Anda di halaman 1dari 8

EKOFISIOLOGI TANAMAN

Dec 21
Posted by ayienice
Ilmu ekofisiologi tanaman adalah hal yang menarik, karena menggabungkan antara ilmu
Fisiologi dan Lingkungan. Artikel ini sebenarnya ialah tugas saya S2 di semester 1 untuk mata
kuliah ekofistan, saya pajang untuk berbagi informasi..lebih bagus lagi kalau ada yang
menambahi.. Semoga bermanfaat^^,

Ilmu Ekofisiologi Tanaman


Ekofisiologi Tanaman adalah ilmu tentang respon fisiologis tanaman terhadap lingkungan.
Fisiologi adalah ilmu yang mendeskripsikan tentang mekanisme fisiologis yang mendasari
observasi ekologi. Di sisi lain, ilmuan ekologi atau fisiologi mengarahkan permasalahan ekologi
tentang pengontrolan pertumbuhan, reproduksi, kemampuan bertahan hidup, dan penyebaran
geografi tanaman sebagai proses yang diakibatkan oleh interaksi antara tanaman dengan
mekanisme fisikanya, kimia, dan lingkungan biotik (Lambers, 1998).
Ekofisiologi melibatkan studi deskriptif tanggapan organisme dengan kondisi sekitar dan analisis
mekanisme fisiologis yang sesuai secara ekologis bergantung pada setiap level. Pendekatan
ekofisiologi harus memperhitungkan polimorfisme di respon individu, yang sebagian besar
bertanggung jawab untuk kemampuan adaptasi dari setiap kelompok. Dalam hal ini, studi
ekofisiologi menghasilkan informasi yang fundamental untuk memahami mekanisme yang
mendasari strategi adaptasi. Pada studi ekofisiologi akan mengeksplorasi proses fisiologis yang
mempengaruhi pertumbuhan, reproduksi, kelangsungan hidup, adaptasi, dan evolusi tanaman.
Proses-proses fisiologis meliputi hubungan air, nutrisi mineral, transportasi zat terlarut, dan
energetika (fotosintesis dan respirasi). Pengaruh faktor biotik dan abiotik, fisiologi stres dan
konsekuensi ekologis untuk adaptasi dan evolusi tanaman juga termasuk dalam studi ekofisiologi
tanaman (Ebbs, 2009).

Ekologi menyediakan pertanyaan dan permasalahan di sekitar kita, dan fisiologi menyediakan
alat untuk mekanismenya. Teknik yang mengukur mikro tanaman, hubungan air dengan
tanaman, dan pola pertukaran karbon menjadi ciri dari ekofisiologi. Sebagai contoh,
pertumbuhan tanaman pada awalnya dijelaskan dalam hal perubahan dalam bobot tanaman.
Pengembangan peralatan untuk mengukur pertukaran gas pada daun, untuk ahli ekologi dalam
mengukur laju pemasukan dan pengeluaran karbon oleh tiap daun pada tanaman. Analisa
pertumbuhan mengenai alokasi karbon dan nutrisi pada akar dan daun, seiring dengan laju
produksi dan matinya tiap jaringan. Proses tersebut secara bersamaan memberi penjelasan yang
menyeluruh mengenai perbedaan pertumbuhan tanaman pada lingkungan yang berbeda
(Lambers, 1998).

