Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penelitian deskriptif (descriptive reasearch), yang biasa disebut juga
penelitian

taksonomik (taksonomic

research),

seperti

telah

disebutkan

sebelumnya, dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu


fenomena atua kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah
variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti. Jenis penelitian
ini tidak sampai mempersoalkan jaringan hubungan antar variabel yang ada tidak
maksudkan

untuk

menarik

generasi

yang

menjelaskan

variabel-varibel

anteseden yang menyebabkan sesuatu gejala atau kenyataan sosial. Oleh


karena itu, pada suatu penelitian deskriptif, tidak menggunakan dan tidak
melakukan pengujian hipotesis (seperti yang dilakukan dalam penelitian
eksplanasi) ; berarti tidak dimaksudkan unutk membangun dan mengembangkan
perbendaharaan teori. Dalam pengelolahan dan analisis data, lazimnya
menggunakan pengolahan statistik yang bersifat deskriptif (statistik deskriptif).
Pengelolahan dan analisis data, lazimnya menggunakan pengolahan statistik
yang bersifat deskriptif (statistik deskriptif). studi kasus dalam penelitian analisis
deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan terfokus pada suatu kasus tertentu
untuk diamati dan dianalisis secara cermat sampai tuntas. Kasus yang dimaksud
bisa berupa tunggal atau jamak, misalkan berupa individu atau kelompok.
Analisis statistika deskriptif ini memiliki tujuan untuk memberikan gambaran
(deskripsi) mengenai suatu data agar data yang tersaji menjadi mudah dipahami
dan informatif bagiorang yang membacanya. Statistika deskriptif menjelaskan
berbagai karakteristik data seperti rata-rata (mean), jumlah (sum) simpangan
baku (standard deviation), varians (variance), rentang (range), nilai minimum dan
maximum dan sebagainya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum analisis deskriptif ini yaitu agar praktikan
mengetahui pengertian dari analisis deskriptif dan mengetahui tujuan dari
analisis deskriptif. Selain itu juga agar praktikan dapat melakukan analisis
deskriptif dengan bantuan program SPSS.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah cara mendeskripsikan atau menggambarkan
data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat
kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Ciri-ciri analisis
deskriptif yaitu penyajian data lebih ditekankan dalam bentuk tabel, grafik, dan
ukuran-ukuran statistik, seperti persentase, rata-rata, variansi, korelasi, dan
angka indeks. Selain itu analisis ini tidak menggunakan uji signifikansi dan taraf
kesalahan karena tidak ada kesalahan generalisasi (Purwanto, 2007).
Descriptive analysis is the sensory method by which the attributes of a
food or product are identified and quantified using human subjects who have
been specifically trained for this purpose. The analysis can include all parameters
of the product, or it can be limited to certain aspect, for example, aroma, taste,
texture and aftertaste. While the principles of descriptive analysis are applied by
many sensory professionals, overviews of four currently published methods will
be presented. Descriptive analysis is appropriate for use when detailed
information is required on individual characteristics of the product or material or
both (Hootman, 2005).
Analisis deskriptif adalah metode sensorik dimana atribut makanan atau
produk diidentifikasi dan diukur menggunakan subyek manusia yang telah dilatih
secara khusus untuk tujuan ini. Analisis dapat mencakup semua parameter
produk, atau dapat terbatas pada aspek tertentu, misalnya, aroma, rasa, tekstur
dan aftertaste. Sedangkan prinsip-prinsip analisis deskriptif diterapkan oleh
banyak profesional sensorik, ikhtisar empat metode saat ini diterbitkan akan
disajikan. Analisis deskriptif sesuai untuk digunakan ketika informasi rinci
diperlukan pada karakteristik individu dari produk atau bahan atau keduanya
(Hootman, 2005).
Analisis deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk
mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah
maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas,
karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena
yang satu dengan fenomena lainnya. Penelitian deskriptif tidak hanya terbatas
pada masalah pengumpulan dan penyusunan data, tapi juga meliputi analisis
dan interpretasi tentang arti data (Sukardi, 2006).

2.2 Kegunaan Analisis Deskriptif


Descriptive analysis is one of the most common forms of sensory testing.
Descriptive methods are used to measure the type and intensity of attributes in a
product. Thus, these methods require the respondent to describe a product in
terms of its characteristics and to measure the intensity of those characteristics
using scaling procedures. Although some attributes are fairly simple and can be
measured easily by almost anyone, real understanding of a products specific
characteristics and the strength of the attributes requires the use of respondents
trained to describe sensory stimuli and to measure intensity of perception
(Pilgrim and David, 2005).
Analisis deskriptif adalah salah satu bentuk yang paling umum dari
pengujian sensorik. Metode deskriptif digunakan untuk mengukur jenis dan
intensitas

atribut

dalam

suatu

produk.

