Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM PEMETAAN

Bumi Perkemahan Bedengan

Disusun oleh:
Fian Fakhruddin
125090702111006

Asisten :
Hana Dwi Sussena
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

1 | Page

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada
waktunya.
Laporan Pemetaan Bumi Perkemahan Bedengan ini dibuat untuk
memenuhi tugas mata kuliah pemetaan tahun ajaran 2014/2015. Dalam
menyelesaikan laporan ini, penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
orang-orang yang telah membantu dan membimbing penulis selama ini, yaitu:
1. Allah SWT yang memberikan kami kesehatan serta kesempatan untuk
membuat karya tulis ini.
2. Orangtua kami yang sangat membantu pemberian motivasi serta nasehat yang
bermanfaat dalam proses penulisan yang cukup banyak menyita waktu kami.
3. Asisten praktikum pemetaan
4. Teman-teman kami yang telah memberi motivasi bagi penulisan laporan ini.
Penulis sadar bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima saran dan kritik yang
membangun. Selain itu penulis juga memohon maaf apabila di dalam laporan ini
terdapat banyak kesalahan.
Penulisan ini diharapkan dapat memberikan masukan informasi serta
wacana yang bermanfaat bagi semua kalangan.

Malang, 24 Mei 2015

2 | Page

Fian Fakhruddin

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .........................................................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................................................
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................................
DAFTAR TABEL................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1.......................................................................................................... Latar Belakang
6
1.2...................................................................................................... Rumusan Masalah
6
1.3.......................................................................................................................
6
BAB II LANDASAN TEORI................................................................................7
BAB III METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat Survey....................................................................................
3.2. Tata Laksana.........................................................................................................
BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Data Hasil Pengukuran.........................................................................................
4.2. Analisa Hasil.........................................................................................................
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan...........................................................................................................
5.2. Saran.....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................
LAMPIRAN.........................................................................................................22

3 | Page

DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Diagram Alir Akuisisi Data Pemetaan...............................................14
Gambar 3.2 Diagram Alir Processing Data Pemetaan..........................................14
Gambar 3.3 Diagram Alir Interpretasi Data Pemetaan..........................................15
Gambar 4.1 Peta Topografi kelompok 1-6 2D beserta Skalanya..........................17
Gambar 4.2 Peta Topografi kelompok 1-6 3D......................................................17
Gambar 4.3 Peta Topografi Kelompok 2 Di Lapangan 2D beserta Skalanya.......17
Gambar 4.4 Peta Topografi Kelompok 2 Di Lapangan 3D...................................18
Gambar 4.5 Peta Topografi 2D kelompok 1-6......................................................18
Gambar 4.6 Peta Topografi 2D kelompok 2..........................................................18
Gambar 4.7 Tampilan awal Map Source...............................................................22
Gambar 4.8 Hasil Plot data waypoint semua Kelompok......................................22
Gambar 4.9 Tahapan setelah data di pindahkan di MS Excel berupa koordinat
UTM.................................................................................................23
Gambar 4.10 Data koordinat UTM Di plot pada data sheet Surfer beserta
Elevasi.............................................................................................23
Gambar 4.11 Tampilan awal untuk menampilkan peta kontur daerah
pengukuran......................................................................................24
Gambar 4.12 Kotak Dialog Gridding Report pada Surfer.....................................24
Gambar 4.13 Peta Topografi 2D hasil pengukuran semua kelompok...................25
Gambar 4.14 Peta Topografi 3D hasil pengukuran semua kelompok...................25

4 | Page

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Contoh skala peta dan satuan geomorfologi.........................................12
Tabel 2.2 Hubungan antara skala peta dan pengenalan terhadap objek
geomorfologi.........................................................................................12
Tabel 4.1 Data Hasil Pengukuran Kelompok 2 Lapangan....................................16