Respon Tanaman Terhadap Lingkungan


Cekaman (stress) merupakan factor lingkungan biotik dan abiotik yang dapat mengurangi laju
proses fisiologi. Tanaman mengimbangi efek merusak dari cekaman melalui berbagai mekanisme
yang beroperasi lebih dari skala waktu yang berbeda, tergantung pada sifat dari cekaman dan
proses fisiologis yang terpengaruh. Respon ini bersama-sama memungkinkan tanaman untuk
mempertahankan tingkat yang relatif konstan dari proses fisiologis, meskipun terjadinya
cekaman secara berkala dapat mengurangi kinerja tanaman tersebut. Jika tanaman akan mampu
bertahan dalam lingkungan yang tercekam, maka tanaman tersebut memiliki tingkat resistensi
terhadap cekaman. Contoh cekaman adalah kekurangan nitrogen, kelebihan logam berat,
kelebihan garam dan naungan oleh tanaman lain (Lambers, 1998).
Kompensasi yang dilakukan tanaman untuk efek karena adanya cekaman, terjadi berbeda pada
tiap tanaman untuk skala waktunya, karena mekanismenya berbeda-beda tergantung hal itu pada
cekaman alami dan proses fisiologinya. Jika tanaman mampu menghadapi stress lingkungan
pasti tanaman tersebut mempunyai ketahanan cekaman (stress resistance). Namun ketahanan
terhadap cekaman sangat berbeda pada tiap-tiap spesies (Lambers, 1998).
Sebagai contoh adalah respon tanaman terhadap cekaman kekeringan dan salinitas; Cekaman
kekeringan terjadi ketika ketersediaan air pada tanah berkurang dan kondisi atmosfer
menyebabkan terus berkurangnya air karena transpirasi dan evaporasi. Cekaman bisa terjadi pada
sehari-hari tanamanatau periode waktu yang panjang (Hale, 1987). Pada kondisi cekaman
kekeringan maka stomata akan menutup sebagai upaya untuk menahan laju transpirasi.
Saat stomata tertutup, maka tidak akan terjadi fotosintesis (Zoko, 2009). Menurut Jumin
(1992), kekurangan air langsung mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman. Proses ini
pada sel tanaman ditentukan oleh tegangan turgor. Hilangnya turgiditas dapat
menghentikan pertumbuhan sel (penggandaan dan pembesaran) yang akibatnya pertumbuhan
tanaman terhambat.
Kehilangan air pada jaringan tanaman akan menurunkan turgor sel, meningkatkan
konsentrasi makro molekul serta senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah,
mempengaruhi membran sel dan potensi aktivitas kimia air dalam tanaman. Peran air
yang sangat penting tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau tidak langsung

kekurangan air pada tanaman akan mempengaruhi semua proses metaboliknya sehingga
dapatmenurunkan pertumbuhan tanaman (Sinaga, 2002).
Jika air hujan sedikit, garam tidak akan dilepaskan dari volume tanah, dimana hasil akan
berkurang dengan bertambahnya jumlah garam. Pengaruh utama salinitas adalah berkurangnya
pertumbuhan daun yang langsung mengakibatkan berkurangnya fotosintesis tanaman.
Tanggapan yang pertama kali dilakukan tanaman adalah menurunkan tekanan turgor.
Penurunan tekanan turgor ini berdampak pada menurunnya kemampuan perkembangan dan
perbesaran ukuran sel. Penurunan turgor ini diperkirakan sebagai proses yang paling
sensitive pada tanaman dalam merespon adanya konmdisi cekaman kekeringan. Akibat dari
menurunnya turgor ini bisa berpengaruh pada penurunan pertumbuhan yang meliputi
pertambahan panjang batang, perluasan daun dan penyempitan stomata (Zoko, 2009).Respon
lain yang diberikan oleh tanaman saat terjadi cekaman garam adalah dengan meningkatnya
kadar hormone asam absisik (ABA). Konsentrasi endogenus ABA meningkat pada jaringan
tanaman selama tanaman terkena cekaman, baik cekaman garam, kekeringan maupun
dingin. (Moons, 1995)

