Anda di halaman 1dari 20

BAB 2

PEMBAHASAN
2.1 TUMBUH KEMBANG USIA TODLER
a. Pengertian
Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran
atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran
berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolik.
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan ( skill) dalam struktur dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai
hasil dari proses pematangan.
b. Tumbuh kembang pada anak usia todler
2. Pertumbuhan
Selama tahun ke 2 masa kehidupan masih nampak kelanjutan perlambatan
pertumbuhan fisik yaitu dengan kenaikan BB berkisar antara 1,5 2,5 kg ( rata rata
) dan PB 6 10 cm ( rata rata 8 cm per tahun. Anak akan mengalami penurunan
nafsu makan sampai usia 3 tahun, hal ini mengakibatkan jaringan sub kutan
berkurang sehingga anak yang tadinya nampak gemuk dan montok akan menjadi
lebih langsing dan berotot. Demikian pula dengan pertumbuhan otak yang akan
mengalami perlambatan selama tahun ke 2, kenaikan lingkar pada tahun pertama
mencapai pertambahan sebesar 12 cm dan selanjutnya pada tahun ke 2 hanya
bertambah 2 cm, sedangkan lingkar dada pada tahun pertama berukuran
sama.Namun demikian untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel NCHS WHO
dengan menggunakan rumus :
Bila nilai riel hasil pengukuran nilai median BB/U, TB/U atau BB/TB, maka
rumusnya : Zscore

nilairiel nilaimedian
SDUpper

Bila nilai riel hasil pengukuran nilai median BB/U, TB/U atau BB/TB, maka
rumusnya : ZScore

nilairiel nilaimedian
SDLower

3. Parameter penilaian pertumbuhan fisik :


a. Ukuran antropometrik

Berat badan

Berat badan merupakan ukuran antropometrik terpenting, karena dapat digunakan


untuk menilai peningkatan/ penurunan semua jaringan yang ada dalam tubuh, antara
lain tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lain lain
Untuk menilai berat badan normal yang sesuai usia todler dapat dilihat di tabel
NCHS terlampir

Tinggi badan

Keistimewannya adalah bahwa ukuran tinggi badan pada masa pertumbuhan


meningkat terus sampai tinggi maksimal tercapai dan akhirnya berhenti pada umur
18 20 tahun.
Untuk menilai tinggi bdan yang sesuai dengan usia todler dapat dilihat ditabel NCHS
terlampir

Lingkar kepala

Lingkaran kepala mencerminkan volume intrakranial, dipakai untuk menaksir


pertumbuhan otak. Untuk rentang normal menurut nellhaus pada anak usia 1 tahun
adalah 43,5 49( perempuan) & 43,5 49 ( laki laki ) , kemudian anak usia 2
tahun adalah 45 51( perempuan ) & 46 51( laki laki ) dan anak usia 3 tahun
adalah 46,25 53 (perempuan) & 46,25 53 ( laki laki ). namun demikian untuk
lebih jelasnya dapat dilihat dalam grafik Nellhaus terlampir

Lingkar lengan atas

LLA mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak
terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan dengan berat badan,
laju tumbuh lambat, dari 11 cm waktu lahir menjadi 16 cm pada satu tahun,
selanjutnya tidak banyak berubah pada umur 1 3 tahun.

Lipatan kulit

Tebalnya lipatan kulit pada daerah triseps dan subskapular merupakan refleksi
tumbuh jaringan lemak dibawah kulit, yang mencerminkan kecukupan energi. dalam
keadaan defisiensi lipatan kulit akan menipis dan sebaliknya menebal jika masukan
energi berlebihan
b. Gejala/tanda pemeriksaan fisik

Keseluruhan fisik, jaringan otot, jaringan lemak, rambut, gigi geligi

c. Pemeriksaan laboratorium

Hb, serum protein dan hormon.

d. Pemeriksaan radiologis
Umur tulang
4. Perkembangan
Aspek perkembangan yang seharusnya dicapai anak pada usia todler adalah sebagai
berikut
a. Usia 12 18 bulan

