Anda di halaman 1dari 33

Metode Pelaksanaan Flyover Balaraja

1.

Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan ini meliputi persiapan lokasi proyek serta penyediaan sarana dan prasarana, pembersihan
lokasi proyek, dan persiapan-persiapan sebelum melaksanakan pekerjaan lebih lanjut. Tujuan
pekerjaan persiapan ini adalah mengatur peralatan, bangunan pembantu, dan fasilitas lainnya
sedemikian rupa sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan efesien, lancar, aman dan
sesuai rencana kerja yang disusun. Sedangkan untuk jalan kerja, karena lokasi proyek yang berada
di tengah kota, dan di sepanjang jalan maka tidak dibutuhkan lagi jalan kerja.

Gambar 4.30 Breakdown Pekerjaan Persiapan


Beberapa hal pokok yang harus dilaksanakan dalam masa persiapan tahap satu ini adalah sebagai
berikut:

Menentukan lokasi lokasi kantor / direction kit, stockyard, dll sehingga dapat terorganisir
dengan baik.

Meninjau ulang lokasi proyek agar kemungkinankemungkinan terjadinya kesalahan dalam


perencanaan tahap pekerjaan dapat di hindarkan.

Menentukan alat angkut yang akan di pakai, baik untuk proses pengangkutan maupun untuk
proses pengupasan lahan, dan pengurugan lahan.

Penyediaan alat alat kerja yang akan dibutuhkan sesuai dengan kondisi / medan kerja,
sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan dengan efisien serta ekonomis.

a.

Penyediaan sarana dan prasarana

Pekerjaan ini meliputi :


1)

Penyediaan Air bersih dan daya listrik untuk bekerja.

2)
Air yang digunakan harus bersih, bebas dari bau, Lumpur, minyak, dan bahan kimia lainnya
yang merusak. Penyediaan air harus sesuai dengan persetujuan Direksi / Perencana.
3)

Penyediaan rambu-rambu keselamatan, maupun tanda peringatan lainya.

4)
Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi sebagai pembuangan air yang
ada sesuai dengan petunjuk/persetujuan Direksi.

b.

Stockyard

Stockyard telebih dahulu disiapkan sebelum pelaksanaan proyek dimulai. Stockyard ini digunakan
untuk menyimpan material, memarkir kendaraan proyek, melakukan pabrikasi tulangan maupun
bekisting. Lokasi stockyard harus mudah dijangkau dari lokasi proyek, dan harus pula cukup luas
untuk dapat melakukan semua aktivitas tersebut di atas.
Stockyard pada proyek North Java Corridor Flyover Paket I Balaraja ini ditempatkan tidak jauh dari
lokasi pekerjaan, dan di stockyard pula sekaligus ditempatkan mess pekerja, laboratorium, pabrikasi
tulangan maupun pabrikasi bekisting. Stockyard ini pun dilengkapi dengan wc untuk pekerja, dan
sebuah musholah.

Gambar 4.31 Situasi di dalam Stockyard, dan Sedang Dilakukan Pabrikasi Tulangan Pondasi

2.

Pekerjaan Pendahuluan

Pekerjaan pendahuluan meliputi pengukuran, land clearing, penggalian, pengurugan, pemadatan


tanah. Berikut uraian pekerjaan pendahuluan yang kami amati di lapangan.
a.

Pengukuran dan Pematokan

1)
Kegiatan ini meliputi pekerjaan pengukuran untuk pemasangan patok-patok sehingga
membentuk garisgaris yang sesuai dengan gambar dan harus memperoleh persetujuan tim
pengawas sebelum memulai pekerjaan. Penentuan patok-patok di lapangan berdasarkan gambar
rencana disebut setting out.

2)
Kontraktor bertanggung jawab atas kesempurnaan dan kebenaran pengukuran, kebenaran
posisi level dan garis untuk keseluruhan pekerjaan.
3)
Tim pengawas akan memberikan titik acuan sebagai dasar pengukuran titik koordinat, batas
batas pekerjaan dan acuan untuk ketinggian. Seluruh titik ukur sehubungan dengan pekerjaan ini di
dasarkan pada ukuran setempat, yaitu titiktitik ukur yang ada di lapangan proyek seperti yang
direncanakan dalam gambargambar dan disetujui oleh team pengawas.

Gambar 4.32 Pekerjaan Setting Out


4)
Atas tanggungan sendiri kontraktor harus mengadakan survei dan pengukuran tambahan yang
diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan.
5)
Setiap tanda yang di buat oleh tim pengawas ataupun oleh kontraktor harus di jaga baikbaik,
bila terganggu atau rusak harus diperbaiki oleh kontraktor atas tanggungan sendiri.
b.

Land Clearing (Pembersihan dan Kupasan)

Pekerjaan pada royek ini hampir tidak ada pekerjaan land clearing, karena area kerja sudah cukup
bersih, hanya saja pada bagian pekerjaan widening / pelebaran jalan, existing butuh untuk dibongkar.

Gambar 4.33 Pembersihan dan Kupasan Existing


1)

Semua tanaman, semak-semak dan pohon-pohon di bersihkan sampai ke akar-akarnya.

2)
Pada daerah rawa-rawa atau sawah-sawah basah, lumpur harus digali dan diangkut keluar
lokasi sampai didapat tanah yang baik sesuai petunjuk tim pengawas.
3)

Lapisan kupasan yang perlu dibersihkan dan dikupas setebal 50 cm.

4)
Bekas- bekas hasil kupasan, rumput, tanaman, semak-semak, pohon-pohon, lumpur, dibuang
dan diangkut ke luar area proyek.
5)
Cara penimbuanan material bekas kupasan harus rapi dan sesuai dengan persetujuan tim
pengawas.
Pekerjaan ini mencakup penggalian, penimbunan dan pemadatan atau pembuangan material sisa
atau pembuatan stok tanah dari badan jalan sesuai dengan spesifikasi dan memenuhi garis,
kelandaian dan penampang melintang yang ditujukan dalam gambar atau ditentukan oleh tim
pengawas.
3.