Konsep dan Pendekatan Penelitian Ekofisiologi


Penelitian tentang pertumbuhan merupakan sebagian efek dari aklimasi oleh individu dan
perbedaan genetik diantara populasi. Aklimasi dapat diperoleh dengan pengukuran fisiologi
secara genetik hal ini mirip dengan pertumbuhan tanaman yang ditanam pada kondisi lingkungan
yang berbeda. Sebagai contoh, penelitian sebelumnya menunjukkan tanaman yang tumbuh pada
suhu yang rendah secara umum memiliki suhu optimal yang lebih rendah untuk fotosintesis dari
pada tanaman yang tumbuh di suhu hangat. Kita dapat menjelaskan perbedaan genetik dengan
tumbuhnya tanaman yang telah terkoleksi dari alpine dan elevasi habitat yang rendah dalam
kondisi lingkungan yang sama. Tanaman alpine secara umum mempunyai suhu optimal yang
lebih rendah untuk fotosintesis elevasi populasi yang rendah. Demikian, banyak tanaman alpine
yang berfotosintesis dengan cepat, juga pada aklimasi dan adaptasi. Penelitian control
lingkungan merupakan komplemen penting untuk observasi lapang. (Lambers, 1998).
Model ekologi dan modifikasi molekuler spesifik karakter adalah dua pendekatan yang selama
ini digunakan dalam eksplorasi ekologi dari spesifik karakter. Model ekologi dapat dikisar dari
hubungan empiris sederhana hingga model matematika komplek yang tergabung dalam pengaruh
secara tidak langsung seperti perubahan nitrogen dan leaf area. Molekuler modifikasi gen dapat
mengkode karakter. Pada cara molekuler modifikasi kita dapat mengekplorasi akibat dari
perubahan kapasitas fotosintesis, sensitivitas pada hormone atau respon terhadap
naungan(Lambers, 1998).

Referensi

Ebbs, Stephen. 2009. Plant Ecophysiology-Spring Semester.


http://www.plantbiology.siu.edu/plb530/index_files/PLB530_Sp09.pdf
Jumin, H. B. , 1992, Ekologi Tanaman suatu Pendekatan Fisiologi, Rajawali Press, Jakarta.
Lambers, H., F. Stuart Chapin, Thijs L. Pons. 1998. Plant Physiological Ecology. Springer. New
York.
Moonns. A. 1995. Molecular and Physiological Responses to Abscisic Acid Salts in Roots
of Salt-Sensitive and Salt-Tolerant Indica Rice Varieties. Plant Physiol Vol 107: 177-186.
Zoko, G. 2009.

Cekaman Kekeringan. Diakses dari gozomora.blogspot.com

Sinaga, S. 2002. Asam Absisik Sebuah Mekanisme Adaptasi Tanaman Terhadap Cekaman
Kekeringan. Hal 1-6. Diakses dari http://www.daneprairie.com
Stomata
Stomata adalah suatu celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup yang berisi
kloroplas dan mempunyai bentuk serta fungsi yang berl;ainan dengan epidermis.
Fungsi stomata:

-Sebagai jalan masuknya CO2 dari udara pada proses fotosintesis

-Sebagai jalan penguapan (transpirasi)\

-Sebagai jalan pernafasan (respirasi)

Sel yang mengelilingi stomata atau biasa disebut dengan sel tetangga berperan dalam perubahan
osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup.
Sel penutup letaknya dapat sama tinggi, lebih tinggi atau lebih rendah dari sel epidermis lainnya.
Bila sama tinggi dengan permukaan epidermis lainnya disebut faneropor, sedangkan jika
menonjol atau tenggelam di bawah permukaan disebut kriptopor. Setiap sel penutup mengandung
inti yang jelas dan kloroplas yang secara berkala menghasilkan pati. Dinding sel penutup dan sel
penjaga sebagian berlapis lignin.
Berdasarkan hubungan ontogenetik antara sel penjaga dan sel tetangga, stomata dapat dibagi
menjadi tiga tipe, yaitu:
1. Stomata mesogen, yaitu sel tetangga dan sel penjaga asalnya sama.
2. Stomata perigen, yaitu sel tetangga berkembang dari sel protoderm yang berdekatan
dengan sel induk stomata.