Berjalan sendiri tidak jatuh

Mengambil benda kcil dengan ibu jari dan telunjuk

Mengungkapkan keinginan secara sederhana

Minum sendiri dari gelas dan tidak tumpah

b. Usia 18 24 bulan

Berjalan mudur setidaknya lima langkah

Mencoret coret dengan alat tulis

Menunjuk bagian tubuh dan menyebut namanya

Meniru melakukan pekerjaan rumah tangga

c. Usia 2 3 tahun

Berdiri satu kaki tanpa berpegangan minimal 2 hitungan

Meniru membuat garis lurus

Menyatakan keinginan sedikitnya dengan 2 kata

Melepas pakaian sendiri

5. Parameter penilaian perkembangan dengan DDST


Aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan DDSTadalah :
a. Alat yang Digunakan
Alat peraga : benang wol merah, kismis/manik-manik, kubus warna merahkuning-hijau- biru, permainan anak, botol kecil, bola tenis, bel kecil, kertas, dan
pensil.
Lembar formulir DDST
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan
cara menilainya.
b. Prosedur DDST terdiri dari dua tahap, yaitu:

Tahap pertama : secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia 3 6
bulan, 9 12 bulan, 18 24 bulan, 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun.
Tahap kedua : dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan
perkembangan pada tahap pertama kemudian dilarutkan dengan evaluasi diagnostik
yang lengkap.
c. Penilaian
Penilaian apakah lulus (Passed: P), gagal (Fail: F), ataukah anak tidak mendapat
kesempatan melakukan tugas (No Opportunity: N.O). Kemudian ditarik garis
berdasarkan umur kronologis, yang memotong garis horisontal tugas perkembangan
pada formulir DDST. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P
dan berapa yang F, selanjutnya berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasi dalam
normal, abnormal, meragukan (Questionable) dan tidak dapat dites (Untestable).
Abnormal
-

Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih

Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan plus 1

sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak
ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
Meragukan
-

Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih.

Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang

sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
Tidak dapat dites
Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau
meragukan.
Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria tersebut di atas.
a. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuhkembang anak, yaitu:
1. Faktor Genetik

Termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan
patologik, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa. Seperti sindrom Down, sindrom
Turner yang disebabkan oleh kelainan kromosom.
2. Faktor Lingkungan
Faktor Lingkungan Pra natal, antara lain:
Gizi ibu pada waktu hamil
Mekanis (trauma dan cairan ketuban yang kurang, posisi janin)
Toksin / zat kimia (zat teratogen: obat-obatan teralidomide, pkenitoin, methadion,
obna-obat anti kanker)
Endokrin (defisiensi hormon somatotropin, hormon plasenta, hormon tiroid,
insulin)
Radiasi
Infeksi (Torch, Varisela, Coxsakie, Echovirus, Malaria, Lues, HIV, polio,
campak, teptospira, virus influenza, virus hepatitis)
Stres
Imunitas
Anoksia embrio
Faktor Lingkungan Post Natal, yaitu :
Lingkungan Biologis, antara lain: Ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi,
perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi
metabolisme, hormon.
Faktor Fisik, antara lain: cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah, sanitasi,
keadaan rumah, radiasi.
Faktor Psikososial, antara lain: stimulasi, motivasi belajar, hukuman yang wajar,
kelompok sebaya, stres, sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas interaksi anakorang tua.
Faktor Keluarga dan Adat Istiadat, antara lain: pekerjaan/ pendapatan keluarga,
pendidikan ayah/ibu, jumlah saudara, jenis kelamin dalam keluarga, stabilitas rumah
tangga, kepribadian ayah/ibu, adat-istiadat, norma-norma, agama, urbanisasi,
kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak,
angaran, dll. (Soetjiningsih, 1998)