Pekerjaan Pembesian Pondasi dan Kolom

Tualnagn untuk pondasi dan kolom terleboh dahulu dilakukan di stockyard, sebelum pekerjaan
pengeboran`pondasi dimulai.. Sehingga ketika pengeboran selesai, tulangan hanya tinggal
ditempatkan / erection pada galian pondasi, dengan kata lain, pekerjaan pembesian untuk pondasi
dan kolom dikerjakan overlapping dari pengeboran pondasi. Hal ini membuat pekerjaan lebih efisien.
Hanya saja akan dibutuhkan perlakuan khusus dalam penyimpanan tulangan sebelum
dipasang/ditempatkan, hal ini untuk mencegah rusaknya tulangan akibat korosi. Pekerjaan
pembesian yang meliputi perhitungan diameter tulangan, jarak antar tulangan dan sebagainya harus
memenuhi syaratsyarat dari pembesian sebagai berikut :
a.
Persyaratan Peraturan Beton Indonesia 1971 seperti panjang kait, panjang penyaluran,
panjang stek dan jarak antar tulangan.
b.
Pengikatan tulangan harus kuat, supaya dalam pengecoran tidak mengalami pergeseran
tempat. Pengikatan dilakukan dengan menggunakan kawat baja dan las listrik.
1.

Untuk menjaga tercapainya selimut beton yang diinginkan maka pada tulangan diberi spacer
di empat sisi, sepanjang tulangan, dengan jarak 2000 mm.

2.

Pengelasan harus memenuhi ketentuan perencana, yaitu harus sesuai dengan Structural
Welding Code Reinforced Steel. Menggunakan electrode E90xx, dan saat pengelasan, tidak
boleh merusak batang tulangan utama.

3.

Pengerjaan tulangan spiral harus diperhatikan secara seksama, sesuai dengan gambar
rencana, dan disambungkan dengan erat pada tulangan utama.

4.

Pemasangan tulangan harus benar-benar sesuai dengan gambar rencana serta daftar
pembesian yang dibuat oleh kepala pelaksana yang sudah disetujui oleh konsultan pengawas,
kecuali ditentukan lain ataupun ada revisian desain.

Gambar 4.34 Breakdown Pekerjaan Pembesian


Pekerjaan pembesian meliputi antara lain :
a)

Membuat bestart (daftar memotong besi)

Tahap ini merencanakan daftar pemotongan besi sesuai dengan gambar rencana dan besi di
lapangan.
b)

Memotong tulangan sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan

Memotong tulangan harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai bestart dan diupayakan supaya
tidak terjadi kesalahan juga diupayakan agar sisa potongan seminim mungkin. Harga besi tulangan
sangatlah mahal, dan apabila terjadi kesalahan saat pemotongan akan membuat potongan tidak
dapat digunakan lagi. Sedangkan besi sisa potongan harganya jatuh di pasaran, sehingga hal ini
akan membuat kerugian.

c)

Membentuk kait dan sengkang, dan tulangan spiral

Meliputi pembentukan kait, sengkamg, dan tulangan spiral. Pekerjaan ini membutuhkan alat
pembentuk seperti bar bender, ataupun pembengkok tulangan tradisional yang dibuat sendiri. Batangbatang tulangan dipotong sesuai dengan kebutuhan, kemudian dibentuk dengan bar bender sesuai
dengan bentuk di gambar.
d)

Menyusun tulangan pada tempatnya sesuai dengan gambar rencana

Setelah komponen-komponen tulangan telah dibuat, kemudian disusun sesuai dengan gambar.
Terlebih dahulu tulangan-tulangan memanjang dipasangkan dengan tulangan melingkar di kedua
ujungnya, kemudian tulangan-tulangan spiral dipasangkan pada bentangan tulangan memanjang.
Tulangan-tulangan spiral tersebut diletakkan sesuai gambar, perlu diperhatikan rapat renggang
tulangan spiral agar sesuai dengan gambar rencana. Selesai tulangan-tulangan ditempatkan tepat
pada posisinya, sesuai dengan gambar, maka tulangan tersebut diikat dengan las.
e)

Mengikat tulangan yang berhubungan satu sama lain dengan dilas.

Pengawas terlebihn mengecek tulangan pondasi maupun kolom yang telah dirakit dan kemudian bila
telah disetujui, maka kemudian tulangan tersebut dilas pada beberapa titik sehingga tidak terlepas
dari posisinya.
Memulai pekerjaan pembesian, sebelumnya kepala pelaksana harus membuat daftar rencana
pembesian yang mendetail berdasarkan gambar rencana konstruksi yang lengkap, seperti diameter
tulangan, panjang tulangan, banyak tulangan yang dibutuhkan, panjang bengkokan, jarak antar
tulangan, tempat penghentian dan penyambungan tulangan.

Gambar 4.35 Pekerjaan Pemasangan Spiral


Pekerjaan pemotongan dan pembengkokan tulangan dilakukan di stockyard. Pekerjaan ini
memerlukan gambar konstruksi dan daftar rencana pembesian karena kebutuhan tulangan yang
bervariasi.
Mempertimbangkan tingginya harga besi tulangan, maka pekerjaan pemotongan dan pembengkokan
tulangan harus diusahakan se-efisien mungkin dengan mengusahakan agar sisa potongan tulangan
sesedikit mungkin. Oleh karena itu pekerja dituntut mengusahakan pemanfaatan sepenuhnya dari
batang besi tulangan, dan meminimalisir potongan sisa tulangan yang tidak berguna.

4.

Pekerjaan Drainase

Saluran draiase yang digunakan pada proyek ini adalah:


a.

