Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH

PREDIKSI GEMPA BUMI BERDASARKAN DATA


PANCARAN SINAR GAMMA
Dosen Pengampu : Achmad Hidayat

Disusun oleh:
Qori Fajar Hermawan

125090700111003

Hana Dwi Sussena

125090701111003

Reditha Ayu Rositadewi

125090701111004

Anyelin Meylisnita Gano

125090701111006

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

Kata Pengantar
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan maksimal.
Makalah ini berjudul Prediksi Gempa Bumi Berdasarkan Data Pancaran Sinar
Gamma. Dalam makalah ini dijelaskan mengenai sinar gamma, hubungan sinar
gamma dan gempa bumi serta studi kasus mengenai prediksi gempa bumi
berdasarkan data pancaran sinar gamma di Taiwan bagian timur.
Penulis juga mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam pengerjaan makalah ini. Dosen pengampu, Achmad
Hidayat, penulis mengucapkan terima kasih atas bimbingannya. Penulis juga tidak
lupa berterimakasih kepada keluarga penulis yang selalu mendukung penulis
untuk menjadi yang lebih baik lagi.
Penulis ingin makalah ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan yang
akan meningkatkan wawasan para pembaca. Namun, tidak hanya itu, penulis juga
berharap adanya kritik dan saran yang membangun, agar karya dari penulis dapat
diperbaiki di kemudian hari.
Malang, Mei 2015

Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar.................................................................................................. i
Daftar Isi........................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan............................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3 Tujuan......................................................................................................... 3
Bab II Tinjauan Pustaka.................................................................................... 4
Bab III Metodologi........................................................................................... 14
Bab IV Pembahasan.......................................................................................... 18
4.1 Sinar Gamma.............................................................................................. 18
4.2 Hubungan Sinar Gamma dengan Gempa Bumi.......................................... 21
4.3 Hasil Studi Kasus di Taiwan Bagian Timur................................................ 22
Bab V Kesimpulan............................................................................................ 34
Daftar Pustaka................................................................................................... 35

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Peluruhan radioaktif di lingkungan dapat berdampak pada kehidupan

manusia. Pancaran sinar kosmis yang ada dapat digunakan untuk meningkatkan
hasil panen dan juga dapat digunakan pada sektor lain. Pancaran sinar kosmis lain
seperti sinar gamma juga dapat mengindikasikan terjadinya sebuah gempa bumi.
sinar gamma yang dihasilkan oleh peluruhan radioaktif seperti

214

Pb dan

214

Bi. Di

suatu tempat dapat dilakukan pengukuran terhadap nilai pancaran sinar gamma
yang dihasilkan batuan di sekitarnya. Nantinya informasi ini, dapat digunakan
sebagai data untuk sistem peringatan dini daerah tersebut.
Di lingkungan sekitar terdapat beberapa jenis gas radioaktif alami. Salah
satunya adah radon (222Rn). Radon (222Rn) adalah gas mulia alami radioaktif dan
merupakan salah satu anak dari unsur

238

U. Unsur induknya radium

226

Ra. Radon

dihasilkan ditanah dan batu, yang dapat meninggalkan butir padat melalui tiga
cara: molekuldifusi, recoil langsung dan difusi molekul tidak langsung. Tekanan
terkonsentrasi karena deformasi pada kerak dapat menghasilkan cairan interstitial
yang dikompresi pada kedalaman lebih dari beberapa kilometer. Cairan
inimemiliki tekanan yang lebih tinggi di bagian bawah dan karenanya cenderung
untuk bermigrasi ke atas melalui retakan dalam kerak.Sebagai radon yang
dihasilkan dari uranium radioaktif melimpah dan radium dalamkerak, massa gas
radon dianggap dibuang ke udara daribawah tanah. Kehadiran produk peluruhan
radon dikonfirmasi oleh sinar gammadilepaskan dari peluruhan beta

214

Pb dan

214

Bi.
Selain di lingkungan terdapat gas radioaktif terdapat juga sinar radioaktif

yang tak asing kita kenali. Sinar radioaktif tersebut yaitu sinar alfa, sinar beta dan
sinar gamma. Sinar radioaktif alfa, beta dan gamma memiliki ciri dan karakteristik
yang berbeda-beda. Salah satu perbedaan dari ketiga sinar radioaktif ini yaitu jika
dilihat dari segi kecepatan, kecepatan pada sinar alfa sebesar 107 m/s, pada sinar
beta 108 m/s sedangkan pada sinar gamma kecepatannya sama seperto kecepatan
cahaya. Sinar gamma adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik

yang dihasilkan oleh radioaktivitas atau proses nuklir atau subatomik lainnya
seperti penghancuran elektron-positron.
Gempa merupakan suatu peristiwa pergerakan atau bergesernya lapisan
batuan bumi yang berasal dari dasar atau bawah permukaan bumi. Gempa terbagi
menjadi dua yaitu, gempa bumi tektonik dan gempa bumi vulkanik. Gempa bumi
tektonik adalah jenis gempa yang paling sering mengguncang Indonesia. Gempa
tektonik ini disebabkan oleh adanya pergeseran lempengan-lempengan kulit bumi,
dimana lempengan ini bergerak secara terus-menerus. Pergerakan lempengan kulit
bumi inilah pada saat tertentu antarlempengan tersebut terjadi tabrakan, patahan,
atau gesekan.
Taiwan terletak di batas lempeng aktif antara Lempeng Eurasia
danLempeng Laut Filipina. Lempeng Laut Filipina utara menumbuk di
bawahLempeng Eurasia sepanjang parit Ryukyu, dan Lempeng Eurasia
menumbuk ke arah timur di bawahLempeng Laut Filipina sepanjang sistem
Luzon-arc-Trench.Studi GPS menunjukkan bahwa Lempeng Laut Filipina
bergerak pada tingkat sekitar 8 cm / y, relatif terhadap lempeng Eurasia, dan
deformasi permukaan terjadi sepanjang Longitudinal Valley pada tingkat
pemendekan horisontalsekitar 3 cm / y. Hasil tumbukan terus menerus berupa
banyaknyagempa mikro dengan beberapa gempa besar. Interaksi antara dua
lempeng tersebut telah menyebabkan sangat struktur kerak yang kompleks di
wilayah Taiwan. The longitudinal Lembah di Taiwan timur adalahsuture zone,
yang sebagian besar ditandai oleh dorongan east-dipping yang memisahkan
duadaerah tektonik yang berbeda. Karena gempa bumi sering terjadi diTaiwan,
penelitian tentang prekursor gempa atau bahkan prediksi gempa penting
dilakukan. Stasiun Hualien Dong Hwa Universitas (DHUG) merupakan salah satu
stasiun untuk memprediksi gempa bumi.
Berdasarkan kegunaan dari sinar gamma, gempa bumi, dan juga penelitian
yang terdahululah yang menjadi latar belakang makalah ini dibuat.
1.2.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan sinar gamma?
2. Bagaimana hubungan antara sinar gamma dengan gempa bumi tektonik?

3. Bagaimana prediksi gempa bumi tektonik dengan menggunakan sinar


Gamma di Taiwan?
1.3.

Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui sinar gamma, mengetahui

hubungan antara sinar gamma dengan gempa bumi tektonik serta prediksi gempa
bumi tektonik dengan menggunakan sinar gamma di Taiwan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Teori tektonik lempeng adalah suatu teori yang menjelaskan mengenai
sifat-sifat bumi yang mobil/dinamis yang disebabkan oleh gaya endogen yang
berasal dari dalam bumi. Dalam teori ini permukaan bumi terpecah menjadi
beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak
bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu,
maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama
lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat
yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi,
gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi (BMKG, 2014).Dalam teori
tektonik lempeng dinyatakan bahwa pada dasarnya kerak-bumi (litosfir) terbagi
dalam 13 lempeng besar (mayor) dan kecil (minor).
Tabel 2.1 Lempeng tektonik
Lempeng Mayor
Lempeng Eurasia
Lempeng Amerika Utara
Lempeng Amerika Selatan
Lempeng Afrika
Lempeng Indo-Australia
Lempeng Pasifik
Lempeng Antartika

Lempeng minor
Lempeng Filipina
Lempeng Karibia
Lempeng Kokos
Lempeng Nazca
Lempeng Skotia
Lempeng Arabia

Gambar 2.1 Lempeng-Lempeng Utama Litosfir

Batas-batas dari ke 13 lempeng tersebut diatas dapat dibedakan berdasarkan


interaksi antara
lempengnya sebagai berikut.

Gambar 2.2 Batas-batas lempeng : Konvergen (atas), Divergen (tengah) dan


Transforms (bawah)
1. Batas Konvergen:
Batas konvergen adalah batas antar lempeng yang saling bertumbukan.
Batas lempeng konvergen dapat berupa batas Subduksi (Subduction) atau
Obduksi (Obduction).
Batas subduksi adalah batas lempeng yang berupa tumbukan
lempeng dimana salah satu lempeng menyusup ke dalam perut
bumi dan lempeng lainnya terangkat ke permukaan. Contoh batas
lempeng konvergen dengan tipe subduksi adalah Kepulauan
Indonesia sebagai bagian dari lempeng benua Asia Tenggara
dengan lempeng samudra Hindia.Australia di sebelah selatan
Sumatra-Jawa-NTB dan NTT. Batas kedua lempeng ini berupa
suatu zona subduksi yang terletak di laut yang berbentuk palung
(trench) yang memanjang dari Sumatra, Jawa, hingga ke Nusa
Tenggara Timur. Contoh lainnya adalah kepulauan Philipina,
sebagai hasil subduksi antara lempeng samudra Philipina dengan
lempeng samudra Pasifik.

Obduksi (Obduction) adalah batas lempeng yang merupakan hasil


tumbukan lempeng benua dengan benua yang membentuk suatu
rangkaian pegunungan. Contoh batas lempeng tipe obduksi adalah
pegunungan Himalaya yang merupakan hasil tumbukan lempeng
benua India dengan lempeng benua Eurasia.

Gambar 2.3 Jenis Batas Konvergen: Obduction/Obduksi (atas) dan


Subduction/Subduksi (bawah)

2.

Batas Divergen
Batas divergen adalah batas antar lempeng yang saling menjauh satu dan
lainnya. Pemisahan ini disebabkan karena adanya gaya tarik (tensional
force) yang mengakibatkan naiknya magma kepermukaan dan membentuk
material baru berupa lava yang kemudian berdampak pada lempeng yang
saling menjauh. Contoh yang paling terkenal dari batas lempeng jenis
divergen adalah Punggung Tengah Samudra (Mid Oceanic Ridges) yang
berada di dasar samudra Atlantik, disamping itu contoh lainnya adalah
rifting yang terjadi antara benua Afrika dengan Jazirah Arab yang

membentuk laut merah.


3. Batas Transform
Batas transform adalah batas antar lempeng yang saling berpapasan dan
saling bergeser satu dan lainnya menghasilkan suatu sesar mendatar jenis
Strike Slip Fault. Contoh batas lempeng jenis transforms adalah patahan

San Andreas di Amerika Serikat yang merupakan pergeseran lempeng


samudra Pasifik dengan lempeng benua Amerika Utara. Berdasarkan teori
tektonik lempeng, lempeng-lempeng yang ada saling bergerak dan
berinteraksi satu dengan lainnya. Pergerakan lempeng lempeng tersebut
juga secara tidak langsung dipengaruhi oleh rotasi bumi pada sumbunya.
Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan rotasi yang terjadi bola bumi
akan akan semakin cepat ke arah ekuator. Pada berikut diperlihatkan
prinsip-prinsip dari pergerakan lempeng bumi, dimana pada bagian kutub
(Euler pole) masuk kedalam lingkaran besar sedangkan ke arah ekuator
masuk kedalam lingkaran kecil. Interaksi antar lempeng dapat saling
mendekat (subduction), saling menjauh dan saling berpapasan (strike slip
fault).

Gambar 2.4 Prinsip-Prinsip Pergerakan Lempeng


Gempa bumi adalah getaran atau serentetan getaran dari kulit bumi yang
bersifat tidak abadi/sementara dan kemudian menyebar ke segala arah. Gempa
bumi juga merupakan hentakan besar yang terjadi sekaligus akibat penimbunan
energi elastic atau strain dalam waktu yang lama secara kontinuitas akibat adanya
proses pergerakan lempeng benua atau samudera. Sebenarnya, kullit bumi
bergetar secara kontinu walaupun relatif sangat kecil. Getaran tersebut tidak

dikatakan sebagai gempa bumi karena sifat getarannya terus-menerus, sedangkan


gempa bumi memiliki waku awal dan akhir terjadinya sangat jelas. Terdapat dua
teori yang menyatakan proses terjadinya atau asal mula gempa yaitu pergeseran
sesar dan teori kekenyalan elastis. Gerak tiba tiba sepanjang sesar merupakan
penyebab yang sering terjadi. (Bolt, 1978).
Berikut adalah klasifikasi gempabumi dari berbagai aspek:
1. Berdasarkan gelombang/getaran gempa
a) Gempa gelombang primer (gelombang lungitudinal)
Gelombang/getaran merambat di tubuh bumi dengan kecepatan antara 714 km/detik. Getaran ini berasal dari hiposentrum
b) Gempa gelombang sekunder (gelombang transversal)
Gelombang atau getaran merambat,seperti gelombang primer dengan
kecepatan yang sudah berkurang,yakni 4-7 km/detik. Gelombang sekunder
tidak dapat merambat melalui lapisan cair.
c) Gempa gelombang panjang
Gelombang panjang adalah gelombang yang merambat melalui permukaan
bumi dengan kecepatan 3-4 km/detik. Gelombang ini berasal dari
episentrum dan gelombang inilah yang banyak menimbulkan kerusakan di
permukaan bumi.
2. Bedasarkan faktor penyebab
a. Gempabumi vulkanik ( gunung api )
Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi
sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka
akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan
terjadinya gempabumi.. Gempabumi tersebut hanya terasa di sekitar
gunung api tersebut.
b. Gempa bumi tektonik
Gempabumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu
pergeseran lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai
kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempabumi ini
banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran
gempa bumi yang kuat mampu menjalar keseluruh 6 bagian bumi. Gempa
bumi tektonik disebabkan oleh perlepasan tenaga yang terjadi karena
pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik
dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan
antara batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari tektonik plate

