Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM KEANEKARAGAMAN

KEANEKARAGAMAN PADA TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA)


(Keanekaragaman Bentuk Strobilus pada Tanaman Paku)

Disusun oleh
Teolina Restiani

14304241006

Hindu Hidayatun Naimah

14304241013

Neny Andriyani

14304241022

Andi Prasetyo

14304241033

Pendidikan Biologi Kelas A

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


2015

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................................1


BAB I: PENDAHULUAN
A Latar Belakang.....................................................................................................2
B Tujuan .................................................................................................................2
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................3
BAB III: MATERI DAN METODE
A Alat dan Bahan.....................................................................................................7
B Metode Pengamatan.............................................................................................7
BAB IV: TABULSI DAN PEMBAHASAN
A Tabuasi Data.........................................................................................................8
B Pembahasan .........................................................................................................10
1 Adiantum cuneatum.................................................................................10
2 Platycerium bifurcatum ...........................................................................13
3 Drymoglossumm pilosellodies.................................................................18
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A KESIMPULAN ...................................................................................................21
B SARAN ...............................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................22

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan salah satu golongan tumbuhan yang
hampir dapat dijumpai pada setiap wilayah di Indonesia. Tumbuhan paku dikelompokkan
dalam satu divisi yang jenis-jenisnya telah jelas mempunyai kormus dan dapat dibedakan
dalam tiga bagian pokok yaitu akar, batang, dan daun. Bagi manusia, tumbuhan paku
telah banyak dimanfaatkan antara lain sebagai tanaman hias, sayuran dan bahan
obatobatan. Namun secara tidak langsung, kehadiran tumbuhan paku memberikan
manfaat dalam memelihara ekosistem hutan antara lain dalam pembentukan tanah,
pengamanan tanah terhadap erosi, serta membantu proses pelapukan serasah hutan.
Loveless (1989) dalam Asbar (2004) menjelaskan bahwa tumbuhan paku dapat tumbuh
pada habitat yang berbeda. Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuhan paku ditemukan
tersebar luas mulai daerah tropis hingga dekat kutub utara dan selatan. Mulai dari hutan
primer, hutan sekunder, alam terbuka, dataran rendah hingga dataran tinggi, lingkungan
yang lembab, basah, rindang, kebun tanaman, pinggir jalan paku dapat dijumpai.
Tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi dua bagian utama yaitu organ vegetatif
yang terdiri dari akar, batang, rimpang, dan daun. Sedangkan organ generatif terdiri atas
spora, sporangium, anteridium, dan arkegonium. Sporangium tumbuhan paku umumnya
berada di bagian bawah daun serta membentuk gugusan berwarna hitam atau coklat.
Gugusan sporangium ini dikenal sebagai sorus. Letak sorus terhadap tulang daun
merupakan sifat yang sangat penting dalam klasifikasi tumbuhan paku. pada praktikum
kali ini kelompok kami akan membahas tentang letak sorus pada tumbuhan paku.
B. Tujuan
Mengenal keanekaragaman letak sorus pada tumbuhan paku kawat dan paku epifit

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Raven et al., (1992) tumbuhan paku dalam dunia tumbuhtumbuhan termasuk golongan besar atau divisi Pteridophyta (pteris = bulu
burung; phyta = tumbuhan). Apabila diterjemahkan berarti tumbuhan yang
berdaun seperti bulu burung. Tumbuhan paku merupakan tumbuhan
peralihan antara tumbuhan bertalus dengan tumbuhan berkormus, sebab
paku mempunyai campuran sifat dan bentuk antara lumut dengan tumbuhan
tingkat tinggi.
Tumbuhan paku merupakan suatu divisi tumbuhan kormus, artinya
tumbuhnya dengan nyata dapat dibedakan atas akar, batang dan daun.
Akan

tetapi,

tumbuhan

perkembangbiakan

paku

tumbuhan

belum

paku

yang

menghasilkan
utama

biji.