Saluran dari pasangan batu

Saluran ini menggunakan pasangan batu dengan perekat berupa mortar (campuran semen, pasir dan
air), dengan pentup saluran berupa pelat-pelat kecil dari beton yang dicetak ditempat.
b.

Reinforced Concrete Pipe (RCP)

Perlu diperhatikan ketelitian dan ketepatan elevasi dalam pekerjaan drainase terutama pada bagian
yang menggunakan RCP. Pemasangan RCP harus tepat pada elevasi yang ditentukan pada gambar
rencana, karena jika terjadi kesalahan akan membuat sistem drainase malah tidak berfungsi. Cek dan
ricek keseuaian elevasi pada gambar rencana dan aktual sebelum RCP diletakkan pada lantai kerja
harus terus dilakukan.

Gambar 4.36 Breakdown Pekerjaan Drainase


Pekerjaan drainase meliputi:
1)

Pekerjaan penggalian

Pekerjaan saluran drainase pada section widening, dilakukan bersamaan dengan penggalian dan
kupasan eksisting untuk pekerjaan widening. Hanya saja galian untuk saluran drainase lebih dalam
dibandingkan dengan galian widening. Pekerjaan penggalian dilakukan dengan alat backhoe, dimana
pada pekerjaan besar, backhoe lebih efisien dibanding dengan tukang/tenaga manusia.
2)

Pemasangan / erection RCP

Pemasangan pipa saluran dibantu dengan backhoe. RCP diletakkan diatas lantai kerja, dengan
diberikan beton decking sebagai alas atau spacer antara LC dan RCP. RCP diletakkan sedemikian
rupa, disusun sepanjang segmen kerja yang sebelumnya telah dibuat bekisting beton bedding
sepanjang peletakan RCP. Sambungan-sambungan tiap segmen kemudian direkatkan dengan
adukan mortar,sehigga tidak terjadi kebocoran saat saluran RCP dioperasikan nanti. Sedangkan
untuk menjaga posisi RCP pada letaknya, RCP dicor beton bedding yang merekatkan antara LC dan
RCP. Tinggi beton bedding sedikit lebih tinggi dari beton decking, sehingga sebagian tubuh RCP
terendam dalam coran beton bedding.

Gambar 4.37 Pemasangan RCP pada Saluran dengan Alat Backhoe


3)

Pekerjaan saluran pasangan batu

Secara prinsip pekerjaan ini dilakukan sama seperti halnya pengerjaan pasangan batu lainnya. Batu
disusun dan direkatkan dengan mortar sedemikian rupa membentuk diding dan lantai saluran di
sepanjang jalur rencana saluran. Perlu diperhatikan dalam pekerjaan ini adalah ketepatan elevasi
rencana saluran, agar kemiringan saluran sesuai dengan kemiringan rencana, sehingga saluran
dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya.
4)

Pekerjaan man hole

Man hole adalah lubang yang akan digunakan untuk perawatan saluran drainase saat dioperasikan.
Lubang ini menjadi tempat masuknya orang yang akan melakukan pengecekan dan pembersihan
saluran. Dimensi lubang ini pun tidak terlalu besar, hanya direncanakan untuk fit terhadap tubuh
orang dewasa sehingga dapat masuk ke dalam saluran. Dinding man hole dibuat dari susunan
batako.
Yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan pemasangan RCP adalah:
1)

Pemasangan pipa harus akurat menurut elevasi level, dan kesebarisan.

2)

Pastikan penyambungan pipa baik.

3)
Pengurugan kembali harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah pergeseran maupun
kerusakan pada pipa.
4)

Dasar parit harus cukup keras/kuat untuk menahan pipa diatasnya.

5.

Pekerjaan Widening / Pelebaran Jalan

Pekerjaan widening / pelebaran jalan terlebih dahulu dilakukan pada proyek ini, agar existing dapat
digunakan untuk ruang kerja,sehingga tidak mengganggu lalulintas sekitar saat pekerjaan konstruksi
dilaksanakan. Pekerjaan widening disini sebenarnya bukan pekerjaan jalan baru, melainkan
menambah dimensi melintang dari jalan yang sudah ada.

Gambar 4.38 Breakdown Pekerjaan Widening


a.

Pengupasan tanah

Pekerjaan ini meliputi pengupasan tanah asli, maupun tanah jelek yang tidak memenuhi spesifikasi
sebagai subgrade. Pengupasan dilakukan dengan backhoe, karena akan lebih efisien mengingat
lapisan tanah dan existing yang dikupas cukup keras, dan volume pekerjaan yang besar.
b.

Pemadatan

Material timbunan dipadatkan hingga mencapai kepadatan kering masksimum, dan membentuk profil
sesuai dengan yang diinginkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepadatan material timbunan
adalah:
1)

Karakteristik material timbunan

2)

Kadar air material timbunan

3)

Jenis alat pemadatan yang digunakan

4)

Massa (berat) alat pemadatan yang digunakan.

5)

Ketebalan lapisan material yang dipadatkan

6)

Jumlah lintasan yang diperlukan.

c.

Lapis pondasi bawah

Fungsi dari lapis pondasi bawah adalah:


1)

Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung dan mendistribusikan beban roda.

2)

Memberi platform bagi penghamparan lapis pondasi atas.

3)

Untuk mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapis pondasi.

d.

Lapis Pondasi Atas

Lapis pondasi atas merupakan perletakan dari lapis permukaan. Sama halnya seperti lapis pondasi
bawah, lapis pondasi atas juga berfungsi untuk mendistribusikan beban lalulintas dari lapis
permukaan.
e.

Lapis Permukaan

Merupakan hamparan pekrerasan dengan bahan pengikat aspal, sebagai lapisan permukaan jalan.
Fungsi lapis permukaan:
1)

Sebagai bahan perkerasan untuk menahan beban roda.