3. Stomata mesoperigen, yaitu sel-sel yang mengelilingi stomata asalnya berbeda, yang satu
atau beberapa sel tetangga dan sel penjaga asalnya sama, sedangkan yang lainnya tidak
demikian.
Pada tumbuhan dikotil, berdasarkan susunan sel epidermis yang ada di samping sel penutup
dibedakan menjadi empat tipe stomata, yaitu:
1. Anomositik, sel penutup dikelilingi oleh sejumlah sel yang tidak beda ukuran dan
bentuknya dari sel epidermis lainnya. Umum pada Ranuculaceae, Cucurbitaceae,
Mavaceae.
2. Anisositik, sel penutup diiringi 3 buah sel tetangga yang tidak sama besar. Misalnya pada
Cruciferae, Nicotiana, Solanum.
3. Parasitik, setiap sel penutup diiringi sebuah sel tetangga/lebih dengan sumbu panjang sel
tetangga itu sejajar sumbu sel penutup serta celah. Pada Rubiaceae, Magnoliaceae,
Convolvulaceae, Mimosaceae.
4. Diasitik, setiap stoma dikelilingi oleh 2 sel tetangga yang tegak lurus terhadap sumbu
panjang sel penutup dan celah. Pada Caryophylaceae, Acanthaceae.
About these ads
Struktur Morfologi Daun Sahabat Pustakers, pada kesempatan kali ini Pustaka Sekolah akan
share artikel mengenai Struktur Morfologi Daun. Semua bagian tumbuhan memerlukan tenaga
untuk menjalankan berbagai macam pekerjaannya masing-masing, seperti halnya hewan dan
manusia tenaga itu diperoleh dari hasil proses pernapasan pula. Daun-Daun sebagai bagian
tumbuh tumbuhan yang tersusun atas sel-sel yang hidup dan melakukan pernapasan. Daun itu
sendiri memiliki mulut-mulut daun atau yang biasa disebut sebagai stomata, mmemiliki peran
sebagai jalan keluar masuknya udara ke dalam tumbuhan, maka tidaklah berlebihan jika daun
pun dianggap sebagai salah satu alat yang penting untuk pernapasan tumbuhan.
Setiap tumbuhan memiliki daun dengan struktur yang berbeda-beda dan hal ini dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, Beberapa diantaranya adalah Keadaan lingkungan Tempat
tanaman itu tumbuh, kondisi gentik tanaman tersebut. Banyak sekali faktor pembeda yang
membuat keberagaman daun cukup tinggi, jika dilihat dari morfologinya saja mulai dari segi
bentuk daun,ujung daun, pangkal daun, susuanan tulang, tepi hingga daging daun terdapat
perbedaan antara tiap daun pada tiap jenis tumbuhan.

Definisi Daun
Daun adalah salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau dan
terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun
merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan
adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui
konversi energi cahaya menjadi energi kimia. Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya
berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda
bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau
menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang.
Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun
kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat
mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air. Warna hijau pada daun berasal dari
kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi
panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga
memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning), dan
antosianin (berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan
klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada
daun yang gugur).
Struktur Morfologi Daun
Daun, berfungsi sebagai tempat fotosintesis; tempat evaporasi (penguapan air); gutasi (penetesan
air); tempat pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida (pada stomata). Daun tersusun atas
epidermis atas mesofil (terdiri atas jaringan palisade/jaringan tiang dan jaringan bunga

karang/jaringan spons) jaringan pengangkut epidermis bawah. Pertulangan daun dikotil


