Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Fotosintesis pada tumbuhan sering dibatasi oleh tingkat CO 2


atmosfer, tetapi tumbuhan dibatasi sedikit saja oleh CO2 sebab
tumbuhan ini secara efektif memompa CO 2 ke seludang berkas,
ketika asam malat atau asam asparat diangkut ke dalam sel
tersebut. Pemompaan ini menimbun CO2 di seludang berkas yang
akan digunakan dalam daur Calvin, sehingga CO 2 tidak terlalu
membatasi fotosintesis pada tumbuhan. Pada suhu tinggi, CO 2
kurang larut dalam air kloroplas, sehingga lebih menurunkan
fotosintesis pada tumbuhan. Lebih dari itu cekaman kekeringan dan
penutupan

stomata

yang

mengikutinya

akan

menghambat

masuknya CO2 ke dalam daun, sehingga lebih menguntungkan


tumbuhan. Aspek ekologi dan lingkungan fotosintesis sebagian
besar tumbuhan terutama disebabkan oleh hilangnya CO 2 yang
ditambat dengan meningkatkan cahaya sehingga kehilangan ini
disebut foto respirasi (Syamsuri, 2002).
Respirasi merupakan rangkaian dari 50 atau lebih reaksi
komponen, masing-masing di katalisis oleh enzim yang berbeda.
Respirasi merupakan oksidasi yang berlangsung di medium air,
dengan pH mendekati netral, pada suhu sedang, dan tanpa asap.
Pemecahan bertahap dan berjenjang molekul besar merupakan
cara untuk mengubah energi menjadi ATP. Lebih lanjut, sejalan
dengan berlangsungnya pemecahan kerangka karbon, antara
disediakan untuk menghasilkan berbagai produk esensial lainnya
dari tumbuhan. Produk ini meliputi asam amino untuk protein,
nukleotida untuk asam nukleat, dan prazat karbon untuk pigmen
porfirin, dan untuk lemak, sterol, karetenoid, pigmen, flavanoid

seperti antosianin, dan senyawa aromatik tertentu lainnya seperti


lignin (Syamsuri, 2002).
1.2.

Tujuan

Tujuan dari praktikum fotosintesis adalah untuk membuktikan


bahwa dalam fotosintesis dihasilkan O 2 (oksigen) dan mengamati
bahwa pengaruh cahaya dan CO2 terhadap pembentukan oksigen
pada proses fotosintesis. Tujuan pembentukan karbohidrat pada
fotosintesis adalah untuk mengetahui ada tidaknya simpanan
amilum pada jaringan daun yang diberi perlakuan cahaya matahari
yang berbeda. Tujuan respirasi pada kecambah adalah untuk
mengukur jumlah CO2 yang dibebaskan selama respirasi dan
menghitung respiratory quetiont (RQ) nya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Fotosintesis
Fotosintesis adalah suatu proses biologi kompleks. Proses fotosintesis
menggunakan energi cahaya yang dapat dimanfaatkan oleh klorofil yng terdapat di
dalam kloroplas. Fotosintesis memerlukan CO2 dan H2O sebagai bahan untuk
menghasilkan karbohidrat dan melepaskan oksigen. Karbohidrat yang pertama kali
terbentuk adalah glukosa. Proses ini dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor
seperti suhu, cahaya, kadar oksigen, kadar H2O/air, unsur hara dan unsur daun
(Campbell, 2004).
cahaya
6CO2 + 6H2O

C6H12O6 + 6O2
klorofil

Fotosintesis berasal dari kata foton = cahaya dan sintesis =


penyusun. Fotosintesis adalah peristiwa penyusunan zat organik
(gula) dari zat anorganik (air, karbondioksida) dengan pertolongan
energi matahari. Karena bahan baku yang digunakan adalah zat
karbon (karbondioksida) maka dapat juga disebut asimilasi zat
karbon. Organisasi dan fungsi suatu sel hidup bergantung pada
persediaan energi yang tak henti-hentinya, sumber energi ini yang
tersimpan dalam molekul organik seperti karbohidrat. Molekul ini

dihasilkan dari proses fotosintesis yang berlangsung di daun


dengan bantuan cahaya atau sinar matahari. Fotosintesis adalah
suatu

proses

biologi

yang

kompleks.

