Anda di halaman 1dari 12

ANATOMI IKAN NILEM (Osteochilus hasselti)

DAN IKAN LELE (Clarias batrachus)

Oleh:
Nama

: Audilla

Choriamurti
NIM
: B1J013153
Rombongan : V
Kelompok
:4
Asisten
: Ilham Amrulloh

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikan merupakan organisme akuatik yang memiliki organ yang
kompleks dan terdiri atas beberapa sistem organ yang saling bekerja
sama melakukan aktivitas hidup. Ikan juga termasuk anggota vertebrata
poikilotemik (berdarah dingin) yang hidup di air dan bernafas dengan
insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka
ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara
taksonomi,

ikan

tergolong

kelompok

paraphyletic

yang

hubungan

kekerabatannya masih diperdebatkan, biasanya ikan dibagi menjadi ikan


tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan
hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk
hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas
Osteichthyes). Ikan dalam berbagai bahasa daerah disebut iwak. Ikan
juga merupakan organisme akuatik yang memiliki organ yang kompleks
dan terdiri atas beberapa sistem organ yang saling bekerja sama
melakukan aktivitas hidup (Kimball, 1991).
Secara garis besar ikan yang terdapat di alam tebagi atas dua
group

yaitu

Agnatha

(Ikan

yang

tidak

memiliki

rahang)

dan

Gnathostomata (Ikan yang memiliki rahang). Kedua group ikan tersebuat


dikelompokkan ke dalam tiga kelas yaitu Kelas Cephalaspidomophi,
Condrichthyes, dan Osteichthyes. Achyar (1981), menyatakan bahwa ikan
apabila ditinjau dari morfologinya dapat dibagi menjadi tujuh bagian yaitu
bentuk tubuh, bentuk mulut, linnea lateralis, sirip, sungut, sisik, dan ciriciri lainnya. Sedangkan bagian tubuh lainnya, ikan dapat dibagi tiga
bagian

yaitu

kepala

(caput),

badan

(truncus),

dan

ekor

(cauda)

(Radiopoetro,1977). Persekeleton tulang keras, terbungkus oleh kulit yang


bersisik dan banyak mengandung kelenjar mukosa, berenang dengan
sirip, bernafas dengan insang (walaupun ada yang bernafas dengan paruparu). Ikan termasuk ovipar (beberapa ada yang vivipar maupuan
ovovipar), sedangkan fertilisasi yang terjadi adalah fertilisasi eksternal.
Ikan mempunyai gurat sisi (linea lateralis) yang berfungsi untuk
mengetahui besarnya arus dalam air, selain itu juga mempunyai
gelembung renang yang berperan sebagai alat keseimbangan naik turun
dalam air pada saat berenang.

Ikan nilem (Osteochilus hasselti) adalah salah satu dari berbagai


macam spesies dari pisces yang hidup di air tawar. Ikan ini biasanya
hidup di danau atau di sungai yang jernih. Makanan ikan ini adalah lumutlumutan dan tumbuhan pelekat serta plankton dan periphyton (zat-zat
yang menempel pada tumbuhan air). Ikan nilem dalam hidupnya
memerlukan banyak air yang mengandung oksigen terlarut dan cukup
unsur hara serta adanya air tempat periphyton menempel. Ikan nilem
mudah berkembang biak yaitu dengan memijah secara alami di tempat
yang berair jernih dan deras serta dasar perairannya berpasir. Pemijahan
biasanya pada musim penghujan, ikan Nilem dalam perkawinannya
memerlukan oksigen yang cukup dan permukaannya ditebari dengan
rumput. Telur menetas pada hari ketiga dan larva dikumpulkan empat
sampai lima hari.
Ikan lele (Clarias batrachus) adalah sejenis ikan yang hidup di air
tawar. Ikan ini memiliki permukaan tubuhnya yang licin, tidak bersisik,
agak pipih memanjang, kepalanya keras menulang di bagian atas,
dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong,
dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat
berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat
pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Terdapat
sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip dadanya.
Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut
yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae).
Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk,
sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang
tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan (Suyanto, 1991).
Alasan dipilihnya ikan nilem (O. hasselti) dan ikan lele (C.
batrachus) sebagai preparat dalam praktikum kali ini yaitu sebagai wakil
dari classis Pisces, karena ikan nilem mudah ditemukan dan susunan
tubuhnya mudah diamati serta ikan lele memiliki alat bantu pernapasan
berupa arborescent dan mudah ditemukan.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum struktur hewan kali ini adalah untuk
mengetahui morfologi dan anatomi pada ikan nilem (Osteochilus hasselti)
dan ikan lele (Clarias batrachus).

