Anda di halaman 1dari 233
B | ! | JaD. Parera Edisi Kedua Parera, J.D Teori semantik / J.D. Parera ; editor, Ida Syaftida, Yati Sumiharti. — Jakarta : Erlangga, 2004. we hlm 5 ... em ISBN 979-741-420-5 1. Semantik, I. Judul. IL. Syafrida, Ida TI. Sumiharti, Yati 401.43 TEORI SEMANTIK Edisi Kedua Jos Daniel Parera Hak Cipta @ 2004 pada Penerbis Erlangga Editor Yai Sumiharti Ida Syafrida, SS Buku ini disct dan dilayout olch Bagian Produksi Penerbit Erlanggu dengan Power Macintosh G4 (Agaramond 11pt) Setting: Tim Perti Departemen Setting Desain Sampul: Achmad Taupik Percetakan PT. Gelora Aksara Pratama 09 08 07 06 05% 7654321 Dilarang keras mengutip, menjiplak, mengkopi sebagian atau seluruh isi buku ini serta ‘memperjualbelikannya tanpa izin tertulis dari Penerbit Erlangga. © HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG. vi Daftar bi BAGIAN 2 ARAS MAKNA LINGUISTIK 59 Bab 4 Analisis Hubungan Antarmakna 60 Batas Liput Semantik 60; Hubungan antarmakna Denotatif atau antarmakna Leksikal 60; Sinonim dan Kesinoniman 61; Sinonim dan Kamus Sinonim 63; Kemunculan Sinonimi 64; Perbedaan antara Makna Sinonimi 67; Antonimi dan Permasalahannya 70; Netralisasi 75; Penjaminan Makna 76; Superordinat alias Hipermini 80; Homonimi/ Kehomonimian dan Polisem/Kepolisemian 81 Bab 5 Kemungkinan-kemungkinan Makna Gramatikal 90 isis iimat 90: a Kata dan Mz limat 91; Kemungkinan-kemungkinan Makna Gramatikal 92; Hubungan Sintagmatik 92; Makna Kata dan Makna Gramatikal Frase 93; Teknik Immediate Constituents, ICs 95 Bab 6 __Makna Konotasi dan Retorika 97 Pengantar 97; Hubungan antara Denotasi dan Konotasi 97; Rangsangan Konotasi 99; Konotasi Merangsang dan Menggugah Pancaindra 99; Konotasi Merangsang dan Menggugah Stereotip 100; Konotasi Merangsang dan Menggugah Sikap dan Keyakinan Popular 102; Konotasi Merangsang dan Menggugah Sikap dan Kepentingan Pribadi 103; Etika Berkonotasi 104; Penutup 105 Bab 7 _Pergeseran Makna dan Perubahan Makna 106 Pengantar 106; Faktor Pemudah Pergeseran dan Perubahan Makna 108; Sebab-sebab Pergeseran dan Perubahan Makna 110; Hakikat Pergeseran dan Perubahan Makna 118; Asosiasi Kesamaan Tanggapan Pancaindra (Metafora) 119; Metonimi/Metonimia atau Hubungan Kemaknaan 121; Konsekuensi Pergeseran dan Perubahan Makna 125; Rangkuman Penutup 130; Metafora 130 Bab 8 — Analisis Medan Makna 137 Pandangan F. de Saussure 137; Teori Medan Makna dari J. Trier 139; Medan Makna dan Tesaurus 140 Bab 9 Analisis Komponen Makna 158 Hakikat Analisis Komponen 158; Analisis Komponen Makna Kata 159; Manfaat Formal Analisis Komponen 161; Analisis Komponen dan Medan Makna 165 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kata Pengantar Edisi Kedua Buku Téori Semantik ini sebenarnya sudah lama terbit dan telah menjadi rujukan studi semantik untuk beberapa perguruan tinggi di Indonesia, baik pada tingkat S1 maupun pada tingkar $2. Buku ini berada dalam lingkungan bersaing karena dalam kurun waktu hampir sepuluh tahun sudah terbit pula buku-buku tentang semantik dalam bahasa Indonesia yang ditulis oleh para linguis Indonesia. Di samping itu, tentu saja beberapa buku semantik dalam bahasa Inggris pun telah masuk ke dalam khazanah perpustakaan Indonesia. Lama kelamaan saya sebagai penulis buku Téori Semantik merasa keder juga dan mungkin akan mengalchiri jurus profesi saya scbagai linguis swasta dan penulis alam. Akan tetapi, setelah saya mempelajari buku-buku semantik yang beredar dalam lingkungan perguruan tinggi Indonesia, rasanya saya tidak boleh keder dan tidak boleh berhenti menulis dengan segala kekurangan yang ada. Akhirnya saya memutuskan untuk menyusun edisi kedua buku Zeori Semantik. Naskah yang saya siapkan sudah berumur hampir enam tahun. Saya ketik dan saya simpan dalam disket saya. Saya baca kembali naskah itu, saya edit, saya tambahkan, saya kurangkan, dan akhimya saya simpan kembali. Hastat menulis saya timbul tenggelam berdasarkan selera saya saja. Maklumlah, saya ini penulis alam. Berkarya dengan menulis sewaktu saya mau dan berhenti menulis sekehendak saya pula. Jadilah kegiatan menulis saya sebagai kegiatan seorang seniman. Setelah saya membaca beberapa buku tentang makna dan semantik dalam bahasa Indonesia, timbul kembali hasrat saya untuk berbuat sesuatu: menulis dan membckali generasi yang akan datang dengan sebuah karya yang mungkin masih ada harganya. Tiap penulis seniman mempunyai ciri dan gaya sendiri. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. xii Kata Pengantar kelapangan dan kelengangan ruang-ruang dalam rumah. Kiranya akan berani pula mereka menjelajahi seluruh ruang. Kalau bukan harta karun, maka harta pengalamanlah yang mereka peroleh. Berbahagialah mereka yang tidak banyak tahu dan mau mencari tahu, Kepada mereka harus saya berikan pujian. Semoga kelapangan dan kelengangan buku ini makin membangkitkan keingintahuan kita. Diam semata Hening sejenak Tiada seberapa Pulang pokok Jakarta, 21 September 1990 Salam, Jos Daniel Parera aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 4 Teori Semantike than what the words or phrases in those utterances might mean by themselves. Pragmatics is the study of speaker meaning. This type of study necessarily involves the interpretation of what people mean in a particular context and how the context influences what is said. It requires a consideration of how speakers organize what they want to say in accordance with who theyre talking to, where, when, and under what cir- cumstances. Pragmatics is the study of contextual meaning. This approach also necessarily explores how listeners can make inferences about