Dengan

demikian,

metode

ini

membutuhkan responden untuk menggambarkan produk dalam hal karakteristik


dan mengukur intensitas karakteristik menggunakan prosedur penskalaan.
Meskipun beberapa atribut yang cukup sederhana dan dapat diukur dengan
mudah oleh hampir semua orang, pemahaman yang benar tentang produk
karakteristik tertentu dan kekuatan atribut memerlukan penggunaan responden
dilatih untuk menggambarkan rangsangan sensorik dan untuk mengukur
intensitas persepsi (Pilgrim dan David, 2005 ).
2.3 Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui tingkat kevalidan dari instrument
(kuisioner) yang digunakan dalam pengumpulan data yang diperoleh dengan
cara mengkorelasikan setiap skor variabel jawaban responden dengan total skor
masing-masing variabel, kemudian hasil korelasi dibandingkan dengan nilai kritis
pada signifikansi 0,05 dan 0,01. Tinggi rendahnya validitas instrument akan
menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari
gambaran tentang variabel yang dimaksud. Uji validitas dugunakan untuk
mengetahui kelayakan butir-butir suatu daftar pertanyaan dalam mendefinisikan
suatu variabel. Validitas didefinisikan sebagai sejauh mana ketepatan dan
kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Ada dua macam
validitas sesuai dengan cara pengujiannya yaitu validitas eskternal dan validitas
internal. Validitas eksternal, instrument dicapai bila ada data yang dicapai sesuai
dengan data dan atau informasi lain mengenai variabel penelitian yang

dimaksud. Validitas internal, instrumen dicapai bila terdapat kesesuaian anatar


bagian-bagian instrumen dengan instrument secara keseluruhan (Gumilar, 2009).
Uji validitas berguna untuk mengetahui apakah ada pernyataan pada
kuesioner yang harus dibuang/diganti karena dianggap tidak relevan. Pengujian
validitas item kuesioner dari model penelitian ini dilakukan dengan menguji
korelasi skor tiap item dengan skor total tiap variabel, memakai rumus korelasi
product moment, sebagai berikut :

Validitas adalah ketepatan atau kecermatan suatu instrumen dalam mengukur


apa yang ingin dukur. Dalam pengujian instrumen pengumpulan data, validitas
bisa dibedakan menjadi validitas faktor dan validitas item (Nusantari, 2013).
2.4 Uji Reliabilitas
Internal reliability testing instrument can be done by using the split
second. The internal reliability testing performed by dividing the items into two
groups instrument (odd and even), then summed, look for correlations, and then
analyzed by Spearman correlation formula Brown, who the formula is as follows:

Reliability is a measure that indicates that the measuring instruments used in the
study keperilakukan have reliability as a measuring tool, such as measured by
the consistency of measurement results over time if the phenomenon being
measured does not change (Domino, 2006).
Pengujian reliabilitas instrumen secara internal dapat dilakukan dengan
menggunakan teknik belah dua. pengujian reliabilitas internal yang dilakukan
dengan membelah item-item instrument menjadi dua kelompok (ganjil dan
genap), kemudian dijumlahkan, dicari korelasinya, dan kemudian dianalisis
dengan rumus korelasi Spearmen Brown, yang rumusnya adalah sebagai
berikut:

Reliabilitas adalah ukuran yang menunjukkan bahwa alat ukur yang digunakan
dalam penelitian keperilakukan mempunyai keandalan sebagai alat ukur,
diantaranya di ukur melalui konsistensi hasil pengukuran dari waktu ke waktu jika
fenomena yang diukur tidak berubah (Domino, 2006).

DAFTAR PUSTAKA

Domino, G. 2006. Psychological Testing: An Introduction. Cambridge


University Press. USA.
Gumilar, I. 2009. Metode Riset untuk Bisnis dan Manajemen. Utamalab.
Jakarta.
Hootman, R.C. 2005. Manual on Descriptive Analysis Testing for Sensory
Evaluation. ASTM Publishing. USA.
Pilgrim, F.J and David R. 2005. Sensory Testing Methods: A Manual.
Quartermaster Food and Container Institute for the Armed Forces. USA.
Purwanto, A. 2007. Panduan Laboratorium Statistik Inferensial. Grasindo:
Jakarta.
Sukardi. 2006. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta, Bumi Aksara.
Nusantari, D. 2013. Analisis Pemanfaatan Jurnal Online Sciencedirect Di
Perpustakaan Ipb. Jurnal Visi Pustaka Vol(15) No(2).