2)

Sebagai lapisan rapat air untuk melindungi badan jalan dari kerusakan akibat cuaca.

3)

Sebagai lapisan aus (Wearing Course).

Gambar 4.39 Penghamparan Material Base B dan Pemadatan dengan Roller

6.

Pekerjaan Sub-Structure

Pekerjaan sub-structure meliputi :


1.

a.

Pekerjaan Pondasi

Peralatan yang digunakan dalam pekerjaan pondasi ini adalah:


1)

Mesin bor berupa Boring Machine Crane Mounted.

2)

Mata bor / Drilling Tool berbagai jenis dan ukuran.

3)

Casing

4)

Tangki penampung campuran bentonite

5)

Mesin pencampur mesin bentonite.

6)

Pompa sentrifugal

7)

Selang

8)

Pipa tremie (Diameter 25 cm)

9)

Corong Cor (Diameter atas 45 cm, dan diameter bawah 25 cm)

10) Kait tulangan


11) Mesin las listrik
Cairan bentonite diperlukan dalam proses pengecoran untuk mencegah terjadinya keruntuhan dinding
lubang galian saat dilakukan pengeboran. Keruntuhan biasanya terjadi akibat air tanah yang
menekan untuk mengisi lubang galian, akhirnya mendesak tanah untuk runtuh. Apalagi pada
pekerjaan galian bor yang dalam, dam muka air yang tinggi, serta jenis tanah yang berbutir / granular.
Jika hal ini terjadi tentu akan tidak menguntungkan, karena mengganggu pekerjaan. Cairan bentonite
yang memiliki berat jenis yang lebih besar daripada air, akan menahan air untuk tidak masuk dalam
lubang galian, sehingga tanah di sekeliling lubang galian tidak akan runtuh. Cairan bentonite didapat
dari campuran semen bentonite dengan air dengan ketentuan 35 kg Bentonite dicampur dengan 1000
liter air. Cairan bentonite dicampur pada alat khusus yang telah ditempatkan di lapangan milik PT.
Indopora, setelah pencampuran dilakukan, cairan bentonite ditampung dalam tangki besar. Terdapat
2 buah tangki besar di lapangan untuk menampung cairan bentonite, sehingga pada waktu
dibutuhkan saat pengeboran, cairan bentonite tersebut tinggal dialirkan dengan sistem gravitasi
melalui pipa-pipa yang disambungkan ke tangki. Demikian pula setelah cairan bentonite selesai
digunakan kembali, akan dipompa menuju tangki penampungan.
Pondasi yang digunakan pada proyek Pembangunan North Java Corridor Flyover Paket 1 Balaraja
Flyover adalah pondasi tiang bor, dengan dimensi sebagai berikut:

POSITION

LEGTH (m)

DIAMETER (mm)

A1 LEFT

12

1800

A1 CENTER

12

1800

A1 RIGHT

12

1800

P1 LEFT

18

1500

P1 RIGHT

18

1500

P2 LEFT

20

1500

P2 RIGHT

20

1500

P3

21

2500

P4

29

2500

P5

29

2500

P6 LEFT

18

1500

P6 RIGHT

28

1500

P7 LEFT

23

1500

P7 RIGHT

23

1500

P8 LEFT

20

1500

P8 RIGHT

20

1500

P9 LEFT

20

1500

P9 RIGHT

20

1500

A2 LEFT

18

1800

A2 CENTER

18

1800

A2 RIGHT

18

1800

Tabel 4.3 Data Kedalaman dan Diameter Pondasi Bored Pile


Pondasi tiang bor adalah pondasi yang dibangun dengan menggali tanah terlebih dahulu, yang
berpenampang lingkaran lalu diisi dengan tulangan dan dicor dengan beton. Pondasi tiang bor
diklasifikasikan sebagai pondasi dalam.
Pada proyek pembangunan North Java Corridor Flyover Paket 1 Balaraja Flyover ini, jenis pondasi
tiang bor digunakan sebanyak 6 titik dengan diameter 1800 mm, 12 titik dengan diameter 1500 mm,
dan 3 titik dengan diameter 2500 mm, dan dengan kedalaman 12 m s.d. 29 m. Pondasi ini
menggunakan beton kelas B-2 dengan mutu K-300.
Perlu diperhatikan urutan pekerjaan tiang saat pekerjaan pengeboran. Pekerjaan tiang yang satu
sengaja diloncat, tidak berurutan berdasarkan nama tiang. Hal ini dimaksudkan agar pada saat
pengeboran selanjutnya tidak terjadi keruntuhan akibat gangguan tegangan tanah yang diakibatkan
pengeboran sebelumnya.

Gambar 4.40 Breakdown Pekerjaan Pondasi Bored Pile


Berikut adalah langkah-langkah pelaksanaan pekerjaan pondasi di lapangan:
1)

Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan persipan dilakukan sebelum melakukan prosedur penginstalan Bored Pile. Pekerjaan
persiapan diantaranya meliputi persiapan lahan seperti pemetaan lahan dengan menggunakan alatalat theodolit, proses ini dilakukan sebelum alat-alat berat dimasukkan ke lapangan, karena akan sulit
jika melakukan pemetaan setelah alat-alat berat itu masuk ke lapangan. Pemetaan dilakukan untuk
menentukan letak pemasukan alat-alat berat ke lapangan.
Guna meletakkan silo bentonite yang bobotnya sangat berat, maka dibuat landasan berupa pelat
beton dengan tebal 20 cm seluas perletakan silo, apabila diperlukan, maka akan dipasang pelat-pelat
baja. Tujuannya untuk menopang alat-alat berat agar tidak ambles masuk ke tanah apabila daya
dukung tanah di lapangan tidak cukup baik, namum karena pada proyek ini pekerjaan pengeboran
dilakukan di atas existing berupa perkerasan aspal, maka hal itu tidak diperlukan. Persiapan lahan
juga terdiri dari pembersihan lahan, seperti misalnya pembersihan batu-batu besar yang ada di
lapangan, penebangan pohon-pohon yang mengganggu di lapangan.
2)