what is said in order to arrive at an interpretation of the speakers intended meaning. This type of study explores how a great deal of what is unsaid is recognized as part of what is communicated. We might say that it is the investigation of invisible meaning. Pragmatics is the study of how more gets communicated than is said. This perspective then raises the question of what determines the choice between the said and the unsaid. The basic answer is tied to the notion of distance, Closeness, whether it is assumption of how clase or distant the Listener is, speakers determine how much needs to be said. Pragmatics is the study of the expression of relative distance. These are the four areas that pragmatics is concerned with. To understand how it got to be that way, we have to briefly review its relationship with other areas of linguistic analysis. Pada kalimat tanya, “Tidakkah ibu tahu bahwa saya diutus untuk menyelamatkan dunia?” merupakan sebuah pernyataan atau berita gembira. Peran makna pragmatik tampak dalam setiap pembicaraan ketika pembicara selalu mengatakan, ”... maksud saya ....” Coba dengarkan sebentar dalam acara tanya jawab, pasti ada penanya akan mengujarkan "maksud saya” setelah ia berbicara pada awalnya dengan beberapa kalimat atau beberapa waktu lamanya. Studi tentang kemungkinan makna pragmatik sesuai dengan fungsi peng- gunaannya secara teoretis telah dikembangkan oleh beberapa pakar bahasa bidang pragmatik makna, misalnya George Yule (1997) dan Geoffrey Leech (1983). Aras Makna Kontekstual Jika Anda mendengar ujaran "matikan’, maka akan muncul dalam pikiran Anda *matikan” apa. Ujaran ”matikan” sudah pasti tidak muncul secara serta merta. Ujaran "matikan” berhubungan dengan pengetahuan sebelumnya atau penge- tahuan bersama yang telah dimiliki bersama. Ujaran itu mungkin dapat bermakna "matikan lampu, matikan mesin mobil, matikan radio, matikan seekor binatang aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 8 Teori Semantik (GAMBARY2) Makna Linguistik [— Hakikat Makna = Makna Denotasi Makna Konotasi ‘Sinonimi Hubungan [~~ Antarmakna |__ Makna Pemarkah Antarklausa Kohesi Antarkalimat Waktu Tempat aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 12 Teori Semantik Bahasa informatif bersifat rasional. Bahasa ini menggambarkan apa yang telah lampau, sekarang, dan akan datang. Bahasa informatif mempergunakan sign bahasa sedemikian rupa sehingga menimbulkan interpretasi seperti apa adanya pada si pendengar atau pembaca. Bahasa valuatif menimbulkan emosi dan perasaan tertentu pada pendengar atau pembaca. Bahasa ini memberikan informasi dalam bentuk yang menckankan perasaan. Bahasa valuatif akan menimbulkan sikap tertentu dan pendirian yang lebih mengutamakan sesuatu, misalnya, bahasa cerita-cerita fiktif, puisi, politik, dan retorika tertentu. Bahasa incitif ingin menimbulkan tindakan atau aksi. Bahasa incitif me- rangsang tindakan dan memberikan keberanian untuk bertindak. Bahasa incitif digunakan dalam bidang hukum/legal, moral, agama, dan tata bahasa. Bahasa sistemik ialah bahasa yang bersifat mengatur, memberikan pikiran yang kritis dan spekulatif. Bahasa ini hanya bersifat menata apa yang telah dicapai oleh tiga fungsi penggunaan bahasa terdahulu. Bahasa sistemik terdapat dalam bidang kosmologikal, kritikal, propagandistik, dan metafisikal. Kita dapat menggambarkan hubungan antara fungsi penggunaan bahasa dan modus penggunaan seperti di bawah ini: Penggunaan Modus Penggunaan Modus Informatif —————> designatif Valuatif =$—— > apmaisal Sistemike —————> Formatif Inciif = = ———> _preskriptif Sumber: Bess Sardel. 1958. The Humanity of Words. hlm. 155 Modus berbahasa merujuk kepada cara bagaimana satu tujuan dapat tercapai dengan baik atau paling baik. Modus designasi menunjukkan kepada rujukan yang empiris. Oleh karena itu, bahasa dengan modus designasi biasanya merujuk kepada kebenaran. Bahasa designasi yang secara konsisten merujuk kepada data empiris adalah bahasa yang paling dipercayai. Modus apreasif memberikan penilaian yang bersifat personal, misalnya negatif dan positif, tinggi dan rendah, setuju dan tidak setuju, kotor dan bersih, etis dan tak etis, kawan dan lawan. Modus apreasif bersifat pribadi. Oleh karena itu, penilaian itu dapat benar dan tidak benar. Penilaian merupakan opini. Modus preskriptif menunjukkan tujuan yang ingin dicapai oleh pembicara atau penulis. Modus preskriptif berusaha mencapai rujuan bahasa. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 16 ‘Teori Semantik Gaya, bahkan konteks serta proporsi yang bertalian dengan masalah ke- budayaan, sistem nilai ataupun hubungan kekuasaan, di satu pihak merupakan kenyataan yang wajib dipertimbangkan serta diindahkan, sebaliknya juga sering- kali menjadi kenyataan yang dirasakan sebagai pembatasan kebebasan atau pembebanan tanggung jawab yang berlebihan. Celakanya, dalam persoalan semacam itu, formulanya bukanlah dua kali dua sama dengan empat. Formula sosial tidak dapat ditentukan oleh batas-batas kuantitatif. Batasnya kualitatif, itu pun bertabiat seperti karet, dapat mulur, dapat pula mungkret. Sebaliknya, justru dalam pembatasan yang sifatnya lebih kualitatif daripada kuantitatif itu, terletak ruangan bagi pers untuk ikut membangun kebebasan pers yang konstruktif sebagai bagian yang aktif dari pembangunan masyarakat yang semakin terbuka, semakin maju, semakin demokratis, semakin berkeadilan sosial. Pekerjaan itu tidak sederhana, baik untuk pemerintah maupun untuk pers. Tetapi pekerjaan itu perlu dilaksanakan, bahkan harus dilaksanakan. Kita kembali ke Menteri Sosial, Ny. Dr. Haryati