menjari atau menyirip, sedangkan pada daun monokotil melengkung atau sejajar.
Korteks pada tumbuhan dikotil terdapat diantara berkas pembuluh dan epidermis, sedangkan
pada monokotil batas tersebut tidak jelas. Pada tumbuhan dikotil terdapat juga jaringan dasar lain
selain korteks yaitu empulur yang mengisi bagian tengah batang. Penumpukan pati pada
umumnya terdapat pada empulur ini. Pada epidermis atas dan bawah daun dijumpai pori-pori
kecil yang disebut dengan stomata (tunggal : stoma). Pada tumbuhan darat jumlah stomata pada
epidermis bawah daun lebih banyak dari epidermis atas daun, yang merupakan adaptasi
tumbuhan untuk meminimalisasi hilangnya air dari daun. Celah stomata terbentuk apabila
sepasang sel penjaga stoma mengkerut. Sel penjaga ini mengatur ukuran stomata, berperan
penting dalam pertukaran gas (CO2 dan O2) yang terdapat di dalam daun dengan lingkungan
luar, selain itu juga berperan dalam pengaturan hilangnya air dari tumbuShisatne.m jaringan
dasar pada daun disebut dengan mesofil.
Pada daun tumbuhan dikotil, mesofilnya terdiferensiasi menjadi jaringan pagar dan bunga
karang. Yang umumnya terdiri dari Proses fotosintesis terjadi dalam mesofil. Jaringan pagar
dapat mengandung lebih dari 80 % kloroplas daun, sedangkan jaringan bunga karang karena selselnya tersusun longgar dengan ruang interselular yang banyak, jaringan ini merupakan tempat
pertukaran gas.
Struktur Morfologi daun pada setiap jenis tumbuhan berbeda-beda. Oleh karena itu, struktur
morfologi daun dapat digunakan untuk mengklasifikasikan jenis-jenis tumbuhan. Struktur daun
dapat dilihat dari:

Bentuk tulang daun (menyirip, menjari, melengkung, dan sejajar).

Bangun daun atau bentuk helaian daun (bulat, lanset, jorong, memanjang, perisai,
jantung, dan bulat telur).

Tepi daun (bergerigi, beringgit, berombak, bergiri, dan rata).

Bentuk ujung daun (runcing,meruncing, tumpul, membulat, rompang/ terbelah, dan


berduri).

Bentuk pangkal daun (runcing, meruncing, tumpul, membulat, rata, dan berlekuk).

Permukaan (licin, kasap, berkerut, berbulu, dan bersisik).

Fungsi Daun
Adapun fungsi daun adalah sebagai berikut :

Tempat terjadinya fotosintesis. Pada tumbuhan dikotil, terjadinya fotosintesis di jaringan parenkim
palisade. sedangkan pada tumbuhan monokotil, fotosintesis terjadi pada jaringan spons.

Sebagai organ pernapasan. Di daun terdapat stomata yang berfungsi sebagai organ.

Tempat terjadinya transpirasi.

Tempat terjadinya gutasi.

Alat perkembangbiakkan vegetatif. Misalnya pada tanaman cocor bebek (tunas daun).

Anatomi Daun
Daun merupakan modifikasi dari batang, merupakan bagian tubuh tumbuhan yang paling banyak
mengandung klorofil sehingga kegiatan fotosintesis paling banyak berlangsung di daun. Anatomi
daun dapat dibagi menjadi 3 bagian :

Epidermis. Epidermis merupakan lapisan terluar daun, ada epidermis atas dan epidermis bawah, untuk
mencegah penguapan yang terlalu besar, lapisan epidermis dilapisi oleh lapisan kutikula. Pada epidermis
terdapat stoma/mulut daun, stoma berguna untuk tempat berlangsungnya pertukaran gas dari dan ke luar
tubuh tumbuhan.

Parenkim/Mesofil. Parenkim daun terdiri dari 2 lapisan sel, yakni palisade (jaringan
pagar) dan spons (jaringan bunga karang), keduanya mengandung kloroplast. Jaringan
pagar sel-selnya rapat sedang jaringan bunga karang sel-selnya agak renggang, sehingga
masih terdapat ruang-ruang antar sel. Kegiatan fotosintesis lebih aktif pada jaringan pagar
karena kloroplastnya lebih banyak daripada jaringan bunga karang.

Jaringan Pembuluh. Jaringan pembuluh daun merupakan lanjutan dari jaringan batang,
terdapat di dalam tulang daun dan urat-urat daun.