adalah

Alat
spora

(Tjitrosoepomo, 1991). Tumbuhan ini mengadakan perkawinan dengan


menghasilkan spora dan dapat tumbuh menjadi tumbuhan paku. Ciri-ciri
khas dari paku-pakuan adalah:
a. Membentuk sporangia yang sangat besar jumlahnya.
b. Sporangia dibentuk di bagian bawah sporofil (Rismunandar dan Ekowati, 1991).
Tumbuhan paku memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi, sehingga tidak jarang
dijumpai paku dapat hidup di berbagai tempat, diantaranya di daerah lembab, di bawah pohon, di
pinggiran sungai, di lereng-lereng terjal, di pegunungan. Berdasar tempat hidupnya. Tumbuhan
paku dibedakan menjadi beberapa kelompok besar, diantaranya: paku yang sifatnya menempel di
batang pohon (epifit), tumbuh pada batu dan di atas tanah (terestrial), hidup di permukaan air
(hidrofit), serta hidup di daerah pegunungan (higrofit). Sedangkan pada jenis paku epifit yang
berbeda, juga akan berbeda kebutuhannya terhadap cahaya. Ada yang menyenangi tempat
terlindung dan ada sebagian pada tempat tertutup (Wiesner (1907), Went (1940) dalam Hasar dan
Kaban, (1997).
Paku yang menyenangi sinar matahari sun-fern selain ada yang membentuk belukar dan
ada juga yang menumpang pada pohon (epifit). Sebagian kecil sun-fern tumbuh di tempat yang
benar-benar terbuka. Namun demikan memerlukan juga lindungan dari sinar matahari. Sehingga
sering ditemukan tumbuh di antara tumbuhan lain dan tidak terisolasi. Di lokasi terbuka beberapa
epifit berhasil tumbuh di tanah. Namun di hutan mereka sangat tergantung pada inangnya, untuk

tempat hidup bukan sebagai sumber makanan. Epifit tidak membutuhkan makanan organik dari
tumbuhan lain. Epifit memainkan peranan yang penting dalam ekosistem hutan hujan sebagai
habitat bagi beberapa hewan (Richard, 1952). Menurut LIPI (1980), menyatakan bahwa paku
epifit ikut membantu dalam mempertahankan kelembaban lapisan vegetasi dasar karena mampu
beradaptasi terhadap kekeringan.
Sedangkan menurut Tjitrosoepomo (1991) tumbuhan paku dapat diklasifikasikan
berdasarkan jenis dan ukuran spora yang dihasilkan, sifat anulus, letak sporangium, dan sorusnya
pada daun. Divisi Pteridophyta dibagi menjadi 4 kelas, yaitu Psilophytinae (Paku purba),
Equisetinae (Paku ekor kuda), Lycopodinae (Paku rambut atau Paku kawat) dan Filicinae (Paku
sejati). Pada praktikum kali ini, kelompok kami menemukan beberapa tanaman paku
(Pteridophyta) dengan ciri dan letak sorus yang akan dibahas sebagai berikut:
Reproduksi Tumbuhan Paku Homospora (Pteridophyta)
Tumbuhan paku dapat berkembang biak secara aseksual dan seksual.
Reproduksi aseksual dan seksual pada tumbuhan paku terjadi seperti pada
lumut. Reproduksi tumbuhan paku menunjukkan adanya pergiliran antara
generasi gametofit dan generasi sporofit (metagenesis). Kebalikan dari
pergilran generasi pada tumbuhan paku, generasi sporofit merupakan
generasi yang dominan dalam daur hidupnya. Pada generasi gametofit
dihasilkan oleh reproduksi aseksual dengan spora. Spora dihasilkan oleh
pembelahan sel induk spora yang terjadi di dalam sporangium (kotak spora).
Sporangium terdapat pada sporofit (sporogonium) yang terletak di
daun atau di batang. Spora haploid (n) yaitu protalium, sedangkan
sporofitnya adalah generasi diploid yaitu tumbuhan paku. Proses pergiliran
keturunan tumbuhan paku adalah sebagai berikut :