Proses

fotosintesis

menggunakan energi cahaya yang dapat dimanfaatkan oleh klorofil


yang terdapat di dalam kloroplas. Fotosintesis memerlukan CO 2 dan
H2O

sebagai

bahan

untuk

menghasilkan

karbohidrat

dan

melepaskan oksigen. Karbohidrat yang pertama kali terbentuk


adalah glukosa. Proses ini dipengaruhi oleh bermacam-macam
faktor, seperti suhu, cahaya, kadar oksigen, kadar H 2O/air, unsur
hara, dan unsur daun (Kimball, 2002).
Fotosintesis merupakan proses pemanfaatan energi matahari
oleh tumbuhan hijau yang terjadi pada kloroplas. Dalam fotosintesis
terdapat dua tahap, yaitu reaksi terang dan reaksi gelap (siklus
Calvin). Reaksi terang terjadi pada grana (granum), sedangkan
reaksi Calvin terjadi di dalam stroma. Dalam reaksi terang, terjadi
konversi energi cahaya menjadi energi kimia dan menghasilkan
oksigen (O2). Sedangkan dalam siklus Calvin terjadi seri reaksi siklik
yang membentuk gula dari bahan dasar CO 2 dan energi (ATP dan
NADPH). Energi yang digunakan dalam siklus Calvin diperoleh dari
reaksi terang (Azidin, 2002).
Fotosintesis berlangsung dalam dua tahap reaksi, yaitu reaksi
terang

(light-dependent

reaction)

dan

reaksi

gelap

(light-

independent reaction). Reaksi terang berlangsung jika ada cahaya,


sedangkan reaksi gelap berlangsung tanpa memerlukan cahaya
(Azidin, 2002).
1. Reaksi terang (Light- Dependent Reaction)
Reaksi terang merupakan langkah-langkah fotosintesis yang
mengubah energi matahari menjadi energi kimiawi. Cahaya yang
diserap oleh klorofil menggerakkan transfer elektron dan hidrogen
dari air ke penerima disebut NADP +, yang menyimpan elektron

berenergi ini untuk sementara. Air terurai dalam proses ini,


sehingga reaksi terang fotosintesis melepas O2 sebagai produk
samping (Azidin, 2002).
Reaksi terang terjadi dalam membran tilakoid, yang di
dalamnya terdapat pigmen klorofil a dan klorofil b, dan pigmen
tambahan yaitu karoten. pigmen-pigmen ini menyerap cahaya
ungu, biru, dan merah, lebih baik daripada warna cahaya lain.
Reaksi terang merupakan reaksi penangkapan energi cahaya.
Elektron berenergi rendah yang

berasal dari

H2O

dinaikkan

energinya ketika membran tilakoid menyerap energi matahari


(Azidin, 2002).
Tilakoid terdapat beberapa pigmen yang berfungsi menyerap
energi cahaya. Pigmen itu adalah klorofil a dan klorofil b. setiap
jenis

pigmen

tertentu.

menyerap

Molekul

klorofil

membentuk

suatu

fotosistem.

Setiap

cahaya
dan

kesatuan

dengan

pigmen
unit

fotosistem

panjang
aksesoris

sistem

yang

menangkap

gelombang
(tambahan)
dinamakan

cahaya

dan

memindahkan energi itu ke pusat reaksi, yaitu suatu kompleks


klorofil

dan

protein-protein

yang

berperan

langsung

dalam

fotosintesis. Fotosistem I, terdiri atas klorofil a dan pigmen


tambahan yang menyerap kuat energi cahaya dengan panjang
gelombang 700 nm sehingga sering disebut P700. sementara itu
Fotosistem II, tersusun atas klorofil a yang menyerap kuat energi
cahaya dengan panjang gelombang 680 nm sehingga disebut P680
(Azidin, 2002).
cahaya
2H2O

2NADPH2 + O2
Klorofil

2. Reaksi gelap (Light-Independent Reaction)

Reaksi gelap merupakan reaksi tahap kedua dari fotosintesis.


Disebut reaksi gelap karena reaksi ini tidak memerlukan cahaya.
Reaksi gelap terjadi di dalam stroma kloroplas. Reaksi gelap
pertama kali ditemukan oleh Malvin Calvin dan Andrew Benson.
Oleh karena itu reaksi gelap sering disebut siklus Calvin-Benson
atau siklus Calvin. Siklus Calvin berlangsung tiga tahap, yaitu fase
fiksasi, fase reduksi, dan fase regenerasi (Azidin, 2002).
Fase fiksasi terjadi penambatan CO2 oleh riboluse bifosfat
menjadi 3-fosfogliserat. Reaksi ini di katalis oleh enzim ribulose
bifosfat karboksilase. Pada fase reduksi diperlukan ATP dan ion H +
dan

NADPH2

untuk

mereduksi

3-fosfogliserat

menjadi

1,3-

bifosfogliserat kemudian membentuk fosfogliseraldehid. Pada fase


regenerasi, terjadi pembentukan kembali RuBP dari PGAL/G3P.
Dengan terbentuknya RuBP, penambatan CO2 kembali berlangsung
(Azidin, 2002).