5 | Page

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemetaan dapat didefinisikan sebagai proses pengukuran, perhitungan dan
penggambaran obyek obyek di permukaan bumi dengan menggunakan cara
dan atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa peta. Pemetaan
merupakan suatu kegiatan mengolah data-data nonspasial atau semi-spasial
menjadi sebuah data keruangan (peta), sehingga penangkapan informasi dari
sebuah objek wilayah dapat lebih mudah dipahami karena sifatnya yang lebih
efektif dan efisien. Pemetaan Sederhana adalah pembuatan peta dengan alat
yang sangat sederhana sekali misalnya dengan rol meter dan prisma kaca
sudut dengan peralatan yang sangat sederhana ini dapat dilakukan suatu
kombinasi pengukuran jaring-jaring sederhana dan pengukuran offset. Hal ini
akan lebih menguntungkan terutama untuk pengukuran area yang kecil dengan
skala besar.
Bumi Perkemahan Bedengan merupakan area perkemahan yang terletak di
desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah tahapan akuisisi yang dilakukan pada saat pengambilan
data ?
2. Software apa saja yang dapat digunakan untuk pemodelan peta topografi
2D dan 3D?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan tahapan akuisisi yang dilakukan pada saat pengambilan data
2. Mengetahui Software apa saja yang dapat digunakan untuk pemodelan
peta topografi 2D dan 3D

6 | Page

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Manusia memerlukan alat bantu dalam melakukan observasi atau pengamatan
untuk mempelajari berbagai fenomena yang berkaitan dengan kehidupanya.
Fenomena yang sangat kecil dapat diamati secara baik dengan alat bantu yang
berfungsi membesarkan, dalam hal ini misalnya mikroskop. Keadaan yang
sebaliknya adalah fenomena-fenomena geografikal yang amat luas, sehingga kita
perlu mengecilkan agar dapat kita cakup dalam batas pandangan kita.
Suatu cara yang mencakup kegiatan pada proses mampu mengecilkan
karakteristik keruangan dari muka bumi menjadi suatu bentuk yang mudah di
observasi adalah dengan menggambarkandalam bentuk peta.
Peta adalah gambaran/proyeksi dari sebagian permukaan bumi pada bidang
datar atau kertas dengan skala tertentu. (Russell C. Brinker, 1984). Dengan
kemajuan di bidang informasi dan teknologi elektronika, sangat mempengaruhi
dalam penyajian sumber informasi termasuk peta. Sehingga definisi peta adalah
sarana penyajian informasi spasial dari unsur-unsur dimuka bumi atau di bawah
muka bumi (Jakob Rais, dalam Sukirno, 1999).
Secara umum peta terdiri dari dua jenis jika dipandang dari maksud dan
tujuannya yaitu :
1. Peta Dasar adalah gambaran/proyeksi dari sebagian permukaan bumi pada
bidang datar atau kertas dengan skala tertentuyang dilengkapi dengan
informasi kenampakan alami atau buatan. Contoh peta dasar seperti : Peta
Situasi, Peta Topografi
2. Peta Tematik adalah gambaran dari sebagian permukaan bumi yang
dilengkapi dengan informasi tertentu baik di atas maupun di bawah
permukaan bumi yang mengandung tema tertentu. Contoh peta tematik
seperti: Peta Jenis Tanah, Peta Kesesuaian Lahan.
Penggambaran tersebut menggambarkan unsur-unsur atau kenampakan
abstrak yang dipilih dari sebagian permukaan bumi yang digambarkan pada suatu

7 | Page

bidang datar dan diperkecil/diskalakan. Tiga kata kunci dalam pemetaan yaitu:
Dipilih Bidang datar Diperkecil/diskalakan.
Klasifikasi peta secara umum dibedakan menjadi:
1. Peta Topografi
2. Charts
3. Peta Tematik
Peta topografi adalah peta yang menyajikan kenampakan fisik dan artifisial
(kultural dan hasil budaya manusia) di permukaan bumi. Contoh peta ini adalah
Peta Geografi, Peta Umum, Atlas dll. Charts merupakan peta-peta untuk
kepentingan navigasi seperti peta jalur penerbangan, peta arah angin peta jalan
darat dll. Peta Tematik yaitu peta yang mencerminkan hal-hal khusus.
Pada peta dasar, kita harus mampu mentransfer bentuk muka bumi yang
berdimensi tiga ke dalam kertas yang berdimensi dua tetapi tetap mempunyai
makna tiga dimensi. Caranya adalah dengan bantuan proyeksi orthogonal dan
dilengkapi dengan garis kontur.
Cara lain adalah dengan bantuan komputer yang telah dikembangkan dalam
sistem informasi geografis yaitu Model Medan Digital (DTM) atau yang disajikan
dengan tiga bentuk yaitu 1) Grid/lattice, 2) TIN (triangular Irregular Network) dan
3) Kontur. Grid/lattice mengunakan sebuah bidang segitiga, segiempat,
bujursangkar atau bentuk siku yang teratur grid. Perbedaan resolusi grid dapat
digunakan untuk menunjukkan koordinat ketinggian Z. TIN menggunakan
rangkaian segitiga yang tidak tumpang tindih dihitung dari titik ruang tak
beraturan dengan koordinat x,y,dan nilai Z yang menyajikan data ketinggian.
Kontur dibuat dari digitasi garis kontur yang disimpan dalam format Digitas Lines
Graph (DGL) membuat pasangan-pasangan koordinat x,y sepanjang tiap garis
kontur yang menunjukkan ketinggian tertentu.
Peta yang pada dasarnya mencerminkan hubungan keruangan dari fenomena
geografikal juga berfungsi sebagai media komunikasi antar pembuat peta dan
pengguna peta. Agar dapat dibaca oleh orang lain maka penyajian peta perlu
dilengkapi informasi-informasi lain yang sudah dijadikan stadart untuk unsurunsur peta.

8 | Page

Jenis-jenis Peta:
Menurut jenisnya peta dapat dibedakan menjadi :
Peta planimetrik; menyajikan gambar seperti sungai dan tipe habitat tetapi
tidak memperlihatkan relief areal.
Peta Topografi; menyajikan dataran dan bentuk lahan dalam bentuk yang
terukur. Peta ini yang paling umum digunakan dalam survey lapangan.
Photomap; reproduksi dari foto udara atau foto mosaic. Biasanya digunakan
untuk melihat suatu areal terbatas secara detail.
Foto Satelit; Menyajikan areal yang sangat luas untuk evaluasi sumberdaya
secara regional. Peta ini berguna untuk meng-evaluasi tipe-tipe habitat, pola
penggunaan lahan, monitoring gangguan terhadap habitat.
Menurut skalanya, peta dapat dibedakan menjadi :
Peta skala sangat besar (>1:10.000)
Peta skala besar (1:10.000 - < 1:100.000)
Peta skala sedang (1:100.000 - < 1:1.000.000)
Peta skala kecil (1 : 1.000.000)
Menurut isinya, peta dapat dapat dibedakan menjadi:
Peta hidrografi: memuat informasi tentang kedalaman dan keadaan dasar laut
serta informasi lainnya yang diperlukan untuk navigasi pelayaran.
Peta geologi: memuat informasi tentang keadaan geologis suatu daerah,
bahanbahan pembentuk tanah dll. Peta geologi umumnya juga menyajikan
unsur peta topografi.
Peta kadaster: memuat informasi tentang kepemilikan tanah beserta
batasbatasnya, dll.
Peta irigasi: memuat informasi tentang jaringan irigasi pada suatu wilayah.
Peta jalan: memuat informasi tentang jaringan jalan pada suatu wilayah.
Peta Kota: memuat informasi tentang jaringan transportasi, drainase, sarana
kota dll-nya.

9 | Page

Peta Relief: memuat informasi tentang bentuk permukaan tanah dan


kondisinya.
Peta Teknis: memuat informasi umum tentang keadaan permukaan bumi yang
mencakup kawasan tidak luas. Peta ini dibuat untuk pekerjaan perencanaan
teknis skala 1: 10 000 atau lebih besar.
Peta Topografi: memuat informasi umum tentang keadaan permukaan bumi
beserta informasi ketinggiannya menggunakan garis kontur. Peta topografi
juga disebut sebagai peta dasar.
Peta Geografi: memuat informasi tentang ikhtisar peta, dibuat berwarna
dengan skala lebih kecil dari 1: 100 000.
Peta berdasarkan penurunan dan penggunaan, terdiri dari:
Peta dasar, digunakan untuk membuat peta turunan dan perencanaan umum
maupun pengembangan suatu wilayah. Peta dasar umumnya menggunakan
peta topografi.
Peta tematik, dibuat atau diturunkan berdasarkan peta dasar dan memuat
tematema tertentu, seperti peta tata batas, peta perkembangan penunjukan
kawasan hutan, peta illegal logging, peta kebakaran hutan, peta perambahan,
peta tempat kejadian, peta sebaran satwa dan lain-lain.
Pemetaan Sederhana adalah pembuatan peta dengan alat yang sangat
sederhana sekali misalnya dengan rol meter dan prisma kaca sudut,dengan
peralatan yang sangat sederhana ini dapat dilakukan suatu kombinasi pengukuran
jaring-jaring sederhana dan pengukuran offset.Hal ini akan lebih menguntungkan
terutama untuk pengukuran area yang kecil dengan skala besar.
Membuat peta dengan cara sederhana harus didahului dengan pengukuran jarak
dan arah.

1. Pengukuran Jarak
Pengukuran jarak dilakukan dengan menggunakan meteran, tongkat, kayu,
dan alat lain yang bisa memenuhi kebutuhan pengukuran jarak sebagai

10 | P a g e

titik tolak pengukuran. Data tersebut kemudian digambarkan dalam peta


dengan menggunakan skala.

2. Pengukuran Arah
Pengukuran arah dilakukan dengan menggunakan kompas. Pengukuran
arah dengan kompas dimulai dari utara kompas sebagai 0 dan dihitung
searah jarum jam sampai 360. Besarnya arah dari 0 ini disebut azimuth
atau magnetik azimuth.

GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggunakan


satelit yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini dapat
digunakan oleh banyak orang sekaligus dalam segala cuaca, serta didesain untuk
memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi yang teliti dan juga informasi
mengenai waktu secara kontinyu di seluruh dunia.
Perangkat GPS ada bermacam-macam dan umumnya tergantung dari
tujuan dan aktivitas yang akan dilakukan. GPS untuk udara (AVIATION GPS)
akan berbeda arsitekturnya dengan yang akan digunakan untuk navigasi di
darat/mobil. Secara umum perangkat GPS dibagi menjadi beberapa fungsi yaitu
navigasi

udara (AVIATION), laut

(MARINE), darat (LAND), tracking

dan SURVEY EQUIPMENT SUPPLIES.


GPS memiliki dua tingkat ketelitian, yaitu:
1.

Sistem posisi standar / SPS (STANDARD POSITIONING SYSTEM).


SPS merupakan yang disediakan untuk umum (general). Tingkat akurasi
yang dihasilkan oleh SPS ini adalah 100 m untuk posisi horisontal dan
untuk posisi vertical mencapai 150 meter.

2.

Sistem Posisi Presisi / PPS (PRECISION POSITIONING SYSTEM )

11 | P a g e

PPS hanya digunakan oleh Departemen Pertahanan AS dan tidak disediakan


untuk umum.
Dalam interpretasi geologi dari peta topografi, maka penggunaan skala
yang digunakan akan sangat membantu. Di Indonesia, peta topografi yang tersedia
umumnya mempunyai skala 1:25.000 atau 1: 50.000 (atau lebih kecil). Acapkali
skala yang lebih besar, seperti skala 1: 25.000 atau 1:12.500 umumnya merupakan
pembesaran dari skala 1: 50.000. Dengan demikian, relief bumi yang seharusnya
muncul pada skala 1: 25.000 atau lebih besar, akan tidak muncul, dan sama saja
dengan peta skala 1: 50.000. Dengan demikian, sasaran / objek interpretasi akan
berlainan dari setiap skala peta yang digunakan. Perhatikan Tabel 5-3 dibawah.
Walaupun demikian, interpretasi pada peta topografi tetap ditujukan untuk
menginterpretasikan batuan, struktur dan proses yang mungkin terjadi pada daerah
di peta tersebut, baik analisa secara kualitatif, maupun secara kuantitatif. Dalam
interpretasi peta topografi, prosedur umum yang biasa dilakukan dan cukup
efektif adalah: 1). Menarik semua kontur yang menunjukkan adanya lineament
/kelurusan; 2). Mempertegas (biasanya dengan cara mewarnai) sungai-sungai
yang mengalir pada peta, 3). Mengelompokan pola kerapatan kontur yang sejenis.

Tabel 2.1 Contoh skala peta dan satuan geomorfologi

12 | P a g e

Tabel 2.2 Hubungan antara skala peta dan pengenalan


terhadap objek geomorfologi.

Interpretasi batuan dari peta topografi, hal terpenting yang perlu diamati
adalah pola kontur dan aliran sungai.
a. Pola kontur rapat menunjukan batuan keras, dan pola kontur jarang menunjukan
batuan lunak atau lepas.
b. Pola kontur yang menutup (melingkar) diantara pola kontur lainnya,
menunjukan lebih keras dari batuan sekitarnya.
c. Aliran sungai yang membelok tiba-tiba dapat diakibatkan oleh adanya batuan
keras.
d. Kerapatan sungai yang besar, menunjukan bahwa sungai-sungai itu berada pada
batuan yang lebih mudah tererosi (lunak). (kerapatan sungai adalah perbandingan
antara total panjang sungai-sungai yang berada pada cekungan pengaliran
terhadap luas cekungan pengaliran sungai-sungai itu sendiri).

13 | P a g e

BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum pemetaan kali ini dilakukan pada tanggal 09 Mei 2015,
berkumpul di HMJ Fisika UB pada pukul 05.00 WIB dan berangkat pukul
05.30 WIB. Dari kampus Universitas Brawijaya menuju desa Selorejo,
Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lebih tepatnya di Bumi
Perkemahan Bedengan. Praktikum dimulai pukul 08.00 sampai 09.14 WIB.
3.2 Tata Laksana

14 | P a g e

Gambar 3.1 Diagram Alir Akuisisi Data Pemetaan

Hal pertama yang perlu dilakukan pada saat melakukan akuisisi data ialah
membuat desain survey serta mempersiapkan peralatan yang di butuhkan pada
saat di lapangan guna mempermudah praktikan untuk mengambil data.
Selanjutnya dilakukan pengambilan data dengan mencatat nilai koordinat serta
elevasi menurut GPS dengan patokan pengambilan data kurang lebih 20 m.
START

PENGOLAHAN
DATA

MAP
SOURCE
MS. EXCEL
SURFER
HASIL

CONVERT
HASIL
AKHIR
MS.COLUMN
WAYPOINT
DI TO
PLOT
EXCEL
DI PLOT
DALAM
UTMKE
PADA
MAPSOURCE,
WORKSHEET
SURFER
KEMUDIAN
DISALIN
BUAT
GRID
DATA
PETA
TOPOGRAFI

2D DAN

15 | P a g e

Gambar 3.2 Diagram Alir Processing Data Pemetaan

Setelah dilakukan akuisisi dilapangan, kemudian dilakukan pengolahan


data hasil pembacaan pada software Mapsource, MS Excel, dan Surfer untuk
mendapatkan pemodelan peta topografi 2D/3D daerah Bumi Perkemahan
Bedengan. Sehingga didapatkan data penampang permukaan berdasarkan
ketinggian di tiap-tiap lokasi yang dilakukan pengambilan data menggunakan
koordinat GPS. Selain itu, perlu juga digunakan kompas untuk menentukan arah
utara sehingga dapat mempermudah ketika melakukan interpretasi. Arah utara
dapat diketahui berdasarkan koordinat lintang dan bujur dari lokasi pengukuran.

INTERPRETASI
DATA

PEMODELAN PETA
TOPOGRAFI
2D DAN 3D

IDENTIFIKASI STRUKTUR
16 | P a g e
GEOLOGI SERTA KETINGGIAN
DI LOKASI PENGUKURAN
HASIL

Gambar 3.3 Diagram Alir Interpretasi Data Pemetaan


Setelah dilakukan pengolahan data dengan menghasilkan peta topografi
2D/3D maka dapat di identifikasi pada lokasi tersebut terdapat struktur geologi
apa saja yang dapat terlihat berdasarkan garis-garis kontur dengan ketinggian
yang berbeda. Perlu diperhatikan pada saat melakukan interpretasi syarat-syarat
dari peta kontur itu sendiri apakah terdapat pola yang cukup berbeda dari kontur
yang berada di sebelahnya sehingga dapat memberikan informasi berupa kondisi
geologi sebenarnya dari lokasi tersebut.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Pengukuran
Data hasil pengukuran yang dimasukan ke Ms. Excel

17 | P a g e

Tabel 4.1 Data Hasil Pengukuran kelompok 2 Lapangan


1130

9122400

1120
1110
1100
1090

9122300

1080
1070
1060

9122200

1050
1040
1030

9122100

1020
1010
1000
990

9122000
668100

668200

668300

668400

668500

668600

668700

668800

980
970

Gambar 4.2 Peta Topografi kelompok 1-6 2D beserta Skalanya

18 | P a g e

Gambar 4.3 Peta Topografi kelompok 1-6 3D


1100
1095
1090
1085
1080
1075
1070
1065
1060
1055
1050
1045
1040
1035
1030
1025
1020
1015
1010
1005

9122250
9122200
9122150
668200

668300

668400

668500

668600

668700

668800

Gambar 4.4 Peta Topografi Kelompok 2 Di Lapangan 2D beserta Skalanya

Gambar 4.5 Peta Topografi Kelompok 2 Di Lapangan 3D


4.2 Analisa Hasil

19 | P a g e

1130

9122400

1120
1110
1100
1090

9122300

1080
1070
1060

9122200

1050
1040
1030

9122100

1020
1010
1000
990

9122000
668100

668200

668300

668400

668500

668600

668700

668800

980
970

Gambar 4.6 Peta Topografi 2D kelompok 1-6

9122250
9122200
9122150
668200

668300

668400

668500

668600

668700

668800

1100
1095
1090
1085
1080
1075
1070
1065
1060
1055
1050
1045
1040
1035
1030
1025
1020
1015
1010
1005

Gambar 4.7 Peta Topografi 2D kelompok 2


Berdasarkan penampang peta kontur topografi ini dapat diketahui bahwa
garis kontur yang rapat menunjukkan bahwa daerah itu merupakan daerah yang
curam. Ditunjukan adanya patahan. Tampilan peta kontur topografi dapat dilihat
sedemikian rupa dimana dilakukan processing dari data yang didapat pada waktu
praktikum dengan menggunakan software surfer sehingga didapatkan penampang
topografi ini. Selain gambar waypoit dari Mapsource serta gambar kontur dari
surfer juga didapatkan hasil koordinat UTM hasil konversi dari koordinat lintang
selatan dan bujur timur. Dari data yang dihasilkan dari mapsource kemudian
diproses di surfer maka nampak menghasilkan peta kontur 2 dimensi dan
permodelan 3 dimensi dari area Bumi Perkemahan Bedengan.

20 | P a g e

Kontur 2D dengan menggunakan data elevasi dari GPS didapatkan bahwa


daerah tertinggi di antara daerah yang ditracking adalah berada pada ketinggian
1100 m di atas permukaan laut, sedangkan daerah terendahnya berada pada
ketinggian 970 m di atas permukaan laut. Pada kontur 2D pada surfer menjelaskan
pada garis kontur yang renggang, hal demikian ini menunjukan kondisi
permukaan yang landai. Garis kontur pada peta ini cukup rapat namun merata.
Sehingga lokasi Bumi Perkemahan Bedengan dapat disimpulkan bahwa
merupakan daerah yang miring seperti berada di lereng gunung.
Dalam interpretasi struktur geologi dari peta topografi, hal terpenting adalah
pengamatan terhadap pola kontur yang menunjukkan adanya kelurusan atau
pembelokan secara tiba-tiba, baik pada pola bukit maupun arah aliran sungai,
bentuk-bentuk topografi yang khas, serta pola aliran sungai. Berdasarkan dari area
pengukuran, dapat dilihatbahwa daerah tersebut di dominasi oleh perbukitan
dengan adanya persawahan yang di buat oleh warga sekitar dengan membuat
sungai irigasi.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari praktikum lapang yang telah dilakukan maka dapat
diketahui bentuk permukaan suatu daerah dengan menggunakan GPS, dimana
dengan mengumpulkan setiap data koordinat dan elevasi dalam setiap titik pada
suatu lintasan tertentu. Juga untuk mengetahui cara memetakan sederhana suatu
daerah, dimana pada praktikum ini ialah Bumi Perkemahan Bedengan. Dari data
yang didapatkan dapat diolah dengan menggunakan software Mapsource, Surfer,

21 | P a g e

Google Earth. Kemudian didapatkan data surfer berupa bentuk peta kontur secara
2D maupun 3D. Dengan google earth dapat diketahui letak posisi track yang
sudah dilakukan dalam praktikum. Dari data hasil procesing software dapat
diketahui bahwa daerah Bedengan struktur permukaannya berbentuk bukit yang
memiliki turunan dan tanjakan serta terdapat permukaan yang landai dan juga
terdapat jalanan yang cukup curam ataupun terjal serta lahannya juga
dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk bercocok tanam yang mengindikasikan
bahwa di daerah tersebut termasuk lokasi dengan tanah yang subur.
5.2 Saran
Sebaikanya ketika sebelum melakukan praktikum terlebih dahulu di cek
peralatan apa saja yang akan di gunakan sehingga dapat mengefisienkan waktu
pada saat pengambilan data.

DAFTAR PUSTAKA
Antoni. 1999. Pekerjaan Dasar Survei. Yogyakarta: Kosinus.
Azhar. 2004. Penentuan Posisi Dengan GPS Dan Aplikasinya. Jakarta:
Noor, Djauhari. 2008. Pengantar Geologi. Bandung: Pakuan University Press.
Prahasta, Eddy. 2002. Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis Informatika.
Bandung: Yudistira.
Prihandito, A . 1998. Kartografi. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
Syafii, Imam. 2005 . Manual Garmin GPS . Jakarta : Yudistira.

22 | P a g e

LAMPIRAN

23 | P a g e

Gambar 4.8 Tampilan awal Map Source

Gambar 4.9 Hasil Plot data waypoint semua Kelompok

24 | P a g e

Gambar 4.10 Tahapan setelah data di pindahkan di MS Excel berupa koordinat


UTM

Gambar 4.11 Data koordinat UTM Di plot pada data sheet Surfer beserta Elevasi

25 | P a g e

Gambar 4.12 Tampilan awal untuk menampilkan peta kontur daerah pengukuran

Gambar 4.13 Kotak Dialog Gridding Report pada Surfer

26 | P a g e

Gambar 4.14 Peta Topografi 2D hasil pengukuran semua kelompok

Gambar 4.15 Peta Topografi 3D Hasil pengukuran semua kelompok

27 | P a g e