Anda di halaman 1dari 92

..

W#
t.

..

-*#M
'.Ettr;L,i_

AKAAN
,AN

TIMUR

@*nAHATLMU

IRTATA-LPFM

TEKNIK
Drainase
Bawah Permukaan
Dedi Kusnadi Kalsim

TEKNIK DMINASE BAWAH

Oleh :

DediKusnadi Kalsim

Edisi Pertama

I{AIA PENGANTAR

Cetakan Pertama,20l0
Hak Cipta 2010 pada penulis,
Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak
atau memindahkan
sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, secara
elektronis maupun
mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekam"n
l"innyu,
tanpa izin tertulis dari penerbit.
@

Diterbitkan atas kerjasama:

GRAHA ILMU
Candi Cebang Permai Blok R/6
Yogyakarta 5551

Telp.
Fax.
E-mail

:02744462135;0274-882262
:O2744462136
: info@grahailmu.co.id

dan slope pada drainase bawah-permukaan.

dan

Buku ini merupakan saduran dari buku Dieleman P.J.; N.A. de


Ridder. Elementary Croundwater Hydraulics. di dalam Drainage
Principles and Applications, vol l. lntroductory Subjects. lLRl, 1974.

[REAIA-LPP}I
Cedung FATETA Lt. 2 Kampus lpB
Jl. Raya Darmaga Bogor 16002
Telp. : Q251-621886
Fax. : 0251-621887
e-mail : creata@ipb.ac.id

The Netherlands dan Cavelaars J.C. Subsurface Drainage Systems. di


dalam Drainage Principles and Applications, vol lV. Design and
Management of Drainage Systems. lLRl, 1974. The Netherlands

Kalsj-m, Dedi Kusnadi


TEKNfK DRAINASE BAWAH pERMUKAAN,/Dedi Kusnadi
Kalsim
- Edisi Pertama - yogyakarta; Graha Ilmu, 2010

xviii

+ 168, 1 Jil.

: 23

cm.

ISBN: 9'18-919-756-570-1
1. Tekni.k
'

.,,4_, _...,

uku ini ditulis sebagai salah satu referensi pembaca untuk


mampu merancang perhitungan spasing, diameter pipa

I. Judul

Disadari bahwa drainase bawah-permukaan dengan sistem


pipa sekarang ini belum banyak diterapkan di lahan pertanian di
lndonesia, kecuali untuk lapangan golf dan lapangan olah raga
lainnya. Sistem drainase bawah-permukaan dengan saluran terbuka
umumnya digunakan di lahan pertanian di lndonesia, akan tetapi di
masa depan seiring dengan meningkatnya kemakmuran dan penggunaan mesin-mesin pertanian menuntut aplikasi sistem drainase
bawah-perm ukaan berpi pa.

Saya ingat tulisan Dr. Ruslan Abdulgani (alm)


Nopember 2004 sebagai berikut:

di harian Kompas

Daun-daun yang jatuh di musim


,uru, akan menjadi pupuk
penyubur bunga di musim semi. orang tua jangan
dirupakan, ia
adalah pupuk bagi generasi berikutnya. ladikan anak-anakmu
beriiwa semerah matahari terbit. ra harus berani menghadapi
tantangan hidup karena hidup ini adalah perjuangan. Ada
pasang ada surut, iangan takut pada kesulitan. Matahari
yang

DAFIAR GAMBAR

tenggelam juga tak kalah indah merahnya dari matahari terbit.


Marilah generasi muda sebagai matahari terbit dan generasi tua
sebagai matahari terbenam, membuat negeri ini menjadi indah

dengan berlomba berbuat kebaikan kepada sesama, tanpa


membeda-bedakan, karena kita semua ciptaan Nya.
Penulis berharap, semoga buku sederhana
penyubur bunga di negeri ini.

ini menjadi salah satu

Cambar '1.1.
Cambar 1.2.

Segi+iga sama sisi pembangunan berkelanjutan 4


Diagram pengaruh drainase pada pertanian dan

sosial-ekonom
Metoda A
evaluasi

Komentar dari pembaca diharapkan untuk tak segan menghubungi penulis melalui email adress: dedkus@telkom.net. Ucapan
terima kasih disampaikan kepada saudari Listie, sekertaris di proyek

Cambar 1.3.
Cambar 1.4.

Dedi Kusnadi Kalsim


dedkus@telkom.net

Hubungan C (Departemen Peftanian lnggris,


berdasarkan pengamatan pada tanah liat Drayton
selama 5 tahun)

Cambar 1.6.
Cambar 1.7.

Hubungan C dipecah Menjadi D dan E


Faktor-faktor dalam hubungan D dan E pada

Cambar 1.8.
Cambar 2.1.
Cambar 2.2.
Cambar 3.1.

Teknik Drainase Bowoh permukoan

B
B

Cambar 1.6
9
Toleransi tanaman terhadap salinitas
17
Aliran steady pada aquifer tak tertekan
21
Pendekatan aliran horizontal suatu elemen fluida
dalam ruang
23
Aliran air pada saluran drainase yang menembus
aquifer tak tertekan

v,

Cambar 1.5.

lrigasi cidurian yang telah membantu pengetikan naskah.


Kampus lpB Darmaga, Nopember 2008
Bag. Teknik Tanah dan Air, Dep. Teknik pertanian, lpB

Pemecahan hubungan A menjadi B dan

27

Cambar 3.2.

Gambar 5.8.

Konsep kedalaman ekivalen (equivalent depth)

untuk mentransformasikan kondisi al iran


horizontal dan radial ke suatu aliran horizontal

ekivalen

29

Cambar 3.3.

Nomograf untuk menentukan kedalaman


ekivalen (d) menurut van Beers

35

Gambar 3.4.

Nomograf untuk penentuan spasing drainase

jika Uh >
Cambar 3.5.
Cambar 3.6.
Cambar 3.7.

Cambar 3.9.

Ceometri persamaan Ernst


Nomograf untuk menentukan faktor geometri
"a" sebagai tahanan radial pada persamaan Ernst

1965)

Nomograf untuk menentukan spasing drainase


pada persamaan Ernst, jika D0 < 1/4 L

Cambar 4.1.
Cambar 5.1.

Clover-Dumm dengan water table awal horizontal


Beberapa penyusunan sistem drainase pipa dan
saluran

Gambar 5.3.
Cambar 5.4.
Cambar 5.5.
Cambar 5.6.
Cambar 5.7.

Ytn

Cambar 5.12.

terbuka

60

Outlet dari pipa lateral ke saluran kolektor


(sistem drainase pipa singular)
Penampang parit sebagai kolektor
Penandaan alignment pada saluran terbuka
Drainase mole: retakan yang terbentuk dan
traktor penarik mole
Cabungan mole dengan pipa drainase
Mole plough

62
63
65
68

68
Og

Teknik Drainose Bawah permukaan

B.l

Diagram untuk menentukan kapasitas pipa


bergelombang, dewatering, aliran penuh

Manning:

Cambar 5.14.

5l

BO

Potensiometrik yang terbentuk akibat dari tekanan


lebihpada pipa drainase horizontal
B0
Diagram untuk menentukan kapasitas pipa halus,

dariWesseling
Gambar 5.13.

49

79

Kehilangan energi (z) pada aliran penuh pipa


drainase sebagai fungsi dari jarak (x) dan kurva
potensiometrik yang dihasilkan

75

dewatering, atiran penuh berdasarkan persaman

37
42

47

Nomograf untuk menghitung nilai C pada


persamaan /2.26/, untuk berbagai nilai u
Kondisi pembatas untuk persamaan

Cambar 5.2.

Cambar 5.1'1.
36

Nomograf untuk penentuan spasing drainase


jika Uh < 100 (Boumans, 1963)

(van Beers,

Gambar 3.8.

100

Gambar 5.9.
Gambar 5.10.

Hubungan antara faktor tahanan (l) dengan


bilangan Reynold (Re)
Diagram untuk penentuan kapasitas pipa

berdasarkan persaman dari


Cradien hidrolik pada aliran penuh, pipa

g2

horizontaluntuk aliran seragam dan tak-seragam g3


Cambar 5.15. Kemiringan pipa drainase yang berbeda dalam
hubungannya dengan gradient hidraulik
83
Cambar 5.16. Kehilangan energi (head loss) pada pipa drainase
dengan beberapa diameter
8B
Cambar 5.17. Pola sistim pipa drainase komposit teratur
89
Cambar 5.18. Sistim drainase pipa random (acak)
89
Gambar 6.1.
Berbagai bentuk pipa drainase plastik
95
Cambar 6.2.
Penutup ujung (end caps)
96
Gambar 6.3.
Penyambung pipa (couplers)
97
Gambar 6.4.
Pengecil pipa (drainpipe reducer)
97
Gambar 6.5.
Berbagai bentuk pipe fittings pipa drainase
9B
Cambar 6.6.
Jembatan pipa drainase (drain bridge)
99
Camhar 6.7.
Pipa kaku melintang jalan
99
Cambar 6.8.
Blind inlet
r00
Cambar 6.9.
lnlet permukaan dengan perangkap sedimen
100

Daftar Gombor

tx

Carnbar 6. 10.
Gambar 6.1 1.

Boks penyambung

101

Ruang kontrol (manhales)

102

Outlet gravitasi
Drainage pump sump
Cradient reducers
Pipa akses untuk pencucian lateral pada sistim
komposit

113

Gambar 11.1.

114

Cambar 11.2.

105

Gambar 11.3.

105

Cambar 11.4.

system)

106

Cambar L'|.5.

Cambar 6.17.
Cambar 6.18.

Penutup kerikil pada pipa drainase


Pipa drainase plastik berselimut bahan filter
(p r e-w r ap ped en ve/ope)

108

Cambar 7.1.
Gambar 7.2.

Penandaan "alignments" dan penyipat datar


Beberapa peralatan yang digunakan untuk

112

pemasangan pipa drainase secara manual


Penggalian suatu trench secara manual

113

Cambar 6.12.
Cambar 6.13.
Gambar 6.14.
Cambar 6.15.
Gambar 6.16.

Cambar 7.3.
Cambar 7.4.

Sistim drainase terkendali

(controlled drainage

109

114

Mesin penggali kontinyu dan prinsip


pengaturan kedalaman

116

Cambar 7.5.

Back-acti ng trench excavator

117

Cambar 7.6.
Gambar 7.7.
Cambar 8.1.

lnstalasi pipa drainase tanpa galian


Foto Pemasangan pipa drainase

117

Cambar 8.2.
Cambar 8.3.

Cambar 8.4.
Cambar 8.5.

Cambar 8.6.

Gambar 11.6.
Cambar 11.7.

Cerusan dan sedimentasi pada bangunan terjun


setelah debit

tinggi
Permeameter
Metode Auger Hole

126

B2
B4

Nomograf untuk penentuan faktor C dengan metoda


Auger Hole untuk S t 112 H (Ernst, 1950).
136
Nomograf untuk penentuan faktor C dengan metoda
Auger Hole untuk S : 0 (Ernst, 1950)
137
Contoh pengukuran dan perhitungan dengan metoda
Auger Hole
137
Metode auger hole untuk dua lapisan tanah 139
Perangkat alat untuk pengukuran hantaran hidrolik
metode Auger Hole
142

Cambar 11.8.
Cambar 11.9.

Metode Piezometer
145
Nomograf untuk penentuan faktor C pada metoda
Piezometer (Smiles and Youngs, 1965)
146
Cambar 11.10. Metode auger terbalik (inversed auger hole)
147

go)Sc

118

Peta menggambarkan as built data untuk

operasional dan pemeliharaan


Outlet pipa drainase menegeluarkan

124

air

setelah

hujan terjadi
't24
Uji peformansi pipa kolektor dengan
membandingkan muka air di manhole. A kondisi
normal. B ada masalah antara manhole 1 dan 2 125
Pemeliharaan saluran pada awal musim hujan 125
Mesin penggelontor digunakan untuk
membersihkan pipa
126

Teknik Droinase Bawah permukaan

Doftar Gambar

xt

DAFTAR TABEL

Tabel t.+.

Contoh peubah keteknikan dalam drainase


6
Rata-rata kedalaman perakaran tanaman pada
kondisi lengas tanah optimum (van de Coor, 1972) 1l
Produksi berbagai tanaman pada berbagai
kedalaman airtanah (van Hoorn, 1g5g)
ll
Produksi jagung (kg/ha) dalam kaitannya dengan
14

Tabel 1.5.

kondisi drainase dan pemupukan Nitrogen


(Sumber: Shalhevet dan Zwerm an,
Toleransi Salinitas Tanah dan pH pada Berbagai
Jenis Tanaman

15

Tentatif kedalaman air-tanah optimum


Nilai kedalaman ekivalen (d) menurut Hooghoudt
(ro : 0.1 m, D dan L dalam m)

17

Tabel t.1.
Tabel t.2.
Tabel 1.3.

1962)

Tabel 1.6.
Tabel 3.1.
Tabel 5.1.

Ringkasan persamaan aliran berlaku untuk

Tabel 5.2.

aliran penuh dalam pipa


Proporsi kapasitas untuk berbagai diameter pipa
(berdasarkan persamaan 4.5b.)

33
77

86
Data spesifik pipa halus dan
108
Tabel 11.1. Nilai kisaran hantaran hdrolik berbagai tekstur tanah 142

bergelombang

Tabel 6.1.

coaSro

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR CAMBAR

vii
xilt

DAFTAR TABEL
DAFTAR ISI

BAB

xv

PENDAHULUAN

1.1 Pembangunan Berkelanjutan


1.2 Analisis Pengaruh Drainase Terhadap

Pertanian

'1.3 Drainase, Fisika Tanah dan Pertumbuhan Tanaman


BAB

HIDROLIKA AIR TANAH

4
9
21

2.1 Asumsi Dupuit-Forcheimer

21

2.2

24

BAB

Aliran Tidak Steady


PERSAMAAN DRAINASE KONDISI ALIRAN

3.1 Aliran steady pada Saluran

STEADY

27

Paralel dengan

Tanah
3.2 Prinsip Persamaan Hooghoudt
3.3 Aplikasi Persamaan Hooghoudt
3.4 Prinsip persamaan Ernst
3.5 Aplikasi Persaamaan Ernst
3.6 Nomograf yang Berlaku Umum
Recharge seragam pada Permukaan

27
30
34
39

44
48

BAB

4.1
4.2
BAB

PERSAMAAN DRAINASE TIDAK STEADY


prinsip persamaan
Clover_Dumm

54

Aplikasi persamaan Glover_Dumrn

57

DRAINASE BAWAH PERMUKAAN

59

5.1 Drainase Lapangan


5.2 Drainase parit
5.3 Drainase Mole
5.4 Rancangan Drainase
BAB

53

59
61

66
Fipa

7CI

EAHAN MATERIAT [}AN BANGUNAN PADA


DRAINASE PIPA

93,

6"1 Pipa Drainase


6.2 Bahan penutup (cover materials)
BAB

KONSTRUKSI SISTEM DRAINASE PIPA

7.1 Metoda
7.2 Penandaan Lokasi pipa
7.3 Pemasangan dengan Tenaga Manusia
7.4 A4esin Cali (excavating machine)
7.5 Trenchless pipe Drainage (TpD)
7.6 Supervisi dan lnspeksii
BAB

8.1
8.2

111

(c) Drainase lapangan terbang, dan (d) Drainase lapangan


olah-raga. Berdasarkan sifatnya diklasifikasikan dalam: (a) Drainase

111

alami (natural drainage) dan (b) Drainase buatan (man-made drai-

't11

112
113
1

'!5

118

"t22

123

Sl N C

perkotaan,

nage). Berdasarkan sasaran pengendaliannya, drainase dapat dibedakan dalam (a) drainase permukaan $urtace drainage) dan (b) drainase

bawah-permukaan (sub-surface drainage). Drainase permukaan


menitik beratkan pada pengendalian genangan air di atas permukaan
tanah, sedangkan drainase bawah-permukaan pada kedalaman
airtanah di bawah permukaan tanah. Pada buku ini akan dibahas
drainase bawah-permukaan lahan pertanian, terutama dalam bentuk
drainase buatan dengan sebanyak mungkin memanfaatkan drainase
alamiah yang ada.

127

KAT CREATA-Lppit/t

TENTANG PENUTIS

cssro
xvt

(a) Drainase lahan pertanian, (b) Drainase

121

Pemeliharaan

erdasarkan peruntukannya drainase dapat dibagi menjadi:

107

Pemantauan

IAMPIRAN I: Ff,NGUKUftAN |-tANTARAN HTDROUK


IAMPIRAN 2: I.ATIHAN $OAt

93

OPERASIONAI" DAN PEMETI!-IARAAN

DATTAR PUSTAKA

PR0FI

PENDAHI,JLUAN

129
149
161
16s

Teknik Drainose Bawah permukaan

Drainase lahan pertanian didefinisikan sebagai pembuatan dan


pengoperasian suatu sistem dimana aliran air dalam tanah diciptakan

sedemikian rupa sehingga baik genangan maupun kedalaman


airtanah dapat dikendalikan sehingga bermanfaat bagi kegiatan usaha
tani. Definisi lainnya: drainase lahan pertanian adalah suatu usaha
membuang "kelebihan air" secara alamiah atau buatan dari permuka-

an tanah atau dari dalam tanah untuk menghindari pengaruh yang


merugikan terhadap pertumbuhan tanaman. pada lahan bergelombang drainase lebih berkaitan dengan pengendalian erosi, sedangkan
pada lahan rendah (datar) lebih berkaitan dengan pengendalian

Secara kronologis sejarah penggunaan darinase-bawah permukaan


berpipa di dunia dinyatakan sebagai berikutt:

Tahun 1835, instalasi pertama drainase pipa tanah di Amerika


Serikat

banjir (flood control).

Tahun 1840, penemuan mesin tile extruder di tnggris


Tahun 1862, pabrikasi pertama pipa drainase terbuat dari pasirsemen di di Amerika Serikat
Tahun 1880, penggunaan mesin trenching

Drainase lahan pertanian merupakan hal yang penting ke arah


pengembangan pertanian berkelanjutan, terutama kondisi iklim

lndonesia yang dicirikan oleh adanya musim hujan dan musim


kemarau. Pengelolaan air merupakan kunci utama keberhasiran pengembangan pertanian berkelanjutan, baik di lahan gambut maupun
tanah mineral. Kejadian kebakaran hutan yang selalu terjadi pada
musim kemarau dan banjir pada musim hujan adalah suatu indikasi
ketidak-mampuan kita dalam mengelola air. lsu kerusakan ringkungan akibat pembukaan lahan gambut untuk pertanian telah merupakan
isu internasional yang harus dicarikan solusinya. Konsep Drainase
Terkendali perlu diterapkan dalam pengembangan lahan dan air.
Konsep drainase pada awalnya adalah bagaimana membuang kelebihan air secepat mungkin ke outlet sungai, telah mulai berubah
menjadi bagaimana mempertahankan elevasi muka air setinggi
mungkin tapi optimum untuk keperluan tanaman.

Tahun 1948, pengenalan pertama pipa halus pE


Serikat

Tahun 1959, penggunaan pertama pipa halus, kaku pVC di


Belanda

Tahun 1963, pengenalan pertama pipa pVC fteksibel di .ferman


Tahun 1965, Pemasangan pertama pipa ftesibel pE
bergelomba ng korrugated) di Amerika Serikat
Tahun 1969, pengembangan bajak drainase (drain ploughs)

Tahun 1974, p)ertama kali dikeluarkan standar pipa

Tahun 1981, rancangan awal standar pipa

bersetimut

(prewrapped envelope) di Belanda

Tahun 1985, rancangan pertama standar tSO untuk pipa pVC


bergelombang yakni tSO/DtS 8771.
Tahun 1994, Pengenalan rancangan standar EN pipa pVC
bergelombang, yakni CEN/TCI 55AA/C 1 B.

1.'

Pcmbangunan BcrkelanJutan

Pada proses pembangunan di negara berkembang seperti


lndonesia dikenal istilah pembangunan berkelanjutan (sustainable

Teknik Drainase Bawah Permukoan

pE

bergelombang, yakni ASTM F405

Disadari bahwa drainase bawah-permukaan dengan sistem


pipa sekarang ini belum banyak diterapkan di lahan pertanian di
lndonesia, kecuali untuk lapangan golf dan lapangan olah raga
lainnya. sistem drainase bawah-permukaan dengan saluran terbuka
umumnya digunakan di lahan pertanian di lndonesia, akan tetapi di
masa depan seiring dengan meningkatnya kemakmuran dan
penggunaan mesin-mesin pertanian menuntut aplikasi sistem drainase bawah-permukaan berpipa.

di Amerika

Sumber: Schwab dan Fouss, 1999. dalam Stuyt,l_.C.p.M,


Subsurface Land Drainage Systems. FAO, Rome- ltaly

Pendohuluan

et al, 2fr)5. Materials for

tlt'vt'ltryttrtt',rr) y.r)g pada prinsipnya dapat digambarkan


dengan segilig,r s(rrr)(r sisi antara pembangunan/pertumbuhan (development),

Hubuoealr

lingkungan (stabilitas), dan sosial-budaya (pemerataan) seperti pada


cambar 1.1. Ketiga sisi tersebut harus dikembangkan secara berimbang sehingga akan tercipta pembangunan berkelanjutan.

BIAYA XERUGIA'{

Etffil

Hlbu.til fhll
H{blnge 86lrlPolltlt

RE&AMASI
KO|{SeR!/ASl
MEiIAIX(AN HASIL
OPERASI
T'AII PEITEU$ARAAI{

EKONOMI*

8t3TEt

Pertumbuhan

DRltxas

lAI{AIIAN
OIVRSIFR(ASI
TA,'IAMAX

ME['UOAI{(AN
OPERASI I'ESIT
DTNALAT PCRTANIAN

8l*LH;

Gambar 1.2.

LTNGKUNGAN-

Gambar 1.1- Segi-tiga sama sisi pembangunan berkelanjutan

Pengaruh tak-langsung dari pembuangan air

a.

1.2 Analisis pengaruh Drainasc Tcrhadap pcrtanlan


Tujuan drainase pertanian adalah reklamasi (pembukaan) lahan
dan pengelolaann tanah untuk pertanian, menaikkan produktivitas
tanaman dan produktivitas lahan (menaikkan intensitas tanam
dan
memungkinkan diversifikasi tanaman) sefta mengurangi ongkos pro_
duksi. Tujuan tersebut di atas dicapai merarui dua macam pengaruh
langsung dan sejumlah besar pengaruh tidak langsung (Camba
r 1.2).
Pengaruh langsung terutama ditentukan oleh kondisi hidrologi,

karakteristik hidrolik tanah, rancangan sistem drainase yakni


penurun-an muka air tanah di atas atau di dalam tanah,

dan

mengeluarkan sejumlah debit air dari sistem. pengaruh tak-langsung


ditentukan oleh iklim, tanah, tanaman, kultur teknis dan aspek sosial
dan lingkungan. Pengaruh tak-langsung ini dibagi ke dalam pengaruh
berakibat positif dan yang berakibat negatif (berbahaya).

Teknik Droinase Bawoh permukoon

Pengaruh positif:
Pencucian garam atau bahan beracun dari profil tanah
Pemanfaatan kembali air drainase

b.

Pengaruh negatif:
Kerusakan lingkungan di sebelah
garam dan bahan beracun

hilir karena tercemari oleh

Cangguan terhadap infrastruktur karena adanya saluran_


saluran

Pengaruh tak-langsung dari penurunan muka airtanah

a.

Pengaruh positif:

Mempertinggi aerasi tanah


Memperbaiki struktur tanah
Memperbaiki ketersediaan Nitrogen dalam tanah
Menambah keragaman tanaman yang dapat dibudidayakan

Pendohuluan

Menambah kemudahan kerja arat dan mesin pertanian


(workability)
Mempertinggi kapasitas tanah untuk menyimpan air

b.

Pengaruh negatif:

Metoda A hanya berlaku untuk suatu daerah tertentu dan tidak


dapat diaplikasikan untuk daerah lainnya karena hubungan A sangat
tergantung pada tipe tanah, iklim, hidrologi, topografi, kultur teknis
tanaman setempat. Untuk mendapatkan aplikasi yang lebih luas, perlu dikenalkan suatu peubah lain seperti pada B dan C (Gambar 1.4).

Dekomposisi tanah gambut (peat soil)


Penurunan permukaan tanah (subs idence)
Oksidasi pirit (cat-cl ay)
Pengaruh positif dan negatif harus dipertimbanghkan
daram
evaluasi ekonomi seperti tergambar daram diagram

cambar

Untuk melihat secara kuantitatif pengaruh drainase terhadap produksi pertanian, seseorang dapat melakukan suatu percobaan
dengan
meragamkan rancangan drainase dan mengukur produksi
tanaman.
suatu prosedur langsung seperti ini dapat digambarkan seperti
pada
Metoda A (Gambar 1.3)' peubah (variabre) keteknikan (engineering)
tergantung pada tipe drainase yang digunakan seperti pada
Taber

.1

Tabel 1-1- Contoh peubah keteknikan daram drainase

l*ili*xi,iffii6ffii:*

Drainase bawah permukaan,


gravitasi

kedalaman, spasing, ukuran

pipa

Drainase bawah permukaan,


dengan sumur pompa
o

Drainase permukaan, preventif

kedalaman, spasing, kapasitas


pompa
panjang dan kemiringan lahan

Parit, kolektor

dimensi, kemiringan saluran

Variasikan peubah
Keteknikan

Ukur Produksi

Sistem Drainase

Tanaman

Kondisi Muka
Airtanah

1.2.

Gambar 1.3. Metoda A

Teknik Drainase Bawoh permukaon

Gambar 1.4. Pemecahan hubungan A meniadi B dan C


Hubungan B merupakan pengaruh langsung dari drainase dan
merupakan karaktersitik fisik-hidrolik sehingga dapat dikembangkan
rumus-rumus untuk memecahkannya yang dapat berlaku secara
umum. Hubungan C hanya bersifat regional, tidak dapat diberlakukan secara umum. Untuk mendapatkan aplikasi yang lebih luas
hubungan C harus dipecah lagi dengan menambahkan pengaruh taklangsung dari drainase D dan E (Cambar '1.6). Suatu contoh hubungan C di lnggris adalah data produksi gandum musim dingin (winter
wheat) pada berbagai kedalaman airtanah pada waktu musim dingin
seperti pada Gambar 1.5. Dari Cambar 1.5 kelihatan bahwa pada
kondisi di daerah tersebut suatu rancangan drainase untuk menurunkan air tanah lebih dalam dari 60 cm merupakan drainase yang
berlebihan.
Untuk mendapatkan aplikasi yang lebih luas maka hubungan C
harus dipecah kedalam hubungan lainnya dengan bantuan peubah
tambahan menggambarkan pengaruh tak-langsung drainase. prosedur
seperti ini digambarkan dalam Gambar 1.6. Hubungan E dijeraskan
lebih rinci pada Cambar 1.7.