II. TINJAUAN PUSTAKA


Ikan nilem (Osteochilus hasselti) menurut Kimball (1992) dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
Phylum

: Chordata

Sub phylum : Vertebrata


Classis

: Pisces

Sub classis

: Toleostei

Ordo

: Ostaryophysi

Sub ordo

: Cyprinoidea

Familia

: Cyprinoidea

Genus

: Osteochilus

Spesies

: Osteochilus hasselti

Ikan nilem (O. hasselti) mempunyai bentuk tubuh yang hampir


sama dengan ikan mas. Ciri-ciri yang dimilikinya antara lain, badan agak
memanjang dan pipih, letak mulutnya agak di atas moncongnya. Memiliki
cara reproduksi yang sama pula dengan ikan mas (Radiopoetro, 1977).
Susunan tubuh ikan terdiri dari bagian luar dan bagian dalam.
Susunan tubuh ikan bagian luar terdiri dari kepala, badan, ekor, mulut,
cekung hidung, mata, tutup insang, sisik, gurat sisi, sirip perut, sirip dada,
sirip punggung, sirip belakang, dan sirip ekor. Sedangkan susunan tubuh
bagian dalam adalah saluran pencernaan, gelembung renang, kelenjar
pencernaan, insang, jantung, kelenjar kelamin, dan ginjal (Kimball, 1991).
Fungsi

organ

dalam

ikan

yaitu

gelembung

renang

(vasica

matatoria) sebagai alat keseimbangan naik turun di dalam air. Ginjal (ren)

sebagai tempat penyaringan urin. Usus (intestine) sebagai saluran


pencernaan,

tempat

penyerapan

sari-sari

makanan.

Ureter

untuk

menyalurkan urin (air seni) dari ginjal ke vesica urinaria. Iinsang sebagai
alat pernapasan (Kimball, 1991).
Sistem pencernaan pada ikan disusun oleh organ organ yaitu
usus yang depan sampai belakangnya terbentuk sama. Kantung empedu
berwarna kehijauan yang letaknya pada bagian depan organ abdomen,
tempat penyimpanan empedu. Saluran empedu adalah saluran yang
menghubungkan usus bagian duodenum. Hati atau hepar terletak masih
melekat pada usus. Limpa berwarna merah tua melekat pada mesentrum,
terletak pada gonad (Achyar, 1981).
Ikan lele (Clarias batrachus) menurut Soetomo (1989) dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
Phylum

: Chordata

Sub phylum : Vertebrata


Classis

: Pisces

Sub classis

: Toleostei

Ordo

: Ostaryophysi

Sub ordo

: Siluroidae

Familia

: Clariidae

Genus

: Clarias

Spesies

: Clarias batrachus

Ikan-ikan

marga

Clarias

dikenali

dari

tubuhnya

yang

licin

memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga
panjang, yang terkadang menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya
nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian
atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung
moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang
amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Terdapat sepasang patil,
yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip dadanya (Jauhari, 2005).
Ikan Lele mempunyai badannya yang bulat memanjang, bagian
badannya tinggi dan memipih ke arah ekornya, tidak bersisik serta licin
mengeluarkan lendir dan mempunyai alat tambahan respirasi yaitu
arboresent yang berfungsi untuk menyimpan oksigen pada saat di dalam
lingkungan yang kadar oksigennya sedikit. Kepalanya gepeng dan
simetris. Mulutnya lebar tidak bergigi. Sudut sudut mulut terdapat 4

pasang sungut (misai atau barble) sebagai alat peraba dan petunjuk,
yang diatas (superior) dan yang di bawah (inferior) (Soetomo,1989).
Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele
laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae).
Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk,
sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang
tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.Ikan lele bersifat
noktural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Ikan
lele pada siang hari berdiam diri dan berlindung ditempat-tempat gelap.
Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan (Suyanto, 1991).

