Anda di halaman 1dari 10

1.

Data berikut adalah data akun riil dan akun nominal yang digabungkan secara urutan abjad
yang diambil dari PT. Megah Farma, pedagang besar farmasi, untuk kalender 2014. Standar
yang disajikan di bawah ini merupakan rata-rata industri untuk bidang grosir obat-obatan.
a. Susunlah neraca PT. Jaya Farma!
b. Susunlah laporan laba rugi PT. Jaya Farma!
c. Dengan cara membandingkan rasio-rasio PT. Jasa Farma terhadap standar industri,
tunjukkan kemungkinan kekeliruan kebijakan manajemen yang dicerminkan oleh laporan
keuangan dari laporan keuangan tersebut!
Susunan akun-akunnya secara alfabetis dalam ribuan rupiah adalah sebagai berikut :
Accounts Receivable

: 405.000,00

Accumulated Depreciation

Capital Stock

: 766.030,00

Cash

: 243.000,00

Cost of Goods Sold Expense

: 2.740.400,00

Depreciation Expense

Income Tax Expense

: 102.000,00

Income Tax Payable

10.200,00

Interest Accrued Expenses

13.750,00

Interest Expense

82.500,00

Inventory

: 632.400,00

Inventory Accounts Payable

: 210.800,00

Long-Term Notes Payable Capital Stock

: 525.000,00

Operating Expense Accounts Payable

Operating Expenses

: 1.010.880,00

Operations Accrued Expenses

: 116.640,00

Prepaid Expenses

Property, Plant & Equipment

: 918.800,00

Retained earnings

: 198.000,00

Sales Revenue

: 4.212.000,00

Short-Term Notes Payable

: 300.000,00

78.220,00

78.220,00

58.320,00

77.760,00

Standar industri :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Rasio lancer
Rasio hutang
Rasio laba terhadap biaya bunga
Perputaran persediaan
Periode penagihan rata-rata
Perputaran harta
Margin laba
Hasil pengembalian harta/ROI
Hasil pengembalian atas modal sendiri

: 2,0 kali
: 60 %
: 3,8 kali
: 6,7 kali
: 35 hari
: 2,9 kali
: 1,2 %
: 7,4 %
: 8,3 %

Jawaban:
a. Laporan neraca PT. Jaya Farma
LAPORAN NERACA PT. JAYA FARMA
TAHUN 2014
Current Assets

Current Liabilities

Accounts Receivable

Rp.

405,000.00

Income Tax Payable

Rp.

10,200.00

Cash

Rp.

243,000.00

Interest Accrued Expenses

Rp.

13,750.00

Inventory

Rp.

632,400.00

Inventory Accounts Payable

Rp.

210,800.00

Prepaid Expenses

Rp.

Rp.

58,320.00

Rp.

116,640.00

Rp.

77,760.00 + Operating Expense Accounts Payable


1,358,160.0
0

Operations Accrued Expenses

Short-Term Notes Payable

Fixed Assets

300,000.00 +

Rp.

709,710.00

Rp.

525,000.00

Retained earnings

Rp.

198,000.00

Capital Stock

Rp.

766,030.00 +

Rp.

964,030.00

Rp.

2,198,740.00

Long-Term Liabilities

Property, Plant & Equipment

Rp.

918,800.00

Accumulated Depreciation

Rp.

(78,220.00)

Rp.

840,580.00

Total Assets

Rp.

Rp.

2,198,740.0
0

Long-Term Notes Payable Capital Stock


-

Capital

Total Liabilities

b. Laporan rugi laba


LAPORAN RUGI LABA
PT. JAYA FARMA
TAHUN 2014
Sales Revenue
Cost of Goods Sold Expense

4,212,000

Total penjualan
Depreciation Expense
Income Tax Expense
Interest Expense
Operating Expenses
Total expenses
Net Profit

2,740,400
1,471,600
78,220
102,000
82,500
1,010,880

+
1,273,600
198,000

c.

Membandingkan rasio-rasio PT. Jaya Farma:


Item

Syara
t

Rumus

2.0
kali

current assets
current liabilities

Jaya Farma

Interpretasi

Remark

Rasio Liquiditas
Rasio Lancar
(Current Ratio)

1.358 .160
709.710

Kemampuan PT. Jaya Farma untuk melunasi


1.91

kewajiban lancarnya lebih rendah apabila

Kurang

dibandingkan dengan perusahaan pesaingnya.