B. Stimulasi dasar atau kebutuhan dasar untuk tumbuh-kembang yang


diberikan Ibu pada anak
1. Usia 12 18 bulan
a. Gerak kasar
Latih anak naik turun tangga
b. Gerak halus
Bermain dengan anak melempar dan menangkap bola besar kemudian bola kecil.
c. Bicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak menunjuk dan menyebutkan nama nama bagian tubuh
d. Begaul dan bicara
Beri kesempatan kepada anak untuk melepas pakaiannya sendiri.
2. Usia 18 24 bulan
a. Gerak kasar
Latih anak berdiri dengan 1 kaki
b. Gerak halus
Ajari anak menggambar bulatan, garis, segitiga dan gambar wajah
c. Bicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak mengikuti perintah sederhana.
d. Bergaul dan mandiri
Latih agar anak mau ditinggalkan untuk sementara waktu
3. Usia 2 sampai 3 tahun
a. Gerak kasar
Latih anak melompat dengan satu kaki
b. Gerak halus
Ajak anak bermain menyusun dan menumpuk balok
c. Bicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak mengenal bentuk dan warna
d. Bergaul dan mandiri
Latih anak mencuci tangan dan kaki serta mengeringkanya sendiri.

2.2 ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DX MEDIS MENINGITIS


A. DEFINISI

Meningitis adalah infeksi cairan otak dan disertai proses peradangan yang
mengenai piameter, araknoid dan dapat meluas ke permukaan jaringan otak dan
medula spinalis yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau serosa yang
terdapat secara akut dan kronis.

Merupakan inflamasi yang terjadi pada lapisan arahnoid dan piamatter di otak
serta spinal cord. Inflamasi ini lebih sering disebabkan oleh bakteri dan virus
meskipun penyebab lainnya seperti jamur dan protozoa juga terjadi. (Donna
D.,1999).

Meningitis adalah radang umum araknoidia,leptomeningitis.(perawatan anak


sakit,1984:232).

Meningitis adalah suatu peradangan selaput otak yang biasanya diikuti pula oleh
peradangan otak. (penyakit dalam dan penanggulangan,1985).

Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai


piamater,araknoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak
dan medulla spinalis yang superficial.(neorologi kapita selekta,1996).

Meningitis adalah peradangan selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal


column yang menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat.

B. ETIOLOGI
a. Bakteri merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberpa bakteri
yang secara umum diketahui dapat menyebabkan mengitis adalah:

Haemophillus influenzae (tipe B)

Nesseria meningitis (meningococcal)

Diplococcus pneumoniae (pneumococcal)

Streptococcus, grup A

Staphylococcus aureus

Escherichia coli

Klebsiella

Proteus

Pseudomonas

b. Virus merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini
biasanya bersifat self-limitting dimana akan mengalami penyembuhan sendiri
dan penyembuhan bersifat sempurna.
c. Jamur
d. Protozoa
e. Faktor predisposisi: jenis kelamin: laki-laki lebih sering dibandingkan dengan
wanita
f. Faktor maternal: rupture membrane fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir
kehamilan
g. Faktor imunologi: defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobilin, anak
yang mendapat obat-obat imunosupresi
h. Anak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan atau injury yang
berhubungan dengan system persyarafan.
C. KLASIFIKASI
1. Meningitis purulenta
Meningitis purulenta adalah radang selaput otak ( aracnoid dan piamater ) yang
menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman non spesifik dan non
virus. Penyakit ini lebih sering didapatkan pada anak daripada orang dewasa.
Meningitis purulenta pada umumnya sebagai akibat komplikasi penyakit lain.
Kuman secara hematogen sampai keselaput otak; misalnya pada penyakit penyakit
faringotonsilitis, pneumonia, bronchopneumonia, endokarditis dan lain lain. Dapat
pula sebagai perluasan perkontinuitatum dari peradangan organ / jaringan didekat
selaput otak, misalnya abses otak, otitis media, mastoiditis dan lain lain.
Penyebab meningitis purulenta adalah sejenis kuman pneomococcus, hemofilus
influenza, stafhylococcus, streptococcus, E.coli, meningococcus, dan salmonella.
Komplikasi pada meningitis purulenta dapat terjadi sebagai akibat pengobatan yang
tidak sempurna / pengobatan yang terlambat . pada permulaan gejala meningitis