Daur Hidup Tumbuhan Paku Homospora


Apabila spora jatuh di tempat yang sesuai maka akan menghasilkan
alat kelamin jantan (anteridium) dan alat kelamin betina (arkegonium)
haploid (n). Masing masing alat kelamin akan menghasilkan spermatozoid
dan ovum. Pembuahan ovum oleh spermatozoid maka akan dihasilkan zigot
(2n). Selanjutnya zigot akan tumbuh menjadi embrio dan akhirnya menjadi
tanaman paku. Setelah dewasa, sporofil dari sporofit akan menghasilkan
spora yang terdapat di dalam kotak spora. Kotak spora ini akan berkumpul di
dalam sorus (Prawirohartono,S, 2004:171)
Klasifikasi tumbuhan paku
Tumbuhan paku dapat di klasifikasikan berdasarkan jenis dan ukuran spora
yang dihasilkan, sifat anulus, letak sporangium, serta sorusnya pada daun.
Divisi Pteridophyta dibagi menjadi 4 kelas, yaitu Psilophytinae, Equisetinae,
Lycopodinae dan Filicinae (Tjitrosoepomo, 2011) yang diuraikan sebagai
berikut:

1. Kelas Psilophytinae (Paku purba)


Kelompok tumbuhan paku ini dinamakan paku purba karena sebagian besar telah punah.
Anggota paku purba ada yang merupakan paku telanjang (tidak berdaun) dan ada yang berdaun
kecil (mikrofil) yang belum terdiferensiasi Paku yang tergolong kelas ini hanya memilki satu
ordo yaitu Psilophytales.
Klasifikasi
Regnum

: Plantae

Devisi

: Pteridophyta

Kelas

: Psilophytinae

Ordo

: Psilophytales

Family

: Psilophytiaceae

Genus

: Psilotum

Spesies

: Psilotum nudum (Sumber : www.plantthis.com.au).

2. Kelas Equisetinae (Paku ekor kuda)


Anggota paku ekor kuda sebagian telah punah. Umumnya paku ekor kuda memiliki
batang berupa rhizoma. Cabang-cabang batangnya mempunyai uas-ruas. Pada ujung cabang
batang sering ditemukan badan bulat disebut elatern. Badan ini merupakan penghasil spora. Paku
ini terdiri memilki tiga ordo yaitu Equisetales, Sphenophyllales, dan Protoarticulatales. Contoh
klasifikasi pada Equisetum arvanse,
Regnum

: Plantae

Devisi

: Pteridophyta

Kelas

: Equisetinae

Ordo

: Equisetales

Family

: Equisetaceae

Genus

: Equisetum

Spesies

: Equisetum arvanse (Sumber : www.plantthis.com.au).

3. Kelas Lycopodinae (Paku rambut atau Paku kawat)


Paku kelompok ini batang dan akarnya bercabang-cabang menggarpu. Kelas ini dibagi
menjadi dua ordo yaitu:

a. Ordo Selaginellales
Spesies dari ordo ini mempunyai batang berbaring, ada sebagian berdiri tegak, bercabang
menggarpu. Tumbuh membentuk rumput, ada juga yang memanjat dan tunasnya dapat mencapai
sampai beberapa meter. Pada batang terdapat daun-daun kecil yang berhadapan dan tesusun
dalam empat baris. Contoh:
Regnum

: Plantae

Devisi

: Pteridophyta

Kelas

: Lycopodinae

Ordo

: Selaginellales

Family

: Selaginellaceae

Genus

: Selaginella

Spesies

: Selaginella wildenowii (Sumber : rimba.um.edu.my).

b. Ordo Lycopodiales
Ordo ini terdiri kurang lebih di 200 jenis tumbuhan yang hampir semua tergolong dalam
family Lycopodiaceae dari genus Lycopodium. Lycopodium sebagian besar berupa terna kecil,
batangnya mempunyai berkas pengangkut yang masih sederhana, tumbuh tegak atau berbaring
dengan cabang-cabang yang menjulang ke atas. Daun-daun berambut, berbentuk garis atau
jarum. Contoh:
Regnum

: Plantae

Devisi

: Pteridophyta

Kelas

: Lycopodinae

Ordo

: Lycopodiales

Family

: Lycopodiaceae

Genus

: Lycopodium

Spesies

: Lycopodium clavatum (Sumber : www.plantthis.com.au)