Persiapan Bentonite Mix

Terlebih dahulu dipersiapkan alat-alat yang mendukung pekerjaan tersebut sebelum pekerjaan bored
pile dimulai. Salah satunya adalah bentonite mixing plant. Bentonite mixing plant terdiri atas beberapa
bagian, yakni:
(a) Mixing tank
(b) Silo

(c)

De-sanding tank

(d) Pompa sentrifugal


(e)

Pipa baja

Seluruh alat tersebut didatangkan, kemudian dipasang dan diletakkan sesuai site plan yang telah
dibuat sehingga memungkinkan berlangsungnya siklus bentonite.

Gambar 4.41 Bentonite Mixing Plant

Gambar 4.42 Bentonite Mixing Tank


Pekerjaan selanjutnya setelah bentonite mixing plant terpasang adalah proses pencampuran cairan
bentonite. Cairan bentonite terdiri atas bubuk bentonite dan air, keduanya dicampur dalam mixing
tank.

Gambar 4.43 Siklus Bentonite dalam Proses Bored Pile


Cairan bentonite yang telah tercampur kemudian dialirkan ke silo. Silo merupakan tangki besar
tempat menyimpa bentonite sampai digunakan untuk bored pile. Bentonite kemudian dialirkan ke
lubang galian selama pelaksanaan pengeboran. Cairan bentonite yang telah selesai digunakan
kemudian dipompa menuju de-sanding tank, disana cairan bentonite dicek apakah masih bisa di
gunakan kembali atau tidak. Bentonite yang masih memenuhi spek kemudian dipompa kembali ke
dalam silo, jika tidak maka bentonite dibuang dengan mobil tangki.

Property Units

When
Slurry
Introduce

During
Concret
e in Hole

Resu
lt of
the

Test Method

test

10,10
10,86

10,10
11,79

10,8

Density
Balance

max 3%

max 3%

Sand Cone

28 45

28 45

32,2

Marsh Cone

8 11

8 11

pH paper or
meter

Density (KN/m3)

Sand content (%)

Viscosity (sec per


quart)

pH

Tabel 4.4 Spek Bentonite dan Contoh Hasil Pengujian


3)

Pengeboran

Pekerjaan pengeboran dapat dilakukan setelah pekerjaan persiapan lahan selesai. Pengeboran ini
bertujuan untuk melakukan pengecoran Bored Pile nantinya. Pekerjaan pengeboran ini harus
diparalel dengan pekerjaan pembuatan / perakitan tulangan Bored Pile. Hal ini supaya jangan sampai
tanah sudah di bor, tapi ternyata tulangannya masih belum siap. Tanah pada lubang pondasi akan
rusak, jika pekerjaan tertunda terlalu lama. Hal ini disebabkan karena hujan atau getaran akibat lalulintas di atasnya. Kerusakan pada lubang galian akan memerlukan pekerjaan pengeboran lagi, yang
memaksa kita untuk mengeluarkan biaya lagi. Hal ini sangat tidak efektif, menghabiskan waktu dan
biaya oleh karena itulah diupayakan pengeboran, pemasangan tulangan, dan pengecoran dilakukan
dalam interval waktu yang berdekatan (1 hari pekerjaan). Pengeboran dilaksanakan setelah
rangkaian tulangan telah siap dan pihak ready mix-nya juga telah siap.
Pengeboran dilakukan dengan mesin Boring Machine Crane Mounted. Mesin ini disebut demikian,
karena berupa mesin bor yang ditempelkan pada crane. Pengeboran dimulai dengan menyetel alat
pada titik-titik yang telah direncanakan. Mencari titik-titik koordinat itu di lapangan dapat dilakukan
dengan menggunakan alat ukur theodolit, caranya dari titik benchmark di lapangan / titik patok, yang
didapat ketika melakukan survey, atau penggambaran denah lapangan, dari titik tersebut kita lakukan
tembakan dengan jarak dan sudut yang telah dicari dalam perhitungan, sehingga didapatkan titiktitik pengeboran dilapangan.
Pengeboran di lapangan dilakukan di atas existing yang berupa perkerasan aspal, sehingga pada
tahap awal digunakan mata bor (drilling tool) yang dapat memecahkan batu / tanah keras, yakni rock
auger. Pengeboran dengan rock auger dilakukan sampai didapat lapisan tanah, kemudian digunakan
drilling tool untuk tanah biasa, kemudian sebelum mencapai kedalaman yang diinginkan dipasang
casing pada galian. Casing adalah pipa yang mempunyai ukuran diameter dalam kurang lebih sama
dengan diameter lubang bor. Fungsi casing adalah untuk melindungi dinding galian dari keruntuhan
saat pengeboran dilakukan. Terlebih pada dinding bagian atas galian, yang terpengaruh oleh aktivitas
mesin bor (getaran yang ditimbulkannya) saat pengeboran dilakukan. Cara pemasangan casing
adalah diangkat dan dimasukkan pada lubang bor, dimana memasukannya ada berbagai cara
dengan di jacking atau vibration.

