Anda di halaman 1dari 10

Penyerapan natrium

Natrium dapat diserap secara pasif maupun aktif. Jadi gradien


elektrokimia mendorong perpindahan Na+ dari lumen ke dalam darah
maka dapat terjadi difusi pasif antara sel-sel epitel usus melalui taut
erat yang bocor ke dalam cairan interstisium didalam vilus.
Perpindahan Na+ menembus sel memerlukan energi dan melibatkan
dua

pembawa

berbeda,

serupa

dengan

proses

reabsorpsi

Na +

menembus tubulus ginjal. Natrium secara pasif masuk ke sel epitel


menembus batas luminal secara sendiri melalui saluran Na + atau
didampingi

oleh

glukosa

atau

asam

amino

melalui

pembawa

kontranspor. Natrium dipompa secara aktif keluar sel di batas


basolateral ke dalam cairan interstisium diruang lateral antara sel-sel
tersebut tidak disatukan oleh taut erat. Dari cairan interstisium, Na +
berdifusi ke dalam kapiler.
Seperti tubulus ginjal di bagian-bagian awal nefron, penyerapan
Cl-, H2O, glukosa, dan asam amino dari usus halus dikaitkan dengan
penyerapan Na+ dependen energi ini. Klorida secara pasif mengalir
menuruni gradien listrik yang tercipta oleh absorpsi Na + dan dapat juga
secara aktif di absorpsi jika dibutuhkan. Sebagian besar penyerapan
H2O di saluran cerna bergantung pada pembawa aktif yang memompa
Na+ ke dalam ruang lateral, menyebabkan terbentuknya daerah
terkonsentrasi dengan tekanan osmotik tinggi di daerah lokal antara
sel-sel, serupa dengan situasi di ginjal. Tekanan osmotik tinggi yang
bersifat lokal ini memicu H2O berpindah dari lumen menembus sel (dan
mungkin dari lumen melalui erat yang bocor) ke dalam ruang lateral.
Air yang masuk ruang ini mengurangi tekanan osmotik tetapi
meningkatkan tekanan hidrostatik (cairan). Akibatnya, H2O terbilas
keluar dari ruang lateral menuju bagian inferior vilus, tempat zat ini
diserap oleh anyaman kapiler. Sementara itu, lebih banyak Na +
dipompa ke dalam ruang lateral untuk mendorong absopsi H 2O lebih
banyak.

Penyerapan Karbohidat
Karbohidrat makanan dicerna di usus halus untuk diserap
terutama dalam bentuk disakarida maltosa (produk pencernaan
polisakarida), sukrosa, dan laktosa. Disakaridase yang terletak di
membran brush border sel epitel usus meneruskan penguraian
disakarida ini menjadi unit-unit monoskarida yang dapat diserap yaitu
glukosa, galaktosa, dan fruktosa.
Glukosa dan galaktosa diserap oleh transpor aktif sekunder, di
mana pembawa kontranspor di membran luminal memindahkan
monosakarida dan Na+ dari lumen ke dalam interior sel usus.
Bekerjanya pembawa kontraspor ini, yang tidak secara langsung
mengunakan energi, bergantung pada gradien konsentrasi Na + yang
tercipta oleh pompa Na+-K+ basolateral yang menggunakan enegi.
Glukosa (atau galaktosa), setelah dipekatkan di sel oleh pembawa
kontranspor, meninggalkan sel menuruni gradien konsentrasi melalui
pembawa pasif di membran basolateral untuk masuk ke darah dalam
vilus. Selain terjadi penyerapan glukosa melalui sel oleh pembawa
kontranspor, terdapat bukti bahwa cukup banyak glukosa melintasi
sawar epitel melalui taut erat yang bocor di antara sel-sel epitel.
Fruktosa diserap ke dalam darah hanya dengan difusi terfasilitasi
(transpor pasif yang diperantarai oleh pembawa).

Penyerapan protein
Baik protein yang dicerna (dari makanan) maupun protein
endogen (di dalam tubuh) yang masuk ke lumen saluran cerna dari tiga
sumber berikut dicerna dan diserap:
1. Enzim

pencernaan,

yang

semuanya

adalah

protein,

yang

disekresikan ke dalam lumen.


2. Protein di dalam sel yang terdorong hingga lepas dari vilus ke
dalam lumen selama proses pertukaran mukosa.
3. Sejumlah kecil protein plasma yang normalnya bocor dari kapiler
ke dalam lumen saluran cerna.