4. Kelas Filicinae (Paku sejati)


Paku kelompok mempunyai anggota spesies paling banyak. Habitatnya di darat, air dan ada pula
yang hidup menumpang pada tumbuhan lain (epifit). Kelas ini meliputi beberapa sub kelas,
yaitu:
a. Sub kelas Eusporangiatae

Tumbuhan yang tergolong dalam sub kelas ini kebanyakan berupa terna. Protalium di
bawah tanah dan tidak berwarna, di atas atanah dan berwarna hijau. Protalium mempunyai
cendawan endofitik. Sub kelas ini dibedakanatas dua ordo yaitu Ophioglossales dan Marattiales.
Sporangium pada sisi bawah daun. Kebanyakan paku ini berupa paku tanah yang isopor.
(Sumber : www.plantthis.com.au).
b. Sub kelas Hydropterides
Semua anggota sub kelas ini hidup di air (hidrofit). Tumbuhan ini termasuk heterospor.
Terbagi atas dua famili, yaitu:
1) Family Salviniaceae
Famili ini merupakan tumbuhan paku air yang mengapung dengan bebas pada permukaan air,
hanya sedikit bercabang-cabang. Daunnya berkarang, dan pada tiap-tiap buku terdapat daun.
Dari ketiga daun itu dua terdapat di atas, berhadapan dan merupakan alat pengapung, yang ketiga
terdapat di dalam air terbagi-bagi merupakan badan-badan yang bentuk maupun fungsinya
menyerupai akar (menggantikan fungsi akar) (Sumber : www.aquaticquotient.com).
2) Family Marciliaceae
Famili ini hidup di paya-paya atau di air yang dangkal, berakar dalam tanah, jarang
berupa tumbuhan darat sejati. Apabila hidup di darat berbentuk seperti umbi, batangnya
menyerupai rimpang yang merayap ke atas membentuk daun-daun, ke bawah membentuk akarakar. Daun pada jenis-jenis tertentu bersifat polimorf. Daun mempunyai helaian yang berbelah
empat atau dua, jarang utuh. Daun muda mengulung (Sumber : www.plantthis.com.au).
c. Sub kelas Leptosporangiatae
Sub kelas ini terdiri atas beranekaragam paku-pakuan. Tumbuhan inipaling banyak terdapat di
daerah tropika, meliputi jenis-jenis paku dari yang terkecil (hanya beberapa mm saja) sampai
yang besar (berupa pohon).
1) Family Schyzaeceae
2) Family Hymenophyllaceae
3) Family Cyatheacae
4) Family Gleicheinaceae
5) Family Davalliaceae
6) Family Aspleniaceae
7) Family Pteridaceae

8) Family Polypodiaceae
9) Family Acrostichaceae (Sumber : www.tropicalplantbook.com)
BAB III
MATERI DAN METODE

A Waktu dan Tempat


Praktikum keanekaragaman tumbuhan tingkat gen dan jenis ini dilaksanakan pada hari
Jumat, 23 April 2015 di kebun biologi FMIPA UNY.
B Alat dan Bahan
1 Tumbuhan paku
2 Alat tulis
3 Kamera
C Cara Kerja
Mencari tumbuhan paku

Mengamati dan mengidentifikasi


tumbuhan paku
Melakukan dokumentasi berupa
foto
Menganalisa letak sorus pada
tumbuhan paku
Mempresentasikan hasil diskusi
kelompok

BAB IV
TABULASI DAN PEMBAHASAN
A Tabulasi Data
N
O

Keanekaraga
Nama Spesies

Jenis Paku

man yang

Deskripsi

diamati
Terletak pada

1. Paku

Burung

1.

bagian bawah daun

Sarang

(Asplenium
nidus)

yang membentuk

Paku
terestrial

Letak sorus

suatu kumpulan
spora.
Dilindungi
oleh indusium.

Spora terletak
dalam sorus yang
menggerombol
2.

Drymoglossum

Pteropsida/

piloselloides

paku sejati

Letak sorus

dalam satu
kesatuan yang
terdapat di bagian
sisi bawah daun
sporofil
Spora terletak pada
sorus yang

3.