purulenta adalah panas, menggigil, nyeri kepala yang terus menerus, mual dan
muntah, hilangnya napsu makan, kelemahan umum dan rasa nyeri pada punggung
dan sendi, setelah 12 (dua belas ) sampai 24 (dua pulu empat ) jam timbul gambaran
klinis meningitis yang lebih khas yaitu nyeri pada kuduk dan tanda tanda rangsangan
selaput otak seperti kaku kuduk dan brudzinski. Bila terjadi koma yang dalam , tanda
tanda selaput otak akan menghilang, penderita takut akan cahaya dan amat peka
terhadap rangsangan, penderita sering gelisah, mudah terangsang dan menunjukan
perubahan mental seperti bingung, hiperaktif dan halusinasi. Pada keadaan yang
berat dapat terjadi herniasi otak sehingga terjadi dilatasipupil dan koma.
2. Meningitis serosa ( tuberculosa )
Meningitis tuberculosa masih sering dijumpai di Indonesia, pada anak dan orang
dewasa. Meningitis tuberculosa terjadi akibat komplikasi penyebab tuberculosis
primer, biasanya dari paru paru. Meningitis bukan terjadi karena terinpeksi selaput
otak langsung penyebaran hematogen, tetapi biasanya skunder melalui pembentukan
tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang
kemudian pecah kedalam rongga archnoid.
Tuberkulosa ini timbul karena penyebaran mycobacterium tuberculosa. Pada
meningitis tuberkulosa dapat terjadi pengobatan yang tidak sempurna atau
pengobatan yang terlambat. Dapat terjadi cacat neurologis berupa parase, paralysis
sampai deserebrasi, hydrocephalus akibat sumbatan , reabsorbsi berkurang atau
produksi berlebihan dari likour serebrospinal. Anak juga bias menjadi tuli atau buta
dan kadang kadang menderita retardasi mental.
D. TANDA DAN GEJALA
Pada meningitis purulenta ditemukan tanda dan gejala :
1. Gejala infeksi akut atau sub akut yang ditandai dengan keadaan lesu, mudah
terkena rangsang, demam, muntah penurunan nafsu makan, nyeri kepala.
2. Gejala peningkatan tekanan intrakranial ditandai dengan muntah, nyeri kepala,
penurunan kesadaran ( somnolen sampai koma ), kejang, mata juling, paresis atau
paralisis.
3. Gejala rangsang meningeal yang ditandai dengan rasa nyeri pada leher dan
punggung, kaku kuduk, tanda brodsinky I dan II positif dan tanda kerning positif.

10

Tanda kerning yaitu bila paha ditekuk 90ke depan, tuungkai dapat diluruskan pada
sendi lutut.
Tanda brudzinky I positif adalah bila kepal di fleksi atau tunduk ke depan, maka
tungkai akan bergerak fleksi di sudut sendi lutut.
Tanda brodzinky II positif adalah bila satu tungkai ditekuk dari sendi lutut ruang
paha, ditekankan ke perut penderita, maka tungkai lainnya bergerak fleksi dalam
sendi lutut.
Pada meningitis tuberkulosa didapatkan gejala dalam stadium-stadium yaitu :
1. Stadium prodomal ditandai dengan gejala yang tidak khas dan terjadi perlahanlahan yaitu demam ringan atau kadang-kadang tidak demam, nafsu makan menurun,
nyeri kepala, muntah, apatis, berlangsung 1-3 minggu, bila tuberkulosis pecah
langsung ke ruang subaraknoid, maka stadium prodomal berlangsung cepat dan
langsung masuk ke stadium terminal.
2. Stadium transisi ditandai dengan gejala kejang, rangsang meningeal yaitu kaku
kuduk, tanda brudzinky I dan II positif, mata juling, kelumpuhan dan gangguan
kesadaran.
3. Stadium terminal ditandai dengan keadaan yang berat yaitu kesadaran menurun
sampai koma, kelumpuhan, pernapasan tidak teratur, panas tinggi dan akhirnya
meninggal.
E. PATOFISIOLOGI
Otak dilapisi oleh tiga lapisan,yaitu: durameter, arachnoid,dan piameter.cairan otak
dihasilkan didalam pleksus choroid ventrikel bergerak/mengalir melalui sub
arachnoid dalam system ventrikuler seluruh otak dan sumsum tulang belakang,
direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari jari didalam lapisan
subarchnoid.
Organisme ( virus/ bakteri ) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan
otak melalui aliran darah didalam pembuluh darah otak. Cairan hidung ( secret
hidung ) atau secret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat
menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan
lingkungan (dunia luar ), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan kecairan otak
melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan
penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel. Eksudat