III.

MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat-alat yang digunakan adalah bak preparat, pinset, sarung
tangan dan gunting bedah.
Bahan-bahan yang digunakan adalah ikan nilem ( Osteochilus
haselti ), ikan lele ( Clarias batrachus ) dan tissue.
B. Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1. Ikan dimatikan dengan jarum penusuk.
2. Ikan digunting dimulai dari lubang porus, kearah anterior sepanjang
medioventral tubuh ke arah depan sirip dada (dilakukan dengan hatihati sehingga tidak mengenai organ-organ yang ada di dalamnya).
3. Bagian yang telah dibedah tadi dibuka dengan menggunakan pinset
sehingga terlihat bagian belahan daging sebelah atas.
4. Pengguntingan dilanjutkan dari porus urogenitalis ka arah tubuh
bagian dorsal yang diteruskan ke arah anterior sampai ke tutup
insang.

5. Bagian-bagian dari tubuh ikan nilem dan ikan lele diamati, digambar
dan dicatat bagian-bagiannya sebagai data, untuk pengamatan
viscera, saluran pencernaan (usus) direntangkan dengan hati-hati.
6. Ekor ikan nilem dipotong secara melintang, kemudian diamati ototototnya, digambar dan dicatat bagian-bagiannya.
7. Alat respirasi tambahan ikan lele digambar , diamati dan dicatat.

B. Pembahasan
a. Ikan Nilem (Osteochilus hasselti)
Hasil pengamatan anatomi ikan nilem didapatkan hasil bahwa, ikan
nilem mempunyai tengkorak vertebre, penyokong sirip dan sisik yang
semuanya dari tulang ikan. Menurut Djuhanda (1982), lengkung insang
pada ikan nilem berupa tulang rawan yang sedikit membulat dan
merupakan tempat melekatnya filamen-filamen insang. Arteri branchialis
dan arteri epibranchialis terdapat pada lengkung insang di bagian basal
pada kedua filamen insang pada bagian basalnya. Tapis insang berupa
sepasang deretan batang-batang rawan yang pendek dan sedikit
bergerigi, melejat pada bagian depan dari lengkung insang. Ikan nilem
memiliki gelembung renang untuk menjaga keseimbangan di dalam air.
Sirip adalah suatu perluasan integument (pembungkus tubuh) yang
tipis yang disokong oleh jari-jari sirip. Fungsi sirip adalah untuk
mempertahankan kesetimbangan dalam air dan untuk berenang. Siripsirip pada ikan umumnya ada yang berpasangan dan ada yang tidak.
Sirip punggung (dorsal fin), sirip ekor (caudal fin), dan sirip dubur (anal
fin) disebut sirip tunggal atau sirip tidak berpasangan. Sirip dada