Platycerium
bifurcatum

B Pembahasan

Paku epifit

Letak sorus

menggerombol di
bagian sisi bawah
daun sporofil

Gambar/ Foto

Praktikum kali ini berjudul Pteridophyta, bertujuan untuk menunjukkan macam-macam


letak sorus pada tumbuhan paku epifit dan paku kawat. Pengertian sorus sendiri merupakan
tempat berkumpulnya kotak spora (sporangium) (Prawirohartono,S, 2004:171). Tumbuhan paku
dapat dibedakan menjadi dua bagian utama yaitu organ vegetatif yang terdiri dari akar, batang,
rimpang, dan daun. Sedangkan organ generatif terdiri atas spora, sporangium, anteridium, dan
arkegonium. Sporangium tumbuhan paku umumnya berada di bagian bawah daun serta
membentuk gugusan berwarna hitam atau coklat. Gugusan sporangium ini dikenal sebagai sorus.
Letak sorus terhadap tulang daun merupakan sifat yang sangat penting dalam klasifikasi
tumbuhan paku (Tjitrosoepomo, 1994).
Pengamatan kami lakukan di kebun Biologi FMIPA UNY dan sekitar FMIPA UNY.
Berikut merupakan jenis-jenis paku yang kami temukan:
A. Jenis Paku Epifit:
1. Paku Sarang Burung (Asplenium nidus)
Berikut klasifikasi paku sarang burung:
Regnum : Plantae
Devisi

: Pteridophyta

Kelas

: Filicinae

Sub Kelas

: Leptosporangiatae

Ordo

: Leptosporangiales

Family

: Aspleniaceae

Genus

: Asplenium

Spesies

: Asplenium nidus (Sumber : www2.hawaii.edu).

Ciri-ciri dari paku jenis ini diantaranya adalah mempunyai ental (helaian daun) tunggal,
panjang ental bervariasi sesuai dengan umur dan perkembangan tanaman. Rata-rata panjang
sekitar 15 cm1,2 m, serta lebar 5 15 cm. Mempunyai tepi rata dengan permukaan berombak.
Warna ental bagian atas hijau dan bagian bawah hijau pucat, yang disebabkan oleh kandungan
klorofil yang terdapat pada permukaan atas daun lebih banyak. Tangkai ental sangat pendek,
hampir tidak terlihat, berbulu jarang berwarna coklat. Berikut merupakan gambar paku sarang
burung hasil pengamatan:

Berdasarkan letak sorusnya, sorus paku sarang burung terletak di pertulangan ental
bagian bawah, berwarna coklat tua, dan tersusun secara menyirip.

Gambar sorus pada paku


Menurut Holttum, (1968) distribusi dari paku sarang burung terletak di daerah tropik,
pada ketinggian 1.100 m dpl sampai dengan ketinggian 1.500 m dpl seperti di Indonesia. Habitat
Asplenium nidus (paku sarang burung ) adalah teresterial (pada permukaan tanah dan epifit,
ditemukan. Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan, dimana tanaman ini tumbuh menempel pada
batang pohon (epifit) dan ada juga yang tumbuh di atas tanah.

2. Paku Sisik Naga


Paku epifit yang kami amati kedua adalah paku sisik naga, yang tumbuh menempel pada
pohon cemara yang berlokasi taman D01 FMIPA UNY. Berikut klasifikasi paku sisik naga:
Kingdom : Plantae
Divisio

: Pteridophyta

Classis

: Filicinae

Ordo

: Marginales

Family

: Polypodiaceae

Genus

: Drymoglossum

Spesies

: Drymoglossum piloselloides (paku sisik naga)