11

yang dibentuk akan menyebar, baik kecranial maupun kesaraf spinal yang dapat
menyebabkan kemunduran

neurologis

selanjutnya,

dan eksudat ini dapat

menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan


hydrocephalus
Agen penyebab

Invasi ke SSP melalui aliran darah

Bermigrasi ke lapisan subarahnoid

Respon inflamasi di piamatter, arahnoid,CSF dan ventrikuler

Exudat menyebar di seluruh saraf cranial dan saraf spinal

Kerusakan neurologist
F. MANIFESTASI KLINIK
Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku
Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor
Sakit kepala
Sakit sakit pada otot
Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata
pasien.
Adanya disfungsi pada saraf III, IV, VI
Pergerakan motorik pada awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjutan
biasa
terjadi hemiparesis, hemiplagia, dan penurunan tonus otot
Reflex brudzinski dan reflex kernig positif
Nausea
Vomiting
Takikardia
Kejang
Pasien merasa takut dan cemas

12

G. KOMPLIKASI
a. Ketidaksesuaian sekresi ADH
b. Pengumpulan cairan subdural
c. Lesi lokal intrakranial dapat mengakibatkan kelumpuhan sebagian badan
d. Hidrocepalus yang berat dan retardasi mental, tuli, kebutaan karena atrofi nervus II
( optikus )
e. Pada meningitis dengan septikemia menyebabkan suam kulit atau luka di mulut,
konjungtivitis.
f. Epilepsi
g. Pneumonia karena aspirasi
h. Efusi subdural, emfisema subdural
i. Keterlambatan bicara
j. Kelumpuhan otot yang disarafi nervus III (okulomotor), nervus IV (toklearis ),
nervus VI (abdusen). Ketiga saraf tersebut mengatur gerakan bola mata.
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Analisa CSS dan fungsi lumbal
Meningitis bacterial : tekanan meningkat, cairan keruh / berkabut, jumlah sel darah
putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis
bakteri
Meningitis virus : tekanan bervariasi, CSS biasanya jernih, sel darah putih
meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negative, kultur
virus biasanya hanya dengan prosedur khusus
2.Glukosa serum : meningkat
3. LDH serum : meningkat pada meningitis bakteri
Sel darah putih : meningkat dengan peningkatan neotrofil (infeksi bakteri)
Elektrolit darah : abnormal
4.LED : meningkat
Kultur darah / hidung / tenggorokan / urine dapat mengindikasikan daerah pusat
infeksi /mengidentifikasikan tipe penyebab infeksi
5. MRI /CT Scan : dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran / letak ventrikel
; hematum daerah serebral, hemoragik maupun tumor
I. MANAGEMEN TERAPI

13

Terapi bertujuan memberantas penyebab infeksi disertai perawatan intensif suporatif


untuk membantu pasien melaluimasa kritis :
1. Penderita dirawat di rumah sakit
2. Pemberian cairan intravena
3. Bila gelisah berikan sedatif/penenang
4. Jika panas berikan kompres hangat, kolaborasi antipiretik
5. Sementara menunggu hasil pemeriksaan terhadap kausa diberikan :
a. Kombinasi amphisilin 12-18 gram, klorampenikol 4 gram, intravena 4x sehari
b. Dapat dicampurkan trimetropan 80 mg, sulfa 400 mg
c. Dapat pula ditambahkan ceftriaxon 4-6 gram intra vena
6. Pada waktu kejang :
a. Melonggarkan pakaian
b. Menghisap lendir
c. Puasa untuk menghindari aspirasi dan muntah
d. Menghindarkan pasien jatuh
7. Jika penderita tidak sadar lama :
a. Diit TKTP melalui sonde
b. Mencegah dekubitus dan pneumonia ostostatikdengna merubah posisi setiap dua
jam
c. Mencegah kekeringan kornea dengan borwater atau salep antibiotik
8. Jika terjadi inkontinensia pasang kateter
9. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital
10. Kolaborasi fisioterapi dan terapi bicara
11. Konsultasi THT ( jika ada kelainan telinga, seperti tuli )
12. Konsultasi mata ( kalau ada kelainan mata, seperti buta )
13. Konsultasi bedah ( jika ada hidrosefalus )
ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Keluhan utama
Keluhan utama yang sering adalah panas badan tinggi, koma, kejang dan penurunan
kesadaran.

