Anda di halaman 1dari 11

28

0 , 0
0 ,
2
1
2
2
0
2
v
v uz ¢
v !
z
v
Jika diadakan tranIormasi peubah , z sehingga
,
u,
uz
2
maka:
0 , 0
0 ,
2
1
2
0
v
v u, ¢
,
v !
,
v
Oleh karena itu, Iungsi kepekatan peubah acak 1 ialah:
v v v ! v I
v
0 ,
2
1
2
1
2
1
'
Dimana Iungsi kepekatan probabilitas ini merupakan Iungsi kepekatan probalilitas
dari Iungsi
2
1
(Terbukti). (Nasution dan Rambe, 1984:154-155)
2.4 Konvergen dan Hukum Bilangan Besar
Misal , 2 , , 1 , n X
n
mempunyai barisan peubah acak dan X merupakan
peubah acak yang terdeIinisi pada ruang parameter yang sama . Selanjutnya
akan diberikan beberapa konsep yang berkait dengan konvergensi suatu peubah
acak
n
X sebagai berikut:
Definisi 2.4.1
Barisan
n
X dinamakan konvergen hampir pasti ke X yang dinyatakan sebagai
X X
a:
n
jika untuk setiap
1 lim , 0 X X !
n
n
.
29
Konvergensi hampir pasti dalam deIinisi 2.4.1 di atas kadang-kadang dinamakan
sebagai konvergen kuat atau konvergen dengan probabilitas satu. (Ferguson,
1996: 4)
Definisi 2.4.2
Barisan
n
X dikatakan konvergen ke X ke : – nIIaI ì¢ngaL, : · û yang
dinyatakan sebagai X X
:
n
jika 0
:
n
X X ! untuk n
Konvegensi dalam : – nIIaI ì¢ngaL untuk : 2 sering dinamakan konvergen
dalam nIIaI ì¢ngaL kuadratik dan dinyatakan sebagai X X
¸m
n
. (Ferguson,
1996: 4)
Definisi 2.4.3
Barisan
n
X konvergen ke X ke peluang X X
!
n
jika untuk setiap 0 .
0 lim X X !
n
n
Konvergensi dalam probabilitas ini sering dinamakan konvergen :ìa!a:ìI! atau
konvergen lemah. (Dudewics, 1988: 354)
Definisi 2.4.4
Barisan
n
X dinamakan konvergen ke distribusi ke X yang dinyatakan sebagai
X X
u
n
. Jika x ! x !
X
u
X
n
untuk n untuk semua x yang mana
x !
X
kontinu.
30
Konvergensi dalam distribusi ini kadang-kadang sering dinamakan konvergen
lengkap. (Ferguson, 1966: 1)
Dari deIinisi konvergensi diatas dapat dikemukakan bahwa hubungan
konvergensi satu terhadap yang lain (Fergusan, 1966: 4), adalah sebagai berikut:
a) Jika suatu barisan konvergen hampir pasti, maka barisan tersebut juga
konvergen dalam probabilitas ( X X X X
!
n
: a
n
.
).
b) Jika suatu barisan dalam : – nIIaI ì¢ngaL untuk : · û maka barisan tersebut
juga akan konvergen dalam probabilitas ( X X
:
n
untuk
0 : X X
!
n
).
c) Jika suatu barisan konvergen dalam probabilitas maka barisan tersebut juga
akan konvergen dalam distribusi ( X X X X
u
n
!
n
)
Definisi 2.4.5
Barisan
n
a dan
n
I dikatakan
n n
I C a jika terdapat suatu bilangan positiI K
dan bilangan positiI n{K) sehingga
K n n K
I
a
n
n
,
Dalam hal khusus 1 C a
n
berarti bahwa K a
n
dan untuk cukup besar
n
a adalah terbatas. (Sen dan Singer, 1993: 36)
31
Definisi 2.4.6
Barisan
n
a dan
n
I dikatakan
n n
I a a jika untuk setiap 0 dan bilangan
bulat positiI n sehingga
n n
I
a
n
n
,
Dalam hal khusus 1 a a
n
berarti bahwa 0
n
a untuk n . (Sen dan
Singer, 1993: 36)
Definisi 2.4.7
Jika untuk setiap 0 dari peubah acak
n
X terdapat suatu konstanta positiI
K dan a bilangan bulat positiI n sehingga
n n K X !