Berdasar pengamatan yang kami lakukan, paku sisik naga hidup secara epifit (menempel
pada pohon inang). Rimpang pada paku tidak menembus pembuluh angkut tanaman inang
sehingga tidak bersifat parasit (merugikan). Rimpang berupa juluran panjang dan ditutupi oleh
sisik yang bulat dan kecil. Pada rimpang terdapat dua bentuk daun (ental) pada tanaman paku
jenis ini (dimorf) yaitu daun fertile dan daun steril yang posisinya saling terpisah. Kedua bentuk
daun mempunyai tangkai pendek, permukaan rata dan berdaging. Warna daun bagian atas lebih
hijau dari pada daun bagian bawah yang berwarna pucat. Hal ini dikarenakan kandungan klorofil
yang terdapat pada permukaan atas daun lebih banyak daripada permukaaan bawah daun. Daun
steril mempunyai bentuk bulat kecil dengan diameter sekitar 2-4 cm yang disebut dengan ental
mandul. Sedangkan ental fertil mempunyai bentuk lebih panjang yaitu sekitar 5-10 cm,
berbentuk seperti pita dengan ujung membulat.

Gambar paku sisik naga


Letak sorus pada Drymoglossum piloselloides (paku sisik naga) berada dibagian bawah
daun, yaitu bagian ditepi ental yang tersusun memanjang sehingga nampak seperti mengelilingi
daun (ental). Sorus yang terdiri dari sporangium dengan spora yang matang berwarna hijau
sedangkan yang masih muda berwarna hijau pucat. Berdasar literatur, habitat dati paku sisik naga
yaitu di dataran rendah maupun dataran tinggi hingga ketinggian 1000 m dpl.

Gambar orus pada paku sisik naga


3. Paku Tanduk Rusa (Platycerium sp.)
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Divisi

: Pteridophyta (paku-pakuan)

Kelas

: Pteridopsida

Sub Kelas

: Polypoditae

Ordo

: Polypodiales

Famili

: Polypodiaceae

Genus

: Platycerium

Spesies

: Platycerium sp.

Paku tanduk rusa merupakan tumbuhan paku yang termasuk ke dalam kelas pteropsida
atau paku sejati. Habitus dari tumbuhan ini adalah epifit sejati, dengan akar lunak yang
bergerombol melekat pada batang tanaman lain atau bebatuan. Daun tanaman ini terdiri dari dua
jenis yaitu daun fertil dan daun sporofil. Sebagai tumbuhan epifit, paku tanduk rusa mengambil
air dari air yang melalui akarnya saat hujan atau melalui embun yang ada. Tumbuhan paku ekor
kuda ini menempel pada tumbuhan lain adalah untuk dapat memperoleh cahaya sinar matahari

lebih. Karena, dengan menempel pada batang tanaman yang tinggi maka ia akan mudah
memerima sinar cahaya matahari.

Gambar paku tanduk rusa


Letak sorus
Pada tumbuhan paku ini, letak spora terletak pada sorus yang menggerombol di bagian
sisi bawah daun sporofil. Penempatan spora pada sisi bawah daun adalah untuk melindungi spora
yang belum matang dari tanduk rusa ini agar tidak tersapu oleh air hujan yang melewati daunnya.
Spora pada tanduk rusa ini letaknya menggerombol di bawah daun bagian ujungnya. Peletakan
spora pada bagian ujung daun ini adalah untuk memudahkan spora yang matang untuk terlepas
dari daun sporofilnya. Selain itu, peletakan spora pada ujung daun ini berfungsi agar spora
matang mudah tersapu oleh angin. Sehingga penyebaran spora akan lebih optimal karena dibantu
oleh angin yang menyapu bagian ujung daun sporofil dari paku ekor kuda ini.

Letak sorus pada paku tanduk rusa

4. Paku suplir
a Klasifikasi umum
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Divisi

: Pteridophyta (paku-pakuan)

Kelas

: Filicopsida

Sub Kelas

: Polypoditae

Ordo

: Polypodiales

Famili

: Pteridaceae

Genus

: Adiantum

Spesies

: Adiantum cuneatum Langs.& Fisch

(Tjitrosoepomo., 2000)

