Anda di halaman 1dari 12

Lembar Tugas Mandiri 4

PENGELOLAAN BENCANA (QBD 3)


Oleh Arini Idza Safarina, 1306375600, PB 13
1.

Jelaskan pengelolaan bencana pada skala lokal, nasional, dan internasional


Pengelolaan bencana skala lokal

Pengelolaan bencana skala lokal di Indonesia merupakan tanggung jawab provinsi dan
kabupaten kota. Tanggung jawab ini diwujudkan dengan adanya Badan Penanggulangan
Bencana Daerah atau BPPD. Pembentukan BPPD dilakukan melalui koordinasi dengan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sesuai ketetapan yang tertuang pada
Peraturan Daerah (Perda) yang berlaku.
Struktur organisasi pengelolaan bencana di tingkat provinsi dan kabupaten/kota dapat dilihat
pada bagan dibawah ini :

Pada pembagian bidang unsur pelaksana, terdapat 3 badan yang menangani salah satu dari
komponen siklus bencana, antara lain prevention (pencegahan dan kesiapsiagaan), response
(kedaruratan dan logistic), serta recovery (rehabilitasi dan rekonstruksi).
Menurut UU No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Pemerintah dan
Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan bencana (dalam pasal
5). Dalam pasal 6 dijelaskan bahwa tanggung jawab pemerintah diantaranya:
a) pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan
program pembangunan
b) pelindungan masyarakat dari dampak bencana;
c) penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara
adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum;
d) pemulihan kondisi dari dampak bencana;
e) pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam anggaran pendapatan dan
belanja negara yang memadai;
f) pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai; dan
g) pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana.
Dari tanggung jawab yang telah disebutkan pada pasal 6 tersebut, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa pengelolaan bencana skala lokal meliputi:
a. Prabencana

Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan,


serta peringatan dini
b.

Saat tanggap darurat


Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat untuk
meringankan penderitaan sementara, seperti kegiatan search and rescue (SAR), bantuan
darurat dan pengungsian

c.

Pascabencana
Kegiatan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan
rekonstruksi.
Pengelolaan bencana skala nasional
Pengelolaan bencana pada skala nasional di berbagai Negara biasanya ditangani oleh

kementerian kesehatan, kementerian pertahanan, kementerian dalam negeri, atau kementerian


dan institusi lain yang setara. Badan nasional non pemerintah (NGO, Non Governmental
Organization) juga dapa terlibat dalam penanggulangan bencana. Di Indonesia, pengelolaan
bencana skala nasional dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),
yaitu suatu lembaga pemerintah nondepartemen yang menjalankan fungsi penanggulangan
bencana. Struktur organisasi pengelolaan bencana skala nasional dapat dilihat melalui bagan
berikut.

Dalam melakukan pengelolaan bencana skala nasional, diperlukan adanya kerjasama


dengan lokal dan tiap pihak saling koordinasi. Adapun tugas dari pengelola bencana nasional
yaitu:

Penyediaan prioritas manajemen darurat dan arahan kepada pengelola bencana


lokal

Penyediaan pelatihan keahlian di lapangan


Penyediaan dana untuk mendukung mitigasi, kesiapsiagaan, respon, dan pemulihan
Menyediakan peralatan teknis

Mengatur dan memfasilitasi program asuransi yang tidak ditawarkan oleh penyedia
asuransi.
Pengelolaan bencana dimana semua pemerintah pusat dan pemerintah daerah bekerja
sama untuk menanggulangi bencana yang akan menjadi ancaman masyarakat. Langkahlangkah kebijakan manajemen bencana yang biasanya dilakukan oleh beberapa negara yaitu:
1. Mendefinisikan ancaman dari bencana tersebut secara jelas
2. Mengidentifikasi efek atau dampak apa saja yang dapat ditimbulkan oleh
bencana tersebut
3. Sumber daya yang tersedia saat bencana terjadi
4. Tahapan dari persiapan sebelum terjadi bencana, bagaimana respon terhadap
bencana, dan bagaimana mengatasi setelah terjadinya bencana tersebut
5. Menjelaskan bagaimana manajemen bencana nasional menaruh perhatian pada
perkembangan nasional dan lingkungan setelah terjadinya bencana
6. Faktor lain tingkat nasional yang mungkin akan berpengaruh
Tahapan pengelolaan bencana skala Nasional:
1. Preventif- melakukan tindakan atau upaya yang dapat mencegah atau mengurangi