CO2 + NADPH2

cahaya
2NADP + CO2 + H2O
klorofil

Bagan reaksi gelap :

B.
Respirasi
Respirasi

yaitu

suatu

proses

pembebasan

energi

yang

tersimpan dalam zat sumber energi melalui proses kimia dengan


menggunakan oksigen. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia

ATP untuk kegiatan kehidupan, seperti sintesis (anabolisme), gerak,


pertumbuhan (Praweda, 2003).
Respirasi pada makhluk hidup dapat digolongkan menjadi dua
macam apabila ditinjau dari segi penggunaan oksigen bebas dalam
proses

reaksinya,

yaitu

respirasi

aerob

yaitu

reaksi

yang

memanfaatkan oksigen bebas dari udara dan respirasi anaerob


yang tidak menggunakan oksigen bebas dari udara, meskipun
tersedia oksigen bebas pada saat reaksi berlangsung (Campbell,
2004).
1. Respirasi Aerob
Sesuai dengan namanya, respirasi aerob adalah suatu reaksi
pernapasan pada makhluk hidup yang memanfaatkan oksigen
bebas dari udara sekitar. Proses respirasi ini terjadi pada sebagian
besar spesies makhluk hidup, baik tingkat tinggi maupun tingkat
rendah. Pada tumbuhan, umumnya selain melakukan proses
fotosintesis

(untuk

tumbuhan

yang

melakukan

proses

respirasi.

Proses

memiliki
respirasi

klorofil)

juga

aerob

akan

menguraikan senyawa asal hingga dihasilkan kembali senyawa


dasar, yaitu CO2 dan H2O. Persamaan dari reaksi respirasi aerob
yang contohnya terjadi dengan bahan baku senyawa glukosa
adalah sebagai berikut :
C6H12O6

6H2O + 6CO2 + ATP

dengan ATP (Adenin tripospat) yang dihasilkan pada reaksi ini


adalah sebesar 38 ATP. Tahapan-tahapan respirasi aerob dibagi
menjadi 3 tahapan reaksi, yaitu :
a. Glikolisis
Glikolisis merupakan rangkaian reaksi perubahan glukosa menjadi asam
piruvat. Peristiwa perubahannya, yaitu glukosa glulosa 6 fosfat fruktosa 1,6
difosfat 3 fosfogliseral dehid (PGAL) / Triosa fosfat asam piruvat. Jadi hasil dari
glikolisis, yaitu molekul asam piruvat, molekul NADH yang berfungsi sebagai
sumber elektron berenergi tinggi, dan molekul ATP untuk setiap molekul glukosa
(Kimball, 2002).

b. Siklus Krebs
Tahap siklus krebs adalah proses pengubahan asam piruvat menjadi CO 2, H+,
dan ATP. Daur Krebs (daur trikarboksilat) atau daur asam sitrat merupakan
pembongkaran asam piravat secara aerob menjadi CO2 dan H2O serta energi kimia
(Kimball, 2002).
c. Fosforilasi oksidatif
Rantai transportasi elektron respiratori, yaitu dari daur Krebs akan keluar
elektron dan ion H+ yang dibawa sebagai NADH2 (NADH+ H+ + 1 elektron) dan
FADH2, sehingga di dalam mitokondria (dengan adanya siklus Krebs yang
dilanjutkan dengan oksidasi melalui sistem pengangkutan elektron) akan terbentuk
air, sebagai hasil sampingan respirasi selain CO2. Produk sampingan respirasi
tersebut pada akhirnya dibuang ke luar tubuh melalui stomata pada tumbuhan dan
melalui paru-paru pada peristiwa pernafasan hewan tingkat tinggi (Kimball,
2002).
2. Respirasi Anaerob
Respirasi anaerob adalah proses penguraian glukosa untuk menghasilkan
tenaga tanpa menggunakan oksigen. Seperti organisme seperti bakteri dan tumbuhan
menjalankan proses ini. Proses ini menghasilkan sedikit tenaga. Secara umumnya
terdapat sedikit perbedaan antara respirasi dan fotosintesis oleh tumbuhan (Kimball,
2002).
Respirasi anaerob sebenarnya dapat juga berlangsung didalam udara yang
bebas, akan tetapi proses ini tidak menggunakan O2 yang tesedia di udara tersebut.
Pernapasan anaerob sering juga disebut dengan fermentasi. Meskipun tidak semua
fermentasi iti anaerob. Contoh mikroorganisme yang mendapatkan energi dengan
respirasi anaerob lain :
Sacharomyces cerevisieae:
C6H12O6

2 C2H5OH + 2CO2 + 21 kal

Bakteri asam cuka :