Adiantum (Indonesia: suplir; Inggris: maidenhair fern) merupakan salah satu


marga tumbuhan paku anggota suku Pteridaceae yang cukup menguntungkan secara
komersial karena banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias dengan berbagai variasi
morfologi dan hasil silangan. Jumlah jenis Adiantum di seluruh dunia diperkirakan
mencapai sekitar 280 jenis (Patil et al., 2013) dan 10-20 jenis diantaranya berada di Asia
Tenggara (Afriastini, 2003).
Adiantum merupakan salah satu marga tumbuhan paku yang cukup dikenal.
Bentuk daunnya beraneka ragam dan penampilannya menarik sehingga banyak jenis
Adiantum yang digunakan sebagai tanaman hias. Beberapa diantaranya juga dapat
dimanfaatkan sebagai sayur dan dalam bidang kesehatan karena kandungan bahan
aktifnya (Afriastini, 2003; Perwati, 2009).
Adiantum dapat dikenali melalui beberapa ciri, antara lain tangkai daunnya hitam
mengkilat, tulang daunnya tidak nyata dan adanya indusium semu yang melindungi
sporangium di permukaan bagian bawah helaian daunnya (Hoshizaki, 1970). Indusium

semu pada Adiantum merupakan pelebaran tepi daun yang melekuk ke bawah dan bukan
berupa selaput pelindung sejati seperti halnya pada marga Lindsaea (Jones, 1998).
Adiantum berukuran antara 30-120 cm dan sebagian besar diantaranya sensitif
terhadap perubahan kondisi lingkungan namun terdapat juga jenis yang tahan (Hoshizaki
and Moran, 2002). Adiantum banyak dijumpai tumbuh di tempat yang lembab seperti
halnya tumbuhan paku lainnya. Adiantum tidak menyukai sinar matahari langsung
ataupun tempat yang berangin karena daunnya yang tipis mudah kering dan terbakar
(Hoshizaki, 1970).
Letak spora

Tanaman paku suplir ini merupakan Tanaman paku terestial. Dimana tempat hidupnya
berada di atas tanah sebagai semak merumpun terdiri dari kumpulan tangkai daun yang
muncul dari permukaan tanah tempat menopang helai-helai daun tipis, sehingga
memberikan kesan rimbun dan menjuntai.
Pada paku ini, memiliki letak spora yang terletak pada bagian bawah daun yang
membentuk suatu kumpulan spora(sorus). sporangium yang terletak pada bagian bawah
daun ini dilindungi oleh indusium yang merupakan indisium semu. Indusium semu pada
Adiantum merupakan pelebaran tepi daun yang melekuk ke bawah dan bukan berupa
selaput pelindung sejati seperti halnya pada marga Lindsaea (Jones, 1998). Fungsi dari
indisium ini adalah untuk melindungi spora yang belum matang agar tidak hanyut
terbawa air yang melewati daun saat hujan. Dan juga melindungi spora yang belum
matang agar tidak jatuh sebelum waktu matangnya. Indisium pada paku Adiantum ini
akan membuka saat semua spora di dalamnya sudah matang sehingga nantinya spora dari

Adiantum ini dapat menyebar keluar sehingga skema ini disebut sebagai mekanisme
pengeluaran spora.
B. Paku Kawat (Lycopsida)
Berdasar literatur, paku kawat mencakup 1.000 spesies tumbuhan paku, terutama dari
genus Lycopodium dan Selaginella. Paku kawat banyak tumbuh di hutan-hutan daerah tropis dan
subtropis. Paku kawat menempel di pohon atau hidup bebas di tanah. Anggota paku kawat
memiliki akar, batang, serta daun sejati. Daun tumbuhan paku kawat berukuran kecil tersusun
rapat. Pada pengamatan kali ini, kami menemukan salah satu spesies dari genus Selaginella,
yaitu Selaginella sp. Berikut klasifikasi paku Selaginella sp:
Klasifikasi
Regnum

: Plantae

Devisi

: Pteridophyta

Kelas

: Lycopodinae

Ordo

: Selaginellales

Family

: Selaginellaceae

Genus

: Selaginella

Spesies

: Selaginella sp (Sumber : rimba.um.edu.my).


Berdasar hasil pengamatan, spesies ini mempunyai batang berbaring dan ada sebagian

berdiri tegak, bercabang menggarpu. Tumbuh membentuk rumput. Pada batang terdapat daundaun kecil yang berhadapan dan tesusun dalam empat baris.

Gambar paku Silaginella sp.


