Anda di halaman 1dari 6

YURISPRUDENSI MARI NO.

52 K/PID/1997, Tanggal 22 Januari 1998


Judex Factie telah salah menerapkan hokum, karena dakeaan didasarkan pada
Undang-undang yang telah dinyatakan tidak berlaku lagi, sehingga penuntutannya tidak
dapat diterima
Pencabutan keterangan terdakwa dalam putusan perkara perkosaan Pengadilan Negeri
Kelas IA Surakarta Nomor: 306/Pid.B/2003/PN.Ska ditolak atau tidak dapat diterima oleh
Majelis Hakim karena pencabutan keterangan yang dilakukan oleh terdakwa Joko
Kustiono alias Gepeng dinilai tidak berdasar dan tidak logis. Alasan yang mendasar dan
logis tersebut mengandung arti bahwa alasan yang menjadi dasar pencabutan tersebut
harus dapat dibuktikan kebenarannya dan diperkuat atau didukung oleh bukti-bukti lain
yang menunjukkan bahwa alasan pencabutan tersebut benar dan dapat dibuktikan oleh
hakim. Implikasi yuridis dari pencabutan keterangan terdakwa terhadap kekuatan alat
bukti, adalah apabila pencabutan diterima oleh hakim, maka keterangan terdakwa dalam
persidangan pengadilan dapat digunakan sebagai alat bukti dan keterangan terdakwa
(tersangka) di tingkat penyidikan tidak digunakan sama sekali untuk menemukan bukti di
persidangan karena isinya yang dinilai tidak benar. Sedangkan apabila pencabutan ditolak
oleh hakim, maka keterangan terdakwa dalam persidangan pengadilan tidak dapat
digunakan sebagai alat bukti, justru keterangan terdakwa (tersangka) di tingkat
penyidikanlah (BAP) yang kemudian dapat digunakan dalam pembuktian.
Pencabutan keterangan terdakwa dalam putusan perkara perkosaan Pengadilan Negeri
Kelas IA Surakarta Nomor: 306/Pid.B/2003/PN.Ska ditolak atau tidak dapat diterima oleh
Majelis Hakim karena pencabutan keterangan yang dilakukan oleh terdakwa Joko
Kustiono alias Gepeng dinilai tidak berdasar dan tidak logis. Alasan yang mendasar dan
logis tersebut mengandung arti bahwa alasan yang menjadi dasar pencabutan tersebut
harus dapat dibuktikan kebenarannya dan diperkuat atau didukung oleh bukti-bukti lain
yang menunjukkan bahwa alasan pencabutan tersebut benar dan dapat dibuktikan oleh
hakim. Implikasi yuridis dari pencabutan keterangan terdakwa terhadap kekuatan alat
bukti, adalah apabila pencabutan diterima oleh hakim, maka keterangan terdakwa dalam
persidangan pengadilan dapat digunakan sebagai alat bukti dan keterangan terdakwa
(tersangka) di tingkat penyidikan tidak digunakan sama sekali untuk menemukan bukti di
persidangan karena isinya yang dinilai tidak benar. Sedangkan apabila pencabutan ditolak
oleh hakim, maka keterangan terdakwa dalam persidangan pengadilan tidak dapat
digunakan sebagai alat bukti, justru keterangan terdakwa (tersangka) di tingkat
penyidikanlah (BAP) yang kemudian dapat digunakan dalam pembuktian.
Pencabutan keterangan terdakwa dalam putusan perkara perkosaan Pengadilan Negeri
Kelas IA Surakarta Nomor: 306/Pid.B/2003/PN.Ska ditolak atau tidak dapat diterima oleh
Majelis Hakim karena pencabutan keterangan yang dilakukan oleh terdakwa Joko
Kustiono alias Gepeng dinilai tidak berdasar dan tidak logis. Alasan yang mendasar dan
logis tersebut mengandung arti bahwa alas an yang menjadi dasar pencabutan tersebut
harus dapat dibuktikan kebenarannya dan diperkuat atau didukung oleh bukti-bukti lain
yang menunjukkan bahwa alasan pencabutan tersebut benar dan dapat dibuktikan oleh
hakim. Implikasi yuridis dari pencabutan keterangan terdakwa terhadap kekuatan alat
bukti, adalah apabila pencabutan diterima oleh hakim, maka keterangan terdakwa dalam
persidangan pengadilan dapat digunakan sebagai alat bukti dan keterangan terdakwa
(tersangka) di tingkat penyidikan tidak digunakan sama sekali untuk menemukan bukti di
persidangan karena isinya yang dinilai tidak benar. Sedangkan apabila pencabutan ditolak
oleh hakim, maka keterangan terdakwa dalam persidangan pengadilan tidak dapat
digunakan sebagai alat bukti, justru keterangan terdakwa (tersangka) di tingkat
penyidikanlah (BAP) yang kemudian dapat digunakan dalam pembuktian.
Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 299 K/Kr/1959 tanggal 23 Pebruari 1960 yang
menyatakan bahwa pencabutan keterangan seseorang yang diberikan di depan penyidik apabila
tidak disertai alasan yang logis justru merupakan bukti petunjuk akan kesalahan Terdakwa ;