CH3CH2OH + O2

CH3COOH + H2O + 116 kal

Perbandingan antara jumlah CO2 yang dilepaskan dan jumlah O2 yang


digunakan biasa dikenal dengan Respiratory Ratio atau Respiratory Quotient dan
disingkat dengan RQ. Diketahui nilai RQ untuk karbohidrat = 1, protein < 1 (= 0,8 0,9), lemak < 1 (0,7) dan asam organik > 1 (1,33). Nilai RQ ini tergantung pada
bahan/substrat untuk respirasi dan sempurna tidaknya proses respirasi dan kondisi
lainnya (Campbell, 2004).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum
November

ini

dilaksanakan

2012,

pukul

pada

10.00-12.00

hari

Kamis

WITA.

tanggal

Bertempat

1
di

Laboratorium Dasar Biologi I Fakultas Matematika dan Ilmu


Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
3.2. Alat dan Bahan
A. Jaringan tumbuhan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah beaker
glass, corong kaca, tabung reaksi, kawat dan cutter. Bahan yang
digunakan adalah Hydrilla verticillata, air kolam, larutan NaHCO3
0,25%.
B. Organ dan sistem organ tumbuhan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah beaker
glass, cawan petri, lampu spiritus atau kompor, kaki tiga dan

penjepit. Bahan-bahan yang digunakan adalah daun kersen, daun


kertas, larutan JKJ, alkohol 95%, air, kertas karbon atau aluminium
foil.
C.

Jaringan hewan
Alat-alat

yang

digunakan

pada

praktikum

ini

adalah

respirometer ganong dan statif, corong gelas serta penunjuk waktu.


Bahan yang digunakan adalah kecambah kacang hijau segar,
larutan KOH 10% dan akuades serta vaselin.
3.3.

Prosedur Kerja

A. Fotosintesis
1. Memasukkan beberapa cabang Hydrilla verticillata yang sehat
sepanjang kira-kira 15 cm dimasukkan ke dalam corong kaca.
2. Memasukkan corong kaca (1) ke dalam beaker gelas yang berisi
medium, yang mana setiap 100 ml air ditambahkan 2 ml NaHCO 3
0,25 % dengan posisi corong menghadap ke bawah.
3. Menutup bagian atas corong dengan tabung reaksi yang dengan
mengusahakan sebagian besar medium dalam keadaan terbalik
(di dalam bak yang berisi air).
4. Menandai masing-masing perlakuan dengan label A, B, C, dan D
di mana:
o A = medium air dan diletakkan di tempat terang dalam
ruangan (intensitas cahaya I).
o B = medium air dan diletakkan di luar ruangan di bawah
pohon (intensitas cahaya II).
o C = medium air dan diletakkan di luar ruangan di tempat
terbuka (intensitas cahaya III).
o D
= medium air + larutan NaHCO3 diletakkan di tempat
terang dalam ruangan (intensitas cahaya I).
o E = medium air + larutan NaHCO 3 diletakkan di luar ruangan
di bawah pohon (intensitas cahaya II).
o F = medium air + larutan NaHCO3 diletakkan di luar ruangan
di bawah pohon (intensitas cahaya II).
5. Mengamati timbulnya gelembung-gelembung gas yang muncul
dari potongan cabang/ranting yang terjadi selama 0, 15 dan
30. Banyaknya gelembung yang muncul per satuan waktu dapat

digunakan

sebagai

petunjuk

laju

fotosintesis.

Perhitungan

dilakukan 3 kali dan diambil rata-ratanya.


6. Menampilkan hasil pengamatan/data yang diperoleh dalam
bentuk grafik. Membuat pembahasan dan kesimpulan.
B. Pembentukan karbohidrat pada fotosintesis
1. Menutup daun tumbuhan yang belum kena sinar matahari
sebagian dengan aluminium foil/kertas karbon dan dijepit selama
2 x 24 jam (sore hari I s.d pagi hari III).
2. Merebus air dalam beaker gelas sampai mendidih pada lampu
spiritus atau panci berisi air mendidih di atas kompor.
3. Memanaskan alkohol di dalam beaker gelas kecil pada air
mendidih (2).
4. Memasukkan daun tumbuhan yang akan diuji ke dalam air panas
(5 menit) sampai layu, kemudian ke dalam alkohol panas (5
menit).
5. Mengulangi percobaan ini dengan menggunakan daun lain yang
tidak diberi perlakuan air panas.
6. Mencuci daun (4) tersebut dengan air panas dan dimasukkan ke
dalam larutan JKJ selama beberapa menit.
7. Mencuci dengan air kemudian bentangkan

dan

diamati

perubahan yang terjadi (amilum + JKJ memberikan warna biru


sampai kehitam-hitaman).
C. Pengukuran respirasi kecambah
1. Menyiapkan alat dan bahan, menimbang 10 gram kecambah
kacang hijau.
2. Memasukkan

akuades

ke

dalam

pipa

respirometer

dan

memasukkan kecambah (No. 1) ke dalam tabung respirometer


dan memutar sumbatnya sampai kedua lubang berhadapan.
3. Mengatur permukaan air dalam pipa pada skala 20 dengan jalan
menaikkan dan menurunkan pipa.
4. Mengoleskan sumbat dengan vaselin,

kemudian

memutar

sehingga udara di dalam tabung respirometer terpisah dari udara


luar. Biarkan selama 30 menit.
5. Mengamati perubahan permukaan

air

dalam

pipa.

