Anda di halaman 1dari 5

THE ROLE OF A CONCEPTUAL FRAMEWORK

Kerangka kerja konseptual akuntansi bertujuan memberikan teori akuntansi


terstruktur. Pada level teori tertinggi, kerangka kerja konseptual menyatakan ruang lingkup
dan tujuan dari pelaporan keuangan. Pada level selanjutnya, kerangka kerja konseptual
mengidentifikasi dan mendefinisikan karakteristik kualitatif dari informasi keuangan
(seperti relevansi, kendalan, komparabilitas, ketepatan waktu, dan mudah dimengerti) dan
elemen dasar dari akuntansi (seperti aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan, beban, dan laba
rugi). Pada level operasional yang lebih rendah, kerangka kerja konseptual memberikan
prinsip-prinsip dan aturan-aturan dalam pengakuan dan pengukuran atas elemen dasar dan
jenis informasi yang ditampilkan pada laporan keuangan. Gambar berikut memberikan
representasi diagram atas unsur-unsur kerangka kerja konseptual. Diagram tersebut dibuat
oleh pembuat standar dari Australia yang menampilkan masalah yang dipertimbangkan
dalam berbagai level pada kerangka kerja konseptual.

Sering ada pendapat bahwa sebaiknya ada metodologi ilmiah dibalik kerangka
kerja untuk pengesahannya. Metodologi ilmiah diterapkan untuk menentukan prinsipprinsip dan aturan-aturan dalam pengukuran akuntansi. FASB telah mendifinisikan
kerangka kerja konseptual sebagai sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep
fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang
konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas dari akuntansi keuangan dan
laporan keuangan.
Kata-kata sistem koheren dan konsisten mengindikasikan bahwa FASB
mendukung kerangka kerja yang teoritis dan tidak sewenang-wenang, dan kata-kata
penentuan mendukung pendekatan normatif. Beberapa akuntan menanyakan apakah
kerangka kerja konseptual ini benar-benar dibutuhkan. Mereka berpendapat bahwa
memformulasikan teori umum akuntansi melalui kerangka kerja konseptual tidak
dibutuhkan. Meskipun selama ini para ahli telah bertahan lama tanpa teori yang dibuat
secara resmi dan berkemungkinan akan tetap berlanjut seperti itu, beberapa masalah telah
muncul dikarenakan kurangnya teori umum. Beberapa orang berpandangan bahwa praktik
akuntasi terlalu longgar karena membolehkan praktik akuntansi alternatif diterapkan pada
keadaan serupa. Contoh permisif dari operasi digambarkan pada laporan khusus untuk
komite New York Stock Exchange selama 1934:
Semakin banyak alternatif praktik membuat setiap perusahaan bebas untuk memilih
metode akuntansi dalam batasan yang sangat luas yang referensinya telah dibuat

Mengizinkan entitas untuk memilih metode akuntansi mereka sendiri dalam batasbatas prinsip akuntansi umum yang diterima dianggap diinginkan oleh beberapa. Regulator
akuntansi telah mencoba untuk menetapakan pesanan dengan mengeluarkan sejumlah
resolusi dan standar akuntansi. Beberapa praktik sekarang disebabkan oleh pangaruh
langsung hukum, aturan agensi perusahaan, tekanan dari manajer binis dan bahkan
kebijakan politik. Accounting Principle Board (APB) di Amerika Serikat mengakui pada
tahun 1970 ketika menyatakan bahwa prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum adalah:
Prinsip-prinsip menjadi berlaku umum oleh persetujuan bukan oleh turunan resmi
dari seperangkat postulat atau komsep dasar. Prinsip-prinsip telah dikembangkan pada
dasar pengalaman, alasan, kebiasaan, penggunaan, dan sampai batas yang signifikan,
kebutuhan praktis.
Terdapat banyak sumber otoritas dalam akuntansi. Contohnya, Internal Revenue
Service Amerika Serikat menerima metode LIFO (last-in-first-out) untuk penilaian
persediaan dan metode akselerasi depresiasi. Karenanya, metode tersebut diterima oleh
profesi. Manajer bisnis dan eksekutif terkadang membujuk akuntan untuk merancang
skema akuntansi yang dapat diterima untuk tujuan meminimalkan beban pajak mereka
atau meningkatkan laba yang dilaporkan.
Sebelum perdebatan kerangka kerja konseptual, pembuat standar akuntansi
mengikuti badan professional sebelumnya dalam mencoba untuk memberikan jawaban
untuk pertanyaan akuntansi yang spesifik. Namun, memberikan jawaban atas masalah
tertentu mengandaikan teori yang memberikan dasar untuk menurunkan jawaban-jawaban

ini. Karena tidak ada teori yang berlaku umum pada keberadaan akuntansi, rekomendasi
dari badan otoritatif hanya dapat dilihat sebagai solusi yang agak acak untuk menekan
masalah saat ini.
Solomon berpendapat bahhwa seseorang harus membuat penilaian tentang jenis
akuntansi yang diinginkan. Dia membantah standar yang ditetapkan oleh penelitian induktif
karena hasil dari proses ini adalah bahwa:
Prinsip atau praktek akan dinyatakan benar karena telah berlaku umum, tidak
akan berlaku umum karena sudah benar
Solomon juga melihat kerangka kerja konseptual sebagai pertahanan terhadap
campur tangan politik dalam kenetralan pelaporan akuntansi. Dia mencatat bahwa
kebijakan akuntansi dapat diimplementasikan hanya dengan pertimbangan nilai, namun
tidak ada cara untuk membuktikan bahwa pertimbangan nilai setiap individu atau kelompok
lebih baik untuk masyarakat dibanding yang lainnya. Dengan demikian, ketentuan " dasar
teoritis yang koheren" dari standar yang diturunkan menyediakan suatu pertahanan
konseptual:
Jika badan penetapan standar tidak dapat menunjukkan bahwa standar tersebut akan
menyebabkan produksi informasi yang berkualitas dan karakteristik yang diperlukan untuk
mencapai tujuan akuntansi, maka tidak akan ada pertahanan terhadap kepentingan sectional
yang melihat standar sebagai bahaya bagi kesejahteraannya, untuk jika standar tidak
diturunkan dari kerangka kerja konseptual, nagaimana bisa ia menunjukkan bahwa sebuah
standar lebih baik dari yang lainnya?

Keuntungan dari kerangka kerja konseptual telah diringkas oleh pembuat standar
Australia yaitu sebagai berikut:
1. Persyaratan pelaporan yang lebih konsisten dan masuk akal karena berasal dari
seperangkat konsep yang tertib.
2. Pencegahan persyaratan pelaporan akan lebih sulit karena keberadaan dari
ketentuan yang mencakup semua.
3. Dewan yang menetapkan persyaratan akan lebih bertanggung jawab terhadap
tindakan mereka dalam pemikiran di balik persyaratan tertentu akan lebih eksplisit
karena akan ada kompromi yang dapat dimasukkan dalam standar akuntansi
tertentu
4. Kebutuhan akan standar akuntans yang spesifik akan dikurangi menjadi keadaan di
mana aplikasi yang sesuai konsep tidak jelas, sehingga meminimalkan resiko
regulasi berlebih
5. Para penyusun dan auditor akan dapat lebih memahami persyaratan pelaporan
keuangan yang mereka hadapi
6. Penetapan persyaratan akan lebih ekonomis kaerna masalah

diperdebatkan lagi dari sudut pandang yang berbeda

tidak perlu