(plat tektonik) menjelaskan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan


batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan
mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan
sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah
yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik.
c. Gempa runtuhan, adalah gempa lokal yang terjadi apabila suatu gua di
daerah topografi karst atau di daerah pertambangan runtuh.
Dalam gempa tektonik dan vulkanik memiliki mekanisme yang sama.
Naiknya magma ke permukaan juga dipicu oleh pergeseran lempeng tektonik
pada sesar bumi. Biasanya ini terjadi pada batas lempeng tektonik yang
bersifat konvergen (saling mendesak). Hanya saja pada gempa vulkanik, efek
goncangan lebih ditimbulkan karena desakan magma, sedangkan pada gempa
tektonik, efek goncangan langsung ditimbulkan oleh benturan kedua lempeng
tektonik. Bila lempeng tektonik yang terlibat adalah lempeng benua dengan
lempeng samudra, sesamya berada di dasar laut, karena biasanya benturan
yang terjadi berpotensi menimbulkan tsunami.
3. Berdasarkan magnitude gempa
Gempabumi sangat besar dengan magnitude lebih besar dari 8 SR.
Gempabumi besar magnitude antara 7 hingga 8 SR.
Gempabumi merusak magnitude antara 5 hingga 6 SR.
Gempabumi sedang magnitude antara 4 hingga 5 SR.
Gempabumi kecil dengan magnitude antara 3 hingga 4 SR .
Gempabumi mikro magnitude antara 1 hingga 3 SR .
Gempabumi ultra mikro dengan magnitude lebih kecil dari 1 SR .
4. Berdasarkan kedalaman sumber (Fowler 1990)
Gempabumi dalam : kedalaman hiposenter lebih dari 300 km (kadangkadang > 450 km).
Gempabumi menengah : kedalaman hiposenter antara 70 - 300 km .
Gempabumi dangkal : kedalaman hiposenter kurang dari 70 km .
5. Berdasarkan bentuk episentrum:
Gempa sentral: episentrumnya berbentuk titik
Gempa linear: episentrumnya berbentuk garis
6. Berdasarkan jaraknya
Gempa sangat jauh: jarak episentrum lebih dari 10.000 km
Gempa jauh: jarak episentrum sekitar 10.000 km.
Gempa lokal: jarak episentrum kurang 10.000 km.
7. Berdasarkan lokasinya
9

Gempa daratan : episentrumnya di daratan.


Gempa lautan : episentrumnya di dasar laut.
Sinar gamma (seringkali dinotasikan dengan huruf Yunani gamma, )

adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik yang diproduksi oleh
radioaktivitas atau proses nuklir atau subatomik lainnya seperti penghancuran
elektron-positron. Sinar gamma pertama kali diidentifikasi pada tahun 1900 oleh
Becquerel dan Villard sebagai komponen radiasi dari uranium dan radium yang
memiliki penetrasi jauh lebih tinggi dari partikel alpha dan beta. Pada tahun 1909,
Soddy dan Russell menemukan bahwa peluruhan sinar gamma diikuti hukum
eksponensial dan bahwa rasio koefisien atenuasi kepadatan bahan peluruhan
hampir konstan untuk semua bahan (Nelson dan Relly, 2000).
Gambar 2.5 menggambarkan sebuah eksperimen peluruhan sederhana.
Ketika radiasi gamma dengan intensitas IO adalah intensitas yang diteruskan, d
adalah ketebalan bahan perisasi dan adalah koefisien serapan linier bahan
perisai, maka dapat ditulis seperti berikut (Knoll, 1979):
I= I0 e -d

(2.1)

Gambar 2.5 Konsep dasar sinar gamma


Karena d tidak memiliki satuan, maka satuan dan d menyesuaikan. Jika
d dalam cm, maka dalam 1/cm. Nilai untuk setiap bahan sangat bergantung
pada nomor atom bahan dan juga pada radiasi gamma.Gambar 3.6
menggambarkan peluruhan eksponensial dalam tiga energi sinar gamma yang
berbeda dan menunjukkan bahwa peningkatan transmisi dengan meningkatkan
energi sinar gamma dan menurun dengan meningkatnya ketebalan absorber.
Pengukuran dengan sumber yang berbeda dan peredam menunjukkan bahwa

10

koefisien atenuasi 1 tergantung pada energi gamma-ray dan nomor atom (Z) dan
densitas (p) dari penyerap

Gambar 2.6 Transmisi pada sinar gamma dengan ketebalan absorbers


Koefisien peluruhan linier adalah koefisien penyerapan paling sederhana
untuk mengukur eksperimental, tetapi tidak biasanya ditabulasikan karena
ketergantungannya pada kepadatan bahan penyerap. Sebagai contoh, pada energi
yang diberikan, koefisien peluruhan linear air, es, dan uap semua berbeda,
meskipun bahan yang terlibat sama.
Sinar gamma berinteraksi terutama dengan elektron atom; Oleh karena itu,
koefisien peluruhan harus sebanding dengan P kerapatan elektron, yang sebanding
dengan bulk density bahan penyerap. Namun, untuk bahan tertentu rasio kerapatan
elektron untuk bulk density adalah konstan, Z / A, independen dari bulk density.
Rasio Z / A hampir konstan untuk semua kecuali elemen berat dan hidrogen.
P = Z /A

(2.2)

dimana P = densitas electron


Z = nomer atom
= densitas massa
A = nomer massa
Rasio koefisien atenuasi linear dengan kerapatan (l/) disebut massa
koefisien peluruhan dan memiliki dimensi luas per satuan massa (cm 2 / g).
Satuan koefisien dapat sebagai luas penampang efektif elektron per unit massa
11

absorber. Koefisien peluruhanmassa dapat ditulis dalam bentuk penampang reaksi,


(cm2):
=

N0
A

(2.3)

dimanaN0adalah nomor Avagadro dunia (6,02 x 1023) dan A adalah berat atom
penyerap. Penampang probabilitas dari sinar gamma berinteraksi dengan atom
tunggal. Persamaan 2-1 dapat ditulis sebagai:
I= I0 e L= I= I0 e x

(2.4)

Koefisien atenuasi massa independen dari kepadatan untuk contoh yang


disebutkan di atas, air, es, dan uap semua memiliki nilai yang sama dari p.
Koefisien ini lebih sering ditabulasi dari koefisien atenuasi linear karena
mengkuantifikasi kemungkinan interaksi sinar gamma dari unsur individu.
Referensi 3 dan 4 yang secara luas digunakan tabulasi dari koefisien atenuasi
massa elemen. Persamaan 2-5 digunakan untuk menghitung koefisien atenuasi
massa untuk bahan senyawa:

12

= i w i

(2.5)BAB III

METODOLOGI
Makalah ini dibuat berdasarkan studi literatur yang ada. Kemudian dari
literatur yang ada maka didapatkan sebuah ide yang kemudian didiskusikan
berdasarkan pendapat dan berdasarkan literatur yang ada. Selanjutnya, penulis
mendiskusikan satu buah studi kasus yang merupakan contoh penerapan dari ide
yang ada pada makalah. Pada hasil akhirnya, penulis mendapatkan bahasan
mengenai ide tersebut yang didukung oleh studi kasus pada hal yang sama. Hal ini
senada dengan diagram alir penelitian yang telah dibuat pada gambar 3.1.
Mulai
Studi Literatur
Diskusi

Mendapatkan Ide

Studi Literatur

Ide

Studi Kasus

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian


Dalam makalah ini juga membahas mengenai satu studi kasus di Taiwan
bagian timur yang dapat dilihat pada gambar 3.2. Penelitian tersebut juga
menggunakan metodologi tersendiri. Studi kasus ini menggunakan alat untuk
mengukur nilai radiasi sinar gamma yang dihasilkan oleh radon dan turunannya.