Jika

permukaan airnya turun maka nilainya positif dan jika permukaan


air naik berarti nilainya negatif.

6. Mengulangi kegiatan (1-5) dengan menggunakan KOH 10%.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapat hasil sebagai
berikut :
A. Fotosintesis
Tabel 1. Fotosintesis pada Hydrilla verticillata
Tempat
Di dalam ruangan
Di luar ruangan

Wakt
u
0
15
30
0

Jumlah gelembung
Tanpa NaHCO3
Dengan NaHCO3
0
0
1
0
1
0
0
0

(di bawah pohon)


Di luar ruangan
(terbuka)

15
30
0
15
30

131
366
0
40
75

11
93
0
76
279

Grafik 1. Jumlah gelembung pada pengamatan di dalam


ruangan
1.2
1
0.8
Dengan NaHCO3

0.6

Tanpa NaHCO3
0.4
0.2
0
0'

15'

30'

Grafik 2. Jumlah gelembung pada pengamatan di luar ruangan (di


bawah pohon)
400
350
300
250
Dengan NaHCO3

200

Tanpa NaHCO3

150
100
50
0
0'

15'

30'

Grafik 3. Jumlah gelembung pada pengamatan di luar ruangan


(terbuka)
300
250
200
Dengan NaHCO3

150

Tanpa NaHCO3
100
50
0
0'

15'

30'

Gambar 2. Cara kerja Fotosintesis


Keterangan :
1.
2.
3.
4.
5.

beaker glass
Corong kaca
Tabung reaksi
Hydrilla verticilata
Air kolam

B. Pembentukan
Karbohidrat
pada Fotosintesis
Gambar 1. Daun segar
Keterangan Gambar :
1.Daun kersen
2.Daun kertas

Gambar 2. Daun yang ditutup aluminium foil selama 5 hari


Keterangan Gambar :
1.Daun kersen
2.Daun kertas
3.Penjepit
4.Aluminium foil

Gambar 3. Daun yang aluminium foilnya dibuka


Keterangan Gambar :
1.Daun kersen
2.Daun kertas
3.Daun yang telah ditutupi foil
4.Daun mengerut

Gambar 4. Daun setelah direndam akuades


Keterangan Gambar :
1.Daun kersen
2.Daun kertas
3.Aluminium foil

Gambar 5. Daun direndam alkohol panas (I) selama lima menit


Keterangan Gambar :
1. Daun kersen
2. Daun kertas
3. Amilum terlihat
4. Bagian yang telah ditutupi
aluminium foil
Gambar 6. Daun direndam alkohol panas (II) selama lima menit

Keterangan Gambar :
1. Daun kersen
2. Daun kertas
3. Bagian yang telah ditutupi
alumunium foil
4. Amilum terlihat jelas
Gambar 7. Daun direndam air hangat selama lima menit
Keterangan Gambar :
1. Daun kersen
2. Daun kertas
3. Bagian yang telah ditutupi
aluminium foil
4. Amilum menyebar
Gambar 8. Daun direndam larutan JKJ selama lima menit
Keterangan Gambar :
1.Daun kersen
2.Daun kertas
3. Bagian yang telah ditutupi
aluminium foil (warna terang)
4. Amilum menyebar
C. Respirasi
Tabel 2. Hasil percobaan pengukuran respirasi kecambah
Absorban
Kecambah + KOH 10 %
Kecambah + akuades

T (menit)
5
10
6
4

Volume gas per gram


375
750
660
120

1. Perhitungan pengukuran respirasi kecambah dengan KOH 10%


a. T skala
=
250 175 = 75 m3
Volume gas/jam

5 x 75 = 375 m3

Laju respirasi
46,87
93,75
80,5
15

b.