Soebadio. Kecuali ceplas- ceplos polos, wanita itu seorang cendekiawan. Pernah ia menyambut pembukaan pameran lukisan Sudarso, pelukis wanita cantik Indonesia. Ny. Dr. Haryati yang pada waktu itu menjabat Dirjen Kebudayaan, meng- uraikan misteri wanita dengan amat mengasyikkan, karena mendasar, sekaligus aktual serta kaya akan dimensi. Tatkala sebagai Menteri Sosial berceramah tentang Kartini, pada hari peringatan pelopor emansipasi wanita Indonesia itu, paparannya juga memikat. Dapatlah kita perkirakan, dengan Ny. Haryati sebagai menteri, Departemen Sosial akan menjadi departemen yang barangkali ketularan kelincahan, keramah- an, warna kedalaman serta rasa setia kawannya yang besar. Ulasan ini tanpa kita sadari membawa pada suatu pertanyaan, bagaimana akhir proses perkembangannya, apabila seorang cendekiawan menjadi menteri. Dua sifat itu saling mengisi atau saling melunturkan? Peranan model raja sekaligus filsuf menurut gambaran Plato, atau profil pandito-ratu menurut sejarah klasik subkultur Jawa, mengambil bentuk-bentuk yang bagaimana dalam wujud kombinasi antara kecendekiawanan serta ke- kuasaan. Ataukah kita menerima begitu saja, tak terhindarkan, bahwa jika ingin efektif dan dengan demikian pekerjaannya terlaksana, cendekiawan harus berkembang menjadi teknokrat dalam tata pemerintahan. (Kompas, 30 April 1988) aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 20 Teori Semantik Yang dimaksudkan dengan indeks vertikal ialah pengabstraksian sesuai dengan tingkat atau ranking. Korzybski memberikan diagram dengan nama diferensial struktural”. Dengan diagram diferensial strulerural, ia ingin melatih para siswa/mahasiswa untuk melakukan abstraksi secara sadar. Misalnya, kita menyebuckan kata “eulang”. Kata ini mempunyai beberapa tingkat abetralai. Abstraksi ini merupakan satu lingkaran pengetahuan, Perhatikanlah diagram di bawah ini, Anak panah menunjukkan lingkaran abstraksi. Contoh Indeks Vertikal dari Korzybski > Pi[evenfier maa > aang none Ht: “** tulang* ~ tulang di pasar fit aw See pe tulang® = tulang sebagai kata EI A ce nnn tulang’ — tulang sebagai kejadian, terdiri dari elektron-alektron tidak dapat diatami Seckor anjing akan tertarik kepada tulang?. Tetapi seekor anjing pun akan datang mendekat jika kita katakan, "Mari anjing, ada tulang di sini untuk Anda!” Setiap orang akan membuat abstraksi yang makin lama makin tinggi dengan langkah yang tidak teratur dan tidak tentu. Ada empat kekeliruan semantik dapat dihindarkan dengan indeks vertikal ini. (1) Korzybski berpendapat bahwa dalam kehidupan setiap hari, manusia sering mengacaukan dua abstraksi dalam indcks hicrarki, yakni kata dan benda. Misalnya, tulang” tidak sama dengan tulang’. Korzybski memberikan pe- ngalamannya tentang keterangan seorang dokter tentang penyakit anaknya. Dokter itu mengatakan "leukemia tidak dapat dihilangkan dari gambar darah’. Apakah leukemia itu merupakan benda penyakit yang mendapatkan simbol itu atau kata leukemia itu sendiri? Menurut Korzybski, orang yang mengacaukan kata dan benda adalah apa yang dikatakannya verbalizer. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 24 Teori Semantik 4. | ‘Propertiest of ‘substance’, Relative invariance of function, dyna- ‘atributes’, ‘qualities’ mic structure, ete. of ‘matter’, etc. 5. | Two-valued,’either-or’, inflexible, Infinite-valued flexibility, degree dogmatic orientations orientations 6. | Static, finalistic ‘allness’; finite num- Dynamic non-allness: infinite number ber of characteristics attitudes of charateristics attitudes 7. | By definition ‘absolute sameness in Empirical non-identity, a natural law all” respects'(‘identity’) as universal asgravitation 8. | Two-valued ‘certainty’, etc. Infinite-valued maximum probability 9. | Static absolutism Dynamic relativism 10. | By definition ‘absolute space’, etc. Empirical fuilness of electromagnetic, gravitational, etc., fields 11. | By definition ‘absolute time’ Empirical space-time 12. | By definition ‘absolute simuitaneity’ Empirical relative simuitaneity 13. | Additive (‘and’), linear Functional, non-linear 14. | (@ + 4)-dimensional ‘space’ and _4-dimensional space-time ‘time’ 15. | Euclidean system Non-euclidean systems 16. | Newtonian system Einsteinian or non-newtonian systems 17. | 'Sensedata predominant Inferential data as fundamental new factors 18. | Macroscopic and microscopic levels Sub-microscopic levels 19. | Methods of magic (self-deception) Elimination of self-deception 20. | Fibers, neurons, etc.,/objective’ Electro-colloidal process orientations orientations 21. | Eventual ‘organism-as-a-whole’, Organism-as-a-whole-in-environ ments, disregarding environmental factors introducing new unavoidable fac- tors aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 28 © Teori Semansik The Meaning of Meaning oleh C.K. Ogden dan LA, Richards Buku ini menandakan satu titik balik historis dalam sejarah semantik. Sudah banyak tulisan tentang semantik hanya berkisar pada tataran kata. Juga terdapat tulisan tentang semantik yang hanya memperhatikan aspek psikologis penggunaan bahasa. Dua penulis ini, Ogden dan Richards, telah membawa satu pembaruan: mereka menghubungkan kata dan pikiran ke benda, objek. Untuk itu, kita perlu membatasi dahulu konsep simbol yang merupakan konsep utama dalam tulisan mereka. Untuk Ogden dan Richards, istilah “simbol” hanya dipakai untuk kata yang merujuk kepada benda, situasi, peristiwa, dan sebagainya. Ilmu baru tentang simbolisme dibatasi pada bidang semantik yang langsung berhubungan dengan kata yang merujuk kepada benda melalui pikiran. ‘Apa