Ketentuan Hukum Terhadap Pencabutan Keterangan Terdakwa Dalam Persidangan

Pencabutan keterangan terdakwa merupakan suatu proses, tata cara, atau perbuatan menarik
kembali keterangan terdakwa yang telah dinyatakan sebelumnya di penyidikan (BAP), di
dalam persidangan yang sidang berlangsung. Keterangan terdakwa diatur di dalam Pasal 184
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana bersama alat bukti lainnya yang mempunyai
kekuatan pembuktian. Secara yuridis, pencabutan keterangan terdakwa diperkenankan
dan/atau diperbolehkan hal ini dikarenakan terdakwa memiliki hak ingkar sebagaimana yang
diatur dalam Pasal 52 KUHAP dan keterangan di muka sidang merupakan keterangan yang
sebenarnya. Sekalipun terdakwa memiliki hak untuk memberikan keterangan yang bebas di
tingkat penyidikan atau pengadilan kepada penyidik atau kepada hakim dan berhak untuk
tidak menjawab, ia masih memiliki hak untuk berbicara seputar proses penyidikan yang telah
berlangsung dan bila ia berbicara yang tidak sebenarnya atau memberikan keterangan yang
berbelit-belit maka hal ini akan menjadi alasan atau hal-hal yang memberatkan bagi terdakwa
dalam putusan yang akan dijatuhkan hakim selain itu, jika terdakwa bertingkah laku yang
tidak patut sehingga mengganggu ketertiban sidang. Hakim ketua sidang menegurnya dan
jika teguran itu tidak diindahkan ia memerintahkan supaya terdakwa dikeluarkan dari ruang
sidang dan pemeriksaan perkara pada waktu itu dilanjutkan tanpa hadirnya terdakwa. Bila
dibandingkan dengan keterangan saksi atau keterangan ahli mereka tidak mempunyai hak
ingkar justru mereka di sumpah sewaktu memberikan keterangan di dalam persidangan.