Cairan bentonite kemudian dialirkan ke dalam galian, setelah casing terpasang. Cairan bentonite dan
casing nantinya akan berfungsi mencegah keruntuhan tanah di sekitar dinding galian saat
dilaksanakan pengeboran. Pembersihan lubang kemudian dilakukan setelah pemasangan casing
selesai, yakni dengan mengambil tanah dan Lumpur dari dasar lubang dan kemudian dibuang.
Proses pembersihan ini menggunakan alat Cleaning Bucket. Pengeboran kemudian dilanjutkan
kembali dengan drilling tool untuk tanah keras (dilengkapi keranjang) sampai kedalaman yang
ditentukan. Demikian proses pengeboran dilakukan untuk setiap titik hingga mencapai tanah keras.
Pengecekan apakah kedalaman lubang bor sudah mencukupi dilkukan dengan menggunakan cara
manual yaitu mengikatkan pemberat pada sebuah pita ukur dan menjatuhkanya kedalam lubang
hingga terasa antukan pada pemberat tersebut. Setelah dipastikan pengeboran sudah mencapai
kedalaman yang ingin dicapai, tanah hasil pengeboran perlu juga dichek dengan data hasil
penyelidikan terdahulu, apakah jenis tanah adalah sama seperti yang diperkirakan dalam
menentukan kedalaman tiang bor tersebut. Ini perlu karena sampel tanah sebelumnya umumnya
diambil dari satu dua tempat yang dianggap mewakili. Tetapi dengan proses pengeboran ini maka
secara otomatis dapat dilakukan prediksi kondisi tanah secara tepat, satu persatu pada titik yang
dibor.
Tahap berikutnya setelah proses pengeboran dan pemasangan casing dilakukan adalah pemasangan
tulangan. Penulangan harus disambung di lapangan, karena pondasi terlalu dalam dan panjang
tulangan tidak memungkinkan dibuat tanpa sambungan . Hal ini membuat pengangkatan dilakukan
dengan bertahap.

Gambar 4.44 Pekerjaan Pengeboran


4)

Peletakan / Erection Tulangan

Peletakan tulangan pada galian pondasi dimulai dengan pengangkutan tulangan dari pabrikasi di
stockyard ke lokasi pekerjaan. Pengangkutan dilakukan dengan truck trailer.
Kedalaman pondasi yang dikerjakan di lapangan dapat mencapai 29 meter, sedangkan tulangan tidak
memungkinkan untuk dibuat menerus sepanjang itu, maka dibuat sistem tulangan segmen per
segmen yang dapat disambung. Hal ini mengakibatkan erection tulangan harus dilakukan bagian
perbagian yang kemudian disambung dengan las di bagian atas. Sambungan harus dibuat overlap
yang memenuhi syarat 40D s/d 60D. Pengangkatan tulangan degan crane dibantu dengan alat
spider. Penggunaan Spider dimaksudkan agar menjaga bentuk diameter tulangan agar tidak rusak
akibat gaya yang ditimbulkan ikatan seling. Berikut rincian pekerjaan erection di lapangan.

Gambar 4.45 Pengangkatan Tulangan dengan Crane Menggunakan Spider

Gambar 4.46 Pekerjaan Erection Tulangan


5)

Pengecoran Beton pada Lubang Pondasi

Proses selanjutnya setelah proses pemasangan tulangan baja adalah pengecoran beton. Pekerjaan
ini merupakan bagian yang paling kritis yang menentukan berfungsi tidaknya suatu pondasi,
meskipun proses pekerjaan sebelumnya sudah benar, tetapi bila pada tahapan ini gagal maka gagal
pula pondasi tersebut secara keseluruhan.
Pengecoran disebut gagal jika lubang pondasi tersebut tidak terisi benar dengan beton, misalnya ada
yang bercampur dengan galian tanah atau segresi dengan air, tanah longsor sehingga beton mengisi
bagian yang tidak tepat.
Air tanah yang memenuhi lubang pondasi menyebabkan pengecoran memerlukan alat bantu khusus,
yaitu pipa tremie. Pipa tersebut mempunyai panjang yang sama atau lebih besar dengan kedalaman
lubang yang dibor.
Alat alat yang digunakan dalam proses pengecoran pondasi:
1.

Pipa tremie

2.

Corong

3.

Penjepit pipa / tremie pipe holder

4.

Casing baja silinder

Langkah-langkah pekerjaan pengecoran:

a)

Setting Alat Pengecoran

Selesai lubang galian dibor, kemudian dilakukan persiapan alat-alat pengecoran. Pipa tremie
dimasukkan perlahan ke dalam lubang galian dengan bantuan crane, segmen per segmen. Suatu
segmen pipa masuk ke dalam galian, kemudian dijepit pada mulut lubang, kemudian segmen lainya
diangkat dan disambungkan pada segmen yang dijepit tadi. Penjepit kemudian dilepas, setelah pipa
tersambung dan dimasukkan kembali ke dalam galian. Hal yang sama dilakukan selanjutnya sampai
pipa tremie masuk pada kedalaman yang diinginkan, dan pipa tremie kembali dijempi pada mulut
galian agar tidak jatuh seluruhnya ke dalam galian. Selesai pipa tremi dipasang, corong untuk
pengecoran pun dipasang di atas pipa tremie. Posisi pipa harus diperhatikan agar pipa tremie berada
pada posisi center dari galian, hal ini agar distribusi campuran beton yang dicor dapat merata di
semua bagain galian pondasi.