yang dimaksudkan oleh Ogden dan Richards dapat digambarkan pada Gambar 2.5 di bawah ini. Diagram ini dikenal dengan segi tiga makna Ogden- Richards. * Segitiga Makna Ogden-Richards aa Men ‘symbol Reférent Dengan demikian, menurut mereka, setiap kata yang menyatakan perasaan dan sikap bukan sebuah simbol. Dalam kalimat “Ini baik”, hanya kata “ini” merupakan satu simbol jika kata “ini” merujuk ke satu benda situasi, peristiwa di dunia nyata, misalnya, sebuah mangga, seorang anak, sebuah pagelaran musik, sebatang pohon, dan sebagainya. Kata “baik” tidak mempunyai fungsi simbolik karena kata “baik” hanya melayani ungkapan sikap. Istilah-istilah seperti "baik, kebebasan, kemerdekaan, kesetiaan, prinsip, kepercayaan, rajin, penting” dan sebagainya bukan merupakan simbol karena, seperti kata mereka, kata-kara itu "complicated by emotional, diplomatic, and other disturbances” (kata-kata itu telah dicampuradukkan dengan perasaan, diplomasi, dan gangguan-gangguan yang lain). Semua istilah di atas dikelompokkan ke dalam “bahasa emotif”. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Batas Liput Studi Semantik Pendahuluan Sebuah telaah tentang semantik tidak akan selesai dengan memberikan makna kepada setiap kata dalam sebuah bahasa. Keluasan telah semantik tampak dalam kepelbagaian pendekatan, aliran, dan topik pembahasan tentang semantik dalam buku-buku yang berjudul semantik atau Semantics. Untuk memberikan sekadar gambaran tentang kepelbagaian ragam celaah dan pembahasan tentang semantik, kami turunkan di sini beberapa topik yang terdapat dalam buku dengan judul Semantics. (1) Semantics 1, Il, oleh John Lyons terdiri atas dua jilid, jilid I tebal 371 halaman dan jilid II tebal 526 halaman atau seluruhnya 897 halaman terdiri atas 17 bab dengan judul-judul urama sebagai berikut. Introduction; some basic terms and concepts Communication and information Language as a semiotic system Semiotics Behaviorist semantics Logical semantics Reference sense and denotation Structural semantics I: semantic fields SRPNAVWAYWNS . Structural semantics II: sense relations 10. Semantics and grammar I 11, Semantics and grammar II 12. Semantics and grammar III aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 36 Teori Semantik (5) James R. Hurford dan Brendan Heasley telah menyusunjsatu buku latihan semantik dengan judul Semantics: a course book. Mereka membagi Jatihan dalam buku ini sesuai dengan topik pembahasan seperti di bawah ini. 1. Basic Ideas in Semantics Unit 1 : About semantics Unit 2: Sentences, utterances, and propositions Unit 3: Reference and sense 2. Form Reference Unit 4: Referring expressions Unit 5: Predicates Unit 6 : Predicates, referring expressions, and universe of discourse Unit 7 : Deixis and definiteness Unit 8 : Words and things; extensions and prototypes 3... . t0 sense Unit 9 : Sense properties and stereotypes Unit 10: Sense relations (1) Unit 11: Sense relations (2) 4, Logic Unit 12: About logic Unit 13: A notation for simple propositions Unit 14: Connectives: and and or Unit 15: More connectives 5. Word Meaning Unit 16 : About dictionaries Unit 17: Meaning postulates Unit 18: Properties of predicates Unit 19: Derivation Unit 20: Participant roles 6. Interpersonal Meaning Unit 21: Speech acts Unit 22 : Perlocutions and illocutions Unit 23 : Fellicity conditions Unit 24: Direct and indirect illocutions aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab 3: Batas Liput Studi Semaniik — 43 dapat dipakai untuk berbicara tentang bahasa atau dirinya sendiri dan tentang semua hal di luar bahasa itu. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal pula kata arti dan erti di samping kata makna. Dalam studi semantic dan linguistik Indonesia pilihan istilah jatuh pada kata makne dan bukan pada kata arti atau erti. Secara umum pemakai bahasa Indonesia lebih sering menggunakan kata arti daripada kata erti dan makna. Misalnya, penutur bahasa Indonesia berkalimat: Apa arti kata “canggih”? Saya belum menangkap arti kedipan mata ibu tadi. Kata-kata orang itu mempunyai arti tertentu bagi pendengarnya. Teu berarti Anda harus datang pada hari pernikahannya. Usahanya belum berarti apa-apa di masa sekarang ini. YR Oy Kata erti hanya diderivasikan dalam bentuk “mengerti” dan ”pengertian”. Kata arti dalam kalimat (1), (2), (3), dan (5) masih dapat disubstitusi dengan kata makna. Sedangkan bencuk “berarti” dalam kalimat (4) tidak dapat digantikan oleh bentuk “bermakna”. Para penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia pun lebih memilih kata makna daripada kata arti. Perhatikanlah uraian tentang makna dua kata tersebut dalam KBBI. Kami petikkan pula dua entri tersebut beserta maknanya dari KBBI edisi kedua halaman 57 untuk entri arti dan halaman 619 untuk entri makna. arti n 1 maksud yg terkandung (dl perkataan, kalimat); makna: apa ~ isyarat itu2; 2 guna; faedah: apa —nya bagi kamu menyakiti binaiang itu; berarti » 1 mengandung maksud: jika ibu marah, itu tidak - belian benci kepadamu; 2. berfaedah; berguna: mungkin per- tolongan saya ini tak ~ bagi penderitaanmu yg begitu besar; 3 sama artinya: mengambil milik orang tanpa permisi - mencuris meng.ar.tikan v 1 memberi arti; menafsirkan: mereka - isyarat itu shg tanda menyerah; 2 mencrangkan maksud sesuatu: ia ~ hata- hata asing dng babasa Indonesia; ar.tivan n arti; tafsirans pengertian; peng.arti.an n proses, perbuatan, cara memberi arti seanti n sama artinya: carilab kata-kata yg - mak.na n Ling 1 arti: ia memperhatikan -- setiap kata yg terdapat dl tulisan uno itw; 2 maksud pembicara atau penulis; pengertian yg