(pectoral fin) dan sirip perut (abdominal fin) disebut sirip berpasangan
(Jasin, 1989).
Sistem pencernaan pada ikan di mulai dari oesophagus yang
sangat pendek, karena hampir ronga mulut langsung menuju ke lambung
atau intestin. Pada bangsa ikan sangat berliku dan hampir memenuhi
rongga perut, dan bermuara ke anus. Hepar terdiri atas dua lobi, vesica
fellea dari hepar menuju ductus hepaicus kemudian bersatu dengan
ductus cyticus menjadi ductus choledocus yang bermuara ke duodenum.
Adapun yang dihubungkan dengan peritoneum ke tundus ventriculli. O.
hasselti mempunyai hati dan pankreas yang sulit dibedakan sehingga
disebut hepatopankreas (Radiopoetro, 1989). Ginjal yang gilik yang
terletak antara vesica pneumatica dengan tulang vertebrae. Cairan yang
mengandung sisa-sisa persenyawaan nitrogen dan hidrogen diambil dari
darah dalam ginjal akan ditampung ke dalam vesica urinaria melalui
ureter (Jasin, 1989).
Sistem ekskresi ikan nilem terdiri dari ginjal yang terletak diantara
gelembung renang yang disebut metanephros dan pronephros yang
terdapat diujung gelombang renang dan arahnya mendekati kepala.
Disamping ginjal terdapat juga vesika urinaria, ureter, dan muara sluran
kelamin. Anus disebut porus urogenitalis (Kriswantoro, 1986).
Sistem reproduksi ikan nilem adalah gonad yang berupa ovarium
pada ikan betina dan testis pada ikan jantan. Sel-sel yang dihasilkan oleh
gonad akan bermuara di sinus urogenitalis untuk di keluarkan. Ikan nilem
jantan terdapat sepasang testis yang panjang. Testis terletak ventral dari
ren. Ujung caudal mulai dari vas deferens yang bermuara ke dalam sinus
urogenitalis. Ikan nilem betina terdapat sepasang ovaria yang panjang.
Ovaria ini mempunyai rongga yang ke caudal melanjutkan diri ke dalam
oviduk yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis (Radiopoetro, 1977).
b. Ikan Lele (Clarias batrachus)
Hasil pengamatan praktikum ini didapatkan bahwa tubuh ikan lele
(Clarias batrachus) terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala (caput), badan
(truncus), dan ekor (cauda). Pada bagian mulut Ikan Lele terdapat barbell
inferior dan barbell superior yang fungsinya untuk mendeteksi pakan
yang ada disekitarnya. Ikan Lele juga mempunyai caudal fin, abdominal
fin, anal fin, dorsal fin, dan pectoral fin. Berbeda dengan ikan nilem, Ikan
Lele tidak mempunyai sisik di sepanjang tubuhnya (Suyanto, 1991).

Menurut Suyanto (1991), Ikan Lele mempunyai kepala pipih,


simetris dan dari kepala sampai punggung berwarna coklat kehitaman,
mulut lebar dan tidak bergerigi, bagian badan bulat dan memipih ke arah
ekor,

memiliki

patil,

serta

memiliki

alat

pernapasan

tambahan

(arborescent organ). Ikan ini memiliki kulit berlendir dan tidak bersisik
(mempunyai pigmen hitam yang berubah menjadi pucat bila terkena
cahaya matahari, dua buah lubang penciuman yang terletak dibelakang
bibir atas, sirip punggung dan dubur memanjang sampai ke pangkal ekor
namun tidak menyatu dengan sirip ekor, mempunyai senjata berupa patil
atau taji untuk melindungi dirinya terhadap serangan atau ancaman dari
luar yang membahayakan.
Sistem pencernaan pada ikan lele dimulai dari oesophagus yang
sangat pendek, karena hampir ronga mulut langsung menuju ke lambung
atau intestine ventriculus melengkung seperti huru. Ikan lele mempunyai
usus yang lebih pendek daripada ikan tawar lainnya, hal itu dikarenakan
ikan lele merupakan hewan omnivora, ia memakan hewan-hewan air
kecil, lumut, algae, siput, dan organisme yang mendiami dasar perairan.
Lambungnya relatif lebih besar dan panjang agar dapat mencerna
makanan dengan baik . Lele mempunyai jumlah hepar (hati) sepasang
(Soetomo, 1989).
Sistem ekskresi pada ikan Lele tidak terlalu jauh beda dengan ikan
air tawar lainnya. Ikan lele mempunyai sepasang ginjal yang menempel
pada bagian dorsal sebelah dalam, urine yang di hasilkan ginjal di alirkan
oleh ureter yang berjalan menuju belakang. Ureter kiri dan kanan
bertemu di bagian belakang menuju vesika urinaria dan dikeluarkan
melalui uretra yang bermuara pada kloaka (Soetomo, 1989).
Sistem reproduksi pada ikan betina adalah ovarium, sedangkan
pada ikan jantan adalah testis (klasper).