Sekitar 20-40 g protein endogen masuk ke lumen setiap hari dari


ketiga sumber ini. Jumlah ini dapat berjumlah lebih dari jumlah protein

yang berasl dari makanan. Semua protein endrogen harus dicerna dan
diserap

bersama

dengan

protein

makanan

untuk

mencegah

terkurasnya simpanan protein tubuh. Asam-asam amino yang diserap


dari protein makanan dan endogen terutama digunakan untuk
membentuk protein baru di tubuh.
Protein yang disajikan ke usus halus untuk diserap terutama
berad dalam bentuk asam amino dan beberapa potongan kecil peptida.
Asam amino diserap menembus sel usus oleh transpor aktif sekunder,
serupa dengan penyerapan glukosa dan galaktosa. Karena itu, glukosa,
galaktosa, dan asam amino semuanya mendapat tumpangan gratis
untuk masuk dari transpor Na+ yang membutuhkan energi. Peptida
kecil memperoleh jalan masuk melalui pembawa yang berbeda dan
diuraikan

menjadi

asam-asam

amino

konstituennya

oleh

aminopeptidase di membran brush boder atau oleh peptidase intrasel.


Seperti monosakarida, asam amino masuk ke anyaman kapilerdi dalam
vilus.

Penyerapan lemak
Penyerapan lemak cukup berbeda dari penyerapan karbohidrat
dan protein, karena sifat tidak larutnya lemak alam air menimbulkan
masalah tertentu. Lemak harus dipindahkan dari kimus cair melalui
larutan cairan tubuh, meskipun lemak tidak larut air. Karena itu, lemak
harus menjalani saerangkaian transformsi fisik dan kimiawi untuk
mengatasi masalah ini selama pencernaan dan penyerapannya.
Ketika isi lambung dikosongkan ke dalam duodenum, lemak
yang

tertelan

bergumpal

membentuk

agrega

butir-butir

besar

trigliserida yang mengapung di kimus. Ingatlah bahwa melalui efek


deterjen garam empedu di lumen usus halus, butiran-butiran besar ini
terurai menjadi emulsi lemak yang terdiri dari butiran-butiran halus
sehingga luas permukaan lemak untuk dicerna oleh lipase pankreas
sangat sangat sediit dari produk-produk akhir pencernaan lemak ini
yang dapat berdifusi menembus kimus cair untuk mencapai lapisan

absorptif

usus.

Namun,

komponen-komponen

empedu

mempermudahkan penyerapan produk-produk aktif akhir asam lemak


ini dengan membentuk misel.
Ingatlah bahwa misel adalah partikel larut air yang dapat
mengangkut

produk-produk

akhir

pencernaan

lemak

di

dalam

interiornya yang larut lemak. Setelah misel mencapai membran


luminal sel epitel, monogliserida dan asam lemak bebas secara pasif
berdifusi dari misel menembus komponen lemak membran sel epitel
untuk

masuk

ke

interior

sel

ini.

Setelah

produk-produk

lemak

meinggalkan misel dan diserpa menembus membran sel epitel, misel


dapat menyerap monogliserida dan asam lemak bebas lain, yang telah
dihasilkan dari pencernaan molekul-molekul trigliserida lain dalam
emulsi lemak.
Garam-garam empedu secara terus-menerus mengulangi fungsi
melarutkan lemak di sepanjang usus halus sampai semua lemak
terserap. Kemudian garam-garam empedu itu sendiri direabsorpsi di
ileum terminal oleh transpor aktif khusus. Ini adalah suatu proses yang
efisien, karena garam empedu dalam jumlah relatif sedikit sudah dapat
mempermudah pencernaan dan penyerapan lemak dalam jumlah
besar, denagn setiap garam empedu melakukan fungsi pengangkutan
berulang-ulang sebelum akhirnya direabsorpsi.
Setelah berada di inferior sel epitel, monogliserida dan asam
lemak bebas diresintesis menjadi trigliserida. Trigliserida-trigliserida ini
menyatu menjadi butiran-butiran lalu dibungkus oleh suatu lapisan
lipoprotein (disintesisoleh retikulum endoplasma sel epitel), yang
menyebabkan butiran lemak tersebut larut air. Butiran lemak besar
yang

telah

di

bungkus

ini,

yang

dikenal

sebagai

kilomikron,

dikeluarkan oleh eksositosis dari sel epitel ke dalam cairan interstisium


di dalam vilus. Milomikron kemudian masuk ke lakteal sentral dan
bukan ke kapiler karena perbedaan struktural antara kedua pembuluh
ini. Kapiler memiliki membran basal (suatu lapisan luar polisakarida)
yang mencegah kilomikron masuk, terapi pembuluh limfe tidak

memiliki penghalang ini. Karena itu, lemak dapat diserap ke dalam


pembuluh limfe tetapi tidak dapat langsung ke dalam darah.
Penyerapan atau transfer sebenarnya monogliserida dan asam
lemak bebas dari kimus menembus membran luminal sel epitel usus
adalah suatu proses pasif, karena produk-produk aktif lemak yang larut
lemak hanya larut dan melewati bagian lemak membran. Namun,
keseluruhan rangkaian kejadian yang diperlukan untuk absorpsi lemak
memerlukan energi. Sebagai contoh, garam empedu disekresikan
secara aktif oleh hati, dan resintesis trigliserida dan pembentukan
kilomikron di dalam sel epitel adalah proses yang aktif.

Penyerapan vitamin
Vitamin larut air terutama diserap secara pasif bersama air, sedangkan
vitamin larut lemak dibawa dalam misel dan di serap secara pasif

bersama produk-produk akhir pencernaan lemak. Sebagian vitamin


juga dapat diserap oleh pembawa, jika diperlukan. Vitamin B 12 bersifat
unik yaitu bahwa bahan ini harus diserap melalui proses endositosis
yang diperantarai oleh reseptor di ileum terminal.

Penyerapan besi
Besi esensial bagi pembentukan hemoglobin. Asupan besi
normalnya adalah 15-20 mg per hari, tetapi pria biasanya menyerap
0,5 sampai 1 mg/hari ke dalam darah, dan wanita menyerap sedikit
lebih banyak, 1,0-1,5 mg/hari (wanita memerlukan lebih banyak besi
karena mereka secara berkala kehilangan besi melalui darah haid).
Penyerapan besi ke dalam darah melibatkan dua langkah utama:
(1) penyerapan besi dari lumen ke dalam sel epitel usus halus dan (2)
penyerapan besi dari sel epitel ke dalam darah.
Besi secara aktif dipindahkan dari lumen ke dalam sel epitel,
dengan wanita memiliki tempat transpor aktif sekitar empat kali lebih
banyak daripada pria. Tingkat penyerapan besi yang masuk oleh sel
epitel bergantung pada jenis besi yang dikonsumsi (besi fero, Fe 2+,
lebih mudah diserap daripada besi feri, Fe 3+). Juga, adanya bahan lain
dilumen dapat meningkatkan atau menghambat penyerapan besi.
Sebagai cotoh, vitamin C meningkatkan penyerapan besi, terutama
dengan

mereduksi

besi

feri

menjadi

fero.

Fosfat

dan

oksalat,

sebaliknya, berikatan dengan besi yang masuk untuk membentuk


garam besi tak larut yang tidak dapat diserap.
Setelah diserap secara aktif ke dalam sel epitel usus halus, besi
memiliki dua kemungkinan:
1. Besi yang segera dibutuhkan untuk produksi sel darah merah
diserap ke dalam darah untuk disalurkan ke sum-sum tulang,
tempat pembentukan sel darah merah. Besi diangkut dalam
darah oleh protein plasma, yang dikenal sebagai transferin,

sebagai pembawanya. Hormon yang berperan merangsang


produksi sel darah merah, eritropoietin, dipercayai juga
meningkatkan penyerapan besi dari sel usus ke dalam darah.
Besi yang diserap kemudian digunakan untuk membentuk
hemoglobin bagi sel darah merah baru.
2. Besi yang tidak segera dibutuhkan akan tetap tersimpan di
dalam sel epitel dalam bentuk granular yang disebut feritin,
yang tidak dapt diserap ke dlam darah. Jika kadar besi dalam
darah terlalu tinggi maka kelebihan besi dapat dibuang dari
darah ke sel epitel usus dalam bentuk feritin yang tidak larut
ini. Besi yang disimpan sebagai feritin akan keluar melalui
tinja dalamtiga hari karena sel-sel epitel yang mengandung
granula ini terlepas selama regenerasi mukosa. Besi dalam
jumlah besar di tinja menyebabkan tinja berwarna gelap,
nyaris hitam.

Penyerapan kalsium
Jumlah kalsium (Ca2+) yang diserap juga diatur. Penyerapan Ca 2+
sebagian dilakukan oleh difusi pasif tetapi umumnya dengan transpor
aktif. Vitamin D melaksanakan efek ini hanya setelah ia diaktifkan di

hati dan ginjal, suatu proses yang didorong oleh hormon paratirod.
Karena itu, sekresi hormon paratiroid meningkatkan sebagai hormon
terhadap penurunan konsentrasi Ca 2+ dalam darah. Dalam keadaan
normal, sekitar 1000 mg Ca2+ dikonsumsi setiap hari namun hanya dua
pertiga diserap diusus halus dan sisanya keluar menjadi tinja.

Referensi :
Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia; Dari Sel ke Sistem. Ed. 9.
Jakarta : EGC