Gambar 4.47 Steel Holder

Gambar 4.48 Pemasangan Pipa Tremie ke dalam Galian Bor yang Siap Dicor
b)

Pengecoran

Beton untuk pondasi menggunakan ready mix yang didatangkan dari PT. Holcim batching plant
balaraja. Campuran beton ini dirancang sedemikian rupa supaya walaupun kandungan air tinggi,
namun tetap memiliki kekuatan yang tinggi. Nilai slump untuk beton pondasi ditentukan harus lebih
dari 17 mm, hal ini membuat pekerjaan pengecoran beton menjadi lebih mudah. Tidak digunakan
vibrator untuk pemadatan dalam proses pengecoran, karena beton dengan nilai slump 17 mm sangat
encer sehingga proses pemadatannya tidak perlu menggunakan vibrator.
Proses kerjanya pengecoran beton pondasi adalah sebagai berikut :
Saat pipa tremie sudah berhasil dimasukkan ke lubang bor, ujung atas ditahan sedemikian sehingga
posisinya terkontrol (dipegang) dan tidak jatuh, lalu corong beton dipasang dan pada kondisi pipa
seperti ini maka pengecoran beton siap dilakuakan. Truk ready mix siap untuk mendekat dan
menuang beton segar pada corong yang telah dipasang.
Kesulitan mulai terasa pada tahap ini, karena keahlian operator sangat menentukan keberhasilan
dalam proses pengecoran dengan cara ini. Dikatakan sulit karena pipa tremie tadi perlu untuk dicabut
lagi. Jadi jika beton yang dituang terlalu banyak maka untuk mencabut pipa yang tertanam menjadi
lebih susah, sedangkan jika terlalu dini mencabut pipa tremie, sedangkan beton pada bagian bawah
belum terkonsolidasi dengan baik, maka bisa-bisa terjadi segresi ataupun tercampur dengan tanah,
padahal proses itu semua kejadiannya di bawah, di dalam lobang yang tidak terlihat sama sekali. Jadi
pengalaman supervisi atau operator yang mengangkat pipa tadi memegang peran sangat penting.
Jika pada tahap ini gagal, maka secara keseluruhan, pelaksanaan pondasi juga gagal.
Saat beton yang di cor sudah semakin ke atas (volumenya semakin banyak) maka pipa tremie harus
mulai ditarik ke atas bagian pipa tremie yang basah dan kering (gambar kanan).
Adanya pipa tremie tersebut menyebabkan beton dapat disalurkan ke dasar lubang langsung dan
tanpa mengalami pencampuran dengan cairan bentonite. Karena Berat Jenis beton lebih besar dari
BJ bentonite maka beton makin lama-makin kuat untuk mendesak lumpur naik ke atas. Hal ini

mengakibatkan cairan bentonite mulai terdorong ke dan mulai digantikan dengan beton segar tadi.
Sementara beton terus dicor melalui pipa tremie, cairan bentonite dipompa menuju tangki
penampungan.
Proses pengecoran ini memerlukan suplai beton yang menerus, jika ada keterlambatan beberapa jam
dan terjadi setting maka pipa tremie-nya bisa tertanam dibawah dan tidak bisa dicabut, sedangkan
jika terburu-buru mencabut maka tiang beton bisa tidak menyambung. Hal ini membuat pelaksana
hrus selalu memperhatikan bagian logistik / pengadaan beton.
Pengerjaan pengecoran yang berlangsung dengan baik adalah jika beton dapat muncul dari
kedalaman lobang. Pemasangan tremie mensyaratkan bahwa selama pengecoran dan penarikan
maka pipa tremie tersebut harus selalu tertanam pada beton segar. Kondisi tersebut fungsinya
sebagai penyumbat atau penahan agar tidak terjadi segresi atau kecampuran dengan lumpur. Proses
pengecoran telah selesai sampai tahap ini. Casing kemudian dicabut kembali dari lubang bor saat
beton masih segar / belum setting.
Description

Content

Silica Consignment

516

167
DUST purchase
389
Screen 5-10
676
Split 10-20
387
Cement Type
852
Retarder P-25
DARACEM 130
172
Water
Tabel 4.5 Mix Design Beton Kelas B-2

Gambar 4.49 Pekerjaan Pengecoran Pondasi


1.

b.

Pekerjaan footing

Pekerjaan Bored Pile selesai maka dilajutkan dengan pekerjaan footing. Footing merupakan struktur
yang berfungsi untuk mengikat tiang-tiang menjadi satu kesatuan, dan memindahkan beban kolom
kepada tiang pondasi. Tidak semua titik pondasi pada proyek ini menggunakan footing. Sesuai
dengan desainya, footing hanya terdapat pada abutmen yakni titik A1 dan A2, sedangkan untuk titik
pondasi lainnya akan dilangsungkan dengan kolom tanpa cap / kepala pondasi.
Pekerjaan footing terdiri dari :
1)

Pekerjaan Galian

Pekerjaan footing diawali dengan menggali lokasi sampai kedalaman tertentu sesuai gambar
rencana. Pekerjaan penggalian di lokasi dilakukan dengan dengan alat backhoe. Volume penggalian
yang cukup besar membuat pengerjaan dengan backhoe lebih efisien. Pekerjaan galian diawali
dengan pengupasan existing berupa perkerasan jalan. Pekerjaan ini dilakukan secara manual dengan
tenaga manusia, dengan bantuan pahat besar dan palu. Setelah perkerasan aspal di permukaan
pekerjaan footing dikupas, barulah pekerjaan galian dengan backhoe dilakukan.

Gambar 4.50 Pekerjaan Galian Footing, inzet : tiang baja yang dipancang guna melindungi jalur
lalulintas di sampingnya dari keruntuhan saat pekerjaan galian
Guna mencegah keruntuhan saat penggalian, tiang tiag kayu dan baja dipancang di pinggiran galian,
sebab bila dibiarkan runtuh, akan mengganggu pekerjaan dan dapat membuat jalan pengalih di
sebelahnya rusak/ikut runtuh..
2)

Pembuatan Lantai Kerja

Lantai kerja dibuat dengan tebal sekitar 5 cm, tujuan dibuatnya lantai kerja adalah agar beton struktur
footing tidak bersinggungan langsung dengan tanah, sehingga kualitas dan kekuatan beton tidak
terganggu.

Gambar 4.51 Pengecoran Pekerjaan Lean Concrete / Lantai Kerja


3)

Pembongkaran Beton Pondasi

Pembobokan beton dimaksudkan untuk mendapat besi stek dari pondasi untuk pengikatan struktural
dengan footing, beton pondasi dibobok sampai dasar galian footing. Pembobokan ini juga bertujan
untuk membuang beton jelek pada pondasi bored pile. Sistem pengecoran dengan pipa tremie
membuat beton bagian atas jelek, karena bercampur dengan lumpur dan air, oleh karena itu beton
jelek ini perlu dibuang agar tidak merusak struktur.