bencana yang akan terjadi. Contohnya: membuat tanggul pada daerah yang sering
terjadi banjir agar jika terjadi luapan sungai karena hujan deras mampu menahan air
yang banyak.
2. Mitigasi- tindakan atau program mana yang kan kita terapkan saat terjadinya bencana.
Contohnya: dengan membuat kode gedung, hal tersebut dapat menghindarkan dari
gempa bumi dan angin topan. Dapat juga melakukan modifikasi beberapa program
untuk melakukan tindakan pencegahan dari bencana yang akan terjadi.
3. Persiapan- tahap dimana pemerintah, komunitas dan individu siap atas bencana yang
terjadi secara cepat dan efektif. Tahap persiapan termasuk mencakup rencana
menghadapi bencana, mengatur penyediaan sumberdaya, dan pelatihan tiap personil.
4. Respon- tindakan respon untuk menyelamatkan hidup, melindungi property, siap
dengan dampak yang ditimbulkan oleh bencana tersebut.
5. Pemulihan- tahap untuk mengembalikan keadaan seperti sebelum terjadi bencana

dengan cara rehabilitasi dan rekonstruksi. Hal ini membutuhkan waktu yang lama untuk
menghilangkan trauma pada masyarakat yang mengalami, menata kembali kehidupan
mereka seperti sedia kala.
6. Perkembangan- kemajuan progresif dan modernisasi dari masyarakat setelah

mengalami dampak dari bencana yang terjadi.

Pengelolaan bencana skala internasional


Pengelolaan bencana skala Internasional mengatur bagaimana beberapa negara
melakukan kerjasama untuk menggulangi bencana yang terjadi pada skala nasional. Standar
respon dilihat dari dari beberapa sumber dan identifikasi dari beberapa partisipan.

Suatu bencana tidak dapat dikatakan begitu saja menjadi bencana skala Internasional
karena banyaknya kapasitas sebuah negara dalam merespon, tetapi melalui pertimbangan
beberapa hal, diantaranya harus diakui oleh Internasional terlebih dahulu, melalui pemerintah
Nasional negara tersebut.
Pengelolaan bencana skala Internasional:

1.

Mitigasi, untuk mengurangi dampak dari bencana yang akan terjadi program

2.

apa yang tepat untuk dilaksanakan.


Persiapan, dimana masyarakat melakukan persiapan akan datangnya bencana

3.

untuk mengurangi kerugian yang akan terjadi dan untuk mempertahankan hidup.
Respon, tindakan jika bencana sedang terjadi untuk menyelamatkan property,

4.

keluarga serta hidupnya sendiri.


Pemulihan, tahap dimana dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi untuk
memulihkan semuanya seperti sebelum terjadinya bencana.

Dalam skala internasional, pengelolaan bencana juga berperan lebih dalam pemberian
bantuan secara teknis (makanan, obat-obatan, minuman, pakaian, dan lain-lain), memberikan
pinjaman uang untuk merehabilitasi dan merekonstruksi akibat yang ditimbulkan bencana.
Selain itu, negara-negara internasional juga mau bekerjasama dalam membantu baik daya dan
dana untuk menjalankan proyek manajemen pengelolaan bencana seperti pengembangan
sistem peringatan dini, memperkuat bangunan dan infrastruktur, mendidik masyarakat
mengenai tindakan untuk mengurangi risiko bencana.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 23 tahun 2008 tentang peran serta
lembaga internasional dan lembaga asing non-pemerintah dalam penanggulangan bencana
mengatakan bahwa peran serta lembaga internasional dan lembaga asing non-pemerintah
adalah mendukung penguatan upaya penanggulangan bencana, pengurangan ancaman dan
risiko bencana, pengurangan penderitaan korban bencana dan mempercepat pemulihan
kehidupan

2.