Pendahuluon

Hidrologi dan Ceologi (neraca

Yirld (T/ha)

air

permukaan dan bawah

permukaan, kondisi aqu ifer)


Hidrolika (aliran air-tanah dan saluran terbuka dalam kaitannya
dengan gradient hidrol ik)
Teknologi (mesin dan bahan)
Ekonomi (B/C ratio, pembiayaan)
Sosio-Ekonomi (organisasi petani, sikap sosial-buadaya petani,
hukum, distribusi keuntungan dan biaya)
Lingkungan (sumber daya alami, ekologi).

Gambar 1.5. Hubungan C (Departemen pertanian lnggris,


berdasarkan pengamatan pada tanah liat Drayton selama
5 tahun)

",r.nr"*h

Lans.uns)

Pnurunan Muka Air-Tanah den


Tanah

Misal: Soil rivorkability; soil


subsidence; lnigation
possibility

HIDROLOGI
Evaporasi
lnfiltrasi
Limpdsan (run off)
Rembeean

Xuallla8Air
Sallnitas Temh

-,['9,*t[:1""

jtt:g-:rTl-,mil

Gambar 1.6. Hubungan C dipecah Meniadi

Gambar 1.7. Faktor-faktor dalam hubungan D dan


pada Cambar 1.6

dan

Dari uraian di atas terlihat bahwa drainase lahan pertanian


adalah merupakan interdisiplin berbagai ilmu. pada suatu proyek
drainase beberapa aspek berikut ini perlu diperhitungkan:
Pedology dan pertanian (kondisi tanah, produktivitas tanaman,
operasi usahatani, irigasi)

1.3

Drainasc, lisika Tanah dan Pcrtumbuhan Tanaman

1.3.1

Fisika Tanah

Aerasi tanah
Akar tanaman memerlukan oksigen untuk respirasi dan aktifitas
metabolisma lainnya. Akar menyerap air dan hara tanah, dan meng-

hasilkan COz yang harus dipertukarkan dengan Oz dari atmosfir.


Teknik Drainose Eawah permukaan

Pendahuluan

I)r,ses aerasi terjadi secara difusi dan


ariran massa yang memerrukan
ruang pori tanah. Akar akan berkembang
dengan baik jika air, hara
dan udara tersedia di daerah perakaran secara
bersamaan.

Pori tanah terdiri dari pori kapirer untuk


menyimpan air dan
pori non-kapiler untuk pertukaran gas. pada
tanah riat berat meski_
pun ruang pori sebesar 600ro atau lebih,
hampir semua ruang pori
termasuk pori kapirer. pori tersebut apabira
daram keadaan jenuh air
tidak mudah untuk dibuang. sebariknya pada
tanah berpasir seringkali pori kapiler sangat kecir jumrahnya, sehingga
mudah dibuang
akan tetapi air yang dapat ditahan untuk
tanaman sedikit sekati.
Pada saat perkecambahan, benih mengabsorbsi
air dan akar
berkembang sehingga mampu mengabsorbsi
air pada kedalaman
tanah yang lebih daram. Apabira serama perkembangannya
menemui
tanah jenuh air, maka perkembangan

tanah yang optimum dinyatakan pada Tabel 1.2 (van de

akan:

Perakaran lebih pendek, sistem perakaran


menempati volume
tanah yang kecil dan kadang-kadang akar
berkembang ke arah

atas

Pembentukan bulu-bulu akar terhambat


Laju absorbsi air dan hara serta raju transpirasi

akan berkurang.

Akibarnya:

Daun akan memucat (menguning)


Proses reproduktif terhambat, bunga
premature.

dan buah muda jatuh

10

Teknik Droinase Bowah permukaan

Tabel 1.2

Rata+ata kedalaman perakaran tanaman pada kondisi


lengas tanah optimum (van de Coor, 1972).

Tanaman

Kedalaman (cm)

bawang, kubis, kacang-kacangan

30-60

kentang, terong
cabe
kelapa, sawit

60-90

60

jagung,tebu, melon, jeruk


kapas

60 - 120
150 - 180

120

Struktur Tanah
Struktur tanah (agregasi dan penyusunan partikel tanah) yang baik
merupakan kondisi yang menguntungkan untuk aerasi dan simpanan
lengas tanah, dan juga hambatan mekanik pertumbuhan akar akan
berkurang dan tercipta stabilitas traksi untuk peralatan pertanian.
Drainase mempengaruhi struktur tanah merarui pengaruhnya terhadap ketinggian muka airtanah.
Tabel 1.3. Produksi berbagai tanaman pada berbagai kedalaman
airtanah (van Hoorn, tgSB)
f

Aerasi dan kondisi rengas tanah yang baik pada


sebagian besar profir

tanah akan merangsang pertumbuhan dan perkembangan


akar ke
semua arah sehingga mampu mengekstrak
air dan hara dalam jumlah
besar. suatu gambaran rata-rata penetrasi
akar pada kondisi lengas

1972).

pertama dengan kedalaman 30 cm sampai 60 cm di bawah tanah.

akar akan terhambat.

Pada situasi muka airtanah yang dangkar


maka penumbuhan akar

coor,

Penyimpangan dari angka rata-rata tersebut seringkali dijumpai


karena adanya perbedaan jenis tanah dan varietas tanaman. Volume
akar tidak menyebar seragam ke seluruh kedalaman akar, akan tetapi
umumnya sekitar 70% dari volume akar terdapat pada lapisan

umlah
tahun

Candum 6
Barley 5
Oats
3
Pendohuluan

Hasil Relatif ("/o) pada bgrb-agai


kedalaman airtanah (cm) ,.

Hasil
(ks/ha)

;1

1007o

51
58
49

77 89 95 1O0 4.600
B0 89 95 00 4.100
74 85 gg t 0O 5.000
1

11

Tanaman

umlah
tahun

Peas 4
Beans 3
Kentang 1

Hasil Relatif (o/") pada berbagai


kedalaman airtanah (cm)
40

S0
79
90

Hasil
(ks/ha)

60 90 120 150 1OOlo


90 100 100 100 2_7SO
84 90 94 100 3.100
100 95 92 96 26.000

Suhu tanah
Penurunan lengas tanah dan bertambahnya kandungan udara
akibat drainase, menghasilkan penurunan panas spesifik tanah. Air
memerlukan panas 5 kali lebih besar untuk menaikkan suhu dari
pada tanah kering. Akibatnya tanah basah dengan lengas tanah se-

kitar 50% akan memerlukan panas sekitar 2.5 kali lebih besar dari
pada tanah kering. Untuk perkecambahan benih diperrukan suhu
tanah tertentu.

Kemampuan kerja (workability) dan daya sangga (hearing


capacity)
Untuk pengolahan tanah diperlukan lengas tanah sekitar kapasitas
lapang atau sedikit di bawah kapasitas lapang. pada penggunaan alat
dan mesin mekanis, iumlah hari kerja operasi perlu mendapatkan
perhatian. Drainase meningkatkan jumlah hari kerja mesin. Tergantung pada jenis traktornya umumnya traktor roda empat akan
mampu beroperasi di lapang jika daya sangganya lebih dari 5
kg/cm2. semakin besar kadar air tanah daya sangganya semakin kecil.

Pengalaman

di daerah irigasi di Jalur pantura (pantai Utara) menun-

jukkan bahwa karena kurangnya saluran drainase di rahan sawah,


maka pengolahan tanah pada waktu MT2 tidak dapat dilakukan lebih
awal sesuai dengan jadwal irigasi. perlu waktu sekitar 1 - 2 bulan
setelah panen MT1, untuk membuang air sehingga traktor dapat masuk dan bekerja di petakan sawah. Begitu juga 2 minggu menjelang

panen, drainase tidak bekerja optimum sehingga tanah masih tetap


basah akibatnya mesin panen (combine harvester) tidak dapat
bekerja.

Penurunan Tanah (suhsidence)


Penurunan tanah akibat drainase terutama terjadi pada tanah
yang baru dibuka (reklamasi). pada tanah gambut subsidence terjadi
akibat dari drainase yang disebabkan oleh sifat-sifat fisika dan kimia
(oksidasi bahan organik). Pada tanah gambut, drainase dapat mempercepat proses pematangan tanah.

1.3.2 Kimia Tanah


Pasok Hara

Berbagai aktivitas mikro-organisma dan bakteri tergantung


pada aerasi yang baik. Fiksasi Nitrogen dan Nitrifikasi adalah dua
prinsip proses aerobik yang berpengaruh penting pada pertumbuhan
tanam-an. semakin dalam penetrasi akar maka semakin banyak hara
yang tersedia untuk tanaman. Dekomposisi bahan organik oleh
mikroba akan terjadi pada drainase yang baik sehingga ketersediaan
hara akan lebih baik pula. Dalam keadaan anaerobik akan terjadi
penumpukan Mn dan Fe yang dapat meracuni untuk tanaman.
Penggenangan terus-menerus tanaman padi akan menghasilkan
akumulasi Hzs yang meracuni tanaman, dan jumlah anakan sedikit.

Drainase sewaktu-waktu dapat menghindari akumulasi tersebut, dan


merangsang jumlah anakan2. Pada tanah dengan muka airtanah
dangkal maka daun akan menguning sebagai indikasi kekurangan N.
Fengaruh drainase terhadap produksi jagung dapat dilihat pada
Tabel 1.4.

Kondisi

air

macak-macak sampai kering retak-rambut, adalah

pertumbuhan padi yang baik pada SN (System of Rice Intensification)

12

Teknik Drainase Bawoh Permukaan

Pendohuluon

prinsip

dasar

13

Tabel 1.4. Produksi jagung (ks/ha)


dalam kaitannya dengan kondisi
drainase dan pemupukan Nitrogen (Sumber:
Shalhevet dan
Zwerman, 1962)
D__--_
,
-remupukan
-.r--r-.rs.r

.
NO:NHc*
lanpa

. .....,_..

KonAir: Orairur"
.

Baik

::-::

r..iri

r. _, ....

.:

8OO

perakaran tanaman. Berdasarkan percobaan di lapangan beberapa


tanaman seperti gandum, padi, oat dan rye tahan pada ECe : 4 - B

mmhos/cm. Tanaman lainnya seperti kapas, sayuran, kurma tahan


pada ECe B - 16 mmhos/cm (Tabel 1.5). Beberapa peneliti

Seda4g, Buruk

2036
3320 1 895
2843 931

_...

Toleransi tanaman terhadap salinitas dinyatakan dengan


hantaran listrik ekstrak jenuh tanah (ECe dalam mmhos/cm) di daerah

1 190

menyatakan salinitas dalam satuan dS/m (desi Siemens/m). Konversi


satuan ini 'l dS/m : 1 mS/cm (mili Siemens/cm : 't mmhos/cm)

591

24g

Salinitas dan Alkalinitas Tanah


salinitas tanah
- berkaitan dengan konsentrasi tinggi garam terlarut dalam lengas tanah pada daerah perakaran.
Konsentrasi garam
terlarut yang tinggi ini menyebabkan
tekanan osmotik ti"sgi sehingga
mempengaruhi pertumbuhan tanaman
dengan .ur, ,Lnghambat
pengisapan air oleh akar. pada
tanah dengan konsentrasi Na yang
tinggi (alka!initas) biasanya disertai dengan
pH tinggi (pH > 9) juga
mempengaruhi kondisi fisik tanah akibat
dari dispersi partikel liat.
Hasilnya adalah struktur tanah yang jerek,
berakibat mengurangi raju
infiltrasi dan perkolasi tanah, juga
mengurangi laju difusi gas.
Pengaruh utama sarinitas pada pertumbuhan
dan produksi

Tabel 1.5. Toleransi Salinitas Tanah dan pH Pada Berbagai lenis


Tanaman

tanaman

adalah:

Perkecambahan benih akan terhambat


Secara fisiologis tanaman akan kering
dan layu

Pertumbuhan tanaman terhambat,


daun kecil, ruas pendek dan
percabangan sedikit.
Daun berwarna hijau kebiruan
Pembungaan terhambat, biji lebih

Development Cooperation. Belgium

kecit

Sebagai akibatnya produksi juga akan


berkurang

14

E. Van Ranst; J. Debaveye; F. Beernaert, 1993. Land Evaluation part lll: Crop
Requirements. Agricultural Publications No 7. Ceneral Administration for

Sumber: Sys C.;

Teknik Droinase fuwoh permukaan

Kemasaman (acidity)

di lahan pasang-surut yang mengandung pirit atau disebut


luga cat-clay (FeSz), dengan drainase akan terjadi oksidasi membentuk HzSO+ sehingga pH tanah kurang dari 3 (sangat masam).
Pada tanah

Pendohuluon

t5

Proses tersebut disertai juga dengan terbentuknya

Fe** dan Al+++

Tabel 1.6. Tentatif kedalaman air-tanah optimum

yang mudah larut dan meracuni tanaman. Proses ini terutama terjadi
pada tanah di daerah pasang-surut. Proses tersebut digambarkan
dengan reaksi kimia sebagai berikut
FeSz

+ 15/4Oz + 7/2 HzO _)

Fe(OH)r

+ 2SO4: + 4H+

dijaga sedemikian rupa supaya oksidasi lapisan pirit ini tidak terjadi.
Budidaya padi di mana selalu dalam keadaan tergenang biasanya

di

Berpasir
(sandy)

Proses pemasaman tanah terjadi, dan pada kondisi masam


terjadi pembongkaran kisi-kisi mineral liat sehingga dilepaskan Al3*
yang bersifat racun bagi tanaman. Lahan bersulfat masam biasanya
sering terjadi di daerah pasang-surut, sehingga proses drainase harus

masih dapat dilakukan


begitu memuaskan.

Tekstur Tanah

lenrs lanarnan

Lempung/dehu
(loam/silt)

!-iat

(clay;

Rumput-rumputan

0.5

0.6

4.7

Biji-bijian, tebu

0.6

4"7

0.8

seratseratan, minyak biji, sayuran

0.8

0.9

1.0

Buah-buahan (pohon)

1.0

1.2

1.4

11

1.5

-t2

Tanaman berumbi,

Lahan yang diberakan untuk

sementara dengan kenaikan


kapiler dari airtanah yang salin

lahan tersebut walaupun hasilnya tidak

TCILERANSI TANAMAN TE RHADAP


SA!.INITAS

Sistem drainase permukaan dan bawah-permukaan satu arah (one


way flow), membantu proses pencucian (leaching) pada musim
hujan sehingga dalam jangka waktu panjang dapat membantu re-

{Sumher: Sys C. ef aI" , 1991. Land Evaluation. Agric.pubt.No


7. Belgium)
SALINI TAS TANAT-| (mmhodem)

klamasi lahan sulfat masam. Sistem aliran satu arah dirancang dengan
membuat tata letak saluran pemasok dan saluran pembuang terpisah.
Pada kedua jenis salirran tersebut dilakukan kontrol muka air dengan
bangunan kontrol otomatis, sehingga terjadi beda elevasi muka air
sekitar 0.2 - 0.5 m. Bangunan kontrol di saluran pasok berfungsi
memasukkan air pasang dan menutup pada waktu surut, sedangkan

di saluran pembuang sebaliknya yakni menutup pada waktu

f'imtqS
BUNfi$
JAGtJi,.I$

j'ilki\ r

pasang

dan membuka pada waktu surut.

KAC;AT\iG

?AfiAI"{

m l.reft0. i:t,.rrj

ffi

il'l'1,

ft]tii

rr!

il

tfun0.

Frr:;1;. 71i9,;

[..]

re: \,J .i r(r

rr';:. 1t'lir

,.

1ffi ihrri:. ci*rJ

i.

'r,

.1{}091

Sebagai tentatif kedalaman air tanah optimum untuk berbagai jenis

tanaman pada berbagai jenis tekstur tanah dapat dilihat pada


Tabel 1.6.

Gannbar't.8. Ioleran si tanarnan terttadap salinitas

16

Teknik Drainase Bowah Permukoan

Pendahuluan

t7

Pengelolaan Air
Pengeroraan air (water management)
merupakan kunci keberhasilan pengeroraan rahan gambut. pengeroraan
air yang baik
harus mampu mengatur erevasi
muka air di saruran drainase sesuai
dengan keinginan berbagai kepentingan.
rni yang disebut dengan
sistem Drainase Terkendari (contro,ed
drainage)- pada prinsipnya
elevasi muka air di saturan drainase
harus dirancang setinggi mungkin (warer level should be designed as
high as possible), tetapi ke_
dalaman airtanah di rahan cukup rendah
sesuai dengan yang diperru_
kan tanaman (but as row as required).
Dengan kata tain lik" ,rnrrun
pangan tumbuh optimum pada
kedaraman airtanah o.i meter dari
permukaan tanah, maka etevasi
muka air di saruran drainase harus
dioperasikan sehingga kedaraman
air tanah di tahan sekitar 0.5
meter, tidak perlu (jangan) rebih rendah
dari kondisi tersebut. pengaturan kedalaman airtanah di tahan pertanian
merupakan cara yang
ampuh untuk mencegah dan mengendatikan
kebakaran rahan gambut pada musim kemarau.
Pengalaman di rapangan memperrihatkan
bahwa kedaraman
airtanah kurang dari satu meter pada
musim kemarau, memudahkan
untuk mencegah dan atau mengendalikan
kebakaran tanah gambut.
Jumlah air yang diperrukan untuk memadamkan
kebakaran tahan
gambut setebar 42 cm adatah
2 000 - 4 000 m3 air per hektar atau
20
- 40 mm air. Jika kumuratif defisit air
musim kemarau pada tahun
kering menyebabkan selisih penurunan
airtanah kumulatif sekitar 0.4
m dari elevasi awar, maka pada awar musim
kemarau atau ahir
musim hujan kedaraman airtanah harus
diatur maksimum sekitar 1.0
- 0.4 - 0.6 meter dari permukaan tanah.

memotong garis kontur. Saluran konektor dilengkapi dengan bangunan kontrol pengendali elevasi muka air di beberapa ruas saluran.

Tipe bangunan kontrol yang cocok berupa aliran overflow dengan


model weir atau skot balok. Beda elevasi muka air hulu/hilir di
bangunan kontrol dirancang tidak lebih dari 0.5 m.
Pengaturan elevasi airtanah setinggi mungkin (kedalaman
airtanah sekecil mungkin, tapi optimum untuk pertumbuhan tanap,ran) juga bertujuan untuk mengendalikan proses penurunan permukaan tanah (subsidence) sekecil mungkin dengan laiu menurun
secara gradual. Penurunan perrnukaan tanah di tanah gambut merupakan suatu kenyataan yang pasti terjadi dan harga yang harus
dibayar pada pengelolaan lahan gambut. permasalahannya adarah
bagaimana mengendalikannya sehingga dampak negatifnya dapat
diminimalkan dan usaha pertanian mampu berumur panjang" Untuk
itu perlu dibuat Zonase Pengelolaan Air (Water Management Zane)
untuk setiap variasi topografi lahan yang dilengkapi dengan bangunan pengendali elevasi muka air di saluran.

caSro)

Tata-letak saluran utama (main drainage)


seyogyanya sejajar
dengan garis kontur dilengkapi bangunan
pelimpah samping (side
spillway) yang mengarirkan kerebihan
air pada saturan konektor

18

Teknik Droinase Bawah permukaon

Pendahuluan

19

HIDROLIKA
AIK TANAH

U.l

AsumsiDupuit-Iorchelmcr

10

upuit (1863), mempelajari aliran steady pada sumur dan


saluran yang secara skhematis seperti digambarkan pada
Cambar 2.1.

Sbpelx,dx

t!

fiqecl*p

Gambar 2.1" Aliran steady pada aquifer tak tertekan

Asumsi yang dibuat adalah:

1.
2-

Untuk sistem aliran dengan kemiringan muka air bebas yang


kecil, maka streamline dapat diambir sebagai garis horizontal
tegak lurus bidang vertikal.
Kecepatan aliran berbanding lurus dengan kemiringan muka air
tanah, tetapi tidak tergantung pada kedalaman aliran.

Asumsi tersebut di atas menyebabkan pengurangan dimensi


aliran dari 2 dimensi menjadi 1 dimensi, dan kecepatan aliran pada
phreatic surtace berbanding lurus dengan tangens hydraulic gradient
atau sama dengan nilai sinus atau dh/dx dh/ds. Berdasarkan pada
=
asumsi tersebut di atas Forcheimer (1886), mengembangkan suatu
persamaan umum untuk rnuka air bebas dengan menggunakan
persamaan kontinyuitas pada air dalam kolom vertikal dengan tinggi
h, yang dibatasi oleh 'phreatic surface" pada bagian atas dan lapisan
kedap pada bagian bawah (Cambar 2.2).

Selisih outflow dan inflow per unit waktu pada arah x adalah:
(e**a*

Komponen aliran horizontal:

V, = -f
"

Gambar 2.2. Pendekatan aliran horizontal suatu elemen fluida


dalam ruang

aan :-K!
$
Ax V,Y -Oy

/2.1/

q,,

)dy =

ft a*.a, = **(n*)o-.r,

12.3/

Dengan cara yang sama, maka perubahan aliran pada arah


sumbu y adalah :

Jika q, aliran pada arah x per unit lebar arah y, maka:


12.41

q*dy : -K*(h dy)= -r(r",ff),av

/2.2/

Bergerak dari sebelah kiri ke sebelah kanan, maka


mengalami perubahan dengan laju )qJOx, yakni menjadi:
Qx+a* d}r dtau

22

[,,.

q-

dy

Pada aliran steady, maka jumlah perubahan sama dengan nol,


sehingga:
_

r[a(n

ar,ta-)

69-

ox.d*)d,
)'

fu#il]o*a, =,

_la (.h _ah\| +


dx [ 0x ) av

i-[n er)
av

Teknik Droinose Bowah Permukaon

Hidrolika Air Tonoh

-0

l2.sl
/2.6/

23

a2h2 a2h2
atau;-, +--- . =0
ox'

/2.7t

oy'

persamaan /2.71 ini disebut sebagai persamaan Forcheimer.

?.?

didapat:

Aliran Tidak Stcady

pada kondisi aliran tidak steady,


iumlah perubahan aliran pada
arah x dan arah y harus sama dengan perubahan kuantitas air yang
disimpan pada kolom tersebut. perubahan storage ini digambarkan

baik oleh penurunan atau kenaikan


storage adalah

phreat

ic

Jika h cukup besar dibandingkan dengan perubahan h, maka kita


dapat mengasumsikan h konstan dengan nilai rata-rata D, dan dapat
mengabaikan orde ke dua, (OhlOx)'? dan (1hl}y)'1 sehingga akan

a2h,a2h_ p ah
a*'-* - KDA
Persamaan

ini identik dengan

12.12/
persamaan konduksi panas 2 dimensi

atau persamaan aliran compressible fluid melalui medium berpori.

surface. perubahan

c@ro-)

AS:p.Ah

/2.8t

di mana:

AS:

p:
Ah:

perubahan air yang disimpan per unit luas permukaan


selama waktu tertentu;
porositas efektif dari tanah;
perubahan elevasi muka air tanah selama waktu tertentu.

Persamaan kontinyuitas sekarang menjadi

- r[a(n gva.) .

fu#@]r*r, = -u$a*.ay

/2.9/

atau

a2h2,a2h2 pah

Ax' Ay'

/2.10/

KA

-T-=--

Persamaan

/2.9/ dapatjuga ditulis sebagai berikut:

-.['#.(*)' .h#.[#)'] = -p*


24

/2.11/

Teknik Drainase Bawah permukoan

Hidrolika Air Tonoh

25

PEKSAMAAN DKAINASE
KONDISI ALIRAN
STEADY

3.1

AtIRAl{

STEADV PADA SATURAN PARATET DEI{GAI{

RECHANGE SERAGAIII PADA PERftIUI(AAI{ TANAH

ebagai contoh aplikasi dari asumsi Dupuit, asumsikan suatu


lapisan tanah yang homogen dan isotropik, di bagian bawah
dibatasi dengan lapisan kedap dan didrainasekan oleh saluran
paralel yang menembus lapisan tanah tersebut sampai ke lapisan
kedap. Pada permukaan tanah menerima hujan seragam dengan laju
R (Cambar 3.1).
R ( nrmltrari )

I,l.l.ttllJiir

Cambar 3.1. Aliran air pada saluran drainase yang menembus


aquifer tak tertekan

Dengan menggunakan asumsi Dupuit-Forcheimer di mana


kemiringan muka air tanah cukup kecil, sehingga ariran air tanah ke
saluran drainase dapat dianggap horizontal. Ariran pada bidang
vertikal berjarak x dari saluran sebelah kiri adalah sebagai berikut:

konduktivitas hidrolik tanah (m/hari);


jarak dari lapisan kedap ke tengah-tengah muka air tanah
(m);

larak dari lapisan kedap ke muka air pada saluran drainase


(m);

=R(0.51-x)=K.h*

Q*

/3.11

dx

jarak antar saluran drainase (m).

Masing-masing dikalikan dengan dx

K.h.dh=R(O.Sr-x)dx

/3.21

.j.

jt

atau
K.h.dh = (o.slR)dx

Persamaan

Rxdx

--.1' o

13.3/

di atas dapat diintegrasikan dengan batas

_l

sebagai

berikut:

x:0+h:yo;
H

K Ih.dh=n
h=yo

x:0.5 1-+h:H

rzd;alptr

J(o.sr_-x)dx

- yo')= n (o.sLf K(HLyo2) :1/4 RL2


1z

K (H'z

-4K(H2

bt---'4r;D

0,5

B.4t

x=0

0.s

noei1ortal flgut

o.7D

o.sR (o.s

rf

= 0.5 R (o.s

-yo2)

Lf

/3.s1

Gambar 3.2. Konsep kedalaman ekivalen (equivalent depth) untuk


mentransformasikan kondisi aliran horizontal dan radial ke suatu
al i r an hor

Atau dengan notasi seperti pada Cambar 3.2, maka:

zontal ekiv alen.

Persamaan tersebut dapat ditulis:

- 4K(H2 -D2)
x- = Q---T-

/3.6/

Di mana:

R : laju pemasukan air dari permukaan tanah per luas permukaan (m/hari);

q : debit drainase per unit luas permukaan (m/hari);


28

Teknik Drainase Bawah permukaan

^_4K(H+o)(H-o)
,_
L,
Berdasarkan Cambar

3.2a;h:

13.71

H - D dan H

Q=BK(D +r0.5h)h
Persomaon Drainase Kondisi Aliran Steady

+ D : 2D +

h, maka
13.Bl

29

Faktor

D + 0.5 h pada persamaan di atas dianggap menggambarkan

rata-rata ketebalan lapisan tanah disimbolkan dengan

f)'.

q- BKD'h

di

mana

/3.9/

KD'

transmissivity aquifer (m2lhari). Persamaan /3.8/


juga
dapat
ditulis sebagai berikut:

q- BKDh + 4Kh2

Dengan membuat D

membentuk aliran radial menuju pipa drainase. Aliran radial tersebut


mengakibatkan lintasan aliran menjadi lebih panjang.

Hooghoudt (1940) menurunkan persamaan aliran seperti


digambarkan pada Cambar 3.2b, di mana daerah aliran dibagi
menjadi aliran horizontal dan aliran radial.
Apabila aliran horizontal di atas level drainase diabaikan, maka
persamaan aliran untuk lapisan tanah seragam menjadi

/3.10/
0, maka

q:

.1s

n
13.111

=*r,

13.141

dan

yang menggambarkan aliran horizontal di atas level drainase.


Apabila D cukup besar dibandingkan dengan h, maka 4 Kh2 dapat

8DL

* 1tn 4+f(D,L)
n ro42

13.1sl

di mana

diabaikan, sehingga:

menggambarkan aliran horizontal di bawah level


drainase. Pertimbangan di atas menghasilkan konsepsi 2 lapisan

jari-jari pipa drainase;


fungsi D dan L, umumnya kecil bila dibandingkan dengan term lainnya. Term pertama pada persamaan
13.lilmenggambarkan aliran horizontal di bawah level
drainase, karena berdasarkan persamaan /3.12/

tanah dengan batas pada level drainase.

menjadi:

ro

BKDh

Q: r
Persamaan

13.121

ini

BK,Dh +
q=?-

4K-h2

h_

/3.131

Di mana:
Ku

konduktivitas hidrolik lapisan tanah di atas level drainase


(m/hari);

Kr

?.2

f(D,L)

: konduktivitas

hidrolik di bawah level drainase (m/hari).

PRII{SIP PERSATTIAAN HOOGHOUDT

8KD
sedangkan pada Cambar 3.2b, panjang L untuk aliran horizontal
adalah L-D{2 sehingga persamaan /3.121 menjadi

atau

h=
Term ke

.oL
h - rK

BDL

dan ke 3 dari persamaan /3.151 menggambarkan aliran

Apabila saluran drainase tidak sampai menembus ke lapisan


kedap, maka garis aliran tidak sejajar dan horizontal akan tetapi akan

radial.

30

Persamaon Drainase Kondisi Aliron Steody

Teknik Drainase Bowah Permukoon

oL2

31

Hooghoudt mempertimbangkan suatu formula yang lebih


praktis, yaitu dengan memperkenalkan suatu kedalaman ekivalen ,,d,,
sebagai pengganti D (di mana d
D). Hal ini dimaksudkan untuk

<

memperhitungkan tahanan tambahan (extra resistance) yarrg disebab_


kan oleh aliran radial. Dengan menggunakan nirai d, maka pola

aliran dalam cambar 3.2b dapat diganti dengan aliran horizontal


seperti pada cambar 3.2c. Apabila yang diperhitungkan hanya aliran
horizontal di bawah level drainase maka persamaan 13.'l2lsekarang
menjadi:

Tabel 3.1. Ni/ai kedalaman ekivalen (d) menurut Hooghoudt

(ro

L(m)

13.161

50

7.5

0.s0
o.7s
1.00
1.25

0.40
0.60
0.67
0.70

1.50

0.48 0.49
0.65 0.69
0.75 0.80
0.82 0.89
0.88 0.97
0.91 1.O2

2.00
2.25

1.06
1.13

2.50

mana d < D. Persamaan 13.161 ini harus dibuat sama dengan


persamaan 13.1 4/, sehingga menghasilkan:

di

"-BFrffi
r- L -

DL

13.171

Tc roJ2

Nilai d (equivalent depth) merupakan fungsi dari L, D dan ro.


Nilai untuk "d" dengan ro : 0.,l m pada berbagai nilai L dan D
dapat dilihat pada Tabel 3.1. Untuk ro selain dari 0.1 m dapat dilihat
pada Cambar 3.3. Dari Tabel 3.1, dapat dilihat bahwa ,,d,,ber_
tambah besar dengan naiknya D sampai D 1/4 L, untuk D yang
=
lebih besar nilai d nya relatif konstan. Dengan demikian untuk D )
114 L pola aliran tidak dipengaruhi oleh kedaraman lapisan kedap.
Dengan pertimbangan memasukkan pengaruh ariran radial, maka
persamaan /3.13/ dapat ditulis dengan menggunakan nilai d sebagai
pengganti D, menjadi persamaan /3.181, persamaan ini disebut
sebagai persamaan Hooghoudt.

2.75
3.00
3.25
3.50

Teknik Drainose Bawah permukaon

1.1

1. t9

0.50 0.50
o.74 0.75
0.91 0.93
't.09 1.12
1.25 1.28

1.30

'1.39

1.41

1.50

1.69
1.76 1.79
1.83 1.88
1.88 1.97
1.93 2.04
1.97 2.11

0.49
0.73
0.89
1.05

1.20
1.28
1.34
1.38
1-42
1.45
1.48
1.52

1.57
1.63

1.67
't.71
1.75
1.78
1.81

4.50

1.85

5.00

't.88

.50

1.45

1.57
1.69

2.O1 2.17
2.O8 2.22

2.15
2.20

2.31

2.36

5.50

2.43

6.00

2.48

7.00
8.00

2.54
2.57

9.00

o.75 0.75
0.94 0.96
1.13 1.14
1.31 1.34
1.49 1.52
1.62 1.66
1.76 1.81
1.87 1.94
1.98 2.O5
2.08 2.16
2.16 2.26
2.24 2.35
2.31 2.44
2.37 2.51
2.50 2.63
2.58 2.75
2.65 2.84
2.70 2.92
2.81 3.03
2.85 3.13
2.89 3.18

10.00

3.23
O.71

0.93

1.14

1.53

1.89

2.24

2.s8

2.91

3.24

0.76
0.96
1.14
1.35

0.76

.55

1.57

0.96
1.15

1.36

1.70 1.72
1.84 1.86
1.99 2.02
2.12 2.18
2.23 2.29
2.35 2.42
2.45 2.54
2.54 2.64
2.62 2.71
2.76 2.87
2.89 3.02
3.00 3.15
3.09 3.26
3.24 3.43
3.35 3.56
3.43 3.66
3.48 3.74
3.56 3.88

D (m)
0.5

0.50

1.0

0.96 0.97
1.72 1.80
2.29 2.49
2.71 3.04

3.0

32

0.49
o.71
0.86
1.00

3.75
4.00

2.0

/3.18/

0.1 m, D dan L dalam m)

D (m)

1.75

8k dh
q=-E-

4.O

0.97
1.82
2.52
3.08

0.97
1.82

2.54
3.12

Persomaan Drainose Kondisi Aliran Steady

0.98 0.98 0.99


1.83 1.85 1.90
2.56 2.60 2.62
3.16 3.24 3.46

0.99
1.92
2.70
3.58

0.99
1.94

2.83
3"66

33

(m) sO zs aO

gS

D (m)

5.0
6.0
7.0
8.0
9.0
10.0
12.5
15.0
17.5
20.0
2s.o
30.0
35.0
40.0
45.0
50.0
60.0
@

3.3

3.o2 3.49 3.55 3.61 3.67 3.78 4.12 4.31 4.43


3.23 3.85 3.93 4.00 4.08 4.23 4.70 4.g2 s.15
2.43 4.14 4.23 4.33 4.42 4.62 5.22 5.57 s.81
3.56 4.38 4.49 4.61 4.72 4.g5 s.68 6.13 6.43
3.66 4.57 4.70 4.82 4.gs 5.23 6.09 6.63 7.OO
3.74 4.74 4.89 5.04 5.18 5.47 6.45 7.Og 7.53
5.O2 s.20 s.38 5.56 5.92 7.20 8.06 8.68
5.20 5.40 5.60 5.80 6.2s 7.77 8.84 s.64
5.30 5.s3 5.76 5.99 6.44 8.20 g.47 10.40
5.62 5.87 6.12 6.60 8.54 g.g7 1 .10
5.74 5.86 6.20 6.79 8.99 10.70 12.10
g.27 11.30 12.go
g.44 1 .60 13.40
I 1.80 13.80
12.00 13.80

2A

Dlu

2.1

roo
80
60
50

23

2t
25
2At

4O

3.2

12.10

3.88 5.38 5.76 6.00 6.26 6.82 9.55 12.20

3a
3.6

14.30

3.A

14.60

.o

14.70

1.4
5.O

APLTI(ASI PENSAMA/II HOOGHOUDT

5.5
6.O

Persamaan Hooghoudt digunakan untuk menghitung spasing

drainase L, apabila faktor-faktor Q, K, h, D dan ro diketahui. Rumus


ini dapat juga digunakan untuk menghitung konstanta tanah K dan D
jika diketahui q, h, L dan ro.

7.O

a.o

!"o
o
2

Karena L tergantung pada d, sedangkan d sendiri fungsi dari L,


maka rumus di atas tidak dapat menghitung L secara eksplisit. Dengan demikian prosedur yang digunakan adalah metoda "coba-ralat',

15

o
30

(trial and error). Coba-ralat dapat dihindarkan dengan menggunakan


Nomograf seperti pada Cambar 3.4 dan 3.5.
Cambar 3.3. Nomograf untuk menentukan kedalaman ekivalen (d)
menurut van Beers

34

Teknik Droinase Bowoh permukaon

Persomaon Drainose Kondisi Aliran Steody

35

4ra

,o,
.oc
a,

,b,

1a

t,

e.o

n
,re

ta
a{
tn
Iat
*t

laa

lo$

lta

ttro
,oro

l*r
,*t
,t oo

Gambar 3.4. Nomograf untuk penentuan spasing drainase


iika Llh > 100

36

Teknik Drainase Bawah permukoan

Gambar 3.5. Nomograf untuk penentuan spasing drainase iika Llh <
100 (Boumans, 1963)

Persamaan Drainase Kondisi Aliran Steady

Contoh 1:

Coba 2:

Untuk drainase suatu areal irigasi akan digunakan pipa dengan


jari-jari 0.1 m. Pipa tersebut ditempatkan pada kedalaman
1.8 m dari
permukaan tanah. Lapisan kedap dijumpai pada kedalaman
6.8 m.
Dari uji auger-hole didapatkan nilai konduktivitas hidrolik K : 0.8
m/hari. Selang (interval) irigasi setiap 20 hari. Rata-rata air irigasi
yang hilang dan mengisi air tanah adalah sejumlah 40 mm per
20
hari, sehingga rata-rata discharge dari sistem drainase 2 mm/hari.
Pada jarak berapa spasing harus dibuat apabila rata-rata kedalaman
air tanah 1,2 m dari permukaan akan dipertahankan?.

L-87 m, dari Tabel 2.1: d:3.63 m; L2:1920x3.63 +576:7546 x


872

87 m.

Dengan menggunakan nomograf pada Cambar 3.4 dan 3.5:

hitung D/h : 5/0.6:8.3 dan h/(nro) : O.6l(n x0.1) :1.9; hitung


l(q : 0.8/0.002 : 4OO. Dengan menarik garis lurus dari titik (D/h)
dan h/(nro) ke l(q : 4OO, didapat Uh : '14O. Dengan demikian L :
140 x 0.6 m : 84 m. Nomograf tersebut dapat juga digunakan untuk
saluran drainase terbuka di mana u - 7rt'o, u adalah perimeter basah.

T,4

fawab:

7569. Maka spasing drainase yang diperlukan L

PNINSIP PERSATilAAN ERNST

2 lapisan
di mana batas kedua lapisan tersebut dapat berada di atas atau di
bawah level drainase. Khususnya dapat dipakai pada kondisi di mana
lapisan atas mempunyai konduktivitas hidrolik lebih kecil dari pada
Persamaan Ernst dapat digunakan pada tanah dengan

{'c.6

vtt

L2m

{-

q-

0.002 m/hari; ro

D:5m
1z

L2

lapisan bawahnya.
aooe17no.

rE

Iapiran kedap

rr1

K-ctgtt/hari

:0.1 m;Ka: Kb:0.8

mlhari;

h :0.6

Seperti juga Hooghoudt, Ernst mendapatkan sejumlah hidrolik

m;

q:h/w

{(sx0.8x0.6xd) + (4x0.8x0.36)} / o.oo2*L2 : .tg2a


d+576

B0 m, dari Tabel 2.1: d : 3.55 m; L2


7392 * 6400 , sehingga L terlalu kecil

38

atau

h:qw

di mana q adalah laju aliran, h hidrolik head dan w adalah tahanan.

- SKodh+4K"h2
q

Coba 1:
L

head yang diperlukan untuk bermacam-macam komponen aliran di


mana secara skhematis aliran pada pipa drainase dibuat. Analogi
dengan hukum Ohm, maka aliran air tanah dapat ditulis:

1920 x3.55

+ 576 :

Teknik Drainase Bowah Permukaan

Jika aliran ke pipa drainase dibagi menjadi aliran vertikal, horizontal


dan radial, maka head hidrolik total adalah:

: h, + h;..' + hr: qw, + q Lwh + q Lwr


di mana subscriptv : vertikal, h : horizontal, r :
h

radial.

Aliran horizontal dan radial adalah sama dengan q L, yakni


discharge drainase per unit panjang pipa drainase, sedangkan aliran

Persamaan Drainose Kondisi Aliran Steody

39

vt'rlikal sama deng?D Q, yakni laju debit drainase per unit luas
permukaan tanah. Dengan menulis berbagai tahanan maka

Y :

y:0.

persamaan Ernst dapat ditulis:

n=o*.orf.rf

.o#,"*

13.19t

Nilai-nilai D,, X (KD)h, D, , r dan u sekarang dalam bentuk


detil dapat dilihat dengan bantuan Cambar 3.6a sampai 3.6d.

di mana,

total hidrolik head atau tinggi water table di atas level


drainase pada titik tengah (m)
laju debit drainase per luas permukaan (m/hari)

spasing drainase (m)

Ku

konduktivitas hidrolik untuk atiran vertikal (m/hari)


konduktivitas hidrolik untuk aliran radial (m/hari)
ketebalan lapisan di mana aliran vertikal dipertim_
bangkan (m)

K'

D,
D'

ketebalan lapisan

di

Aliran vertikal terjadi pada lapisan antara maksimum water tabre


pada titik tengah antar saluran dengan dasar saluran. Biasanya
ketebalan lapisan untuk aliran vertikal adalah Do
saluran, dan D, : h untuk pipa"

kedap bertambah besar, maka nilai Kz Dz juga bertambah besar


sehingga membuat >(KD);^, cenderung tak terhingga dan akibatnya tahanan aliran horizontal menjadi nol. Untuk mencegah har
tersebut total kedalaman lapisan di bawah level drainase Do atau
Do + Dz dibatasi sampai (1/4)L apabila lapisan kedap lebih
dalam dari (1/4)L di bawah level drainase.

mana aliran radial dipertim_

transmisivitas lapisan-lapisan tanah

di mana terjadi

aliran horizontal (mThari)


faktor geometri untuk aliran radial, tergantung pada
kondisi aliran;
perimeter basah (m).

Nilai-nilai D,, X (KD)h, D,, a dan u ditentukan berdasarkan


profil tanah dan posisi relatif serta ukuran pipa drainase. Data berikut
ini merupakan karakteristik dari kondisi spesifik drainase yakni:

Dr

rata-rata ketebalan lapisan atas di bawah muka air tanah


(water table) dengan permeabilitas Kr

Dz,,

rata-rata ketebalan lapisan bawah dengan permeabilitas Kz

Do:

ketebalan lapisan tanah di bawah level drainase


ketinggian water table di atas level drainase pada titik tengah

H:
40

Teknik Drainase Bowah permukoan

: y + h un{uk

Aliran horizontal terjadi pada seluruh ketebalan aquifer, jadi


X(KD)6 : Kr Dr + Kz Dz. Apabila kedalaman sampai lapisan

bangkan (m)
E(KD)h

kedalaman air dalam saluran drainase ,untuk pipa drainase

Aliran radial hanya diperhitungkan pada lapisan di bawah revel


drainase, jadi D, : Do, dengan batasan yang sama seperti aliran
horizontal yaitu Do < (114)L
Berdasarkan nilai-nilai tersebut

di atas, maka beberapa

kasus

berikut ini dapat dipertimbangkan:

A.

Tanah Homogen (homogeneous soil)

Pada suatu tanah homogen (Dz : 0, Cambar 3.6b), nilai a


diambil sama dengan 1, D, : y + h, X(KD)6 : Kr Dr, K, : Kr dan

D,

Do, dengan demikian persamaan 13.'tg/menjadi:

,n-oj--+ov+h
.

Kl

l:

,BKrDl

. o#'"?

Persamaon Drainase Kondisi Aliran Steady

/3.20/

41

Pada tanah homogen tahanan vertikal cukup kecil sehingga


dapat diabaikan. Lebih lanjut dalam kebanyakan kasus yang ditemui

di lapang h <

<

Do, Dr biasanya dianggap sama dengan Do, aliran


horizontal melalui lapisan di atas level drainase umumnya diabaikan.
Jika kedaiaman dari dasar saluran sampai lapisan kedap Do lebih
besar dari (ll()L, aliran tidak akan terjadi di bawah kedalaman
tersebut. Karena spasing drainase tidak diketahui sebelumnya, maka
kondisi tersebut di atas harus diuji sesudahnya didapat nilai [_.

8.
Cambar 3.6a

Gambar 3.6b

Gecretry of tr;o-dioensional
flore togards dreins lccor-

GeoucEry

ding to

of the Ernsc equarion


for r hornogcneous soil.

Tanah Berlapis (layered soil)

'1" Apabila saluran drainase ditempatkan pacla lapisan


bawah

(cambar 3-6c) dan Kr ( Kz, maka tahanan aliran vertikar pada


lapisan ke dua dapat diabaikan dibandingkan dengan pada
lapisan pertama. Pada cambar 3.6c dapat dilihat bahwa tebai

ERllST (1962).

di mana terjadi aliran vertikal adalah sama dengan Du :


2 Dr. Untuk komponen aliran horizontal dalam kasus tersebut
lapisan

adalah X (KD)6

Kz

Dz

Kr Dr. Karena Kr

Kz

dan Dr

maka suku kedua dapat diabaikan sehingga > (KO1n

Dz,

Kz Dz.

D, Do. Untuk
komponen aliran horizontal dan radial sebagai pembatas Do (
(114)L. Persamaan /3.19/ menjadi:

Aliran radial diperhitungkan pada lapisan

Cambar 3.5c

Gambar 3.6d

Gtooetry of the lrnst


pguetion. for e trro-laYcred
soil vith thc drain in the
lorrer layer.

GeoEet.E,

o!

2D, I:
,h=e-__r+q-+q
L
AD^
- ln--,
' Kr 'BK2D2 - nK, "'
u

Erasi equarioo
for a tuo-leyc,red soil uich
the drein in the upper layer.
che

Gambar 3.6. Ceometri persamaan Ernst

2.

Jika saluran drainase berada seluruhnya pacja lapisan atas


(Cambar 3.6d), rnaka untuk menentukan faktor geometri ',a,'
terdapat berbagai kondisi sebagai berikut:
Kz ) 2A Kr, faktor geometri "a" : 4 dan persamaan (3"1g)
menjadi:

.h=qv+h *q

42

Teknik Drainase Bawah Permukaan

13.21/

t
8(KrDr

Persamaan Drainase Kondisi Aliron Steady

+KrDr)

L
o-ln
'rK,

4D^u
u

43

Tahap 2. Hitung
berdasarkan nomograf seperti pada Cambar 2.7, kemudian
gunakan persamaan 13.1gl.

0.1 Kr

Kz, faktor geometri "a,,

1. Lapisan bawah di-

anggap sebagai lapisan kedap air, sehingga pada kasus ini


menjadi kasus tanah homogen dan persamaan /3.2O/
menjadi berlaku.
Pada persamaan-persamaan

Untuk pipa drainase yang dipasang pada suatu galian


(trenches) yang diselimuti dengan bahan berpermeabilitas
yang baik,
maka nilai u dihitung sebagai berikut:

u:b+2(2ro)

/3.24/

di mana b: lebar trench; ro: jari-jari pipa drainase.

3.5

APUI(ASI PENSAATIIAAN

EN]TST

Perhitungan spasing drainase dilakukan dengan bantuan


nomograf seperti pada Gambar 3.7 dan 3.8. Tahaptahap perhitungan
untuk mendapatkan persamaan yang sesuai dilakukan sebagai
berikut:

Tahap '!. Pelajari profil tamah


Jika tanah homogen atau jika kedalaman rapisan di mana drainase
akan dipasang adalah lebih dari (114) L, maka gunakan persamaan
B.2Al. Apabila lebih kecil dari ('l14) L, lanjutkan tahap 2 dan 3.

Teknik Drainase Bawah permukoon

l3.2st

diabaikan.

Tahap 3. Tentukan faktor geometri "a"


20 Kr, maka " a" : 4 dan gunakan persamaan 13.22/
Jika 0,1 Kr ( Kz < 20 Kr , tentukan ,,a,, dari Garnbrar 3.2 dan
gunakan persamaan /3-19/
Jika Kz ( 0,1 Kr, maka "a" : '1, pertimbangkan tanah homogen
dan gunakan persamaan /3.2O/"
Jika Kz

/3.231
s:

lnrD,

Dalam beberapa kasus nilai ',hr" sangat kecil sehingga dapat

berikut:

kemiringan talud (horizontal: vertikal).

9,!

BI(KD)h n Kr

atas perimeter basah "u,, untuk


drainase pipa, sedangkan untuk saluran drainase "u', dihitung sebagai

di mana, b: lebar dasar saluran; y: kedalaman air pada saluran;

q D,/K,

h,=h-hr=-9(-*

di

u:b+2yr/(S,+t)

h, -

Aplikasi persamaan Ernst sebagai formula spasing drainase


diberikan dengan 3 contoh yaitu untuk tanah homogen (Do < 114
L), untuk tanah 2 lapisan di mana batas lapisan berada di bawah
level drainase (Do < 't/4 L) dan untuk tanah dalam (deep soil] (Do

>

1/4 L).

Contoh 2:
Data pada Contoh 1, akan digunakan dengan tambahan dibuat suatu
galian (tench) dengan lebar 0.25 m (lihat Cambar 3.6b):

ro:0.1

Do:5m
h :0.6m

q : 0.002 m/hari
Kr : 0.8 m/hari

Karena tanah homogen, maka persamaan /3.20/ dan cambar 3.g


dapat digunakan:

0.25

Persamaan Drainose Kondisi Aliran

+ 4x0.1 :

Steodt
+..
tjii

0.65 m

r. i

:"'

45

Dcngan mengabaikan aliran vertikal, maka:

L'
L
0.002 L2
0.002 L .
h=.0.6=o
+_ln_
'8KlDr*o'ftK,lnDo=
u
8x0.8x5.30 n x 0.8

, -0.8 tJOSI+atx0.03x300
L>0,

maka

0.65

L:87.5 m. Hasil pengujian ternyata Do<114

L.

Kr Dr

Kr (Do

112

h)

0.8 x 5.30

300. Hubungkan titik ,KD dan h/q dengan garis


yang
lurus
memotong kurva untuk nilai "wr" sebagai berikut:

h/q

0.6/0.002

wr= 1 rnaDr- 1 rn 5 =o.g


nKr u nx0.8 0.65
(a:

1,

Dr: Do:5m)

=+terbacapadaarahvertikal

114 L

.2-O.O7S=1.125

Tahap 3.

3.8

x 3.0

10, tentukan "a"dari Cambar 3.7. DzlDo: 3.0/0.8


terbaca a:4;:(KD)n : Kr Dr + Kz Dz : A.2x1.4 + 2

Karena KzlKr

4.2 n'r2lhari

<

1'?ro'3
Qff =o?=o.or
=0.075 m

h'=h-hv

0.06

Penggunaan nomograf Cambar 3.8 adalah sebagai berikut:


E (KD)

hv =

-0.8+6.05

2 x 0.03

Karena

Tahap 1. Asumsikan Do
Tahap 2.

6.3 m2lhari

4Dr

oDo
4x0.8
|n
',,, In u = -J
fiKr u - nxK,
7rx0.2 1.35 =1.37harilm

wr = -|ln

h,=1.125=--9-!-* 1! lnuDt - 0'0t2 +0.01x.r.37L


B I(KD)h nKr u
8x6.3
'

+L

= 88m

Contoh 3:

atau 0.2 L2 + 1 3.7 L - 1125


maka didapat L = 48 m.

0, dengan menggunakan rumus ABC

Suatu tanah terdiri dari 2 lapisan yang berbeda. Lapisan atas


Kr : O.2 m/hari dan lapisan bawah Kz : 2 m/hari. Batas kedua
lapisan tersebut berada pada kedalaman 0.5 m di bawah dasar
saluran (Cambar 3.6d), tebal lapisan bawah sampai lapisan kedap Dz

: 3 m. Saluran drainase mempunyai lebar dasar 50 cm, dengan


talud 'l: 1 dan kedalaman air y : 30 cm. Hidrolik head dipasang
padah

:1.2 mdenganq:

10mm/hari.

Dari informasi di atas (lihat Cambar 3.6d):

: 1.2 m
: 0.01 m/hari
Kr : 0.2 m/hari
v:0.3m
h
q

46

Do:0.5+0.3:0.8m
Dr : 0.8 + 0.5 x1.2:1.4 m
Dz:3m
u : 0.5 + 2x0.32: 1.35 m
Teknik Drainose Bawah Permukaan

Gambar 3.7. Nomograf untuk menentukan faktor geometri na,


sebagai tahanan radial pada persamaan Ernst (van Beers, t 965)

Persornaan Droinase Kondisi Aliran Steady

47

Contoh 4: Data sepefti pada Contoh 3, kecuali Do

10 m.

Tahap 1:

too
290
2aO

homogen (persamaan 13.2Oh akan digunakan. Hal ini berarti lapisan


kedua, berapa pun tebalnya dan permeabilitasnya tidak berpengaruh
pada aliran ke pipa drainase. Asumsi Do ) 114 L ini harus diuji pada
ahir perhitungan.

?70

;';fut*'" s
(lorwlo Effitl

Tahap 2:

2ro

hv - 0.075; h'
O.2 x 10.6

1.125 m; Persamaanl3.2Oluntuka: 1, Kr Dr

21 m2lhari, Do

10 m dan

u:

1.35

200

reo

m,

r60
t70

menghasilkan:
aa

1.125_

0.0112

0.011

ln

lo
l.

10

2.1 xxO.2 1.35


l)ari persamaan tersebut didapat L : 24 rn. Dengan dernikian asurnsi
semula Do ) 1/4 L adalah sesuai, dan contoh ini dapat diperlakukan
Bx

a5?oraE

r50
IStl

lro

a,

r30

*>roo,
'
.5
ll

-?oo-L,66m
-u-?*Q!--c. ro,

-12

L. 2r f a.66 m
90

w->3:

sebagai tanah homogen"

' i 5-t!-2OOr-L.6Sm
lto-6_rool-L.6a m

ao

i.,iilai L tersebut akan diperoleh juga apabila menggunakarr Carnhar


"] {}. Karena Do : 0.8 m, maka kondisi Do < 114 L (aliran radial)
.l;n Dr + Dz ( 1/4 L (aliran horizontal) keduanya dipenuhi.

7A

60
50

.o
oDrl
rtl
it-r

.t"6 ru(}ffiS&RAF YANG BERI"AKU U&iffiIS

. rarltron
L
!'='ry...

r&

h.O

l;'"cg

30
aO F

20

to
o

memperhatilcan head loss karena aliran vertikal dan aliran hl:ii;*nt;rl


di atas level drainase, maka persamaan B.2A/dapat ditu!is:
h

q L2
= SKD.*9!tn!n
nK u

karena Dr

Do

Gambar 3.8. Nomograf untuk menentukan spasing drainase pada


persamaan Ernst, iika D0 < l 14 L
Persamaan Hooghoudt (persamaan /3.1 6h:

h-

48

Teknik Drainase Bawah Permukaon

qL'
BKd

Persomaon Drainase Kondisi Aliron Steody

49

c.btn$

Dengan menggabungkan kedua persamaan tersebut maka:

C:D

IN

.Do

A-

I+

8Do, Do
_ln_
nLu

di atas dapat disajikan


dalam bentuk grafik seperti pada Cambar 3.3. Nomograf pada
Gambar 3.3 mempunyai keuntungan bahwa d dapat ditentukan
untuk semua nilai ro atau u, sedangkan Tabel 3.'l hanya berlaku
Persamaan untuk kedalaman ekivalen

untuk satu nilai ro saja. Suatu contoh apabila Do/u sama dengan 15,
Do : 10 m dan L : 40 m, maka d :3.7 m.

Van Beers menggambarkan spasing drainase untuk tanah homogen


dengan pengabaian aliran di atas level drainase dan D

100

sebagai berikut:

L: Lo-C
di mana, Lo =

13.261

sKDh
q

; C=Dln9
u

Apabila Lo dibandingkan dengan persamaan Hooghoudt 13.161


maka Lo menggambarkan spasing drainase untuk aliran horizontal.
Untuk mempertimbangkan tahanan aliran radial maka dikurangi
dengan C. Hal ini merupakan perbedaan dengan persamaan
Hooghoudt di mana pengurangan D menjadi d (equivalent depth)
digunakan untuk memperhitungkan aliran radial. Untuk menghitung
nilai C, nomograf pada Cambar 3.9 dapat digunakan. Nomograf ini
mempunyai keuntungan karena dapat digunakan untuk menyelesaikan persaman tidak-steady dari Clover-Dumm.
Untuk menghitung nilai C, ambil nilai D tertentu pada sumbu
horizontal bawah. Dari titik tersebut tarik garis vertikal ke atas
sampai memotong kurva untuk nilai u tertentu, dan baca nilai C pada
sumbu vertikal.

50

Teknik Drainose Bowah Permukoan

6rO

.o

60 8()!oo
o

Cambar 3.9. Nomograf untuk menghitung nilai C pada persamaan


12.261, untuk berbagai nilai u

ceSgcr
Persamaan Drainase Kondisi Aliran Steady

51

PERSAMAAN DRAINASE
TIDAK STEADY

suatu daerah di mana recharge (pengisian) bersifat


(lfl^da
llV periodik (tidak kontinyu) atau dengan intensitas hujan yang
,l tinggi, maka asumsi recharge steady tidak dapat berlaku

lagi. Pada kondisi tersebut persamaan drainase untuk kondisi tidak


steady harus digunakan. Persamaan tidak-steady di mana recharge
sama dengan nol telah diuraikan seperti pada persamaan 12.12/ di
mana untuk satu arah (sumbu x) dapat ditulis sebagai berikut:

KD4= u4
0x' At

14.11

di mana:

transmisivity aquifer (m2lhari);


hidrolik head sebagai fungsi dari x dan t (m);
jarak horizontal dari titik acuan, misalnya saluran (m);
waktu (hari);

ruang pori drainase.

KD
h

4.7

PRINSIP PERSAIIAAN GI.OUER.DUTiliI

Dumm (1954) menggunakan penyelesaian persamaan /4."11


yang ditentukan oleh clover yang mengasumsikan muka air tanah
awal horizontal pada suatu ketinggian tertentu di atas level drainase.
Penyelesaiannya menerangkan penurunan muka air tanah (yang tidak
lagi horizontal) sebagai fungsi dari waktu, tempat, spasing drainase

Untuk ketinggian air tanah pada titik tengah antar saluran pada
waktu t, ht : h(1/2 1,0 maka x : 112 L, dimasukan pada persamaan
14.21 menghasilkan:

h,=1ho i 1"-n2at
7E n=1,3,5, O

14.31

dan sifat-sifat tanah. Muka air tanah awal horizontal dipertimbangkan


sebagai hasil dari kenaikan seketika (instantaneous) akibat dari hujan
atau irigasi, yang juga merupakan pengisian air tanah seketika.
Kemudian Dumm (1960) mengasumsikan muka air awal tidak datar
sima sekali, akan tetapi mempunyai bentuk parabota (pangkat 4)
yang menghasilkan rumus sedikit berbeda.
drainose

Cambar 4."1 di bawah ini merupakan kondisi sebelum dan


sesudah kenaikan muka air tanah secara horizontal. Kondisi awal dan
pembatas

di mana persamaan /4.1lharus diselesaikan adalah sebagai

berikut:
r

:
t)

0, h : R/p : ho,0 ( x ( L(initiathorizontal groundwater)


0, h : 0, x : 0, x : L (air pada saluran drainasetetap pada
level drainase)
Ri : pengisian sesaat per unit luas permukaan (m)
ho : ketinggian muka air tanah awal di atas level drainase (m)

tan

{<eolaP

Persamaan 14.21 dengan kondisi tersebut


oleh Carslaw dan Jaeger (1959):
h

,.

(x,t)- 4 ho

di mana: o -

54

i n"-n2crt sin
tr n=li,s,

nI*

di atas ditemukan
14.2/

n'KD
----- (faktor reaksi, hari ')
pt
-r

Teknik Drainase Bawah Permukaan

Gambar 4.1. Kondisi pembatas untuk persamaan Clover-Dumm


dengan water table awal horizontal.

Nilai-nilai term pada persamaan 14.3/ akan menurun dengan bertambahnya nilai n. Jika a ) 0,2, term yang kedua dan seterusnya
relatif kecil dan dapat diabaikan sehingga persamaan /4.3/ sekarang
menjadi:
A.

hr

: --6."-ot

14.41

1l

Persomaan Droinase Tidak Steady

55

Dengan asumsi muka air tanah awal mempunyai bentuk


parabola maka persamaan /4.4/ berubah menjadi persamaan
/4.5/
(Dumm, 1960):

II.2

APUI(ASI PENSAftIAAN GLOUEN.DUITIITI


Persamaan Clover-Dumm sering digunakan untuk menghitung

spasing drainase pada daerah irigasi. Untuk


ht = 1.16ho e-"t

/4.s1

Perbedaan antara persamaan /1.4/ dengan r4.5/ hanyarah


perubahan faktor bentuk (shape factor) dari 4/n :
1.27 menjadi
1.16. Dengan substitusi nirai

o="'\?
pf

pada persa maan

/4.5/

dan

selesaikan untuk nilai L, maka:

/4.6/

'="[T)'''(,n,;,.*)

Karena persamaan Grover-Dumm tidak memperhitungkan


tahanan aliran radial menuju pipa yang tidak sampai
menembus ke
lapisan kedap, maka tebar aquifer D sering diganti dengan
nirai
kedalaman ekivalen od" dari Hooghoudt. sehingga persamaan
/4.2/
menjadi:
=

r'K

lil

(hari-l)

14.7/

dan persam aan lq.6/ menjadi:

'-="(+)"'[,n,

,u+)-"'

/4.8t

Persamaan ini disebut sebagai persamaan Modifikasi


Glover-Dumm.

56

rakteristik tanah K, D dan /, geometri drainase dan kriteria drainase.


Dibandingkan dengan persamaan drainase steady-state, persamaan
Clover-Dumm memerlukan kriteria penurunan air tanah dalam
jangka waktu tertentu (hJh, selain dari kriteria elevasi muka air tanah
dan drscharge. Perhitungan spasing drainase L dari persamaan /4.8/

rrremerlukan metoda coba dan ralat, sebab kedalaman ekivalen d : f


(L,D,7t) sehingga nilai L tidak dapat diberikan secara eksplisit.
Dengan bantuan Nomograf pada Cambar 3.9 prosedur coba-ralat

dapat dihindarkan.

Contoh 5:

Persamaan ini disebut sebagai persamaan Clover_Dumm.

cr

itu diperlukan data ka-

Teknik Drainase Bawah permukaan

Air irigasi diberikan setiap '10 hari. Kehilangan air terjadi karena perkolasi ke zone air tanah adalah 25 mm yang merupakan
pengisian seketika, Ri : 0.025 m. Dengan porositas efektif p : 0.05
maka pengisian menyebabkan kenaikan muka air tanah sebesar
h : R/p : 0.5 m. Maksimum tinggi muka air tanah yang diijinkan
adalah 1 m di bawah permukaan tanah. Level drainase dipilih 1.8 m

dari permukaan tanah, sehingga h. : 1.8 - 1.0 : 0.8 m. Muka air


tanah harus diturunkan sebesar Ah 0.5 m, selama 10 hari
berikutnya di mana air irigasi akan diberikan lagi- Hro : ho - Ah :
0.8 - 0.5 : 0.3 m. Jika kedalaman sampai lapisan kedap : 9.5 m
dari permukaan tanah dengan K : 1 m/hari dan jari-jari pipa 10 cm,
hitung spasing drainase?
Dari inforrnasi di atas kita mendapat data sebagai berikut:

K : 1.0 m/hari; hro : 0.3 m; D :7.7 m; t : 10 hari; p -- O.O5;


ro = 0.1 m; ho : 0.8 m. Dengan menggunakan persamaan /4-8/:

Persamaan Drainase Tidok SteadY

57

r0)"'[,n,.r
= fKdt''1"'1,,n,.., u!g')-"' -"[-o.os
=,, ['r.0
'-"[uJ[""''"h;.J
)(
*d*

u.aJA

0.8)-"'

os)

DKAINASE

meter

BAIIIIATI PEBNII,JKAAN

Coba 1:

: B0 m, dari Cambar3.3, dengan D/u : Dl(nro) : 7.V/(n x 0.1)


:25;D :7.7 m;-+ maka d : 4.4 m. Substitusi L : +t.A{ 4.4 :
BB m ) B0 m, maka L harus diduga lebih besar dari BB m.
L

Coba 2:

L:100m,dariGambar2.3:d:4.Bm,L:41.Bi4.B:92m<
100 m. ladi L harus diduga lebih kecil dari 92 m.

Coba 3:

90 m, dari Gambar 3.3: d : 4.7 m; L : 41.814.7: 90 m.


Karena L dugaan sama dengan hitungan, maka spasing drainase

adalah 90 m.

Penyelesaian dengan Nomograf pada Cambar


sebagai berikut:

3.9

adalah

Hitung persamaan 14.6/ untuk Lo, yang menggambarkan aliran


horizontal untuk tidak-steady:

, _ n(

t .o

0.0s /\

Tentukan

xt .t xto)"'[,n

1.16

99) :116
o.3

meter

D ln (D/u) dari Gambar 3.9 dengan mengambil titik

D :7.7 m pada sumbu bawah. Dengan menarik


atas memotong kurva

vertikal bahwa C

7r

ro

25m. Maka: L

garis vertikal ke
0.3 m, dapat dibaca pada sumbu

Lo-C

1O-25

: 9t m.

(ia616-)

58

Teknik Drainase Bawah Permukaan

5.'

DRAIilASE LAPAI{GAN

rainase lapang (field drainage) adalah suatu sistem yang


menerima air lebih langsung dari lahan pertanian dan
menyalurkannya ke sistem drainase utama yang membuang air dari areal lahan pertanian. Sistem drainase utama harus
memberikan suatu outlet yang bebas dan dapat diandalkan bagi
pengeluaran air dari drainase lapang. Dalam suatu sistem drainase
bawah-tanah dapat dibedakan tiga kategori drainase yakni lateral,
kolektor, dan drainase utama. Lateral biasa disebut juga drainase
lapang (fietd drains), farm drains atau suction drains berfungsi selain
untuk mengendalikan fluktuasi kedalaman air tanah di lahan per-

tanian juga berfungsi sebagai pengumpul aliran permukaan. Dari


lateral air mengalir ke kolektor yang mengangkutnya ke drainase
utama.
Sistem drainase lapang dapat terdiri dari:
Drainase terbuka dengan Parit
Drainase mole, yakni lubang bawah-tanah

Drainase pipa, terbuat dari tanah liat, beton, atau plastik yang
ditanam di bawah tanah.

Apabila pipa-pipa lateral berakhir pada parit koiektor, rnaka


sistem tersebut cjisebut sebagai sistem drainase pipa singular. Apabila
kolektor juga terbuat dari pipa maka sistem tersebut disebut sistem
drainase pipa komposit" Beberapa tipe penyusunan baik drainase
pipa maupun drainase parit dapat dilihat pada Cambar 5.1.

DBAI}IASE PAN]T

'.,
5.2.1 Prinsip dan Rancangan
Dibandingkan dengan drainase pipa, drainase parit mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian antara lain:

Keuntungan:
Selain untuk rnembuang airtanah juga dapat berfungsi untuk
membuang air permukaan
Kemiringan saluran untuk mengalirkan air biasanya lebih kecil
daripada kemiringan yang diperlukan pada drainase pipa'
Umumnya untuk parit kemiringannya adalah sekitar 0-01o/o,

r
I

lr

ls

sedangkan untuk pipa sekitar 0.1%.

II

Memudahkan dalam pengawasan dan pemeliharaan.

ls

I
I

Kerugian:
Akan terjadi lahan yang tidak dapat diusahakan untuk pertanian
karena adanya parit
Pertumbuhan gulma dan pengendapan menyebabkan mahalnya

o
drannage leteral

biaya pemeliharaan

drainacc kolektor

Lahan yang terpisah dengan adanya parit-parit, menyebabkan


sukarnya pengoperasian alat-alat mekanis.

W??V41*1.^
Tcrta.ian
-tipd

-piga

Daeil clatnc^rc \a'tc"l

"::-"":-

Part cl..aira* kolcktar


oarit clraimCe aaiuL

A. Sistim drainase pipa singular


B. Sistim drainase pipa komposit

C. Sistim drainase saluran terbuka kornposit

Gambar 5.1. Beberapa penyusunan sistern drainase pipa dan saluran


terbuka

Umumnya di daerah datar sistem drainase menggunakan pipa


sebagai lateral dan parit sebagai kolektor. Sedangkan di daerah berlereng seluruh sistem drainase lapang baik lateral maupun kolektor
terbuat dari pipa (sistem drainase pipa komposit).
Akan tetapi dalam situasi berikut ini biasanya parit lebih sesuai
untuk digunakan sebagai lateral:

Apabila muka air tanah dapat dikendalikan dengan spasing


lateral yang cukup lebar, sehingga petakan lahan yang terbentuk
cukup luas tidak mengurangi efisiensi pemakaian alat mekanis.

60

Teknik Droinase Bawah Permukoon

Dr ai

nase Bawah Pe rmukaan

61

Situasi

ini

kemungkinan dapat terjadi pada tanah dengan

hantaran hrdrolik tinggr

Apabila drainase harus juga mampu mengangkut air permukaan,


misalnya pada tanah dengan laju infiltrasi rendah atau di daerah
dengan intensitas hujan yang tinggi

Apabila diinginkan percepatan proses pematangan pada tanah


aluvial, yang baru direklamasi
Apabila hanya diinginkan muka air tanah yang dangkal, misalnya
untuk padang rumput atau tanah gambut.l

singular, spasing parit biasanya antara 200 - 500 m. Elevasi muka air
tli parit kolektor harus dipertahankan pada suatu kedalaman di
bawah outlet dari pipa drainase (lateral).

Dimensi Parit
Perhitungan dimensi parit mengikuti rancangan saluran tidak
berlapis dengan mengetahui parameter seperti elevasi muka air yang
diinginkan, kapasitas debit dan tipe tanah. Kadang-kadang perhitungan dimensi parit menghasilkan suatu dimensi yang terlalu kecil
sehingga dari segi konstruksi dan pemeliharaan sulit dikerjakan. Oleh

karena itu biasanya ada suatu dimensi minimum yang ditinjau dari
segi konstruksi dan pemeliharaan masih memungkinkan. Di Belanda
dimensi tersebut seperti pada Gambar 5.3.

Lokasi
Lokasi drainase parit dipengaruhi oleh berbagai faktor, suatu
kolektor sering digunakan juga sebagai pembatas antara pemilikan
lahan. Akan tetapi apabila memungkinkan parit kolektor tersebut
harus ditempatkan pada bagian terendah. Sehingga dengan demikian
drainase bawah tanah dapat berfungsi dengan baik dan penggalian
Gambar 5.2. Out/et dari pipa lateral ke saluran kolektor (srstem
drai nase p i pa si ngu I ar)

dilakukan dengan seminimum mungkin. Lebih lanjut parit kolektor


tersebut juga berfungsi sebagai outlet untuk aliran permukaan yang
cenderung berakumulasi pada cekungan.

Spasing dan kedalaman

Apabila parit digunakan sebagai lateral, rnaka

perhiiungan

spasing dan kedalaman telah diberikan pada bab terdahulu. Ljntuk


ko[ektor, spasing ditentukan oleh ukr-rran Iahan atau panjang mak-

simum pipa drainase. Pada lahan datar dengan sistern pipa drainase

62

Muka air tanah terlalu dalam pada tanah gambut akan menyebabkan kekeringan
dan
mudah terbakar

Teknik Drainase Bawoh permukoon

Gambar 5.3. Penampang parit sebagai kolektor

Drainase Bawah

Pe

rmukaon

63

Keterangan:
b: lebar dasar 0.5 m; y: kedalaman; elevasi dasar saluran sekitar 0.4 0.5 m di bawah pengeluaran pipa drainase, sehingga total kedalaman (Do) sekitar 1.40-1.80 m, kemiringan talud (vertikal: horizontal)
biasanya 'l: 7a untuk tanah liat sedang untuk tanah berpasir 1: 1 atau
1: 1.5.; p: talud (vertikal: horizontal)

5.2.2

ini berfungsi sebagai suatu pedoman dalam penggalian selanjutnya.


Apabila bekerja dengan hydraulic excavator penggalian areal
tersebut biasanya tidak diperlukan. Dalam hal ini penandaan dengan
kapur bubuk dilakukan sepanjang garis Pr Pz Pz dan Qz Qz Qr.
Metode lainnya adalah dengan merentangkan tali pada puncak patok
A sepanjang garis Ar Az Ar (dalam Cambar S.a). Jika "bucket'
menyentuh tali maka profil saluran yang sedang digali sudah benar.

Konstruksi

Penandaan lokasi parit

Caris pusat rencana parit ditandai dengan patok-patok di mana


puncak patok menunjukkan elevasi tanggul di atas dasar saluran
(Gambar 5.4). Lebar parit ditunjukkan dengan patok A dan B yang
ditempatkan pada elevasi yang sama dengan C. Jarak antara A dan B
adalah sedemikian rupa sehingga perpanjangan kemiringan talud
memotong puncak tanggul di kedua titik tersebut. Titik p dan e di

?, i,

J,_

mana kemiringan talud dimulai, dapat diukur dari patok A dan B


berdasarkan sudut kemiringan talud. Jarak P - Q ini akan bertambah
dengan semakin tingginya elevasi lahan, sehingga pada lahan
bergelombang lebar P-Q akan bervariasi banyak.

1----1----t

Penggalian

-'i--

lrli
lrl'
t

ltl,
l:ll
lll,

Parit dapat digali dengan berbagai metode antara lain:


Dengan tenaga manusia

Dengan 'dragline" biasanya digunakan pada saluran utama

bucket" yang mempunyai bentuk sesuai dengan bentuk saluran


yang akan digali.
Apabila penggalian akan dilakukan secara manual atau dengan
drag,line, suatu penggalian pertama sedalam sekitar 20 cm dibuat
sesuai dengan kemiringan talud sepanjang saluran. penggalian areal

64

Teknik Droinase Bawoh Permukoan

PqdaPqY13

nrt'rta*9

;,.

d. 1..
- ?---

lil:- -f rlg
l:1,
Iril
I ...rJ *^,,

-1"'-

Hydraulic excavators, biasanya dilengkapi dengan,,profile

11_

-rcr-

Gambar 5.4, Penandaan alignment pada saluran terbuka

Drainase Bawoh Permukaan

65

Tanah galian harus dibuang cukup jauh dari saluran yang telah

digali yang kemudian digunakan untuk mengisi lahan-lahan yang


Iebih rendah. Apabila tanah gaiian ditumpuk didekat parit yang telah
digali maka akan berakibat tanah galian tersebut akan mudah tercuci
oleh hujan dan masuk kembali ke dalam parit, berat clari tumpukan
tanah galian akan menyebabkan runtuhnya talud yang telah dibuat,
pelaksanaan pemeliharaan saluran akan lebih sulit karena alat yang
bergerak di puncak tanggul harus menjangkau dasar saluran lebih

celah dan retakan-retakan yang terbentuk dalarn pembuatan mole


(Cambar 5.5).

Umumnya efektifitas drainase rnole ditentukan oleh berbagai


faktor antara lain:
Sifat tanah yang menentukan stabilitas tanah

Kondisi kelembaban tanah selama konstruksi alat dan metode


konstruksi yang digunakan
Kecepatan aliran air dalam saluran mole

dalam.

Laju perrgendapan pada mole.

5.1.1. Pemeliharaan
Pemeliharaan saluran dilakukan terhadap pertumbuhan gulma

dan penumpukan endapan. Culma dan endapan menyebabkan


aliran air di saluran kolektor menjadi lebih lambat dan kemungkinan
dapat menyebabkan elevasi muka air berada di atas elevasi outlet
pipa lateral sehingga efektivitas drainase pipa lateral akan berkurang.
Pemeliharaan saluran dapat dilakukan secara manual atau dengan
mesin pembabad rumput2.

5.3

DNAIilASE IIIOLE

5.3.1

Prinsip dan Rancangan

Mole adalah lubang saluran dalam tanah yang dibuat dengan


suatu alat mole plough tanpa adanya galian. Metode ini umumnya
cocok untuk tanah liat berat dengan konduktivitas lambat. Tujuan
utamanya bukan untuk mengendalikan kedalaman air tanah yang
biasanya sudah cukup dalam, akan tetapi untuk membuang kelebihan air dari permukaan lahan atau dari lapisan olah yang semula
membentuk suatu perched water table. Air mengalir ke mole melalui

Kondisi tanah dan kesesuaian lapang


Tanah harus mempunyai plastisitas tertentu supaya saluran
mole dapat dibentuk dan harus cukup stabil supaya dapat bertahan
cukup lama. Menurut (Theobald, t963) kandungan Iiat minimum
yang diperlukan adalah antara 25n1. - 50%; kandungan pasir tidak
Iebih dari 20%. Metode praktis untuk menguji kesesuaian tanah
adalah sebagai berikut:

suatu contoh tanah dibentuk suatu bola dengan diameter sekitar 20


cm dan ditempatkan pada suatu wadah berisi air sehingga bola
tanah tersebut terbenam. Apabila sesudah beberapa hari contoh
tanah tersebut tidak hancur maka hal tersebut merupakan suatu
indikasi bahwa drainase mole sesuai di daerah tersebut.

Tapografi

ini umumnya hanya dapat ditarik


sejajar dengan permukaan laharr maka lahan harus mempunyai
Iereng yang seragam searah dengan lokasi outlet. pada lahan yang
datar atau topografi bergelombang metode ini biasanya kurang
Karena mesin pembuat mole

sesuai.

Di

Belanda secara manual dulu menggunakan rantai sabit yang ditarik oleh dua orang

masing-masing dari tepi saluran

56

Teknik Drainase Bawah Permukaan

Drainase Bawah Permukoan

67

Rancangan
Setiap saluran mole mengangkut air ke suatu saluran terbuka.
Untuk mencegah penyumbatan pada outlet tersebut, biasanya pada 2
atau 3 m dari outlet saluran mole tersebut harus dilengkapi dengan

pipa. Sering kali drainase pipa digunakan sebagai kolektor untuk


mengangkut air dari saluran mole. Pada situasi ini drainase pipa
(kolektor) pertama kali dipasang pada kedalaman sekitar 20 - 30 cm
lebih dalam dari mole. Kemudian suatu galian (trench) diurug
dengan bahan porous (urnumnya kerikil). Air dari saluran mole akan
merembes melalui urugan dan masuk ke pipa kolektor (Cambar 5.6).
Gambar 5.7. Mole plaugh

Beberapa petunjuk dalam rancangan saluran mole adalah


sebagai berikut:
Spasing: untuk menjamin terbentuknya retakan

di seluruh

areal,

umumnya spasing antara 2 sampai 5 m


(I.an

.mo

Kedalaman: saluran mole harus cukup terlindung dari pengaruh


beban mesin-mesin berat. Semakin dalam mole tersebut semakin

le

Gambar 5.5. Drainase mole: retakan yang terbentuk dan traktor


penarik mole

terlindung, tetapi di lain pihak biaya instalasi juga semakin


mahal. Dalam praktik biasanya kedalaman mole antara 45 cm
sampai 60 cm

Cradient atau kerniringan: kemiringan minimum antara 0.5 sampai 1% dan maksimum antara 4 - 7"1o. Karena umumnya mesin
pembuat saluran mole tersebut hanya dapat menarik se.iajar
dengan permukaan lahan, maka kemungkinan tersebut di atas
akan menentukan arah mole sesuai dengan kemiringan lahan
yang ada
Panjang saluran mole: dalam kondisi yang memungkinkan panjang saluran mole dapat mencapai sejauh 200 m.

Gambar 5.6. Cabungan mole dengan pipa drainase.

58

Teknik Droinase Bawah Permukaon

Drainose Bawah Permukoan

69

5.3.2

Konstruksi

5.4.2

Mesin
Bagian-bagian umum dari suatu mole plough adalah suatu
silinder baja berujung tajam dengan diameter antara 5 - 10 cm yang
biasanya di bagian belakang dilengkapi dengan suatu expander
dengan diameter sedikit lebih besar dari mole (Cambar 5.6). Mole
tersebut ditarik oleh suatu penyangga (blade) yang dihubungkan
dengan tenaga penarik (traktor) melalui suatu beam. panjang beam
biasanya sekitar 3 meter.

Kondisi kerja selama konstruksi

Hal yang penting adalah kondisi kelembaban ranah

pada

waktu konstruksi harus cukup lembab. Apabila terlalu basah, saluran


mole terbentuk tanpa adanya celah-celah atau retakan-retakan yang
diperlukan. Apabila terlalu kering retakan-retakan sekitar saluran

Spasing dan kedalaman lateral

Dasar teori dalam penentuan spasing dan kedalaman lateral


telah diuraikan dalam Bab terdahulu. secara teoritis semakin dalam
pemasangan pipa, maka semakin lebar spasing antar pipa. Akan

tetapi dalam praktik ada beberapa pembatas dalam

penentuan

kedalaman pipa yang dipasang yaitu:


Elevasi muka air yang dipertahankan pada saluran kolektor.

Terdapatnya lapisan tanah yang kurang sesuai yaitu dapat berupa


lapisan kedap pada kedalaman yang dangkal dari permukaan
tanah
Kedalaman yang dapat dicapai oleh mesin yang tersedia.

Apabila hantaran hidrolik lapisan tanah yang di bawah jauh


lebih besar dari lapisan di atasnya, sehingga pemasangan pipa

mole akan menyebabkan mole yang terbentuk mudah runtuh

drainase pada lapisan dalam menyebabkan sedikit pengaruhnya


terhadap penurunan muka air tanah di atasnya. Hal ini disebab-

kembali. lnformasi yang tepat tentang kelembaban tanah yang paring


sesuai sukar untuk ditentukan. Hal ini akan didapatkan dengan

kan karena sebagian air yang masuk ke dalam pipa dr.ainase


berasal dari lapisan di bawahnya.

mencobanya

di lapangan.

Perhitungan spasing pipa berdasarkan nilai hantaran hidrorik


tanah akan menghasilkan spasing yang bervariasi di seluruh arear.
Dalam praktiknya seluruh areal dibagi menjadi beberapa btok de-

5.4

RANCAI{GAil DRAI]{ASE PIPA


5.4.1 Pendahuluan

Dalam rancangan drainase pipa hal-hal

di bawah ini harus

ditentukan:
Spasing dan kedalaman lateral yang merupakan faktor utama
dalam pengendalian muka air tanah
Diameter dan kemiringan pipa lateral dan kolektor
Tata letak lateral dan kolektor, harus disesuaikan dengan kondisi
topografi.

ngan spasing yang sama dan angka-angka spasing hasil perhitungan


dibulatkan ke nilai spasing baku. Biasanya nilai spasing baku adalah
10 m, 1 5 m, 20 m, 25 m,30 m, 40 m,50 m, dan seterusnya.

5.4.3

Diameter dan Gradient (Rancangan Hidrolik)

Rancangan hidrolik drainase di bawah tanah bertujuan untuk


menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut:
Berapa luas areal yang dapat didrainasekan oleh suatu pipa de-

ngan diameter tertentu, pada kemiringan tertentu dengan mengasumsikan koefisien drainase tertentu pula?
70

Teknik Drainase Bawah Permukaan

Droi nase Bawah Permukaan

71

Berapa diameter pipa untuk rranjang pipa, kemiringan, spasing

dan koefisien drainase tertentu?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut harus dipelajari

be-

suatu percobaan. Cambar 5.7 merupakan plotting antara l" derrgan


bilangan Reynold pada kertas grafik logaritmik ganda. Bilangan
Reynold didefi nisikan sebagai

berapa hal, yakni:

Re=

Persamaan dasar aliran seragam untuk berbagai


drainase (pipa tanah atau pipa plastik dan lain-lain).
Persamaan aliran pada situasi tidak seragam (non

tipe

uniform flow).

Suatu pipa drainase yang terdiri dari diameter yang bertambah


pada arah aliran air.
Persamaan Aliran Seragam
persamaan

umum adalah

persamaan dari Darcy-Weisbach:3

di mana, v: viscositas kinematik cairan, untulk air pada suhu 100 C


besarnya v : 1.31 x 10-6 m2ldetik. Untuk pipa halus (pipa tanah liat
dan pipa plastik) telah didapatkan suatu hubungan antara l, dengan
Re sebagai berikut (Wesseling dan Homm

Treude, 1964).

percepatan gravitasi 1m/dt'?);

]"

faktor tahanan.

o=*,

72

ls.4l

Substitusi persamaan /5.2/, /5.3/ dan

/5.4lke dalam

persamaan /5.1/:

i-1:26,3x10-a a qr'ts 6-+ls

15.5a/

Q = 3o

ls.sbl

atau

Faktor tahanan 1. tergantung pada tipe aliran (laminer atau


turbulen) dan kekasaran dinding (kr) dan harus ditentukan melalui

suatu garis lurus karena

adanya ketidaktentuan yang terisolasi (misalnya sambungan pipa,


lubang-lubang pada pipa). Untuk aliran penuh dalam pipa, debit

15.'..1

kehilangan hydraulic head (m);


panjang pipa (m);

ls.3l

)" = a Re{'2s

Di mana:

diameter dalam (m);


kecepatan aliran (m/dt);

a, "1967; Blashyz, 1965 dan

dapat dinyatakan:

. z IV2
' x d2g

ls.2l

di mana, a: suatu pengukur perubahan dari

Untuk aliran penuh dalam pipa

vd

pipa

Faktor pengaman (safety factor) untuk menanggulangi kemungkinan penurunan kapasitas karena sedimentasi.

62'71 io's7

^a's7
Untuk pipa halus pada kondisi lapang, nilai a : 0.40 (Segeren
dan Zuidema, 1966). Untuk pipa plastik bergelombang (corrugated)
tidak terdapat hubungan yang langsung antara l, dan R". Wesseling
dan Homma (1967) menyatakan bahwa aliran ini dapat diterangkan
dengan memuaskan oleh rumus Manning:

Lihot Mekanika Fluida

Ieknik Drainase Bawah Permukoan

Drai nase Bowoh

Pe

rmukaan

73

V = k- g2t3 itt2

ls.6l

Manning); R: jari-jari hidrolik

y4

d untuk aliran penuh.

Dengan mengubah persamaan 15.61 sesuai dengan format pada


persamaan /5.5/ maka:
i

.l0.25

k,-2 qz 6-s'I

l5.7al

atau

Q = 0.312 km d2'67 i0's0

ls.7bl

Persamaan 15.51 dan /5.71 digambarkan secara grafis pada Cambar


5.8. Persamaan aliran seragam dalam pipa dapat dinyatakan dengan
persamaan umum:

i= c d-"

15.Bal

QP

atau

Q = c-llF ddl9

iltl

di mana untuk pipa halus c :

ls.Bbl
0.001 O7, a :4.745 dan p :

1.748, sehingga:
Q = 50

d2'741 io's72

sedangkan untuk pipa plastik bergelombang (corrugated):

0.002066,

Q = 22 62'6ot

a :5.334 dan 9 : 2, sehingga

io's

Gambar 5.8. Hubungan antara faktor tahanan 0.) dengan bilangan


Reyno/d (Re).
Persamaan aliran tidak seragam (non-uniform flow)

Suatu pipa drainase menyedot air di seluruh panjang pipa


tersebut, dengan demikian Q akan bertambah secara bertahap dari Q
: 0 pada sebelah hulu sampai Q : q B L pada outflow. Di mana q:
spesific discharge (m/dt); B: lebar areal lahan yang didrainasekan
oleh pipa tersebut (m) : spasing drainase; L: panjang pipa drainase
(m).

Tipe aliran ini disebut sebagai aliran tidak seragam (nonuniform flow). Karena debit aliran bertambah secara bertahap
sepanjang arah aliran, maka hydraulic gradient juga bertambah
(Cambar 5.9). Aliran dalam pipa diasumsikan penuh dan diletakkan
horizontal (pada pembahasan selanjutnya akan dibahas untuk pipa
miring).

74

Teknik Drainase Bawah Permukaan

Droi nase Bowah Permukaan

75

seragam (Cambar 5.13)" Pada ujung sebelah

Laju aliran Qx pada suatu jarak x dari sebelah hulu (Cambar

kedua aliran tersebut akan sama.

5.9) adalah sama dengan:

Untuk gradient yang sama, debit pada aliran tidak

Q,:qBx

15.9/

Substitusi persamaan

i=+=c
dx\

15.91

d-o (qs)P

*P

/s.'tot

O untuk

x:

O; z

H untuk x

L; integrasi persamaan 15.1Ol memberikan:

d-" (qBf f.l


+.
0+1

ls.'t1/

=H
t=
-L

uniform

* = Or57

seragam

,75 kali debit pada aliran seragam, atau

ls.14l

Qnon-uniform

Pipa Drainase Miring


Persamaan pada Tabel 5.1 berlaku untuk aliran penuh dalam

pipa horizontal, hydraulic gradient adalah merupakan juga kurva


potensiometrik (Gambar 5.10). Apabila pipa drainase diletakan
dengan kemiringan tertentu, situasi aliran tetap tidak berubah bila
kemiringan tidak lebih dari rata-rata gradient (Cambar 5.14).

Prosedur Rancangan

dengan memperkenalkan suatu istilah rata-rata hidrolik gradient


15.121

dan mengingat QL : q B L adalah total debit dari pipa tersebut, maka


persamaan 15.11 / dapat diubah menjadi

i=l=+.d-"
L 0+1

adalah ( F + 1)0's

ke persamaan 15.8a/ memberikan:

dengan menggunakan kondisi:z

hilir, gradient dari

Dalam praktik rancangan, kemiringan pipa pertama kali diduga


dengan suatu syarat bahwa pada debit rencana tidak akan terjadi
tekanan lebih pada sebelah hulu (kemiringan pipa sama dengan rata-

rata hidraulik gradient). Dengan demikian aliran pipa diasumsikan


penuh pada seluruh panjang pipa dengan kata lain pipa berada pada
kondisi kapasitas maksimum.

/5.13a1

eLo

Tabel 5.1 merupakan ringkasan aliran penuh dalam pipa.

atau
QL =

gL

=(P+1I/P r-tlF 6a/B irlo

nilai c, cr dan B untuk pipa halus dan corrugated dapat dimasukkan


ke persamaan 15.131. Secara grafik persamaan tersebut dapat
digambarkan seperti pada Gambar 5.1'l dan Gambar 5.12.
Apabila dibandingkan antara persamaan aliran tidak seragam
(persamaan 5.13)dengan aliran seragam (persamaan 5.8) maka:
Pada outflow yang sama, rata-rata gradient

seragam hanya 1l(fl+1)

76

Tabel 5.1. Ringkasan persamaan aliran berlaku untuk


aliran penuh dalam pipa

ls.13bl

Persamaan Umum:

i=

!
x

=c.d-oqF

Q = c-rlpdo/Pir/P

I c.d-oO,F
I=!=
L B+1 -'
q,

= qBL = (B+ t)/F6-ttP6at$ftP

untuk aliran tidak


113 dari gradient i untuk aliran

Teknik Drainase Bawah Permukoan

Drai nase Bawah Permukaon

77

Aliran seragam (transport)

Aliran tak-seragam (dewatering)

a = 4,75

- LX -

1 = 9,57 xloa

26,3 x 1 o-4 a.d'4,75e1'7s

a da'7sqr1'75

^a's7262'71aio's72

fiqld

dsimr*ao

PrPEs

hydroulic Arodjent
(

o/o)

r.oo
o.50

6,2'71aio's72
o.20

30

untuk a

Qr = 53,4
QL = 89

9 = 1,75

sMoorH

Pipa Halus:

,P&ibtLtftutr

^-o,57262,71aio,s72

o.10

O,4O

: 50 62'71aio's72

oo5

Pipa Bergelombang:

o = 5,333
i = 1o,25 k.-26-s':rqz

9=2
Q = 0,312
Untuk

krd2'66710's

k,: 70

i = 3,413 kr-2d-s'::Olz
Qr = 0,54
Qr = 38

op2
--t

6,2'667i0's

..a

ts"r,..1
20 50 r@ 2OO
73o/o*

krd2'667i0's

,,.r.

'ta...,,r,,--

5OO 10@ aOOO

5OOO TOOOO2OOOO

dirchorge (m3rdoy,

coneuoarEo PrPEs

hyd.oullc grodicnt

lotol

Q = 22 6,2'667io's

Faktor Pengaman
Pada kenyataannya kemungkinan besar akan terjadi pengurangan
kapasitas drainase pipa sebagai akibat dari pengendapan ataupun
pelurusan yang kurang baik. Dengan demikian suatu faktor
pengaman tertentu harus diambil dalam rancangan. Nilainya akan
sangat tergantung pada kualitas pekerjaan instalasi, dugaan laju
pengendapan dan intensitas pemeliharaan yang direncanakan. Pada
Gambar 5.1'l dan 5.12, dua alternatif diberikan yaitu pengurangan
kapasitas 75olo dan 60%. Pengurangan kapasitas yang lebih rendah

(75'1") direkomendasikan untuk diameter pipa yang lebih besar


khususnya pada pipa kolektor yang tidak secara langsung mengambil

AI

B:

untuk pipa hatus; pcr* Wesseling : Q * 50 d?-a{ i05z


untuk pipa gelombang; pers. Manning: Q * 22 de667 ioj

air dari tanah.


Gambar 5.9. Diagram untuk penentuan kapasitas pipa

78

Teknik Drainase Bawoh Permukaan

Drai nase Bowah Permukaan

79

SMOOTH

Cambar 5.10. Kehilangan energi (z-) pada aliran penuh pipa drainase
sebagai {ungsi dari jarak (x) dan kurva potensiometrik yang
dihasilkan

Gambar 5.12. Diagram untuk menentukan kapasitas pipa halus,


dewatering, aliran penuh berdasarkan persaman dari Wesseling:
Gambar S.I X. Foten siametrik yang terbentuk akibat
dari tekanan lebih pada pipa drainase horizontal.

8A

Teknik Droinase Bawah Permukaan

QL = e.A = q.B.L = 89

Droinase Bawah Permukaon

d2'714i0's72

81

?XiJio"

hYdroulic arodient

CORRUGATED

, H*m:.1i]&xs*
Gambar 5.14. Cradien hidrolik pada aliran penuh, pipa
h o r i zo ntal u ntu k al i r an se r agam d an t'ak-se r agam

Gambar 5.15. Kemi ringan pipa drainase Yang berbeda dalam


hubungannya dengan gradient hidraulik
dischorg6 ( m3/doy)

Gambar 5.13. Diagram untuk menentukan kapasitas pipa


bergelombang, dewatering, aliran penuh berdasarkan persaman dari

Manning: QL = Q.A = q.B.L = 38

82

d2'667i0,s

Teknik Droinase Bowah Permukaan

Untuk pipa lateral khususnya dengan diameter yang lebih kecil


reduksi 60o/o direkomendasikan. Masalah-masalah praktis seperti di
bawah ini dapat diselesaikan dengan bantuan Nomogram yakni:
Penentuan diameter pipa yang diperlukan untuk kasus yang
diberikan

Drainase Bawah Permukoan

83

Penentuan luas areal maksimum yang dapat dilayani oleh pipa


drainase dengan diameter tertentu
Pada kondisi yang diberikan dapat ditetukan apakah tekanan
lebih akan terjadi pada ujung sebelah hulu dan kalau ya sampai
berapa jauh pengaruhnya?

Pertanyaan:
Tentukan panjang maksimum pipa kolektor apabila pipa beton
akan digunakan dengan diameter dalam 20, 25 dan 30 cm
(asumsikan diameter yang sama digunakan untuk seluruh pipa)

lawab:

q : 5 mm/hari.

Contoh 6:

i:

Suatu rancangan drainase adalah sebagai berikut: spasing


30 m, panjang pipa 200 m, slope 0.10%, koefisien drainase 7

adalah sebagai berikut:

0.05%;

corrugated

19

Luas drainase (ha)

60%.

Berapa diameter pipa untuk (a) pipa halus dan (b) pipa plastik

20

Diameter pipa (cm)

mm/hari. Sebagai faktor pengaman digunakan pengurangan kapasitas

Pertanyaan:

Dari Cambar 5.11 Luas areal drainase

sB

adalah:

Panjang maksimum (m)

Luas areal drainase yang dilayani oleh satu pipa adalah 30 x 200 m2

20
380

25
700

30
1160

Contoh B:

0.6 ha
Untuk pipa halus: dari Cambar 5.11, didapatkan diametdr antara
5 - 6 cm, diameter terbesar kita pilih yakni 6 cm
Untuk pipa plastik corrugated: Dari Cambar 5.12, didapatkan
diameter antara 6 - 7 cm, maka dipilih diameter 7 cm.

Contoh 7:
Suatu sistem drainase pipa komposit dengan tipe gridiron
dirancang di suatu lahan. Lateral bergabung dengan kolektor dari dua
sisi. Panjang lateral pada satu iisi gOO m dan pada sisi lainnya 200
m. Pipa kolektor dirancang pada slope 0.05%, koefisien drainase 5
mm/hari, reduksi kapasitas 75olo.

84

3s

30

Lebar areal yang didrainasekan oleh kolektor adalah 500 m,


maka panjang maksimum kolektor untuk setiap ukuran diameter pipa

Diameter pipa (cm)

25

Teknik Drainase Bawah Permukaan

Suatu pipa drainase kolektor terbuat dari beton dengan


diameter 25 cm, panjang 700 m dipasang dengan slope 0.05%, lebar
areal drainase 500 m

Pertanyaan:
Asumsikan kapasitas kolektor dirancang pada 75o/o dan koefisien
drainase terukur adalah 10 mm/hari. Apakah kemungkinan terjadi
tekanan-lebih di ujung sebelah hulu kolektor?

fawab:

x 500 m2

35 ha. Dari Cambar


5.11 didapat i : 0.16o1o, dikurangi dengan 0.05% slope pipa
drainase terdapat kelebihan slope sebesar 0.'l 1%. Tekanan-lebih
adalah: 7OO x 0.11'lo : O.77 m. Kadang-kadang diperlukan untuk
Luas areal drainase

Droinase Bawah Pe rmukaan

7OO

85

mengetahui kapasitas relatif pipa pada berbagai ukuran yang


berbeda. Beberapa nilai tercantum pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2. Proporsi kapasitas untuk berbagai diameter pipa
(berdasarkan persamaan 4. 5b. )

Proporsidiameter
Proporsi kapasitas
.)Qz

1.00 1.83 3.00 4.56 6.s4

10

12.00

(d,\''",asumsi ikonstan.

Jika kapasitas suatu ukuran pipa telah ditentukan dari grafik,


maka dengan menggunakan Tabel 5.2, dapat dengan mudah
ditentukan kapasitas untuk berbagai diameter.

Contoh 9:

20 cm dengan i :
0.05%, q : 5 mm/hari telah ditentukan sebesar i 9 ha. Untuk
menghitung kapasitas dengan diameter 25 cm dan 30 cm, dapat
dilihat bahwa perbandingan diameternya adalah 4, 5 dan 6.
Luas areal drainase untuk pipa diameter

Berdasarkan Tabel 5.2 luas areal drainase untuk diameter pipa 25 cm

ha

1.83 x 19 ha

Jika diasumsikan bahwa pipa kolektor pada contoh B akan


dibuat terdiri dari pipa berdiameter 20, 25 dan 30 cm. Pada jarak
berapa dari hulu ukuran diameter pipa tersebut berubah. Kondisinya
harus tidak ada tekanan-lebih pada ujung sebelah hulu.
Berdasarkan hasil perhitungan pada Contoh 7, maka besarnya
head loss di sepanjang pipa kolektor dapat diplotkan seperti pada

Gambar 5.15. Secara kasar komposisi diameter pipa dapat dibuat


sebagai berikut:

a, -(.4l

Contoh 10:

35 ha. Untuk pipa berdiameter 30 cm

3.0 x 19

57 ha.

Pipa Drainase dengan Diameter Bertambah


Pada praktiknya sudah biasa untuk memulai pipa drainase dari

sebelah hulu (atas) dengan ukuran diameter yang lebih kecil,


kemudian dirubah dengan diameter yang lebih besar sesudah jarak
tertentu supaya mampu menampung pertambahan debit air yang
harus diangkut. Hal ini biasanya dipakai pada pipa kolektor.

- 380 m : diameter PiPa 20 cm


380 - 200 m : diameter PiPa 25 cm
7OO - 1 160 m : diameter PiPa 30 cm
0

Akan tetapi situasi ini akan mengakibatkan head loss akan lebih
besar dari 58 cm (Lihat Cambar 5.'15)
Head loss 58 cm (1160 x 0,0005 m) akan terjadi apabila
seluruh pipa berdiameter 30 cm. Karena aliran dalam keadaan
penuh, maka penggantian pipa dengan diameter yang lebih kecil dari
30 cm menyebabkan terjadinya tekanan-lebih di sebelah hulu. Pada
situasi ini akan terjadi head loss sebesar 96 cm dan ini berarti terjadi
tekanan lebih sebesar 38 cm di sebelah hulu.

Dari cambar 5.15 dapat dilihat bahwa hydraulic gradient


aktual didapat dengan mengkombinasikan kurva potensiometrik dari
beberapa diameter dengan penSSeseran vertikal sejajar dengan
masing-masing kurva. Dari gambar tersebut jelas bahwa komposisi
yang baik didapat apabila kurva potensiometrik tidak memotong ratarata gradient (dalam hal ini diambil sama dengan slope pipa)'

Salah satu metode adalah dengan membuat deretan kurva


standar potensiometrik untuk masing-masing diameter dan buat suatu

86

Teknik Drainase Bowoh Permukaon

Drai nase Bawoh Pe

rmukaan

87

kombinasi pergeseran seperti pada Cambar 5.15. Kita dapat juga


secara praktis mengikuti prosedur sebagai berikut:

air dari pipa lateral masuk ke pipa kolektor. Pola pada sistem komposit dapat berbentuk tipe gridiron atau ripe herring-bone (tulang ikan).

Perubahan diameter:

ini merupakan pola yang teratur yang cocok untuk lokasi


yang homogen. Untuk mengeringkan lahan-lahan basah yang
Sistem

x 380 m
x 7OO m
3/a
x 1 160 m
Dari 30 ke 35 cm, pada

Dari 20 ke 25 cm, pada


Dari 25 ke 30 cm, pada

3/a

3/q

285 m
525 m

870 m

Gambar 5.16. Kehilangan energi (head loss) pada pipa drainase


dengan beberapa diameter
Maka komposisi pipa sekarang menjadi:

0 -285m
- 525 m
525 - 870 m
B7O - (teoritis 1450) m
285

terisolasi dapat dilakukan dengan suatu sistem yang random (acak).


Sistem ini biasa disebut sebagai sistem drainase pipa random
(Cambar 5.17).

A:
B:

Gridiron atau sistem paralel


Sistim'Hcrring-bone' (sirip ikan)

Gambar 5.17. Pola sistem pipa drainase komposit teratur

pipa diameter 20 cm
pipa diameter 25 cm
pipa diameter 30 cm

--'-'-

pipa diameter 35 cm

Pada situasi tersebut seperti terlihat pada Cambar 5.15, ratarata gradient 0.05% tidak akan terpotong.

5.4.4 Tata Letak


Tipe dan Pola Sistem Drainase Pipa
Dalam sistem singular masing-masing pipa drainase mempunyai outlet yang masuk ke parit kolektor. Dalam sistem komposit

88

Teknik Droinase Bawah Permukaan

Gambar 5.18. Sistem drainase pipa random (acak)

Drai nase Bawah Pe rmukaon

89

(apabila ada) dengan demikian kedalaman pipa akan seragam di

Pemilihan Sistem

seluruh areal.

Pemilihan sistem tergantung pada berbagai faktor antara lain:

cesr>

Dengan sistem pipa komposit, areal yang luas dapat didrainasekan tanpa adanya saluran terbuka sehingga gangguan terhadap
penggunaan alat-alat mekanis dapat dihindarkan

Sistem singular mempunyai beberapa outlet yang masuk ke


dalam suatu saluran terbuka
Jika dalam sistem komposit terjadi penyumbatan di suatu tempat,

maka hal ini dapat mengakibatkan areal yang terpengeruh akan


lebih luas daripada sistem singular.

Dalam beberapa hal suatu jaringan saluran terbuka lebih


diinginkan untuk menampung aliran permukaan
Pipa kolektor memerlukan kemiringan yang lebih besar daripada
parit kolektor.
Biaya investasi pipa kolektor umumnya lebih besar dibandingkan
dengan parit kolektor
Secara umum dalam jangka panjang ada kecenderungan sistem
komposit lebih murah dari pada sistem singular.
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa
apabila tersedia head yang cukup maka sistem komposit lebih sesuai.
Dengan demikian pada lahan berlereng umumnya digunakan sistem
komposit. Makin besar lerengnya, maka areal yang dapat didrainasekan oleh sistem dengan satu outlet akan semakin luas. Pada lahan
datar umumnya sistem singular lebih sesuai.

Lokasi pipa drainase

Apabila arah aliran air tanah dapat diketahui dengan jelas,


maka lateral harus ditempatkan tegak lurus arah aliran tersebut
sehingga mampu menyadap (intercept) aliran secara efektif. Pada
lahan datar atau hampir datar, lateral dipasang arah lereng utama

90

Teknik Drainase Bowah Permukaan

r ai nase

fuwah

Pe r mu

koan

91

BATilAN MATERIAL
DAN BANGI,JNAN
PADA DKAINASE PIPA

6.1

PIPA DRAINASE

ahan utama yang digunakan adalah tanah liat, beton dan


plastik corrugated berlobang (perporasi) seperti pada
Cambar 6.'1. Kriteria penting dalam pemiliham jenis pipa
yang cocok adalah ketersediaan bahan, ketahanan terhadap beban
mekanik dan bahaya kimia, umur operasi dan biaya. Total biaya
termasuk biaya pembelian, transportasi, penanganan dan pemasangan.

6.1.1

Pipa tanah liat

Pipa tanah liat bisanya terbuat dengan panjang sekitar 30 cm,

diameter dalam bervariasi dari 5 -20 cm. Standar ukuran pipa tanah
liat di lnggris adalah 75, 80, 100, 130, 160, dan 200 mm. Tebal
beragam dari 12 sampai 24 mm. Pipa dapat dibuat lurus atau dengan

suatu collar.

Air masuk ke dalam pipa melalui

celah

antar

sambungan pipa.

Pipa tanah liat cukup kuat dan tahan cuaca dan tahan bahan kimia
korosif. Pipa tanah liat lebih ringan daripada pipa beton tapi cukup
regas sehingga harus ditangani hati-hati. Pipa tanah harus dibakar
cukup kering. Maksimum laju serapan air jika dibenamkan dalam air

selama 24 jam harus lebih kecil dari 15 persen berat pipa. Rerata
berat 1 000 pipa adalah 1 400 kg untuk ukuran 60 mm dan 2 000 kg

untuk ukuran diameter B0 mm. Pelurusan pipa harus baik, dan celah
maksimum antar pipa tak boleh lebih dari 3 mm.

6.1.2

Pipa beton

Pipa beton sebagai bahan drainase umumnya banyak digunakan di Mesir dan lrak. Pipa beton biasanya digunakan untuk diameter
yang lebih besar dari 10 sampai 20 cm, dengan panjang 0.60, 0.90,

1.20 dan 2.40 m. Pipa berdiameter lebih dari 30 cm biasanya bertulang besi. Penggunaan pipa beton pada tanah asam dan bersulfat
perlu dipertimbangkan akan kemungkinan rusaknya beton karena
asam sulfat (seperti di tanah pasang-surut), sehingga perlu digunakan
semen khusus tahan sulfat. seperti juga pada pipa tanah liat, disini air
masuk melalui celah-celah antar sambungan pipa.

6.1.3

Pipa plastik

Bahan plastik yang umumnya digunakan untuk pipa drainase


adalah polyvinyl chlorida (PVC) dan polyethylene (pE). pipa plastik

Kerugiannya adalah koefisien kekasarannya lebih besar sehingga diperlukan diameter lebih besar untuk mengalirkan sejumlah
air yang sama daripada pipa halus. Pada pipa plastik ini air masuk
melalui lubang-lubang kecil di permukaan pipa. Beberapa data
spesifik dari pipa plastik halus dan bergelombang tercantum pada
Tabel 6.1.
Eropa ukuran pipa mengacu ke diameter luar, ukuran
standar nya 40,50,65,80, 100, 125, 160 dan 200 mm' Amerika
Utara mengacu ke diameter dalam dengan ukuran 1O2, 127, 152,
2O3, 254,305, 381 , 457, dan 610 mm. Umumnya diameter dalam
sekitar 0.9 kali diameter luar. Pipa plastik bergelombang berukuran
kurang dari 250 mm biasanya tersedia dalam bentuk gulungan. Pipa
berdiameter besar disediakan dalam bentuk panjang 6 meter' Air
masuk ke RiRa bergelombang melalui lubang kecil yang ada di
bagian lembah gelombang. Ukuran lubang antara 0.6 - 2 mm,
dengan panjang slot sekitar 5 mm. Di Eropa luas perporasi minimal 1
200 mm2 per meter Panjang PiPa.

Di

lebih ringan dibandingkan dengan pipa tanah liat dan beton. pipa
plastik dapat berbentuk pipa halus atau bergelombang (corrugated).
Pipa halus bersifat kaku dengan panjang tidak lebih dari 5 meter,
sedangkan pipa bergelombang bersifat fleksibel (lentur) dan dapat
digulung. Panjang gulungan pipa bergelombang biasanya sekitar 200
meter untuk diameter 5 cm dan 100 m untuk diameter 10 cm.
Dibandingkan dengan pipa halus, pipa bergelombang mempunyai beberapa keuntungan antara lain memerlukan bahan plastik
yang lebih sedikit per unit panjang, lebih tahan terhadap tekanan
luar, karena fleksibel maka hanya tipe pipa ini yang dapat digunakan
Gambar 6.1. Berbagai bentuk pipa draina-se p/astik

pada drainase tanpa gali.

94

Teknik Drainase Bawah Permukaon

Bahan hloterial dan Bangunan pada Drainase Pipa

95

6.X.4 Perlengkapan pipa lainnya (pipe accessories)


Perlengkapan pipa lainnya disebut dengan pipe fittings seperti
sambungan (couplers), pipa drainase pengecil diameter (reducers),
iunctions, dan penutup ujung (end caps). perlengkapan bangunan

lainnya adalah outlet gravitasi atau outlet berpompa,

boks
penyambung (iunction boxes), ruang inspeksi (manholes), jembatan
drainase (drain bridges), pipa kaku tak berlubang (non pertorated
rigid pipes), inlet mati (blind inlets), inlet permukaan (surface inlet),

Ettml mup+rouplcr

Ittil pie olprpc


[o[sit4{I:xr[ *($mqion

fasilitas drainase terkendali, dan alat penguras pipa.

Penutup ujung (end caps)


Inlarnnl

Penutup ujung berfungsi mencegah masuknya partiker tanah


hulu (Cambar 6.2).

$uI|ffr

c{xrplar

($meoti$rr

E fipB \ratl *lit

di lokasi
Gambar 6.3. Penyambung pipa (couplers)

Erd

clpr

Pipa drainase pengecil diameter (drainpipe reducer)


Pipa drainase pengecil berfungsi untuk menyambung dua buah pipa
drainase yang berdiameter berbeda (Cambar 6.4).
Drri:plF nducrr

Flat

tilc

Dnrsblc ptr*tie shc*t

Gambar G.2. Penutup uiung (end caps)

Pipa penyambung (Couplers)


Pipa penyambung (couplers) berfungsi untuk menyambung dua buah
ujung pipa drainase (Gambar 6.3).

Gambar 6.4. Pengecil pipa (drainpipe reducer)

Pipe fittings
Berbagai bentuk pipe fittings dapat dilihat pada Cambar 6.5.

96

Teknik Drainase Bawoh Permukoan

Bohan hloteriol don Bangunan pada Drainase Pipa

97

Pipo

-l

fiiling!

FICIUSE
I
I

Drrh i?idgE

Eff.*

rEr r&

k'

ffi,:Jmn
[1r,.irr1'.lr

irc

ittitrgt

Cambar 6.6. Jembatan pipa drainase (drain bridge)

Pipa kaku melintang ialan (Rigid pipes to cross a road)

Pipa kaku diperlukan

jika melintang jalan atau saluran

terbuka

(Cambar 6.7)
FEURE 6
U3a ot rigld

plp.! to crDsr r rad, r wrtir*Ey or r row olt]lar

*{ 5-.=-]-r*

w
( I rfrrtlI.t,rxf,:

Gambar 6.5. Berbagai bentuk pipe fittings pipa drainase

6.1.5

6.1.6 lnlet

Bangunan Pelindung

lembatan pipa drainase (drain bridge)


Jembatan pipa drainase diperlukan untuk mencegah pipa melengkung karena tekanan beban luar pada tanah lunak (Cambar 6.6).,

98

Gambar 6.7. Pipa kaku melintang ialan

Teknik Drainase Bawah Permukaan

lnlet mati (Blind inlet)


Blind inlet berfungsi untuk merembeskan air dari permukaan tanah
ke pipa drainase di bawahnya (cambar 6.8). Biasanya terbuat dari
batu-batuan, kerikil, atau pasir kasar.

Bahan lvloterial don Bangunan poda Drainose pipo

99

6.1.7

FIGURE 7

Bllnd lnrct

Bangunan Penghubung

Boks penyambung (lunction boxes)


Boks penyambung berfungsi untuk menyambung pipa lateral ke pipa
kolektor, dilengkapi dengan perangkap sedimen (Cambar 6.10).

.*

ltrirftnxdrrrfftc

Borto{uleds

bor

Bor trilh iolBm

Gambar 6.8. Blind inlet

Hol*s

lnlet permukaan (Surface inlets)


lnlet permukaan terbuat dari kisi-kisi besi untuk memasukkan air
permukaan ke pipa drainase bawah permukaan, dilengkapi
dengan
perangkap pasir atau kotoran lainnya (Cambar 6.9)

lit!

?flo

mtr

Itrfr&rtxlod toudm

ol

FIGT'RE E

st&frcr

hh!

**'*

curmts!r*t*m-

Gambar 6.10. Boks penyambung


Ruang kontrol (lnspection chambers) atau manholes
Gambar 6.9.lnlet permukaan dengan perangkap sedimen

IN

Teknik Drainose Bawah Permukaan

Ruang kontrol biasa dsebut manholes berfungsi untuk pengecekan.


Dimensinya dibuat sedemikan rupa sehingga orang mudah masuk
untuk melakukan pengecekan (Cambar 6.11).

Bahan Material dan Bangunan pada Droinase Pipa

101

FIGURE 10

lnspccfion cllrmbarr (menholcs)

(t)

Cnllstril

:lgltmDl lrlF

Gambar 6.11. Ruan g kontrol (manholes)

6.1.8 Outlets
Tujuan utama oulet drainase adalah untuk pencegahan erosi pada
tebing saluran. Ujung pipa tak berperporasi harus cukup jauh dari
tebing, membuang air di atas muka air di saluran (sekitar 10-'15 cm).
Diperkuat oleh penyangga agar tidak melengkung. Kadang-kadang
digunakan chute untuk menjaga tebing saluran.

Outlet gravitas (Gravity outlets)


Outlet gravitasi berfungsi untuk mengalirkan air dari pipa lateral ke
kolektor saluran terbuka secara gravitasi (Gambar 6.12).

Gambar 6.L2. Outlet gravitasi

Ruang drainase pompa (drainage pump sump)

Berfungsi untuk menampung air drainase dari pipa kolektor dan


membuangnya ke outlet dengan menggunakan pompa (Gambar

6.1.9

6.1 3).

Berfungsi untuk mengurangi kemiringan pipa dan memperkecil


kecepatan aliran dalam pipa, pada lahan dengan kemiringan yang

Bangunan Khusus

Pengecil lereng (Gradient reducers)

besar (Cambar 6.14).

102

Teknik Drainase fuwah Permukoan

Bohon lvlaterial dan Bongunon pada Drainose Pipo

103

Fasilitas penggelontoran pipa

GEdi.nt t!du6er3 (efler Eggclsmaon,

1978)

Untuk pemeliharaan sistem drainase bawah-permukaan, diperlukan


pencucian/penggelontoran teratur sistem pipa. Pencucian pipa lateral
pada sistem drainase komposit yang dilengkapi dengan blind iunctions hanya memungkinkan sesudah membuka sambungan tersebut.
Penggunaan fitting khusus memberikan fasilitas pengelontoran
(flushing) tanpa harus membuka sambungan. Sebuah concrete tile
dengan steel bars di atas pipa akses mempermudah untuk ditemukan
dengan menggunakan meta/ detector dari permukaan tanah.

0.$.t m

l),{l6m

Irr0.J0m rr

n F-"-"*{

lF
0.!0 m
0,50 m

pumP ssmp

Gambar 6.14. Cradient reducers

Accoss plpe ,or cleenlng laterals of a composits dralnago systam (caveraars el ar. 1 gg4)

Soil surlrce

l----'---.-

na
Y

0.5

tile

,Concrete

lunrfuilnllevct

Plaslir cnp

.b+)

I;ield drain

Gambar 6.13. Drainage pumP sumq


Gambar 6.15. Pipa akses untuk pencucian lateral pada sistem
komposit

1A

Teknik Drainose Bawah Permukoan

Bahan lvlaterial dan Bongunan pada Drainase Pipo

105

Bangunan Drainase Terkendali dan Irigasi Bawah permukaan

Alat untuk kontrol drainase dapat dipasang pada saluran


terbuka atau drainase bawah-permukaan. Pipa tak berperporasi
dengan panjang 5 fil, mengatur pembuangan air ke atau dari
bangunan kontrol, digunakan untuk menghindari rembesan sekitar
bangunan. Alat kontrol sederhana dapat digunakan seperti elbow
atau plug dengan riser (Gambar 6.'l6a) atau plug with by pass
(Cambar 6.16b). Bangunan dengan crest board biasa digunakan pada

saluran terbuka. Bangunan yang modern dilengkapi dengan crest


board, pelampung, dan sensor muka air elektrik sering digunakan
(Cambar 6.16c). Pipa drainase yang berfungsi pula sebagai irigasi
bawah permukaan dipasang tanpa kemiringan. Kontrol otomatis
diperlukan untuk menjaga elevasi muka air di outlet, yang berfungsi
sebagai inlet pada irigasi bawah permukaan.
Controll6d drainage systemE; (al elbow and plug with riseri (b) pltlg with bypes3 (afier Abdol
Dayem el ar., 1989); (c) eophlsticated structure with c.est board (aftor Cavelaars et a/. ( 1994);
sllghtly modiled)

6.2

BAHAil PEilUTUP (COUEn mArEnlAts)

Bahan penutup diperlukan dengan dua tujuan:

Mempermudah aliran air ke pipa drainase (fungsi penghantar air)

Mencegah masuknya partikel tanah

ke dalam pipa

(fungsi

penyaringan)

Menyangga pipa dari beban tanah di atasnya


Bahan penutup dapat digunakan dengan berbagai cara:

Dalam bentuk curah (bulk) disebar merata di atas pipa drainase


setelah pipa terpasang
Dalam bentuk lembaran (sheet) atau tikar (mats) diletakkan
dalam roll pada mesin drainase

Sebagai lapisan pembungkus atau selubung pada pipa (preenveloped drain pipes).
Sebagai bahan penutup dalam bentuk curah biasanya tanah
gambut, kerikil, jerami, bahan sintetik misalnya polystyrene (Cambar

6.17). Dalam bentuk roll adalah thin glass fibre sheet. Pipa drainase
yang berfilter (pre-envelope) digunakan untuk pipa plastik baik yang
halus maupun yang corrugated Cambar 6.18).
Clrmhrng rrun:

\r

Bahan yang digunakan sebagai pembungkus adalah:

(n

fibre glass, nylon tissue atau bahan sintetik lainnya


mats dengan tebal 6-2 cm dari jerami, tanah gambut, sabut
kelapa dan lainnya.

ll'tt

)18

Direkomendasikan untuk menempatkan pipa drainase sedemikian rupa sehingga pipa dikelilingi bahan penutup dengan sempurna.
Dengan cara ini bahan penutup berfungsi sebagai filter, hantaran
hidrolik dan penyangga beban (Cambar 6.15).

($ll$lsr

Gambar 6.16. Sistem drainase terkendali (contolled


drainage system)

106

Teknik Drainase Bowoh Permukaan

Bahan hlaterial dan Bongunan pada Drainase Pipo

107

Tabel 6.1. Data spesifik pipa halus dan bergelombang


Diameter
luar (mm)

Tebaldinding

4A

0.80

150

50

0.95

220

70

1.30

440

90

2.00
2.20
2.50

Berat per
meter

(mm)

Perporasi

Pipa Halus

110

125

Lubang (25x0.6)
mm2, 40 lubang per
meter, Total area
inflow 600 mm2/m

pipa

Pipa Bergelombang

60
65
BO

100

125

Diameter bagian
dalam 10-12'1,
Iebih kecil
daripada

diameter luar

75-80% dari
pipa PVC halus

Lubang (l x'l) mm2,


(1x4) mm2, total area

dengan

inflow antara 1000-

Gambar 6.18. Pipa drainase plastik berselimut bahan filter


(pre-wrapped e nvel ope)

diameter luar
yang sama

3000 mm2 per meter


pipa

,o8cQ

Grrrel trvelope around

drain pipc

Gambar 6.17. Penutup kerikil pada pipa drainase

108

Teknik Drainase Bowah Permukoan

Bahon hlaterial dan Bangunan poda Drainase Pipo

109

KONTRUKSI SISTEM
DRAINASE PIPA

7,1

'fp
,l

llEfoDE

,"sedur yang biasanya dipakai datan konstruksi

,.
drainase pipa adalah:

sistem

Menggali trench pada kedalaman dan slope yang diperlukan


Memasang pipa dalam trench, tanpa atau dengan bahan penutup
Mengurug trench dengan tanah galian

Konstruksi dapat menggunakan tenaga manusia secara manual


maupun dengan mesin.

7.2

PE}IA]{DAAI{ LOKASI PIPA

Sebelum pekerjaan dimulai lokasi pipa ditandai dengan patok


pada kedua ujung (Cambar 7.1). Ujung patok ditempatkan pada
elevasi dengan ketinggian tertentu di atas dasar galian (trench) yang
direncanakan. Hal ini berarti untuk suatu panjang lateral 160 m

dengan kemiringan O.1o/o, maka puncak total sebelah hulu kedua


patok tersebut dipasang patok-patok pembantu (sghiting targets) yang
berfungsi sebagai acuan selama pemasangan pipa.

.o

It--------I ^F{ E d<rt.io


I b<{tq a^a {h$ai

g.oofl.rd troa tad r.R

I
I

diteruskan lebih dalam dengan lebar yang lebih sempit (Cambar 2.3).
Peralatan yang biasa dipakai dapat dilihat pada Gambar 7.2.

a!

L1r---I
I

l,

^F-a------I

o{r*. trlxlo.

.,

^.

L-1"---r--*

ll

,r!rl

fl\
U

r o, n9F35
-1- - d*.

ig!lot

+ *-fl.
=___-.*,,

-!"

Cambar 7.2. Beberapa peralatan yang digunakan untuk pemasangan


pipa drainase secara manual

tA

ftiEsril GALI (EXCAVAT1fi{O rUCfltNq

Mesin-mesin yang biasa digunakan untuk drainase terdiri dari


dua tipe yaitu:
Mesin gali kontinyu (continous excavating machine). Penggalian

dilakukan dengan "revolving digging machine" atau rantai


berpisau (Cambar 7.4). Umumnya mesin-mesin ini menggali
pada suatu kedalaman dan kemiringan tertentu dan mempunyai

perlengkapan tambahan
Gambar 7.1. Penandaan "alignments" dan penyipat datar
7.3

PEftTASANGAN DEilGAN TENAGA T'IANUSIA

Calian biasanya dibuat selebar 0.3 - 0.4 m dengan kedalaman


0.5 m. Kemudian dengan bermula dari galian ini penggalian

112

Teknik Drainase Bawah Tanah

untuk

pemasangan

pipa

dan

pengurugan bahan penutup.


Back-acting excavators (Gambar 7.5). Apabila menggunakan alat

ini, maka

penyelesaian akhir harus dilakukan dengan tenaga


manusia. Alat ini cocok untuk tanah berbatu. Biasanya alat ini
dipakai sebagai pengganti apabila harus membuang batu atau

Konstruksi Sfstem Drainase Pipa

113

penghalang lainnya yang menyebabkan alat yang pertama tidak


dapat bekerja. Juga sering digunakan untuk menggali di mana
akan dipasang pipa kolektor dengan ukuran besar.

Kedalaman galian maksimunr: standar 17A --'180 cnr. Behe.apa


mesin dapat lebih dalarn lagi sarnpai 2.5 rn.

.100-200

Mesin:
HP. Bel:rerapa nresirr mefi]pL{nydi tjua rne.in,
untuk gaii 100 tlP dan iintuk mernarik 50 l-'{F
Ilengaturan kedalaman dengan sistem hidrclik ,ir nrar-r.r op(,r;ltor'
r':empertahankan garis pandang sesllai rienga:r kr:d.ilanrar ! yanfi
diirreirrkan melalrri patoL-p"rlok ilenilrdnru :.e i).;t)i"rr,e r{Jf i..
operasi" Perkembangan terb.rrLi r.lilengkapi Cengan sinai' iaser
Eobot tclai 7

'12

ton

Tekan;rn iair;.ih (grounrJ pre.sslrre) tergantulig l-,.ri,d r;k.ri-"rn rri,i(l:


hr:rkisar antara 0.20 - 0.30 kgcrnz
Kecepatan kerja sampai 1000 rn pipa per jarn

**g with fong


nCtrOlY bl0de

lp0dc

Output netto tergantung pada kedalantan, tipe tanah, kondisi


clraca, panjang lintasan pipa dan ukuran lahan. Untuk kedalaman 1 - 1.2 m pada tanah pantai (marine) dengan kandungan liat
sekitar 25olo, output netto yang wajar antara 300
sedangkan yang baik adalah sekitar 600 m/jam.

7,5
Gambar 7.3. Penggalian suatu trench secara manual

Berikut ini adalah beberapa data teknis tentang mesin gali


kontinyu yang biasa digunakan dalam proyek drainase di Belanda
dan Eropa.

Mesin umumnya bekerja pada tracks. Lebar tracks umumnya


dapat diatur. Untuk transportasi di jalan lebar tracks biasanya 2.5
m, untuk di lapangan maksimum sampai 3.2 - 5.0 m
Lebar trench: ukuran standar 20 - 25 cm, trench yang lebih lebar
sampai 35-40 cm masih memungkinkan dengan mengganti

TRETCHLESS PfiPE

400 m/jair,

DEAiltAof (rPD)

Teknik TPD dikembangkan berdasarkan prinsip drainase mole


sejak tahun 1960. Prinsip kerja TPD dapat dilihat pada Cambar 7.6,
di mana mesin menarik pisau atau blade hampir sama sepefti yang
digunakan pada mole plough atau sub-soi/er. Pipa plastik bergelombang diletakkan di dasar trench melalui atau di belakang blade.
Terdapat berbagai tipe b/ade yang berbeda yang menentukan apakah
tanah akan terdorong ke samping atau terangkat ke atas. Apabila
tanah terdorong ke samping kemungkinan akan terjadi pemadatan
yang dapat mengurangi fungsi drainase pipa. Bentuk b/ade yang
menyebabkan tanah terangkat akan lebih baik.

rantai pisau

114

Teknik Drainase Bawah Tanoh

Konstruksi Sistem Droinase Hpa

115

Beberapa keuntungan dan kerugian TPD adalah:

Keuntungan

Mesin relatif sederhana tanpa adanya gerak putar

dalam

penggalian

Traktor dapat digunakan untuk tujuan lainnya di luar drainase


Kecepatan kerja dan output netto lebih tinggi daripada mesin

lainnya. Pada kedalaman 'l

ffi,

kecepatan kerja sekitar 2.5


km/jam dengan output netto sampai 600 - 700 m/jam
Kerugian:
Diperlukan tenaga tarik yang besar. Makin berpasir tanahnya
maka tenaga yang diperlukan semakin besar
Pemadatan tanah terjadi di sekitar pipa drainase

Gambar 7.5. Back-acting trench excavator

@ rc*rt*tOr**c'*

Gambar 7.4. Mesin penggali kontinyu dan prinsip pengaturan


kedalaman

116

Teknik Droinase Bawah Tanah

Gambar 7.6. lnstalasi pipa drainase tanpa galian

Konstruksi Sistem Drainase Pipo

117

lnspeksi harus meliputi total output (kontrol kuantitas) dan faktor


teknik (kontrol kualitas). Kedua jenis inspeksi tersebut harus
dikerjakan secara reguler selama pekerjaan berlangsung sehingga
setiap kesalahan yang terjadi dapat dikoreksi secepatnya di lapangan.

C@'O

Gambar 7.7 Foto

,.6

SUPEnUISI

Pemasangan

pipa drainase

DAl{ l]{SPEt(sl

Selama konstruksi sistem drainase, pekerjaan harus dicek


(inspeksi) dan disupervisi secara teraur. Tujuannya adalah:
Menjamin spesifikasi rancangan dilaksanakan dengan baik
Menanggulangi kondisi tak diharapkan selama instalasi
Mengecek kualitas bangunan dan bahan yang digunakan (pipa,
bahan selimut pipa), termasuk pengecekan lapangan kerusakan
yang terjadi selama transpoftasi dan pemasangan
Menjamin pekerjaan yang baik terutama pada pelurusan
(alignment) arah pipa drainase harus lurus dengan kemiringan
sesuai dengan rancangan, dan sambungan yang baik
Mencek apakah galian (trenches) telah diurug dan dikompaksi
dengan baik

Menilai keperluan pekerjaan tambahan atau

modifikasi

konstruksi lapangan

118

Teknik Droinase Bawah Tanoh

Konstruki Sistem Droinase Pipa

119

OPDKASIONAI,
DAN PEMELIHARAAN

etelah selesai konstruksi sistem drainase, penyusunan rencana


operasional dan pemeliharaan harus dibuat untuk menjamin

sistem berfungsi dengan baik. Untuk

itu

diperlukan
perencanaan yang baik dalam operasi dan pemelliharaan. Dalam
perencanaan tersebut beberapa pertanyaan perlu diperhatikan adalah
sebagai berikut:

Kenapa dan kapan pemeliharaan diperlukan? Apa tujuannya?


Berapa sering frekuensinya? Berapa biaya dan keuntungannya?
Siapa yang bertanggung jawab untuk perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian, dan pembiayaan?
Bagaimana hal itu dilaksanakan dan oleh siapa: pemerintah,
petani, atau kontraktor?

Bagaimana pembiayaan yang diperlukan? Siapa yang akan


membayar dan bagaimana uang pembiayaan dikumpulkan?

Pemeliharaan secara teknik memerlukan pemeliharaan


drainage base atau level drainage, inspeksi reguler, perbaikan, dan
pernbersihan pipa jika diperlukan. Data yang diperlukan adalah as
built drawing sistem drainase, yakni peta semua komponen seperti
drainase lapangan, kolektor, sambungan, dan bangunan outlet
(Gambar 8.1). Data elevasi titik-titik kolektor (outlet, inflow dan
outflow pada manholes), penampang memanjang saluran, dan titik

referensi pada bangunan utama seperti manholes. Semua data


tersebu ada pada spesifikasi gambar rancangan, tetapi harus selalu
diperbaharui sebab konstruksi aktual kemungkinan berbeda dengan
rancangan.

8.'

Cek apakah sedimen atau polutan terakumulasi dalam pipa,


bangunan atau outlet

Cek apakah ada titik basah (wet spots)


setelah kejadian hujan atau irigasi

di lahan, beberapa

hari

Cek kedalaman airtanah dalam lubang auger atau sumur

PEftIAI{TAUAN

pengamatan

Ada tiga jenis pengecekan setelah sistem drainase

selesai

instalasi: (a) Cek pasca konstrusi (post construction check), (b) Cek
rutin, (c) Cek sewaktu-waktu. Cek pasca konstruksi dilakukan untuk
melihat apakah konstruksi telah dilaksanakan sesuai dengan

standard, dan apakah pekerjaan tersebut telah diserah-terimakan


pada kondisi fungsi yang baik.
Cek rutin adalah inspeksi operasional-pemeliharaan sederhana
untuk rnelihat apakah sistem berfungsi dengan baik, dan untuk
melihat apakah diperlukan perbaikan dan pencucian pipa. Biasanya
dilakukan dengan bantuan daftar cek (cheklist) sederhana yang
meliputi:

Cek apakah drainase pipa alirannya bebas, khususnya pada


periode dimana drainase diperlukan (musim hujan). Kadangkadang oLrtet tenggelam (submergence) dalam tenggang waktu
tententu masih diijinkan. Drainage base yang baik adalah sangat

berperanan dalam menentukan apakah drainase berfungsi


dengan baik atau tidak. Jika drainage base tak baik, maka sistim
drainase utama haris diperbaiki.
Cek apakah pipa drainase mengalirkan air selama atau sesudah
hujan terjadi (Cambar 8.3)
Pantau muka air di drainase lapangan dan kolektor. Muka air
yang tinggi mengindikasikan adanya masalah dalam drainase
(Cambar 8.4)

Cek apakah pipa outlet dalam keadaan baik

8.2

PE'IIELIHABAAN

Saluran terbuka
Penyebab utama kerusakan pada saluran terbuka adalah akibat

dari erosi tebing, pengendapan sedimen, gulma dan

rembesan.

Sebelum musim drainase, saluran harus dibersihkan, gulma dibuang,


dan talud serta tanggul diperbaiki jika diperlukan (Gambar 8.4).

Pipa drainase
Masalah yang terjadi pada pipa drainase adalah penyumbatan
fisik, penyumbatan organik dan biologi, penggerusan mineral atau
kimiawi, dan penyumbatan pada outlets. Sebelum musim drainase,
inspeksi lapang dilakukan di semua outlet dan muka air di manhole"
Jika terjadi hambatan, maka mesin penggelontor (flushing machine)
dioperasikan untuk membuang sedimen dalam pipa (Cambar 8.5).

Bangunan

Umumnya bangunan drainase mempunyai faktor pengaman


yang lebih tinggi daripada pipa drainase, memerlukan pemeliharaan
lebih ringan. Bagian yang harus dicek adalah bagian yang bergerak,
pintu. Di daerah pasang-surut atau di sungai dengan beban sedimen
tinggi, kadang-kadang diperlukan pengerukan lumpur. Tanpa pemeliharaan yang baik, sistem drainase tak akan beroperasi dengan baik
dan tak akan ada pertanian berkelanjutan.

122

Teknik Drainase Bawah Permukaan

Operosionol don Pemeliharoon

123

ioi

6;Ln w *"'-e.,

n* tulq $' "eMf &h d tu *rtuF tdk

4&d
mIffiU
ihnlsl
I

'----

tlcrMa,!

dr.rn

:.riart.1r.1n

iil ,rirpni!.rrrn.
B3rBB1 ri.,zrEi i, [i..r
l9 l :i nr{r' ri..t,d*rrl, rrr 6
"

'*tibo,'criY

Gambar 8.1. Peta menggambarkan as built data untuk operasional


dan pemeliharaan

Cambar 8.3. Uii peformansi pipa kolektor dengan membandingkan


muka air di manhole. A kondisi normal. B ada masalah antara
manhole 1 dan 2

BEFON MANTEilANCE

"*
'!&,'

&!."-:,,'

Gambar 8.4. Pemeliharaan saluran pada awal musim hujan


Gambar 8.2. Outlet pipa drainase menegeluarkan air
sete/ah huian teriadi

124

Teknik Drainase Bawah Permukaon

Operasionol dan Pemelihoraan

125

ti,rhrng m|gf*n*

ili u!.d

to

nlirl

dpa drdrs

lsdirq

DAFTAK PUSTAKA

Cambar 8.5. Mesin penggelontor digunakan untuk


membersihkan pipa

Cavelaars J.C., 1974. Subsurface Drainage Systems. di dalam


Drainage Principles and Applications, vol lV. Design and
Management of Drainage Systems. lLRl. The Netherlands

Dieleman P.).; N.A. de Ridder, 1974. Elementary Croundwater


Hydraulics. di dalam Drainage Principles and Applications, vol
l. lntroductory Subjects. lLRl. The Netherlands
Ritzema, H.P; R.A.L. Kselik; Fernando Chanduvi, 1996. Drainage of
lrrigated Lands. lrrigation Water Management Training Manual

No 9. FAO, Rome, ltaly.


Stuyt, L.C.P.M.; W. Dierickx; J. Martinez Beltran, 2005. Materials for
Subsurtace Land Drainage Systems. FAO lrrigation and
Drainage Paper No 60. FAO, Rome, ltaly.

soScQ
Gambar 8.6. Cerusa n dan sedimentas i pada bangunan teriun sete/ah
debit tinggi

,OSC

126

Teknik Droinose Bawah Permukaan

Lampiran:
PDNGI.JKI,JKAN

HANTAKAN TIIDROLIK

1.1

PENGUKUNAN PADA TIEDIA IEI{UH

antaran hidrolik K merupakan nisbah antara f/ux dengan


gradien hidrolik atau kemiringan (s/ope) dari kurva fluxgradien hidrolik. Tanah jenuh yang mempunyai struktur

yang stabil atau media porous yang kaku dan jenuh sepefti
sandstone, mempunyai K yang konstan, yaitu sekitar 10-2 - 10-3
cm/det untuk tanah berpasir (sandy soi/) dan sekitar 104 - 108 cm/det
untuk tanah liat (clay soil).
Hantaran hidrolik sangat dipengaruhi oleh struktur dan tekstur.
Hantaran hidrolik akan lebih besar pada tanah yang lebih porous,

retak-retak atau berbentuk agregat. Akan tetapi K tidak hanya


dipengaruhi oleh porositas total, juga terutama oleh ukuran dan
bentuk pori. Sebagai contoh, K pada tanah berpasir yang mempunyai
pori-pori berukuran besar nilair"rya jauh lebih besar dibandingkan
dengan K pada tanah liat yang niempunyai porositas lebih besar.
Pada kenyataannya, K pada berbagai tanah tidaklah konstan,
karena variasi konsentrasi larutan kimia, sifat fisik dan proses biologi.

Hantaran hidrolik tidak hanya merupakan fungsi dari media saja,

tetapi juga tergantung pada viskositas dinamik n (kg. m-1.det-1) dan


densitas p (kg.mi) dari fluida" Suatu koefisien permeabilitas yang
hanya merupakan sifat dari media saja disebut sebagai permeabilitas

intrinsic Ki (m') yang mempunyai hubungan dengan hantaran


hidrolik K (m.det-I) sebagai berikut,

K:EK,

/1/

untuk pengukuran K di bawah'muka air tanah adalah metode Auger


Hole, metode lainnya yang akan diterangkan adalah metode
piezometer, metode a - h dengan menggunakan percobaan
lapangan dan uji pemompaan. Pengukuran hantaran hidrolik jenuh

di lapangan di atas muka air tanah dapat dilakukan dengan metode


infiltrometer, metode tabung ganda (double tube method) atau Auger
Hole terbalik (inversed auger hole method).

di mana g (m.det2) adalah percepatan gravitasi.

1"2

Hantaran hidrolik pada media atau tanah jenuh dapat


dilakukan di laboratorium atau di lapangan (in siru). Apabila
pengukuran hantaran hidrolik dilakukan di laboratorium, maka suatu
koreksi perlu dilakukan terhadap densitas dan atau suhu fluida di
laboratorium yang berbeda dengan di lapangan. Terutama untuk
viskositas dinamik yang sangat dipengaruhi oleh suhu. Sebagai
contoh viskositas air pada suhu 10" C : l.3l'l x 10-3 dan pada suhu
20'C : 1.0 x 10-3 kg. m-l.detl. Jika suhu di lapangan 10'C (Kro :
pg Kil I ro ) dan di laboratorium 20" C (Kzo : p g Ki/ 11 zo), nilai
hantaran hidrolik di lapangan yang dihitung berdasarkan pengukuran
di laboratorium adalah Kro : (qzol qro) Kzo.

Skema permeameter metode constant head dan falling head


adalah seperti Cambar 1. Suatu contoh tanah utuh di dalarn silinder
baja dengan dimensi tertentu (biasanya volume 100 cm3, tinggi 5.1

Pengukuran hidrolik

cm dan diameter 5.0 cm) dijenuhkan terlebih dahulu sebelum


pengukuran dilakukan. Permeameter constant head lebih sesuai
untuk tanah yang mempunyai K > 103 cm/det, dan permeameter
falling head untuk tanah dengan K

a.

103 cm/det.

Permeameter Constant Head


K

dihitung dengan persamaan /2/ yang berasal dari rumus Darcy:

K= QL
AAH

di

laboratorium dapat dilakukan dengan


metode constant head atau falling head permeameter, dengan
menggunakan contoh tanah utuh ataupun tanah terganggu yang
disiapkan menurut standar tertentu. Keuntungan pengukuran K di
laboratorium antara lain adalah prosedurnya sederhana sehingga
kondisi pembatas aliran dapat dikendalikan.
Hantaran hidrolik lebih baik diukur dengan suatu percobaan di
lapangan, metode lapangan mempunyai keuntungan bahwa hantaran

hidrolik diukur pada situasi lapangan dan berlaku untuk suatu


volume tanah yang relatif besar. Metode lapangan yang populer

130

PEI{GUTURAN DI TABORATOHUiI

Teknik Drainase fuwoh Permukaan

/21

di mana:

a : debit aliran steady (cm3.det-r),


L : tinggi contoh tanah (cm),
A : luas penampang contoh (cm2) dan
AH :

b.

perbedaan head (cm).

Permeameter Falling Head

Dari rumus Darcy dan rumus kontinyuitas didapat:

o=-adAH-KAAH
'dtL
Penguku ron H antaran Hi d r o li k

l2/

131

?
Kdt=- uL daH

l3l

AAH

di mana

percobaan dengan menggr-lnakan head permeameter lebih baik


jika dilakukan sedemikian rupa dengan aliran air ke arah atas untuk

memungkinkan keluarnya udara dari contoh tanah.

a adalah luas penampang tabung pengamatan (cm2).

1.3

PEI{GUI(URA1{ DI LAPAI{GA]{

1.3.1 Metode Auger Hole


Prinsip:
Metode auger hole dapat digunakan untuk mengukur hantaran
hidrolik tanah di tempat (in sftu) pada lapisan tanah di bawah muka
air tanah. suatu lubang dibuat dengan bor (auger) sampai suatu
kedalaman tertentu di bawah muka air tanah. Apabila air tanah
dalam lubang sudah berada dalam keadaan setimbang dengan air

a. cpaatcnt

b. taulng

hcad

hrad

Gambar L1.1. Permeameter


Dengan mengintegrasikan persamaan l3luntuk A H

tr danAH
K

(t. - t.)t' =\z

AHzpadat

3!^Tq

z,/

A Hr pada

"'L ln

Aail AH A

^u"(^lo*)
^-Er-

tz

A'-t

l4l

Al-1,

tapisan yang relatif lebih kedap


sekitar 20 cm dari dasar lubang.

lsl

2.30

t32

ar^r(oYo,t)
A(t,

-t,)

jika lapisan tersebut berada

/61

Teknik Drainose Bawah Permukaan

pada

Seperangkat perlengkapan untuk pengukuran dengan metode

ini adalah suatu bailer, pelampung dilengkapi dengan pita

atau

K-

tanah sekitarnya, maka sebagian air tanah tersebut dibuang keluar


dengan menggunakan bailer. Air tanah di sekitarnya akan mulai
merembes memasuki lubang sehingga kecepatan naik muka air
dalam lubang dapat diukur. Hantaran hidrolik kemuilian dihitung
dengan suatu rumus atau grafik yang menggambarkan hubungan'
timbal balik antara laju kenaikan muka air, kondisi air tanah dan
geometri lubang. Metode ini mengukur nilai rata-rata hantaran
hidrolik kotom tanah pada radius + 30 cm kedalaman dari muka air
tanah sampai ke + 20 cm dari dasar lubang, atau sampai pada suatu

ukur,

tiang penyangga (standard), stop watch dan bor (auger)' Lubang bor
dibuat hati-hati sehingga tanah terganggu seminimum mungkin.
Kedalaman lubang tergantung pada ketebalan dan urutan lapisan
tanah serta kedalaman di mana hantaran hidroliknya ingin diketahui.

Pengukuran Hantaran Hidroli k

133

Apabila muka air tanah dalam lubang sudah seimbang dengan


air tanah sekitarnya, maka /eve/ tersebut dicatat. Air dalam lubang
kemudian dibuang keluar sampai batas tertentu sehingga penurunannya sekitar 20 - 40 cm (pada Cambar 2, h(t,) : 20 -40 cm).

Ah

:
S
R
h

h'(t,) - h'(tn)

h(t,) - h(t")

kenaikan muka air tanah dalam


lubang selama waktu pengukuran
h(tr) - 1l2h : head rata-rata selama pengukuran
: kedalaman lapisan kedap dari dasar lubang
: jari-jari lubang auger

Pengukuran kenaikan muka air harus dimulai begitu selesai


pemompaan. Fencatatan dapat dilakukan baik selama waktu pada
kenaikan muka air yang tetap maupun kenaikan muka air pada
selang waktu yang tetap. Selang waktu pencatatan muka air biasanya
antara 5 - 30 detik tergantung pada hantaran hidrolik tanah dan
berkaitan dengan kenaikan muka air tanah sekitar 1 cm. Sebagai
pegangan kasar (rule af thumb) adalah nilai laju kenaikan muka air
dalam satuan mm/detik dalam lubang dengan diameter B cm sampai
kedalaman 70 cm di bawah muka air tanah, mendekati nilai hantaran

hidrolik tanah tersebut dalam satuan m/hari.


Pengukuran harus diselesaikan sebelum 25olo dari volume air
yang dibuang (dipompa) telah digantikan kembali oleh air tanah yang
merembes ke dalam lubang. Setelah kondisi tersebut akan terbentuk
funnel shaped water table sekeliling bagian atas lubang. Hal tersebut
menaikkan tahanan aliran ke dalam lubang di mana pengaruh ter-

Keterangan notasi pada Cambar 2. adalah sebagai berikut:

sebut dalam nomograph untuk metode auger hole maupun dalam


rumus tidak diperhitungkan. Sebagai akibatnya harus diuji bahwa h
< 1/4 h(tr).

D'

Perhitungan untuk satu lapisan tanah

Gambar L1.2. Metode Auger Hole

W'

: kedalaman lubang auger di bawah level standard


: kedalaman muka air tanah semula dari leve/ standard

: (D'-W'): kedalaman lubang auger dari muka air tanah semula.


h'(tr), h'(t") : kedalaman air tanah di bawah standard pada waktu
H

pertama pencatatan (tr) setelah selesai pemompaan


dan setelah beberapa kali pencatatan (tn). Biasanya

Ernst (1950), menemukan hubungan antara hantaran hidrolik


tanah dengan aliran rembesan air ke dalam lubang tergantung pada

kondisi-kondisi pembatas. Hubungan tersebut dapat dinyatakan


sebagai;

minimal dilakukan lima kali pencatatan

134

Teknik Drainase Bawah Permukaan

Pengukuran Hantaran Hidrolik

135

r
&

=CS
At

/71

'fr

di mana:

K:
C:
Ah/Ar

hantaran hidrolik (m.h-')

faktor geometri f (h, H, r,S) lihat gambar 3, 4 dan 5


laju kenaikan muka air dalam lubang (cm.derr).

Gambar Ll.4. Nomograf untuk penentuan faktor C dengan metode


Auger Hole untuk 5 : 0 (Ernst, 1950)

ill

il
Gambar L1.3. Nomograf untuk penentuan faktor C dengan metode
Auger Hole untuk S > I 12 H (Ernst, 1950).

3 nilai C diberikan sebagai fungsi dari h/r dan


H/r untuk S > 112 H, sedangkan pada Cambar 4 untuk S : 0. Kedua
nomograf tersebut berlaku untuk r : 4 cm.
Pada Gambar

136

il
il
il
Ii

Cambar 11.5. Contoh pengukuran dan perhitungan dengan metode


Auger Hole

Pengukuran Hontoran Hidrolik

Teknik Drainase Bawah Permukaon

il

137

ilContoh:
Suatu hasil pengamatan dapat dilihat pada Cambar 5. Setelah
pengukuran selesai keterandalan data harus diuji. Nilai h untuk
masing-masing pengukuran dihitung untuk melihat apakah konsisten

No:

atau tidak. Jika nilai h menurun secara teratur, maka pencatatan harus
dirata-ratakan sampai h
1/4 h(t,), atau pada contoh tersebut sampai

W'

Lokasi

114 cm S >112 H

D'-W'

126 cm

50 detik
i ti h'(ti) Ah At to - tr
(detik) (cm) (cm) Ah h'(tr) - h'(to)

tersebut kondisi di atas dipenuhi, maka K

dapat dihitung.

Perhitungan untuk 2 lapisan tanah

Jika profil tanah terdiri dari 2 lapisan dengan K yang berbeda


yakni Kr untuk lapisan atas dan K: untuk lapisan bawah. Kedua nilai

K tersebut dapat ditentukan apabila muka air tanah berada


lapisan atas. Dua kali pengukuran secara berurutan dilakukan

pada

pada

mana pengukuran kedua dilakukan setelah


lubang pertama diperdalam.

satu lubang auger,

Teknisi

D':240 cmr:4r:m

h :7.8 cm. Padacontoh

Tangg;il

di

o
10
20
30
40
50

5.6 cm

h(tr) : h'(rr) - w' : 145.2 - 114


145.2 144.O 1 .2
142.8 1.2 cekAh < 1/4 h(tr) (5.6 < 7.8)
141

.7

140.6
139.6

31.2 cm

28.4

1 .1

1.1

h(tr)

- 1/2 Lh

31.2 - 2.8

1.1

Ah : s.6 5.6 Hlr : 31.5; h/r : 71 -> C : 6.0 (dari Cambar 4.3)
Ah/At : s.6ls.O : 0.11K: CAh/At: 6.0 x 0.'11 : 0.66 m/h'

Suatu lubang bor sampai paling tidak 40 cm di bawah muka air

tanah, tetapi tidak boleh menembus lebih dalam dari 20 cm di atas


lapisan bawah. Lubang tersebut diperdalam minimum menembus 50
cm pada lapisan kedua.
Pengukuran pada lubang yang dangkal memberikan nilai Kr
dengan cara yang sama seperti pada profil homogen, yaitu:

di mana Cr

- f( f,1, H,, r, Sr )

) {ocr,t
*1Vzar'*
(*.-rt"; )v ta+^
|11

*,=ar(*

l8l
1t2

fi)
t

Gambar Ll.6. Metode auger hole untuk dua lapisan tanah

,:

138

Teknik Droinose Bawoh Permukaan

*=

Pengukuran Hantaron Hidrolik

139

rl;(Ah/40

0.16

Hr:70cm
:30cm
Sr > 1/2H
hr

Hlr : 17.5\/r :7.5


Cr : 9.4 (Cambar 3)
Kr : Cr (Ah/AOr :9.4x0.16

Dengan demikian

co (ah/At),
1.5 m/hari

r:4cm

(Ah/AOz
Hz

Hlr :37.5

0.26

Cz

3.9 (Cambar 3)

150 cm

:
Ho :

h/r

+ocm
Sz> 1/2H

10

100 cm

Hlr

25

dilihat pada Cambar 6.

Diskusi:
Keragaman hasil pengukuran dengan metode ini lebih kecil
daripada hasil laboratorium. Hal ini disebabkan pada pengukuran di
lapangan contoh tubuh tanah lebih besar. Kesalahan pengukuran
biasanya dalam selang 10 - 20%.

C.

inflow dari lapisan atas dengan Kr saja, sedangkan lapisan bawah

hidrolik rendah biasanya


diperlukan pembuatan lubang bor sampai 1 m atau lebih di bawah
muka air tanah, dan membuang air sekitar B0 cm untuk mendapatkan laju kenaikan yang dapat terukur. Pada tanah liat berat
biasanya terjadi kerusakan struktur di sekeliling dinding lubang bor.
Oleh karena itu diperlukan pengurasan air tanah beberapa kali
sebelum pengukuran dimulai. Pengukuran ulangan biasanya

dianggap kedap

memperlihatkan nilai K yang lebih baik.

inflow dari lapisan bawah yang dipertimbangkan terdiri dari


inflow seluruh profil deng?fl Kz, dikurangi dengan inflow dari

Pada tanah yang tidak stabil atau tanah dengan hantaran


hidrolik tinggi, lubang auger lebih dalam dari 40 cm atau pemompaan lebih besar dari 20 cm biasanya menghasilkan laju kenaikan muka
air yang terlalu cepat sehingga sukar diukur. Untuk mencegah
runtuhan dinding lubang biasanya dipasang suatu saringan (ltilter).

c.(Ah/At)2
K. _

-Kr
Co lC2-1

'

6.2 (Cambar 4)

Pada tanah stabil dengan hantaran

6.3x0.26-1.5
(6.313.e\ -1 =0.22mlhari

Laju kenaikan muka air pada lubang yang lebih dalam diperhtungkan sebagai akibat dari 2 komponen (Cambar 6), yakni:

lapisan atas juga dengan Kz (dengan mempertimbangkan lapisan


bawah sebagai lapisan kedap).
Dengan demikian ; ( Ah/At)z

KrlCo

KzlCz

- KzlC"

di mana:

G
Cz

140

lel

colc2 - Kl

hz:40cmh/r:10

Sr:0

b.

-Kl

Sebagai contoh data pengukuran dapat

6l:

a.

K2

f( hz, Ho, r, Sr

0 ) Cambar 4
f(ht,Hz, r, Sz) 1/2Hz) Cambar 3.

Teknik Drainase Bawah Permukaon

Apabila tidak yakin dengan hantaran hidrolik pada lapisan


tanah di bawah dasar lubang, maka gunakan Cambar 3 (S > 112 H),
dengan demikian nilai K lebih konservatif.

Pengukuran Hantaran Hi drolik

141

1.3.2 Metode Piezometer


Prinsip
Metode ini hampir sarna dengan metode auger hole, kecuali
sebuah tabung dimasukan ke dalam lubang sehingga terdapat suatu
ruang kecil (cavity) pada dasar lubang. Metode ini biasanya juga
disebut pipe cavity method.
Suatu lubang dibuat dengan bor auger sampai pada suatu
kedalaman di bawah muka air tanah di mana hantaran hidrolik akan
diukur. Sebuah pipa dengan diameter yang tepat sama dengan
lubang dimasukkan sehingga terdapat ruang bebas (cavity) di bagian
dasar lubang. Sesudah muka air dalam lubang seimbang dengan

Gambar L1.7. Perangkat alat untuk pengukuran hantaran hidrotik


metode Auger Hole
Tabel 11.1. Nilai kisaran hantaran hidrolik berbagaitekstur tanah

muka air tanah sekitarnya, maka air dalam lubang dipompa ke luar.
Air akan bergerak masuk ke dalam lubang melalui ruang kosong
(cavity) tersebut, sehingga muka air tanah dalam lubang akan naik.
Kenaikan muka air dihitung dan K dihitung dengan suatu rumus yang
menerangkan hubungan antara laju kenaikan muka air, kondisi aliran
dan nilai K tanah.

Perhitungan
Hantaran hidrolik
(m/hari)

Tektur tanah
Liat padat (no cracks, pores)

<

Liat berlempung (CL), Liat (C)

0.002

o.oo2

Lempung (L), Liat berlempung (CL), liat (struktur baik)

0.5

1-3

Pasir medium

1-5

Kerikil (gravel)

0.2

0.2

Lempung berpasir (SL), pasir halus (fine sand)

Pasir kasar

Hantaran hidrolik dihitung dengan rumus (Luthin dan Kirkham,


1949),

10 - 50

100 - 1000

It" .lnh(t')
=c(ti-tr)
h(tr)

/4.10/

hantaran hidrolik (cm.derl); rp : radius dalam pipa


(cm); h(tr), h(t,) : kedalaman muka air (cm) dalam pipa di bawah

di mana K

level keseimbangan pada waktu tr; ti - tr : selang waktu pengukuran


(detik); C : faktor geometri f (H,rc,l,S). Rumus di atas serupa dengan

rumus yang digunakan pada metode falling head di laboratorium.


Nilai faktor geometri C dapat dilihat pada Cambar 9.
142

Teknik Drainase Bawah Permukaon


Pe

ngu ku

ran Honta ran

Hi d roli

143

Contoh perhitungan
Suatu piezometer dengan .iari-jari dalam 5 cm dimasukan ke
dalam tanah sampai 1 m di bawah muka air tanah. Di bawah ujung
piezometer terdapat suatu ruang kosong dengan dalam 25 cm dan

kosong. Seperti pada metode auger ho/e, pada metode ini diperlukan
pengurasan pada tanah liat berat, sebelum pengukuran dimulai.

jari-jari 5 cm. Setelah keseimbangan antara muka air dalam tabung


dengan sekitarnya, maka dilakukan pemompaan. Hasil pengukuran

Metode ini sering digunakan sebagai metode pengganti jika


dengan metode auger laju kenaikan air terlalu cepat sehingga sukar
dicatat. Dalam bentuk tabel, Gambar 9 dapat disajikan seperti pada
Tabel 23-2 (Schlifgarde, Drainage for Agricultural Land, halaman

laju kenaikan muka air dalam tabung adalah sebagai berikut:

622) walaupun dengan notasi yang agak berlainan.

ti(detik)

h(ti) (cm)

'l

70

20

65

3.70 10r

40

60

3.85 10r

60

56

3.7210-3

80

52

3.71 10-3

*rr,o

ln{h(t,)/h(t,)}
ti

-t,

dihitung untuk menguji konsistensi urutan data.

di atas nilai tersebut cukup konsisten dengan nilai 3.71 x


10-3. Faktor C ditentukan dari Cambar 8 dengan nilai-nilai llrc : 5
dan H/rc : 20, maka C : 100. K dihitung dengan menggunakan
persamaan ll1l dengan memakai konversi satuan ke m/hari
Pada data

berdasarkan angka pengali 864.


t

K-

B64nrr2
(ti-tl)

ln

h(t,)=2.5
h(tr)

m/hari

ffi
Gambar 11.8. Metode Piezometer

Diskusi:
Metode piezorneter sangat sesuai untuk menentukan hantaran
hidrolik pada setiap lapisan tanah secara individual atau lapisanlapisan pada kedalarnan yang cukup besar. Pada tanah yang tidak

stabil diperlukan suatu cara untuk mencegah runtuhnya ruang


144

Teknik Drainase Bowah Permukaan

Pengukuran Hantaran Hidroli k

145

Menghasilkan

/rr
h+

dh
/141

fr

/14/ untuk h
tn memberikan (ln : 2.3 log),

integrasi persamaan

:
:{

.:!

*
*

tt
Gambar LI.9. Nomograf untuk penentuan faktor C pada metode
Piezometer (Smiles and Youngs, 1965)

1.3.3 Metode Auger Hole Terbalik (inversed auger hole)


Metode ini digunakan untuk mengukur hantaran hidrolik di
lapang pada lapisan tanah di atas muka air tanah. Suatu lubang dibor

Tangens

1.15 rtan

l15l

serni logaritmik (lihat Cambar 10).

J:

,{

qP;T.r-oI-l']ls

*0.1
t 200

hi
12
,l
18
8l
,t4
86
88
90

."116

&!1 r

tl

90
100

L(l(,
60O

*fr

?00

*
,1

hl
18
2t
.22
l.t
t0
l4
t?
l0

hl*r/l
t0
2t

i4

,l

l8
ta

l4
t2

o.ooo2t

1600

permukaan basah dapat ditulis sebagai:


mr2

o didapat dari plotting (h + 0.5 r) dan t pada kertas grafik

dan diisi dengan air, kemudian laju penurunan muka air dalam
lubang dicatat. Jika h adalah tinggi muka air di atas dasar lubang,

A:2 rtrh +

:trdanh:h,padat

h, pada t

_2.3 -log(h, +112r)-log(h" +1/2r)


2
tn -t1

.!

q&

k . r.lt x a x 0,0O0?l
. O.0Ol cu.det-l
. 0.8j r.tr-I

/11/

Dalam hal ini diasumsikan bahwa selama percobaan gradient


hidrolik sama dengan satu (V H : l). Dengan demikian gaya matrik
diabaikan, akibatnya pengukuran hanya dimulai sesudah tanah

D'.lO0cn:r-4ca

::l

sekitar lubang dibasahi seluruhnya. Dengan demikian,

Q:KA:2

nrK(h +Yzr)

l12l

Gambar 11.10. Metode auger terbalik (inversed auger hole)

,oSca

digabung dengan persamaan kontinyuitas,

a:-nt'dh/dt
146

l"t3/

Teknik Drainose Bawoh Permukoan

Pe ngu ku

ran Hontaron

Hi d roli

147

Lampiran:

LATITIAN SOAL
i

'i
;::

,&

.j

il

!{'

1.

Terangkan dengan singkat dan jelas arti dari beberapa istilah di

bawah ini dalam kaitannya dengan drainase:

.{

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

f
$

modulus drainase

9.

lapisan kedap

equivalent depth
faktor geometri

10. perched water table


1 1. trenchless pipe drainage
12. tekanan pori

tahanan aliran radial

'13. effective stress

porositas efektif

14. subsidence
15. metoda rasional

Ievel drainase

drainase "mole"

hantaran hidrolik

2.

Terangkan perbedaan prinsip sistem drainase permukaan dan


bawah permukaan?

3.
4.

Apa tujuan drainase bawah-permukaan?

Apa yang dimaksud dengan sistem drainase singular dan


komposit?

5.
6.

Terangkan konsep Drainase Terkendali. Bagaimana perubahan


konsep lama drainase ke konsep yang baru?
Terangkan kosep Pembangunan Berkelanjutan (sustainable

development) dan bagaimana kaitannya dengan kebijakan


nasional pada negara sedang berkembang seperti lndonesia?

7.

Terangkan analisis pengaruh drainase terhadap pertanian?

8.

17. Terangkan apa yang dimaksud dengan

Apa yang dimaksud dengan hr.rbungan scsia!-politik oada diagram Cambar 1.2 (Diagram pengaruh drainase pada pertanian
dan ev al uasi sosia/-ek onom)

9"

Berikan beberapa contoh peubah keteknikan dalam

sistem

drainase?

&

Terangkan bahwa drainase lahan pertanian adalah merupakan


interdisiplin berbagai ilmu. llmu-ilmu apa saja yang berkaitan
dengan drainase lahan pertanian?
'!1. Unsur-unsur apa
saja yang termasuk dalan-r kelornpok Fisika
Tanah yang berkaitan dengan drainase lalran pertanian?
12. Unsur-unsur apa saja yang termasuk dalam kelompok Kimia
Tanah yang berkaitan dengan drainase lahan pertanian?
13. Apa yang dimaksud dengan Pengelolaan Air yang baik dalam
pengembangan lahan untuk pertanian? Bagaimana seharusnya
pengelolaan air dalam pengembangan lahan gambut berkelanjutan di lndonesia?
't4. .lelaskan prinsip pokok yang dilanggar dalam kasus Pengem10.

15"

bangan Lahan Cambut Sejuta Hekktar di Kalteng pada tahun


199711998, yang sekarang ini menjadi proyek Sejuta Masalah?
Suatu masalah al<tual di daerah perkotaan dekat pantai adalah
adanya penurunan tanah (subsidence) dan intrusi (penerobosan)
air asin ke daratan, akibat dari eksplorasi air tanah yang berIebihan baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk industri.
Terangkan dengan singkat dan jelas secara teoritis kenapa eksplorasi air tanah yang berlebihan dapat mengakibatkan masalah
tersebut di atas. Bagaimana menurut saudara usaha-usaha untuk
menanggulangi masalah tersebut?

16. Suatu persamaan drainase

untuk kondisi'unsteady-state' adalah


persamaan dari Clover-Dumm. Uraikan kriteria agronomis apakah yang diperlukan untuk menggunakan persamaan tersebut?

150

Teknik Drainase Bawah Permukoan

18.

a.
b.
c.
d.
e.
a.
b.

c.

Aliran transien
Cradient hidrolika
Drainase
Koefisien drainase

TeoriDupuit-Forcheimer
Terangkan persamaan penentuan jarak saluran untuk sistim
drainase bawah permukaan menurut Donan (persamaan
elips). Carnbar dan sebutkan parameter yang terlibat?
Apa persyaratan penggunaan persamaan tersebut
Terangkan persamaan modifikasi Hooghoudt dan sebutkan
gunanya.

19. Dalam rancangan drainase (permukaan ataupun bawah


permukaan) ketersediaan ooutletu merupakan hal yang sangat
penting. Terangkan faktor-faktor apa saja yang perlu dikaji dari
suatu kondisi outlet tertentu?
20. Sebagai hasil akhir dari suatu survey drainase tingkat
"reconnaissance" adalah Laporan Akhir. Jelaskan hal-hal apa saja
yang harus tertulis pada Laporan Akhir tersebut
21. Terangkan apa kegunaan eksplorasi bawah tanah (lebih dari 1.2
m) dalam suatu survey drainase bawah-permukaan
22. Terangkan sistem drainase tradisional pasang-surut orang Bugis

di daerah Pulau Kijang, Provinsi Riau.


23. Bagaimana prinsip kerja pintu air tradisional orang Bugis
(blombong) di daerah pasang-surut Pulau Kijang, Riau.
24. Sebutkan tiga tingkatan kematangan tanah gambut dan terangkan
ciri-ciri fisiknya.
25. Uraikan tipologi lahan di daerah pasang-surut berdasarkan hidrotopografi dan hubungannya dengan kesesuaian lahan.

Lotihon Soal

151

26. I-erangkan sistem drainase daerah pasang-surut untuk perkebunan kelapa yarig dikembangkan oleh PT Pulau Sambu Crup di
Riau.
27. Uraikan perbedaan

pokok rancangan saluran untuk irigasi dan

untuk drainase (jelaskan alasannya)?


28. Suatu indikasi adanya kelebihan air (drainase jelek) adalah daun
tanaman yang berwarna pucat menguning. Terangkan kenapa
hal tersebut terjadi? dan apa dampaknya terhadap produksi
tanaman?

29. Uraikan proses terbentuknya pyrite (cat clay)


surut dan apa pengaruhnya terhadap tanaman?

di lahan pasang

30. Terangkan beberapa kemungkinan,usaha reklamasi tanah sulfat


masam di daerah pasang-surut?

Terangkan prinsip kerja mesin tanpa galian (Trenchless pipe


Drainage Machine). Apa keuntungan dan kerugiannva
32 1-erangkan prinsip kerja mesin penggali kontinyu dan pengatur
kedalaman galian dengan teknik laser?
33. Bahan material apa yang digunakan dalam drainase bawah3'l

41. Apa yang dimaksud dengan Drainage Base atau Drainage Level
dan bagairnana peranannya dalam kegiatan Operasional dan
Pemeliharaan?.
42. Hal-hal apa saja yang diperlukan dalam suatu daftar cek (chek

list) pemantauan kenerja sistem drainase bawah-permukaan?


43. Hal-hal apa saja yang diperlukan dalam suatu kegiatan
Pemel i haraan

si

stem

d rai

nase bawah-perm

kaan

44. Terangkan prinsip kerja mesin penggelontor pipa (flushing


machine) dalam kegiatan pemeliharaan sistem drainase bawahpermukaan?

45. Apa artinya ungkapan bahwa tanpa pemeiiharaan infrastruktur

permukaan?
34" Perlengkapan (accessories)

pipa apa saja yang digunakan dalam

drainase pipa bawah-permukaan

35. Terangkan beberapa bangunan pelindung dalam drainase pipa

bawah-permukaan?
36. Terangkan beberapa bangunan penghubung dalam drainase pipa

bawah-permukaan?
37. Apa fungsi bahan penutup (cover material) dalarn drainase pipa

bawah-permukaan?
38. Apa tujuan supervisi dan inspeksi dalam proses konstruksi sistem
drai nase bawah-perm ukaan

39. Dalam perencanaan Operasional dan Pemeliharaan, hal apa

saja

yang harus rnenjadi perhatian utama?

152

40. Apa peranan Operasional dan Pemeliharaan daiam suatu sistem


drainase. Bagaimana kaitannya dengan pertanian berkelanjutan
(sustainable agricu lture)?

Teknik Drainose Bawah Permukaon

keairan yang baik, tak akan ada pertanian berkelanjutan?

46. Metoda Auger hole digunakan untuk menentukan hantaran hidrolik jenuh (Ks) suatu tanah. Muka air tanah awal sebelum percobaan diambil sebagai reference level. Jari-jari lubang bor 4 crr
dan dasar lubang pada kedalaman 60 cm dari reference level.
Lapisan kedap terdapat pada kedalaman 6 m di bawah permukaan tanah. Pada waktu t : 0, sejumlah 37 cm air telah dibuang ke
luar. Nilai-nilai berikut ini adalah muka air yang diamati setiap
16 detik: 37.0, 34.7, 33.4, 32.1, 30.8, 29.6, 28.3, 27.1, 26.3,
26.0, dan 25.6 cm.
Hitung hantaran hidrolik (Ks) pada tanah tersebut?

47. Pada suatu areal pertanian seluas 90 ha (lihat gambar), air irigasi
diberikan setiap 6 hari dengan efisiensi pemberian air 65olo.
Kebutuhan air irigasi di petak sawah sebesar 7 mm/hari.
Dianggap bahwa B0% kelebihan air irigasi yang diberikan akan
mengalir sebagai perkolasi menuju ke muka airtanah, dan harus
dapat dibuang (drainase) selama 5 hari sebelum waktu

Lotihan Soal

153

pemberian air irigasi berikutnya. Maksimum tinggi rnuka air


tanah yang diijinkan adalah 1 m dari permukaan tanah. Level
drainase dipilih 1.8 m dari permukaan tanah. Kedalaman lapisan
kedap adalah 10 m dengan konduktivitas hidrolik 2 mm/hari dan

Ditanyakan:
a.

b.

porositas efektif 0.05.

tersebut? (kemiringan pipa lateral sesuai dengan kemiringan

a.

lahan)

Apabila tidak ada penambahan air pada air tanah selain


kelebihan air irigasi, dan u : O.2 m, tentukan spasing

C.

drainase yang sesuai dengan sistim tersebut?

b.
c.

d.

Gambar/desain tata letak (lay out) sistim drainase pipa


komposit untuk areal tersebut?
Apabila sebagai kolektor digunakan pipa beton dengan
diameter yang tersedia 10, 15,20,25 dan 30 cm, tentukan
panjang pipa untuk malirrg-masing jenis apabila akan
dirancang suatu sistim drainase pipa (kolektor) dengan
diameter bertambah, faktor keamanan 75"1o, i : O.2o/o.
Apabila nilai MAD (moisture allowable deficit) tanah pada
areal tersebut adalah 50% dan total air tersedia 120 mm/m,
tentukan interval irigasi dan koefisien drainase yang tepat
untuk sistim tersebut (kedalaman akar : 1 m).

48. Untuk rancangan drainase bawah permukaan suatu lahan pertanian akan digunakan pipa drainase tanah liat (Lihat Cambar).
Pipa tersebut akan ditempatkan pada kedalaman 2.0 m dari
permukaan tanah. Lapisan kedap di daerah tersebut dijumpai
pada kedalaman 5.0 m dari permukaan tanah. Konduktivitas
hidrolik tanah K : 4.0 m/hari. Rata-rata kedalaman air tanah
akan dipertahankan 1.0 m di bawah permukaan tanah. Koefisien
drainase di daerah tersebut 10 mm/hari. Tata-letak pipa raterar
dan parit kolektor seperti pada gambar di bawah ini. Jarak antar
lateral (spacing) 100 m. Diameter pipa yang tersedia di
pasaran adalah 50, 100, 15O,200,250 dan 300 mm.

154

Hitung diameter pipa yang saudara pilih?


Lakukan pengujian apakah panjang maksimum pipa lateral
pada rancangan ini masih dapat dipenuhi oleh diameter pipa

Teknik Drainase Bawah Permukoan

Parit kolektor dirancang sesuai dengan kemiringan lahan


yang tersedia. Tentukan dimensi parit pada titik A? (dimensi

d.

parit kolektor dibuat seragam dengan kapasitas maksimum)


Evaluasi berapa elevasi muka air maksimum di sungai

e.

supaya sistim drainase tersebut dapat berjalan dengan baik?


Apabila elevasi muka air di sungai + 91.0 m. Kemungkinan

apakah yang perlu dirubah dalam rancangan tersebut,


supaya sistim drainase dapat ber.ialan dengan baik? (Uraikan
jawaban saudara secara sistimatis)
f.

Adakah kemungkinan untuk mengganti dengan diameter


pipa yang lebih kecil dari perhitungan pada a). Kalau ada
diameter berapa yang saudara pilih? (cek dengan spasing
lateral yang sudah ditentukan)

g.

Adakah kemungkinan untuk mengganti jenis pipa dengan


pipa plastik lrergelombang dengan diameter yang sama
seperti pada perhitungan a) ? (Uraikan jawaban saudara
secara sistimatis)

Lotihan Soal

155

50. Untuk drainase suatu lahan pertanian dengan menggunakan drainase bawah-permukaan, akan digunakan pipa drainase yang ter-

buat dari tanah liat. Pipa tersebut ditempatkan pada kedalaman


1.5 m dari permukaan tanah. Lapisan kedap dijumpai pada

kedalaman 7 m. Nilai konduktifitas hidrolik K : 0.8 m/hari.


Koefisien drainase di daerah tersebut sebesar 10 mm/hari, dan
rata-rata kedalaman air tanah yang akan dipertahankan adalah 1
m di bawah permukaan tanah. Pipa lateral dirancang dengan
kemiringan 0.1% ,dengan menggunakan faktor pengaman 60%.

1600 yr\

Ditanyakan:

a)
b)

Apabila diameter pipa yang akan dipasang adalah 10 cm,


berapa maksimum panjang lateral yang diperkenankan?
Apabila diameter pipa yang akan dipasang 20 cm, berapa
panjang maksimum lateral yang diperkenankan?

Penyelesaian:
Ska.lq

:i, I t20aoo
tba*aa areaL

4>

',Xat

is

ll-*"s-l,sf*_)

kantorer

R Y^*;

49. Pada suatu daerah pertanian dengan koefisien drainase 12


mm/hari akan dipertahankan maksimum muka air tanah di
tengah antar parit drainase sebesar 0.8 m di bawah permukaan
tanah. Dasar parit berada 2 m di bawah permukaan tanah
dengan kedalaman air pada parit 0.2 m, lebar dasar parit 0.2 m
dengan kemiringan talud 1 : 1. profil tanah terdiri dari 2 rapisan,
ketebalan lapisan atas 2.4 m dengan konduktifitas hidrolik 0.5
m/hari, sedangkan lapisan bawah mempunyai ketebalan 2.4 m
dengan konduktivitas hidrolik 1.5 m/hari. Berapa jarak antar parit
lateral

156

d3 : 1.5 m
D1 :7m

parit

kol<),<to,
, p;pa- La.tea-l
,

pipa tanah liat

an7,t*r^

_lt I i

Teknik Drainase Bawoh Permukaan

:
q:
K

0.8 m/hari
10 mm/hari
m/hari

I
I

l,-gr-

L.l.+

d't

0.010

:1m

kemiringan pipa 0.'l%


FK: 60%

:Keteiangin

.i:irr,;::l

.larak mat ke level drainage

DATA

di tengah (m)

larak mat dari permukaan tanah di tengah

h :d3-d1

0.5

dl :

0.5
1

(m)

Kedalaman saluran (m)

d3:

Jarak ma di saluran dari perm.tanah (m)

dl+h :

Latihan Soal

t.5

1.5

157

51. Dalam perencanaan saluran drainase lapangan

DATA

Keterangan

b:

Lebar saluran (m)

talud

d2:
ro:

kedalaman air di saluran (m)

jari-jari pipa (cm)

10

0.3r

0.1 6

Modul us drainage (m/hari)

q=

0.01

0.01

Konduktivitas hidrolik (m/hari)

K:

0.8

o.8

larak dari level drain ke lapisan kedap (m)

Dl :
H:D:D1-d3:

5.5

5.5

H/h

11

11

1.590909

3.181818

Nomograf Hooghoudt: Cambar 3.5

h/u

perkebunan

airtanah yang diinginkan di bagian tengah dari permukaan tanah

Perimeter basah parit drainase (m)

Kedalaman lapisan kedap (m)

di

kelapa sawit PT Puri Hijau Lestari (Kumpeh, prov. Jambi) di


lahan gambut, diketahui data sebagai berikut: (a) kedalaman

Wq:

80

80

Dari nomograf didapat Gambar 3.4/3.5

Uh:

55

4B

Iarak spasing (m)

L=

27.5

24

t=

28

24

Slope pipa (%)

0.1

0.

FK (Y")

60

60

Diameter pipa (cm)

20

10

q (mm/hari)

10

10

Areal (ha)

12

Spasing L (rn)

28

24

4,286

833

dl :

0,7 m; (b) level drainase atau kedalaman muka air di


1,2 m; (c)
saluran lapangan dari permukaan tanah d4
kedalaman saluran drainase lapangan dari permukaan tanah d3
: 1,5 m; (d) lebar bawah saluran drainase latau b : 1 m; (e)
kedalaman lapisan kedap dari permukaan tanah Dl :6,2 m; (0
Hantaran hidrolik tanah K : 4 m/hari. Modulus drainase q : 50

mm/hari. Pertanyaan: (a) Gambarkan skhema rancangan saluran


drainase, (b) Berapa jarak antar saluran yang saudara rancang?
Penyelesaian:

Nomograf Luas areal pipa halus:


1

1
d2lry"l.$asnlp- - --l

Dari Nomograf Cbr 4.11

Maksimurn panjang pipa (m)

b.

A/L

Untuk diameter pipa 10 cm, maka luas areal layanan 2 ha,


spasing L:24 m, sehinSSa maksimum panjang lateral 833 m
Untuk diameter pipa 20 cm, maka luas areal layanan 12 ha,
spasing L-28 m, sehingga maksimum panjang lateral

deng.rrr

saluran terbuka

4.286 m

158

Cambar Skhematisasi drainase bawah permukaan

Teknik Drainase Bowah Permukoan

Latihon Sool

159

rPT PHL

Keterangan

DATA

Jarak mat ke level drainage di tengah (m)

h:

0.5

Jarak mat dari permukaan tanah di tengah (m)

dr:

o.7

Jarak ma di saluran dari perm.tanah (m)

d3:
dl+h:

Lebar saluran (m)

b:

Kedalaman saluran (m)

PROFIL SINGKAT
CREATA - LPPM
,NST'TU T PERTAN IAN BOGOR

1.5
1.2
1

talud
kedalaman air di saluran (m)

d2:

0.3

Perimeter basah parit drainase (m)

U:

1.6

Modulus drainage (m/hari)

q:

0.050

Konduktivitas hidrol ik (m/hari)

K:
H:

Jarak dari level drain ke lapisan kedap (m)

4.O

5.0

l,

Nomograf Hooghoudt: Gambar 3.4/3.5


10.0

H/h

h/u

0.3

Wq:

80.0

Dari nomograf didapat

Uh:

70.o

Jarak spasing (m)

L-

35.0

eesgcr
IATAN BELAI(AT{G
Pada tahun 1986, Fakultas Teknologi Pertanian lpB
menerima bantuan hibah dari Pemerintah Jepang melalui Japan
lnternational Cooperation Agency (JICA) untuk membangun fasilitas
pendidikan. Bantuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan proyek
Kerjasama Teknik selama lima tahun (19S8-1993) antara Direktorat
'Iinggi (DlKTl) dan
Jenderal Pendidikan
JICA dengan narqa rhe Academic Developnient a{ Craduate Program at the Faculty of Agri-

160

Teknik Drainase Bawah Permukaan

T
cu ltu ral Engi neeri ng

and T ech nology (AD AEn P roiect-lT A-9(a)- 1 3 2,


yang bertuiuan meningkatkan kemampuan akademik dari Program
Pascasarjana di bidang Keteknikan Pertanian. Untuk melaniutkan
berbagai program yang telah dirintis melalui kegiatan Proyek ADAET
tersebut, maka pada tahun 1994 didirikanlah CREATA sebagai salah
satu pusat penelitian di bawah Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat - lPB. Pada tahun 1996 CREATA menerima hibah
dari Proyek URCE (University Research for Craduate Education),
DlKTl, untuk peningkatan kompetensi para dosen dalam kemampuan yang berkaitan dengan pengaiaran dan penelitian pada tingkat
pascasarjana di Program Studi llmu Keteknikan Pertanian.

ffiBEIAIAIIT
Kegiatan CREATA ditujukan untuk turut berkontribusi dalam
pembangunan nasional, melalui kegiatan penelitian, training,
seminar, dan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan kompetensi
clan mandatnya, antara lain adalah:

1.

teknologi energi terbarukan, infrastruktur pertanian,

2.

UlSlr
Menjadi pusat terkemuka dalam pengembangan dan penerapan ilmu teknik untuk menciptakan teknologi tepat guna bagi
pembangunan pertanian tropika berkelanjutan, baik di tingkat on-

3.

farm, maupun off-farm.


4.

lllSl:

Penelitian kajian sumber-sumber bio-energi dan pengembangan


pe-nge-

lolaan air', teknologi pascapanen hasil pertanian dan serat, dan


lain-lain.
Pelatihan dan magang, baik tingkat nasional, regional mau-pun
internasional. CREATA selama 6 tahun menyelengarakan training bagi '13 negara Afrika untuk bidang Teknik Pertanian dan
bagi negara CLMV untuk bidang Teknologi Energi Terbarukan.
Pemberdayaan masyarakat melalui introduksi teknologi yang
dikembangkan CREATA, seperti alat pengering surya, alat
pendingin nokturnal, dan lain-lain.
Seminar-seminar yang berkaitan dengan isu yang urgen.

Dalam melaksanakan kegiatannya CREATA bermitra dengan berbagai

Mengembangkan teknologi tepat guna untuk menciptakan


sistem produksi optimum berbasis ilmu teknik, sesuai dengan kondisi
pertanian pedesaan dan berwawasan lingkungan yang bertujuan
membantu pembangunan industri pertanian yang berkelanjutan
melalui aktifitas penelitian dasar dan terapan.

pihal<: Pemerintah (Pusat dan Daerah), Swasta/lndustri, LSM,


Lembaga Penelitian, dan Lembaga-lembaga lnternasional seperti
JICA, JACEF, NAM Center, ISESCO, dan lain-lain.

cQS16)

TIIA]IDATI

1.
2.
3.
4.

162

Pengembangan infrastruktur pertanian dan pedesaan,


Pengembangan sistem produksi optimum,
Pengembangan teknologi inovatif dan
Pengembangan sistem informasi mekanisasi pertanian.

Teknik Drainase Bawah Permukaan

Profil Singkat Creata

LPPM lnstitut Pertanian Bogor

163

il
TENTANG PENIJLIS

Dedi Kusnadi Kalsim, lahir pada tanggal 16 April


1950 di Tanjungsari, Kab. Sumedang. pendidikan
Sekolah Rakyar dan SMp Negeri di Tanjungsari,

SMA Negeri di Carut. penulis

meneruskan
pendidikan di Institut pertanian Bogor (lpB), Dsp.
Mekanisasi Pertanian, Jur. Teknik Tanah dan Air.
Mendapatkan gelar Insinyur pada tahun 1975,
menjadi staf pengajar di lpB sejak tahun itu.

l-ahun 1978-198o menyelesaikan studi di Asian rnstitute of

Technology (AlT), Bangkok (Thailand), Division of Water Resources


Engineering;. bidang" studi lrrigation Engineering, mendapat gelar
Master of Enginc,ering (M.Eng)" Kemudian tahun lgBT_1gBB
rnenyelesaikan post graduate study di lnternational Institute
for
Hydraulic ancl Environmental Engineering (lHE), Delft, Belanda,
International Course in Hydraulic Engineering, bidang studi
Land and
water Dervelo6:ment. Mendapat gerar Diproma in Hydrauric
Engineering (Dip.HE, w,ith distinction). Tahun 1995 selama

bulan studi di Hokkaicio LJniversity, Jepang, sebagai

empat

invitecr

t
researcher JICA dalam bidang Fengembangan Lahan Cambut di
Hokkaido.

Mata kuliah dan Praktikum yang diasuh di Dep. Teknik Pertanian,


Fak. Teknologi Pertanian IPB adalah Hubungan Tanah-Air dan
Tanaman, Hidrologi Teknik, Teknik lrigasi dan Drainase, Rancangan
lrigasi Gravitasi dan Drainase. Dua buah buku yang diterbitkan oleh
Craha llmu, yakni Fisika Lengas Tanah, dan Teknik lrigasi Bawah
Permukaan.

Pengalaman profesional penulis di bidang penelitian dan proyek


Fengembangan Lahan dan Air di berbagai daerah di lndonesia,
dituangkan dalam beberapa tulisan antara lain: Model Sistem Penge-

lolaan Air untuk Pengembangan [,ahan Cambut Berwawasan Lingkungan, Konservasi Tanah dan Air Terpadu (KTAT) pada Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai di Wilayah Sungai Seputih-Sekampung (Lampung), Program Terpadu lmplementasi Budidaya Padi SRI (System of
Rfce /ntensification) di Daerah lrigasi dalam Usaha Peningkatan
Ketahanan Pangan Nasional, Rancangan Partisipatif Perbaikan Sistem
Tata Air Mikro

di Lamunti (Kalteng).
gclScue

166

Teknik Drainase Bowah Permukaan