Gonad ikan lele jantan dapat

dibedakan dari ciri-cirinya yang memiliki gerigi pada salah satu sisi
gonadnya, warna lebih gelap, dan memiliki ukuran gonad lebih kecil dari
pada betinanya. Sedangkan, gonad betina ikan lele berwarna lebih
kuning, terlihat bintik-bintik telur yang terdapat di dalamnya, dan kedua
bagian sisinya mulus tidak bergerigi (Suyanto, 1991).
Ikan lele memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut
Arborescent organ yang merupakan membran yang berlipat-lipat penuh
dengan kapiler darah. Alat ini terletak didalam ruangan sebelah atas

insang. Sejarah hidupnya, lele harus mengambil oksigen dari udara


langsung, untuk itu ia akan menyembul kepermukaan air. Oleh karena itu
jika pada kolam banyak terdapat eceng gondok ikan ini tidak berdaya
(Achyar, 1981).

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Berdasarkan

tujuan

dan

pembahasan,

maka

dapat

diambil

kesimpulan sebagai berikut :


1.

Persamaan morfologi antara Ikan Nilem dan Ikan Lele adalah samasama memiliki bagian tubuh yang dapat dibagi menjadi kepala (caput),
badan (truncus), dan ekor (cauda).

2.

Ikan nilem dan ikan lele memiliki lima jenis sirip, sirip punggung
(dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (abdominal fin), sirip anus
(anal fin) dan sirip ekor (caudal fin)

3.

Sistem pencernaan pada ikan nilem dimulai dari oesophagus


langsung menuju lambung yang dibedakan menjadi dua bagian yaitu
pars cardiac yang lebar dan pyloric yang sempit dan bermura ke porus
urogenitalis, sedang pada ikan lele dimulai dari mulut, oesophagus,
gastrum, intestinum dan bermuara ke porus urogenitalis.

4.

Ikan lele memiliki struktur modifikasi organ respirasi yang dapat


membantu ikan lele hidup pada air yang miskin kandungan oksigen yang
disebut Arborecent.

5.

Sistem ekskresi pada ikan nilem dan ikan lele terdiri dari ren,
ureter, vesica urinaria dan porus urogenitalis.

6.

Ikan

lele

jantan

memiliki

klasper

sebagai

alat

bantu

perkembangbiakan.
B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini adalah untuk preparat sebaiknya
setiap kelompok disediakan

preparat masing-masing sehingga dapat

mengamati preparat tanpa terganggu dengan bergantian mengamati


preparat dengan kelompok lainnya serta dipilih preparat yang tidak
terlalu kecil agar mempermudah pengamatan.

DAFTAR REFERENSI
Achyar, M. 1981. Perikanan Darat. Masa Baru, Bandung
Djuhanda. 1982. Anatomi Dari 4 Spesies Hewan Vertebrata. Armico,
Bandung.
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan (Inveterbrata dan Vertebrata). Sinar
Jaya, Surabaya.
Jauhari, M.A. 2005. Penyediaan Induk dan Benih Bermutu serta Teknik
Pembesaran Ikan Lele
(Clarias sp.). Direktorat Jenderal perikanan Budidaya, Balai Budidaya
Air Tawar
Sukabumi.
Kimball. 1991. Biologi Jilid V. Erlangga, Jakarta.
Kriswantoro, M. 1986. Mengenal Ikan Air Tawar. Karya Bani, Jakarta.
Radiopoetro. 1989. Zoology. Erlangga, Jakarta.
. 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Soetomo, M. 1989. Teknik Budidaya Lele. Algensindo, Bandung.
Suyanto, S.R. 1991. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya, Jakarta.