Jelaskan masalah yang dapat terjadi dalam pengelolaan organisasi lokal, nasional,
dan internasional
Kemungkinan terdapat begitu banyak masalah yang dapat terjadi dalam pengelolaan

bencana baik pada skala lokal, nasional hingga internasional. Masalah tersebut dapat
berkaitan dengan sumber daya yang tersedia, dana, sumber daya manusia, dan lain
sebagainya. Regulasi dan birokrasi juga seringkali menjadi faktor penghambat dalam
pengelolaan bencana. Berikut ini merupakan ilustrasi tahapan pengelolaan bencana, dimana
pada setiap tahapannya memiliki kemungkinan adanya masalah.

Pada tahapan ketiga dari pengelolaan bencana, yaitu preparation of requests (Persiapan
permintaan bantuan), pengelola bencana biasanya bermasalah dengan pemerintah setempat
terutama perihal birokrasi. Masalah lainnya juga dapat terjadi pada langkah kesembilan, yaitu
transportasi. Pada saat bencana, jalur transportasi lokal banyak yang mengalami kerusakan
sehingga menghambat distribusi bantuan.
Sedangkan menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah di kabupaten Bangli
menyatakan bahwa permasalahan yang dapat terjadi dalam pengelolaan bencana baik secara
lokal, nasional maupun internasional dapat terjadi berdasarkan siklus bencana yaitu prabencana, saat terjadi bencana dan pasca-bencana.
a.

Permasalahan bidang penanganan pra bencana


Beberapa masalah terkait dengan pencegahan dan kesiapsiagaan, yang terdiri
dari:
Kondisi geografis yang rawan akan bencana alam baik gunung berapi, gempa
bumi, tanah longsor, kekeringan, kebakaran, dan lain-lain.

Kondisi bangunan rumah penduduk dan sarana pemerintahan banyak yang


rusak dan tidak memadai yang dapat membahayakan bila terjadi bencana

Pertambahan

penduduk

yang

tinggi

akan

menyulitkan

penanganan

penanggulangan bencana

Belum sepenuhnya penyelenggaraan penanganan bencana dilaksanakan sesuai


dengan UU No. 24 tahun 2007 terutama kewenangan yang sebelumnya di
SKPD selain BPBD ( Lokal dan Nasional )

Terbatasnya
kegiatan

anggaran yang

penyelenggaraan

tersedia di masing-masing SKPD bagi

penanggulangan

bencana

Adanya perubahan iklim global yang berpotensi meningkatkan intensitas


bencana alam di dunia

Adanya keterbatasan sarana komunikasi di daerah sehingga menghambat


kecepatan penyebaran arus data ke pusat maupun daerah lain

Luasnya cakupan wilayah penanganan penanggulangan kebencanaan dengan


jenis potensi bencana yang beragam

Masih rendahnya pemahaman masyarakat dan aparat Pemerintahan dalam


menyikapi kondisi alam yang rawan bencana

b.

Permasalahan bidang penanganan pada saat terjadi bencana


Beberapa masalah yang terjadi berkaitan dengan tanggap darurat dan logistik
yakni:
Belum memadainya prosedur dan regulasi sebagai pedoman penyelenggaraan
penanganan bencana di Indonesia termasuk belum terpenuhinya seluruh
amanah aturan dan regulasi yang dikehendaki Undang-Undang Nomor 24

Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana ( Lokal dan Nasional )


Masih tersebar dan belum terbangun Sistem informasi dan komunikasi
kebencanaan secara terpadu dan terintegrasi dari tingkat bawah sampai

kabupaten
Kurang tersedianya anggaran yang memadai dalam rangka penanggulangan

bencana
Kurang terpadunya penyelenggaraan penanganan bencana dan masih

berjalan secara sektoral


Belum optimalnya koordinasi pelaksanaan penanggulangan bencana
Masih terbatasnya sarana
dan prasarana dalampenyelenggaraan

penanggulangan
Belum memiliki SOP (Standar Operational Prosedur) Penanggulangan
Bencana yang optimal

c.

