Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tasawuf merupakan suatu disiplin ilmu yang lebih menekankan kepada
kehidupan akhirat, yakni aspek spiritual Islam dibandingkan dengan
kehidupan di dunia. Beberapa tokoh sufi memberikan definisi tasawuf dengan
pengertian yang berbeda-beda. Salah satunya adalah definisi Tasawuf menurut
Al Junaid al-Bagdadi (w.289 H), seorang tokoh sufi modern, mengatakan
bahwa tasawuf adalah membersihkan hati dari sifat yang menyamai binatang,
dan melepaskan akhlak yang fitri, menekan sifat basyariyah (kemanusiaan),
menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi sifat-sifat kerohanian,
berpegang pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama atas
dasar keabadiannya, memberi nasihat kepada umat, benar-benar menepati janji
terhadap Allah SWT., dan mengikuti syariat Rasulullah SAW.1
Sebelumnya pada masa Nabi SAW dan masa Khulafaurasyiddin tidak
pernah dikenal istilah sufi, melainkan lebih dikenal dengan panggilan
sahabat. Panggilan ini merupakan istilah yang paling berharga pada saat itu.
Kemudian pada masa berikutnya, yaitu pada masa sahabat, orang-orang
muslim yang tidak bertemu beliau dikenal dengan sebutan tabiin dan
seterusnya disebut tabiit tabiin. Munculnya istilah tasawuf baru dimulai
sejak pertengahan abad ke-3 hijriyah oleh Abu Hasyim al-Kufy (w.250 H)
dengan meletakkan al-sufi dibelakang namanya.2
Karya-karya ilmiah pada umumnya mendefinisikan tasawuf atau sufisme
sebagai mistisme islam.3 Oleh para orientalis secara umum diberikan nama
sufisme.4 Intisari dalam mistisme, termasuk dalam tasawuf adalah
1 Permadi, Pengantar Ilmu Tasawuf, Jakarta: Rineka Cipta, 2004, hal.28.
2Amin Syukur, M.A, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad
21.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, hal.7.
3 Titus Burckhardt, Mengenal Ajaran Kaum Sufi, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1976,
hal.24.
4 Noer Iskandar al-Barsany, Tasawuf, Tarikat, dan Para Sufi, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2001, hal.1.

kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan
Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi.
Ada banyak metode atau cara peribadatan yang dilakukan oleh seorang
sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, diantaranya yaitu dengan
cara dzikir dan doa, Itikaf, dan sebagainya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Tasawuf? (pengertian, sejarah, jenis, sumber ajaran)
2. Apa saja istilah-istilah dalam tasawuf?
3. Bagaimana fungsi dan peranan tasawuf dalam kehidupan modern?
4. Apa saja yang termasuk contoh-contoh perilaku bertasawuf?
5. Bagaimana cara menerapkan Tasawuf dalam kehidupan modern?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui makna mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2. Mengetahui cara manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3. Mengetahui apa itu Tasawuf (Pengertian, Sejarah, Sumber Ajaran, Jenis)
4. Mengetahui Sufisme dan ajarannya

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tasawuf

Secara etimologis, ilmu Tasawuf banyak diartikan oleh para ahli,


sebagian menyatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata shuffah yang
berarti serambi masjid nabawi yang didiami oleh sebagian sahabat anshar,
ada pula yang mengatakan berasal dari kata shaf yang berarti barisan, shafa
yang berarti bersih atau jernih dan shufanah yakni nama kayu yang
bertahan di padang pasir.5
Adapun tentang definisi tasawuf (sufi) yang dikemukakan oleh
sejumlah tokoh sufi, diantaranya adalah sebagai berikut:6
1. Bisyri bin Haris

mengatakan bahwa Tasawuf

adalah orang yang suci hatinya menghadap Allah


SWT.
2. Sahl at-Tustari : orang yang bersih dari kekeruhan,
penuh dengan renungan, putus hubungan dengan
manusia dalam menghadap Allah, baginya tiada
beda antara harga emas dan pasir.
3. Al-Junaid
al-Baghdadi
(Wafat

298

H):

membersihkan hati dari sifat yang menyamai


binatang,

menekan

sifat

basyariah

(kemanusiaan), menjauhi hawa nafsu, berpegang


pada ilmu kebenaran dan mengikuti syariat
Rasulullah Saw.
4. Abu Qasim Abdul Karim al-Qusyairi: menjabarkan ajaranajaram Al-Quran dan Sunnah, berjuang mengendalikan nafsu,
menjauhi perbuatan bidah, mengendalikan syahwat dan
menghindari sifat meringankan terhadap ibadah.
5. Abu Yazid al-Bustami: melepaskan diri dari perbuatan tercela,
menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji dan mendekatkan
diri kepada Allah.
6. Maruf al-Karkhi (Wafat 200 H): mengambil hakikat dan
Tamak dari apa yang ada dalam genggaman tangan makhluk.
5 Amin syukur, menggugat tasawuf:sufisme dan tanggung jawab social abad
21,Yogyakarta,2002, hal 8
6 Permadi, Pengantar Ilmu Tasawuf , Jakarta,2004, hal.28