diberikan kpd suatu bentuk kebahasaan; -- denotasi Ling makna kata atau kelompok kata yg didasarkan atas hubungan lugas antara satuan bahasa dan wujud di luar bahasa yg diterapi satuan bahasa itu secara tepat; -- deno- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab 3: Basas Lipus Studi Semansik 47 Teori Mentalisme. F. de Saussure yang mula pertama menganjurkan studi bahasa secara sinkronis dan membedakan analisis bahasa atas /a parole, la langue, dan Je lengage, secara tidak nyata telah memelopori teori makna yang bersifat mentalistik. Ia menghubungkan bencuk bahasa lahiriah (la parole) dengan ‘konsep? atau citra mental penuturnya (la langue). Teori mentalisme ini tentu saja ber tentangan dengan teori referensi. Mereka mengatakan bahwa ‘kuda terbang’ atau ‘peasus’ adalah satu citra mental penuturnya walaupun secara real tidak ada. ialah ucapan Glucksberg dan Danks sebagai ber- ikad, “The det Gf posible ineailings in aiiy veh Word W the set of powible feelings, images, ideas, concepts, thoughts, and inferences that a person might produce when that word is heard and processed.” (1975, halaman 50). Pada umumnya penganjur dari teori mentalisme ini adalah para psikolinguis. (dalam ‘Akmajian, dkk, 1986, him. 242) Satu ciri utama dari teori Teori Kontekstual. Uncak memahami pandangan tcori kontckstual, kami kutip ucapan J.R. Firth pada 1930 sebagai berikut: Af we regard language as expressive’ or ‘communicative’ we imply that it is an instrument of inner mental states, And as we know so little of inner menial states, even by the most careful introspection the language problem becomes more mysterious the more we try to explain it by referring it to inner mental happenings which are not observable. By regarding words as acts, events, habits, we limit our inquiry to what is objective in the group life of our fellows. (Meetham, 1969, 499-500). Dari tangan Firth kita mewarisi pikiran tentang konteks situasi dalam analisis makna. Teori kontekstual sejalan dengan teori relativisme dalam pendekatan semantik bandingan antarbahasa. Makna sebuah kata terikat pada lingkungan kultural dan ekologis pemakai bahasa tertentu itu. Teori kontekstual atau konteks situasi sejalan dengan pendapat antropolog B. Malinowski dari Inggris dan apa yang di Amerika Serikat dikenal dengan hipotesis Sapir-Whorf. Teori kontekscual mengisyaratkan pula bahwa scbuah kata atau simbol ujaran tidak mempunyai makna jika ia tetlepas dati konteks. Walaupun demikian, ada pakar semantik yang berpendapat bahwa setiap kata mempunyai makna dasar atau primer yang terlepas dari konteks situasi. Kedua kata itu baru mendapatkan makna sekunder sesuai dengan konteks situasi. Dalam kenyataannya kata itu tidak akan terlepas dari konteks pemakaiannya. Oleh karena itu, pendapat yang membedakan makna primer atau makna dasar aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab 3: Batas Liput Studi Semantik 51 Inggris gramatikal, tetapi tidak berkebermaknaan. Adapun kalimat-kalimat kelompok II berkebermaknaan dan gramatikal. Sebuah teori semantik harus dapat menyajikan satu deskripsi formal untuk membedakan dua kelompok kalimat tersebur. Salah satu pendekatan yang cocok untuk membedakan dua kelompok kalimat itu ialah analisis makna secara kombinatorial atau kita sebut analisis semantik kombinatorial. Analisis Makna Kami dengan sengaja membedakan teori makna dan analisis makna. Teori makna mempersoalkan bagaimana hubungan antara ujaran dengan makna. Ujaran itu dapat berupa simbol yang secara linguistik dibedakan atas morfem terikat, proses morfemis, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Muncullah teori referensial, teori mentalisme, teori kontekstual, dan teori pemakaian. Jika kita telah menyepakati salah satu teori tentang makna atau peng- gabungan antara teori referensial kontekstual, maka sekarang timbul masalah bagaimana makna-makna itu dianalisis. Teknik analisis makna merupakan satu usaha untuk mengelompokkan, membedakan, dan menghubungkan masing-masing hakikat makna. Misalnya, kita ingin menganalisis makna kucing. Makna kucing dapat dianalisis atas ciri ‘makhluk bernyawa hidup noninsan konkret nonseks/netral’. Lain halnya dengan ciri makna kata perempuan. Kata perempuan berciri makna ‘makhluk bernyawa hidup insan seks/betina’. Analisis semacam ini disebut analisis komponen makna kata. Kami membedakan empat teknik analisis makna, yakni (1) analisis hu- bungan antarmakna, (2) analisis kombinatorial, (3) analisis medan makna (semantic fields), dan (4) analisis komponen makna. Keempat teknik analisis makna tersebut akan kami uraikan tersendiri dalam bagian-bagian atau bab-bab yang akan datang. Batas Liput Semantik Setelah kita melihat keluasan dan kepelbagairagaman topik-topik semantik, maka kami menganggap perlu memberikan batas liput semantik. Batas liput semantik ini pun menjadi rujuan sebuah teori semantik. Jawaban bagi batas liput semantik harus berhubungan dengan semua ujaran dalam bahasa yang bermakna dan bubungan-hubungan makna yang dikandung oleh ujaran itu. Dengan kata lain, batas liput scmantik ialah pencirian hakikat makna dan hubungannya. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. (1.23) (1.24) (1.25) (1.26) (1.27) (1.28) Bab 3: Batas Lipus Seudi Semantik the fact that “my female aunt”, “an adult unmarried male bachelor”, “a naked nude” have senses that contain superfluous information, that is, the sense of the modi- fier is included in the sense of the head. the phenomenon of analytic truth—for example, the fact that each of the sentences “Kings are monarchs,” “Uncles are males”, “Babies are not adults” is true just by virtue of the fact that the meaning of thc subject contains the property expressed by the predicate. the phenomenon of consradictoriness-for example, the fact that each of the sentences “Kings are females”, “Uncles are women”, “Babies are adults” is false just by virtue of the fact that the meaning of the subject con- tains information incompatible with what is attributed to it in the predicate. the phenomenon of synthericigy-for example, the fact that the sentences “Kings are generous”, “Uncles are verbose”, “Babies are cute” are neither true nor false on the basis of meaning alone, that is, their truth or falsity is not settled by the language bur depends on what is the case in actuality. the phenomenon of inconsistency-for example, the fact that the sentences “John is alive” and “John is dead” are neither true together nor false together when they refer to the same individual but, rather, one must be true and the other false. the phenomenon of entailment, that is, the relation be- tween two sentences under which one follows necessarily from the other by virtue of a certain semantic relation between them-for example, the fact that the sentence ”Monarchs are spendthrifts” entails "Queens are spend- thrifts” and the sentence ”The car is red” entails "The car is colored”. the phenomenon of presupposition—for example, the fact that the interrogative “Where is the key?” presupposes the truth of the declarative “The key is someplace” in the sense that the interrogative expresses a question only 55 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. BAGIAN ARAS MAKNA LINGUISTIK Bab 4 Analisis Hubungan Antarmakna Bab 5 Kemungkinan-kemungkinan Makna Gramatikal Bab 6 Makna Konotasi dan Retorika Bab 7 Pergeseran Makna dan Perubahan Makna Bab 8 Analisis Medan Makna Bab 9 Analisis Komponen Makna aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab 4; Analisis Hubungan Antarmakna 63 Juga perlu diperhatikan sinonim pada variasi bahasa standar dan nonstandar. Ujaran seperti “Sudah saya katakan” sinonim dengan ujaran “Sudah saya bilang” atau “bersihkan” dan “bikin bersih”. Perisciwa kesinoniman yang terakliir: muncul idlals kesinoniman‘ancara lata asli dan kata serapan, antara kata serapan dan bentuk terjemahan pinjaman, Kata asli bahasa Indonesia “suhu” bersinonim dengan kata serapan “temperatur”, kata asli “keluarga” bersinonim dengan kata serapan “famili". Kata serapan “akselerasi” bersinonim dengan terjemahan pinjaman “percepatan”, “autosugesti” bersinonim dengan “saran dii”, Sinonim dan Kamus Sinonim Berapa besar kata atau frase yang bersinonim dalam satu bahasa? Adakah sinonim dalam sebuah bahasa? Bukankah sinonim dalam sebuah bahasa merupakan satu kemubaziran? Jika kata merupakan simbol dari reference yang mempunyai referen atau hata juga merupakan simbol dari konsep, maka sinonim seharusnya tidak ada atau hanya sedikit sekali. Kita dapat mencatat bahwa simbol bahasa atau kata yang tidak mempunyai sinonim ialah kata-kata yang merujuk: benda yang khusus, binatang, senjata. hiasan, ukuran, dan sebagian nasabah keluarga. Kesinoniman dalam sebuah bahasa Lebih banyak terjadi akibat serapan antarbahasa, antardialek, dan antarragam babasa. Ini berarti bahasa yang tidak pernah berkontak dengan bahasa atau dialek yang lain tidak akan mempunyai banyak sinonim. Jadi, sebuah kamus sinonim hanya disusun untuk bahasa yang sudah banyak menyerap kosakata bahasa lain dan bahasa yang sudah lama dan akrab berkontak dengan bahasa lain. Kita mengenal sebuah kamus sinonim yang besar untuk bahasa Inggris dengan judul Websters New Dictionary of Synonyms. Kamus ini diantar dengan pengantar materi yang sangat luas dan mendalam (him. 5a~31a). Para penyusun kamus sinonim sadar betul akan kesulitan menyusun kamus sinonim. Usaha mereka yang utama ialah memberikan citi pembeda yang paling kecil antara kata-kata yang dicalonkan sebagai sinonim. Untuk itu, kami kutip secara langsung penjelasan tentang ciri pembeda dari sinonim dengan entri sinonim. synonyms: alike, correspondent, corresponding, equivalent, identical, interchange- able, like, same, similar, synonymic. In the strictest sense smonymous words are scarcely exist; rarely, if ever, are any two words in any language equivalent or identical in meaning: where a difference in meaning cannot easily be shown, a difference in usage comonly exists, so that the words are not interchangeable, By synonymous words we usually understand words thas coincide or nearly coincide aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab 4: Analisis Hubungan Antarmakna 67 Sinonimi Muncul untuk Kerahasiaan. Untuk kerahasiaan dapat saja dimunculkan kata-kata rahasia untuk instansi pengamanan tertentu (intel), dalam profesi (misalnya profesi penjahat), antargeng, dan antarremaja. Kata bokap, nyokap adalah sinonim dengan ayah dan ibu. Kamus Gaul oleh Debby Sahertian, B.Sc. berisikan daftar sinonimi bahasa gaul dan bahasa umum. Pemunculan bahasa gaul bertujuan untuk pembatasan pemahaman dan kerahasiaan antarpe- makai bahasa gaul tertentu. Sinonimi Muncul karena Kolokasi. Sinonimi muncul karena kolokasi yang terbatas. Suara yang dikeluarkan olch binatang dikatakan dengan kata yang berbeda untuk merujuk "bersuara....”