n
, 1
Maka dikatakan bahwa
n ¡ n
X uan C X 1 dinamakan terbatas dalam
probabilitas. (Sen dan Singer, 1993: 36)
Definisi 2.4.8
Jika untuk setiap 0 , 0 dari peubah acak
n
X dan barisan
n
I (mungkin
peubah acak) terdapat suatu bilangan bulat positiI , n sehingga
n n K
I
X
!
n
n
, 1
Maka dikatakan bahwa
n ¡ n
I C X . (Sen dan Singer, 1993: 36)
32
Definisi 2.4.9
Jika untuk setiap 0 , 0 dari peubah acak
n
X terdapat suatu bilangan
bulat positiI , n sehingga
, , n n X ¡
n
Maka dikatakan bahwa 1
¡ n
a X . (Sen dan Singer, 1993: 37)
Definisi 2.4.10
Jika untuk setiap 0 , 0 dari peubah acak
n
X dan barisan
n
I (mungkin
peubah acak) terdapat suatu bilangan bulat positiI , n sehingga
, , n n
I
X
!
n
n
Maka dikatakan bahwa
n ¡ n
I a X dan
n ¡ n n ¡ n
¢ a X ¢ C I . (Sen dan
Singer, 1993: 37)
Definisi 2.4.11
Jika untuk setiap 0 dari peubah acak
n
X terdapat suatu konstanta positiI
K dan a bilangan bulat positiI n sehingga
n n K X !
n
, 1
Dari bentuk diatas diperoleh
n n n N I¢I¢:a¡a unìu! K X !
N
,
akan dikatakan bahwa 1 C X
n
. (Sen dan Singer, 1993: 37)
33
Definisi 2.4.12
Jika untuk setiap 0 , 0 dari peubah acak
n
X terdapat suatu bilangan
bulat positiI , n sehingga
n n K
I
a
!
n
n
, 1
Dari bentuk diatas diperoleh
n n n N I¢I¢:a¡a unìu! K
I
X
!
N
N
,
maka dikatakan bahwa
n n
I C X . (Sen dan Singer, 1993: 37)
Definisi 2.4.13
Jika untuk setiap 0 , 0 dari peubah acak
n
X terdapat suatu bilangan
bulat positiI , n sehingga
, , n n X ¡
n
Dari bentuk diatas diperoleh
, , n n n N I¢I¢:a¡a unìu! X !
N
maka dikatakan bahwa 1 C X
n
. (Sen dan Singer, 1993: 38)
Definisi 2.4.14
Jika untuk setiap 0 , 0 dari peubah acak
n
X terdapat suatu bilangan
bulat positiI , n sehingga
34
, , n n
I
X
!
N
N
Dari bentuk diatas diperoleh
, , n n n N I¢I¢:a¡a unìu!
I
X
!
N
N
maka dikatakan bahwa
n n
I C X . (Sen dan Singer, 1993: 38)
Teorema 2.4.1
Misalkan
n
X X , ,
1
p.a. yang berdistribusi identik dan bebas dan misalkan
n n
X a X a 1
1 1
. Maka I.p.m. dari 1 adalah
n
I
I X n X X
ì X a ì X a ì X a ì X a
ì X a ì X a X a X a ì ì1
1
ì a ì a ì a
¢ ! ¢ ! ¢ ¢ !
¢ ! ¢ ! ¢ ! ì
n
n n n n
n n n n
1
1
.
1 1
1 1 1 1
1 1 1 1
Bila juga berlaku
n
a a
1
, maka
.
1
1
n
X 1
ì a ì
(Dudewicz, 1988: 313)
Definisi 2.4.15
Fungsi pembangkit-momen dari suatu p.a. X dideIenisikan untuk setiap bilangan
real ì sebagai
IX
X
!¢ ì .
|Jadi, I.p.m. ialah suatu Iungsi dari suatu peubah real ì. Tentunya Iungsi itu hanya
dideIenisikan untuk nilai ì sehingga
ìX
!¢ ada. Ingat bahwa sebelumnya kita telah
35
bicarakan mengenai nilai harapan dari Iungsi peubah acak, X !g . Disini
ìX
¢ X g |. (Dudewicz, 1988: 300)
Teorema 2.4.2
Bila I.p.m. ì
X
dari p.a. X ada untuk T ì (untuk suatu T · û), maka
n
!X ada
(untuk , 3 , 2 , 1 n ) dan ì
X
dapat diuraikan dalam lingkungan 0 ì sebagai
berikut
! !