Laju respirasi

375/8 = 46,87 m/s

T skala

280 105 = 75 m3

Volume gas/jam

10 x 75 = 750 m3

Laju respirasi

750/8 = 93,75 m/s

2. Perhitungan pengukuran respirasi kecambah dengan akuades


a. T skala
=
150 40 = 110 m3
Volume gas/jam
=
6 x 110 = 660 m3
Laju respirasi
=
660/8 = 80,5 m/s
b. T skala
=
200 170 = 30 m3
Volume gas/jam
=
4 x 30 = 120 m3
Laju respirasi
=
120/8 = 15 m/s
4.2. Pembahasan
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat
makanan berbentuk karbohidrat yang dilakukan oleh tumbuhan,
terutama tumbuhan yang mengandung zat hijau daun, yaitu
klorofil. Selain yang mengandung zat hijau daun, ada juga makhluk
hidup yang melakukan fotosintesis yaitu alga, dan beberapa jenis
bakteri dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air
serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari. Sedangkan
proses respirasi adalah proses pembongkaran (katabolisme atau disimilasi)
yang terjadi pada makhluk hidup yang mana energi yang sebelumnya tersimpan
dalam bentuk senyawa kompleks dibongkar kembali untuk menghasilkan energi yang
nantinya akan digunakan untuk melakukan proses-proses kehidupan.
Percobaan pertama mengamati tentang pembentukan oksigen pada fotosintesis.
Bahan (sampel) tumbuhan yang digunakan adalah Hydrilla Verticillata dengan
beberapa perlakuan, yaitu pada tiga tempat yang berbeda dan pemberian tetesan
NaHCO3. Dari pengamatan terhadap jumlah gelembung udara yang dihasilkan oleh
masing-masing sampel terdapat perbedaan yang dipengaruhi adanya cahaya.
Semakin besar intensitas cahaya maka fotosintesis akan semakin cepat berlangsung
yang ditandai dengan semakin banyaknya jumlah gelembung yang dihasilkan.
Namun pada hasil pengamatan praktikan, terdapat beberapa hasil yang tidak sesuai
dengan teori yang seharusnya. Banyaknya gelembung akan membuktikan bahwa
dalam proses fotosintesis telah dihasilkan oksigen sebagai hasil dari proses

fotosintesis tersebut. Menurut teori yang seharusnya, faktor lain yang mempengaruhi
besarnya jumlah oksigen yang dihasilkan adalah intensitas penyinaran terhadap
tanaman tersebut.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa fotosintesis yang berlangsung di
dalam ruangan, di mana intensitas cahayanya lebih sedikit dibanding di luar ruangan,
menghasilkan jumlah gelembung udara yang jauh lebih sedikit. Namun ketika
membandingkan data hasil pengamatan yang berlangsung di bawah pohon dan di
tempat terbuka, data yang diperoleh menunjukkan bahwa pada sampel yang diberi
tetesan NaHCO3 yang berada di bawah pohon lebih sedikit dibandingkan dengan
sampel yang berada di tempat terbuka, sedangkan sampel yang tanpa diberi tetesan
NaHCO3 diperoleh data yang berada di bawah pohon lebih banyak menghasilkan
gelembung daripada yang berada di tempat terbuka.
Percobaan tersebut menghasilkan grafik yang menjelaskan tentang adanya
hubungan antara perlakuan (menggunakan cahaya dan tanpa cahaya), jumlah
gelembung, dan waktu dalam hasil pada proses fotosintesis Hydrilla verticillata.
Adapun penggunaan tanaman Hydrilla verticillata ini dikarenakan tanaman ini jenis
tumbuhan autotrof yang dapat membuat makanannya sendiri melalui proses
fotosintesis. Selain itu, tumbuhan ini ukurannya juga relatif kecil sesuai dengan
bentuk medium yang digunakan (gelas beker dengan corong kaca) yang
memudahkan dalam pengamatan.
Banyaknya gelembung membuktikan bahwa dalam proses fotosintesis telah
dihasilkan oksigen sebagai hasil dari proses fotosintesis tersebut. Faktor lain yang
menentukan besarnya jumlah oksigen yang dihasilkan adalah intensitas penyinaran
terhadap tanaman tersebut. Tanaman yang lebih lama mengalami penyinaran akan
lebih banyak menghasilkan oksigen. Jumlah oksigen yang dihasilkan di luar ruangan
lebih banyak jumlahnya daripada di dalam ruangan. Jadi, dapat dikatakan bahwa
cahaya merupakan bagian terpenting dalam kehidupan dan proses pembentukan
makanan. Namun, perbandingan pada tanaman menggunakan medium air yang
berada di dalam ruangan (tanpa cahaya) dengan tanaman yang berada di dalam
ruangan (tanpa cahaya) ditambah larutan Natrium Hidrogen karbonat (NaHCO 3)
menunjukkan hasil gelembung yang berbeda, yaitu yang tidak ditambah NaHCO 3
menghasilkan gelembung yang lebih banyak. Kemudian pada perlakuan tanaman