Rasio Leverage
Dibandingkan dengan industri sejenis,

Rasio Hutang Thd Aktiva

60%

Liabilities
Assets

709.710+525.000
2.198 .740

kemampuan PT. Jaya Farma dalam


56.2%

mengembalikan hutang lebih baik, ditunjukkan

Baik

dengan angka rasio hutang yang lebih kecil


dibandingkan dengan norma industry.
Rasio laba terhadap beban bunga dihitung untuk
melihat seberapa mampu perusahaan memenuhi
Rasio Laba Terhadap Beban
Bunga

3.8
kali

Gross profit
Interest expense

198.000+102.000+ 82.500
4.64 kali
82.500

kewajibannya membayar beban bunga. Jika


dibandingkan dengan perusahaan sejenisnya, PT.
Jaya Farma jauh lebih mampu memenuhi
kewajiban beban bunganya.

Baik

Rasio Aktivitas

Perputaran persediaan PT. Jaya Farma lebih


rendah dari perusahaan sejenisnya. Hal ini
berarti PT. Jaya Farma lebih baik dalam
mengelola persediaan dibandingkan dengan
perusahaan pesaingnya. PT. Jaya Farma
Perputaran Persediaan (Inventory
Turnover)

6.7 kali

Cost of Goods Sold


Inventory

2.740 .400
632.400

4.3 kali

memiliki perputaran persediaan sebesar 4.3 kali


artinya dalam satu tahun perusahaan memutar

Baik

persediaannya sebesar 4.3 kali atau dengan kata


lain perusahaan menjual persediaan rata-rata
dalam 84.88 hari (365 hari : 4.3) sedangkan ratarata perusahaan sejenisnya memerlukan waktu
54.48 hari (365 hari : 6.7).

Periode Penagihan Rata-Rata

35 hari

360 x Accounts Receivable


Sales revenue

360 x 405.000
4.212 .000

PT. Jaya Farma membutuhkan waktu yang sama


35 hari

untuk menagih piutang-piutangnya dibandingkan

Baik

dengan perusahaan sejenis.


Jika dibandingkan dengan norma industri

Total Perputaran Harta

2.9 kali

Sales revenue
Total assets

4.212.000
2.198.740

sebesar 2,9 kali maka dapat diambil kesimpulan


1.92 kali

bahwa PT. Jaya Farma kurang efisien dalam


mengelola hartanya dibandingkan dengan
perusahaan sejenisnya.

Kurang

Rasio Profitabilitas

Apabila dibandingkan dengan industry sejenis


Margin Laba
(Net Profit Margin)

1.20%

Net profit
Sales revenue

198.000
4.212.000

yang memiliki norma yang sebesar 1.20 maka


4.7%

dapat dikatakan bahwa PT. Jaya Farma jauh

Baik

lebih kompetitif dibandingkan dengan


perusahaan pesaingnya.

ROI

7.40%

Net profit
Total assets

198.000
2.198 .740

Penghasilan bersih yang dihasilkan sebesar


9.0%

9,0% lebih baik daripada perusahaan sejenis.

Baik

Bila dibandingkan dengan norma industri sebesar


8.30% maka PT. Jaya Farma memiliki tingkat
Hasil Pengembalian Atas Modal
Sendiri

8.30%

Net profit
Capital stock

198.000
766.030

25.8%

pengembalian investasi dari laba usaha yang


jauh lebih baik bila dibandingkan dengan
perusahaan sejenis.

Kesimpulan:
Berdasarkan hasil evaluasi terhadap rasio Liquiditas dan rasio Leverage yang ditunjukkan oleh PT. Jaya Farma jika dibandingkan dengan perusahaan sejenis, dapat
disimpulkan bahwa perusahaan memiliki financial yang sehat. Akan tetapi manajemen harus meningkatkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang lancarnya.
Berdasarkan hasil evaluasi terhadap rasio profitabilitas dan aktifitas, jika dibandingkan dengan industry sejenis PT. Jaya Farma memiki kinerja yang lebih baik. Poin yang
perlu diperhatikan adalah perputaran harta yang kurang efisien ditunjukkan oleh PT. Jaya Farma. Untuk meningkatkan perputaran harta, manajemen harus meningkatkan
penjualan (Sales revenue) dengan misalnya melakukan promosi atau peningkatan kerjasama dengan rumah sakit atau dokter.