. Misalnya, kuda meringkik, kucing mengeong, anjing menyalak, Dalam bahasa Sikka untuk konsep mencuci dikatakan dengan dua kate, yakni dopo dan rasi. Misalnya, bopo labu *mencuci baju, bopo waeng “cuci muka’, tetapi rasi pigang ‘cuci piring’, rasi limang ’cuci tangan’. Kata indab dan cantik bahasa Indonesia sinonimi, tetapi dibatasi kolokasinya. Kata indah sudah dihubungkan dengan keadaan alam, misalnya pemandangan yang indah, sedangkan kata cantik dihubungkan dengan manusia perempuan, misalnya gadis ‘yang cantik. Dalam analisis sinonimi peru dibedakan kemunculan sinonimi yang dilaku- kan dengan sengaja dan tidak sengaja pada satu pihak, dan paparan tentang perbedaan antara sinonimi dalam pemakaian. Perbedaan antara Makna Sinonimi Sinonimi antarkata adalah makna denotasi atau makna kognitif kata-kata yang diterima sebagai sinonimi. Kesulitan yang muncul bagi penganalisis dan penulis sinonimi ialah membedakan dan memberikan baras-batas yang jelas antara makna kata-kata yang diterima sebagai sinonimi itu. Walaupun sulit untuk dibedakan dan diberikan batas-batas sinonimi, usaha pembedaan dan pembatasan perlu dilakukan agar pemakai bahasa dapat memilih makna kata, khususnya kata-kata yang bersinonimi, dengan lebih cermat dan tepat. Sinonimi yang muncul antara kata asli dan serapan, antara kata berdasarkan kolokasi, dan antara dialek dan bahasa umum tidak perlu dibedakan atau dibatasi karena kemunculannya sebagian terjadi secara alami dan sebagian disengajakan. Akan tetapi, sinonimi antara kata-kata intrabahasa dan sinonimi antara kata~ kata bentukan baru (neologisme) perlu dibedakan berdasarkan pemakaiannya dan sikap serta pendirian pemakainya. ‘Ada beberapa perbedaan yang dapat diidentifikasi antara kata-kata yang bersinonimi. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab 4: Analisis Hubungan Antarmakna 74 alias kosokbali. Antonimi termasuk dalam dimensi manusia dalam proses berpikir. Geoffrey Leech (1981, hlm. 92) mempersoalkan dimensi dari pertentangan makna. Selama ini, pertentangan makna dengan istilah antonimi hanya dipasangkan dengan satu dimensi. Padahal, pertentangan makna dapat terjadi dalam beberapa dimensi. Olch katena ita, Leech lebih menyukai istilah incom- patibility atau meaning exclusion. Makna kata perempuan dapat dipertentangkan dengan makna kata anak pada dimensi dewasa dan zero jantina (sebagai padanan “jenis kelamin” atau genus; jantina merupakan akronim untuk “jantan betina’). Padahal, makna kata perempuan pun dapat dipertentangkan dengan makna kata ‘Jelaki’, ‘gadis, ‘kerbau’, atau lebih jauh lagi dengan ‘pohon’, dst. Leech mengatakan: We may say that two componential formula, or the meaning they express, are incompatible if the one contains at least one feature contrasting with @ feature in the other (Leech, 1981, him. 92). Dengan uraian yang dikemukakan oleh Leech tersebut tampak keperluan akan analisis komponen makna dari kata-kata. Jika analisis komponen makna perlu dikerjakan, maka akan tampak setiap kata dapat dipertentangkan dari yang terdekat sampai kepada yang terjauh. Oleh karena itu, pembahasan tentang antonimi dipilihkan yang lebih mudah dipahami dan diterima oleh pemakai bahasa. Antonimi yang diuraikan di bawah ini ditilik dari dimensi fisile, dimensi filsafat, dan dimensi umum yang berhubungan dengan proses dan alam pikir manusia. Sebelum kami bicarakan beberapa kelompok antonim sesuai dengan aliran dualisme dan filsafat, kami ingin memberikan dahulu penjelasan tentang makna pertentangan secara fisik atau makna ‘pertentangan’ dalam konotasi fisik. Per- tentangan adalah hubungan yang menyangkut dua benda yang dapat ditempatkan dalam ‘beberapa posisi atau keadaan atau proses seperti di bawah ini: (1) dua benda itu dapat dihubungkan dengan satu garis lurus yang ditarik dari satu ke yang lain (misalnya jendela-jendela yang bertentangan); (2) dua benda itu terletak pada ujung dari sebuah aksis atau diameter, atau sejenisnya (titik-titik yang bertentangan pada permukaan bumi); (3) dua benda itu bersambung, tetapi Jetaknya berhadapan (pertentangan dari setengah bundaran bumi); (4) dua benda itu bethadapan; jarak antara tidak menjadi akibat (para mitra berdiri berhadapan); (5) mereka berpisah atau bercerai satu dari yang lain (misalnya, mereka ke jalan yang bertentangan); (6) mereka bekerja saling berlawanan (kekuatan yang berten- tangan); (7) mereka tidak dapat berada bersama-sama karena mereka bertentangan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab 4: Analisis Hubungan Antarmakna 75 jenjang ini menunjukkan satu hierarkhi: kapten-mayor-letnan kolonel-kolonel; asisten (asisten ahli, asisten madya)-lektor (lektor muda, lektor madya, lektor, lektor kepala) - profesor (profesor madya, profesor); belas - puluh - ribu - juta - miliar - biliun - triliun; Januari - Pebruari - Maret - April - Mei, dan sebagainya. Nama hari seharusnya bermula dari Ahad (hari pertama) - Senin - Sclasa - Rabu - Kamis - Jumat - Sabtu. Pertentangan Khas. Dalam bahasa Indonesia beberapa makna yang ber- tentangan secara khas dalam satu paradigma morfologis tertentu. Bandingkanlah pertentangan khas di bawah ini. menyewa — menyewakan; meminjam — meminjamkan; menguliti kambing - menguliti buku menyusu — menyusukan; membului ayam — membului anak panah mewarisi — mewariskan; menyisiki ikan - menyisiki layang-layang Antonimi yang terdapat dalam bentuk ini disebut khas karena antonimi ini muncul secara morfologis walaupun bentuk dasamya sama. “Menyewa” berarti “mendapat sewa” sedangkan “menyewakan” berarti “memberi sewa’, “Mendapet” dan “memberi” berantonimi. Demikian juga bentuk “menyusui, mewarisi” berarti “mendapat”, sedangkan bentuk “menyusukan, mewatiskan” berarti “memberi”. Antonimi bentuk “membului” muncul berdasarkan konteks dan kata yang, menjadi objeknya. “Menguliti kambing” berarti “membuang kulit kambing”, sedangkan “menguliti buku” berarti “memberi kulit pada buku”. “Membului ayam, menyisili