Hak Ingkar ialah hak terdakwa yang kedudukannya dijamin oleh kitab undang-undang
hukum acara pidana, hak ingkar itu dikasifikasikan sebagai suatu hak terdakwa untuk
membantah keterangan yang tidak benar dan dapat mencabut keterangannya sendiri, di dalam
penyidikan. Pencabutan keterangan terdakwa harus berdasarkan alat bukti dan alasan yang
logis guna mendukung pencabutan keterangannya di persidangan. Akan tetapi dalam
persidangan, majelis hakim harus mempertanyakan apa yang menjadi dasar dilakukannya
pencabutan itu dan ia harus membuktikkannya. Umumnya, faktor-faktor yang menjadi dasar
dilakukannya pencabutan itu antara lain : 1. bahwa didalam penyidikan terdakwa disiksa,
dipukuli hal ini senada dengan Putusan Mahkamah Agung No. 381 K / Pid / 1995.
2 tidak didampingi oleh penasihat hukum.
3. tidak bisa membaca atau menulis sewaktu menandatangani berita acara pemeriksaan.
4. adanya unsur atau faktor psikologis yang berlebihan sewaktu dalam penyidikan.
Penilaian alasan pencabutan keterangan terdakwa itu didasarkan atas alat bukti dan jika
alasan pencabutan itu terbukti maka pencabutan itu bisa dikabulkan jika pencabutan itu tidak
beralasan ia dapat ditolak , dan ini merupakan petunjuk atas kesalahan terdakwa didalam
memberikan keterangan hal ini senada dengan apa yang tertuang dalam Yurisprudensi
Mahkamah Agung Republik Indonesia, dengan Putusan Mahkamah Agung tanggal 23
Februari 1960, No. 299 K / Kr / 1959 yang menjelaskan: pengakuan terdakwa di luar sidang
yang kemudian di sidang pengadilan dicabut tanpa alasan yang berdasar merupakan petunjuk
tentang kesalahan terdakwa. Putusan ini dapat ditarik kesimpulan, antara lain:
a. pencabutan keterangan pengakuan yang dibenarkan hukum adalah pencabutan yang di
landasi dengan dasar alasan yang logis.
b. pencabutan tanpa dasar alasan, tidak dapat diterima.
c. penolakan pencabutan keterangan pengakuan, mengakibatkan pengakuan tetap dapat
dipergunakan sebagai pembantu atau petunjuk menemukan alat bukti.
Yurisprudensi yang senada dengan putusan di atas, antara lain Putusan Mahkamah Agung
tanggal 25 Pebruari 1960, No. 225 K / Kr / 1960, tanggal 25 Juni 1961, No. 6 K / Kr / 1961
dan tanggal 27 September 1961, No. 5 K / Kr / 1961 dan Putusan Mahkamah Agung RI
Nomor : 85 K / KR /1959 tanggal 27 September 1960, Putusan Mahkamah Agung RI
Nomor : 414 K / Pid / 1984 tanggal 11 Desember 1984, yang menegaskan bahwa,
pengakuan yang diberikan di luar sidang tidak dapat dicabut kembali tanpa dasar alasan dan
Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 1043 K / Pid / 1987 tanggal 19 Agustus 1987 pada
pokoknya menentukan bahwa pencabutan keterangan terdakwa di luar persidangan tanpa
alasan yang benar menurut hukum merupakan petunjuk atas kesalahan terdakwa.
Pencabutan keterangan terdakwa yang bisa dibuktikan maka prosedur pemeriksaan tidak
memenuhi ketentuan hukum yang mengakibatkan proses penyidikannya cacat hukum dan
surat dakwaannya batal hukum dan proses pemeriksaan pokok perkara ditunda dan dilakukan
verifikasi terlebih dahulu. Ketentuan ini dapat berujung terjadinya putusan bebas dan berkas
kembali ke penyidik untuk dilakukan pemeriksaan kembali.
Putusan Mahkamah Agung Reg no: 414/K/Pid/1984 tanggal 11
Desember 1984 yang menyatakan bahwa pencabutan keterangan
Terdakwa di persidangan tidak dapat diterima karena pencabutan
tersebut tidak beralasan.