14

Riwayat penyakit sekarang


Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis
kuman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas tetang gejala yang timbul seperti
kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk. Pada pengkajian pasien
meningitis biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat dari
infeksi dan peningkatan TIK. Keluhan tersebut diantaranya, sakit kepala dan demam
adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala berhubungan dengan meningitis yang
selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap
tinggi selama perjalanan penyakit.
Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk dilakukan pengkajian lebih
mendalam, bagaimana sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering
menimbulkan kejang dan tindakan apa yang telah diberikan dalam upaya
menurunkan

keluhan

kejang

tersebut.

pengkajian lainnya yang perlu ditanyakan seperti riwayat selama menjalani


perawatan di RS, pernahkah mengalami tindakan invasive yang memungkinkan
masuknya kuman kemeningen terutama tindakan melalui pembuluh darah.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah dialami pasien yang memungkinkan adanya
hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah pasien
mengalami infeksi jalan napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, tindakan bedah
saraf, riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh immunologis pada masa
sebelumnya.
Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan pada pasien terutama apabila ada keluhan
batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat anti TB yang sangat berguna
untuk mengidentifikasi meningitis tuberculosia.
Pengkajian pemakaian obat obat yang sering digunakan pasien, seperti pemakaian
obat kortikostiroid, pemakaian jenis jenis antibiotic dan reaksinya (untuk menilai
resistensi pemakaian antibiotic).
Pengkajian psikososial
Respon emosi pengkajian mekanisme koping yang digunakan pasien juga penting
untuk menilai pasien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran pasien

15

dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan
sehari harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
Pemeriksaan fisik
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : perasaan tidak enak (malaise ), keterbatasan yang ditimbulkan kondisinya.
Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan
secara Umum, keterbatasan dalam rentang gerak.
2. Sirkulasi
Gejala : adanya riwayat kardiologi, seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung
conginetal ( abses otak ).
Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun dan tekanan nadi berat
(berhubungan dengan peningkatan TIK dan pengaruh dari pusat vasomotor ).
Takikardi, distritmia (pada fase akut) seperti distrimia sinus (pada meningitis )
3. Eleminasi
Tanda : Adanya inkotinensia dan retensi.
4. Makanan dan Cairan
Gejala : Kehilangan napsu makan, kesulitan menelan (pada periode akut )
Tanda : Anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membrane mukosa kering.
5. Hygiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri ( pada periode
akut )
6. Neurosensori
Gejala : sakit kepala (mungkin merupan gejala pertama dan biasanya berat) .
Pareslisia, terasa kaku pada semua persarafan yang terkena, kehilangan sensasi
(kerusakan pada saraf cranial). Hiperalgesia / meningkatnya sensitifitas (minimitis) .
Timbul kejang (minimitis bakteri atau abses otak) gangguan dalam penglihatan,
seperti diplopia (fase awal dari beberapa infeksi). Fotopobia (pada minimtis).
Ketulian (pada minimitis / encephalitis) atau mungkin hipersensitifitas terhadap
kebisingan, adanya hulusinasi penciuman / sentuhan.
7. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : sakit kepala ( berdenyut dengan hebat, frontal ) mungkin akan diperburuk
oleh ketegangan leher /punggung kaku ,nyeri pada gerakan ocular, tenggorokan nyeri

16

Tanda : Tampak terus terjaga, perilaku distraksi /gelisah menangis / mengeluh.