pada medium air di luar ruangan (di bawah pohon) dengan di luar ruangan ditambah
larutan NaHCO3 menunjukkan hasil yang sama seperti halnya di dalam ruangan,
yaitu gelembung yang dihasilkan tanpa penambahan larutan NaHCO 3 lebih banyak
lebih banyak dibanding dengan percobaan dengan penambahan larutan NaHCO 3. Hal
ini bertentangan dengan teori yang seharusnya, ketika ditambahkan larutan NaHCO3,
gelembung yang dihasilkan akan menjadi lebih banyak dibanding tanpa penambahan
larutan NaHCO3, karena NaHCO3 berfungsi untuk mempercepat proses fotosintesis
karena dalam senyawa ini setelah bereaksi dengan air (H 2O) akan terurai menjadi gas
CO2 yang digunakan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Hanya pengamatan di
luar ruangan (terbuka) saja yang sesuai dengan teori bahwa ketika ditambahkan
larutan NaHCO3, gelembung yang dihasilkan akan menjadi lebih banyak dibanding
tanpa penambahan larutan NaHCO3. Ketidaksesuaian hal tersebut mungkin
disebabkan oleh ketidaktelitian para praktikan dalam menghitung jumlah gelembung.
Percobaan kedua mengamati ada tidaknya kandungan amilum dalam daun.
Adanya amilum dalam suatu daun tanaman menunjukkan bahwa tanaman tersebut
melakukan fotosintesis. Dalam percobaan ini praktikan menggunakan sampel daun
bougenville dan daun kersen ditutup sebagian dengan aluminium foil selama 5 hari.
Setelah dibuka, bagian yang tertutup oleh kertas aluminium foil terlihat batas yang
ditunjukkan dengan adanya perbedaan warna, di mana warna daun yang tertutup oleh
aluminium foil nampak lebih muda dibanding daun yang tidak tertutup aluminium
foil. Selanjutnya daun bougenville dan kersen dimasukkan ke dalam gelas beker yang
berisi air, dimana air tesebut telah di panaskan sebelumnya. Kemudian dimasukkan
pada alkohol panas dan didiamkan selama 5 menit, ternyata setelah diangkat daun
bougenville dan kersen berubah warna dari hijau menjadi agak putih terang dan
mengerut terutama pada bagian yang bekas ditutup dengan aluminium foil. Pada
percobaan ini diketahui bahwa penggunaan air panas untuk membuka pori sel dan
mematikan sel tersebut, kemudian penggunaan etanol untuk melunturkan klorofil
pada daun yang dapat dilihat dari terjadinya perubahan warna.
Semua karbohidrat berasal dari tumbuh-tumbuhan. Karbohidrat berfungsi
sebagai sumber energi. Melalui fotosintesis, klorofil tanaman dengan bantuan sinar
matahari mampu membentuk karbohidrat dari karbondioksida (CO 2) berasal dari

udara dan air (H2O) dari tanah. Karbohidrat yang dihasilkan adalah karbohidrat
sederhana glukosa. Di samping itu dihasilkan oksigen (O2) yang lepas di udara.
6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2
Percobaan dilanjutkan dengan penambahan larutan JKJ pada daun. JKJ
merupakan indikator untuk mendeteksi kandungan amilum, di mana bila terdapat
amilum maka daun tersebut akan berwarna biru sampai kehitam-hitaman. Terlihat
perubahan yang terjadi pada daun bougenville dan kersen, yaitu warna daun yang
bekas tertutup aluminium foil menjadi warna jingga dan yang tidak tertutup
aluminium foil berwarna kehitam-hitaman. Hal ini menunjukkan bahwa pada daun
yang tertutup aluminium foil tidak terjadi proses fotosintesis dan pada bagian yang
tidak ditutup aluminium foil terjadi fotosintesis dan pada daun tersebut mengandung
amilum. Setelah dibandingkan antara daun bougenville dan kersen ternyata tidak ada
perbedaan di antara kedua daun tersebut setelah dicelupkan pada air panas, alkohol,
dan larutan JKJ. Fungsi larutan JKJ adalah untuk menguji atau mengetahui ada atau
tidaknya kandungan amilum pada jaringan daun yang diamati. Fungsi larutan alkohol
adalah untuk melarutkan klorofil sehingga klorofil yang terletak pada ujung-ujung
daun menjadi larut dan warna air berubah menjadi hijau setelah di aduk-aduk selama
5 menit.
Percobaan ketiga dilakukan pengamatan terhadap respirasi yang dilakukan oleh
kecambah. Respirasi yang dilakukan oleh kecambah adalah respirasi aerob.
Pengamatan terhadap respirasi yang dilakukan oleh kecambah adalah untuk
mengukur jumlah CO2 yang dihasilkan kecambah yang pertama kali dilakukan yaitu
menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dalam percobaan ini
menggunakan kecambah 10 gram. Penggunaan kecambah kacang hijau ini
didasarkan karena kecambah kacang hijau masih aktif dalam pertumbuhan, sehingga
intensitas respirasinya walaupun belum besar tetapi dapat mewakili pengamatan kali
ini. Selain itu kecambah ukurannya tidak relatif besar, sehingga sesuai dengan
medium yang digunakan. Percobaan ini dilakukan dua kali yakni pertama
menggunakan akuades yang kedua menggunakan larutan KOH 10%. Larutan ini
kemudian dimasukkan ke dalam tabung respirometer ganong. Setelah itu,
memasukkan kecambah ke dalam tabung respirometer ganong dan memutar
sumbatnya hingga kedua lubang berhadapan. Lalu, mengatur permukaan air dalam