Jika menelaah beberapa pengertian diatas, pengertian tasawuf


tampaknya bermakna bervariasi, hal ini dikarenakan perilaku dan status
spiritual (Maqam) yang berbeda dan dominan dalam diri mereka, seperti
tawakkal, cinta kasih dan rambu-rambu spiritual yang menjadi pengantar
ke hadirat Tuhan semesta alam.
Al-Thusi (w. 378 H) melansir beberapa definisi tasawuf di dalam
kitabnya yang monumental al-Luma, seolah-olah betapa sulitnya
memberikan definisi yang bersifat jami mani.
Definisi bisa disarikan dalam karakteristik Sufi yang disebutkan oleh
al-Thusi. Beliau mengatakan bahwa sufi adalah orang alim yang mengenal
Allah dan hukum-hukum Allah, mengamalkan apa yang diajarkan,
menghayati apa yang diperintahkan, merasakan apa yang mereka hayati
dan melebur dengan yang mereka rasakan.
Dari paparan al-Thusi diatas, dapat dirumuskan bahwa Tasawuf
memuat

dan

mengandung

setidaknya

lima

unsur,

yaitu

Ilmu

(Pengetahuan), Amal (Pelaksanaan), Tahaqquq (Penghayatan), Wajd


(Perasaan) dan Fana (Peleburan).7
2.2 Sejarah Perkembangan Tasawuf
Benih ilmu tasawuf bermula pada masa khalifah ketiga, yakni
ketika terjadi peristiwa tragis dalam pembunuhan Utsman Ibn Affan ra, hal
ini berimplikasi terjadinya kekacauan dan kerusakan terhadap sebagian
kaum muslimin, sehingga para sahabat dan pemuka agama Islam berfikir
untuk membangkitkan kembali ajaran Islam dengan berikhtiar kembali ke
masjid (Itikaf) dan mendengarkan kisah mengenai targhib dan tarhib,
mengenai keindahan hidup zuhud.8

7 Moenir Nahrowi Tohir, menjelajahi eksistensi tasawuf : Meniti Jalan Menuju


Tuhan,Jakarta,2012, hal 3 dan 4.
8 Amin syukur, menggugat tasawuf:sufisme dan tanggung jawab social
abad 21,Yogyakarta,2002, hal.18.

Dalam sejarah perkembangannya, terdapat masa atau tahapan yang


terjadi terhadap ilmu Tasawuf, beberapa masa tersebut adalah masa
pembentukan, pengembangan, konsolidasi, falsafi dan masa pemurnian.9
Berikut adalah penjelasan tiap-tiap perkembangan ilmu Tasawuf:
1. Masa Pembentukan
Masa ini terjadi dalam abad I dan II hijriah, Hasan Basri
dan Rabiah Adawiyah muncul dengan ajaran khauf dan cinta,
yakni mempertebal takut atau taqwa kepada Tuhan, penyucian
hubungan manusia dengan tuhan, selain itu muncul gerakan
pembaharuan hidup kerohanian dikalangan kaum muslimin.
Dalam

ajaran-ajaran

yang

dikemukakan,

dianjurkan

mengurangi makan (Ju), menjauh dari keramaian duniawi (Zuhud),


mencela dunia (Dzammu al dunya).
Selanjutnya pada abad II Hijriah, tasawuf tidak banyak
berbeda dengan sebelumnya, meskipun penyebabnya berbeda.
Penyebab pada abad ini terjadi karena formalism dalam melakukan
syariat agama (lebih bercorak fiqh) yang menyebabkan sebagian
orang tidak puas dengan kehidupannya. Sehingga sebagian orang aa
yang lari kepada istilah-istilah yang pelik mengenai kebersihan jiwa
(thaharatun nafs), kemurnian hati (naqyu al-qalb), hidup ikhlas,
menolak pemberian orang, bekerja mandiri dan berdiam diri.
Abu al-Wafa menyimpulkan, bahwa zuhud Islam pada abad I
dan II hijriyah mempunyai karakter sebagai berikut:
a. Menjauhkan diri dari dunia menuju ke akhirat yang
berakar pada nas agama yang dilatarbelakangi oleh
sosiopolitik yang bertujuan meningkatkan moral.
b. Bersifat praktis, para pendirinya tidak menaruh perhatian
untuk menyusun prinsip-prinsip teoritis atas kezuhudannya
itu. Sedangkan sarana praktisnya adalah hidup dalam
ketenangan dan kesederhanaan secara penuh, sedikit
makan maupun minum, banyak beribadah dan mengingat
Allah SWT. dan berlebih-lebihan dalam merasa berdosa,
9 Amin Syukur & Masyharuddin, Intelektualisme Tasawuf, Yogyakarta,2002. Hal.17.