Baik

1. PT. Sehat adalah produsen produk obat tujuan ekspor. Sejak awal tahun 2012, perusahaan
merasa perlu untuk memodernisasi alat-alat dan mesin produksinya. Sebelum dimodernisasi,
data keuangan perusahaan adalah sebagai berikut :
Biaya Tetap per bulan (dalam ribuan) :
Penjualan
: 2.500
Overhead dan produksi
: 7.500
Bunga
: 2.000
Biaya Variabel tiap 200 unit (dalam ribu rupiah) :
Bahan Baku dan tenaga kerja
: 3.500
Overhead
: 1.500
Penjualan
: 3.000
Harga jual rata-rata per produk Rp. 70.000,Setelah dimodernisasi, terdapat kenaikan biaya overhead dan produksi menjadi Rp
30.500.000,- per bulan, namun terdapat penurunan biaya variabel sebesar 25 % karena
meningkatnya efisiensi di pabrik dan bagian penjualan. Demikian pula halnya dengan harga
jual rata-rata per produk yang dapat ditingkatkan menjadi Rp 80.000,-. Atas data tersebut
Anda diminta untuk :
a. Menghitung Break Event Point sebelum dan sesudah modernisasi peralatan!
b. Menggambar grafik secara jelas!
c. Bagaimana pendapat Anda atas modernisasi peralatan dan mesin-mesin tersebut?
Berilah saran!

Jawaban:
a. BEP sebelum dan sesudah modernisasi

Satuan dalam ribu rupiah

Sebelum

Sebelum

12.000

35.000

Biaya Tetap

FC

Biaya
Variabel

VC

Harga Jual

70

0.75 x 70 = 80

BEP Unit

FC
PVC

12.000
=400
7040

35.000
=700
8030

BEP Rupiah

FC
P
PVC

12.000
x 70=28.000
7040

40

30

35.000
x 80 =
8030

b. Grafik BEP sebelum dan sesudah modernisasi

Grafik BEP Sebelum Modernisasi


80,000
70,000
60,000
50,000
40,000
30,000
20,000
10,000
100

200

300
FC

400
TVC

500
TP

600

700
T biaya

800
BEP-R

900

1000

Grafik BEP Setelah Modernisasi


90,000

BEP pada penjualan 700 unit


seharga Rp. 56.000.000,-

80,000
70,000
60,000
50,000
40,000
30,000
20,000
10,000
100

200

300
FC

400
TVC

500
TP

Keterangan :
FC
: Biaya tetap
TP
: Total kumulatif harga penjualan
BEP-R
: BEP dalam Rupiah

600

700
T biaya

800

900

1000

BEP-R

TVC : Total kumulatif biaya variabel


T biaya : total biaya tetap + variable

c. Menurut saya, dengan adanya modernisasi justru membuat pencapaian BEP menjadi lebih
lama.

Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan kenaikan biaya tetap dengan harga

penjualan yang ditetapkan setelah dilakukan modernisasi. Dengan adanya modernisasi yang
bertujuan untuk melakukan efisiensi biaya variable, tidak cukup untuk menutupi kenaikan
biaya tetap yang melonjak hingga 4 kali sementara harga jual hanya dinaikkan 14 persen.
Saran:
Setelah melakukan modernisasi, untuk mencapai BEP yang lebih cepat, manajemen harus
melakukan:
1. Efisiensi proses produksi dan meningkatkan produktifitas untuk menurunkan biaya tetap.
2. Meningkatkan harga jual meneyesuaikan dengan cost yang dikeluarkan setelah
modernisasi.

2. Harga sebuah mesin pencetak obat adalah Rp 24 juta tunai. Mesin tersebut dapat dibeli
dengan membayar Rp 2,27 juta setiap akhir bulan selama 1 tahun (pembayaran dimulai 30
hari setelah penerimaan mesin). Berapa bunga yang diminta oleh penjual mesin? Jika ada

bank yang menawarkan pinjaman sebesar Rp 24 juta dengan bunga 15%, tertarikkah anda
pada tawaran ini, atau sebaiknya membeli mesin tersebut secara kredit?
Jawaban:
Kredit bulanan : Rp. 2.270.000 x 12 = Rp. 2.724.000,Bunga yang diminta oleh penjual mesin

Rp .2.724 .000Rp .2.400 .000


Rp .2.400 .000

= 13.5%
Penawaran kredit dari bank dengan bunga 15% per tahun.
Lebih baik memilih opsi pertama dengan bunga 13.5% daripada meminjam ke bank.