8. Pernapasan
Gejala : Adanya riwayat infeksi sinus atau paru
Tanda : Peningkatan kerja pernapasan (tahap awal ), perubahan mental ( letargi
sampai koma ) dan gelisah.
9. Keamanan
Gejala :
- Adanya riwayat infeksi saluran napas atas atau infeksi lain, meliputi mastoiditis
telinga tengah sinus, abses gigi, abdomen atau kulit, fungsi lumbal, pembedahan,
fraktur pada tengkorak / cedera kepala.
- Imunisasi yang baru saja berlangsung ; terpajan pada meningitis, terpajan oleh
campak, herpes simplek, gigitan binatang, benda asing yang terbawa.
-Gangguan penglihatan atau pendengaran
Tanda :
- Suhu badan meningkat,diaphoresis, menggigil
- Kelemahan secara umum ; tonus otot flaksid atau plastic
- Gangguan sensoris
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi terhadap ( penyebaran ) infeksi berhubungan dengan statis cairan
tubuh.
2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral yang
mengubah / menghentikan aliran darah arteri / vena.
3. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kelemahan umum.
4. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan adanya proses inflamasi / infeksi.
5. Ansietas / ketakutan berhubungan dengan pemisahan dari system pendukung
( hospitalisasi ).
3. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Dx kep 1 : Resiko tinggi terhadap ( penyebaran ) infeksi berhubungan dengan statis
cairan tubuh.
Tujuan : tidak terjadi penyebaran infeksi
Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi pasien anak : mencapai masa penyembuhan
tepat waktu, tanpa penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain

17

Intervensi
a. Pertahankan teknik aseptik dan cuci tangan baik pasien, pengunjung, maupun staf.
Rasional : menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol
penyebaran sumber infeksi, mencegah pemajanan pada individu terinfeksi ( mis :
individu yang mengalami infeksi saluran napas atas )
b. Pantau dan catat secara teratur tanda-tanda klinis dari proses infeksi.
Rasional : Terapi obat akan diberikan terus menerus selama lebih 5 hari setelah suhu
turun ( kembali normal ) dan tanda-tanda klinisnya jelas. Timbulnya tanda klinis
terus menerus merupakan indikasi perkembangan dari meningokosemia akut yang
dapat bertahan sampai berminggu minggu / berbulan bulan atau penyebaran
pathogen secara hematogen / sepsis.
c. Ubah posisi pasien dengan teratur tiap 2 jam.
Rasionalisasi : Mobilisasi secret dan meningkatkan kelancaran secret yang akan
menurunkan resiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan.
d. Catat karakteristik urine, seperti warna, kejernihan dan bau
Rasionalisasi : Urine statis, dehidrasi dan kelemahan umum meningkatkan resiko
terhadap infeksi kandung kemih / ginjal / awitan sepsis.
e. Kolaborasi tim medis
Rasional : Obat yang dipilih tergantung pada infeksi dan sensitifitas individu. Catatan
;
obat cranial mungkin diindikasikan untuk basilus gram negative, jamur, amoeba.
Dx kep 2 : Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral
yang mengubah / menghentikan aliran darah arteri / vena.
Tujuan : perfusi jaringan serebral (edema serebral) berkurang
Hasil yang diharapkan / kriteria pasien anak : mempertahankan tingkat kesadaran ,
mendemontrasikan tanda-tanda vital stabil, melaporkan tak adanya / menurunkan
berat sakit kepala, mendemontrasikan adanya perbaikan kognitif dan tanda
peningkatan TIK.
Intervensi
a. Perubahan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai
indikasi setelah dilakukan fungsi lumbal.

18

Rasional : perubahan tekanan CSS mungkin merupakan adanya resiko herniasis


batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera.
b. Pantau / catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan
normalnya, seperti GCS.
Rasional : pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan
potensial peningkatan TIK adalah sangat berguna dalam menntukan lokasi,
penyebaran / luas dan perkembangan dari kerusakan serebral.
c. Pantau masukan dan keluaran . catat karakteristik urine, turgor kulit, dan keadaan
membrane mukosa.
Rasional : hipertermia meningkatkan kehilangan air tak kasat mata dan
meningkatkan resiko dehidrasi, terutama jika tingkat kesadaran menurun /
munculnya mual menurunkan pemasukan melalui oral.
d. Berikantindakan yang memberikan rasa nyaman seperti massage punggung,
lingkungan yang tenang, suara yang halus dan sentuhan yang lembut.
Rasional : meningkatkan istirahat dan menurunkan stimulasi sensori yang berlebihan.
e.

Pantau

gas

darah

arteri.