tunduk mutlak kepada kehendak-Nya, dan berserah diri


kepada-Nya. Tasawuf pada masa ini mengarah pada tujuan
moral.
c. Motif zuhudnya ialah rasa takut, yaitu rasa yang muncul
dari landasan amal keagamaan secara sungguh-sungguh.
Sementara pada akhir abad II Hijriyah, di tangan Rabiah
al-Adawiyah muncul motif rasa cinta, yang bebas dari rasa
takut terhadap adhab-Nya maupun harapan terhadap
pahala-Nya. Hal ini dicerminkan lewat penyucian diri, dan
abstraksi dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan.
d. Menjelang akhir abad II Hijriyah, sebagian zahid,
khususnya di Khurasan, dan Rabiah al-Adawiyah ditandai
kedalaman membuat analisa, yang bisa dipandang sebagai
fase pendahuluan tasawuf, atau cikal bakal para pendiri
tasawuf falsafi abad III dan IV Hijriyah.
2. Masa Pengembangan
Pada abad III dan IV, tasawuf sudah bercorak kefanaan
(ekstase) yang menjurus ke persatuan hamba dengan Khalik. Orang
sudah ramai membahas tentang lenyap dalam kecintaan (fanafi alMahbub), bersatu dengan kecintaan (ittihad bi al-Mahbub), kekal
dengan Tuhan (baqa bi al-Mahbub), menyaksikan Tuhan
(musyahadah), bertemu dengan-Nya (liqa) dan menjadi satu
dengan-Nya (ain al-jama) seperti yang diungkapkan oleh Abu
Yazid al-Bushtham (261 H), seorang sufi dari Persia yang pertama
kali mempergunakan istilah fana (lebur atau hancurnya perasaan)
sehingga dia dianggap sebagai peletak batu pertama dalam aliran
ini.
Sesudah Abu Yazid al-Busthami, lahirlah seorang sufi
kenamaan, yakni al-Hallaj (w. 309 H) yang menampilkan teori alHulul

(reinkarnasi

Tuhan).

Al-Thusi

dalam

al-Lumanya

menyatakan bahwa hulul adalah:


Allah memilih suatu jisim yang ditempati mana
rububiyyah dan leburlah daripadanya mana basyariyyah.

Menurut al-Hallaj, manusia mempunyai dua sifat, yakni


sifat kemanusiaan (nasut) dan sifat ketuhanan (lahut). Tuhan
menciptakan manusia dalam copi-Nya. Landasan pemikirannya
didasarkan kepada surat Shad ayat 72, yang artinya:
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan
Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu
tersungkur dengan bersujud kepadaNya (Q.S. Shad:72)
Unsur jasmani dari materi, sedang unsur ruhaninya berasal
dari roh Tuhan, percampuran antara roh manusia dengan Tuhan
diumpamakan oleh al-Hallaj bagaikan bercampurnya air dengan
khamer, jika ada sesuatu yang menyentuh-Nya, maka menyentuh
aku. Namun sejauh itu, dia tidak mengakui adanya peleburan dua
hakikat, manusia dan Tuhan, akan tetapi keduanya masih
mempunyai jarak.
Pada akhir abad ke III orang berlomba-lomba menyatakan
dan mempertajam pemikirannya tentang kesatuan penyaksian
(Wahdat al-Syuhud), kesatuan kejadian (wahdat al-Wujud)
kesatuan agama-agama (Wahdat al-Adyan), berhubungan dengan
Tuhan (ittishal), keindahan dan kesempurnaan Tuhan (Jamal dan
Kamal), manusia sempurna (insan kamil), yang kesemuanya itu tak
mungkin dicapai oleh para sufi kecuali dengan latihan yang teratur
(riyadhah).
Kemudian muncul Junaidi al-Baghdady meletakkan dasardasar ajaran tasawuf dan thariqah, cara mengajar dan belajar ilmu
tasawuf, syekh, mursyid, murid dan murad, sehingga dia mendapat
predikat Syekh al-Thaifah (ketua rombongan suci).
Tasawuf pada masa ini, sudah berkembang menjadi
madzhab, bahkan seolah sebuah agama yang berdiri sendiri. Pada
abad ke III dan IV Hijriah ini terdapat dua aliran tasawuf, yakni