!
X
ì a ì
!
!X
ì
!X
ì
!X
ì
! ! 2 ! 1
1
2
2
,
dengan
0 lim
0
!
!
ì
ì
ì a
(Dudewicz, 1988: 309)
Akibat 2.4.1
Suatu p.a. ¢ X
¡
n
(suatu tetapan) jika I.d. dari ! ! X
n n
, dengan
0 x ! untuk ¢ x dan 1 x ! untuk ¢ x ; ini terjadi jika
¢ì
X
¢ ì
untuk semua ì. (Dudewicz, 1988: 366)
Teorema 2.4.3 (Teorema Khinchin)
Jika ... , ,
2 1
X X p.a bebas yang berdistribusi identik dan
1
!X ada (
1
!X ÷ a,
misalnya), maka a
n
X X
¡ n 1
36
Bukti:
ì ì
n
X
n
X
n
X X
n n 1 1
n
n
X
ì
1
, menurut Teorema 2.4.1
n
X
n
ì
1
, menurut Definisi 2.4.15
n
n
ì
a
n
ì !X
! 1
1
1
, menurut Teorema 2.4.2
n
n
n
ì
na aì
2
1
ì a
¢ , jika n
Buktinya selesai berdasarkan Akibat 2.4.1. Perhatikan bahwa kita tidak
menggunakan hasil yang terkenal
a
n
n
¢
n
a
1 lim ,
tetapi malahan rapatannya yang sedikit
n
n
a
n
n
n
¢
n
a lim
1 lim .
(Dudewicz, 1988: 367)
37
Teorema 2.4.4 (Teorema Limit Pusat)
Misalkan ... , ,
2 1
X X p.a bebas yang berdistribusi identik dengan
1
!X dan
0
2
1
X 1a: (keduanya berhingga). Maka (untuk semua z z, )
jika n ,
z ,
n
u, ¢ z
n
X X
!
2
2
1
1
2
1
.
Bukti:
Menggunakan Teorema Khinchin, diperoleh:
ì ì
n
X
n
X
n
X X
n n 1 1
n
n
X
ì
1
, menurut Teorema 2.4.1
n
X
n
ì
1
, menurut Definisi 2.4.15
n
n
ì
a
n
ì X !
n
ì X !
2
2
2
2
1 1
! 2 ! 1
1
, menurut Teorema 2.4.2
n
n
ì
a
n
ì
2
2 2
2
1
1
n
n
n
ì
na ì
2
2
2
2
1
1
2
2
1
ì
¢ , jika n
38
Teorema Limit Pusat (TLP) juga disebut sebagai Teorema Lindberg-Levy.
Teorema ini dapat pula diungkapkan sebagai
1 , 0 N
X n
u
(Dudewicz, 1988: 374-375)
Konsepsi konvergen diatas, jika dikaitkan dengan hukum bilangan besar,
maka akan diperoleh konsep lain yang sangat berguna dalam penurunan statistik
uji untuk distribusi asimtotis. Hukum bilangan besar merupakan suatu notasi yang
menyatakan bahwa nIIaI ì¢ngaL sampel dari suatu distribusi konvergen ke suatu
nIIaI ì¢ngaL dari suatu distribusi populasi. Apabila konvergensinya adalah
konvergen dalam probabilitas, maka hal ini dikenal sebagai hukum lemah dari
bilangan besar (1¢a! Iav: aI Ia:g¢ numI¢::) dan disingkat dengan WWLN.
Sedangkan bilangan konvergensinya adalah konvergen hampir pasti maka hal ini
dikenal sebagai hukum kuat dari bilangan besar (Sì:ang !av: CI !a:g¢ NumI¢::)
dan disingkat SLLN. (Rao, 1973: 112)
Teorema 2.4.5 Hukum Bilangan Besar
1. Hukum Lemah dari Bilangan Besar
Misal X
1
,...,X
n
peubah acak bebas dan identik sehingga
n
I
I n I I
X
n
X uan X uan X !
1
2
1
var