Berikan

terapi

oksigen

sesuai

kebutuhan.

Rasional : terjadinya asidosis dapat menghambat masuknya oksigen pada tingkat sel
yang memperburuk / meningkatkan iskemia serebral.
f. Berikan obat sesuai indikasi.
Dx kep 3 : Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kelemahan umum.
Tujuan : tanda dan gejala trauma berkurang / tidak ditemukan
Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien anak : tidak mengalami kejang atau
penyerta atau cedera lain.
Intervensi
a. Pantau adanya kejang / kedutan pada tangan, kaki dan mulut atau otot wajah yang
lain.
Rasional : mencerminkan pada iritasi SSP secara umum yang memerlukan evaluasi
segera dan intervensi yang mungkin untuk mencegah komplikasi.
b. Berikan keamanan pada pasien dengan memberi bantuan pada penghalang tempat
tidur dan pertahankan tetap terpasang dan pasang jalan napas buatan plastik atau
gulungan lunak dan alat penghisap.

19

Rasional : melindungi pasien jika kejang. Catatan ; masukan jalan napas bantuan /
gulungan lunak jika hanya rahangnya relaksasi, jangan dipaksa memasukkan ketika
giginya mengatup dan jaringan lunak akan rusak.
c. Pertahankan tirah baring selama fase akut. Pindahkan .gerakkan dengan bantuan
sesuai membaiknya keadaan.
Rasional : menurunkan resiko terjatuh / trauma jika terjadi vertigo, sinkope atau
ataksia.
d. Berikan obat sesuai indikasi seperti fenitoin ( dilantin ), diazepam , fenobarbital.
Rasional : merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang .catatan :
fenobarbital dapat menyebabkan defresi pernapasan dan sedative serta menutupi
tanda / gejala dari peningkatan TIK.
Dx kep 4 : Nyeri ( akut ) berhubungan dengan adanya proses inflamasi / infeksi.
Tujuan : Nyeri dapat teratasi
Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien anak : melaporkan nyeri hilang /
terkontrol, menunjukkan poster rileks dan mampu tidur / istirahat dengan tepat.
Intervensi
a. Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi.
Rasional : menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitifitas pada
cahaya dan meningkatkan istirahat / relaksasi.
b. Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan yang penting .
Rasional : menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.
c. Berikan latihan rentang gerak aktif / pasif secara aktif dan massage otot daerah
leher

/bahu.

Rasional : dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang menimbulkan


reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.
d. Berikan analgetik, seperti asetaminofen dan kodein
Rasional : mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat.
Catatan : narkotik merupakan kontraindikasi sehingga menimbulkan ketidak
akuratan dalam pemeriksaan neurologis.

20

Dx kep 5 : Ansietas / ketakutan berhubungan dengan pemisahan dari system


pendukung (hospitalisasi).
Tujuan : ketakutan Px berkurang
Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi pasien anak : mengikuti dan mendiskusikan
rasa takut, mengungkapkan kekurang pengetahuan tentang situasi, tampak rileks dan
melaporkan ansietas berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi.
Intervensi
a. Kaji status mental dan tingkat ansietas dari pasien / keluarga. Catat adanya tandatanda verbal atau non verbal.
Rasional : gangguan tingkat kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tetapi
tidak menyangkal keberadaannya. Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana
informasi tersebut diterima oleh individu.
b. Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala.
Rasional : meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan
dan dapat membantu dan menurunkan ansietas.
c. Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian dan berikan informasi tentang
prognosa penyakit.
Rasional : penting untuk menciptakan kepercayan karena diagnosa meningitis
mungkin menakutkan, ketulusan dan informasi yang akurat dapat memberikan
keyakinan pada pasien dan juga keluarga
d. Libatkan pasien / keluarga dalam perawatan, perencanaan kehidupan sehari-hari,
membuat keputusan sebanyak mungkin.
Rasional : meningkatkan perasaan kontrol terhadap diri dan meningkatkan
kemandirian.
e. Lindungi privasi pasien jika terjadi kejang.
Rasional : memperhatikan kebutuhan privasi pasien memberikan peningkatan akan
harga diri pasien dan melindungi pasien dri rasa malu.

21