tasawuf sunni yang memagari diri dengan Al-Quran dan al-Hadits


dengan mengaitkan keadaan dan tingkatan rohani pada keduanya.
Serta tasawuf semi falsafi yang lebih cenderung pada
ungkapan ganjil serta bertolak dari keadaan fana terhadap
pernyataan penyatuan penyatuan (ittihad atau hulul).
3. Masa Konsolidasi
Pada abad V Hijriah, diadakan konsolidasi antara kedua
aliran pada masa sebelumnya, hal ini ditandai dengan aanya
kompetisi antar keduanya, yang kemudian dimenangkan tasawuf
sunni dan menenggelamkan tasawuf falsafi.
Dengan adanya kompetisi tersebut, pada masa ini tasawuf
dinilai mengadakan pembaharuan , yakni periode yang ditandai
dengan pemantapan dan pengembalian tasawuf ke dalam landasan
al-Quran dan al-Hadits. Tokoh-tokoh pada masa ini adalah ialah
al-Qusyairi (376-465 H), Al-Harawi (396 H), dan al-Ghazali (450505 H).
al-Qusyairi (376-465 H) terkenal sebagai pembela teologi
Ahlussunnah wal Jamaah, beliau mampu mengompromikan
antara syariah dan hakikah berlandaskan al-Quran dan al-Hadits.
Beliau menekankan bahwa kesehatan batin dengan berpegang
teguh pada keduanya lebih penting daripada pakaian lahiriah.
Al-Harawi (396 H), sikapnya tegas dan tandas terhadap
tasawuf, beliau menganggap orang yang suka mengeluarkan
syathahat, hatinya tidak bisa tenteram atau dengan kata lain,
syathahat itu muncul dari ketidaktenangan. Sebab apabila
ketenangan itu terpaku dalam kalbu mereka, akan membuat
seseorang terhindar dari keganjilan ucapan atau pun segala
penyebabnya.
Al-Ghazali

(450-505

H),

memilih

Tasawuf

Sunni

berdasarkan doktrin Ahlussunnah wal Jamaah, corak tasawufnya


bersifat psiko-moral yang mengutamakan pendidikan moral.
Beliau

menilai

negative

terhadap

syathahat,

karena

dua

kelemahan yang dimilikinya, yaitu kurang memperhatikan kepada

amal lahiriah serta keganjilan makna yang tidak dipahami


maknanya.
4. Masa Falsafi
Pada abad IV Hijriah, muncullah tasawuf falsafi atau
tasawuf

yang

bercampur

dengan

ajaran

filsafat,

yang

dikompromikan dengan pemakaian term-term filsafat yang


maknanya disesuaikan dengan tasawuf.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya menyimpulkan, bahwa
tasawuf falsafi mempunyai empat obyek utama, dan menurut Abu
al-Wafa bisa dijadikan karakter sufi falsafi, yaitu :
a. Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi serta introspeksi yang
timbul darinya
b. Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam ghaib
c. Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos
berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau
keluarbiasaan
d. Penciptaan ungkapan-ungkapan

yang

pengertiannya

sepintas samar-samar (syathahiyat)


Selanjutnya, pada abad VI dan VII hijriah, muncul cikal bakal
orde (tarekat) sufi kenamaan, seperti tarekat Qadariyah,
Suhrawardiyah, Rifaiyah, Syadziliyah, Badawiyah dan tarekat
Naqsyabandiyah.
5. Masa Pemurnian
Pada masa ini, pengaruh dan praktek-praktek Tasawuf kian
tersebar luas melalui thariqah-thariqah, dan para sulthan serta
pangeran tak segan-segan pula mengeluarkan perlindungan dan
kesetiaan pribadi mereka.
Pada masa ini terlihat tanda-tanda keruntuhan kian jelas,
penyelewengan

dan

sekandal

melanda

dan

mengancam

kehancuran reputasi baiknya dengan ditandainya munculnya


bidah, khurafat, mengabaikan syariat dan hukum-hukum moral
dan penghinaan terhadap ilmu pengetahuan, berbentangkan diri
dari dukungan awam untuk menghindarkan diri dari rasionalitas,
dengan menampilkan amalan yang irrasional. Azimat dan ramalan
serta kekuatan ghaib ditonjolkan.

Sehingga muncul Ibn Taimiyah untuk menyerang semua


itu, dengan mengembalikan ajaran tasawuf berlandaskan alQuran
dan Al-Hadits. Kepercayaan yang menyimpang diluruskan, seperti
kepercayaan kepada wali, khurafat dan bentuk-bentuk bidah pada
umumnya. Menurut Ibn Taimiyah yang disebut wali (kekasih
Allah) ialah orang yang berperilaku baik (shaleh), konsisten
dengan syariah Islamiyah. Sebutan yang tepat untuk diberikan
kepada orang tersebut ialah Muttaqin, allah berfirman dalam surat
Yunus : 62-63, yang artinya sebagai berikut:
62. Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih
hati.
63. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu
bertakwa
Ibnu Taimiyah mengkritik terhadap ajaran Ittihad, Hulul,
dan Wahdat al-Wujud sebagai ajaran yang menuju kekufuran
(atheisme), meskipun keluar dari orang-orang yang terkenal arif
(orang yang telah mencapai tingkatan marifat), ahli tahqiq (ahli
hakikat) dan ahli tauhid (yang mengesakan Tuhan). Pendapat
tersebut layak keluar dari mulut orang Yahudi dan Nasrani.
Mengikuti pendapat tersebut hukumnya sama dengan yang
menyatakan, yakni kufur. Yang mengikutinya karena kebodohan,
masih dianggap beriman.
2.3 Sumber Ajaran Tasawuf
Dalam ajaran tasawuf, terdapat berbagai sumber yang menjadi landasan
dasar dalam menjalani tasawuf, berikut adalah beberapa sumber ajaran
tasawuf:
a. Al-Quran sebagai landasan dasar utama tasawuf karena berisi
seruan untuk berlaku zuhud dan beribadah.
b. Kehidupan zuhud Rasulullah, dan
c. Kehidupan zuhud sahabat dan khulafaur rasyidin.
2.4 Istilah-istilah dalam Tasawuf