Gambar 4.52. Pekerjaan Bobokan Beton Pondasi


4)

Pekerjaan Bekisting

Sesuatu yang unik dari bekisting footing adalah, panel plywood ditahan oleh dinding tanah
disekitarnya dengan dihubungkan dengan balok-balok kayu. Bekisting footing seperti ini, seringkali
disebut sistem form work tradisional, dimana pada sistem ini, bekisting menggunakan kayu nantinya
akan dibongkar kembali dan disusul dengan timbunan kembali.
Gambar 4.53. Skema Form Work Tradisional pada Footing
5)

Pekerjaan Pembesian

Pembesian footing dilakukan di tempat / on-site. Baja tulangan sebelumnya dipotong dengan
berbagai ukuran dan dibengkokkan sedemikian rupa di stockyard, sehingga membentuk bagian perbagian tulangan footing yang mudah dirakit, dan effisien. Pekerjaan pemotongan dan pembengkokan
baja tulangan diperhitungkan sedemikian rupa, agar tidak banyak sisa potongan baja yang terbuang
begitu saja, dengan demikian akan meningkatkan cost efficiency.
Bagian-bagian tulangan tersebut kemudian dibawa ke lokasi pekerjaan untuk selanjutnya dirakit di
tempat sesuai dengan gambar rencana. Bagian bagian tulangan diikatkan satu sama lain
sedemikian rupa menggunakan kawat bendrat ataupun dengan dilas.
6)

Pengecoran

Pengecoran footing dilakukan bertahap layer by layer atau per lapisan dengan ketebalan setiap
lapisan sekitar 50 cm. Setiap layer dilakukan vibration/ penggetaran, kemudian dilanjutkan
pengecoran selanjutnya. Hal ini ditujukan untuk menghindarai segregasi atau pemisahan komposisi
dan menjaga agar beton tidak keropos / tetap padat.

Gambar 4.54 Pekerjaan Pembesian Footing A1


7.

Pekerjaan Upper Structure

Pekerjaan Upper Srtucture meliputi pekerjaan kolom, pekerajaan girder, dan pekerjaan pelat, namun
pada laporan ini, hanya akan dibahas mengenai pekerjaan kolom, karena selama 3 bulan kerja
praktek, proyek baru berjalan sampai pekerjaan kolom.
a.

Pekerjaan Kolom

Kolom merupakan batang vertikal dari rangka (frame) struktur yang memikul beban dari jembatan,
yang meneruskannya dari elevasi atas ke elevasi bawah hingga akhirnya sampai ketanah melalui
pondasi. Peran kolom sangat penting dalam konstruksi jembatan, maka pekerjaan kolom juga harus
dilakukan dengan hati-hati.

Terdapat 2 jenis kolom dalam proyek ini, yakni kolom beton bertulang, dan kolom komposit. Dengan
jumlah masing-masing kolom:

RC column

: 14 column

Composit Column

: 2 column (P4, P5)

Pekerjaan kolom meliputi:


1)

Erection tulangan

Tulangan kolom didatangkan dari fabrikasi di stockyard, kemudian dipasangkan pada lokasi kolom
dengan menyambungkanya pada overstek pondasi. Penyambungan ini dilakukan dengan dilas.
2)

Pemasangan bekisting

Pekerjaan bekisting pada proyek ini dilaksanakan oleh subkontraktor PT.Rizky, dimana digunakan
bekisting pabrikan yang dapat digunakan berulang-ulang. Bekisting kolom terdiri dari 2 panel yang
dapat disatukan sehingga membentuk kolom dan kemudian disanggah dengan penyokong dan
pengatur vertikal. Pengatur vertikal ini dapat diatur sedemikian rupa sehingga kolom berdiri dengan
tegak.

(a) Penyokong vertikal

(b) Dua panel bekisting


Gambar 4.55 Bagian-bagian bekisting
Bagian permukaan dalam panel-panel sebelumnya dilumuri dengan pelumas bekisitng, agar beton
yang mengeras nantinya tidak menempel pada beskisting, dan bekisting dapat dibuka dengan
mudah.

Gambar 4.56 Bekisting oil


3)

Pengecoran

Pengecoran kolom dilakukan dengan bucket mounted crane. Bucket ini seperti corong besar yang
dapat menampung beton untuk diangkut, dimana bagaian bawah terdapat lubang yang daat dibuka
dan ditutup sehingga beton cair dapat keluar dari bagian bawah bucket saat dibuka. Lubang tersebut
disambungkan dengan selang berdiameter serupa dengan lubang tersebut, sehingga ketika beton
keluar dari bawah bucket akan melewati selang tersebut.
Proses pengecoran dimulai dengan mengkaitkan bucket dengan pada crane, sehingga bucket dapat
diangkat dan diturunkan. Bucket kemudian diisi dengan beton dari mixing truck, kemudian bucket
diangkat tepat di atas kolom. Tutup bawah bucket kemudian dibuka sehingga beton mengalir mengisi
kolom. Setiap 50 cm pengecoran, dilakukan vibration / penggetaran agar lapisan beton tetap padat
dan tidak keropos.

Pekerjaan pengecoran kolom pun dibagi dalam 2 tahap, selain untuk mengurangi biaya bekisting, hal
ini untuk mencegah segregasi dan penurunan kualitas beton. Digunakan zat kimia sika pada
sambungan beton, sehingga antara beton lama dan beton baru terjadi ikatan dan tidak mengalami
pemisahan.
Gambar 4.57 Skema Pengecoran Kolom dengan Bucket