13

Alat tersebut adalah spektrometer sinar gamma. Pada alat utamanya tersebut
digunakan pembungkus timah, hal ini dikarenakan untuk menghindari jalaran
sinar gamma secara langsung yang berisiko terhadap alat tersebut. Kemudian alat
ini akan menghitung peluruhan yang dihasilkan oleh radon di tanah.

Gambar 3.2 Geologi regional dan lokasi hiposenter dari gempa yang telah terjadi
ditandai dengan gambar bulatan dengan kedalam ditandai dengan warna
(merah<50km, biru 50-100km dan abu-abu >100km) dengan magnitudo
ditentukan dengan besarnya bulatan. Tanda segitiga adalah lokasi pengukuran
sinar gamma daerah tersebut.
Secara umum, sinar gamma yang dihasilkan adalah akibar peluruhan
uranium setelah radon yakni oleh
ditangkap oleh alat adalah

214

Pb dan

214

Bi. Urutan pembentukan sinar yang

222

Rn akan meluruh dengan waktu paruh 3,82 hari

sehingga dapat berubah menjadi

218

Po dengan memancarkan partikel alfa dengan

14

nilai energi 5,49 MeV. Kemudian 218Po akan meluruh menjadi 214Pb dengan waktu
paruh 3,11 menit dengan memancarkan partikel alfa dengan energi 6,00 Mev.
Sedangkan peluruhan yang terjadi pada

214

Pb menjadi

26.8 menit dan kemudian meluruh menjadi

214

Bi dengan waktu paruh

214

Po dengan waktu paruh 19,9 menit

akan menghasilkan peluruhan gamma dengan memancarkan elektron sebesar 1,03


1,03 MeV dan 3,27 MeV, masing-masing. Sinar gamma memancarkan dari 351
keV untuk 214Pb dan 609 keV untuk 214Bi.
Spektroskopi gamma adalah alat teknik yang berguna untuk mendeteksi
jumlah yang sangat rendah dari sinar gamma yang memancar dari radionuklida
dan membedakan tingkat energi mereka. "NE110 gamma-ray" adalah penghitung
dengan ukuran 400 mm x 400 mm x 400 mm, yang dimasukkan dalam tabung
HDPE (High Density Polyethylene) di bawah 2 meter yang mendalam dan
ditempatkan ke dalam wadah yang terbuat dari timah- ketebalan 7 cm sebagai
pelindung untuk memberikan perisai pasif. Penghitung pancaran sinar akan
terhubung dengan photomultipliers dengan diameter 7,6 cm. Gas radon dapat
berdifusi ke dalam kotak utama. Namun, kotak timah akan mencegah setiap
radioaktivitas tambahan dari sumber atmosfer dan ditutupi dengan lapisan Mylar
(40 m). Ketika sinar gamma melewati penghitung sinar gamma, bahan
luminescent menyerap energi dan bercahaya. Photomultipliers kemudian
mengubah pulsa sinyal untuk menghasilkan arus elektron. Setelah konversi sinyal
analog, yang diterima adalah salah satu data digital yang akan dikirimkan melalui
komputer. Power supply dan komputer akan dlindungi oleh sebuah FRP
(Fiberglass Reinforced Plastics) sehingga mengurangi radiasi yang dihasilkan.
Kemudian alat diatur untuk menghitung energi sinar gamma dalam rentang 250700 MeV. Hal ini sesuai dengan energi yang dipancarkan oleh peluruhan menuju
214

Pb dan

214

Bi. Selain itu informasi tekanan, kelembaban dan suhu atmosfer akan

tercatat dan catatan curah hujan juga akan tercatat berdasarkan stasiun
meteorologi yang berada sekitar 5 km dan 2 km dari stasiun pengukuran sinar
gamma. Kemudian data yang dihasilkan per jam akan dikirimkan langsung menuu
laboratorium Institut Ilmu Bumi, Academia Sinica. Kemudian data kegempaan
juga diberikan ke laboratorium. Selama penelitian terjadi telah terjadi sekitar 186

15

kejadian gempa dengan magnitudo 2,8-5,9 SR. Sketsa alat yang digunakan dapat
dilihat dalam gambar 3.3.

Gambar 3.3 Sketsa susunan alat yang digunakan dalam pengambilan data.
Sehingga dalam penelitian tersebut, penulis memperkirakan diagram
alirnya adalah seperti ditunjukkan oleh gambar 3.4 berikut ini.
Mulai
Studi Literatur
Akuisisi Data
Pengolahan Data
Studi Literatur

Interpretasi Data
Hasil

16

Gambar 3.4 Diagram Alir Penelitian Studi Kasus di Taiwan bagian Timur

17

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Sinar Gamma
Sinar gamma adalah sinar yang tidak dapat dilihat oleh manusia. Hal
tersebut dikarenakan adanya perbedaan antara frekuensi dari sinar gamma dengan
kemampuan menyerap gelombang pada mata manusia. Gelombang ini dihasilkan
ketika terjadinya peluruhan suatu unsur radioaktif. Sehingga aktivitas peluruhan
suatu bahan dapat berupa sinar gamma ataupun sinar kosmis lainnya.
Sinar gamma (seringkali dinotasikan dengan huruf Yunani gamma, )
adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik yang diproduksi oleh
radioaktivitas atau proses nuklir atau subatomik lainnya seperti penghancuran
elektron-positron. Sinar gamma pertama kali diidentifikasi pada tahun 1900 oleh
Becquerel dan Villard sebagai komponen radiasi dari uranium dan radium yang
memiliki penetrasi jauh lebih tinggi dari partikel alpha dan beta. Pada tahun 1909,
Soddy dan Russell menemukan bahwa peluruhan sinar gamma diikuti hukum
eksponensial dan bahwa rasio koefisien atenuasi kepadatan bahan peluruhan
hampir konstan untuk semua bahan (Nelson dan Relly, 2000).
Gambar 4.1 menggambarkan sebuah eksperimen peluruhan sederhana.
Ketika radiasi gamma dengan intensitas IO adalah intensitas yang diteruskan, d
adalah ketebalan bahan perisasi dan adalah koefisien serapan linier bahan
perisai, maka dapat ditulis seperti berikut (Knoll, 1979):
I= I0 e -d
(2.1)

Gambar 4.1 Konsep dasar sinar gamma

18

Karena d tidak memiliki satuan, maka satuan dan d menyesuaikan. Jika


d dalam cm, maka dalam 1/cm. Nilai untuk setiap bahan sangat bergantung
pada nomor atom bahan dan juga pada radiasi gamma.Gambar

4.2

menggambarkan peluruhan eksponensial dalam tiga energi sinar gamma yang


berbeda dan menunjukkan bahwa peningkatan transmisi dengan meningkatkan
energi sinar gamma dan menurun dengan meningkatnya ketebalan absorber.
Pengukuran dengan sumber yang berbeda dan peredam menunjukkan bahwa
koefisien atenuasi 1 tergantung pada energi gamma-ray dan nomor atom (Z) dan
densitas (p) dari penyerap

Gambar 4.2 Transmisi pada sinar gamma dengan ketebalan absorbers


Koefisien peluruhan linier adalah koefisien penyerapan paling sederhana
untuk mengukur eksperimental, tetapi tidak biasanya ditabulasikan karena
ketergantungannya pada kepadatan bahan penyerap. Sebagai contoh, pada energi
yang diberikan, koefisien peluruhan linear air, es, dan uap semua berbeda,
meskipun bahan yang terlibat sama.
Sinar gamma berinteraksi terutama dengan elektron atom; Oleh karena itu,
koefisien peluruhan harus sebanding dengan P kerapatan elektron, yang sebanding
dengan bulk density bahan penyerap. Namun, untuk bahan tertentu rasio kerapatan
elektron untuk bulk density adalah konstan, Z / A, independen dari bulk density.
Rasio Z / A hampir konstan untuk semua kecuali elemen berat dan hidrogen.
P = Z /A

(2.2)
19

dimana P = densitas electron


Z = nomer atom
= densitas massa
A = nomer massa
Rasio koefisien atenuasi linear dengan kerapatan (l/) disebut massa
koefisien peluruhan dan memiliki dimensi luas per satuan massa (cm 2 / g).
Satuan koefisien dapat sebagai luas penampang efektif elektron per unit massa
absorber. Koefisien peluruhanmassa dapat ditulis dalam bentuk penampang reaksi,
(cm2):
=

N0
A

(2.3)

dimanaN0adalah nomor Avagadro dunia (6,02 x 1023) dan A adalah berat atom
penyerap. Penampang probabilitas dari sinar gamma berinteraksi dengan atom
tunggal. Persamaan 2-1 dapat ditulis sebagai:
I= I0 e L= I= I0 e x

(2.4)

Koefisien atenuasi massa independen dari kepadatan untuk contoh yang


disebutkan di atas, air, es, dan uap semua memiliki nilai yang sama dari p.
Koefisien ini lebih sering ditabulasi dari koefisien atenuasi linear karena
mengkuantifikasi kemungkinan interaksi sinar gamma dari unsur individu.
Referensi 3 dan 4 yang secara luas digunakan tabulasi dari koefisien atenuasi
massa elemen. Persamaan 2-5 digunakan untuk menghitung koefisien atenuasi
massa untuk bahan senyawa:
= i w i

(2.5)

20

4.2 Hubungan Sinar Gamma dengan Gempa Bumi


Sinar gamma yang dihasilkan dari peluruhan suatu bahan radioaktif dapat
menngindikasikan adanya kejadian alam yang ada. Unsur radioaktif ada pada
setiap batuan. Hal ini dikarenakan pada batuan yang telah terbentuk (beku,
sedimen maupun metamorf) memiliki unsur-unsur radioaktif yang berasal dari
magma. Sehingga pada pemanfaatannya, sinar gamma ataupun sinar kosmis
lainnya dapat digunakan untuk survei kejadian alam menggunakan perilaku
pancaran sinar kosmis pada suatu daerah.
Gempa bumi merupakan fenomena bergetarnya sebagian wilayah di bumi
dikarenakan adanya pelepasan energi yang besar berasal dari kegiatan tektonik
maupun vulkanik bumi. Gempa yang dihasilkan biasanya tergantung akumulasi
energi yang selalu menekan suatu daerah dengan aktivitas pergerakan lempeng
pada bumi maupun sistem gunung api. Tekanan yang dihasilkan oleh aktivitas
tersebut membuat perubahan muka bumi yang berkaitan dengan lokasi unsur
radioaktif pada lapisan kerak bumi.
Tekanan yang dihasilkan oleh aktivitas tektonik dan vulkanik akan
mengubah beberapa kekuatan muka tanah di sekitar wilayah tersebut. Hal ini jelas
memengaruhi peluruhan radioaktif yang ada. Ketika tekanan akibat kegiatan
tersebut mengubah muka bumi, maka jelas akan adanya lapisan batuan yang
terpampang dan hal tersebut mungkin akan bisa meningkatkan intensitas pancaran
sinar kosmis dari batuan tersebut.
Dalam

skala

mengindikasikan

kecil,

adanya

peningkatan
perubahan

pancaran

terhadap

sinar

nilai

kosmis

dapat

panacaran

sinar

kosmis.perubahan tersebut dapat mengindikasikan adanya fenomena alam yang


aan terjadi seperti gempa bumi. berdasarkan studi literatur yang ada, penulis
mendapatkan informasi bahwa semakin meningkatnya data pancaran sinar gamma
yang ada dapat mengindikasikan adanya gempa bumi yang akan terjadi. Namun
prediksi ini tidak bisa memprediksi besaran gempa yang akan terjadi. Bahkan
dengan anomali nilai pancaran sinar gamma juga akan memiliki ambiguitas yang
tinggi untuk memprediksi gempa yang akan terjadi, karena sinar gamma sangat
dipengaruhi oleh keadaan daerah tersebut sehingga banyak faktor yang
memengaruhi nilai pancaran tersebut.

21

4.3 Hasil Studi Kasus di Taiwan Bagian Timur


Pengukuran kontinyu di stasiun DHUG dimulai pada tanggal 7 Februari
2014, dilanjutkan dengan pengujian awal dan mengoptimalkan periode setelah
instalasi pada bulan November tahun 2013. Seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 3.1, data sinar gamma bersama dengan data meteorologi yang dicatat per
jam termasuk plot frekuensi - waktu. Plot frekuensi waktu data sinar gamma pada
Gambar 3.1 menunjukkan frekuensi di 0 sampai 5 siklus / hari dan amplitudo dari
1 siklus / hari serta frekuensi 2 siklus / hari.
Range dari tingkat perhitungan sinar gamma yang diamati adalah dari
98.062 ke 178.556 cph (hitungan per jam) dengan nilai rata-rata 117.451 cph
dengan standar deviasi 1.300 cph di bawah kondisi tekanan meteorologi (P)
bervariasi dari 999,4 ke 1,025.8 mb, kelembaban meteorologi (H) 44-100% dan
Suhu meteorologi (T) 11,7-31,1 . Variasi temporal semua faktor meteorologi
relatif kecil, dengan nilai rata-rata P = 4,9 mb untuk tekanan atmosfer, H =
9,4% untuk kelembaban, dan T = 3,9 untuk temperatur. Variasi diurnal data
gamma yang dicatat cukup signifikan dan peningkatan mendadak dalam durasi
pendek dari 20-22 Maret.

Gambar 4.3 Variasi temporal waktu-frekuensi (panel atas) dan variasi


sinar gamma (panel ketiga dari atas) selama periode waktu dari tanggal 7 Februari

22

sampai 27 Mei 2014. Parameter lainnya, seperti data atmosfer (tekanan,


kelembaban dan suhu) dan curah hujan (jam dan akumulasi per jam) juga
disertakan. Periode waktu dari 17-26 Februari 2014 ditandai sebagai persegi
panjang dan diperbesar ditunjukkan pada Gambar 4.4.
Masalah pasokan listrik menyebabkan hilangnya data set gamma untuk
monitoring pada 16 Maret, 26 - 27Maret , 17-21 April dan pada 4 Mei 2014
(Gambar. 3.1). Selama minggu kedua Februari 2014, rata-rata tingkat gamma
yang dihitung menurun ke nilai sekitar 115.000 cph dengan diikuti penyesuaian
awal untuk detektor. Tingkat penghitungan gamma menunjukkan fluktuasi yang
signifikan dan beberapa anomali dapat diidentifikasi secara langsung. Sementara
itu, beberapa periode variasi gamma tampaknya terpengaruh oleh parameter
meteorologi. Pengaruh tekanan udara, kelembaban dan suhu pada variasi gamma
relatif kecil di periode data karena koefisien korelasi yang sangat rendah yaitu
0,00002, 0,04 dan 0,07, untuk masing-masing parameter. Koefisien korelasi yang
rendah ini mungkin menunjukkan bahwa variasi gamma dikendalikan tidak hanya
oleh parameter meteorology saja, tetapi dengan proses geodinamika lain. Namun,
beberapa periode menunjukkan bahwa tingkat penghitungan gamma menurun
dengan meningkatnya suhu udara, seperti periode 17-26 Februari 2014 dan
periode 14-26 Maret 2014. Oleh karena itu, digunakan metode analisis untuk
memahami kemungkinan hubungan antara variasi gamma dan parameter
meteorologi. Tsvetkova et al. (2014) menggunakan sensor sinar gamma untuk
aplikasi seismologi bertempat di ruang bawah tanah dengan suhu konstan di
dekatnya dan tidak menemukan pengaruh suhu ruangan dan kelembaban, tetapi
dengan sedikit efek tekanan atmosfer.
4.3.1 Menghapus Pengaruh Parameter Meteorologi
Dalam rangka untuk mengukur pengaruh parameter meteorologi terhadap
variasi temporal gamma, suatu periode dari 17-26 Februari 2014 dipilih untuk
analisis lebih lanjut. Rata-rata penghitungan Gamma kemudian dibandingkan
dengan tekanan atmosfer, kelembaban dan suhu. Catatan curah hujan per jam juga
termasuk di dalamnya. Pada periode ini, ada perubahan besar suhu atmosfer dan
tidak ada pengaruh aktivitas seismic yang signifikan. Data variasi gamma
menunjukkan pengaruh yang menonjol oleh parameter meteorologi, terutama

23

suhu atmosfer. Data mentah sinar gamma (seperti yang ditunjukkan pada garis
putus-putus berwarna abu-abu pada Gambar 4.4) mengungkapkan penurunan
yang signifikan dengan meningkatnya suhu atmosfer.

Gambar 4.4 Panel atas menunjukkan profil tekanan atmosfer, kelembaban


dan temperatur. Panel kedua menunjukkan variasi temporal sinar gamma selama
periode waktu dari 17-26 Februari, 2014. Garis hitam menunjukkan data sinar
gamma terkoreksi dengan menghapus efek suhu. Garis putus-putus abu-abu
menyajikan data mentah dari sinar gamma. Curah hujan per jam ditampilkan di
panel bawah.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan regresi linear dan korelasi antarnilai
yang tercatat. Tingkat penghitungan gamma diplot terhadap tekanan atmosfer,
kelembaban dan suhu pada Gambar 3.3a-c. Tingkat penghitungan Gamma dan
tekanan atmosfer, seperti kelembaban atmosfer, memilliki korelasi yang buruk
yang dapat dibuktikan dengan koefisien korelasi rendah 0,32 dan 0,0004, untuk
masing-masing (Gambar 4.5a dan 4.5b). Korelasi negatif antara tingkat gamma

24

dan temperatur atmosfer dapat diamati pada koefisien korelasi yang tinggi 0,81
(Gambar 4.5c).

Gambar 4.5 Diagram variasi baku dan dikoreksi variasi gamma-ray


dengan tekanan atmosfer, kelembaban dan suhu selama periode waktu dari 17-26
Februari 2014 untuk (a-c) sebelum
Dengan menyelidiki regresi linier (Hays, 1994; Warne, 2011), dapat
diperoleh koefisien korelasi tinggi dari persamaan regresi linear berikut:
G = a(t) T + b

(1)

di mana G adalah tingkat penghitungan sinar gamma, a (t)= -1531 adalah


koefisien suhu udara, b = 140816 adalah tahanan. Regresi (1) merupakan
persamaan yang paling cocok untuk pengurangan variasi gamma (G) yang
disebabkan oleh perubahan dari temperatur meteorology (T). Koefisien korelasi
yang tinggi menunjukkan ketergantungan gamma yang tinggi terhadap parameter
meteorologi.

25

Spane (2002) menggunakan dekonvolusi regresi dalam mengestimasi


bagaimana parameter dalam sistem merespon dorongan dan menunjukkan
bagaimana hal ini meningkatkan smoothing data yang tercatat. Metode ini dapat
menghilangkan efek dari variasi suhu atmosfer dari data, menggunakan
persamaan linear berikut:

. (2)
di mana

dan G (t) adalah nilai gamma terkoreksi dan terukur, a t

adalah koefisien suhu udara, T adalah nilai temperatur terukur dan Tc adalah nilai
suhu konstan. Tc yang digunakan merupakan nilai median yaitu rata-rata suhu
yang diukur selama empat bulan yaitu 19,9 . Dengan menghapus efek suhu dari
tingkat penghitungan gamma yang terukur, hasil terkoreksi di (2) juga dapat
diperoleh, seperti di panel bawah Gambar 4.4 (ditunjukkan di garis hitam).

Gambar 4.6 Diagram variasi baku dan dikoreksi variasi gamma-ray


dengan tekanan atmosfer, kelembaban dan suhu selama periode waktu dari 17-26
Februari 2014 untuk (d-f) sebelum

26

Selanjutnya, Gambar 4.6 d-e menunjukkan korelasi yang buruk antara


variasi sinar gamma yang terkoreksi dan data meteorologi lainnya (termasuk
tekanan udara, kelembaban dan suhu) pada periode yang sama dari 17-26 Februari
2014 dengan koefisien korelasi 0,12, 0,034 dan 0,005, untuk masing-masing
parameter. Hal ini menunjukkan metode regresi linear cukup baik untuk memfilter
parameter meteorologi, seperti suhu atmosfer. Karena pengukuran dilakukan pada
permukaan bumi, peralatan teknis dipengaruhi fluktuasi diurnal temperature
udara. Suhu udara bisa berpengaruh pada pengukuran gamma dan akurasinya.
Banyak perangkat semikonduktor atau sensor listrik yang biasanya dipengaruhi
langsung oleh suhu, menyebabkan pengurangan sensitivitas perangkat.
4.3.2 Analisis Waktu-frekuensi

Gambar 4.7 Spektrum frekuensi variasi sinar gamma baku (awal) dan
terkoreksi di DHUG stasiun diperoleh FFT ditunjukkan dalam (a) sebelum dan (b)
setelah menghapus efek suhu.
Dalam rangka untuk lebih menguji hubungan antara data mentah dan data
sinar gamma terkoreksi, data hasil pencatatan dihitung dengan Fast Fourier
Transform (FFT) seperti ditunjukkan pada Gambar 4.7. Spektrum yang diperoleh
dari data mentah ditunjukkan pada Gambar 4.7, di mana power di frekuensi 1 dan
2 siklus / hari cukup signifikan. Setelah menghapus efek suhu, power di frekuensi
1 dan 2 siklus / hari menjadi jauh lebih lemah (Gambar 4.7b). Oleh karena itu,
amplitudo kedua frekuensi pada Gambar 3.5a terkait dengan variasi suhu dan suhu
adalah sumber utama variasi 1 dan 2 siklus / hari. Namun, frekuensi pada 1 dan 2
siklus / hari masih menunjukkan puncak pada Gambar 3.5b. Variasi diurnal dan
semi-diurnal pada Gambar 3.5b kemungkinan akan terkait dengan perubahan

27

permeabilitas sistem patahan yang disebabkan oleh pasang bumi (Rojstaczer dan
Wolf, 1992;. Weinlich et al, 2006).
Diagram waktu-frekuensi diperoleh dari metode wavelet Morlet, yang
menyediakan fungsi yang baik untuk pembangunan transformasi wavelet kontinu
(Sadowsky, 1994). Panel atas pada Gambar. 4.3 menunjukkan diagram waktufrekuensi dengan frekuensi 0-5 siklus / hari, yang diperoleh dari data mentah.
Amplitudo 1 siklus / hari terlihat seperti pada Gambar. 4.5. Dibandingkan dengan
panel atas pada Gambar 4.7, yang diperoleh dari data terkoreksi, frekuensi 1 siklus
/ hari hampir menghilang, hanya muncul pada awal Mei. Seperti disebutkan di
atas, variasi diurnal dengan frekuensi 1 siklus / hari terutama dipengaruhi oleh
suhu. Frekuensi ini masih signifikan dalam data terkoreksi dari 08-25 Mei, yang
mungkin berhubungan dengan efek pasang surut seperti yang disebutkan
sebelumnya.
4.3.3 Variasi Sinar Gamma dan Seismisitas
Time series data gamma terkoreksi diplot dengan data seismik, catatan
curah hujan dan spektogram pada periode dari tanggal 7 sampai 27 Mei 2014 di
Gambar 3.5. Spektogram menunjukkan frekuensi 0 sampai 5 siklus / hari, di mana
amplitudo yang signifikan dari 1 siklus / hari hanya muncul pada bulan Mei dan 2
siklus / hari menunjukkan fitur yang tidak jelas. Sebuah variasi diurnal dalam data
gamma dicatat cukup signifikan dan variasi durasi pendek yang meningkat secara
mendadak juga diamati pada bulan Mei. Rata-rata penghitungan gamma selama
24 jam ditunjukkan dengan garis merah pada gambar 4.8b untuk mengenali nilai
awalnya. Besarnya dan kedalaman gempa diplot pada Gambar 4.7a dan 4.8d,
masing-masing.

28

Gambar 4.8 Variasi temporal waktu-frekuensi (3.6a) dan variasi sinar


gamma terkoreksi (panel kedua / 3.6b) selama periode waktu dari 7 Februari-27
Mei, 2014. Besarnya dan kedalaman gempa (7c dan 7d). (7e) akumulasi Jumlah
dari gempa bumi pada jarak yang berbeda ditampilkan sebagai histogram. (7f)
curah hujan Per Jam (panel bawah).
Peristiwa gempa diurutkan menurut jarak antara stasiun monitoring dan
hiposenter gempa. Gempa bumi diklasifikasikan oleh jarak kurang dari 50 km
(dilambangkan dengan lingkaran merah), antara 50 dan 100 km (lingkaran biru)
dan lebih besar dari 100 km (lingkaran abu-abu), untuk membahas distribusi
spasial peristiwa seismic (Gambar 4.8c dan 4.8d). Akumulasi jumlah gempa bumi
pada jarak yang berbeda juga diplot untuk menunjukkan intensitas kegiatan
seismik (Gambar 4.8e).
Setelah 16 Februari 2014, rata-rata perhitungan gamma terkoreksi
menurun ke nilai awal sekitar 111.000 cph (hitungan per jam). Sebelum 20 Maret
variasi gamma terkoreksi cukup stabil, dengan pengecualian periode untuk 26
Februari - 3 Maret yang menunjukkan sedikit peningkatan dari ~ 2%. Rata-rata
29

perhitungan gamma terkoreksi meningkat selama periode 20-26 Maret yaitu


menjadi 122.000 cph (~ 10 % peningkatan). Selama periode ini, tidak ada hujan,
kecuali sesekali gerimis. Ada penurunan tiba-tiba dari hitungan sinar gamma
terkoreksi pada 26 Maret yang diikuti oleh sebuah gempa swarm, yang terjadi
pada sekitar kedalaman 19 km, sejak 26 Maret hingga 27 Maret. Jarak antara
hiposenter dari gempa swarm dan stasiun DHUG sekitar 70 km. Lonjakan jumlah
gempa bumi dapat dengan mudah diamati.
Setelah 27 Maret, variasi gamma terkoreksi tetap stabil selama beberapa
minggu sampai 22 April. Kemudian jumlah sinar gamma terkoreksi mulai
meningkat terus menerus sampai 27 April dengan nilai tertinggi 135.000 cph. Dan
ada penurunan sementara pada tanggal 29 April, ketika nilainya menurun ke nilai
awal dan diikuti oleh segerombolan gempa lain yang terjadi pada kedalaman 10
sampai 20 km, sejak 3 Mei

sampai 5 Mei. Akumulasi Jumlah gempa

menampilkan aktivitas seismik yang luar biasa tinggi. Jarak dari hiposenter gempa
swarm ke stasiun pemantauan sekitar 40 km selama periode ini. Sementara itu,
ada gempa bumi (ML = 5,3) yang terjadi pada 4 Mei. Dalam kedua kasus kenaikan
sinar gamma yang sangat kuat dicatat sekitar 6 hari dan 10 hari sebelum
datangnya gempa. Perlu dicatat bahwa spektogram (plot waktu-frekuensi)
menunjukkan adanya amplitudo tinggi pada frekuensi sangat rendah 0,3 siklus /
hari selama terjadinya kedua gempa yang ditunjukkan oleh panah merah muda di
panel atas Gambar 4.7a. Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa kawanan
gempa dipengaruhi oleh proses geodinamika, yang diinduksi oleh medan stress
tektonik, dan menyebabkan

perubahan tekanan pori. Fleischer (1981) juga

menyimpulkan bahwa gas dan migrasi fluida dengan pembukaan atau penutupan
celah dapat dipengaruhi oleh perubahan di bidang regangan selama ada stress
sebelum aktivitas seismik.
Jumlah sinar gamma terkoreksi mulai teramati dengan fluktuasi yang
sangat besar sebelum gempa besar (ML = 5,9) yang terjadi di Fanglin daerah
sepanjang Longitudinal Valley pada 21 Mei 2014. Gempa bumi dengan focus
kedalaman 18 km hanya terletak sekitar 13 km jauhnya dari stasiun. Hal ini
menunjukkan bahwa peningkatan yang signifikan dari data sinar gamma
terkoreksi dapat berfungsi sebagai tanda dua minggu sebelum terjadinya event

30

gempa (ML = 5,9). Setelah Gempa Fanglin, jumlah sinar gamma terkoreksi
meningkat selama dua hari kemudian diikuti oleh gempa lain (M L = 5.1) pada
kedalaman 7 km di sepanjang bagian selatan Longitudinal Valley. Selain itu,
selama minggu pertama bulan Mei, spektogram (plot waktu-frekuensi)
menunjukkan fluktuasi yang besar dan frekuensi 1 siklus / hari menunjukkan
frekuensi rendah lainnya. Dari catatan gempa, aktivitas seismik yang sangat tinggi
masih dapat diamati pada akhir Mei. Namun, variasi sinar gamma terkoreksi turun
ke nilai-nilai awal dan terjadi fluktuasi yang stabil setelah proses-proses
geodinamika berakhir (Gbr. 4.7).
4.3.4 Diskusi
Pentingnya fluida dalam mempengaruhi gempa telah ditunjukkan oleh
beberapa peneliti (misalnya, Nur dan Booker, 1972). Pengamatan geologi
menunjukkan bahwa zona sesar mempunyai permeabilitas tinggi dan jangkauan
zona gelincir yang mendominasi evolusi tekanan pori, di mana fluida dapat
mengalir (Sibson, 2003). Tekanan pori merupakan tekanan ke segala arah yang
disebabkan oleh tekanan air yang mengisi rongga di dalam butiran padat . Korelasi
spasial antara aktivitas seismik selama kejadian gempa dan medan tegangan
tektonik mungkin disebabkan oleh perubahan tekanan Coulomb (Feuillet et al.,
2004). Tekanan Coulomb atau Coulomb stress merupakan perubahan tekanan
pada patahan di sekitar daerah yang terjadi gempabumi akibat gempa bumi itu
sendiri. Stasiun DHUG terletak di Longitudinal Valley, yang merupakan zona
patahan di perbatasan antara lempeng Eurasia dan lempeng Laut Filipina. Zona ini
sangat rawan gempa karena konvergensi yang berkelanjutan, perubahan
mendadak dalam tekanan pori dipengaruhi oleh perubahan tekanan Coulomb
dalam periode singkat, yang mungkin terkait dengan akan terjadinya patahan atau
gempa, menyebabkan anomali sinar gamma dalam jangka waktu pendek (20-25
Maret dan 23 April-2 Mei). Demikian pula, Katsura et al. (1989) melaporkan
bahwa tingkat radiasi gamma menurun setelah sebelumnya terjadi peningkatan
sebelum gempa bumi.
Selain itu, perubahan progresif pada tekanan pori dalam beberapa saat
mengekspresikan respon yang tinggi dari medium dan tekanan Coulomb tidak
mendekati Coulomb Failure Function, yang mungkin berkaitan dengan gempa
besar berikutnya. Antonioli et al. (2005) mengemukakan bahwa proses relaksasi
31

tekanan pori merupakan gangguan tekanan yang menyebar melalui medium cairan
jenuh. Dynamic stress dari patahan tektonik mampu mempengaruhi perubahan
pada fluida sehingga deformasi pada kerak bumi menyebabkan perubahan besar
pada tekanan pori. Perubahan tekanan ini akan merangsang aktivitas seismik
regional, termasuk gempa kecil dan gempa besar (Spicak dan Horlek 2001 ;
Audin et al, 2002)..

Gambar 4.9 Informasi kegempaan di wilayah survei yang terjadi sepanjang


Februari-Mei 2014 dan informasi fokal mekanisme.
Dari distribusi temporal gempa bumi selama Maret 10 sampai 27 Mei
2014 terlihat rentetan gempa-gempa kecil terjadi di sepanjang sistem Longitudinal
Valey yang diplot dengan warna kuning, merah dan hijau untuk periode 26-27
Maret, 03-05 Mei dan 25 Mei. Perlu dicatat bahwa serentetan gempa terjadi di
segmen utara Longitudinal Valey dari Mei 3 sampai 5. Serentetan gempa ini
mungkin memicu gempa menengah. Kejadian gempa bumi bergeser ke selatan,
termasuk gempa Fanglin. Mekanisme fokus dengan komponen strike-slip dan
orientasi sesuai dengan shortening NW-SE, yang disebabkan oleh pergerakan
lempeng Laut Filipina ke arah NW. Seri gempa lain terjadi sesudahnya sepanjang

32

segmen selatan Longitudinal Loire. Tiga tahapan yang berbeda transfer stress dari
utara ke selatan sepanjang sistem Longitudinal Valley dapat diidentifikasi selama
periode ini. Tahap deformasi ini mungkin menunjukkan bahwa tekanan pori
didominasi oleh perambatan patahan intermiten. Cocco et al. (2000) juga
melaporkan migrasi spasial dan temporal kegempaan yang disebabkan oleh
perubahan Coulomb stres dan relaksasi tekanan pori.
Dapat dikatakan bahwa adanya fluida dapat dibuktikan oleh hasil
tomografi dan pengamatan gempa bumi mikro. Hasil tomografi menunjukkan
bahwa Vs rendah atau Vp / Vs yang lebih tinggi mungkin mencerminkan adanya
fluida di dalam kerak bumi, sepanjang zona patahan Longitudinal Valey di daerah
studi (Wu et al, 2007;.. Huang et al, 2014 ). Bukti lainnya yang mungkin dapat
menjelaskan adanya pengaruh fluida adalah dari gelombang seismic dari
gelombang mikro.
Hal ini layak melihat bahwa peningkatan gas radon dalam tanah yang
signifikan ditemukan sebelum gempa besar Fanglin (ML = 5,9), mirip dengan
peningkatan sinar gamma untuk periode yang sama.hal tersebut dapat dilihat pada
gambar 4.8. Di sisi lain, tidak ada peningkatan yang signifikan dalam gas radon
tanah ditemukan sebelum dua rentetan gempa dengan gempa yang lebih kecil. (Fu
et al., 2014).
Perlu dicatat bahwa tiba-tiba untuk beberapa saat, peningkatan jumlah
sinar gamma sering terekam, hal ini mungkin terkait dengan hujan deras atau
akumulasi curah hujan. Sebuah peningkatan tiba-tiba dari jumlah gamma-ray
sesuai dengan rentang frekuensi yang luas dengan plot waktu-frekuensi dengan
frekuensi 0-5 siklus / hari karena curah hujan. Peristiwa dengan peningkatan tibatiba dari sinar gamma dilambangkan dengan anak panah merah muda pada
Gambar. 7a. Sering teramati bahwa radiasi gamma di permukaan tanah meningkat
pada saat hujan (Minato, 1980a; 1980b; Nishikawa et al, 1995;. Yamanisi dan
Miyake, 2003). Hal ini dapat dijelaskan bahwa tingkat penghitungan sinar gamma
dari 214Pb dan 214Bi meningkat selama hujan deras. Hal ini menunjukkan bahwa
nuklida ini dapat bergerak ke permukaan tanah di sekitar detektor selama terjadi
hujan (ichiji dan Hattori, 2000).

33

BAB V
KESIMPULAN
Sinar gamma (seringkali dinotasikan dengan huruf Yunani gamma, )
adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik yang diproduksi oleh
radioaktivitas atau proses nuklir atau subatomik lainnya seperti penghancuran
elektron-positron.Variasi Gamma-ray dipantau di stasiun pemantauan DHUG,
terletak di Longitudinal Lembah Taiwan timur. Hasil variasi temporal gamma-ray
tingkat penghitungan dibandingkan dengan faktor-faktor atmosfer. Pengaruhsuhu
atmosfer diamati dalam pengukuran sinar gamma. Linierregresi dilakukan untuk
menghilangkan efek signifikan suhu darivariasi sinar gamma.
Hasil pemantauan sinar gamma yang komprehensif berdasarkan pengamatan
multi-komponen (sinar gamma dan faktor lingkungan, seperti tekanan atmosfer,
kelembaban, suhu dan curah hujan) menunjukkan bahwa sinar gamma
memperlihatkan peningkatan anomali beberapa hari sebelum gempa bumi terjadi.
Peningkatkan periode gamma dalam perhitungan mungkin terkait dengan
perubahan stres diinduksi dalam Longitudinal Valley, yang mungkin terkait
dengan kawanan gempa yang akan datangdan (atau) gempa besar.

34

DAFTAR PUSTAKA
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. (2014). Gempa Bumi. Retreived
from Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Web site:
http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Gempabumi__Tsunami/Gempabumi.bmkg.
Bolt, B. A. (1978). Earthquake a Primier. USA: W. H Freeman & CO.
Fu, C.C, dkk. (2015). Journal of Asian Earth Sciences: Temporal variation of
gamma rays as a possible precursor of earthquake in the Longitudinal
Valley of eastern Taiwan.
G. F. Knoll. (1979).Radiation Detection and Measurement. New York: John
Wiley& Sons.

35