Didalam ilmu tasawuf terdapat beberapa istilah yang merupakan


jalan atau cara yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat menyatu
dengan Tuhan yang disebut maqamat. Secara harfiah maqamat berasal dari
kata bahasa arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia.
Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang
harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah SWT.
Dalam bahasa inggris muqamat dikenal dengan istilah stages, yang berarti
tangga.
Diantara istilah maqamat-maqamat dalam tasawuf yaitu sebagai
berikut:
a. Tobat
Tahapan awal yang harus dilewati sufi adalah tobat. Tobat
adalah meminta ampun yang tidak membawa kembali dosa
yang pernah dilakukannya. Tobat dalam dunia tasawuf adalah
lupa kepada segala hal, kecuali kepada Allah SWT.
b. Zuhud
Zuhud adalah meninggalkan dunia dan kehidupan materi.
Kehidupan dunia hanya dipandang sebagai alat untuk
merealisasikan tujuan yang hakiki yaitu dekat kepada Allah
SWT. Zuhud merupakan tahap pemantapan tobat yang telah
dilaluinya pada tahapan pertama. Zuhud termasuk salah satu
ajaran

agama

yang

sangat

penting

dalam

rangka

mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang


yang zuhud lebih mengutamakan atau mengejar kebahagiaan
hidupdi akhirat yang kekal dan abadi daripada mengejar
kehidupan dunia yang fana dan sepintas lalu.
c. Wara
Setelah selesai dari zuhud, calon sufi memasuki tahapan wara.
Secara harfiah, al-wara artinya saleh, menjauhkan diri dari
perbuatan dosa. Kata ini selanjutnya mengandung arti menjauhi
hal-hal yang tidak baik. Dalam pengertian sufi, al-wara adalah
meninggalkan segala yang didalamnya terdapat keragu-raguan
antara halal dan haram (syubhat).
d. Fakir

Setelah melewati wara, seorang sufi akan meningkatkan


kualitas ketasawufannya dengan berakhlak kefakiran. Secara
harfiah, fakir biasanya diartikan sebagai orang yang bersahaja
atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi, fakir
adalah bersyukur dengan apa yang ada pada diri kita, tidak
meminta rezeki kecuali hanya untuk menjalanjkan kewajibankewajiban, dan tidak menolak rezeki yang ada.
e. Sabar
Selanjutnya seorang sufi akan memasuki tahapan sabar.
Menurut Zun al-Nun Al-Mishry, sabar artinya menjauhkan diri
dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetap
tenang ketika mendapat cobaan, dan menampakkan sikap
cukup

walaupun

sebenarnya

berada

didalam

kefkiran.

Dikalangan para sufi, sabar dimaknai dengan sabar dalam


menjalankan perintah-perintah Allah SWT, dan menjauhi
segala larangannya serta sabar dalam menerima cobaan yang
dilimpahkan pada diri kita.
f. Tawakal
Setelah melewati tahapan kesabaran, seorang sufi memasuki
tahapan tawakal. Tawakal adalah menyerahkan diri kepada
qada dan keputusan Allah SWT, jika mendapat pemberian
maka berterima kasih. Jika tidak mendapatka apa-apa, maka
bersikap sabar dan menyerahkan kepada qada dan Allah SWT.
g. Kerelaan
Tahapan selanjutnya adalah rida atau rela, yaitu sikap dan
prilaku tidak menentang terhadap qada dan qadar Allah
melainkan menerima dengan senang hati sekecil apapun nikmat
yangd iberikan oleh Allah, dan ikhlas menerima dan
menghadapi sebesar apapun ujian yang diberikan oleh Allah
SWT.
h. Mahabbah
Pada tahapan rida seorang sufi sudah dekat dengan Tuhan, dan
rasa cinta ynag begitu kuat telah berhasil membawanya sampai
ketahapan mahabbah (cinta illahiyah), yaitu cinta kepada Allah
yang ditampilkan dengan sikapdan prilaku kepatuhan tanpa