Berdasar literatur, dijelaskan bahwa sporangium terdapat pada sporofil yang tersusun
membentuk strobilus pada ujung batang. Strobilus berbentuk kerucut seperti konus yang terdapat

pada pinus. Oleh karena itu paku kawat disebut juga pinus tanah. Pada paku rane (Selaginella)
sporangium

terdiri

atas

dua

jenis,

yaitu

mikrosporangium

dan

megasporangium.

Mikrosporangium terdapat pada mikrosporofil (daun yang mengandung mikrosporangium).


Mikrosporangium dapat menghasilkan mikrospora yang akan tumbuh menjadi gametofit jantan
sedangkan

megasporangium

terdapat

pada

megasporofil

(daun

yang

mengandung

megasporangium). Megasporangium menghasilkan megaspora yang selanjutnya tumbuh menjadi


gametofit betina. Pada paku kawat, satu tumbuhan hanya memiliki anteredium saja atau
arkegonium saja. Akan tetapi berdasar hasil pengamatan, kelompok kami tidak menemukan
sporangium pada paku ini. Hal ini dimungkinkan karena umur tanaman yang masih kecil dan
jumlah yang kami temukan tidak banyak.

Sporangium belum terlihat di ujung batang

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa letak sorus pada paku epifit
bermacam-macam yaitu, sorus paku sarang burung terletak di pertulangan ental bagian bawah,
berwarna coklat tua, dan tersusun secara menyirip, letak sorus pada Drymoglossum piloselloides
(paku sisik naga) berada dibagian bawah daun, yaitu bagian ditepi ental yang tersusun
memanjang sehingga nampak seperti mengelilingi daun (ental), dan sorus yang menggerombol di
seluruh bagian sisi bawah daun sporofil pada paku tanduk rusa. Perbedaan letak sorus ini
dikarenakan perbedaan taksonomis pada masing-masing paku. Sedangkan pada paku kawat,
berdasar teori sporangium terletak pada sporofil yang tersusun membentuk strobilus pada ujung
batang.

DAFTAR PUSTAKA
Afriastini, J. J. 2003. Adiantum L. In: de Winter, W. P. and Amoroso, V. B.,
editors.

Plant

Resources

of

South-East

Asia

No.

15

(2)

Cryptogams

Ferns and Fern Allies. Bogor: PROSEA.


Hoshizaki, B. J. 1970. The Genus Adiantum in Cultivation (Polypodiaceae).
Hasar, A., & B. Kaban. 1997. Analisis Jenis Paku Epifit pada Kelapa Sawit (Elais gunensis) di
PTP Tanjung Garbus, Lubuk Pakam, Deli Serdang. Laporan Penelitian FPMIPA IKIP.
Medan..
Hoshizaki, B. J. and Moran, R. C. 2002. Fern Growers Manual. Revised and Expanded Edition.
Portland: Timber Press
Jones, D. L. 1998. Encyclopaedia of Ferns. Melbourne: Lothian Publishing
Company.
LIPI. 1980. Jenis-jenis Paku di Indonesia. Lembaga Biologi Nasional. LIPI. Bogor.
Patil, S., Patil, S., Dongare, M. 2013. The Genus Adiantum L. from Maharashtra: a Note
on Addition of Two Species for Maharashtra, India.
Raven, P.H., R.F. Evert dan S.E. Eichhorn. 1992. Biology of Plants. New York: Worth
Publishers
Richard, P. W. 1952.The Tropical Rain Forest an Ecological Study. Crambrige: At The
Crambrige University Press.
Rismunandar & Ekowati, M. 1991. Tanaman Hias Paku-pakuan. Jakarta: Penerbit Swadaya.
Slamet Prawirohartono. (2004). Sains Biologi. Jakarta: PT. Bumi Aksara Smith, G. M. (1955).
Cryptogamic
Botany : Vol II (Bryophytes and Pterydophytes), Second Edition. Mc Grow-Hill Book
Company. Inc. New York. p. 346-356
Tjitrosoepomo., Gembong. 1994. Taksonomi Tumbuhan (Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta).
Yogyakarta: UGM Press

Anda mungkin juga menyukai