Pencabutan Keterangan BAP Dalam persidangan dipengadilan, suatu keterangan yang


diberikan dalam BAP penyidikan dapat juga dicabut oleh terdakwa. Dalam hal ini
yurisprudensi MARI No. 1651K/Pid/1989 tanggal 16 September 1992 menyatakan :
keterangan terdakwa dalam BAP kepolisian yang kemudian ditarik kembali dalam suatu
persidangan dengan alasan terdakwa telah dipaksa dan dipukuli oleh penyidik, dan alasan
ini dibenarkan pula oleh saksi dan bukti baju yang bercak darah, maka penarikan
keterangan yang demikian itu adalah syah karena didasari alasan yang logis sehingga
keterangan terdakwa dalam BAP tidak mempunyai nilai pembuktian menurut KUHAP.
Demikian juga dengan Yurisprudensi MARI No. 1174K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995 :
Penyidik melakukan penyidikan terhadap beberapa orang yang didakwa melakukan
tindak pidana yan sama, hasil penyidikan dituangkan dalam BAP secara terpisah.
Terdakwa dalam BAP I menjadi saksi dalam BAP II dan sebaliknya. Mereka bergantian
menjadi terdakwa dan juga saksi satu sama lainnya (menjadi saksi mahkota). Dalam
persidangan pengadilan para terdakwa dan para saksi mencabut semua keterangan
dalam penyidikan. Pencabutan tersebut dapat diterima hakim karena ternyata ada tekanan
phisik dan psikis. Secara yuridis pemecahan perkara bertujuan menjadikan terdakwa
sebagai saksi mahkota terhadap terdakwa

lainnya adalah bertentangan dengan hukum acara pidana yan berprinsip menjunjung
tinggi HAM. Yurisprudensi MARI No. 429K/Pid/1995 tanggal 3 Mei 1995 : pencabutan
keterangan terdakwa dalam BAP dengan alasan karena adanya penyiksaan baik psikis
maupun phisik terhadap terdakwa dan para saksi tersebut, hal tersebut dapat diterima
hakim sehingga keterangan dalam BAP tersebut tidak bernilai sebagai alat bukti. Akan
tetapi berita acara pemeriksaan penyelidikan juga bisa mempunyai nilai pembuktian yang
sah apabila telah diakui kebenarannya oleh terdakwa. Hal ini terlihat dalam praktek
hukum sebagaimana Yurisprudensi No. 2677K/Pid/1993 tanggal 7 Februari 1996 yaitu :
Karena terdakwa telah mengakui dan membenarkan keterangan saksi Fransiska Mei Iku
yang dibacakan dari berita acara penyidikan walaupun tanpa didahului penyumpahan
saksi ketika disidik, bahwa ia telah mencuri barang bukti cincin emas dan menggadaikan
kepadanya, maka keterangan tersebut mempunyai nilai pembuktian yang sah. Sehingga
terdakwa telah terbukti dengan sah dan meyakinkan yaitu mengambil barang milik orang
lain secara melawan hukum dan untuk memilikinya barang yang diambil.
Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor: 1986 K/Pid/1989 tanggal 21 Maret 1990.
Dalam Yurisprudensi tersebut dijelaskan bahwa Mahkamah Agung RI tidak melarang
apabila Jaksa/Penuntut Umum mengajukan saksi mahkota dengan sarat bahwa saksi ini
dalam kedudukannya sebagai terdakwa tidak termasuk dalam satu berkas perkara dengan
terdakwa yang diberikan kesaksian. Dan dalam Yurisprudensi tersebut juga ditekankan
definisi saksi mahkota adalah, teman terdakwa yang melakukan tindak pidana
bersama-sama diajukan sebagai saksi untuk membuktikan dakwaan penuntut umum,
yang
perkaranya
dipisah
karena
kurangnya
alat
bukti.
Jadi disini penggunaan saksi mahkota dibenarkan didasarkan pada prinsip-prinsip
tertentu yaitu, 1) dalam perkara delik penyertaan ; 2). terdapat kekurangan alat bukti ; dan
3). Diperiksa dengan mekanisme pemisahan (splitsing); adapun dalam perkembangannya
terbaru Mahkamah Agung RI memperbaiki kekeliruannya dengan mengeluarkan
pendapat terbaru tentang penggunaan saksi mahkota dalam suatu perkara pidana,
dalam hal mana Mahkamah Agung RI kembali menjelaskan bahwa penggunaan saksi
mahkota adalah bertentangan dengan KUHAP yang menjunjung tinggi HAM (lihat :
Yurisprudensi : MARI, No. 1174 K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995 ; MARI, No.1952
K/Pid/1994, tanggal 29 April 1995 ; MARI, No. 1950 K/Pid/1995, tanggal 3 Mei 1995 ;
dan MARI, No. 1592 K/Pid/1995, tanggal 3 Mei 1995.
Menurut Pasal 189 ayat (1) KUHAP, Keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa
nyatakan di sidang tentang perbuatan yang dilakukan atau yang ia ketahui sendiri atau ia
alami sendiri. Mengingat bahwa keterangan terdakwa yang memuat informasi tentang
kejadian peristiwa pidana bersumber dari terdakwa, maka hakim dalam melakukan
penilaian terhadap isi keterangan terdakwa haruslah cermat dan sadar bahwa ada
kemungkinan terjadinya kebohongan atau keterangan palsu yang dibuat oleh terdakwa
mengenai hal ikhwal kejadian atau peristiwa pidana yang terjadi.
Dalam persidangan sering dijumpai bahwa terdakwa mencabut keterangan yang
diberikannya di luar persidangan atau keterangan yang diberikannya kepada penyidik
dalam pemeriksaan penyidikan yang dimuat dalam Berita Acara Penyidikan (BAP).
Dimana keterangan tersebut pada umumnya berisi pengakuan terdakwa atas tindak
pidana yang didakwakan kepadanya.
Menurut Martiman Prodjohamidjojo (1984: 137), terhadap keterangan di muka penyidik
dan keterangan dalam persidangan harus dibedakan, keterangan yang diberikan di
muka penyidik disebut keterangan tersangka, sedangkan keterangan yang diberikan
dalam persidangan disebut keterangan terdakwa. Dengan adanya perbedaan ini, penulis
menilai akan memperjelas dari kedudukan masing-masing keterangan dalam
pembuktian.
Adapun alasan yang kerap dijadikan dasar pencabutan adalah bahwa pada saat
memberikan keterangan di hadapan penyidik, terdakwa dipaksa atau diancam dengan
kekerasan baik fisik maupun psikis untuk mengakui tindak pidana yang didakwakan
kepadanya. Sedemikian rupa penyiksaan dan ancaman berupa pemukulan, penyulutan
bagian badan atau bagian vital tubuh. Kepala dibenturkan di dinding, dan segala macam