reserve

(penyerahan

diri

secara

total),

serta

dengan

pengosongan hati dari segala sesuatu kecualiyang dikasihi,


yaitu Allah. Sufi yang terkenal dalam mahabbah ini adalah
Rabiah al-Adwaiyah (713-801 H) dari Basrah, Irak. Pada
tahapan ini melalui cinta yang menggelora kepada Tuhan akan
dibalas oleh Tuhan dan dapat melihat Tuhan dengan mata
hatinya.
i. Makrifah
Pada tahapan makrifah ini, tabiin yang memindahkan dirinya
dekat dengan Tuhan telah terbuka. Makrifah berarti mengetahui
Tuhan dari dekat sehinga hati semakin dapat melihat Tuhan,
tapi aia belum puas dengan berhadapan. Sufi dalam tahapan ini
ingin dekat lagi, bahkan ingin bersatu dengan Tuhan dan
menjadikannya sebagai perantaraan hati sanubari.
j. Al-Fana wal Baqa
Yaitu keinginan kaum sufi untuk lebih dekat lagi dengan
Tuhan, bahkan bersatu dengan Tuhan melauli al-Fana
(pengharuan)

dan

menghancurkan

diri,

maksudnya

hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar


manusia. Penghancuran dalam istilah sufi selalu diringi dengan
baqa.
k. Al-Ittihad
Al-ittihad dalam tasawuf adalah tercapainya kesatuan wujud
rohaninya denga Tuhan. Dengan hancurnya kesadaran diri
(fana an nafs) yaitu kalam wujud jasmaniahnya tidak ada atau
tidak disadarinya lagi, maka yang akan tinggal adalah wujud
rohaniahnya, maka pada saat itulah ia dapat bersatu dengan
Tuhan. Jadi tingkat ittihad yaitu satu tingkatan tasawuf ketika
seorang sufi merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, sepri yang
diungkapkan oleh kaum sufi berikut ini Aku adalah Engkau,
Engkau adalah Aku, melalui diri-Nya aku berkata,Hai Aku.
Disinilah sufi mencapai tujuan akhirnya sampai kepada Tuhan,
bahkan menyatu dengan Tuhan.
2.5 Fungsi dan Peranan Tasawuf dalam Kehidupan Modern
A. Fungsi Tasawuf dalam Kehidupan Modern

Al-Junaidal-Baghdadi yang dijuluki Bapak TAsawuf Modern


menjelaskan tasawuf berfungsi membersihkan hati dari sifat yang
menyamai binatang, menekan sifat kemanusiaan (basyariyah),
menjauhi hawa nafsu dan memberikan tempat untuksifat rohaniahnya,
serta berpegang teguh pada ilmu kebenaran.
Padadasarnya hakikat tasawuf adalah mendekatkan dirikepada
Allah SWT. Melalui penyucian diri dan perbuatan-perbuatan islam.
Dapat dikatakan fungsi tasawauf dalam hidup antara lain sebagai
berikut:
a. Sebagai benteng pertahanan menghadapi budaya luar yang
sifatnya menjerumuskan.
b. Sebagai petunjuk beberapa

jalan

hidup

pembangunan

masyarakat dan ekonomi.


c. Memperkuat posisi islam dalam kehidupan bermasyarakat,
serta mengembangkan masyarakat islam yang lebih luas.
B. Peranan Tasawuf dalam Kehidupan Modern
Kemajuan peradaban manusia dewasa ini ditandai dengan
perkembangan ilmu pngetahuan dan teknologi (iptek). Makin maju
perkembangan suatu masyarakat dan bangsa, maka makin maju pula
segala aspek kehidupan modern. Kehidupan budaya modern saat ini
telah mempengaruhi Negara-negara berkembang, termasuk Negara
Indonesia khususnya di perkotaan. Akan tetapi, tidak semua kemajuan
Negara ternyata membawa hasil yang positif, seperti dalam hal agama.
Salah astu faktornya adalah timbulnya dekadensi moral atau keringnya
pengalaman spiritual yang semakin mundur.
Husen Nasr, ilmuwan dari Iran mengatakan pangkal terjadinya
kekeringan spiritual akibat pintu masuknya tersumbat. Dengan
menyempitkan pintu masuk bagi persepsi dan konsepsi spiritual, maka
manusia modern seamkin berada pada garis tepi, sehingga tidak lagi
memiliki etika dan estetika yang mengacu pada sumber illahi.
Disinilah tasawuf berperan memberikan sumbangannyaterhadap
konsep etika islam yang sesuai dengan syariat. Hadirnya tasawuf telah
mengajarkan sikap-sikap hidup yang baik, yang merupakan inti ajaran
etika, seperti kesederhanaan, sabar, ikhlas, tawakal, dan rida, serta
melarang

sikap-sikap

yang

buruk

seperti

mudah

merampok,

membunuh orang, dan makan babi. Tasawuf juga mengajarkan


manusia untuk menjalankan hal-hal yang wajib, seperti ibadah sholat,
puasa, berzakat, dan haji. Selain itu juga mengamalkan hal-hal yang
sunnah dan menjauhi hal-hal yang makruh. Dengan demikian , untuk
mengkaji konsep etika dalam islam harus diteluduri pada konsep
tasawuf.
Diantara peranan tasawuf dalam kehidupan modern, adalah sebagai
berikut:
a. Menjadikan manusia berkpribadian yang saleh dan berakhlak
baik
b. Lebih mendekatkan manusia kepada Tuhan
c. Sebagai obat mengatasi krisis kerohanian manusia (dekadensi
moral)
2.6 Contoh-contoh Perilaku Bertasawuf
Orang yang telah mempelajari ilmu tasawuf dan mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari akan tampak pada perilakunya sebagai
berikut:
1. Menyesali kesalahan yang diperbuatnya, bertobat denga
sungguh-sungguh (taubatan nasuha), dan berjanji tidak akan
mengulangi dosa atau kesalahan lagi.
2. Mulai menjauhi diri dari matei dan dunia ramai. Tidak pernah
meninggalkan ibadahnya kepada Allah, seperti shalat, puasa,
membaca Al-Quran, dan zikir.
3. Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan syubhat dan tidak
memakan makanan atau minuman yang tidak jelas kedudukan
halal-haramnya.
4. Menjalani hidup kefakiran. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit
dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat menjalankan
kewajiban-kewajiban agamanya.
5. Memilki sifat sabar yang luar biasa. Bukan hanya sabar dalam
menjalankan perintah-perintah Allah yang berat dan menjauhi
larangan-larangan-Nya, tapi juga sabar dalam menerima cobaan
berat yang ditimpakan Allah kepadanya. Ia juga sabar dalam
menderita.

6. Menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Allah. Ia


tidak memikirkan hari esok, baginya cukup apa yang ada untuk
hari ini.
7. Tidak menentang cobaan dari Allah, bahkan ia menerima denga
senang hati. Didalam hatinya tidak ada perasaan benci yang ada
hanyalah perasaan senang. Ketika malapetaka turun, hatinya
merasa senang dan didalamnya bergelora rasa cinta kepada
Allah.
2.7 Penerapan Tasawuf dalam Kehidupan Modern
Amalan yang dapat kita teladani dari kehdupan Nabi saw, atau para
sufi yang dikembangkan dalam kehidupan modern, antara lain sebagai
berikut:
1. Banyak Berzikir
Zikir yaitu menyebut-nyebut nama Allah, agar jiwa para
sufi dipenuhi dengan nama-nama (asma) Allah. Zikir selalu
digunakn oleh sufi juga dalam rangka pendekatan kepada Allah
atau penyucian jiwa dari kotoran-kotoran (pengaruh-pengaruh
jasmani). Dalam kehidupan modern, terutama diperkotan
kehidupan masyarakatnya super sibuk, jalan macet, persaingan
bisnis sangat ketat, tingkat kejahatan tinggi banyak manusia
yang stress. Oleh sebab itu, zikir dapat diamalkan dalam
kehidupan modern, yaitu dengan menyebut asma Allah
sebanyak-banyaknya tanpa dihitung-hitung dan dilakukan
dimana saja asal suci dan bersih.
Zikir hakikatnya untuk mengingat Allah, dekat kepada Allah,
bukti seseorang ingat dan sudah dekat kepada Allah adalah
menjauhi segala larangan-Nya dan patuh terhadap segala
perintah-Nya, seperti melaksanakan rukun islam, rukun iman,
dan beamal saleh. Membaca, mempelajari, memahami,
melaksanakan, mensyiarkan Al-Quran.
2. Zuhud
Sufi mengajarkan bahwa kekayaan sebenarnya adalah
bukan harta benda atau kesenangan dunia, melainkan kekayaan
rohani. Tidak tertarik dengan perebutan harta benda karena
memandang nilai rohani lebih tinggi. Pada kehidupan modern

ini kita dapat mencontoh dari sufi sesungguhnya harta benda


tidak akan dibawa pada saat ajal tiba. Harta tetap kita cari
untuk kebutuhan hidup keluarga, membiayai anak-anak
bersekolah, tentunya dengan yang halal, tidak membohongi,
curang, atau mengambil hak orang lain.
3. Berperilaku Sederhana
Sufi dalam kehidupan sehari-hari menampakkan kesederhanaan
dalam hal rumah, pakaian, dan makanan. Orang hidup dizaman
modern kehiduoan sederhana dapat mencontoh dari sufi,
sepanjang kesederhanaannya itu tidak memberikan dampak
keburukan. Contohnya makanan, walaupun sederhana tetapi
tetap sehat dan bersih, demikian pula dengan tempat tinggal an
pakaian tetap memperhatikan kebersihan dan kesehatan.
4. Bekerja Keras
Mengembangkan konsep kerja keras sebagai salah satu cara
dalam menerjemahkan kehendak Allah SWT. Bekerja keras
dipandang sebagai upaya peningkatan kualitas potensi diri atau
fitrah yang telah Allah berikan kepada semua makhluk-Nya.
Bekerja keras dalam upaya menyucikan jiwa agardapat
mendekatkan diri dengan sang pencipta.