Permasalahan bidang penanganan pasca bencana


Beberapa masalah di siklus ini terkait rehabilitasi dan rekonstruksi yaitu:

Basis data yang tidak termutakhirkan dan teradministrasi secara reguler


Penilaian kerusakan dan kerugian setelah terjadi bencana yang tidak

akurat
Keterbatasan peta wilayah yang meyebabkan terhambatnya pelaksanaan

analisa kerusakan spasial


Koordinasi pinalainkerusakan dan kerugian serta perencanaan rehabilitasi dan

rekontruksi yang terpusat


Keterbatasan alokasi pendanaan bagi rehabilitasi dan rekontruksi yang berasal
dari anggaran daerah.

3.

Jelaskan kesiapan (mitigasi dan kesiapsiagaan) menghadapi bencana pada skala

lokal, nasional, dan internasional

Didalam UU RI No 24 Tahun 2007, kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang


dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah
yang tepat dan berdaya guna. Sedangkan mitigasi adalah upaya untuk mengurangi risiko
bencana. Demi tidak banyaknya korban serta memperburuk keadaan, tentunya kesiasiagaan
dan mitigasi sangat diperlukan baik dalam sekala lokal, nasional dan internsional.
Dalam UU RI No 24 Tahun 2007 Pasal 45 ayat (2), tentang penanggulangan bencana,
pada tingkat lokal dan nasional kesiapsiagaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Penyusunan dan uji coba rencana penanghulangan kedaruratan bencana


Pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini
Penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar
Pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan dan gladi tentang mekanisme tanggap

darurat
e. Penyiapan lokasi evakuasi
f. Penyusunan data akurat, informasi dan pemutakhiran prosedur tetap tanggap darurat
bencana
g. Penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk pemenuhan pemulihan
prasarana dan sarana
Sedangkan mitigasi pada skala lokal dan nasional yang dapat dilakukan adalah:
a. Pelaksanaan penataan ruang
b. Pengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata bangunan
c. Penyelenggaraan pendidikan, penyuluihan dan pelatihan baik secara konvensional
maupaun modern.
Pada tingkat internasional, lokal dan nasional ada beberapa hal yang harus
dipersiapkan dalam kesiapan menghadapi bencana, yaitu.
- Dalam hal manajemen dan koordinasi, karena hal ini berkaitan dengan yang namanya
informasi-informasi situasi dan kondisi pada wilayah bencana dan rekasi cepat tanggap
-

yang akan dilakukan pada wilayah tersebut.


Dalam hal perlindungan, penerimaan dan pendataan yang akan dilakukan dalam hal
evakuasi, pertolongan serta tempat penampungan darurat dan pendataan kebutuhan di

pelayanan di wilayah bencana.


Dalam hal pangan, air bersih, sanitasi lingkungan, logistik serta transportasi di wilayah

bencana.
Dalam hal pelayanan kesehatan dan pelayanan masyarakat di wilayah bencana tersebut.

REFERENSI

Anon,
(2015).
[online]
Avalaible
at:
http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/regulasi/uu/UU_No._24_Th_2007_ttg_
Penanggulangan_Bencana.pdf (Accessed 14 Mar 2015)
Anon,
(2015).
[online]
Available
at:
http://www.gitews.org/tsunamikit/en/E6/further_resources/national_level/peraturan_pe2008_Peran%20serta
%20Lembaga%20international%20d... (Accessed 14 Mar. 2015)
Bpbd.banglikab.go.id, (2015). Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemerintah
Kabupaten Bangli. [online] Available at: http://bpbd.banglikab.go.id/index.php?
sik=tupoksi (Accessed 14 Mar 2015)
Coppola D P. Introduction to International Disaster Managemet. UK:Elsevier, 2007
Coppola P. Damon. Introduction to International Disaster Management.USA: ButterworthHeinemann; 2007
Novriandi, Z. (2009). BAB 2 KAJIAN LITERATUR. [online]
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/128332T%2026604Usulan
%20pengembanganTinjauan%20literatur.pdf (Accessed 14 Mar 2015)

Available

at:

Pan American Health Organization. Natural Disasters:Protecting the Publics Health. USA:
WHO, 2000
Penanggulangan Bencana. Pusat Teritorial Angkatan Darat Pusat Pendidikan Teritorial.
Jakarta: Penerbit TNI AD; 2004

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta
Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah dalam Penanggulangan
Bencana