle ( Pengukur sedimen layang )
- Water Sampler ( Pengukur Sedimen Cuci )
b. Metode pelacakan (tracer method) dengan menggunakan perunut artifisial zat
radioaktif

Daftar Pustaka

Priyantoro, Dwi, Teknik Pengangkutan Sedimen, Himpunan Mahasiswa


Pengairan FT-UB, Malang, 1987
Transport Sedimen (Hidrometri) - pdf; www.researchgate.net (online) diakses pada
tanggal 16 November 2014
Pengukuran Kadar Sedimen Suspensi ; http://widyawarta.wordpress.com/ (online)
diakses pada tanggal 17 November 2014