Anda di halaman 1dari 4

TRANSFER PRICING

Kelompok 6
Definisi Transfer Pricing :
Definisi Transfer Pricing menurut akuntansi adalah nilai barang atau jasa yang ditransfer
oleh suatu pusat pertanggungjawaban ke pusat pertanggungjawaban lainnya, sedangkan pengertian
Transfer Pricing menurut Dirjen Pajak adalah Penetapan harga atas transaksi penyerahan barang
berwujud, barang tidak berwujud, atau penyediaan jasa antar pihak yang memiliki hubungan istimewa
(transaksi afiliasi).

Tujuan Transfer Pricing


1.

Secara bisnis komersial, penentuan harga transfer dalam jumlah yang tidak sama dengan harga
pasar dapat didorong secara murni oleh kebijakan usaha, misalnya motivasi untuk:
a. Untuk mendapatkan atau memelihara pangsa pasar (market penetration)
b. Merangsang produktifitas dan kinerja manajer lokal,
c. Menaikkan rating perusahaan di negara tertentu,
d. Mengamankan arus kas (cash flows) anak perusahaan,

2.

Praktek transfer pricing dengan harga yang tidak sama dengan harga pasar dapat
didorong oleh alasan pajak (tax motive) dan bukan pajak (non tax motive).

3.

Motivasi pajak atas praktik transfer pricing dilaksanakan dengan sedapat mungkin
memindahkan penghasilan dari negara dengan beban pajak mahal ke negara dengan
beban pajak terendah atau minimal atau kalau mungkin nihil.

Mekanisme Transfer Pricing


Untuk tujuan penghematan pajak, beberapa mekanisme transfer pricing adalah:
a) Pemberian harga dengan mark-up/down atas transfer barang misalnya mark-up harga impor
barang dan mark-down harga ekspor barang
b) Pengutipan tarif imbalan atas penyerahan jasa, seperti komisi, jasa teknik, jasa manajemen,
royalti, franchise dan lisensi dan jasa produksi (toll fee)
c) Alokasi biaya bersama, misalnya untuk beban atas jasa yang hanya dimanfaatkan di Indonesia
akan dialokasikan langsung,sedang yang tidak jelas pemanfaatannya akan dialokasikan dengan
suatu formula pembagian. Umumnya disebut biaya administrasi dan manajemen atau overhead.
d) Pembiayaan perusahaan sebagian besar dengan pinjaman (thin capitalization). Hal ini
dikarenakan ketentuan perpajakan atas penghasilan dari investasi ekuitas (dividen) dengan
pinjaman (bunga) mempunyai perlakuan yang berbeda. Perlakuan perpajakan lebih
menguntungkan bunga dari dividen.
Tipe dan Metode Transfer Pricing
Beberapa metode transfer pricing yang sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan Multinasional dan
divisionalisasi/departementasi dalam melakukan aktifitas keuangannya adalah:
1. Harga Transfer Dasar Biaya (Cost-Based Transfer Pricing)
Perusahaan yang menggunakan metode transfer atas dasar biaya menetapkan harga transfer atas
biaya variabel dan tetap yang bisa dalam 3 pemelihan bentuk yaitu : biaya penuh (full cost), biaya penuh
ditambah mark-up (full cost plus markup) dan gabungan antara biaya variabel dan tetap (variable cost
plus fixed fee).
2. Harga Transfer atas Dasar Harga Pasar (Market Basis Transfer Pricing)
Apabila ada suatu pasar yang sempurna, metode transfer pricing atas dasar harga pasar inilah
merupakan ukuran yang paling memadai karena sifatnya yang independen. Namun keterbatasan
informasi pasar yang terkadang menjadi kendala dalam mengunakan transfer pricing yang berdasarkan
harga pasar.

3. Harga Transfer Negosiasi (Negotiated Transfer Prices)


Dalam ketiadaan harga, beberapa perusahaan memperkenankan divisi-divisi dalam perusahaan
yang berkepentingan dengan transfer pricing untuk menegosiasikan harga transfer yang diinginkan. Harga
transfer negosiasian mencerminkan prespektif kontrolabilitas yang inheren dalam pusat-pusat
pertanggungjawaban karena setiap divisi yang berkepentingan tersebut pada akhirnya yang akan
bertanggung jawab atas harga transfer yang dinegosiasikan.

KEPENTINGAN DIRJEN PAJAK


Dirjen Pajak berkepentingan untuk memastikan bahwa Wajib Pajak tidak menggunakan transaksi
afiliasi dan penetapan harga atas transaksi tersebut (transfer pricing) sebagai sarana penghindaran pajak
(tax avoidance), karena Transaksi afiliasi tidak selalu mengadopsi kondisi dan syarat yang berlaku di
pasar. Untuk itu Dirjen Pajak akan terus mengembangkan program untuk meningkatkan kepatuhan Wajib
Pajak pada saat melakukan transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa, sehingga :
a) transfer pricing yang dilakukan oleh wajib pajak sesuai dengan prinsip kewajaran (arms length
principle)
b) metodologi transfer pricing yang digunakan oleh wajib pajak sesuai dengan peraturan yang
berlaku dan praktik usaha yang lazim yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa;
c) wajib pajak yang bersangkutan dan perusahaan afiliasinya telah membayar pajak sesusai dengan
proporsi fungsinya dalam transaksi; serta
d) mendokumentasikan penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha, dalam penentuan harga
transaksinya. Untuk itu wajib pajak yang melakukan transaksi afiliasi wajib menyiapkan
dokumentasi yang memadai untuk membuktikan bahwa transfer pricing yang dilakukan telah
sesuai dengan arms length principle (membuat TP Documentation).

Hubungan Istimewa
Menurut PSAK 7 : Pihak pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa adalah pihak pihak
yang dianggap mempunyai kemampuan untuk mengendalikan pihak lain atau mempunyai pengaruh
signifikan atas pihak lain dalam mengambil keputusan keuanagan dan oprasional.
Untuk mencegah penghindaran pajak karena penentuan harga tidak wajar (non arm's length
price), muncul Peraturan Dirjen Pajak No.PER-42/PJ/2011 tanggal 11 November 2011. Aturan ini
membahas penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha (arms length principles) terkait transaksi
antara wajib pajak dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa. Aturan ini mengharuskan wajib
pajak untuk menggunakan nilai pasar wajar dalam bertransaksi dengan pihak istimewa (related parties).
Pasal 18 ayat (4) UU PPh menyebut 3 kemungkinan terjadinya hubungan istimewa yaitu:
1.

kepemilikan (penyertaan langsung maupun tidak langsung saham sebesar 25% atau lebih dan
hubungan antara dua WP atau lebih yang berada di bawah kepemilikan yang sama

2.

Penguasaan (langsung maupun tidak langsung misalnya karena manajemen atau ketergantungan
teknologi

3.

Untuk wajib pajak OP, hubungan keluarga (sedarah maupun semenda, baik dalam garis keturunan
lurus maupun ke samping satu derajat)

Negara Tax Haven

Definisi Tax Haven dalam UU No 36 Tahun 2008, Pasal 18 (3c) menyebutkan bahwa tax haven
adalah Negara yang memberikan perlindungan pajak. Sedangkan SE Dirjen Pajak No SE04/PJ.7/1993