ikan” berarti “membuang” berantonimi dengan “membului anak panah, menyisiki layang-layang” dengan makna “memberi”. ‘Apa yang kami tulis dan bedakan tentang antonim merupakan salah satu usaha mensistematisasi relasi makna antonimi. Penulis lain mungkin akan mem- berikan kemungkinan klasifikasi tipe-tipe antonim yang lain. Netralisasi Dalam tataran fonologi dua fonem dapat dinetralkan pertentangannya. Dalam hubungan dengan pertentangan makna atau antonim, kita akan jumpai pula peristiwa netralisasi makna. Ini berarti dalam ujaran tertentu pertentangan antara dua makna dinetralkan atau kehilangan pertentangannya. Misalnya, jauh-dekat, panjang-pendek, tinggi-rendah. Pertentangan makna kata-kata tersebut adalah pertentangan kekutuban. Jika seorang bertanya: (1) “Berapa jauh kota A dari sini?” Penggunaan kata ‘jauh’ di sini bersifar netral. Orang dapat menjawab aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab 4: Analisis Hubungan Ancarmakna 79 Apakah pernyataan tentang proposisi kalimat bahasa Inggris tersebut berlaku juga untuk proposisi klausa bahasa Indonesia terkutip di atas? Pengalaman berbahasa Indonesia dalam konteks tertentu (Orde Baru) menunjukkan proposisi dengan tidak mengizinkan berbeda dengan melarang. Contoh: Pemerintah tidak mencabut izin terbit surat kabar ..., tetapi pemerintah melarang terbit surat kabar tersebut (dalam konteks tertentu). Dalam bahasa Indonesia idiolek saya, mengizinkan adalah pengabulan bersifat khusus untuk satu peristiwa, sedangkan melarang lebih bersifat umum. Catatan lain yang perlu dipikirkan ialah hubungan antara logically equiva- dent dan sinonimi. Kalimat-kalimat (23a dan b, 24a dan b) di bawah ini adalah logically equivalent dan bukan sinonimi, Demikian kata Atkinson dkk. (1982, him. 195). Bahasa Inggris: (23)a. John bought a parrot from Nancy. John membeli seekor nuri dari Nancy’. b. Nancy sold John a parrot. ‘Nancy menjual seekor nuri kepada John’. (24)a. The biscuit is under the tin. “Biskuit ini berada di bawah kaleng. b. The tin is on the top of the biscuit. “Kaleng itu berada di atas biskuie’. Tentu saja fakta ini masih dapat diperdebatkan, tetapi pre-theoretical intui- tions ‘intuisi prateoretis’ Atkinson dkk. tetap mengatakan bahwa pasangan kalimat di atas adalah ekuivalen secara logis dan bukan sinonimi. Di samping penjaminan makna secara logis, terdapat pula factual entail- ment ‘penjaminan makna secara faktual’ seperti dikatakan oleh Dillon (1977, him. 6). Contoh: Sl: Tendangan bola itu jauh di atas mistar gawang. $2: Bola itu out ‘keluar’. Dalam peraturan sepak bola, sebuah bola dalam pertandingan yang di- tendang keluar di atas garis gawang berarti bola itu out. Hubungan penjaminan makna juga terjadi pada hubungan scbab akibat secara alami. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Bab 4: Analisis Hubungan Antarmakna 83 Lain pula penjelasan tentang kata ahli dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBI, 1983, 25-26) dan Kamus Dewan (Kamus Dewan, 1984, 11), apalagi dengan KUBI (KUBI, 1976, 19-20). Dua kamus yang pertama membedakan “ahli” sebagai homonimi walaupun dengan pembagian makna yang berlainan, sedang- kan KUBI memperlakukan “ahli” sebagai satu kata dengan banyak makna atau polisemi. Jadi, dalam dua kamus pertama ada homonimi, sedangkan dalam KUBI ada polisemi. Lain halnya dengan kata cadang. Kamus Dewan memberikan makna “cadang” (1) mengemukakan sesuatu pendapat ... (2) mencalonkan .... (KD, 1984, 171), sedangkan KBI memaknakan “cadang” dengan (1) menjadikan/menyimpan sesuatu sebagai persediaan ... (2) mencalonkan .... Dalam hal ini makna pertama tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, (KBI, 1983, hlm. 350-351). Kami berpendapat makna kata dan hubungan makna kata pertama-tama harus dianalisis secara sinkronis. Pendirian kami ini didasarkan pada postulat bahwa hubungan antara simbol bunyi bermakna (dalam hal ini kata) dan referennya bersifat arbitrer. Perolehan makna sebuah simbol bahasa/kata di- tentukan oleh kebiasaan pemakaiannya dan perujukan yang sezaman. Setiap makna kata ditentukan olch zamannya. Apa yang kita katakan makna historis atau makna diakronis merupakan makna sinkronis pada zaman tertentu. Jadi, analisis hubungan makna secara homonimis dan polisemis juga harus bersifat sinkronis. ER. Palmer memberikan beberapa kemungkinan jawaban apakah dua kata atau satu kata berciri homonimi atau polisemi. Kemungkinan-kemungkinan jewaban ica dapat berupa (1) penelusuran etimologi; jika ditemukan ujaren itu berasal dari dua sumber yang berbeda, maka ujaran itu dianggap sebagai homo- nimi, dalam kamus ujaran itu diperlakukan sebagai dua entri; sedangkan jika tidak ditemukan sumber yang berbeda atau berasal dari satu sumber (walaupun maknanya berbeda), ujaran itu diperlakukan sebagai polisemi; (2) kemungkinan kedua ialah penelitian apakah ujaran dan bentuk kata itu dipergunakan dalam makna harfiahnya dan dalam makna metaforis; dalam hal ini kita akan dapat meramalkan polisemi daripada homonimi; (3) usaha yang ketiga untuk menentu- kan polisemi atau homonimi ialah mencari sebuah makna inti; memang sulit untuk menentukan makna inti dan makna bukan inti; misalnya, kata ‘cetak’ bahasa Indonesia dalam ujaran ‘mencetak buku, mencetak batu bata, mencetak gol, mencetak sarjana, dan (4) usaha yang keempat ialah melakukan uji ambiguitas/kedwimaknaan; misalnya, dalam bahasa Inggris diberilcan kalimac “I went to the bank’; dank bahasa Inggris dapat bermakna ‘epi sungai’, dan ‘tempat simpan/pinjam uang’ (Palmer, 1986, 102-108). aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book.