Anda di halaman 1dari 1

Farmakogenetik merupakan sutau ilmu yang mempelajari tentang pengaruh faktor

genetik terhadap respon suatu obat dalam tubuh dapat diartikan pula sebagai ilmu yang
mengidentifikasi interaksi antara obat dan gen individual. Hal ini didasarkan atas
terjadinya perbedaan respon tiap individu bila mengkonsumsi suatu obat. Perbedaan
tersebut dapat kita tinjau dari efek yang ditimbulkannya apakah meningkatkan efek,
menurun. Efek atau justru cenderung meningkatkan toksisitas obat. Dasar pengetahuan
tentang farmakogenetik dapat digunkana untuk memodifikasi dalam penemuan obat
maupun nasib obat dalam tubuh.
Farmakogenomik berakar dari farmakogenetik, suatu bidang ilmu yang telah dikenal
lebih dari 50 tahun yang lalu. Farmakogenomik mencakup studi mengenai keseluruhan
genom manusia, sementara genetik merupakan studi mengenai gen individual.
Farmakogenomik mengamati respon obat terhadap keseluruhan genom, sedangkan
farmakogenetik mengidentifikasi interaksi antara obat dan gen individual.
Farmakogenomik mencari korelasi yang belum terungkap antara pola-pola genom dengan
manifestasi klinis. Sebuah korelasi yang jika terungkap akan dapat memberikan
kemudahan bagi para dokter dan ahli farmasi untuk membuat keputusan yang tepat dan
rasional serta menurunkan angka probabilitas kesalahan pemberian obat, kesalahan dosis
maupun ADR (adverse drug reaction) karena penggunaan metode trial-and-error.Metode
trial-and-error dengan pendekatan one-drug-fits-all yang dilakukan dalam
penatalaksanaan pasien seringkali memberikan hasil yang tidak efektif dan efisien,
membuang waktu, tingginya biaya yang dikeluarkan, dan yang terpenting, gagalnya
terapi. Analisis farmakogenomik membantu mengidentifikasi pasien yang
memetabolisme obat tertentu secara abnormal. Penderita seperti ini umumnya
memetabolisme suatu obat tertentu dengan cepat sehingga tidak berefek terapi (terhadap
sistem yang dituju). Respons yang berbeda-beda inilah yang dipelajari dalam ilmu
farmakogenomik dan farmakogenetik sebagai bagian dari perkembangan ilmu biologi
molekuler. Saat ini telah ditemukan dalam sejumlah populasi di Indonesia yang tidak
memiliki enzim tertentu di hatinya. Enzim ini berfungsi untuk mengkonjugasikan obat
tertentu. Berdasarkan hal itu, dianggap perlu adanya pemilihan pengobatan secara khusus
(fungsi farmakogenomik) dengan variasi 15-50% populasi. Meski demikian, sistem
pengobatan individual tidak hanya untuk kuratif, tetapi juga preventif. Dengan data gen
yang sudah dikumpulkan, bisa diketahui seseorang atau suatu populasi berisiko atau tidak
terhadap penyakit tertentu. Kalau ternyata dari data genetik tersebut misalnya seseorang
rentan terhadap penyakit jantung atau kanker usus besar, maka sejak dini individu
bersangkutan sudah bisa diingatkan agar mengatur pola makan maupun aktivitas fisiknya.
Di Amerika Serikat, menurut Penelope Manasco, wakil president First Genetik Trust,
Illinois yang menangani data genetik dan bioinformatik, saat ini efektifitas obat dalam
penatalaksanaan pasien berada dalam range 30-50%. Hal ini suatu hal yang
mengkhawatirkan untuk obat tertentu seperti berbagai macam antidepresi dimana
pemilihan obat yang tepat memakan waktu 6 -12 bulan. Dengan harapan ilmu
farmakogenomik, probabilitas keefektifitasan obat akan dapat meningkat menjadi 7080%. Variasi genetik dapat timbul karena adanya mutasi, delesi, inversi.