penganiayaan yang keji, membuat tersangka terpaksa mengakui segala pertanyaan yang
didiktekan pejabat pemeriksa.
Ditinjau dari segi yuridis, pencabutan ini sebenarnya dibolehkan dengan syarat
pencabutan dilakukan selama pemeriksaan persidangan pengadilan berlangsung dan
disertai alasan yang mendasar dan logis (M. Yahya Harahap, 2003: 326). Sepintas
terkesan bahwa syarat pencabutan tersebut mudah dipahami dan mudah untuk dilakukan
sehingga diperkirakan penerapannya pun akan lancar tanpa permasalahan. Akan tetapi,
pada kenyataannya tidaklah demikian karena ternyata dalam praktek di persidangan
pencabutan begitu banyak menimbulkan permasalahan. Terutama mengenai penilaian
hakim terhadap alasan pencabutan keterangan terdakwa, dimana dalam praktek di
persidangan hakim tidaklah mudah menerima alasan pencabutan keterangan terdakwa.
Permasalahan lain terkait dengan pencabutan keterangan terdakwa adalah mengenai
eksistensi keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang, dalam hal digunakan
untuk membantu menemukan alat bukti dalam persidangan sebagaimana ketentuan Pasal
189 ayat (2) KUHAP (Darwan Prinst, 1998: 145). Sebab sesuatu hal yang fungsi dan
nilainya digunakan untuk membantu mempertegas alat bukti yang sah, maka
kedudukannya pun telah berubah menjadi alat bukti, termasuk pengakuan terdakwa pada
tingkat penyidikan (M. Yahya Harahap, 2003: 323).
Keterangan terdakwa hanya mengikat pada dirinya sendiri
Prinsip ini diatur pada Pasal 189 ayat (3) KUHAP yang berbunyi: Keterangan terdakwa
hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri.
Ini berarti apa yang diterangkan terdakwa di sidang pengadilan hanya boleh diterima dan
diakui sebagai alat bukti yang berlaku dan mengikat bagi diri terdakwa sendiri (Adnan
Paslyadja, 1997: 8-15).
Menurut asas ini, apa yang diterangkan seseorang dalam persidangan yang berkedudukan
sebagai terdakwa, hanya dapat dipergunakan sebagai alat bukti terhadap dirinya sendiri.
Jika dalam suatu perkara terdakwa terdiri dari beberapa orang, masing-masing
keterangan setiap terdakwa hanya merupakan alat bukti yang mengikat kepada dirinya
sendiri. Keterangan terdakwa A tidak dapat dipergunakan terhadap terdakwa B,
demikian sebaliknya (M. Yahya Harahap, 2003: 321).
Pengertian Alat Bukti Keterangan Terdakwa
Alat bukti keterangan terdakwa diatur secara tegas oleh Pasal 189 KUHAP, sebagai
berikut:
1) Keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang
perbuatan yang dilakukan atau yang ia ketahui sendiri atau ia alami sendiri.
2) Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu
menemukan bukti di sidang asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang
sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.
3) Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri.
4) Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah
melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat
bukti yang lain.
Menurut Pasal 189 ayat (1) KUHAP di atas, keterangan terdakwa ialah apa yang
terdakwa nyatakan di sidang pengadilan tentang perbuatan yang ia lakukan atau ia
ketahui sendiri atau alami sendiri. Sehingga secara garis besar keterangan terdakwa
adalah:
1) apa yang terdakwa "nyatakan" atau "jelaskan" di sidang pengadilan,
2) dan apa yang dinyatakan atau dijelaskan itu ialah tentang perbuatan yang terdakwa
lakukan atau mengenai yang ia ketahui atau yang berhubungan dengan apa yang
terdakwa alami sendiri dalam peristiwa pidana yang sedang diperiksa (M. Yahya
Harahap, 2003: 319).
Keterangan Terdakwa di Luar Sidang (The Confession Outside the Court)
Salah satu asas penilaian yang menentukan sah atau tidaknya keterangan terdakwa
sebagai alat bukti adalah bahwa keterangan itu harus diberikan di sidang pengadilan.
Dengan asas ini dapat disimpulkan, bahwa keterangan terdakwa yang dinyatakan di luar
sidang pengadilan sama sekali tidak mempunyai nilai sebagai alat bukti sah. Walaupun