pipa pada skala 20 dengan jalan menaikkan dan menurunkan pipa. Agar udara di
dalam tabung respirometer ganong terpisah dari udara luar, maka harus mengoleskan
sumbat dengan vaselin dan biarkan selama 30 menit. Langkah terakhir adalah
mengamati perubahan air dalam pipa. Jika permukaan airnya turun maka nilainya
positif, tetapi jika permukaannya naik maka nilainya negatif. Dari percobaan yang
telah dilakukan pada kecambah yang ditambahkan dengan akuades selama 4 menit
menghasilkan volume gas karbondioksida 120 permukaan airnya pun naik yang
berarti nilainya negatif, sedangkan pada kecambah yang ditambahkan KOH selama 6
menit menghasilkan volume gas karbondioksida 660 permukaan airnya pun naik
yang berarti bernilai negatif. Fungsi akuades pada percobaan kecambah adalah untuk
membersihkan kecambah dan untuk mengetahui perubahan permukaan air pada
respirometer ganong. Larutan akuades bukanlah sebagai larutan, namun bersifat
stabil. KOH yang bersifat lebih kuat, lebih cepat menangkap reaksi oksigen (O 2),
sehingga jika menggunakan KOH larutan sebagai indikator laju respirasi pada
kecambah menunjukkan hasil yang lebih cepat dibandingkan menggunakan akuades.
Selain itu, karena sifat KOH yang dapat mengikat O2 maka otomatis untuk proses
respirasi ini terjadi kompetisi antara larutan KOH dengan kecambah di dalam tabung
sehingga kecepatan penarikan O2 akan lebih cepat pula. Hal inilah yang memacu
kecepatan respirasi menggunakan KOH lebih cepat dibandingkan menggunakan
akuades.
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari

praktikum

yang

telah

dilaksanakan

dapat

diambil

kesimpulan :
1. Fotosintesis adalah suatu proses di mana zat-zat anorganik
H2O dan CO2 oleh klorofil diubah menjadi zat organik
karbohidrat dengan bantuan cahaya.

2. Proses fotosintesis menghasilkan gas oksigen dan pada daun


menghasilkan amilum yang dapat dilihat menggunakan JKJ
sebagai indikator.
3. Larutan NaHCO3

berfungsi

sebagai

katalisator

yang

mempercepat terjadinya fotosintesis karena dalam senyawa


ini setelah bereaksi dengan air (H2O) akan terurai menjadi gas
CO2 yang digunakan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis.
Air panas berfungsi untuk membuka pori sel dan mematikan sel. Alkohol
berfungsi untuk melunturkan klorofil pada daun yang dapat dilihat dari
terjadinya perubahan warna. Larutan JKJ berfungsi sebagai indikator untuk
mendeteksi kandungan amilum, di mana bila terdapat amilum maka daun
tersebut akan berwarna biru sampai kehitam-hitaman.
4. Respirasi adalah suatu proses pembongkaran (katabolisme) senyawa
kompleks menjadi senyawa sederhana. Juga merupakan proses pembebasan
energi kimia yang tersimpan di dalam molekul organik sel hidup.
5. Larutan KOH berfungsi untuk mengikat O2 sehingga pada proses respirasi
tersebut terjadi kompetisi antara larutan KOH dengan kecambah di dalam
tabung yang mengakibatkan kecepatan penarikan O2 akan menjadi lebih cepat
pula.
5.2.

Saran

Peralatan

yang

digunakan

dalam

praktikum

sebaiknya

diperiksa dulu, apakah dapat berfungsi dengan baik atau tidak


sehingga waktu yang diperlukan dalam pengamatan tidak terlalu
lama. Semua praktikan harus sudah menguasai dasar-dasar teori
praktikum. Selain itu, jumlah alat yang tersedia perlu ditambah
agar praktikum dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA
Azidin. 2002. Biologi 2. Intan Pariwara. Klaten.

Campbell, Neil A. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Erlangga.


Jakarta.
Kimball, J. W. 2002. Fisiologi Tumbuhan. Jakarta. Erlangga.
Praweda. 2003. Biologi Respirasi.
http://www.praweda.ui.ac.id/respirasi.htm
Diakses pada tanggal 1 November 2012.
Syamsuri. 2002. Biologi. Erlangga. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai