Anda di halaman 1dari 7

RINGKASAN HASIL PENELITIAN

PENGARUH PEMBERIAN KOPI DAN ASAP ROKOK TERHADAP KERUSAKAN


GINJAL MENCIT ( Mus musculus L)
NAMA
:
NIM
:
PEMBIMBING :

LOURA PATTIPEILOHY
2008 76 057
1. Prof. Dr. P. Kakisina, S.Pd., M.Si
2. M. Moniharapon, S.Pt., M.Si

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kopi merupakan bahan penyegar yang biasanya disajikan dalam bentuk minuman yang
dipersiapakan dari biji tanaman kopi yang telah dipanggang.Tanaman kopi terbagi atas 2 spesies
yaitu arabika dan robusta (Wikipedia, 2007).Kandungan kopi lebih tinggi dan memiliki rasa pahit
dan asam.Senyawa terpenting yang terdapat di dalam kopi adalah kafein.Kafein dalam kopi
berfungsi sebagai senyawa perangsang yang bersifat bukan alkahol, rasanya pahit dan dapat
digunakan untuk obat-obatan.Senyawa kafein dalam kopi dapat mempengaruhi sistem saraf
pusat,otot dan ginjal.Nikotin adalah suatu zat kimia utama dalam tembakau yang mempunyai
efek psikoaktif dan adiksi (kecanduan) sangat kuat.Nikotin dalam asap rokok bersifat sebagai
radikal bebas yang apabila berada dalam tubuh akan terjadi stress oksidatif.Jika terjadi
ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh maka sel-sel ginjal
menjadil rusak dan tidak dapat berfungsi (Widodo, 2006).
Kecanduan kopi dan rokok diduga, berdampak pada aliran darah ke ginjal, karena kopi dapat
meningkatkan kecepatan detak jantung dan dilatasi pembuluh darah arteri yang memberi
pengaruh bertambahnya aliran darah ke ginjal, sehingga mengakibatkan rusaknya ginjal
(Anonim, 2013).Salah satu bagian ginjal yang paling sering rusak adalah tubulus proksimal.
Tubulus proksimal peka terhadap anoksia dan mudah hancur karena keracunan akibat kontak
dengan bahan-bahan yang diekskresikan melalui ginjal.
Berdasarkan latar belakang diatas diduga bahwa kopi dan asap rokok berpengaruh terhadap
kerusakan organ ginjal, untuk membuktikan hal tersebut diperlukan penelitian dan kajian yang
mendalam
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh kopi dan asap rokok terhadap kerusakan organ ginjal Mencit (Mus
musculus) ?
C. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh kopi dan asap rokok terhadap kerusakan organ ginjal Mencit(Mus
musculus L).
D. Manfaat
Dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, untuk mengetahui efek kopi dan asap rokok
sebagai salah satu zat yang menyebabkan kerusakan pada ginjal mencit dan menjadi sumber
acuan yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang lebih lanjut.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Zoologi - Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura dimulai dari tanggal 02 desember 2013 sampai
dengan tanggal 10 januari 2014 dan pembuatan preparat histologi ginjal di Universitas
Brawijaya Malang.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Kandang mencit, pisau bedah, alat bedah paraffin, kotak rol film, kaca pembesar (Loop) ,neraca,
pinset, Smoking chamber dan kamera.
2. Bahan
Mencit (Mus musculus) yang setiap perlakuan terdiri dari 12 ekor mencit jantan, Kopi,
Rokok, NaCl 0,9 %, Alkohol 70% sebagai desinfektan dan cairan pengawet ethanol absolut,
Pakan, Jerami untuk alas kandang, berguna untuk menjaga kehangatan kandang dan
menyerap urin sehingga kandang tetap kering.
C. Prosedur Kerja
1. Cara Perlakuan
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental yang menggunakan mencit jantan
sebagai objek penelitian.Penelitian ini menggunakan 12 ekor mencit yang dibagi menjadi 4
kelompok masing-masing 3 ekor mencit, perlakuan sebagai berikut :
Kelompok I Kontrol (K) :
Tidak diberi paparan asap rokok dan kopi.
Kelompok II
:
Diberi kopi 0,002 gr/BB
Kelompok III
:
Diberi paparan asap rokok
Kelompok IV
:
Diberi paparan asap rokok setelah 1jam pemberian
Kopi 0,002 gr/BB.
Dosis yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan hasil konversi dosis maksimal yang
digunakan oleh manusia ke mencit mengikuti tabel konversi perhitungan dosis antar jenis hewan
menurut cara Laurence & Bacharach 1964, ( dalamNgatijan, 1991 ). Konversi dosis manusia yang
berat badannya 70 kg ke mencit yang berat badannya 20 gr = 0,0026. Berat rata rata manusia
Indonesia 50kg. Manusia mengkonsumsi kopi rata rata 300mg/hari (Hardinsyah, 2008) = 0,3gr.
Untuk manusia dengan berat 70 kg, dosis kopi = 70/50 x 0,3gr = 0,42gr. Dosis kopi untuk mencit
20gr = 0,42 x 0.0026 = 0,002gr/BB. Mencit dewasa minum 4 8 ml air per hari (Soesanto
Mangkoewidjojo, 1988).Kopi 0,002 gr/BB di campurkan dengan 2 ml air dan diberikan ke mencit
secara oral selama 30 hari.
Cara Pemberian Kopi
Kopi dilarutkan dalam akuades 2 ml secara oral dengan dosis kopi0.002 gr/BB. Untuk
kelompok I sebagai kelompok control, kelompok III dan IV diberikan kopi sebanyak 0,002
gr/BB secara oral. Kopi diberikan selama 30 hari dan pada hari ke-31 mencit di bedah
kemudian diambil organ ginjal, difikasi dengan formalin 4%, selanjutnya dibuat preparat
histologi dengan metode blok paraffin pengecetan HE.
3. Cara Pemberian Asap Rokok
Pemberian asap rokok kretek dengan dosis 1 batang per kelompok setiap pagi hari setelah 1
jam
pemberian kopi. Tahapan
paparan asap rokok dilakukan dengan terlebih dahulu
mempersiapkan peralatan yang digunakan dengan pemaparan ini yaitu smoking pump yang
dirangkai dengan smoking chamber. Smoking chamber dua lubang, satu lubang di

bagian samping untuk dihubungkan dengan pump dan yang satu lagi di depan digunakan
sebagai ventilasi/memungkinkan pertukaran udara. Tiga ekor dari tiap kelompok dimasukan
dalam smoking chamber melalui bagian atas smoking chamber, kemudian ditutup kembali.
Satu batang rokok kretek dipasang pada pipa yang dihubungkan dengan pump.Rok ok
kretek yang telah terpasang pada pump dibakar menggunakan korek api dan pump
dinyalakan, sehingga asap rokok masuk ke dalam smoking chamber. Stopwatch/penghitung
waktu dipasang untuk mengetahui waktu yang digunakan untuk menghabiskan satu batang rokok
kretek. Smoking chamber akan terisi asap rokok selama proses pemapapan asap rokok dan
perilaku mencit dapat diamati dalam smoking chamber.Asap rokok dan kopi dilakukan
sebelum mencit diberi makan. Pemberian asap rokok 1 jam setelah pemberian kopi agar
kopi terabsorbsi terlebih dahulu (Dewi, 2010). Pada hari ke-31 , mencit dibedah kemudian
diambil organ ginjal difiksasi dalam formalin 4%, selanjutnya dibuat preparat histologi
dengan metode blok paraffin dengan pengecatan HE.
4. Cara Pembuatan Preparat Sayatan Ginjal
Pembuatan preparat sayatan ginjal dilakukan dengan prosedur menurut Nadzifa (2010) :
1. Tahap coating, dimulai dengan menandai obyek galas yang akan digunakan dengan kikir kaca
pada bagian tepi, kemudian direndam dalam alkohol 70% minimal semalam. Kemudian
obyek glass dikeringkan dengan tissue dan dilakukan perendaman dalam larutan gelitan 0,5%
selama 30/slide, lalu dikeringkan dengan posisi disandarkan hingga gelitan yang melapisi
kaca dapat merata.
2. Organ ginjal yang telah disimpan dalam larutan formalin 4% dicuci dengan alkohol selama 2
jam, dan dilanjutkan dengan pencucian secara bertingkat dengan alkohol yaitu dengan
alkohol 90%, 95%, etanol absolut (3kali), xylol (3kali), masing-masing selama 20 menit.
3. Tahap infiltrasi yaitu dengan menambahkan paraffin sebanyak 3 kali selama 30 menit.
4. Tahap embedding. Bahan beserta paraffin dituangkan ke dalam kotak karton atau wadah yang
disiapkan dan diatur sehingga tidak ada udara yang terperangkap didekat bahan. Blok
paraffin dibiarkan semalam dalam suhu ruang kemudian diinkubasi dalam freezer sehingga
blok benar-benar keras.
5. Tahap pemotongan dengan mikrotom. Cutter dipanaskan dan ditempelkan pada dasar blok
sehingga paraffin sedikit meleleh. Holder dijepitkan pada mikrotom putar dan ditata sejajar
dengan mata pisau mikrotom. Pengirisan atau penyayatan diawali dengan mengatur
ketebalan irisan. Untuk ginjal dipotong dengan ukuran um, kemudian pita hasil irisan diambil
dengan menggunakan kuas dan dimasukan air dingin untuk membuka lipatan lalu dimasukan
air hangat dan dilakukan pemilihan irisan yang terbaik. Irisan dikeringkan diatas hot plate.
Tahap diparafisasi, yaitu preparat dimasukan dalam xylol sebanyak 2 kali 5 menit.
6. Tahap rehidrasi, preparat dimasukan dalam larutan etanol bertingkat mulai dari etanol absolut
(2kali), etanol 95%, 90%, 80%, 70% masing-masing 5 menit. Kemudian preparat direndam
dalam aquadest selama 10 menit.
7. Tahap pewarnaan, preparat ditetesi dengan hematoxylin selama 3 menit atau sampai
didapatkan hasil warna yang terbaik. Selanjutnya dicuci dengan air mengalir selama 30
menit dan dibilas dengan aquadest selama 5 menit. Setelah itu preparat dimasukan dalam
pewarna eosin alkohol selama 30 menit dan dibilas dengan aquadest selama 5 menit.
8. Tahap dehidrasi, preparat direndam dalam etanol bertingkat 80%, 90%, 95% dan etanol
absolut (2 kali) masing-masing selama 5 menit.
9. Tahap clearing, dalam larutan xylol 2 kali selama 5 menit, kemudian
dikeringkan.
10. Tahap mounting dengan etilen.
11. Hasil akhir diamati dengan mikroskop, untuk setiap kelompok mencit, dipotret kemudian
duanalisasi kerusakan ginjal.

D. Analisi Data
Gambaran preparat histologi testis mencit (Mus Musculus) dengan pewarnaan hematoksilineosin (HE) dianalisis secara diskriptif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian
Hasil pengamatan fotomikrograf organ ginjal mencit menunjukkan bahwa pada kelompok yang
tidak diberi larutan kopi dan tidak dipapar asap rokok sel-sel glomerulus, tubulus distal dan
tubulus proksimal dalam keadaan normal dan tidak terjadi kerusakan sel (Gambar 4A).
Kelompok mencit yang diberi larutan kopi menunjukkan adanya endapan protein tubuli dan
nekrosis (Gambar 4B). Kelompok mencit yang dipapar asap rokok menunjukkan adanya
kerusakan pada ginjal mencit yaitu adanya endapan protein tubuli dan nekrosis (Gambar 4C).
Sedangkan pada kelompok mencit yang dipaparkan asap rokok setelah 1 jam pemberian kopi
menunjukkan sel-sel pada ginjal mengalami kerusakan berupa nekrosis dan degenerasi hidrofis
(Gambar 4D).

Gambar 4. Fotomikrograf organ ginjal mencit yang diberi larutan kopi dan dipapar asap rokok
kretek dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE).
A.Kelompok mencit yang tidak diberi larutan kopi dan asap rokok selama 30 hari.
B.Kelompok mencit yang diberi larutan kopi selama 30 hari

C.Kelompok mencit yang di papar asap rokok selama 30 hari.


D.Kelompok mencit yang diberi larutan kopi dan dipapar asap rokok selama 30 hari.
Keterangan :
1. Endapan protein tubuli
2. Nekrosis
3. Degenerasi hidrofis
B. Pembahasan
Berdasarkan pada hasil pengamatan fotomikrograf ginjal dengan menggunakan pewarnaan
HE (Haematoxylin Eosin) menunjukkan bahwa terjadi kerusakan pada ginjal mencit yaitu
endapan protein tubuli, nekrosis dan degenerasi hidrofis. Hal ini menunjukkan bahwa kopi dan
asap rokok kretek menyebabkan kerusakan ginjal. Pemberian kopi menyebabkan sel-sel pada
ginjal mengalami penyusutan pada tubulus. Penyusutan pada tubulus terjadi karena adanya
peningkatan permeabilitas kapiler mesangium sehingga kapiler glomerulus menjadi permeabel
terhadap plasma protein (Cunningham, 1992). Proses selanjutnya menyebabkan terjadinya
akumulasi massa atau endapan protein pada mesangium hingga ke ruang bowman. Penyusun
massa protein di mesangium maupun di ruang bowman adalah glikoprotein yang terlihat
berwarna merah dan berwarna merah muda pada pewarnaan HE (Maxie dan Prescott
1993).Terjadi kerusakan pada glomerulus menyebabkan daya filtrasi akan terganggu (Ressang
1984). Kerusakan glomerulus yang parah dapat mengganggu sistem vaskular peritubular dan
berpotensi untuk mengalirkan zat racun ke tubuli (Cotran et al. 1989). Kerusakan tubuli yang
semakin parah akan mempengaruhi fungsi tubuli sebagai tempat reabsorbsi. Hal ini
mengakibatkan selektifitas tubuli menurun sehingga akan mempengaruhi homeostasis pada
tubuh. Kerusakan tubuli ginjal dalam penelitian ini disebabkan oleh bahan yang besifat
nefrotoksik yang terkandung dalam kopi berupa kafein dan asap rokok berupa radikal bebas.
Pada penelitian ini, kelompok yang diberi perlakuan kopi pada mencit menunjukkan
terjadinya kerusakan pada sel ginjal yaitu endapan protein tubuli dan nekrosis yang diakibatkan
karena kecilnya dosis yang diberikan sehingga antioksidan yang terdapat didalam kopi tidak
dapat menetralisir racun yang disebabkan oleh kafein (Gambar 4B). Pada kelompok mencit yang
diberi perlakuan asap rokok kretek selama 30 hari menunjukkan adanya kerusakan pada sel-sel
ginjal mencit yaitu endapan protein tubuli dan nekrosis yang disebabkan karena adanya
peningkatan radikal bebas yang terkandung dalam asap rokok kretek sehingga merusak
membran sel. Membran sel membantu pengaturan keluar masuk berbagai zat melalui proses
transport pasif dan aktif, dan juga sebagai tempat melekatnya berbagai enzim. Hilangnya
integritas membran sel menyebabkan penumpukan kelebihan cairan jaringan dalam sel yang
disebut edema yang merupakan fase menuju kematian sel (Nekrosis). Pada kelompok mencit
yang diberikan paparan asap rokok kretek ini juga, banyak terdapat sel-sel podosit didalam
tubulus proksimal (Gambar 4C). Sedangkan pada kelompok mencit yang diberi perlakuan asap
rokok kretek setelah 1 jam pemberian kopi masih terjadi nekrosis dan degenerasi hidrofis tetapi
sudah tidak terjadi endapan protein tubuli. Hal ini menunjukkan bahwa tubulus distal dan
tubulus proksimal telah mengalami lisis dan sel-sel podosit yang berada pada tubulus proksimal
mulai menghilang diakibatkan karena kecilnya dosis yang diberikan dan peningkatan radikal
bebas yang terkandung didalam asap rokok kretek (Gambar 4D). Oleh karena itu, untuk
mencegah kerusakan ginjal akibat kafein dan radikal bebas yang terdapat didalam kopi dan asap
rokok kretek, dibutuhkan asupan antioksidan tambahan.
Flavonoid merupakan golongan senyawa bahan alam dari senyawa fenolik yang akan berfungsi
dalam tubuh sebagai antioksidan. Manfaat flavonoid antara lain adalah untuk melindungi
struktur sel, memiliki hubungan sinergis dengan vitamin C (meningkatkan efektivitas vitamin
C), antiinflamasi, antibiotik dan induksi apoptosis (Anonim, 2011). Sel akan mengalami
poliferasi dan regenerasi untuk mengganti sel-sel yang lepas atau mati (Robbins & Koemar,
1992). Disamping itu sel tubulus ginjal termasuk dalam golongan sel yang bersifat stabil, artinya

sel tersebut mampu beregenerasi secara aktif bila dalam keadaan rusak, tetapi dalam keadaan
normal sel tubulus ginjal tidak bertambah banyak secara aktif (Robbins dan Kumar, 1992).
Dengan demikian jika sel-sel pada tubulus dapat beregenerasi kembali, maka akan
mempengaruhi keoptimalan fungsi dari tubulus tersebut sebagai saluran pembawa toksikan yang
akan dikeluarkan bersama urin.
BAB VPENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diatas maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Kopi dan Asap Rokok dapat merusak ginjal mencit (Mus muscullus L) seperti endapan protein
tubuli, nekrosis dan atropi glomerulus.
B. Saran
1.

Sebaiknya kopi dan rokok tidak seharusnya dikonsumsi secara


bersamaan agar dapat mencegah kerusakan ginjal.
2.
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat pengaruh
pemberian kopi dan asap rokok terhadap organ lain, serta efek antioksidan dalam mencegah atau
memperbaiki kerusakan ginjal akibat asap rokok dan kopi.
DAFTAR PUSTAKA
Algameta D. Elfara. 2009. Uji Aktivitas Antioksidan Tablet EffervescentDewandaru (Eugenia
uniflora L.) dan Sambiloto (Andrographis paniculata) Pada Tikus Yang Dibebani
Glukosa: Skripsi. Surakarta: Fakultas Famasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Anomim, 2011. Manfaat Pohon Pule (Alstonia schlaris L. R. Br. ) sebagai obat herbal.
http://kristantonarayana.blogspot.com/2011/01/manfaat-pohon-pule-alstonia-scholarisl.html. akses hari selasa, 09 Agustus 2011. Pukul 22.39
Anonim, 2012.Efek Kafein Pada Tubuh.Diakses dari http://Fritz-erlangga.co.cc pada tanggal 7
September 2013.
a
Anonim , 2013. Tinjauan Pustaka Kafein. Diakses dari http://repository.usu.ac.id pada tanggal 19
Juni 2013.
b
Anonim , 2013.Positif dan Negatif Minum Kopi.Diakses dari http://dianwisata.blogspot.com. pada
tanggal 7 Agustus 2013.
Carlton WW dan McGavin MD. 1995. Thomsons Special Veterinary Pathology. St. Louis. Mosby-Year
Book, Inc. hlm 229-446.
Cheville NF. 1999. Introduction to Veterinary Pathology. Edisi 2. Iowa State University Press. United
States of America.
Christyaningsih J, Suwandito, Sri Utari Purnomo. 2003. Pengaruh Suplementasi Vitamin E dan C
Terhadap Aktivitas Enzim Superoxidase Dismutase (SOD) dalam Eritrosit Tikus yang
Terpapar Asap Rokok Kretek. JPB Vol. 5, No.3.
Cotran RS, Kumar V dan Robbins S. 1989. Pathology Basis of Disease. Edisi 4. WB Saunders Company.
Philadelphia.
Dewi Rizqiana Marisa. 2010. Pengaruh Hepatoprotektor Madu Terhadap Kerusakan Histopatologis
Sel Hepar Mencit (Mus musculus) Yang Diberi Perlakuan Natrium Siklamat: Skripsi.
Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
Fifiana, A. Sari. 2013. Artikel Tentang Kesehatan: Dampak Kafein Untuk Kesehatan.
Gerhastuti, B. .C.. 2009. Pengaruh Pemberian Kopi Dosis Bertingkat Per Oral Selama 30 Hari
Terhadap Gambaran Histologi Ginjal Tikus Wetar.Tesis.Program Pascasarjana.Fakultas
Kedokteran Semarang.

Hardinsyah, 2009. http:tech.group.yahoo.com/Kimia Indonesia. Diakses tanggal 12 januari 2009.


Hock B dan Elstner EF. 2005. Plant Toxicology. Edisi 4. Marce Dekker. New York.
Junquiera, L.C. 1995. Histologi Dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. pp: 341-51.
Jaya, M. 2009. Pembunuh Berbahaya itu Bernama Rokok. Sleman: Penerbit Rizma.
Larasati S. Ardelia. 2010. Pengaruh Pemberian Jus Pepaya (Carica Papaya) Terhadap Kerusakan
Histopatologi Alveolus Paru Mencit yang Dipapar Asap Rokok. Surakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
Lelyana, R. 2008. Pengaruh Kopi Terhadap Kadar Asam Urat Darah.Tesis.Program
Pascasarjana.Ilmu Biodemik Semarang.
Malole MBM, Pramono CSU. 1989. Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan di Laboratorium.
Bogor: IPBPr.
Nadzifa Ima. 2010. Pengaruh Air Perasan Bawang Lanang (Allium Sativum) Terhadap Kadar
Glukosa Darah dan Gambaran Histopatologi Pankreas Pada Mencit (Mus musculus)
Diabetes Melitus:Skripsi. Malang: Jurusan Biologis Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam dan Negeri (UIN).
Ngatidjan, 1991. Petunjuk Laboratorium Metode Laboratorium dalam Toksikologi. Yogyakarta:
Pusat Antar Universitas Bioteknologi UGM,spp: 94-132. Skripsi Fakultas Kedokteran
Hewan ITB: Bogor.
Price, S.A & L.M Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis. Edisi 4. Alih Bahasa Peter Anugerah.
Jakarta : EGC
Robbins & Kumar. 1992. Buku Ajar Patologi I. Edisi ke-4. Editor Oswari. Penerjemah : Staf
Pengajar Patologi Anatomi FK UNAIR. Surabaya : EGC.
Saleh S. 1979. Gangguan Peredaran Cairan Tubuh, Elektrolit dan Darah. Patologi. Bagian Patologi
Anatomik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Sept 2011. Gambaran Leukosit Mencit (Mus musculus) yang diinfeksi Plasodium Berghei dan diberi
infusa Artemisia Annua Linn. Skripsi Fakultas Kedokteran Hewan ITB: Bogor.
Widodo Eddy. 2006. Pajanan Asap Rokok Kretek Pada Tikus Putih Sebagai Model Untuk Manusia:
Perhatian Khusus Pada Perubahan Hispatologi Dan Ultrastruktur Saluran Npas. Bogor:
Sekolah Pascasarjana IPB.
Wikipedia.2007. Kopi Arabika dan Robustsa.Diakses dari http://Efek Kopi.com pada tanggal 4
agustus 2013.
Winarsi Hery.2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas; Potensidan Aplikasinya dalam Kesehatan.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.