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Tasawuf Islam adalah bersumber dari agama Islam sendiri,


dari Alquran al-Karim, al-Hadits, contoh kehidupan Rasulullah
SAW dan kehidupan para sahabat beliau. Dalam
perkembangannya, tasawuf berasal dari sebuah gerakan zuhud
yang kemudian berkembang menjadi suatu disiplin ilmu
tersendiri, ada yang mengatakan tasawuf terpengaruh dari unsur
Nasrani, Persia, India filsafat, dan lain sebagainya. Namun
terlepas dari semua itu, pada kenyataannya tasawuf merupakan
sebuah disiplin ilmu tersendiri yang maisng-masing zaman
mempunyai corak dan karakteristiknya masing-masing.
Pada awal pembentukannya yang dimulai sekitar abad I dan
II Hijriyah, dengan tokoh-tokohnya yang bersinar antara lain
Hasan al-Basri, Ibrahim bin Adham, Sufyan al-Sauri, dan Rabiah
al-Adawiyah. Pada masa ini kata zuhud lebih populer ketimbang
kata tasawuf.
Kemudian tasawuf pada abad III dan IV Hijriyah lebih
mengarahkan pada ciri psikomoral dan perhatiannya diarahkan
pada moral serta tingkah laku sehingga sudah merupakan mazhab,
bahkan seolah-olah agama yang berdiri sendiri. Ada 2 aliran yang
berkembang yaitu tasawuf sunni dan tasawuf semi falsafi. Masa
ini dinamakan dengan masa pengembangan.
Pada masa konsolidasi ditandai kompetisi dan pertarungan
antara tasawuf semi falsafi dengan tasawuf sunni. Tasawuf sunni
memenangkan pertarungan dan berkembang sedemikian rupa.
Kemudian pada abad VI Hijriyah tampillah tasawuf
falsafi, yaitu tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat,
kompromi dalam pemakaian term-term filsafat yang maknanya
disesuaikan dengan tasawuf.
Selanjutnya pada masa pemurnian, tampillah Ibnu Taimiyah
yang menentang ajaran-ajaran sufi yang dianggapnya
menyeleweng dari ajaran Islam. Ibnu Taimiyah lebih cenderung
bertasawuf sebagaimana yang pernah diajaran Rasulullah SAW,
yakni menghayati ajaran Islam, tanpa mengikuti aliran thariqah
tertentu, dan tetap melibatkan diri dalam kegiatan sosial,
sebagaimana manusia pada umumnya.

3.2 Saran
Sebagai umat islam sudah sepatutnya kita menjalankan
kewajiban kita sebagai orang muslim. Dari pembahasan diatas
penulis dapat sedikit menyarankan agar lebih menghargai dan

lebih bersyukur dengan apa yang telah kita miliki sekarang,


sehingga kita dapat terhindar dari sikap riya, iri hati, dengki dsb.
Kita juga wajib menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah
dan menjauhi yang dilarang-Nya, serta yang perlu diingat hidup di
dunia ini hanya sementara maka dari itu perbanyaklah ibadah serta
amal soleh sebagai bekal hidup kelak di akhirat yang kekal dan
abadi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Permadi. 2004. Pengantar Ilmu Tasawuf. Jakarta : PT.RINEKA
CIPTA, (anggota IKAPI).
2. Tohir, Moenir Nahrowi. 2012. Menjelajahi Eksistensi Tasawuf,
Meniti Jalan Menuju Tuhan. Jakarta : PT. As-Salam Sejahtera
3. Syukur, Amin. 1999. Menggugat Tasawuf:sufisme dan tanggung
jawab sosial abad 21.Yogyakarta : PUSTAKA PELAJAR
4. Syukur, Amin; dan Masyharuddin. 2002. Intelektualisme
Tasawuf, Studi Intelektualisme Tasawuf Al-Ghazali. Yogyakarta :
PUSTAKA PELAJAR (anggota IKAPI).
5. Jalaludin.
2009.
Pendahuluan.
http://lib.ui.ac.id/file?
file=digital/127266-RB07C175r-Refleksi%20JalaluddinPendahuluan.pdf.(diakses pada tanggal 20 Maret 2015, pukul
20.00)
6. Margiono. 2011. Akidah Akhlak. Jakarta: Yudhistira.