keterangan terdakwa yang dinyatakan di luar sidang pengadilan tidak dapat dijadikan
sebagai alat bukti, namun menurut ketentuan Pasal 189 ayat (2) KUHAP, keterangan
terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat dipergunakan untuk "membantu"
menemukan alat bukti di sidang pengadilan, dengan syarat keterangan di luar sidang
didukung oleh suatu alat bukti yang sah, dan keterangan yang dinyatakan di luar sidang
sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepada terdakwa (M. Yahya Harahap, 2003:
323).
Bentuk keterangan yang dapat dikualifikasi sebagai keterangan terdakwa yang
diberikan di luar sidang ialah:
1) keterangan yang diberikan dalam pemeriksaan penyidikan,
2) dan keterangan itu itu dicatat dalam berita acara penyidikan,
3) serta berita acara penyidikan itu ditandatangani oleh pejabat penyidik dan terdakwa.
Kualifikasi di atas sesuai dengan ketentuan Pasal 75 ayat (1) huruf a jo. Ayat (3) KUHAP.
pencabutan BAP tersebut akan dimuat di berita acara persidangan. Bila, setelah
dilakukan pemeriksaan silang dan ditemukan adanya keganjilan maka
hal tersebut dapat menjadi pertimbangan majelis hakim untuk
memperberat hukuman.